Music For The Uncommon Man: Bacamarte “Depois Do Fim”

February 12, 2015

Hippienov

image

image

Alo Mas G dan rekan-rekan semua, senang sekali rasanya blog kita tercinta sudah kembali “on air” setelah sempat dibekukan sepihak oleh WordPress beberapa waktu lalu. Sekarang bisa sharing lagi sekaligus bersilaturahim dengan rekan-rekan semua.

Aku sama sekali gak kenal dengan band ini sebelumnya sampai suatu hari temanku yang gila musik (kolektor dan penjual) menyebut nama band asal Brazil ini sekaligus menawarkan cd kopiannya. Awalnya aku gak begitu tertarik namun rasa ingin tahu mengalahkan segalanya dan akupun mengiyakan untuk mengambil kopian cd  yang ditawarkan.

Dari hasil contekanku lewat Google/ Wikipedia, BACAMARTE yang asal Brazil adalah sebuah band progressive rock, symphonic prog-rock tepatnya yang hanya merilis 2 album dalam rentang waktu cukup panjang. Album pertama mereka (Depois do Fim) dirilis 1983 dan album kedua baru rilis pada akhir dekade 90an.

Depois Do Fim sebenarnya direkam tahun 1978 namun kemudian tidak jadi dirilis dengan pertimbangan pada era akhir 70an dunia musik sedang dilanda demam disco, punk serta new wave sehingga Bacamarte memilih untuk menunggu waktu yang tepat untuk merilisnya. Akhirnya tahun 1983 album ini dirilis juga.

Album ini mainly instrumental namun tetap ada beberapa lagu yang ada vokalnya dan asiknya mereka punya dua vokalis, laki dan perempuan.
Suara synthesizer pada kibor selalu hadir di setiap lagu dan semua lagu di album ini menurutku bisa dibilang enerjik/ bertempo mid-fast. Aku tidak mendengar (atau jangan-jangan belum mendengar, hehehe) lagu yang bertempo lambat. Musik Bacamarte sepertinya sejalur dengan Yes dan Genesis, hal ini makin kuat dengan hadirnya flute di lagu-lagu mereka. Yang lebih asik, di album ini aku masih bisa dengar pengaruh musik Latin dengan alunan/petikan classic guitar.

Untuk sebuah band yang belum pernah aku kenal sebelumnya dan album yang gak pernah aku dengar, pada awalnya aku gak terlalu berharap banyak. Tadinya aku menduga musik mereka akan overtly influenced by Latin Music jadi aku akan disuguhi musik seperti Gypsy Kings. Namun semua dugaanku berubah jadi decak kagum begitu aku spin cd ini untuk pertama kalinya. Satu kekurangannya mungkin hanya pada output/ hasil rekamannya yang tidak seciamik album-album prog band prog dari Eropa/ Amerika, namun overall this album is highly recommended karena musiknya juga karena terbilang langka.

Matursuwun Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan serta untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca. Mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam penulisan.

a boy who dreams music,
hippienov

Jawara Blok M Square

January 30, 2015

Gatot Triono

image

Pertolongan Doraemon di Pasar Yaik Semarang

January 26, 2015

Andria Sonhedi

     Seperti saya kisahkan sebelumnya bahwa tanggal 21-22 Januari lalu saya ke Semarang. Hari pertama berhasil mengunjungi RM Padang Jaya dengan hasil yang tak maksimal. Hari ke-2 ini sudah saya rencanakan mencari kaset di Pasar Johar. Kebetulan acara berakhir jam 12.00 siang sehingga ada waktu untuk menjelajahi Pasar Johar.
     Sayangnya pas saya nanya lewat SMS ke Pak Gatot & KohWin tak ada yang merasa pernah ke Pasar Johar cari kaset. Lha lalu pasar apa yang mereka tulis di blog legendaris kita ini? Untunglah saya bawa laptop & modem sehingga malam hari sehabis ke RP Padang jaya saya cari tulisan lama beliau ini (the jakarta Invasion). Ternyata memang pak Gatot beli kaset di mas Akhmad di Pasar Yaik di dekat Hotel Metro yg saya tempati ini. Setelah lihat di google ternyata Pasar Johar dan Pasar Yaik itu satu kompleks. Belakangan saya baru tahu kalau Pasar Yaik ada di utara kompleks Pasar Johar.
     Sayangnya lagi ancer2 pak Gatot tdk lengkap setelah saya tanya ke beliau sh lupa dan saya disarankan nanya ke para pedagang pasar aja pasti tahu. Ternyata optimisme pak Gatot tak terlalu benar. Saya sampai nyasar ke Selatan lalu muteri pasar Johar tak ada yg tahu tempat jual kaset seken. Akhirnya saya nemu kios kecil yang jual DVD dengan penjual seorang bapak agak tua, pura-puranya beli DVD dulu. Kebetulan ada DVD bajakan Doraemon the Movie yang baru yg blm pernah ditonton anak2 saya. Sehabis nyoba saya nanya apa dia tahu ada yg jual kaset pita di Johar. Awalnya dia bilang kl sdh tak ada & yang terakhir sudah tutup di dekat situ. Saya agak kecewa juga namun tiba2 bapak tadi bilang mungkin di dekat toserba Trend masih jual kaset seken. Segera saja saya keluar pasar lalu menuju utara  (atau manalah saya tak tahu arah). Barulah saya paham ternyata sisi sebelah utara Pasar Johar ada tulisan Pasar Yaik di gapuranya. Semangat saya langsung bergelora.
     Sebagai catatan Toserba Trend ada di seberang pasar Yaik. Cara cepat untuk menemukan para pedagang kaset adalah pertama cari simpang 5 hotel Metro. Bila anda dari arah H Agus salim (RM Padang Jaya) tinggal lurus bila sampai lampu traffic light Pasar johar tinggal belok kiri.  Bila anda dari arah Jl. Pemuda apabila sampai simpang lima beloklah ke kanan bukan ke arah hotel Metro. Kl dari arah Kantor Pos bisa belok kiri tapi lewat traffic light. Anda juga bisa sholat dulu di masjid di barat pasar Yaik kl perlu tapi harap sandal diawasi krn saya pernah kehilangan sandal baru saya saat shalay subuh di situ.
     Kembali ke Pasar Yaik, saya pertama-tama ke lapak mas Akhmad, soalnya wajahnya mirip yg di foto artikel pak Gatot. lapaknya juga 2, yg dia tongkrongi dan ada tape-nya adalah lapak kaset2 Indonesia sedang di kiri dia adalah laoak berisi kaset2 barat, baru maupun kuno. Setidaknya setelah melihat koleksi RM Padang Jaya maka dagangan mas Akhmad lebih berkualitas. Sengaja tidak saya ambili semua :D soalnya banyak yg sudah punya. Termasuk the very best of Def Leppard keluaran Aquarius yg C-90 yg saya sdh punya tapi blm pernah saya lihat dijual di lapak seken. Akhirnya dapatlah 13 kaset yang dapatnya berangsur-angsur. Sebenarnya lagu-lagunya sudah punya semua, beberapa kaset pernah kena lembab bahkan ada yg bekas digunting tapi secara umum kaset2nya bersih. Berbeda dengan kaset2 di RM Padang Jaya yang berdebu shg membuat tangan risi. Semua kaset dihargai 12.500 baik C-90 atau C-60, lama maupun baru. Untung saya masih ingat utk mencoba kasetnya, walau mas
 Akhmad bilang sdh dia coba dan tak akan tertukar tapi kecolongan juga satu kaset Raven-Architect of Fear” dengan kaset Mr. Big. Ada kabar baik untuk mas Hippie, saya berhasil mendapat kaset the best of Michael Frank yg C-90! Nantikanlah kedatangannya di rumah :) Di sana kaset Michael Frank banyak cuma yg C-90 cuma itu. Mas akhmad juga langsung sumringah ketika saya bilang tahu namanya dari “pelanggan” yg sdh lama datang ke situ.
     Saya meninjau lapak di sebelah kiri, yg cuma ada satu. Menggabungkan kaset Indonesia & Barat. Karena saya tak fanatik dengan jenis kaset maka yang saya belum punya nbaik baru atau lama ya saya ambil saja.  Dapatnya 11 kaset, termasuk Genesis live yang cuma kaset 2 aja. Untunglah tak ada mas DananG karena ada kaset Queen-Magic Live terbitan Team Record, jelas saya ambil juga. harganya juga sama, 12.500-an.

image

image

image

image

    Apakah perburuan saya usai? Belum. Sebelum saya keluar lewat arah masuk tadi saya mampir ke penjual terakhir yang ukuran lapaknya segerobak aja. Awalnya sih seperti tak ada yang saya minati, wl akhirnya dapat juga 4 kaset yg saya anggap layak beli. Kaset Queen terbitan Team itu selama ini cuma saya lihat di iklan majalah Hai akhir tahun 80-an akhirnya bisa megang dan kebeli juga. Akhirnya pas mau saya bayar lalu saya tambah kaset Green Day yg sampul bagian judul lagu sdh nempel kotak kasetnya. Jatuhnya 55.000 :) Kali ini saya puas walau semalam saya dapat kaset2 yg harganya mahalan dikit. Perjalanan nyopiri sendiri ke Blora selama 3,5 jam jadi agak ringan karena sdh pengin nyetel kasetnya. Untunglha saya tadi ketemu Doraemon :)

-Andria Sonhedi-

A Night at The RM Padang Jaya – Semarang

January 26, 2015

Andria Sonhedi

     Akhirnya ada juga kesempatan nginep di Semarang lagi. Artinya saya bisa berkesempatan ke RM Padang Jaya dan kl bisa juga mampir ke pasar Johar untuk cari kaset. Acara saya Rabu 21 Januari 2015 jam 8-17.10 dan berlanjut Kamis setengah hari. Untunglah saya juga dapat penginapan di Hotel Metro yang juga berdekatan sekali dengan Pasar Johar maupun tempat saya punya acara sehingga pagi-pagi Kamisnya nggak perlu tergesa-gesa berangkat.
     Sehabis magrib segera saya ke RM Padang Jaya, maklum kl di sana bisa lama apalagi teman saya (pak Eko dari Batang) juga ngajak makan malam shg saya harus bergerak cepat. Si Om kacamata sdh mengenali saya begitu masuk. Karena akan makan malam di tempat lain maka saya pesen minum aja.
     Di RM Padang Jaya ini lumayan sulit untuk memulai. Maklum sangking berjejalnya kaset yang ditata, beraturan tapi tak mengenal genre, saya jadi bingung mau mulai dari mana supaya efisien. Mau saya sih tak banyak yang harus saya bongkar tapi hasilnya maksimal :) sayangnya sampai jam 8 malam saya cuma nemu kaset-kaset lama yang pop doang sampai-sampai janji makan malam dengan teman saya saya batalkan. Di sini pun selain sulit untuk memilih yang akan mulai dibongkar sekaligus juga sulit untuk menghentikannya :D Ada beberapa kaset heavy metal tapi sudah kusam & covernya diselotipe, sayang sih kl dibeli dengan harga mahal. Nemu juga beberapa kaset seri lama seperti Soft & Beautiful dari Hins Collection atau StarsOn 45 dari Kings. Ada juga kaset Michael Frank yang jadi pesanan mas Hippienov. Sayangnya kaset MF III terbitan Aquarius itu pitannya sdh putus shg batal saya ambil.
     Akhirnya setelah benar-benar menghentikan perburuan saya, dengan sangat berat, ada 8 kaset saja yang saya ambil. Dari 8  kaset hanya satu yang kaset lama terbitan Cash Box, itu saja grup techno pop A-Ha. Sisanya keluaran masa royalty.

image

image

image

1. grup A-Ha wl tak secemerlang Duran Duran di Indonesia namun saya bisa nerima musiknya. Beberapa tahun lalu di Euro Vision Song Contest di Finlandia ada grup metal Northern Kings yang mengcover lagu Take on Me dari A-Ha.
2. Perekam Trax/Sabotage adalah perekam Indonesia di awal2 munculnya kaset2 lisensi. saya dulu pernah tahu ada kaset grup metal Necronomicon, Diamond Head, Venom & Tyrant. Sayangnya saya cuma nemu kaset2 kompilasi yg tak ketahuan artisnya wl untung dapat kaset Tobruk (ini bukan minuman) grup hard rock Inggris serta White Sister juga hard rock dari Amerika. Beruntunglah saya karena kawan kita Hardi Dokken pernah mesen nyarikan mp3-nya shg saya jadi tahu kl ini grup rock bukan girls band.
3. Enya adalah salah satu penyanyi wanita idola saya :) Kebetulan kaset the Celts saya yg produksi Thailand dihilangkan adik saya maka saya bersyukur bisa nemu lagi.
4.UB 40 dan Bob Marley adalah musisi Reggeae yang bisa saya ikuti makanya wl isi kasetnya ya itu2 juga, UB40 the best sedang Bob yang live, tetap saya beli
5. Slaughter adalah grup hair metal yang cukup populer di Amerika di era 90-an namun nggak pernah saya beli :) semenjak saya mulai pelan-pelan mengumpulkan grup hair metal maka Slaugter pun saya beli juga
6.Sebenarnya kaset George Michael ini EP saja, cuma 5 lagu makanya judulnya Five Live. 3 lagu adalah covernya Queen makanya kaset ini saya ambil.
      Jam setengah 10 akhirnya saya tiba di hotel, lumayan juga lelahnya. Tapi perburuan belum usai. masih ada satu hari lagi untuk menemukan penjual kaset di Pasar Johar. Cerita kali ini memang bersambung :)

-Andria Sonhedi-

Hasil Hunting 4 Jam di Surabaya

January 16, 2015

Eddy Irawan

Belum puwas rasanya kalo belum pernah nyambangi kediaman Cak Sunari, yg dlm beberapa minggu ini sering disebut dlm perdagangan kaset online. Walaupun cuma dapat beberapa kaset, tp saya senang sudah sempat silaturahim di kediaman beliau.

Juga di ‘gudang’ kaset bang Joker yg ternyata juga vokalis di grup metal lokal di Surabaya, saya dapat sejumlah kaset dgn ‘label’ rekaman yg unik. Baru tau kalo ternyata di Surabaya pernah ada perekam Voodoo, Holywood, Horizon.

image

image

image

image

image

Mas Danang perlu ke ‘gudang’ bang Joker ini krn koleksian Queen dan Rush nya, sangat melimpah ruah. Saya sekedarnya aja ambil beberapa kaset Queen dan rekaman Yess dari kardus2 yg berserakan. Saran saya, kl berkunjung ke bang Joker, jgn malam hari krn ‘gudang’ kaset nya gak ada lampu. Sukurlah malam itu saya terbantu pencahayaan dari ‘Flash Gordon’. Heheheheh (e)

Midi ProgRing Suroboyo

January 15, 2015

Dr. Apec Arif Bakhtiar

image

Alhamdulillah,akhirnya keturutan (terkabul) juga harapan disamperin mas eddy di surabaya..Padahal bbrp hari sebelumnya mas Eddy ngabari kalo beliau ada acara di Semarang..Nah,kok ujug-ujug pada rabu siang sekitar jam 12, sang jawara kolektor musik analog itu ngabari via WA kalo 4 jam lagi akan di surabaya…Nahhhh,lho………..kok serasa sdh diatur..apa pasalnya?? Jawabannya adalah karena jam 15.21 sobat edan saya dari Medan,pakar operasi katarak dgn metode khusus tanpa jahitan ( ini beneran,beliau dr mata termuda yg jago untuk hal itu sampe pernah didaulat untuk live surgery menunjukkan keahliannya di hadapan dokter mata se Indonesia pd tahun 2012,jadi silahkan konsul metode operasi katarak tanpa jahitan ke beliau) akan sampai di Stasiun Gubeng sehabis acara di Jember…passs…tumbu ketemu tutup..Langsung saya kabari mas eddy untuk saya jemput di Plaza Surabaya.Dalam perjalanannya,ternyata mas eddy (bersama temannya yg bernama mas Wahyu) msh cari oleh2 di Pasar Genteng,sehingga saya dan soni memilih menunggu sambil hunting di toko CD import terlengkap di Surabaya,Mega Disc yg berlokasi hampir bersebelahan dgn kantor IDI Surabaya..baru aja masuk sekitar 10 menit,mas eddy nelpon untuk menghampiri karena ada sopir yg ngantar..Rupanya banjir CD dan PH baru yg bejibun tdk membuat pendirian mas eddy goyah terhadap niatan berburu kaset.Di mega disc,mas wahyu sempat membeli CD accoustic kompilasi. Tanpa ba bi bu,saya tlp yg namanya Cak Sunari,kolekdol kondang Surabaya…rumahnya yg berada di daerah Pasar Bong Slompretan banyak dikenal kalangan kolektor..kalo anda searching mengenai lokasi hunting kaset di surabaya,maka nama Sunari akan jadi salah satu referensi,meskipun sekarang ini koleksinya sdh banyak berkurang..malah banyak kaset rekaman sendiri yg dipajang sekedar untuk nostalgia lagu katanya..Tapi yg namanya mata seorang Mas Eddy,tetap saja bisa menemukan beberapa kaset incaran. Habis maghrib,Acara berburu dilanjutkan ke kediaman Joker,yg sempat disambangi Koh Win waktu di Surabaya.Sayangnya saya dan soni ora iso melu karena jam 20.00 sdh ada janjian acara dgn teman dokter mata.Mohon maaf sebesarnya buat mas eddy dan mas wahyu karena ndak bisa nemani,lha baru tahu kalo arep datang jam 12 siangnya…belum lagi rencana kulineran ala Surabaya yg tidak bisa saya wujudkan,lha kok besoknya mas eddy sdh kudu balik jakarta.istri joker ngabari kalo mas eddy borong kaset banyak dari Joker.
Ayo,hamba tunggu lagi siapa yg arep ke Suroboyo..

image

image

image

Prog Fusion Vol. 4 & 5

January 8, 2015

Hippienov

image

Judul panjangnya dari kompilasi ini adalah: “Prog Fusion Vol. 4 & 5 ( A Tribute to Mas GW & Koh Win)”. Mengapa demikian? Karena kompilasi ini memang sengaja aku buat untuk menghormati kedua tokoh penting di blog gemblung terhebat dan karena semua lagu di dalamnya aku ambil dari file mp3 yang Mas G berikan ke Koh Win kemudian beliau (Koh Win) “share” ke aku. Gak tanggung-tanggung file mp3 sebesar 8Gb dikirim khusus Koh Win ke Depok dan karena ini pula istriku sampai khusus “menghadiahkan” sebuah flashdisk 16Gb untuk dapat menampung semua file mp3 tersebut, mungkin dia tau kalo flashdisk punyaku cuma 2Gb dan itupun sudah nyaris penuh. Sengaja dibelikan 16Gb supaya ada sisa space just in case dapat kiriman lagi untuk dikopi kata istri, hehehe…lumayan…

Lagu-lagu yang masuk kompilasi Prog Fusion Vol. 4 sebagai berikut:
1. Marbles IV / Marillion.
2. Streaming / No-Man.
3. Lady of The Dancing Water / King Crimson.
4. Serpentine Song / Steve Hackett.
5. The Bryden 2 Step For Amphibians (Part 2) / National Health.
6. Driving to Amsterdam / Khan.
7. Luminol / Steven Wilson.
8. The Bryden 2 Step For Amphibians (Part 1) / National Health.
9. Subterranea / IQ.
10. Vandeinger i Vilsenhet / Anglagard.
11. Reality or Misantrophy / Cast.
12. Tightrope / Beardfish.

Vol. 4 dimulai dengan lagu pendek “marbles IV” dari Marillion disusul dengan 3 lagu selanjutnya yang bernuansa kalem. Baru pada lagu kelima dari National Health dan berikut-berikutnya mulai kelihatan prog nya, apalagi di lagu “luminol” nya Steven Wilson yang berdurasi 20 menit lebih itu.

image

 
Sedangkan Prog Fusion Vol. 5 terdiri dari:
1. Marbles I – IV / Marillion.
2. Shock Treatment / Pallas.
3. Constellations / IQ.
4. Humanizzimo / Ronnie Stohlt.
5. Kaleisdoscope / Transatlantic.
6. A Voyage Through Rush Hour / The Tangent.

Vol. 5 kembali dibuka dengan Marbles I – IV dari Marillion. Awalnya aku berniat untuk memasukkan lagu dari album Marillion “marbles”. Saat lagi milah-milih lagu aku malah dapat ide gemblung untuk menggabungkan 4 lagu marbles yang ada di album itu, padahal sebenarnya masing-masing berdiri sendiri dan gak nyambung satu dengan yang lain tapi khusus untuk kompilasi ini aku coba sambungkan dengan teknik fade in-fade out. Namun karena minim pengetahuan teknis maka hasilnya pun kurang mulus… Wis ben, hehehe…
Ada pula dua lagu berdurasi super panjang yaitu “humanizzimo” dan “kaleidoscope” yang 30 menit lebih itu turut aku masukkan dalam Vol. 5 ini.

Aku putuskan untuk menghidupkan kembali serial “prog fusion” yang tadinya berakhir di vol. 3 dan menamakan kompilasi ini “prog fusion vol. 4 dan vol. 5″ hanya karena ada Khan dan National Health yang ada nuansa jazz nya, padahal harus kuakui sebenarnya aku gak benar-benar yakin kompilasi ini cocok diberi judul “prog fusion”, hehehe…

Matursuwun Mas G atas waktu dan kesempatan yang selalu disediakan dan untuk rekan-rekan yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tret ini. Semoga berkenan dan mohon maaf atas kekurangan yang ada.

A Boy Who Dreams Music,
hippienov

Junior Wells “Come On In This House” – Review

January 6, 2015

Asep Cash Ball

unnamed-1

Jujur ini album pertama kuping ini serius dengerin Blues. Sebelumnya ya cuman musik kaya Burgerkill, Seringai sama Homicide. Yang gitu-gitulah. Gak ada yang laen. Soalnya yang ngerti ya cuman itu.

Dari dulu juga gak pernah koleksi musik blues. Jadi jangan bilang ngerti blues. Gak ada tuh rasa pengen tau musik blues itu kaya apa. Beda sama musik hip hop atau metal rasanya pengen tau lebih. Makanya banyakan koleksi Metal sama Hip Hop. Dulu juga sempet kok coba-coba dengerin sebentar album B.B. King sama Eric Clapton. Gitaris negro yang buat album bareng gitaris bule. Isinya tuh maenin gitar pake teknik tinggi sama jago juga improvisasinya. Dari sana kepikiran kalo semua musik Blues pasti gitu.

Musik berat. Ah maleslah dengerinnya. Gak cocok di dengerin tiap jam. Musik yang didenger muter di situ-situ aja, band-band yang di denger ngehasilin suara yang sama. Hip hop lagi, metal lagi. Bosen juga ya. Bandnya sih beda-beda, rapper-rappernya juga beda-beda, tapi kok gak ngasih yang rasa yang beda-beda ya? Ngedengerin musik jadi ngebosenin. Ah ngapain dengerin musik. Bosen. Pas waktunya lagi bosen-bosennya dengerin musik metal sama hip hop itulah. Rasanya perlu ngedengerin yang laen. Dengerinlah CD keluaran tahun 1996 “Come On In This House”. Di album ini almarhum Junior Wells ngeluarin semua jiwanya buat niupin melodi manis yang keluar dari gesekan rongga harmonikanya. Suaranya enak di denger.

Suara harmonika Junior Wells emang gak kaya suara gitar B.B. King atau Eric Clapton. Namanya juga suara harmonika pasti bedalah sama gitar. Tapi maksudnya tuh ini gak terlalu kedengeran suara gitar gitulah. Jauh dari yang di bayangin sebelumnya. Disni malah lebih kedengeran harmonikanya dibanding gitarnya. Tapi ada bagian-bagian jatah melodi gitar juga yang di bantu sama Sonny Landreth di lagu “give me one reason” wah susah ke uliknya past waktu pertama kali denger. Itu tahun 2007 kalo gak salah. Mulei sok berani-beraninya nyoba ngulik gitarnya. Sial. Susah ya. Sampe sekarang gak pernah bisa nguliknya.

Okey kalo gitu coba harmonika deh. Eh hasilnya sama aja gak bisa. Bener-bener emang gak cocok jadi pemaen musik deh. Mungkin cocoknya jadi pendengar ajalah. Ya udah fokus aja dengerin album ini dari lagu ke lagu laen. Moodnya kerasa manis. Semua lagu gampang buat sukanya. Album ini kerasa ngepoplah. Asik. Gak pernah bosen di dengerin. Ampir tiap bulanlah pasti di stel. Kira-kira udah 7 tahunan ini rajin di dengerin. Gak pernah bosen juga nyanyinya. Dengerin aja lagu “Mystery Train” https://www.youtube.com/watch?v=DJJenh3ZZE4 sama “Come On In This House” * https://www.youtube.com/watch?v=82gKV8TV5EI. Ini jadi pengalaman bagus buat nikmatin blues yang dulu kedengeran musik berat jadi kedengeran pop.

*****

Sekarang baru ngerti kenapa gak suka Blues dulu. Mungkin waktunya aja gak pas, pas lagi suka-sukanya Metal sama Hip Hop. Yang musiknya kenceng drumnya geber kalo gak musiknya pelan nge-rapp-nya geber. Mana bisa di paksa buat digantin sama blues. Tapi ini juga yang ngebuat musik blues itu enak di denger. Rasa yang di kasih dari musik blues itu gak di kasih musik Metal sama Hip Hop. Gak ada rasa bukan berati jelek. Dari musik beda ini gak jadi susah juga ya buat menuhin lapar kuping yang biasa ngedengerin lirik setan neraka sama rima gangster ini. Lirik ini penting, gak keren ya gak perlu di denger. Kalo keren baru deh di denger.

Gak mungkin juga di paksain di isi sama curhatan kuli negro. Kuping pasti nolak. Sama kaya sejarah musik jazz yang gak mau maenin musik kulit putih waktu itu. Musik klasik yang buat negro kedengeran kaya masih dalem penjajahan hidup mereka. Kerja di paksa, eh maenin musik juga kepaksa. Jadi mereka maen musik seenak mereka, ngejiawin musik itu pake gaya sendiri. Berkembanglah musik jazz & blues. Ini kata radio yang di dengerin dulu. Gak tau bener gak tau enggak.

Radio muter blues yang rumit. Susah nikmatinya. Gak tau juga enaknya dimana. Padahal musik blues ada juga yang enak-enak loh. Jadi gak ada alesan juga buat gak ngedengerinnya. Mau
​ngedengerin gitar kek, mau ngedengerin harmonika. Sama aja. Terus masalah lirik jangan di bahas lagi lah. Gak penting. Gak ngerti juga.

Kata radio juga di sini Almarhum ngelawak. Iya ngelawak. Kok bukan curhat ya? Mungkin almarhum bukan kuli negro Amerika kali. Atau mungkin mantan? Gak tau juga ya. Daripada ngarang terus sok pinter kaya anak muda sok nge-blues. Padahal baru denger satu album blues ini doang. Yah udah gak usah di bahas aja ya? kalo salah tolong di benerin. Kalo mau nambahin juga boleh. Bebas ajalah.

Nah kalo jadi banyak yang gak di bahas maafin ya? Maklumlah kan gak suka blues, baru belajar suka sih. Jadi ya segini aja paling yang bisa di bahas. Okeh lajut lagi yang terakhir. Ternyata oh ternyata baru sadar kalo Radio ngasih banyak penjelasan yang ngebuka kalo blues tuh bukan musik curhat kuli doang. Perkembanganya malah jadi musik pop. Alias bisa enak di dengerlah. Gak sekedar musik yang gak jelas juntrungannya. Bukan ngerendahin loh. Tapi emang kedengerannya emang gitu. Salahin kuping ajalah. Dari hasil ngedengerin album ini juga, kuping jadi tau kapan waktu yang pas buat ngedengerinnya. Pemaen Blues mau negro mau bule sama aja ya. Yang penting mah suaranya enak di denger ajalah. Selera pribadi lagi ini mah.

Blues juga dibagi dua. Blues gitar sama blues harmonika. Ini gak ada di Radio loh, cuman pengen ngasih katagori aja biar kedengeran sok nge-blues-lah. Sekalian biar bisa di percaya. Daripada gak percaya apa-apa terus sok tau lagi? Repotkan. Dah percaya ajalah. Percaya deh, ngedengerin musik blues itu perlu jam yang pas. Dimana tempatnya si bebas aja, asal jago milih-milihnya. Lagi-lagi selera pribadi ya. Beda orang beda cerita. Beda juga selera suaranya. Kalo mau dengerin suara gitarnya ya dengerin B.B. King sama Eric Clapton. Kalo mau ngedengerin suara harmonika ya ngedengerinnya Junior Wells. Ayo mau dengerin yang mana nih?

Lapsing Midi ProgRing

January 5, 2015
image

When ELP meets Jordan Rudess @ BMS


Alhamdulillah akhirnya bisa progring: ELP (Eddy, Lik apec dan Pak gatot) meets Jordan Rudess, menikmati lèsèhan di BMS.


image

Membalas SMS Koh Win ...


image

Sikat habissszz...! (Photo by Eddy Irawan)


image

Hasil pertemuan midi progring ...

Perwajahan Music for Life

January 4, 2015

Herman

Sebagai warga Blog,  kalau Mas Gatot berkenan, saya kirimkan 2 gambar untuk perwajahan Blog MFL yang sudah jadi tempat mangkal temen2 semua. Gambar ini tanpa konsep yang mendalam dan bukan logo. Di sini ada kaset dan ada sampul – sampul album musik Prog kemudian saya tambahkan figure orang duduk (Dave Gilmour) yang saya ambil dari Album Pink Floyd dan satu lagi figure Ian Anderson yang sudah sering kita pakai. Sepertinya orang Prog sudah tidak asing dengan Dave Gilmour duduk ini ataupun Ian Anderson,  sehingga saya gunakan sebagai ikon . Waktu mau bikin gambar, ide pertama yang muncul sederhana,  ingin menampilkan gambar Dave Gilmour duduk di atas kaset, karena Blog ini banyak membahas kaset. Kebetulan nemu gambar Topographic Ocean-nya Yes dalam format landscape, maka jadilah Dave Gilmour duduknya di tepi Topographic Ocean……selebihnya pernak pernik agar bidang penuh….

Sebetulnya kalau dituruti ide yang berkembang bisa banyak….ternyata betul sekali yang Mas Khalil katakan kepada saya, bahwa “ kalau bikin desain bisa muncul puluhan alternative”. Saya bisa merasakan hal itu ketika membuat gambar ini.

Saya kirimkan 2 gambar ini sekedar supaya ada pilihan meskipun minim….katanya kalau hanya  satu itu namanya fetakompli ….hehehe…

Dua gambar  ini baru dari ide saya, kalau ada yang kurang patut mohon saya diberikan masukan untuk disempurnakan lagi. Terima kasih.

Salam,

Herman.

FACE Blog MFL copy

FACE Blog MFL 2 copy


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 178 other followers