Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Yes, I Fear Tomorrow I’ll Be Crying …

July 6, 2015

Halo teman2ku yang baik dan budiman. Apa kabar? Semoga semuanya sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Ya Rabb.

Rasanya sudah begitu lama saya tak menulis di blog kita tercinta ini. Rindu sekali. Makanya saya sempatkan untuk menulis pagi ini selagi ada waktu dan memang urgensinya semakin mendesak. Kalau tulisan ini ditunda, akan tidak bagus dan lebih tepatnya tidak fair bagi temen2 sekalian. Lho? Iya, soalnya teman2 banyak yang menanyakan ke saya mengapa lama tak menulis lagi di blog ini, dan saya cenderung menjawab yang ada aspek bohongnya, “ya …nanti”. Sebenarnya gak bohong juga sih, buktinya ini saya menulis. Ha ha ha ha …

Yes, I fear tomorrow I’ll be crying

Bagi temen2 yang mengikuti blog ini sejak awal, mungkin sudah bisa menangkap bahwa sudah ada kegalauan pada diri saya yang tersirat maupun tersurat dari tulisan-tulisan saya. Yang paling telak mungkin adalah announcement tentang selama bulan Ramadhan (saya lupa tahun kapan) saya tak menulis atau membaca blog ini karena fokus untuk meningkatkan ketakwaan saya ke Allah Rabbal aalamiin. Selama Ramadhan memang bisa dikatakan saya jarang bahkan tidak memutar musik sama sekali (Ramadhan tertentu, dan saya lupa kapan, mungkin tahun lalu atau dua, tiga atau empat tahun lalu). Sebenarnya musik hanya salah satu saja yang membuat saya galau, namun cukup signifikan. Mengapa? Karena saya kalau mendengarkan musik bisa lupa segalanya sehingga pernah suatu ketika beberapa tahun yang lalu, saya sampai menunda panggilan Allah melalui adzan yang dikumandangkan muadzin masjid tetangga. 

Pada tanggal 20 Agustus 2007 saya pernah menulis artikel Merajut Makna Melalui Prog Rock (1/99) di blog ini dimana di situ saya menulis seperti ini: (cuplikan)

Di sisi lain dari kehidupan, saya juga seorang muslim yang kadang berupaya meningkatkan iman dan takwa kepada Rabb nya Allah SWT. Bagi saya hidup adalah pencarian makna secara terus menerus dan bagaimana bisa hidup dalam makna yang sebenarnya. Makna hidup yang benar ada di Al-Qur’an. Life is a quest for value, begitulah kira-kira. Tapi tidak berhenti di sini tentunya. Begitu kita udah mendapatkan valuetersebut kita harus berpikir dan bertindak yang selalu menambah nilai, baik itu dalam hubungan antar manusia maupun dengan Allah SWT.

Makna hidup yang selalu saya cari itu jawabannya memang mudah bahwa pada akhir dari semua perjalan hidup ini, kita semua akan masuk ke liang lahat karena tak ada satupun manusia yang hidup di dunia ini yang tak akan masuk ke liang lahat (alam kubur). Lantas, bekal apa yang saya bawa agar bisa mendapatkan tiket untuk nikmat kubur? Nah ….masalah bekal ini ternyata sangat menohok surohok ke ulu ati saya paling dalam karena semakin hari saya kok semakin gak yakin bisa mendapatkan tiket itu. Meskipun cari tiket konser Yes saat itu juga sulit, ternyata mencari tiket nikmat kubur itu tak pernah ada kepastiannya bahkan hingga detik saya menulis ini. Cukuplah sudah untaian kata dari King Crimson dalam lagu Epitaph ini memicu saya tertohok sampai KO: Yes I fear tomorrow I’ll be crying …... Benar sekali!!! Saya sangat merasakan hal ini.

Nah …untuk menyiapkan tabungan demi mendapatkan tiket nikmat kubur nanti, sudah lebih dari enam bulan ini saya berhenti total mendengarkan musik, kecuali bila musik tersebut diputar saat saya lagi bekerja di kafe. Maklum, profesi saya sebagai konsultan mau gak mau harus punya banyak kantor, termasuk kafe-kafe atau kedai kopi, selain kantor nya klien saya. Namun saya sama sekali tak pernah lagi memutar kaset maupun CD atau sekedar klik iPod atau laptop untuk memutar musik. Ini sama sekali bukan masalah halal atau haramnya mendengarkan musik, namun bagi “saya” musik sangat melalaikan saya untuk belajar lebih jauh tentang bagaimana menabung yang benar demi tiket nikmat kubur nantinya. Dan, nikmat kubur ini penting, karena merupakan tiket untuk konser yang lebih besar lagi yakni yaumul qiyyamah atau hari akhir dimana kita semua akan dihisab oleh Allah.

Saya sendiri tak tahu, bagaimana sikap saya terhadap blog ini. Saya yakin temen2 semua memiliki kadar kelalaian yang kemungkinan besar lebih baik dari saya sehingga belum merasa perlu meninggalkan hal yang sebenarnya sia-sia ini, karena saya tak mendapatkan jawaban dari Quran dan Hadits adanya anjuran mendengarkan musik membuat kita lebih bertakwa. Yang sudah pasti, in sya Allah mulai hari ini saya tak akan posting lagi artikel baru, baik itu dari saya maupun tulisan temen2 sekalian. Saya mohon maaf sekali atas ketidaknyamanan ini. Silakan berkomentar saja di tret2 yang ada selama ini, namun tak akan ada lagi tret baru lagi. In sya Allah.

Kekerabatan

Harus saya akui, kekerabatan kita sudah sangat baik dan kekeluargaannya sangat bagus. Hal ini tak boleh putus. Saya masih menganggap teman2 sekalian sebagai teman dan bahkan meningkatkan hubungan pertemanan kita. Hanya sayangnya, saya gak begitu banyak lagi update terkait musik. Blog ini hanya sebagai salah satu media saja untuk komunikasi antar kita; toh masih banyak media lainnya seperti email maupun HP atau temu muka. Jangan juga hapus nama saya sebagai teman Anda hanya karena artikel ini. Ini sebenarnya hanya masalah sikap pribadi saja dan saya sama sekali tidak membenci musik. Saya hanya berhenti saja dari kegiata yang “dengan sengaja” menikmati musik. Itu saja.

Terima kasih telah membaca sampai kalimat ini. Mohon maaf kalau artikel ini tidak menyenangkan meski saya tak bermaksud apapun untuk berbuat tidak menyenangkan. Nyuwun ngapunten sanget.

Friends will be friends

JRENG!

Silaturahim ke Ketua KPMI

April 22, 2015

Eddy Irawan

Kemarin malam (7 april), saya berkesempatan main ke rumah pimpinan komunitas pencinta musik indonesia (kpmi). Sekian tahun hanya mengenal via progring dan blogging, akhirnya bisa juga mengenal beliau lebih dekat.

Pembicaraan kita apalagi kalo bukan seputaran dunia musik dan kaset. Bahkan saya diberi keleluasaan untuk menyidak koleksian kaset di kamar pribadi sang maestro.

Terimakasih atas jamuan dan penerimaan yg sangat akrab. Saya sangat menghargai silaturahim kita, Pak Gatot Triyono!

IMG-20150407-00284

8 April 2015

Dream Theater Dalam Sebuah Kisah (Bag. 1)

April 22, 2015

Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah

Yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah

Part I

 Boeddhierif Setyawan

Salam Hormat saya sebagai anak muda kepada Om G dan para sesepuh, para suhu dan seluruh penghuni Blog Gemblung ini. Akhirnya untuk pertama kali dan semoga saja hal ini menjadi Penjebar Semangat (gen koyo majalah lawas sing diterbitkan oleh Pendiri Boedi Oetomo, rodo mekso disrempetke wae mumpung jeneng’e yo nganggo Budi..hihihihi) saya untuk seterusnya dapat berbagi dan bercerita di sini, di Blog Gemblung ini..hehehehe

Tanpa panjang lebar lagi (karena mungkin tulisan ini nanti akan panjang dan melebar jauh dari detail musik di dalamnya, karena saya berusaha untuk menuliskan kisah emosional dari salah satu atau beberapa lagu dari setiap album Dream Theater), untuk kali ini saya ingin membagikan kesan, kisah dan cerita tentang lagu-lagu Dream Theater yang saya ambil dari setiap albumnya, meskipun bisa dibilang saya termasuk salah satu orang yang terlambat untuk mendengarkan lagu-lagu Dream Theater (apalagi band proclaro lainnya yang era sebelum Dream Theater). Tapi apapun bentuknya yang namanya musik itu tidak pernah terlambat, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar maupun mendengarkan musik (iki asline yo gur ngayem-ngayem aku dewe gen ora diarani salah utawa telat nemen..hahaha)

  1. The Killing Hand – 1989 When Dream And Day Unite

01 When Dream and Day Unite

Ketika itu di akhir tahun 2000, sekali lagi saya bisa dibilang sangat terlambat mendengarkan musik progressive karena faktor usia (sebuah pembelaan yang semoga saja sangat logis..hahahaha). Pada awalnya saya penasaran dari judul lagunya dan akhirnya saya mendapatkan lagu ini dari para dermawan website alias download meskipun harus ke warnet (harap maklum, karena pada saat itu saya belum punya internet sendiri, pye arep pasang internet, wong arep telpun pacar’e wae kudu golek wartel disik, opo meneh internet).

Sebenarnya, album When Dream And Day Unite ini merupakan album kedua Dream Theater yang saya dengarkan karena album pertama yang saya dengarkan adalah album Images and Words -yang akan saya bahas salah satu lagunya di bagian selanjutnya-.

Pertama kali mendengarkan album ini saya kurang begitu suka dan kurang begitu greget karena pada saat itu saya sudah terlanjur nancep dengan karakter suara James LaBrie pada album Images and Words. Namun ketika saya mendengar lagu The Killing Hand ini, untuk pertama kalinya, intro suara petikan gitar John Petrucci yang setting sound’nya pada saat itu menurut saya agak aneh dan kurang familiar di telinga saya, dan akhirnya masuklah suara dari Charlie Dominici yang langsung membuat saya ngguyu nggeblak sambil berkata dalam hati “nah, iki termasuk pecinta ketinggian” (suara vokal melengking tinggi tanpa ada seraknya sama sekali).

Setelah mendengarkan lagu ini, saya menjadi penasaran dengan lagu lain sehingga membuat saya berfikir, “sesuk neng warnet meneh gen iso ngrungokne sak album sisan” (besok ke warnet lagi biar bias mendengarkan full album sekalian). Dan akhirnya dari album ini saya mulai berkata dalam hati “Band iki kudune sing tak rungokne lan kudu tak golek’i kaset-kaset’e nganti kecandak mbuh piye carane!” (Band ini seharusnya yang saya dengarkan dan harus saya cari kaset-kasetnya sampai ketemu entah bagaimanapun caranya). Hingga kemudian pada akhirnya saya berhasil mendapatkan kasetnya meskipun bootleg atau bajakan ataupun “Kaset Malangan”, mbuh, ora urusan sing penting aku nduwe rekaman’e dalam format pita trus suarane termasuk kategori apik (entahlah, tidak peduli yang penting saya punya rekamannya dalam format pita dan suaranya termasuk kategori bagus).

Dan dari pengaruh inilah hal yang membuat saya sering menjajah lapak kaset bekas di Solo, entah 1 atau 2 minggu sekali sebelum pulang ke Sragen saya pasti menyempatkan diri mampir ke lapak-lapak kaset bekas dengan catatan nek pas nduwe duit turahan, nek ora nduwe yo gur lewat ngarep’e thok karo entrane ora ngerti nek lapak’e kwi bukak (kalau pas punya duit sisa, kalau tidak punya ya cuma lewat depannya saja sambil pura-pura tidak lihat kalau lapaknya itu buka). Dan di Solo inilah saya mulai perlahan dan dengan sedikit demi sangat sedikit sekali mengumpulkan kaset Dream Theater karena pada waktu saya masih SMA tinggal di Sragen sangat terbatas musik yang saya dengarkan dengan keterbatasan kaset yang dijual di toko-toko kaset maupun jumlah toko kaset yang ada di Sragen. Selain itu, alasan saya yang paling utama adalah keterbatasan dana untuk membeli kaset..hahahaha

  1. Surrounded – 1992 Images And Words

02 Images and Words

Album ini merupakan album tonggak awal bersejarah yang penuh keluh kesah dalam kisah perkenalan saya dengan Dream Theater. Boleh dikatakan juga bahwa album ini merupakan awal mula saya mulai gandrung dan kesengsem dengan musik progressive (akhir tahun 2000), yang pada saat itu sedang marak musik alternative rock yang begitu menyita waktu, telinga dan perhatian saya. Awal mula saya mendengarkan album ini adalah ketika saya dipinjami kaset ini oleh seorang teman sebangku saya waktu sekolah di SMA yang saat itu dia melanjutkan kuliah di Semarang. Dia merupakan teman saya yang paling legendaris karena dialah orang yang sering saya jadikan alasan bila sudah tidak punya uang saku untuk segera menjemput saya ke rumah biar saya bisa ada alasan untuk minta uang jajan tambahan kepada ibu saya. hahaha.. Saya sudahi cukup sampai di situ saja cerita tentang teman saya, karena kalau saya teruskan cerita tentang dia malah semakin panjang dan lebar ini nanti ceritanya, bias-bisa malah lupa tidak jadi membahas keluh, kesah dan kisah tentang Dream Theater ini nanti.

Mari kita kembali lagi ke pokok pembahasan awal yaitu tentang kaset Dream Theater. Saat pertama kali saya dipinjami kaset ini, pada awalnya saya putar kaset ini 2 side penuh, namun apa daya, karena sebelumnya saya amat sangat jarang sekali mendengarkan musik progressive rock/metal, saya belum begitu bisa menikmati musik seperti ini. Tetapi seolah-olah tidak mau menyerah dengan perjuangan yang telah saya lakukan (berjuang opone, wong ngrungokne kaset silihan wae kok ndadak nganggo ukara perjuangan –berjuang apanya, orang mendengarkan kaset pinjaman aja kok pakai kalimat perjuangan segala), saya bertekad untuk memutarnya berulang-ulang setiap hari dengan tape mini compo kecil milik ibu saya yang saat itu sering dipakai untuk mendengarkan kaset Koes Plus dan aliran musik sejenis seangkatannya). Sampai suatu saat ibu saya pernah bertanya kepada saya, ”Kowe kuwi nyetel kaset opo tho le, kaet mau kok gur nyetel kwi terus? (Kamu itu muter kaset apa sih nak, dari tadi kok cuma muter itu terus?)”

Saya hanya menjawab, ”Wah, iki kaset sing rodo ora penak neng kupingku Bu’, iki lagi wae disilihi Hahan, arep tak rungokne tenanan nganti ketemu neng bagian ngendi penak’e.” (Wah, ini kaset yang agak kurang enak di telinga saya Bu, ini baru aja dipinjami Hahan -nama teman saya-, mau saya dengarkan betul-betul sampai ketemu di bagian mana enaknya). Dan akirnya secara tiba-tiba entah kenapa mak bedunduk, saya langsung nancep di bagian lirik ini ”light to dark, dark to light, light to dark, dark to light…..his shadow slowly fading from the waaalllllllll”. Bagi telinga saya nada di lirik itu terkesan dipas-paske trus tone nadanya tidak enak, tp justru malah membuat saya semakin ketagihan dengan album ini sampai-sampai saya hafal setiap lagu berakhir saya sudah bisa menebak intro lagu selanjutnya.

Dan sejak saat itulah, saya sangat rajin sekali mendengarkan musik-musik Dream Theater baik dari MP3 digital hasil download sendiri (maupun copy dari warnet yang ada koleksi lagu-lagu Dream Theater di dalam harddisknya) ataupun dari rilisan fisik berupa kaset pinjaman..hahahaha

Dan dari kaset pinjaman inilah saya mulai mencari tahu lebih dalam tentang Dream Theater termasuk siapa saja yang menjadi influence mereka sehingga saya bisa mengenal lebih jauh tentang band-band progressive yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Terima kasih untuk album Images and Words yang begitu bermakna dan memberi warna dalam hidup saya, serta terima kasih kepada teman saya yang kasetnya sampai sekarang masih saya ”amankan”. hahahahaha

Demikian dulu kiranya penggalan cerita saya tentang ”Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah”. Cerita ini rencananya akan saya lanjutkan kisahnya untuk masing-masing 1 lagu di setiap album selanjutnya dan saya butuh waktu untuk memutar kembali tidak hanya kaset saya tetapi juga otak saya agar mau menaiki tangga darurat yang bernama kenangan karena begitu banyak cerita hidup yang masih selalu tersimpan di dalam ingatan saya yang cukup terbatas ini. Dan seperti saran Om Gatot, ”Gak usah buru-buru, sing penting dinikmati saja mas prosesnya”. Hehehehe

Dan dari hal itulah akhirnya saya memutuskan untuk mengambil judul ”Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah Part I”, karena memang rencananya akan ada Part selanjutnya. Maksud lain dari tambahan Part I itu adalah dipekso gen koyo lagune Metropolis sing ono Part I karo Part II (dipaksa biar seperti lagunya Metropolis yang ada Part I dan Part II). hahahahaha

Sungkem saya,

Boeddhierif Setyawan (inibudi)

5 April 2015

Mari kita giatkan dan galakkan GERAKAN DOWNLOAD BERAS
agar kita bisa beli kaset sebanyak-banyaknya!

Bravo Kaset!

Too Late

March 13, 2015

Eddy Irawan

Kamis sore kemarin, cuaca agak sejuk karena siangnya dihajar hujan yg lumayan lebat. Agak ragu mau jalan ke blok m square tapi hasrat utk ketemu lapaqers kaset mengalahkan rasa ragu tadi.

image

image

Begitu nyampe blok m, udah malam. Benar aja, beberapa lapak memang gak buka sejak siang karena ujan. Namun dari sedikit yg buka, saya mendapat beberapa kaset lumayan yg belum pernah saya nemu sebelumya, kecuali kaset Black Sabbath.

Ada kaset Don Covay yang lagunya ‘somebody’s been enjoying in my room’ pernah ngetop dan ada di kaset kompilasi Dream Express 3. Trus ada Budgie album ‘in for the kill’ rekaman Melody Sound. Namun karena di cover gak ada tertulis grup apapun dan gambarnya cuma elang lagi terbang, maka saya cukup ngasi 3 lembar pecahan 5ribuan utk kaset ini.

Trus ada grup Greenslade, salah satu band referensinya Godbless, yg masih rekaman aquarius itam-putih. Ada kaset the best of Focus c90 rekaman steel yg seumur hidup baru kali ini saya liat. Lalu kaset grup progersif asal Canada, Saga, album behaviour (rekaman alpine).

Pernah dengar lagu ‘too late’ dari Silvi Lillegaard? Kalo belum, coba stel. Lagu tsb ada di kompilasi Heavy Slow 9 rekaman yess. Lagu itu begitu syahdu namun sangat powerful berkat lengkingan suara Silvi yang khas Norwegia. Lagu itu adalah milik grup Ruphus, dimana Silvi menjadi vokalisnya.

Sungguh menyenangkan bisa mendapat kaset-kaset antik nan semantik. Ada baiknya mendengar kata hati. Tapi kapan ya sempat mendengar habis kaset2 ini krn besok akan saya habiskan lagi waktu utk berburu kaset-kaset jadul di tempat berbeda. Ah, gk usah dipikirin. ‘Too late’, keduluan dimangsa predator lain. Hehehe… (e)

Nyetel MP3 Pake Kaset

February 24, 2015

Andria Sonhedi

Mobil saya masih pakai tape, bukan cd ada dvd player. Memang menyebalkan utk orang lain krn tak bisa untuk muter mp3, baik lewat player atau colokan USB. Tapi harusnya tak perlu khawatir karena ada kaset adapter yg bisa disambungkan ke HP atau Mp3 player. Saya sudah punya sejak lama, dapatnya di toko kaset yg sekarang sdh almarhum. Sempat khawatir bagaimana kl rusak, karena pernah kabelnya yang kecil putus shg tak bisa dipakai. Di toko kaset Popeye Yogya saya pernah lihat, harganya sekitar 40 ribu. Masalahnya ongkos perjalanan ke Yogya itu yang mahal :)
Tak dinyana, saat minggu kemarin saya malah dapat lagi. Tempatnya di mana lagi kl bukan di tempat kelahiran pak gatot kita yg legendaris ini :) Di Madiun, di toko komputer Maju Hardware. Harganya pun cuma 14 ribu rupiah, jauh lebih murah dari yang di Yogya :) Alhamdulillah.

image

Jawara Blok M Square

January 30, 2015

Gatot Triono

image

Pertolongan Doraemon di Pasar Yaik Semarang

January 26, 2015

Andria Sonhedi

     Seperti saya kisahkan sebelumnya bahwa tanggal 21-22 Januari lalu saya ke Semarang. Hari pertama berhasil mengunjungi RM Padang Jaya dengan hasil yang tak maksimal. Hari ke-2 ini sudah saya rencanakan mencari kaset di Pasar Johar. Kebetulan acara berakhir jam 12.00 siang sehingga ada waktu untuk menjelajahi Pasar Johar.
     Sayangnya pas saya nanya lewat SMS ke Pak Gatot & KohWin tak ada yang merasa pernah ke Pasar Johar cari kaset. Lha lalu pasar apa yang mereka tulis di blog legendaris kita ini? Untunglah saya bawa laptop & modem sehingga malam hari sehabis ke RP Padang jaya saya cari tulisan lama beliau ini (the jakarta Invasion). Ternyata memang pak Gatot beli kaset di mas Akhmad di Pasar Yaik di dekat Hotel Metro yg saya tempati ini. Setelah lihat di google ternyata Pasar Johar dan Pasar Yaik itu satu kompleks. Belakangan saya baru tahu kalau Pasar Yaik ada di utara kompleks Pasar Johar.
     Sayangnya lagi ancer2 pak Gatot tdk lengkap setelah saya tanya ke beliau sh lupa dan saya disarankan nanya ke para pedagang pasar aja pasti tahu. Ternyata optimisme pak Gatot tak terlalu benar. Saya sampai nyasar ke Selatan lalu muteri pasar Johar tak ada yg tahu tempat jual kaset seken. Akhirnya saya nemu kios kecil yang jual DVD dengan penjual seorang bapak agak tua, pura-puranya beli DVD dulu. Kebetulan ada DVD bajakan Doraemon the Movie yang baru yg blm pernah ditonton anak2 saya. Sehabis nyoba saya nanya apa dia tahu ada yg jual kaset pita di Johar. Awalnya dia bilang kl sdh tak ada & yang terakhir sudah tutup di dekat situ. Saya agak kecewa juga namun tiba2 bapak tadi bilang mungkin di dekat toserba Trend masih jual kaset seken. Segera saja saya keluar pasar lalu menuju utara  (atau manalah saya tak tahu arah). Barulah saya paham ternyata sisi sebelah utara Pasar Johar ada tulisan Pasar Yaik di gapuranya. Semangat saya langsung bergelora.
     Sebagai catatan Toserba Trend ada di seberang pasar Yaik. Cara cepat untuk menemukan para pedagang kaset adalah pertama cari simpang 5 hotel Metro. Bila anda dari arah H Agus salim (RM Padang Jaya) tinggal lurus bila sampai lampu traffic light Pasar johar tinggal belok kiri.  Bila anda dari arah Jl. Pemuda apabila sampai simpang lima beloklah ke kanan bukan ke arah hotel Metro. Kl dari arah Kantor Pos bisa belok kiri tapi lewat traffic light. Anda juga bisa sholat dulu di masjid di barat pasar Yaik kl perlu tapi harap sandal diawasi krn saya pernah kehilangan sandal baru saya saat shalay subuh di situ.
     Kembali ke Pasar Yaik, saya pertama-tama ke lapak mas Akhmad, soalnya wajahnya mirip yg di foto artikel pak Gatot. lapaknya juga 2, yg dia tongkrongi dan ada tape-nya adalah lapak kaset2 Indonesia sedang di kiri dia adalah laoak berisi kaset2 barat, baru maupun kuno. Setidaknya setelah melihat koleksi RM Padang Jaya maka dagangan mas Akhmad lebih berkualitas. Sengaja tidak saya ambili semua :D soalnya banyak yg sudah punya. Termasuk the very best of Def Leppard keluaran Aquarius yg C-90 yg saya sdh punya tapi blm pernah saya lihat dijual di lapak seken. Akhirnya dapatlah 13 kaset yang dapatnya berangsur-angsur. Sebenarnya lagu-lagunya sudah punya semua, beberapa kaset pernah kena lembab bahkan ada yg bekas digunting tapi secara umum kaset2nya bersih. Berbeda dengan kaset2 di RM Padang Jaya yang berdebu shg membuat tangan risi. Semua kaset dihargai 12.500 baik C-90 atau C-60, lama maupun baru. Untung saya masih ingat utk mencoba kasetnya, walau mas
 Akhmad bilang sdh dia coba dan tak akan tertukar tapi kecolongan juga satu kaset Raven-Architect of Fear” dengan kaset Mr. Big. Ada kabar baik untuk mas Hippie, saya berhasil mendapat kaset the best of Michael Frank yg C-90! Nantikanlah kedatangannya di rumah :) Di sana kaset Michael Frank banyak cuma yg C-90 cuma itu. Mas akhmad juga langsung sumringah ketika saya bilang tahu namanya dari “pelanggan” yg sdh lama datang ke situ.
     Saya meninjau lapak di sebelah kiri, yg cuma ada satu. Menggabungkan kaset Indonesia & Barat. Karena saya tak fanatik dengan jenis kaset maka yang saya belum punya nbaik baru atau lama ya saya ambil saja.  Dapatnya 11 kaset, termasuk Genesis live yang cuma kaset 2 aja. Untunglah tak ada mas DananG karena ada kaset Queen-Magic Live terbitan Team Record, jelas saya ambil juga. harganya juga sama, 12.500-an.

image

image

image

image

    Apakah perburuan saya usai? Belum. Sebelum saya keluar lewat arah masuk tadi saya mampir ke penjual terakhir yang ukuran lapaknya segerobak aja. Awalnya sih seperti tak ada yang saya minati, wl akhirnya dapat juga 4 kaset yg saya anggap layak beli. Kaset Queen terbitan Team itu selama ini cuma saya lihat di iklan majalah Hai akhir tahun 80-an akhirnya bisa megang dan kebeli juga. Akhirnya pas mau saya bayar lalu saya tambah kaset Green Day yg sampul bagian judul lagu sdh nempel kotak kasetnya. Jatuhnya 55.000 :) Kali ini saya puas walau semalam saya dapat kaset2 yg harganya mahalan dikit. Perjalanan nyopiri sendiri ke Blora selama 3,5 jam jadi agak ringan karena sdh pengin nyetel kasetnya. Untunglha saya tadi ketemu Doraemon :)

-Andria Sonhedi-

“Who I Am” di Yogya

December 1, 2014

Andria Sonhedi

     Paling sebel kalau ke Yogya tak bisa ketemu pak Priyo di gang utara Pasar Bringharjo. Maklum aja di Yogya cuma beliau satu-satunya jujugan saya. Setelah banyak toko cd/kaset berguguran dan beberapa yg ada cuma stagnan tanpa ada koleksi cd baru,mencari kaset2 seken di yogya sekarang pun sdh sulit (wl mungkin tetap masih ada).
     Hari sabtu tanggal  29 November kemarin saya mmg ke Yogya mengurus mutasi motor saya. Walau sdh hampir jam 11 siang tapi urusan lancar2 saja di Samsat. Rencana saya selain mencari pak Priyo saya juga mencari CD Queen Forever. Kabar dari rekan2  pecinta Queen di jakarta CD ori sdh muncul. Jujugan awal adalah ke toko kaset Popeye & Bowsound di timur Jl. Malioboro namun sayang mereka tak menjual. Harapan berikutnya adalah Malioborro Mall lantai bawah, toko Disc Tarra, sayang lebih parah karena mbak penjaga malah tak tahu kl ada Queen baru. Untunglah ada Cd Queen Live at The Rainbow yg saya belum punya shg daripada pulang dengan tangan hampa saya beli juga dobel CD itu.
     Begitu mau keluar mall dan menuju Bringharjo ternyata hujan sudah turun lebat. Saya kira hujan di Yogya cuma ada di sore hari :) shg payung di mobil tak saya bawa tadi. Akhirnya daripada berbasah-basah saya keliling aja di Malioboro Mall, ke obralan buku Gramedia (dapat 2), ke toko buku Periplus siapa tahu ada diskon, bahkan ke Matahari siapa tahu ada kaos musisi :D Akhirnya setelah dari lantai atas saya balik lagi turun melihat keadaan. Eh kok tanpa saya sadari tadi ada lapak kecil, karena cuma 3 meja, dari Periplus yg jual diskonan buku2 impor. Kebanyakan untuk anak-anak & tentang manajemen. Saya berharap ada buku musik seperti pas saya dapat buku foto the Police kemarin. Sepertinya harapan saya terkabul karena di sela-sela deretan buku tebal ada buku berjudul Who I Am-Peter Townshend. Biasanya buku2 yang diobral ttg musisi pop macam Justine Beiber atau One Direction. Buku ini benar2 harta karun walau cuma pakai paperback. Harganya semula Rp 335 ribu berubah menjadi 95 ribu.

image

     Ada seorang bapak berkaca mata di sebelah saya yang sempat ngomentari kl ini bukunya vokalis the Who. Saya luruskan kalau Pete gitaris the Who. Sebenarnya kalau saya tak mau dia mau ambil :) Tentu saja saya tak akan meninggalkan memorabilia ini. Lebih menyenangkan lagi pas saya bayar ada dsikon tambahan sehingga cuma tinggal 67.500 aja :)
     Buku ini pas karena kebetulan juga ada mug the Who pesanan saya yg juga baru ambil dari Kedai Digital. Akhirnya wl setelah itu saya sempat kena gerimis dalam perjalanan ke tempat pak Priyo, dan gagal ketemu, tapi buku ini sementara bisa utk obat kecewa perjalana panjang pulang ke magetan.
Sayang minggu itu tak ada yg ke Yogya, termasuk pak Edi, sehingga tak acara ngumpul di suatu tempat seperti ketika ketemu mas DananG dulu. Kalau pak Herwin/Kohwin sdh ada jadwal ngajar tiap Sabtu jadi tak mungkin saya recoki.


evil has no boundaries

The Moon & The Rush: Songs by Mr. Big

November 20, 2014

Hippienov

image

Halo rekan-rekan apa kabar? Cukup lama absent kirim tulisan ke blog dan baru kali ini aku kembali menulis. Tapi pas mau mulai menulis malah bingung topik apa yang akan aku sharing ya? Akhirnya aku putuskan untuk sharing tentang kompilasi lagu-lagu Mr. Big yang aku buat sekitar setahun lalu. Yah, hanya sekedar tulisan ringan untuk mencoba menghibur rekan-rekan blog semua. Semoga berkenan dan mohon dimaafkan jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

Perkenalanku dengan band rock yang bisa dibilang legendaris dan pernah meramaikan blantika musik rock era 90an ini dimulai saat aku duduk di bangku SMP/SMA. Adalah teman main satu komplek, Agus namanya, yang ngotot mempromosikan band ini kepadaku. Waktu itu aku belum tahu Mr. Big karena masih asik dengan band-band metal semisal Anthrax dan Helloween. Temanku ini cukup jeli karena yang dijadikan bahan promosi adalah lagu “addicted to that rush” serta “daddy, brother, lover, little boy” yang nge-rock banget bernuansa metal dan dijamin aku akan duduk manis menyimak. Tak lupa “to be with you” juga ditambahkan ke daftar lagu promosi temanku ini.
Dari sini aku mulai kenal dengan Mr. Big namun aku tidak benar-benar mengikuti dan malah gak pernah beli albumnya karena jaman SMA musik thrash metal, grindcore, death metal, speed metal dan berbagai genre metal lainnya lebih menarik buatku. Baru saat album “Bump Ahead” dirilis tahun 1993/1994 aku mencoba membeli dan ini adalah album Mr. Big pertama yang aku punya. Kenapa aku beli? Saat itu aku sudah kuliah dan dinasti  thrash metal mulai mengalami kemunduran inmy musical life, aku pun mulai pindah ke jalur grunge/alternative bahkan mulai melirik kembali musik classic rock era 60-70an setelah sempat ditinggalkan. Tapi aku belum nge-prog, masih satu tahu lagi (1995) aku baru mengenal prog-rock.

Singkat cerita, sekitar 1 tahun yang lalu aku ketemu cd mp3 Mr. Big di sebuah lapak mp3/dvd/cd bajakan dan dari awal aku memang sudah niatkan untuk membuat sebuah kompilasi lagu-lagu Mr. Big yang sumbernya cd mp3 bajakan itu. Sampai saat ini aku sudah membuat 3 cd kompilasi Mr. Big: 1 cd berisi lagu-lagu “balada” Mr. Big lalu 1 cd yang lain berisi lagu-lagu “rock” Mr. Big dan kompilasi yang terakhir adalah kompilasi yang aku sedang tulis sekarang.

Konsep kompilasi “The Moon & The Rush: Songs by Mr. Big” adalah sebuah kompilasi yang berisi 50% lagu-lagu balada dan 50% lagu-lagu rock dari Mr. Big, dan setelah proses seleksi aku dapatkan 9 lagu balada (track 1-9) serta 9 lagu rock (track 10-18) namun ternyata masih ada space untuk 1 lagu lagi dan akhirnya lagu “green (tinted sixties mind)” aku masukkan sebagai bonus.
Aku karang judul “the moon & the rush” untuk menggambarkan bahwa kompilasi ini tentang “balada & rock”. The moon adalah penggalan dari lagu Mr. Big “promise her the moon” yang syahdu sedangkan The rush diambil dari “addicted to that rush” yang edan itu.

Here’s the tracks list:
THE MOON:
1. Take cover.
2. Ain’t seen love like that.
3. My new religion.
4. Just take my heart.
5. To be with you.
6. Goin’ where the wind blows.
7. Nothing but love.
8. If that’s what it takes.
9. Promise her the moon.

THE RUSH:
10. Addicted to that rush.
11. Daddy, brother, lover, little boy.
12. Colorado bulldog.
13. How can you what you do.
14. Temperamental.
15. Jane Doe.
16. Mama D.
17. What’s it gonna be.
18. Trapped in toyland.

BONUS:
19. Green (tinted sixties mind)

Namun kompilasi ini tidaklah sempurna dan punya banyak kekurangan terutama dari pemilihan lagunya karena pasti ada banyak lagu-lagu apik Mr. Big yang malah terlewatkan dan tidak masuk kompilasi. 

Matursuwun Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan, serta untuk rekan-rekan semua yang sudi mampir membaca tulisan ini.

A boy who dreams music,
hippienov. 

Scorpions “Best of Classics”

October 6, 2014

Hippienov

image

Sepertinya dari semua kompilasi yang pernah aku buat baru kali ini aku berani untuk menggunakan embel-embel kata “best”, namun hal ini bukan berarti aku pe-de dengan seleksi lagu-lagu dalam kompilasi ini, tetap saja aku yakin pasti akan ada kekurangan. Kompilasi ini bukan seluruhnya asli ideku karena sebagian besar lagunya aku “jiplak” dari kaset kompilasi Scorpions rilisan Saturn (kalo gak salah inget), aku hanya menambah dan mengurangi sedikit saja. Bahkan urutan lagunya pun nyaris sama. Hasil akhirnya adalah sebuah kompilasi Scorpions klasik yang diambil dari album “Lonesome Crow” sampai dengan “Taken By Force”, dengan songlist sebagai berikut:
 
SCORPIONS / BEST OF CLASSSICS.
 
1. It all depends.
2. In trance.
3. Pictured life.
4. Dark lady.
5. In your park.
6. Hes’ a woman, she’s a man.
7. Backstage queen.
8. Speedy’s coming.
9. Steamrock fever.
10. Robot man.
11. Hell-cat.
12. The sail of Charon.
13. Virgin killer.
14. Life’s like a river.
15. The riot of your time.
16. Evening wind.
17. Fly people fly.
18. Born to touch your feelings.
19. Longing for fire.
20. Action.
 
Senang rasanya bisa punya sebuah kompilasi Scorpions yang isinya adalah lagu-lagu yang berasal dari era 70an, meskipun sepertinya masa keemasan Scorpions ada di era 80an tapi aku selalu suka karya-karya 70an mereka.
Namun untuk melengkapi “Scorpions journey” akupun berencana untuk membuat kompilasi Scorpions lainnya yang berisi lagu-lagu dari era Scorpions 80an. 
 
Semoga tulisan ringkas ini bisa meramaikan blog dan semoga berkenan untuk rekan-rekan semua. As always, matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan serta untuk rekan-rekan gemblunger yang sudi mampir meluangkan waktu membaca tulisan gak genah ini.
 
 
A boy who dreams music,
hippienov…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 187 other followers