Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Nyetel MP3 Pake Kaset

February 24, 2015

Andria Sonhedi

Mobil saya masih pakai tape, bukan cd ada dvd player. Memang menyebalkan utk orang lain krn tak bisa untuk muter mp3, baik lewat player atau colokan USB. Tapi harusnya tak perlu khawatir karena ada kaset adapter yg bisa disambungkan ke HP atau Mp3 player. Saya sudah punya sejak lama, dapatnya di toko kaset yg sekarang sdh almarhum. Sempat khawatir bagaimana kl rusak, karena pernah kabelnya yang kecil putus shg tak bisa dipakai. Di toko kaset Popeye Yogya saya pernah lihat, harganya sekitar 40 ribu. Masalahnya ongkos perjalanan ke Yogya itu yang mahal :)
Tak dinyana, saat minggu kemarin saya malah dapat lagi. Tempatnya di mana lagi kl bukan di tempat kelahiran pak gatot kita yg legendaris ini :) Di Madiun, di toko komputer Maju Hardware. Harganya pun cuma 14 ribu rupiah, jauh lebih murah dari yang di Yogya :) Alhamdulillah.

image

Jawara Blok M Square

January 30, 2015

Gatot Triono

image

Pertolongan Doraemon di Pasar Yaik Semarang

January 26, 2015

Andria Sonhedi

     Seperti saya kisahkan sebelumnya bahwa tanggal 21-22 Januari lalu saya ke Semarang. Hari pertama berhasil mengunjungi RM Padang Jaya dengan hasil yang tak maksimal. Hari ke-2 ini sudah saya rencanakan mencari kaset di Pasar Johar. Kebetulan acara berakhir jam 12.00 siang sehingga ada waktu untuk menjelajahi Pasar Johar.
     Sayangnya pas saya nanya lewat SMS ke Pak Gatot & KohWin tak ada yang merasa pernah ke Pasar Johar cari kaset. Lha lalu pasar apa yang mereka tulis di blog legendaris kita ini? Untunglah saya bawa laptop & modem sehingga malam hari sehabis ke RP Padang jaya saya cari tulisan lama beliau ini (the jakarta Invasion). Ternyata memang pak Gatot beli kaset di mas Akhmad di Pasar Yaik di dekat Hotel Metro yg saya tempati ini. Setelah lihat di google ternyata Pasar Johar dan Pasar Yaik itu satu kompleks. Belakangan saya baru tahu kalau Pasar Yaik ada di utara kompleks Pasar Johar.
     Sayangnya lagi ancer2 pak Gatot tdk lengkap setelah saya tanya ke beliau sh lupa dan saya disarankan nanya ke para pedagang pasar aja pasti tahu. Ternyata optimisme pak Gatot tak terlalu benar. Saya sampai nyasar ke Selatan lalu muteri pasar Johar tak ada yg tahu tempat jual kaset seken. Akhirnya saya nemu kios kecil yang jual DVD dengan penjual seorang bapak agak tua, pura-puranya beli DVD dulu. Kebetulan ada DVD bajakan Doraemon the Movie yang baru yg blm pernah ditonton anak2 saya. Sehabis nyoba saya nanya apa dia tahu ada yg jual kaset pita di Johar. Awalnya dia bilang kl sdh tak ada & yang terakhir sudah tutup di dekat situ. Saya agak kecewa juga namun tiba2 bapak tadi bilang mungkin di dekat toserba Trend masih jual kaset seken. Segera saja saya keluar pasar lalu menuju utara  (atau manalah saya tak tahu arah). Barulah saya paham ternyata sisi sebelah utara Pasar Johar ada tulisan Pasar Yaik di gapuranya. Semangat saya langsung bergelora.
     Sebagai catatan Toserba Trend ada di seberang pasar Yaik. Cara cepat untuk menemukan para pedagang kaset adalah pertama cari simpang 5 hotel Metro. Bila anda dari arah H Agus salim (RM Padang Jaya) tinggal lurus bila sampai lampu traffic light Pasar johar tinggal belok kiri.  Bila anda dari arah Jl. Pemuda apabila sampai simpang lima beloklah ke kanan bukan ke arah hotel Metro. Kl dari arah Kantor Pos bisa belok kiri tapi lewat traffic light. Anda juga bisa sholat dulu di masjid di barat pasar Yaik kl perlu tapi harap sandal diawasi krn saya pernah kehilangan sandal baru saya saat shalay subuh di situ.
     Kembali ke Pasar Yaik, saya pertama-tama ke lapak mas Akhmad, soalnya wajahnya mirip yg di foto artikel pak Gatot. lapaknya juga 2, yg dia tongkrongi dan ada tape-nya adalah lapak kaset2 Indonesia sedang di kiri dia adalah laoak berisi kaset2 barat, baru maupun kuno. Setidaknya setelah melihat koleksi RM Padang Jaya maka dagangan mas Akhmad lebih berkualitas. Sengaja tidak saya ambili semua :D soalnya banyak yg sudah punya. Termasuk the very best of Def Leppard keluaran Aquarius yg C-90 yg saya sdh punya tapi blm pernah saya lihat dijual di lapak seken. Akhirnya dapatlah 13 kaset yang dapatnya berangsur-angsur. Sebenarnya lagu-lagunya sudah punya semua, beberapa kaset pernah kena lembab bahkan ada yg bekas digunting tapi secara umum kaset2nya bersih. Berbeda dengan kaset2 di RM Padang Jaya yang berdebu shg membuat tangan risi. Semua kaset dihargai 12.500 baik C-90 atau C-60, lama maupun baru. Untung saya masih ingat utk mencoba kasetnya, walau mas
 Akhmad bilang sdh dia coba dan tak akan tertukar tapi kecolongan juga satu kaset Raven-Architect of Fear” dengan kaset Mr. Big. Ada kabar baik untuk mas Hippie, saya berhasil mendapat kaset the best of Michael Frank yg C-90! Nantikanlah kedatangannya di rumah :) Di sana kaset Michael Frank banyak cuma yg C-90 cuma itu. Mas akhmad juga langsung sumringah ketika saya bilang tahu namanya dari “pelanggan” yg sdh lama datang ke situ.
     Saya meninjau lapak di sebelah kiri, yg cuma ada satu. Menggabungkan kaset Indonesia & Barat. Karena saya tak fanatik dengan jenis kaset maka yang saya belum punya nbaik baru atau lama ya saya ambil saja.  Dapatnya 11 kaset, termasuk Genesis live yang cuma kaset 2 aja. Untunglah tak ada mas DananG karena ada kaset Queen-Magic Live terbitan Team Record, jelas saya ambil juga. harganya juga sama, 12.500-an.

image

image

image

image

    Apakah perburuan saya usai? Belum. Sebelum saya keluar lewat arah masuk tadi saya mampir ke penjual terakhir yang ukuran lapaknya segerobak aja. Awalnya sih seperti tak ada yang saya minati, wl akhirnya dapat juga 4 kaset yg saya anggap layak beli. Kaset Queen terbitan Team itu selama ini cuma saya lihat di iklan majalah Hai akhir tahun 80-an akhirnya bisa megang dan kebeli juga. Akhirnya pas mau saya bayar lalu saya tambah kaset Green Day yg sampul bagian judul lagu sdh nempel kotak kasetnya. Jatuhnya 55.000 :) Kali ini saya puas walau semalam saya dapat kaset2 yg harganya mahalan dikit. Perjalanan nyopiri sendiri ke Blora selama 3,5 jam jadi agak ringan karena sdh pengin nyetel kasetnya. Untunglha saya tadi ketemu Doraemon :)

-Andria Sonhedi-

“Who I Am” di Yogya

December 1, 2014

Andria Sonhedi

     Paling sebel kalau ke Yogya tak bisa ketemu pak Priyo di gang utara Pasar Bringharjo. Maklum aja di Yogya cuma beliau satu-satunya jujugan saya. Setelah banyak toko cd/kaset berguguran dan beberapa yg ada cuma stagnan tanpa ada koleksi cd baru,mencari kaset2 seken di yogya sekarang pun sdh sulit (wl mungkin tetap masih ada).
     Hari sabtu tanggal  29 November kemarin saya mmg ke Yogya mengurus mutasi motor saya. Walau sdh hampir jam 11 siang tapi urusan lancar2 saja di Samsat. Rencana saya selain mencari pak Priyo saya juga mencari CD Queen Forever. Kabar dari rekan2  pecinta Queen di jakarta CD ori sdh muncul. Jujugan awal adalah ke toko kaset Popeye & Bowsound di timur Jl. Malioboro namun sayang mereka tak menjual. Harapan berikutnya adalah Malioborro Mall lantai bawah, toko Disc Tarra, sayang lebih parah karena mbak penjaga malah tak tahu kl ada Queen baru. Untunglah ada Cd Queen Live at The Rainbow yg saya belum punya shg daripada pulang dengan tangan hampa saya beli juga dobel CD itu.
     Begitu mau keluar mall dan menuju Bringharjo ternyata hujan sudah turun lebat. Saya kira hujan di Yogya cuma ada di sore hari :) shg payung di mobil tak saya bawa tadi. Akhirnya daripada berbasah-basah saya keliling aja di Malioboro Mall, ke obralan buku Gramedia (dapat 2), ke toko buku Periplus siapa tahu ada diskon, bahkan ke Matahari siapa tahu ada kaos musisi :D Akhirnya setelah dari lantai atas saya balik lagi turun melihat keadaan. Eh kok tanpa saya sadari tadi ada lapak kecil, karena cuma 3 meja, dari Periplus yg jual diskonan buku2 impor. Kebanyakan untuk anak-anak & tentang manajemen. Saya berharap ada buku musik seperti pas saya dapat buku foto the Police kemarin. Sepertinya harapan saya terkabul karena di sela-sela deretan buku tebal ada buku berjudul Who I Am-Peter Townshend. Biasanya buku2 yang diobral ttg musisi pop macam Justine Beiber atau One Direction. Buku ini benar2 harta karun walau cuma pakai paperback. Harganya semula Rp 335 ribu berubah menjadi 95 ribu.

image

     Ada seorang bapak berkaca mata di sebelah saya yang sempat ngomentari kl ini bukunya vokalis the Who. Saya luruskan kalau Pete gitaris the Who. Sebenarnya kalau saya tak mau dia mau ambil :) Tentu saja saya tak akan meninggalkan memorabilia ini. Lebih menyenangkan lagi pas saya bayar ada dsikon tambahan sehingga cuma tinggal 67.500 aja :)
     Buku ini pas karena kebetulan juga ada mug the Who pesanan saya yg juga baru ambil dari Kedai Digital. Akhirnya wl setelah itu saya sempat kena gerimis dalam perjalanan ke tempat pak Priyo, dan gagal ketemu, tapi buku ini sementara bisa utk obat kecewa perjalana panjang pulang ke magetan.
Sayang minggu itu tak ada yg ke Yogya, termasuk pak Edi, sehingga tak acara ngumpul di suatu tempat seperti ketika ketemu mas DananG dulu. Kalau pak Herwin/Kohwin sdh ada jadwal ngajar tiap Sabtu jadi tak mungkin saya recoki.


evil has no boundaries

The Moon & The Rush: Songs by Mr. Big

November 20, 2014

Hippienov

image

Halo rekan-rekan apa kabar? Cukup lama absent kirim tulisan ke blog dan baru kali ini aku kembali menulis. Tapi pas mau mulai menulis malah bingung topik apa yang akan aku sharing ya? Akhirnya aku putuskan untuk sharing tentang kompilasi lagu-lagu Mr. Big yang aku buat sekitar setahun lalu. Yah, hanya sekedar tulisan ringan untuk mencoba menghibur rekan-rekan blog semua. Semoga berkenan dan mohon dimaafkan jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

Perkenalanku dengan band rock yang bisa dibilang legendaris dan pernah meramaikan blantika musik rock era 90an ini dimulai saat aku duduk di bangku SMP/SMA. Adalah teman main satu komplek, Agus namanya, yang ngotot mempromosikan band ini kepadaku. Waktu itu aku belum tahu Mr. Big karena masih asik dengan band-band metal semisal Anthrax dan Helloween. Temanku ini cukup jeli karena yang dijadikan bahan promosi adalah lagu “addicted to that rush” serta “daddy, brother, lover, little boy” yang nge-rock banget bernuansa metal dan dijamin aku akan duduk manis menyimak. Tak lupa “to be with you” juga ditambahkan ke daftar lagu promosi temanku ini.
Dari sini aku mulai kenal dengan Mr. Big namun aku tidak benar-benar mengikuti dan malah gak pernah beli albumnya karena jaman SMA musik thrash metal, grindcore, death metal, speed metal dan berbagai genre metal lainnya lebih menarik buatku. Baru saat album “Bump Ahead” dirilis tahun 1993/1994 aku mencoba membeli dan ini adalah album Mr. Big pertama yang aku punya. Kenapa aku beli? Saat itu aku sudah kuliah dan dinasti  thrash metal mulai mengalami kemunduran inmy musical life, aku pun mulai pindah ke jalur grunge/alternative bahkan mulai melirik kembali musik classic rock era 60-70an setelah sempat ditinggalkan. Tapi aku belum nge-prog, masih satu tahu lagi (1995) aku baru mengenal prog-rock.

Singkat cerita, sekitar 1 tahun yang lalu aku ketemu cd mp3 Mr. Big di sebuah lapak mp3/dvd/cd bajakan dan dari awal aku memang sudah niatkan untuk membuat sebuah kompilasi lagu-lagu Mr. Big yang sumbernya cd mp3 bajakan itu. Sampai saat ini aku sudah membuat 3 cd kompilasi Mr. Big: 1 cd berisi lagu-lagu “balada” Mr. Big lalu 1 cd yang lain berisi lagu-lagu “rock” Mr. Big dan kompilasi yang terakhir adalah kompilasi yang aku sedang tulis sekarang.

Konsep kompilasi “The Moon & The Rush: Songs by Mr. Big” adalah sebuah kompilasi yang berisi 50% lagu-lagu balada dan 50% lagu-lagu rock dari Mr. Big, dan setelah proses seleksi aku dapatkan 9 lagu balada (track 1-9) serta 9 lagu rock (track 10-18) namun ternyata masih ada space untuk 1 lagu lagi dan akhirnya lagu “green (tinted sixties mind)” aku masukkan sebagai bonus.
Aku karang judul “the moon & the rush” untuk menggambarkan bahwa kompilasi ini tentang “balada & rock”. The moon adalah penggalan dari lagu Mr. Big “promise her the moon” yang syahdu sedangkan The rush diambil dari “addicted to that rush” yang edan itu.

Here’s the tracks list:
THE MOON:
1. Take cover.
2. Ain’t seen love like that.
3. My new religion.
4. Just take my heart.
5. To be with you.
6. Goin’ where the wind blows.
7. Nothing but love.
8. If that’s what it takes.
9. Promise her the moon.

THE RUSH:
10. Addicted to that rush.
11. Daddy, brother, lover, little boy.
12. Colorado bulldog.
13. How can you what you do.
14. Temperamental.
15. Jane Doe.
16. Mama D.
17. What’s it gonna be.
18. Trapped in toyland.

BONUS:
19. Green (tinted sixties mind)

Namun kompilasi ini tidaklah sempurna dan punya banyak kekurangan terutama dari pemilihan lagunya karena pasti ada banyak lagu-lagu apik Mr. Big yang malah terlewatkan dan tidak masuk kompilasi. 

Matursuwun Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan, serta untuk rekan-rekan semua yang sudi mampir membaca tulisan ini.

A boy who dreams music,
hippienov. 

Scorpions “Best of Classics”

October 6, 2014

Hippienov

image

Sepertinya dari semua kompilasi yang pernah aku buat baru kali ini aku berani untuk menggunakan embel-embel kata “best”, namun hal ini bukan berarti aku pe-de dengan seleksi lagu-lagu dalam kompilasi ini, tetap saja aku yakin pasti akan ada kekurangan. Kompilasi ini bukan seluruhnya asli ideku karena sebagian besar lagunya aku “jiplak” dari kaset kompilasi Scorpions rilisan Saturn (kalo gak salah inget), aku hanya menambah dan mengurangi sedikit saja. Bahkan urutan lagunya pun nyaris sama. Hasil akhirnya adalah sebuah kompilasi Scorpions klasik yang diambil dari album “Lonesome Crow” sampai dengan “Taken By Force”, dengan songlist sebagai berikut:
 
SCORPIONS / BEST OF CLASSSICS.
 
1. It all depends.
2. In trance.
3. Pictured life.
4. Dark lady.
5. In your park.
6. Hes’ a woman, she’s a man.
7. Backstage queen.
8. Speedy’s coming.
9. Steamrock fever.
10. Robot man.
11. Hell-cat.
12. The sail of Charon.
13. Virgin killer.
14. Life’s like a river.
15. The riot of your time.
16. Evening wind.
17. Fly people fly.
18. Born to touch your feelings.
19. Longing for fire.
20. Action.
 
Senang rasanya bisa punya sebuah kompilasi Scorpions yang isinya adalah lagu-lagu yang berasal dari era 70an, meskipun sepertinya masa keemasan Scorpions ada di era 80an tapi aku selalu suka karya-karya 70an mereka.
Namun untuk melengkapi “Scorpions journey” akupun berencana untuk membuat kompilasi Scorpions lainnya yang berisi lagu-lagu dari era Scorpions 80an. 
 
Semoga tulisan ringkas ini bisa meramaikan blog dan semoga berkenan untuk rekan-rekan semua. As always, matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan serta untuk rekan-rekan gemblunger yang sudi mampir meluangkan waktu membaca tulisan gak genah ini.
 
 
A boy who dreams music,
hippienov…

Terperangah King Crimson “The Elements” Tour Box 2014

September 28, 2014

Sekitar dua minggu lalu saya sedang asik-asiknya dan kagum-kagumnya dengan King Crimson utamanya album Lizards, utamanya lagi lagu “Cirkus” yang menurut saya sangat eclectic dan musiknya di luar dugaan, namun enaknya bukan main. Selain mellotron nya yang dahzyat, permainan gitar akustiknya juga edan! Trus …kok kayak nyetrum aja, beberapa hari lalu saya dipameri sama mas Edi “The Elements” of King Crimson yang ternyata ini adalah box luwar biasa! isinya memang campur aduk antara live, studio take yang gak jadi dirilis karena disempurnakan dan sebagainya. Ada dua CD di tour box ini, Namun baru CD 1 saja saya sudah nguweblak! Meski lagu2nya semuanya sudah familiar sekali namun versi di box ini jauh lebih raw dan lebih eclectic sehingga selain memperkaya apa yang selama ini terbiasa didengarkan telinga saya, juga sekaligus memperkenalkan ekspresi liar King Crimson pada live performance nya. Saya baru menyimak sampe track Fracture namun gilaaaaa…. tadi waktu dengerin Cirkus “live” saya bener2 merindhink disco cing!!!!

Ulasan lengkap menyusul ya … tapi yang jelas dahzyat!

cover_332132292014_r

Boxset/Compilation, released in 2014

Songs / Tracks Listing
CD 1 (65:29)
1. Wind Extract (0:30)
2. I Talk to the Wind (4:12)
3. Cadence and Cascade (4:29)
4. Cirkus (guitar extract) (0:15)
5. Cirkus (live) (8:43)
6. Hoodoo (extract) (0:23)
7. Sailor’s Tale (6:12)
8. The Talking Drum (6:42)
9. Larks’ Tongues in Aspic (Part I) (extract) (2:35)
10. Larks’ Tongues in Aspic (Part I) (extract) [David/Jamie] (2:40)
11. Fracture (live) (11:28)
12. Fallen Angel (extract) [RF harmonics] (1:14)
13. Fallen Angel (6:22)
14. 21st Century Schizoid Man (live) (8:27)
15. Starless (extract) [Mark] (1:18)

CD 2 (66:52)
1. Discipline (5:03)
2. Three Headed Doom (Part 1) (0:44)
3. Neurotica (Manhattan) (live) (6:12)
4. Neal and Jack and Me (extract) (1:44)
5. Sleepless (5:19)
6. Sex Sleep Eat Drink Dream (recording session) (4:57)
7. THRAK (live) (9:00)
8. Venturing Unto Joy (edit) (1:11)
9. The Deception of the Thrush (live) (7:09)
10. Heaven & Earth (early edit) (7:43)
11. Level Five (live) (6:44)
12. The Hell Hounds of Krim (0:56)
13. Separation (edit) (2:40)
14. A Scarcity of Miracles (7:32)

Total Time: 132:21

Line-up / Musicians

Robert Fripp – Guitars, Keyboards, Soundscapes
Michael Giles, Ian Wallace, Bill Bruford, Jamie Muir, Pat Mastelotto, Gavin Harrison, Bill Rieflin – Drums, Percussion
Ian McDonald – Woodwinds, Keyboards
Greg Lake, Boz Burrell, John Wetton – Singing, Bass
Peter Sinfield, Richard Palmer-James – Lyrics
Peter Giles – Bass
Mel Collins – Saxophones, Flutes
David Cross – Violin
Mark Charig – Cornet
Tony Levin – Bass, Chapman Stick
Adrian Belew, Jakko Jakszyk – Guitar, Vocals, Lyrics
Trey Gunn – Chapman Stick, Warr Guitar

Releases information

2CD DGMLive.com, Panegyric, Inner Knot, WHD Entertainment, Inc. KCTB14 (2014 UK)*

*Contains a 24 page tour booklet and two CDs containing extracts, elements from studio recordings, alternate takes, live tracks, rehearsals and finished recordings from 1969 – 2014 (much of it previously unreleased on CD).

Saya membagi King Crimson dengan dua era, yakni era Classic (1969 – 1974) yang merupakan masa sebelum lahirnya album Discipline (rilis tahun 1981) dan era Discipline Onwards yang merupakan kebangkitan kembali King Crimson dengan konsep musik baru. Sebenarnya lebih tepat lagi bila era The Power To Believe ditambahkan. Sayangnya gak bisa begitu meski di The Power to Believe ada unsur metal, namun setelahnya King Crimson masih kembali ke format Discipline sehingga tetepa saja dua era. Dari boxset ini, CD 1 mewakili era Classics seangkan CD2 adalah era Discipline Onwards.

Dari CD 1 saya mendapat pengalaman luar biasa rerhadap isinya dimana merupakan campuran studio take, edit maupun live sehingga cukup variatif. Dari CD 1 ini saya mendapatkan pencerahan luar biasa karena mendapatkan alternative version dari apa yang selama ini saya nikmati sebagai musik King Crimson. Syarat utama untuk bisa menikmati CD 1 ya harus sebelumnya sudah familiar dengan studio version nya.Bila tidak bisa menganggapnya CD 1 kurang bagus padahal bagi yang sudah kenal KC justru CD 1 sangat menarik karena seolah memberikan ke kita alternative take yang bagus sekali sehingga nuansa yang kita saya peroleh menjadi begitu indah menawan. Misalnya I Talk To The Wind yang dibawakan minus one (tanpa vokal) merupakan suatu pengalaman mendengarkan yang luar biasa,Cirkus (dari album Lizard) versi live juga dahzyat sekali karena gaya nyanyinya beda dan lebih santai dan slengekan dibandingkan versi studio. Padahal di versi studio hal yang menonjol adalah petikan gitar akustik yang lincah banget. Sailor’s Tale (Islands) juga keren banget dibawakannya lebih kasar dari versi studio namun sungguh menawan

The PGS Mini ProgRing

September 21, 2014

JRENG!

Tret ini adalah sambungan dari tret Mini Progring @ Apple karena harinya berdekatan yakni sehari setelahnya atau tepatnya 20 September 2014. Sepulang dari kafe Apple saya di dalam kamar Edotel kelap kelop gak bisa tidur sambil nyetel iPod dan sekaligus upload foto2 mini progring ke blog gemblung. Singkat cerita, saya baru tidur sekitar 01:00, gak jelas tepatnya jam berapa karena hanya orang gila yang bisa tahu dia tepat tidur jam berapa karena pas saat terlelap matanya udah gak melek lagi – gimana bisa liat jam? He he he he …

Esoknya saya bangun telat yakni 4:30, alias gak keburu lagi Subuhan di Masjid Agung Jombang yang tak jauh dari Edotel. Subuh di Jombang hari tu pukul 4:14. Y udah .. di hotel aja … Setelahnya saya terima WA dari temen lama yang ternyata baru tahu bahwa musik prog goes on dengan band2 baru dan dia sedang keranjingan Spock’s Beard. Maka, sepanjang pagi saya chatting di WA dengan dia sekaligus nyumet sumbu kompor 48 sumbu, sekaligus meracuni dengan IQ. He he he …

Pukul 7:15 saya dijemput mas Edi dan diajak kuliner lagi dan kali ini kami makan soto ayam Gang Buntu … ha ha ha ….karena lokasinya memang di Pecinan Jombang, gangnya memang buntu. Ternyata yang jual soto ayam adalah Jimi hendrix dan dulu dia ini adik kelas mas Edi saat SMP di Jombang. Sotonya memang berkualitas dan tentu saja yang beli buwanyaaak …. Pak Jimi Hendrix ini sudah jualan soto di tempat ini tiga puluh tahun lamanya. Luar biasa. Rasanya memang MAK JEGREG tenan!

Boss nya Apple sedang memandu saya menuju kuliner Soto Gang Buntu ...

Boss nya Apple sedang memandu saya menuju kuliner Soto Gang Buntu …

Jimi Hendrix si penjual Soto Ayam Gang Buntu

Jimi Hendrix si penjual Soto Ayam Gang Buntu

Abbey Road von Jombang. Bersih banget kota Jombang...juga rapi sekali. saya suka kota tenang ini ...jauh dari hiruk pikuk Jakarta ... Top dah!

Abbey Road von Jombang. Bersih banget kota Jombang…juga rapi sekali. saya suka kota tenang ini …jauh dari hiruk pikuk Jakarta … Top dah!

Setelah itu kami kembali ke Apple untuk mas Edi menyediakan “bekal” buat saya di kemudian hari dengan asupan Cosa Brava dan lain sebagainya ke USB saya.

2014920084811

Bro Apec yang baru selesai praktek pukul 22:30 di Surabaya tadi malam, sempat telpon memberi kabar tak bisa ikutan progring di Apple. makanya kami janjian saja ketemu di surabaya, tepatnya di Pusat Grosir Surabaya alias PGS yang terlertak di Pasar Turi. Tapi PGS dalam pengertian tret ini tak terpaut hanya tempat namun sekaligus nama event ini : Progressive Gathering at Surabaya yang disingkat PGS juga. He he he he …. Saya dan mas Edi bersama Nyonya berangkat dari Jombang pukul 9:30 dan kami akhirnya bertemu dengan bro Apec dan istri di Food Court lantai 4 PGS. Maka progring pun digelar. Tentu ….ada oleh2 sambel Bu Rudy dari bro Apec … ha ha ha …

The PGS Mini ProgRing

The PGS Mini ProgRing

Sekitar pukul 13:30 kami bubaran dan saya diantar bro Paec ke Terminal 2 Juanda karena jadwal terbang saya pukul 15:50. Sebuah kenangan perjalanan ke Jawa Timur yang penuh makna dan insya Allah terus melekat di hati sampe selamanya …..

Matur nuwun mas Edi dan Nyonya yang telah menggelar karpet merah buat saya dan memberikan banyak kuliah musik rock begajulan yang kata mas Edi: Kalau ada yang gak suka musik seperti ini, pasti masalahnya hanya kurang sabar saja. karena mereka ini musisi2 hebat dan pasti musiknya bagus. Ha ha ha ha … Kalimat yang prog banget neh …!!!

Matur tengkyu kepada Bro Apec dan Nyonya yang dengan banyolan dan senyuman selalu menghibur kami dan juga mengantar saya sampe ka bandara. SubhanAllah … persahabatan kita bener2 guyub pol … Saya senang sekali punya temen2 gemblungers di blog gemblung …blog ngawur ini .. ha ha ha ha …

(Oh ya …pas pulang di tempat parkiran dan saya sudah di mobil bro Apec, kami melihat mas Edi duduk di lantai parkir 4. Kemudian saya sempat melambaikan tangan dan memanggil mas Edi. Setelah pintu tertutup lagi di mobil saya tanya bro Apec kenapa as Edi kok berada di area parkir. Jawab pak dokter: “Ya karena di sini ada tulisan Ruang Tunggu Sopir …” Wakakakakakakakakakak ….. saya nguwakak pol! Bro Apec ini selalu aja selengekan lan gojekan pol! Ha ha ha ha ha ha ha ….khas bro Apec!) Ojok nesu mas Edi …Muk guyon thok .. ha ha ha …

Fake Plastic Love: Incomplete Story Of RADIOHEAD

September 15, 2014

Hippienov

Bagiku Radiohead adalah band rock yang suram, murung dan kelam baik musik maupun liriknya. Band asal Inggris ini lahir pada era britpop/alternative rock/grunge di dekade 90an dan pada awalnya mereka mendompleng britpop/alternative untuk bisa diterima oleh publik, namun pada perkembangannya mereka berevolusi menampilkan musik “Radiohead” yang sesungguhnya dengan menggabungkan genre-genre musik lain dan tidak terpaku pada satu aliran musik, sehingga rasanya band ini tidak lagi ada di jalur britpop. Seperti halnya The Police saat pertama muncul mengekor musik punk yang saat itu sedang mewabah namun pelan-pelan mulai menunjukkan musik aslinya seperti yang ingin mereka sampaikan di album “regatta de blanc” atau terjemahan gemblungnya kira-kira berarti “reggae bule”.

Debut album Radiohead “pablo honey” adalah point of entry mereka di blantika musik dunia dengan hit single “creep” yang begitu sukses dan membuat nama mereka dikenal seantero dunia. Album kedua “the bends” mulai menunjukkan progresivitas Radiohead dengan tidak hanya memainkan musik yang sama dengan “pablo honey”.
Adalah album ketiga bertajuk “ok computer” yang makin menunjukkan keseriusan Radiohead untuk makin menjauh dari “gelar” britpop dengan membuat sebuah album yang menurutku sangat murung dan kelam melebihi apa yang aku dapatkan di “the bends”. Bahkan untuk membuat album “ok computer” semakin terdengar suram mereka secara khusus mencari sebuah mellotron tua yang sudah rusak kemudian merevitalisasi/memperbaikinya untuk digunakan dalam proses rekaman album ini. Mungkin karena faktor “mellotron” inilah Radiohead saat itu sempat disebut-sebut akan berubah total jadi sebuah band progrock.
Album “ok computer” juga merupakan album Radiohead yang paling aku suka dan paling sering aku dengarkan sampai saat ini. Tiap kali aku merasa “down” atau sedih maka album ini ada pada urutan pertama yang akan kudengarkan. Mungkin ini hanya sugesti namun rasanya semua perasaan sedih, gundah, kecewa yang aku rasakan seperti tertarik keluar dan diserap oleh semua lagu di album “ok computer” yang aku dengarkan.. A bit creepy but it’s true…

Namun Radiohead tidak berhenti sampai disitu, mereka terus berevolusi dan kali ini musik elektronika yang menjadi daya tarik band ini. Album “kid a” dan “amnesiac” merupakan ladang eksperimental mereka bermain musik rock elektronika yang dicampur dengan krautrock dan elemen jazz dan membuat musik Radiohead semakin sulit untuk dimengerti. Di titik ini aku mulai menginggalkan Radiohead, alasan utamanya karena musiknya yang kian aneh dan aku kecewa karena sekarang Radiohead menggunakan banyak samples “musik elektronik/computerized music” yang kurang menarik buatku. Aku baru mencoba kembali ke Radiohead di album “hail to the thief” namun album ini tidak bisa membuatku kembali menikmati musik Radiohead, dan akhirnya pelan-pelan “melupakan” Radiohead untuk waktu yang cukup lama sampai album “in rainbows” yang jadi pemberitaan karena dijual secara online dengan harga suka-suka. Namun aku tidak sepenuh hati dan tidak terlalu berharap banyak dengan album ini karena sudah cukup lama tidak mengikuti perkembangan musik Radiohead sehingga aku hanya membeli cd bajakannya di lapak Mangga Dua. Album ini cukup bagus dan bisa sedikit mengobati kekecewaanku karena nyaris tidak kudengar bunyi-bunyian samples “elektronika” tapi tetap tidak sedahsyat album “ok computer” ataupun “the bends” menurutku.

Nah, minggu lalu saat aku ber-sms-an ria dengan Mbak Indah soal musik tiba-tiba nama Radiohead pun ikut disebut. Aku jadi kembali teringat dengan band yang pernah begitu aku suka ini dan seperti biasa hal ini mendorongku untuk membuat sebuah kompilasi tentang Radiohead.
Mulailah libur weekend kemarin aku pilah-pilih lagu-lagu Radiohead dari file mp3 yang aku punya dan setelah cukup materinya kemudian aku burn dalam format audio. Kompilasi ini kuberi judul “Fake Plastic Love: Incomplete Story of Radiohead”. Kenapa incomplete? Karena gak semua album atau hits mereka yang bisa aku compile, paling gak ada 4 lagu Radiohead yang aku suka namun tidak termasuk yaitu: bones, just, the bends serta planet telex. Kenapa gak diikutkan dalam kompilasi? Karena aku gak punya file mp3 nya… Kasian…

Akhirnya, beginilah hasil jadi kompilasi gemblung ini:
FAKE PLASTIC LOVE: INCOMPLETE STORY OF RADIOHEAD.

1. Creep.
2. Amnesiac.
3. Nice Dream.
4. No Surprises.
5. Fake Plastic Trees.
6. Paranoid Android.
7. Exit Music (for a film).
8. My Iron Lung.
9. Thinking About You.
10. The National Anthem.
11. How Can You Be Sure.
12. Subterranean Homesick Alien.
13. Let Down.
14. Where I End You Begin.
15. Airbag.
16. Karma Police.
17. Myxomatosis.
18. Idiotique.
radiohead2

Banyak materi dari album “ok computer” termasuk disini dan lainnya aku ambil dari “the bends” kemudian “pablo honey” serta “kid a” dan “amnesiac” yang dulu sempat ogah aku dengarkan.
Album ini sama sekali bukan album “the best” atau “hits” Radiohead, aku lebih senang menyebutnya sebagai album tribute untuk sebuah band yang pernah begitu sering aku dengarkan dan aku suka.

Semoga tulisan gemblung ini bisa berkenan dan menghibur rekan-rekan disela-sela kesibukan pekerjaan. Mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam penulisan dan seperti biasa matursuwun sanget Mas G untuk waktu serta kesempatan yang diberikan…

If I could be who you wanted… all the time…
hippienov.

The 40-Year ProgGraphy (4 of 40)

September 13, 2014

Gatot Widayanto

Aktuil dan Nursery Cryme: Ora Mudeng Blas

 

Photo: Courtesy of Aktuil The Legend (Pak Buyunk) without permission and ready to be taken down if Pak Buyunk is not happy with this ...

Photo: Courtesy of Aktuil The Legend (Pak Buyunk) without permission and ready to be taken down if Pak Buyunk is not happy with this …

Periode ini sebenarnya sudah mendekati pengenalan lebih dalam ke musik yang kemudian disebut sebagai progrock. Yang jelas, tahunnya pasti sebelum 1974 atau bisa jadi awal 1974.

Syahdan…

Suatu hari seperti hari-hari sebelumnya karena merupakan rutinitas saya saat masih kelas 1 SMP, saya duduk di ruang tamu dimana terdapat dua buah loudspeaker besar yang dulu biasa disebut dengan “salon” berisi speaker dengan diameter 10 inchi dan tweeter. Sepasang loudspeaker ini disambungkan ke tape deck dan ampli yang diletakkan di kamar tidur tengah, atau disebutnya ruang tidur ibu saya. Saya lupa saat itu apa saya sedang nyetel musiknya Panbers, Gembell’s, The Mercy’s atau bahkan bisa jadi kaset Deep Purple. Yang jelas memang saya sedang duduk santai menikmati musik setelah pulang dari sekolah, ya sekitar jam 1 atau jam 2 siang gitu.

Tiba-tiba kakak saya nomer dua, mas Henky, datang menghampiri saya sambil membawa kaset dan sebuah majalah. Tepatnya belau bilang begini:

“Kamu dengarkan kaset ini sambil baca artikel ini!”

Kaset yang saya terima adalah Genesis rekaman Pop Discotic namun fotonya adalah artwork album Kayak II. Memang di daftar lagunya ada tertera Side A: Genesis (tanpa judul album) dan Side B: Kayak. Saya ndelongop plonga plongo gak ngerti apa-apa saat disodori kaset dan majalah (yang ternyata Aktuil) ini. Saya baca ulasannya memang tentang band yang namanya Genesis dan itulah kali pertama saya mengenal band ini. Saya ingat sekali bahwa dalam ulasan panjang lebar tentang Genesis ini nama Peter Gabriel disebutkan beberapa kali dan lagu The Musical Box diulas panjang lebar. Kontan saya puter kaset tersebut (yang ternyata dari album “Nursery Cryme”) dan ….sumpah matek, saya gak mudeng blas dengan musiknya. Ya kebayang aja, biasa mendengarkan yang lurus-lurus seperti Child In Time, Fools, Whole Lotta Love, I Can Feel Him In The Morning dan sebagainya trus ujug2 disuruh dengerin The Musical Box yang mellow pol dan lama sekali lagunya masuk …. ha ha ha …karena awalnya hanya Peter Gabriel nyanyi diiringi petikan gitar. Pun ketika musiknya mulai gedumbrangan, saya juga masih belum JLEB! memaknai musiknya dengan baik.

Lucunya, saya malah lebih cepet bisa menerima lagu Harold The Barrel dan kemudian The Return of the Giant Hogweed. Menurut saya dua lagu ini cukup bagus buat side A dan saya sering mengulang dua lagu ini. Sedangkan The Musical Box saya malah kurang suka karena pelan banget … ha ha ha ha … Namun karena Aktuil membahasnya heboh, saya paksakan juga untuk memutar kaset ini beberapa kali meski masih tetep aja menyuai hanya Harold The Barrel dan The Return of The Giant Hogweed.

Nursery

Anehnya, justru Side B yang menjadi favorit saya karena musiknya lebih renyah dan minimum tikungan-tikungan maut sehingga kuping saya lebih cepat menerimanya. Salah satu lagu yang kemudian menjadi favorit saya adalah Woe and Allas. Wah …ini lagu keren abis bahkan hingga sekarang saya masih juga menyukainya. Melodinya ciamik dan groove nya juga kena banget bagi saya sehingga saya praktis sering REWIND bolak-balik di lagu Woe and Allas dari Kayak ini.

Begitulah awal perkenalan saya dengan Genesis yang pada saat itu tidak saya kagumi sama sekali karena terlalu pelan musiknya sehingga saya bisa dikatakan sangat jarang nyetel kaset rekaman Pop Discotic ini. Wah …kalau ingat kaset ini rasanya saya pengen memilikinya lagi. Adakah teman2 yang memilikinya? Kalau ada teman yang memiliki saya mohon mau melepasnya. Tapi kalau ada lapak kaset yang memiliki dan menawarkan harga di atas jigo, saya persilakan beliau untuk ngunthal sendiri kaset itu … ha ha ha ha ….

Kayak II

Singkat kata, pada periode ini saya udah nyerempet masuk ke ranah prog secara intens namun belum memiliki kehendak yang menggebu-gebu meski pada akhirnya saya memang menyukai album Nursery Cryme di kemudian hari setelah kenal prog lebih dalam lagi ….


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 169 other followers