Gilby Clark “Pawnshop Guitars”

April 28, 2015

Andria Sonhedi

Sekitar tahun 1994 di depan toko kaset Popeye Jl Mataram Yogya dipasanglah poster album solo awal Gilby Clarke. Saat itu Gilby dikenal sebagai gitaris baru Guns n Roses sebagai pengganti Izzy Stradlin sebagai ritem gitar. Sebelum di G n R Gilby ada di grup Kill for Thrill yg kasetnya juga pernah dirilis di Indonesia.
Rekan G n R-nya kala itu, Slash, ikut menyumbang solo gitarnya di lagu. Di album debut ini Gilby menyajikan lagu-lagu yang Rock n Roll, jauh dari kesan G n’ R. Salah satunya ada cover lagu Dead Flower dari Rolling Stones. Jujur saya baru nyimak lagu ini di kaset ini wl kakak saya ternyata punya versi aslinya di kaset the best Mick Jagger keluaran Pan Audio. Axl Rose, koleganya di G n’R juga, ikut menjadi penyanyi latar di lagu ini yg jelas langsung dikenali dari lengkingan suaranya.
Saat itu sepertinya kaset ini tak meledak, walau komposisi lagu2nya sebenarnya bagus, mungkin karena banyak orang berekspektasi terlalu tinggi dgn mengira akan mendengar lagu2 G n R yang baru.

gw - gilby_3

Hits of Queen rekaman Metro

April 26, 2015

Andria Sonhedi

     Akhirnya setelah Maret kemarin saya gagal ke Pasar Yaik Semarang untuk bertemu mas Achmad, pada Kamis  23 April kemarin terlaksana juga niatannya.
     Sebenarnya Minggu tanggal 15 Maret lalu saya sdh hampir sampai Semarang setelah pulang dari acara di Purwodadi. Mumpung cuma 1,5 jam ke Semarang saya memutuskan untuk mampir ke pasar Yaik, tak lupa mengontak mas Achmad. Sayangnya walau kita sdh berusaha hati-hati namun Tuhan jugalah yg menentukan. Entah mengapa baru sampai Demak rasanya kok mata saya berat, memang malamnya saya ikut acara persiapan Car Free day paginya hingga jam 24.00 lalu jam 5 pagi sudah harus mulai persiapan acara. Saya sdh sempat berhenti dan istirahat di luar mobil, saya mmg sendirian, lalu setelah merasa segar nyopir lagi karena cuma 1./2 jam lagi saya sampai Semarang. Sayangnya setelah itu saya kok tidak ingat lagi tahu2 mata saya terbuka dan saya ada di jalan sebelah kanan mendekati devider dan ada bis mini yang berhenti. Saya berusaha ngerem tapi tetap juga nabrak bemper bis tadi. Belakangan saya baru tahu kl saya sdh sampai di pertigaan terminal Semarang. Akhir cerita saya harus mengganti kerusakanbis bemper tadi, masih untung tak ada yg luka dan tak ada  aparat kepolisian yg memeriksa. Akhirnya dengan kondisi kap terlipat dan bemper hancur saya balik Blora. mas Achmad saya telpon utk membatalkan kunjungan.
     Sebulan kemudian, tepatnya 23 April kemarin, saya ada acara kantor ke Purwodadi lagi. Rencananya habis selesai acara jam 13.00 saya dan kawan2 akan balik ke Blora lagi. Sekitar jam 10 saya dapat kabar kl ayah mbak ratna,salah satu tim saya, paginya meninggal di Semarang. Akhirnya rencana pulang dulu batal lalu saya ijin utk melayat. Dari sanalah  tiba2 muncul niatan mampir pasar yaik. Untung juga mas Achmad jualan dan mau nunggu saya. Alhamdulillah kali ini nyopir sendiri lancar sampai rumah duka wl gara2 saya terlalu lama rombongan wakil kantor sdh pamit duluan.
     Pasar Yaik masih ramai walau sdh jam 4 sore, 2 lapak kaset lain di dalam juga blm tutup namun karena waktunya pendek, rombongan kantor saya nunggu di kantor wilayah yg dekat situ, akhirnya saya lakukan pemilihan secara kilat saja. Kebanyakan kaset2 lisensi baru yang saya dapat dan masih kondisi mulus.
     Tak dinyana saya dapat kaset Queen produksi Metro. Selama ini saya jarang nemu kaset Queen lama di lapak seken. Untungnya saya sdh punya semua album Queen wl dari beragam perusahaan rekaman. Semenjak saya ikut grup Queenindo-nya mas DananG saya mulai ikut nyari kaset2 Queen lagi. Kaset berjudul Hit’s of Queen ini sampulnya masih bagus tapi fotonya sdh kabur di bagian bawah. Lagu-lagunya juga standar kl kaset kompilasi, tapi toh nuansamatiknya yg saya cari :)

image

     Total ada 30 kaset berbagai macam genre: Genesis, Dream Theater, Def Leppard, White Lion, Steelheart bahkan CCR dan Air Supply :D Sayangnya saat nulis ini kaset2 saya tadi ada di kosan Blora shg tak bisa saya tampilkan. Sebenarnya mas Achmad menawari kaset2nya yg masih di rumah. Lha ini yang masih harus nyari hari baik dulu.

Kaset Hard Rock versi BillBoard

April 26, 2015

Andria Sonhedi

Ini sambungan tulisan saya ttg berburu kaset di pasar Yaik Semarang bulan Februari lalu.
Kebanyakan rekan2 di sini mengomentari kaset shg menemukan kaset keluaran Billboard kualitas suaranya jelek sehingga banyak yg menghindari untuk membelinya. Saya juga sepakat karena hampir semua kaset Billboard saya baik yg beli di toko atau lapak seken kondisinya mmg demikian. Saat kaset2 seken masih banyak pun saya jarang beli terbitan Billboard karena semata-mata tak tertarik grup yang ditawarkan atau sdh punya produksi perekam lain.
Seiring berjalannya waktu yg membuat saya sulit menemukan kaset seken lama akhirnya saya beli juga kaset2 yang jaman dulu tak pernah saya beli. Apapun perekamnya saya beli, utamanya kaset album bukan kompiolasi, termasuk juga keluaran Billboard. Makanya saat di lapak mas Achmad Semarang menawarkan 4 buah kaset Billboard dari grup hard rock tetap saya ambil. Khusus kaset Vandenberg-Alibi saya hanya suka kover albumnya yang benar2 ingin saya miliki sejak lama. Pernah juga muncul di lapak mas Herman Bringharjo jaman dahulu kala, cuma saat itu tak saya beli karena isinya tidak menarik. Lucunya di kaset Scorpions-Love at the First Sting side B-nya ada sedikit lagu Vandenberg dari album lain sebagai tambahan. Kaset Y&T -Live pernah saya punya, saat itu terbitan a Private Colklection, tapi lalu saya tukar tambahkan karena cuma ada 2 lagu yang nyantol. Untuk Dokken saya sudah mempunyai the bestnya produksi Rockshot makanya jaman dulu saya tak mencoba membeli albumnya, kalau sekarang jelas saya ambil tanpa mikir :)
Ada lagi ciri lain Billboard yaitu stiker transparan “New 85″ atau tahun kaset itu muncul sbg New Release.

CIMG9489

Kaset Kompilasi dari Pasar Yaik Semarang

April 26, 2015

Andria Sonhedi

Alhamdulillah pak gatot sdh bisa mengupload tulisan2 rekan2 lagi :)
saya mau mengangkat cerita lama dulu.
Tanggal 10-11 Pebruari lalu saya dapat tugas ke Semarang lagi. Walau menginap satu malam namun kali ini saya tidak menyempatkan diri mencari kaset di RM Padang Jaya. Selain karena lelah juga karena sedang tak tertarik membongkari kaset2 yang kebanyakan lagu pop. Saya lebih memilih ke pasar Yaik saja tanggal sebelasnya sehabis acara rampung.
Saat saya ke sana ke-3 penjual kaset ada semua tapi ternyata yang ada tambahan cuma lapak mas Achmad. Kali ini mas Achmad menyodori banyak kaset kompilasi lama maupun lama sekali ke saya. Kebanyakan keluaran Atlantic Record, seri heavy slow rock, yang memakai cover album sebuah grup hard rock sebagai ilustrasi.
Sebenarnya saya tak terlalu tertarik dengan kaset kompilasi, Saya lebih suka kaset album sebuah grup, wl mungkin hanya satu atau dua lagu yang saya suka. Selain itu pilihan lagu di kaset2 kompilasi jarang yang saya kenal & tak tahu enak didengar atau tidak. Namun demikian karena saat itu tak banyak yg bisa saya beli (he he he) saya ambil juga kaset kompilasi. Dari 3 kaset ini ternyata ada 1 kaset terbitan Cashbox (tengah) yg isinya malah lagu Sweet Pop. Itu gara2 saya tak mencoba karena masalah waktu. Kaset kompilasi terbitan AR isinya benar semua. Saya cocok dengan yang C-90 bergambar grup Europe. Satunya lagi (Heavy Slow Rock Part 7) saya beli karena semata-mata memakai cover album Scorpions yang dibuat oleh alm. Storm Thorgersen/Hipgnosis. Kover album ini sampai dibuat versi “aman” dan itulah yang muncul di Indonesia era lisensi.

CIMG9618
Tentu saja selain kaset kompilasi tadi ada beberapa kaset seken baik baru atau lama yang saya beli. Gara2 sudah nemu lapak mas Achmad ini saya sekarang tak terlalu sedih kl harus pergi ke Semarang, walau ada juga kisah sedihnya yg akan saya tulis di lain waktu.

Silaturahim ke Ketua KPMI

April 22, 2015

Eddy Irawan

Kemarin malam (7 april), saya berkesempatan main ke rumah pimpinan komunitas pencinta musik indonesia (kpmi). Sekian tahun hanya mengenal via progring dan blogging, akhirnya bisa juga mengenal beliau lebih dekat.

Pembicaraan kita apalagi kalo bukan seputaran dunia musik dan kaset. Bahkan saya diberi keleluasaan untuk menyidak koleksian kaset di kamar pribadi sang maestro.

Terimakasih atas jamuan dan penerimaan yg sangat akrab. Saya sangat menghargai silaturahim kita, Pak Gatot Triyono!

IMG-20150407-00284

8 April 2015

Dream Theater Dalam Sebuah Kisah (Bag. 1)

April 22, 2015

Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah

Yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah

Part I

 Boeddhierif Setyawan

Salam Hormat saya sebagai anak muda kepada Om G dan para sesepuh, para suhu dan seluruh penghuni Blog Gemblung ini. Akhirnya untuk pertama kali dan semoga saja hal ini menjadi Penjebar Semangat (gen koyo majalah lawas sing diterbitkan oleh Pendiri Boedi Oetomo, rodo mekso disrempetke wae mumpung jeneng’e yo nganggo Budi..hihihihi) saya untuk seterusnya dapat berbagi dan bercerita di sini, di Blog Gemblung ini..hehehehe

Tanpa panjang lebar lagi (karena mungkin tulisan ini nanti akan panjang dan melebar jauh dari detail musik di dalamnya, karena saya berusaha untuk menuliskan kisah emosional dari salah satu atau beberapa lagu dari setiap album Dream Theater), untuk kali ini saya ingin membagikan kesan, kisah dan cerita tentang lagu-lagu Dream Theater yang saya ambil dari setiap albumnya, meskipun bisa dibilang saya termasuk salah satu orang yang terlambat untuk mendengarkan lagu-lagu Dream Theater (apalagi band proclaro lainnya yang era sebelum Dream Theater). Tapi apapun bentuknya yang namanya musik itu tidak pernah terlambat, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar maupun mendengarkan musik (iki asline yo gur ngayem-ngayem aku dewe gen ora diarani salah utawa telat nemen..hahaha)

  1. The Killing Hand – 1989 When Dream And Day Unite

01 When Dream and Day Unite

Ketika itu di akhir tahun 2000, sekali lagi saya bisa dibilang sangat terlambat mendengarkan musik progressive karena faktor usia (sebuah pembelaan yang semoga saja sangat logis..hahahaha). Pada awalnya saya penasaran dari judul lagunya dan akhirnya saya mendapatkan lagu ini dari para dermawan website alias download meskipun harus ke warnet (harap maklum, karena pada saat itu saya belum punya internet sendiri, pye arep pasang internet, wong arep telpun pacar’e wae kudu golek wartel disik, opo meneh internet).

Sebenarnya, album When Dream And Day Unite ini merupakan album kedua Dream Theater yang saya dengarkan karena album pertama yang saya dengarkan adalah album Images and Words -yang akan saya bahas salah satu lagunya di bagian selanjutnya-.

Pertama kali mendengarkan album ini saya kurang begitu suka dan kurang begitu greget karena pada saat itu saya sudah terlanjur nancep dengan karakter suara James LaBrie pada album Images and Words. Namun ketika saya mendengar lagu The Killing Hand ini, untuk pertama kalinya, intro suara petikan gitar John Petrucci yang setting sound’nya pada saat itu menurut saya agak aneh dan kurang familiar di telinga saya, dan akhirnya masuklah suara dari Charlie Dominici yang langsung membuat saya ngguyu nggeblak sambil berkata dalam hati “nah, iki termasuk pecinta ketinggian” (suara vokal melengking tinggi tanpa ada seraknya sama sekali).

Setelah mendengarkan lagu ini, saya menjadi penasaran dengan lagu lain sehingga membuat saya berfikir, “sesuk neng warnet meneh gen iso ngrungokne sak album sisan” (besok ke warnet lagi biar bias mendengarkan full album sekalian). Dan akhirnya dari album ini saya mulai berkata dalam hati “Band iki kudune sing tak rungokne lan kudu tak golek’i kaset-kaset’e nganti kecandak mbuh piye carane!” (Band ini seharusnya yang saya dengarkan dan harus saya cari kaset-kasetnya sampai ketemu entah bagaimanapun caranya). Hingga kemudian pada akhirnya saya berhasil mendapatkan kasetnya meskipun bootleg atau bajakan ataupun “Kaset Malangan”, mbuh, ora urusan sing penting aku nduwe rekaman’e dalam format pita trus suarane termasuk kategori apik (entahlah, tidak peduli yang penting saya punya rekamannya dalam format pita dan suaranya termasuk kategori bagus).

Dan dari pengaruh inilah hal yang membuat saya sering menjajah lapak kaset bekas di Solo, entah 1 atau 2 minggu sekali sebelum pulang ke Sragen saya pasti menyempatkan diri mampir ke lapak-lapak kaset bekas dengan catatan nek pas nduwe duit turahan, nek ora nduwe yo gur lewat ngarep’e thok karo entrane ora ngerti nek lapak’e kwi bukak (kalau pas punya duit sisa, kalau tidak punya ya cuma lewat depannya saja sambil pura-pura tidak lihat kalau lapaknya itu buka). Dan di Solo inilah saya mulai perlahan dan dengan sedikit demi sangat sedikit sekali mengumpulkan kaset Dream Theater karena pada waktu saya masih SMA tinggal di Sragen sangat terbatas musik yang saya dengarkan dengan keterbatasan kaset yang dijual di toko-toko kaset maupun jumlah toko kaset yang ada di Sragen. Selain itu, alasan saya yang paling utama adalah keterbatasan dana untuk membeli kaset..hahahaha

  1. Surrounded – 1992 Images And Words

02 Images and Words

Album ini merupakan album tonggak awal bersejarah yang penuh keluh kesah dalam kisah perkenalan saya dengan Dream Theater. Boleh dikatakan juga bahwa album ini merupakan awal mula saya mulai gandrung dan kesengsem dengan musik progressive (akhir tahun 2000), yang pada saat itu sedang marak musik alternative rock yang begitu menyita waktu, telinga dan perhatian saya. Awal mula saya mendengarkan album ini adalah ketika saya dipinjami kaset ini oleh seorang teman sebangku saya waktu sekolah di SMA yang saat itu dia melanjutkan kuliah di Semarang. Dia merupakan teman saya yang paling legendaris karena dialah orang yang sering saya jadikan alasan bila sudah tidak punya uang saku untuk segera menjemput saya ke rumah biar saya bisa ada alasan untuk minta uang jajan tambahan kepada ibu saya. hahaha.. Saya sudahi cukup sampai di situ saja cerita tentang teman saya, karena kalau saya teruskan cerita tentang dia malah semakin panjang dan lebar ini nanti ceritanya, bias-bisa malah lupa tidak jadi membahas keluh, kesah dan kisah tentang Dream Theater ini nanti.

Mari kita kembali lagi ke pokok pembahasan awal yaitu tentang kaset Dream Theater. Saat pertama kali saya dipinjami kaset ini, pada awalnya saya putar kaset ini 2 side penuh, namun apa daya, karena sebelumnya saya amat sangat jarang sekali mendengarkan musik progressive rock/metal, saya belum begitu bisa menikmati musik seperti ini. Tetapi seolah-olah tidak mau menyerah dengan perjuangan yang telah saya lakukan (berjuang opone, wong ngrungokne kaset silihan wae kok ndadak nganggo ukara perjuangan –berjuang apanya, orang mendengarkan kaset pinjaman aja kok pakai kalimat perjuangan segala), saya bertekad untuk memutarnya berulang-ulang setiap hari dengan tape mini compo kecil milik ibu saya yang saat itu sering dipakai untuk mendengarkan kaset Koes Plus dan aliran musik sejenis seangkatannya). Sampai suatu saat ibu saya pernah bertanya kepada saya, ”Kowe kuwi nyetel kaset opo tho le, kaet mau kok gur nyetel kwi terus? (Kamu itu muter kaset apa sih nak, dari tadi kok cuma muter itu terus?)”

Saya hanya menjawab, ”Wah, iki kaset sing rodo ora penak neng kupingku Bu’, iki lagi wae disilihi Hahan, arep tak rungokne tenanan nganti ketemu neng bagian ngendi penak’e.” (Wah, ini kaset yang agak kurang enak di telinga saya Bu, ini baru aja dipinjami Hahan -nama teman saya-, mau saya dengarkan betul-betul sampai ketemu di bagian mana enaknya). Dan akirnya secara tiba-tiba entah kenapa mak bedunduk, saya langsung nancep di bagian lirik ini ”light to dark, dark to light, light to dark, dark to light…..his shadow slowly fading from the waaalllllllll”. Bagi telinga saya nada di lirik itu terkesan dipas-paske trus tone nadanya tidak enak, tp justru malah membuat saya semakin ketagihan dengan album ini sampai-sampai saya hafal setiap lagu berakhir saya sudah bisa menebak intro lagu selanjutnya.

Dan sejak saat itulah, saya sangat rajin sekali mendengarkan musik-musik Dream Theater baik dari MP3 digital hasil download sendiri (maupun copy dari warnet yang ada koleksi lagu-lagu Dream Theater di dalam harddisknya) ataupun dari rilisan fisik berupa kaset pinjaman..hahahaha

Dan dari kaset pinjaman inilah saya mulai mencari tahu lebih dalam tentang Dream Theater termasuk siapa saja yang menjadi influence mereka sehingga saya bisa mengenal lebih jauh tentang band-band progressive yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Terima kasih untuk album Images and Words yang begitu bermakna dan memberi warna dalam hidup saya, serta terima kasih kepada teman saya yang kasetnya sampai sekarang masih saya ”amankan”. hahahahaha

Demikian dulu kiranya penggalan cerita saya tentang ”Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah”. Cerita ini rencananya akan saya lanjutkan kisahnya untuk masing-masing 1 lagu di setiap album selanjutnya dan saya butuh waktu untuk memutar kembali tidak hanya kaset saya tetapi juga otak saya agar mau menaiki tangga darurat yang bernama kenangan karena begitu banyak cerita hidup yang masih selalu tersimpan di dalam ingatan saya yang cukup terbatas ini. Dan seperti saran Om Gatot, ”Gak usah buru-buru, sing penting dinikmati saja mas prosesnya”. Hehehehe

Dan dari hal itulah akhirnya saya memutuskan untuk mengambil judul ”Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah Part I”, karena memang rencananya akan ada Part selanjutnya. Maksud lain dari tambahan Part I itu adalah dipekso gen koyo lagune Metropolis sing ono Part I karo Part II (dipaksa biar seperti lagunya Metropolis yang ada Part I dan Part II). hahahahaha

Sungkem saya,

Boeddhierif Setyawan (inibudi)

5 April 2015

Mari kita giatkan dan galakkan GERAKAN DOWNLOAD BERAS
agar kita bisa beli kaset sebanyak-banyaknya!

Bravo Kaset!

Bad Company “Live for The Music”

March 24, 2015

Hippienov

Halo lagi Mas G dan rekan-rekan, the prodigal son is back again, hehehe.
Kali ini aku mau sharing kompilasi sederhana yang aku sadur dari cd mp3 koleksi Bad Company pemberian Mas Yuddi dan kemudian aku jadikan 1 cd audio. Kompilasi ini sudah beberapa waktu lalu aku buat namun baru sekarang aku posting di blog. Semoga berkenan buat rekan-rekan.
bad co.
bad co.2
Live For The Music:  BAD COMPANY (1974-1982):
1. Can’t Get Enough (1974 Bad Company).
2. Rock Steady (1974 Bad Company).
3. Ready For Love (1974 Bad Company).
4. Seagull (1974 Bad Company).
5. The Way I Choose (1974 Bad Company).
6. Good Lovin’ Gone Bad (1975 Straight Shooter).
7. Feel Like Makin’ Love (1975 Straight Shooter).
8. Anna (1975 Straight Shooter).
9. Love Me Somebody (1976 Run With The Pack).
10. Live For The Music (1976 Run With The Pack).
11. Sweet Little Sister (1976 Run With The Pack).
12. Morning Sun (1977 Burnin’ Sky).
13. Peace Of Mind (1977 Burnin’ Sky).
14. Too Bad (1977 Burnin’ Sky).
15. Man Needs Woman (1977 Burnin’ Sky).
16. Oh, Atlanta (1979 Desolation Angels).
17. She Brings Me Love (1979 Desolation Angels).
18. Untie The Knot (1982 Rough Diamonds).
19. Cross Country Boy (1982 Rough Diamonds).
20. Painted Face (1982 Rough Diamonds).
Jujur aku tidak begitu kenal dengan lagu-lagu Bad Company, referensi kaset/cd nya pun aku selama ini gak punya, hanya beberapa lagu saja yang aku kenal seperti “love me somebody”, “can’t get enough”, “the way I choose”, “rock steady” dan “feel like makin’ love”.
Saat mau membuat kompilasi ini aku harus mendengarkan singkat album per album supaya bisa mementukan lagu yang akan dipilih. Kebetulan Mas Yuddi mengkopikan album Bad Company dari tahun 1974 sampai 1982 dan supaya adil aku comot lagu dari semua album yang aku punya mp3 nya. Jadilah kompilasi ini dengan 20 lagu dari mulai album Bad Company sampai Rough Diamonds.
Terimakasih untuk Mas Yuddi yang sudah mengkopikan koleksi mp3 Bad Company nya, matursuwun juga untuk Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan.
Untuk rekan-rekan yang sudi mampir mambaca, terima kasih semuanya.
a boy who dreams music,
hippienov

 

Guru Guru “UFO”

March 24, 2015

Hippienov

 

Halo Mas G dan rekan-rekan semua, apa kabar? Cukup lama aku gak nimbrung di blog, tapi hari ini the prodical son is back…
Selama menghilang aku berhasil mendapatkan beberapa album rock klasik hasil buruan ke seorang teman dan salah satunya album “UFO” dari Guru Guru. Tadinya aku kira ini album UFO tapi rasanya UFO gak punya album yang judulnya “guru guru”, lah dalah ternyata terbalik. Setelah nyontek di Google aku baru tahu Guru Guru adalah nama band Krautrock dari Jerman yang terbentuk tahun 1968 dan “ufo” adalah debut album mereka di tahun 1970.
guru guru
guru guru-back
Wah asik nih, keren pikirku… Temanku sempat “memperingatkan” kalo musik Guru Guru di album ini agak beda, jangan kaget pas denger nanti…begitu kata dia, dan ternyata benar.
Buat seorang yang selama ini ngaku bisa menikmati musik Gentle Giant yang kriting tralala atau Sonic Youth yang juga aneh itu, album Guru Guru ini sangat sulit aku nikmati, bahkan setelah beberapa kali didengarkan masih terasa aneh, janggal di telinga ini dan aku masih tetap gak ngerti musiknya.
Di Wikipedia musik Guru Guru dikatakan terpengaruh musik psikedelik seperti Pink Floyd (awal), Jimi Hendrix, Arthur Brown, Frank Zappa, bahkan Rolling Stones, dan mereka memainkan elemen musik yang disebut sebagai “free jazz”. Namun buatku Guru Guru lebih pas disebut satu konsep dengan Popol Vuh, bermain musik instrumental rock dengan gitar sebagai pemeran utama ditambah bass dan drums tanpa kibor. Musik mereka seperti alunan distorsi gitar yang panjang tanpa permainan solo gitar melodi, beda dengan Jimi Hendrix yang rajin bersolo gitar.
Meski aneh dan gak enak menurutku namun tetap ini sebuah koleksi yang menurutku antik dan layak disimpan walau aku gak jamin akan sering-sering aku spin, hehehe… Pengalaman selama ini aku cuma kuat bertahan setengah album terus aku ganti sama cd yang lain, pusing dengernya. Sangat lebih pusing dibanding mendengarkan Napalm Death atau Terrorizer, hehehe.
Buat rekan-rekan yang penasaran mungkin bisa coba di YouTube, atau kalo ada rekan-rekan yang pernah dengar Guru Guru dan menyukai musiknya, mungkin bisa menambahkan ulasanku ini.
Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan.
Untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca tulisan ini, terima kasih semuanya.
a boy who dreams music,
hippienov

 

Terbius Moraz

March 21, 2015

Hendrik Worotikan

Hi Mas G dan teman-teman. Apa kabar ? Semoga senantiasa sehat dan diberikan kenikmatan dalam segala aktifitas utamanya mendengarkan musik.

Lama nggak nulis lantaran belum muncul… ‘apa sih yang mau ditulis’ ? Hihihi…Sampai akhirnya tadi malam saya setel plat Patrick Moraz “Out In The Sun”.
Dari situlah kemudian saya teringat dengan album-album Moraz lainnya yang pernah direkam juga oleh Yess, Private Collection dan Scorpio.
Dan dari sejumlah kaset ini rasanya Yess yang paling banyak merekam Patrick Moraz. 

image

image

image

image

Selain solo albumnya ada juga hasil kolaborasi Moraz dengan Bill Bruford mantan kolega nya sewaktu di Yes ( 1970 s/d 1972 ), King Crimson ( 1973 s/d 1975 dan 1981 s/d 1984 ) yang menghasilkan ‘Music for Piano and Drums’ dan tidak ketinggalan juga hasil kolaborasi nya bersama Syrinx.

Pertama kali saya mengenal Moraz justru melalui solo albumnya yang bertajuk ‘The Story Of I’. Pada hal seperti diketahui Moraz sudah berkibar nama nya bersama teman-temannya di Yes.
Tentu masih banyak yang ingat bahkan mungkin terkagum-kagum dengan kepiawaian nya memencet keyboard pada album Relayer, Yes ( Rekaman Yess with progressive number 022 ), yang menghasilkan nomor epic sekelas ‘The Gates of Delirium’ dan ‘Sound Chaser’.

Moraz gabung di Yes pada 1974, yang sebelumnya sempat pula bermain untuk band Mainhorse, Refugee dan Doctors of Madness.
Bahkan pemain keyboard asal Swiss ini, pun pernah menggantikan Mike Pinder di Moody Blues di tahun 1981.

Menikmati musik Moraz rasanya membuat saya terbius melayang-layang jauh, mulai dari permainan keyboard nya yang lembut bahkan terkadang juga garang.
Yang pasti nama nya akan terus diingat dan melekat erat di blantika musik dunia. Art rock khususnya.

The Doors of Puring

March 14, 2015

Eddy Irawan

Sore sabtu tadi saya habiskan waktu di taman puring. Alhamdulillah saya ketemu sama 3 survivor pedagang kaset di lokasi bersejarah di Jakarta selatan: Pak Simon, Bang Buyung dan Bram Sixx. Alhamdulillah juga karena mereka semua dalam kondisi sehat wal afiat sehingga transaksi kaset bekas masih terus berlanjut, sehingga sore ini saya bisa take away 7 kaset yang gak ada nilainya jika kolektor vinil menilai. Tapi bagi saya, kaset2 ini sungguh menakjubkan dan menjadi obat jiwa.

image

image

Ketujuh kaset ini semuanya menarik, namun yang paling bernilai tentulah Team Golden Series. Jethro Tull dengan album ‘aqualung’ dan the Doors album ‘other voices’ adalah kejutan di akhir pekan ini.

Lebih menariknya, saya belum pernah punya album The Doors ini. Album yang dirilis di bulan Oktober 1971 ini adalah album studio ke-7 dari grup yang dimotori oleh Jim Morisson. Dan ini adalah album pertama the Doors tanpa Jim, dimana akhirnya mereka tetap eksis dengan formasi trio. Robby Krieger, sang gitaris, dan Ray Manzarek, pemain keyboard, berbagi tugas sebagai vokalis mengganti posisi Jim.

Di Billboard music chart Amerika, album ini menduduki tangga ke 31. Agaknya, penggemar the Doors masih memuja-muja Jim sebagai idola mereka, dan berharap spirit Jim tetap melekat di album ini melalui trio The Doors.

Puring itu ibarat the Doors, walaupun ditinggal beberapa pelapak utamanya, namun ‘the surviving trio Simon, Buyung, Bram’ tetap meneruskan legenda Puring. Entah sampai kapan. Ahhh, people are strange… (e)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 189 other followers