Kaset Kompilasi dari Pasar Yaik Semarang

April 26, 2015

Andria Sonhedi

Alhamdulillah pak gatot sdh bisa mengupload tulisan2 rekan2 lagi :)
saya mau mengangkat cerita lama dulu.
Tanggal 10-11 Pebruari lalu saya dapat tugas ke Semarang lagi. Walau menginap satu malam namun kali ini saya tidak menyempatkan diri mencari kaset di RM Padang Jaya. Selain karena lelah juga karena sedang tak tertarik membongkari kaset2 yang kebanyakan lagu pop. Saya lebih memilih ke pasar Yaik saja tanggal sebelasnya sehabis acara rampung.
Saat saya ke sana ke-3 penjual kaset ada semua tapi ternyata yang ada tambahan cuma lapak mas Achmad. Kali ini mas Achmad menyodori banyak kaset kompilasi lama maupun lama sekali ke saya. Kebanyakan keluaran Atlantic Record, seri heavy slow rock, yang memakai cover album sebuah grup hard rock sebagai ilustrasi.
Sebenarnya saya tak terlalu tertarik dengan kaset kompilasi, Saya lebih suka kaset album sebuah grup, wl mungkin hanya satu atau dua lagu yang saya suka. Selain itu pilihan lagu di kaset2 kompilasi jarang yang saya kenal & tak tahu enak didengar atau tidak. Namun demikian karena saat itu tak banyak yg bisa saya beli (he he he) saya ambil juga kaset kompilasi. Dari 3 kaset ini ternyata ada 1 kaset terbitan Cashbox (tengah) yg isinya malah lagu Sweet Pop. Itu gara2 saya tak mencoba karena masalah waktu. Kaset kompilasi terbitan AR isinya benar semua. Saya cocok dengan yang C-90 bergambar grup Europe. Satunya lagi (Heavy Slow Rock Part 7) saya beli karena semata-mata memakai cover album Scorpions yang dibuat oleh alm. Storm Thorgersen/Hipgnosis. Kover album ini sampai dibuat versi “aman” dan itulah yang muncul di Indonesia era lisensi.

CIMG9618
Tentu saja selain kaset kompilasi tadi ada beberapa kaset seken baik baru atau lama yang saya beli. Gara2 sudah nemu lapak mas Achmad ini saya sekarang tak terlalu sedih kl harus pergi ke Semarang, walau ada juga kisah sedihnya yg akan saya tulis di lain waktu.

Silaturahim ke Ketua KPMI

April 22, 2015

Eddy Irawan

Kemarin malam (7 april), saya berkesempatan main ke rumah pimpinan komunitas pencinta musik indonesia (kpmi). Sekian tahun hanya mengenal via progring dan blogging, akhirnya bisa juga mengenal beliau lebih dekat.

Pembicaraan kita apalagi kalo bukan seputaran dunia musik dan kaset. Bahkan saya diberi keleluasaan untuk menyidak koleksian kaset di kamar pribadi sang maestro.

Terimakasih atas jamuan dan penerimaan yg sangat akrab. Saya sangat menghargai silaturahim kita, Pak Gatot Triyono!

IMG-20150407-00284

8 April 2015

Dream Theater Dalam Sebuah Kisah (Bag. 1)

April 22, 2015

Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah

Yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah

Part I

 Boeddhierif Setyawan

Salam Hormat saya sebagai anak muda kepada Om G dan para sesepuh, para suhu dan seluruh penghuni Blog Gemblung ini. Akhirnya untuk pertama kali dan semoga saja hal ini menjadi Penjebar Semangat (gen koyo majalah lawas sing diterbitkan oleh Pendiri Boedi Oetomo, rodo mekso disrempetke wae mumpung jeneng’e yo nganggo Budi..hihihihi) saya untuk seterusnya dapat berbagi dan bercerita di sini, di Blog Gemblung ini..hehehehe

Tanpa panjang lebar lagi (karena mungkin tulisan ini nanti akan panjang dan melebar jauh dari detail musik di dalamnya, karena saya berusaha untuk menuliskan kisah emosional dari salah satu atau beberapa lagu dari setiap album Dream Theater), untuk kali ini saya ingin membagikan kesan, kisah dan cerita tentang lagu-lagu Dream Theater yang saya ambil dari setiap albumnya, meskipun bisa dibilang saya termasuk salah satu orang yang terlambat untuk mendengarkan lagu-lagu Dream Theater (apalagi band proclaro lainnya yang era sebelum Dream Theater). Tapi apapun bentuknya yang namanya musik itu tidak pernah terlambat, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar maupun mendengarkan musik (iki asline yo gur ngayem-ngayem aku dewe gen ora diarani salah utawa telat nemen..hahaha)

  1. The Killing Hand – 1989 When Dream And Day Unite

01 When Dream and Day Unite

Ketika itu di akhir tahun 2000, sekali lagi saya bisa dibilang sangat terlambat mendengarkan musik progressive karena faktor usia (sebuah pembelaan yang semoga saja sangat logis..hahahaha). Pada awalnya saya penasaran dari judul lagunya dan akhirnya saya mendapatkan lagu ini dari para dermawan website alias download meskipun harus ke warnet (harap maklum, karena pada saat itu saya belum punya internet sendiri, pye arep pasang internet, wong arep telpun pacar’e wae kudu golek wartel disik, opo meneh internet).

Sebenarnya, album When Dream And Day Unite ini merupakan album kedua Dream Theater yang saya dengarkan karena album pertama yang saya dengarkan adalah album Images and Words -yang akan saya bahas salah satu lagunya di bagian selanjutnya-.

Pertama kali mendengarkan album ini saya kurang begitu suka dan kurang begitu greget karena pada saat itu saya sudah terlanjur nancep dengan karakter suara James LaBrie pada album Images and Words. Namun ketika saya mendengar lagu The Killing Hand ini, untuk pertama kalinya, intro suara petikan gitar John Petrucci yang setting sound’nya pada saat itu menurut saya agak aneh dan kurang familiar di telinga saya, dan akhirnya masuklah suara dari Charlie Dominici yang langsung membuat saya ngguyu nggeblak sambil berkata dalam hati “nah, iki termasuk pecinta ketinggian” (suara vokal melengking tinggi tanpa ada seraknya sama sekali).

Setelah mendengarkan lagu ini, saya menjadi penasaran dengan lagu lain sehingga membuat saya berfikir, “sesuk neng warnet meneh gen iso ngrungokne sak album sisan” (besok ke warnet lagi biar bias mendengarkan full album sekalian). Dan akhirnya dari album ini saya mulai berkata dalam hati “Band iki kudune sing tak rungokne lan kudu tak golek’i kaset-kaset’e nganti kecandak mbuh piye carane!” (Band ini seharusnya yang saya dengarkan dan harus saya cari kaset-kasetnya sampai ketemu entah bagaimanapun caranya). Hingga kemudian pada akhirnya saya berhasil mendapatkan kasetnya meskipun bootleg atau bajakan ataupun “Kaset Malangan”, mbuh, ora urusan sing penting aku nduwe rekaman’e dalam format pita trus suarane termasuk kategori apik (entahlah, tidak peduli yang penting saya punya rekamannya dalam format pita dan suaranya termasuk kategori bagus).

Dan dari pengaruh inilah hal yang membuat saya sering menjajah lapak kaset bekas di Solo, entah 1 atau 2 minggu sekali sebelum pulang ke Sragen saya pasti menyempatkan diri mampir ke lapak-lapak kaset bekas dengan catatan nek pas nduwe duit turahan, nek ora nduwe yo gur lewat ngarep’e thok karo entrane ora ngerti nek lapak’e kwi bukak (kalau pas punya duit sisa, kalau tidak punya ya cuma lewat depannya saja sambil pura-pura tidak lihat kalau lapaknya itu buka). Dan di Solo inilah saya mulai perlahan dan dengan sedikit demi sangat sedikit sekali mengumpulkan kaset Dream Theater karena pada waktu saya masih SMA tinggal di Sragen sangat terbatas musik yang saya dengarkan dengan keterbatasan kaset yang dijual di toko-toko kaset maupun jumlah toko kaset yang ada di Sragen. Selain itu, alasan saya yang paling utama adalah keterbatasan dana untuk membeli kaset..hahahaha

  1. Surrounded – 1992 Images And Words

02 Images and Words

Album ini merupakan album tonggak awal bersejarah yang penuh keluh kesah dalam kisah perkenalan saya dengan Dream Theater. Boleh dikatakan juga bahwa album ini merupakan awal mula saya mulai gandrung dan kesengsem dengan musik progressive (akhir tahun 2000), yang pada saat itu sedang marak musik alternative rock yang begitu menyita waktu, telinga dan perhatian saya. Awal mula saya mendengarkan album ini adalah ketika saya dipinjami kaset ini oleh seorang teman sebangku saya waktu sekolah di SMA yang saat itu dia melanjutkan kuliah di Semarang. Dia merupakan teman saya yang paling legendaris karena dialah orang yang sering saya jadikan alasan bila sudah tidak punya uang saku untuk segera menjemput saya ke rumah biar saya bisa ada alasan untuk minta uang jajan tambahan kepada ibu saya. hahaha.. Saya sudahi cukup sampai di situ saja cerita tentang teman saya, karena kalau saya teruskan cerita tentang dia malah semakin panjang dan lebar ini nanti ceritanya, bias-bisa malah lupa tidak jadi membahas keluh, kesah dan kisah tentang Dream Theater ini nanti.

Mari kita kembali lagi ke pokok pembahasan awal yaitu tentang kaset Dream Theater. Saat pertama kali saya dipinjami kaset ini, pada awalnya saya putar kaset ini 2 side penuh, namun apa daya, karena sebelumnya saya amat sangat jarang sekali mendengarkan musik progressive rock/metal, saya belum begitu bisa menikmati musik seperti ini. Tetapi seolah-olah tidak mau menyerah dengan perjuangan yang telah saya lakukan (berjuang opone, wong ngrungokne kaset silihan wae kok ndadak nganggo ukara perjuangan –berjuang apanya, orang mendengarkan kaset pinjaman aja kok pakai kalimat perjuangan segala), saya bertekad untuk memutarnya berulang-ulang setiap hari dengan tape mini compo kecil milik ibu saya yang saat itu sering dipakai untuk mendengarkan kaset Koes Plus dan aliran musik sejenis seangkatannya). Sampai suatu saat ibu saya pernah bertanya kepada saya, ”Kowe kuwi nyetel kaset opo tho le, kaet mau kok gur nyetel kwi terus? (Kamu itu muter kaset apa sih nak, dari tadi kok cuma muter itu terus?)”

Saya hanya menjawab, ”Wah, iki kaset sing rodo ora penak neng kupingku Bu’, iki lagi wae disilihi Hahan, arep tak rungokne tenanan nganti ketemu neng bagian ngendi penak’e.” (Wah, ini kaset yang agak kurang enak di telinga saya Bu, ini baru aja dipinjami Hahan -nama teman saya-, mau saya dengarkan betul-betul sampai ketemu di bagian mana enaknya). Dan akirnya secara tiba-tiba entah kenapa mak bedunduk, saya langsung nancep di bagian lirik ini ”light to dark, dark to light, light to dark, dark to light…..his shadow slowly fading from the waaalllllllll”. Bagi telinga saya nada di lirik itu terkesan dipas-paske trus tone nadanya tidak enak, tp justru malah membuat saya semakin ketagihan dengan album ini sampai-sampai saya hafal setiap lagu berakhir saya sudah bisa menebak intro lagu selanjutnya.

Dan sejak saat itulah, saya sangat rajin sekali mendengarkan musik-musik Dream Theater baik dari MP3 digital hasil download sendiri (maupun copy dari warnet yang ada koleksi lagu-lagu Dream Theater di dalam harddisknya) ataupun dari rilisan fisik berupa kaset pinjaman..hahahaha

Dan dari kaset pinjaman inilah saya mulai mencari tahu lebih dalam tentang Dream Theater termasuk siapa saja yang menjadi influence mereka sehingga saya bisa mengenal lebih jauh tentang band-band progressive yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Terima kasih untuk album Images and Words yang begitu bermakna dan memberi warna dalam hidup saya, serta terima kasih kepada teman saya yang kasetnya sampai sekarang masih saya ”amankan”. hahahahaha

Demikian dulu kiranya penggalan cerita saya tentang ”Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah”. Cerita ini rencananya akan saya lanjutkan kisahnya untuk masing-masing 1 lagu di setiap album selanjutnya dan saya butuh waktu untuk memutar kembali tidak hanya kaset saya tetapi juga otak saya agar mau menaiki tangga darurat yang bernama kenangan karena begitu banyak cerita hidup yang masih selalu tersimpan di dalam ingatan saya yang cukup terbatas ini. Dan seperti saran Om Gatot, ”Gak usah buru-buru, sing penting dinikmati saja mas prosesnya”. Hehehehe

Dan dari hal itulah akhirnya saya memutuskan untuk mengambil judul ”Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah Part I”, karena memang rencananya akan ada Part selanjutnya. Maksud lain dari tambahan Part I itu adalah dipekso gen koyo lagune Metropolis sing ono Part I karo Part II (dipaksa biar seperti lagunya Metropolis yang ada Part I dan Part II). hahahahaha

Sungkem saya,

Boeddhierif Setyawan (inibudi)

5 April 2015

Mari kita giatkan dan galakkan GERAKAN DOWNLOAD BERAS
agar kita bisa beli kaset sebanyak-banyaknya!

Bravo Kaset!

Bad Company “Live for The Music”

March 24, 2015

Hippienov

Halo lagi Mas G dan rekan-rekan, the prodigal son is back again, hehehe.
Kali ini aku mau sharing kompilasi sederhana yang aku sadur dari cd mp3 koleksi Bad Company pemberian Mas Yuddi dan kemudian aku jadikan 1 cd audio. Kompilasi ini sudah beberapa waktu lalu aku buat namun baru sekarang aku posting di blog. Semoga berkenan buat rekan-rekan.
bad co.
bad co.2
Live For The Music:  BAD COMPANY (1974-1982):
1. Can’t Get Enough (1974 Bad Company).
2. Rock Steady (1974 Bad Company).
3. Ready For Love (1974 Bad Company).
4. Seagull (1974 Bad Company).
5. The Way I Choose (1974 Bad Company).
6. Good Lovin’ Gone Bad (1975 Straight Shooter).
7. Feel Like Makin’ Love (1975 Straight Shooter).
8. Anna (1975 Straight Shooter).
9. Love Me Somebody (1976 Run With The Pack).
10. Live For The Music (1976 Run With The Pack).
11. Sweet Little Sister (1976 Run With The Pack).
12. Morning Sun (1977 Burnin’ Sky).
13. Peace Of Mind (1977 Burnin’ Sky).
14. Too Bad (1977 Burnin’ Sky).
15. Man Needs Woman (1977 Burnin’ Sky).
16. Oh, Atlanta (1979 Desolation Angels).
17. She Brings Me Love (1979 Desolation Angels).
18. Untie The Knot (1982 Rough Diamonds).
19. Cross Country Boy (1982 Rough Diamonds).
20. Painted Face (1982 Rough Diamonds).
Jujur aku tidak begitu kenal dengan lagu-lagu Bad Company, referensi kaset/cd nya pun aku selama ini gak punya, hanya beberapa lagu saja yang aku kenal seperti “love me somebody”, “can’t get enough”, “the way I choose”, “rock steady” dan “feel like makin’ love”.
Saat mau membuat kompilasi ini aku harus mendengarkan singkat album per album supaya bisa mementukan lagu yang akan dipilih. Kebetulan Mas Yuddi mengkopikan album Bad Company dari tahun 1974 sampai 1982 dan supaya adil aku comot lagu dari semua album yang aku punya mp3 nya. Jadilah kompilasi ini dengan 20 lagu dari mulai album Bad Company sampai Rough Diamonds.
Terimakasih untuk Mas Yuddi yang sudah mengkopikan koleksi mp3 Bad Company nya, matursuwun juga untuk Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan.
Untuk rekan-rekan yang sudi mampir mambaca, terima kasih semuanya.
a boy who dreams music,
hippienov

 

Guru Guru “UFO”

March 24, 2015

Hippienov

 

Halo Mas G dan rekan-rekan semua, apa kabar? Cukup lama aku gak nimbrung di blog, tapi hari ini the prodical son is back…
Selama menghilang aku berhasil mendapatkan beberapa album rock klasik hasil buruan ke seorang teman dan salah satunya album “UFO” dari Guru Guru. Tadinya aku kira ini album UFO tapi rasanya UFO gak punya album yang judulnya “guru guru”, lah dalah ternyata terbalik. Setelah nyontek di Google aku baru tahu Guru Guru adalah nama band Krautrock dari Jerman yang terbentuk tahun 1968 dan “ufo” adalah debut album mereka di tahun 1970.
guru guru
guru guru-back
Wah asik nih, keren pikirku… Temanku sempat “memperingatkan” kalo musik Guru Guru di album ini agak beda, jangan kaget pas denger nanti…begitu kata dia, dan ternyata benar.
Buat seorang yang selama ini ngaku bisa menikmati musik Gentle Giant yang kriting tralala atau Sonic Youth yang juga aneh itu, album Guru Guru ini sangat sulit aku nikmati, bahkan setelah beberapa kali didengarkan masih terasa aneh, janggal di telinga ini dan aku masih tetap gak ngerti musiknya.
Di Wikipedia musik Guru Guru dikatakan terpengaruh musik psikedelik seperti Pink Floyd (awal), Jimi Hendrix, Arthur Brown, Frank Zappa, bahkan Rolling Stones, dan mereka memainkan elemen musik yang disebut sebagai “free jazz”. Namun buatku Guru Guru lebih pas disebut satu konsep dengan Popol Vuh, bermain musik instrumental rock dengan gitar sebagai pemeran utama ditambah bass dan drums tanpa kibor. Musik mereka seperti alunan distorsi gitar yang panjang tanpa permainan solo gitar melodi, beda dengan Jimi Hendrix yang rajin bersolo gitar.
Meski aneh dan gak enak menurutku namun tetap ini sebuah koleksi yang menurutku antik dan layak disimpan walau aku gak jamin akan sering-sering aku spin, hehehe… Pengalaman selama ini aku cuma kuat bertahan setengah album terus aku ganti sama cd yang lain, pusing dengernya. Sangat lebih pusing dibanding mendengarkan Napalm Death atau Terrorizer, hehehe.
Buat rekan-rekan yang penasaran mungkin bisa coba di YouTube, atau kalo ada rekan-rekan yang pernah dengar Guru Guru dan menyukai musiknya, mungkin bisa menambahkan ulasanku ini.
Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan.
Untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca tulisan ini, terima kasih semuanya.
a boy who dreams music,
hippienov

 

Terbius Moraz

March 21, 2015

Hendrik Worotikan

Hi Mas G dan teman-teman. Apa kabar ? Semoga senantiasa sehat dan diberikan kenikmatan dalam segala aktifitas utamanya mendengarkan musik.

Lama nggak nulis lantaran belum muncul… ‘apa sih yang mau ditulis’ ? Hihihi…Sampai akhirnya tadi malam saya setel plat Patrick Moraz “Out In The Sun”.
Dari situlah kemudian saya teringat dengan album-album Moraz lainnya yang pernah direkam juga oleh Yess, Private Collection dan Scorpio.
Dan dari sejumlah kaset ini rasanya Yess yang paling banyak merekam Patrick Moraz. 

image

image

image

image

Selain solo albumnya ada juga hasil kolaborasi Moraz dengan Bill Bruford mantan kolega nya sewaktu di Yes ( 1970 s/d 1972 ), King Crimson ( 1973 s/d 1975 dan 1981 s/d 1984 ) yang menghasilkan ‘Music for Piano and Drums’ dan tidak ketinggalan juga hasil kolaborasi nya bersama Syrinx.

Pertama kali saya mengenal Moraz justru melalui solo albumnya yang bertajuk ‘The Story Of I’. Pada hal seperti diketahui Moraz sudah berkibar nama nya bersama teman-temannya di Yes.
Tentu masih banyak yang ingat bahkan mungkin terkagum-kagum dengan kepiawaian nya memencet keyboard pada album Relayer, Yes ( Rekaman Yess with progressive number 022 ), yang menghasilkan nomor epic sekelas ‘The Gates of Delirium’ dan ‘Sound Chaser’.

Moraz gabung di Yes pada 1974, yang sebelumnya sempat pula bermain untuk band Mainhorse, Refugee dan Doctors of Madness.
Bahkan pemain keyboard asal Swiss ini, pun pernah menggantikan Mike Pinder di Moody Blues di tahun 1981.

Menikmati musik Moraz rasanya membuat saya terbius melayang-layang jauh, mulai dari permainan keyboard nya yang lembut bahkan terkadang juga garang.
Yang pasti nama nya akan terus diingat dan melekat erat di blantika musik dunia. Art rock khususnya.

The Doors of Puring

March 14, 2015

Eddy Irawan

Sore sabtu tadi saya habiskan waktu di taman puring. Alhamdulillah saya ketemu sama 3 survivor pedagang kaset di lokasi bersejarah di Jakarta selatan: Pak Simon, Bang Buyung dan Bram Sixx. Alhamdulillah juga karena mereka semua dalam kondisi sehat wal afiat sehingga transaksi kaset bekas masih terus berlanjut, sehingga sore ini saya bisa take away 7 kaset yang gak ada nilainya jika kolektor vinil menilai. Tapi bagi saya, kaset2 ini sungguh menakjubkan dan menjadi obat jiwa.

image

image

Ketujuh kaset ini semuanya menarik, namun yang paling bernilai tentulah Team Golden Series. Jethro Tull dengan album ‘aqualung’ dan the Doors album ‘other voices’ adalah kejutan di akhir pekan ini.

Lebih menariknya, saya belum pernah punya album The Doors ini. Album yang dirilis di bulan Oktober 1971 ini adalah album studio ke-7 dari grup yang dimotori oleh Jim Morisson. Dan ini adalah album pertama the Doors tanpa Jim, dimana akhirnya mereka tetap eksis dengan formasi trio. Robby Krieger, sang gitaris, dan Ray Manzarek, pemain keyboard, berbagi tugas sebagai vokalis mengganti posisi Jim.

Di Billboard music chart Amerika, album ini menduduki tangga ke 31. Agaknya, penggemar the Doors masih memuja-muja Jim sebagai idola mereka, dan berharap spirit Jim tetap melekat di album ini melalui trio The Doors.

Puring itu ibarat the Doors, walaupun ditinggal beberapa pelapak utamanya, namun ‘the surviving trio Simon, Buyung, Bram’ tetap meneruskan legenda Puring. Entah sampai kapan. Ahhh, people are strange… (e)

Too Late

March 13, 2015

Eddy Irawan

Kamis sore kemarin, cuaca agak sejuk karena siangnya dihajar hujan yg lumayan lebat. Agak ragu mau jalan ke blok m square tapi hasrat utk ketemu lapaqers kaset mengalahkan rasa ragu tadi.

image

image

Begitu nyampe blok m, udah malam. Benar aja, beberapa lapak memang gak buka sejak siang karena ujan. Namun dari sedikit yg buka, saya mendapat beberapa kaset lumayan yg belum pernah saya nemu sebelumya, kecuali kaset Black Sabbath.

Ada kaset Don Covay yang lagunya ‘somebody’s been enjoying in my room’ pernah ngetop dan ada di kaset kompilasi Dream Express 3. Trus ada Budgie album ‘in for the kill’ rekaman Melody Sound. Namun karena di cover gak ada tertulis grup apapun dan gambarnya cuma elang lagi terbang, maka saya cukup ngasi 3 lembar pecahan 5ribuan utk kaset ini.

Trus ada grup Greenslade, salah satu band referensinya Godbless, yg masih rekaman aquarius itam-putih. Ada kaset the best of Focus c90 rekaman steel yg seumur hidup baru kali ini saya liat. Lalu kaset grup progersif asal Canada, Saga, album behaviour (rekaman alpine).

Pernah dengar lagu ‘too late’ dari Silvi Lillegaard? Kalo belum, coba stel. Lagu tsb ada di kompilasi Heavy Slow 9 rekaman yess. Lagu itu begitu syahdu namun sangat powerful berkat lengkingan suara Silvi yang khas Norwegia. Lagu itu adalah milik grup Ruphus, dimana Silvi menjadi vokalisnya.

Sungguh menyenangkan bisa mendapat kaset-kaset antik nan semantik. Ada baiknya mendengar kata hati. Tapi kapan ya sempat mendengar habis kaset2 ini krn besok akan saya habiskan lagi waktu utk berburu kaset-kaset jadul di tempat berbeda. Ah, gk usah dipikirin. ‘Too late’, keduluan dimangsa predator lain. Hehehe… (e)

Mendapatkan Kaset Yang Sudah Lama Dicari

March 4, 2015

Erick S

hampir 2 bulan ga ngikutin artikel di blog yang super ini, ternyata sudah banyak tulisan-tulisan yang membuat ngiler sama foto-foto kaset/CD nya. untuk itu saya putuskan untuk nulis sekalian share memohon pencerahan dari para senior dan pakar di blog ini.

beberapa waktu lalu saya sempat beli kaset dari beberapa pedagang dan saya mendapatkan kaset-kaset yang sudah lama saya cari, satu diantaranya “Yngwie Oddyssey” rec Yess yang banyak kenanganya saat masa-masa kuliah dulu :) , kaset tersebut merupakan kaset rekaman Yess ke 2 yang saya miliki setelah kaset Al Dimeola album Casino

dari segi kualitas kaset-kaset hasil buruan saya lumayan masih bagus-bagus baik cover dan juga pitanya, namun diantara kaset-kaset tersebut “Ten Years After” casing kasetnya bening seperti pada gambar, awalnya saya bingung apa itu asli terbitan monalisa atau bukan ya hehehe…., namun setelah saya tanya sama pedagangnya itu merupakan kaset rilisan akhir sebelum tutupnya label monalisa, jadi casingnya sudah bening, namun pita masih maxell UDE sesuai yang tertera di atas casing.

IMG20150304145941

IMG20150304150009

IMG20150304145912

Mungkin dari para senior bisa memberikan pencerahan soal casing Ten Years After ini

dalam hati saya “antik juga ya casingnya seperti ini, selama ini saya belum pernah dapat yang model bening” :D

senang juga rasanya mendapatkan kaset-kaset yang sudah lama jadi incaran karena sering kalah HOLD kalau di FB hehehehe

Terima kasih

#keep rock n progin

Tampur Masih Subur

March 1, 2015

Eddy Irawan

Mengisi akhir pekan dan akhir bulan ini, tadi sore saya iseng-iseng main ke Taman puring (Tampur) yg namanya sempat melegenda karena menjadi sentra barang-barang elektronik dan kaset bekas pada era 1990an-2000an.

Maka, sore itu saya habiskan waktu sekitar 2jam bersilaturahim dengan pedagang kaset Tampur yg masih tersisa dan tersetia di lantai 2. Terimakasih Pak Simon, Bang Buyung brewok dan bro Bram yang tetap bertahan di situs kaset bersejarah di Jakarta Selatan ini.

Terimakasih atas sambutan yg selalu hangat dan selalu menyisakan kaset-kaset yang antik buat saya. Foto-foto kaset ini adalah hasil silaturahim di Lapak pak Simon, bang Buyung dan bro Bram.

Pasar Minggu-20150228-00187

Pasar Minggu-20150228-00190

Pasar Minggu-20150228-00191

Pasar Minggu-20150228-00192

Salah satu kaset yang menarik adalah grup Cybotron rekaman Apple. Grup yg berasal dari Aussie ini mengusung aliran rock progresif yang sarat dengan permainan sintesizer dan alto saxophone. Kaset yg saya dapat ini (album ‘implosion’) merupakan album terakhir dari 3 album yg pernah dirilis oleh grup yg dibentuk pd tahun 1975 ini.
Menyimak musik Cybotron, persis mendengarkan kolaborasi musiknya Vangelis, Kraftwerk, Synergy dan Pulsar dalam satu session.

Lapak Tampur masih subur! (e)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 186 other followers