Archive for the ‘Counting Out Time’ Category

Koleksi 234: Three Dog Night & Sharks – Starlite

December 17, 2014

image


Whoooooaaaa …kaset ini super duper antik nuansamatik dan juga mulus sekali. Jangan tanya musiknya karena memang bisa digolongkan lagu pop biasa namun Three Dog Night sudah tak asing lagi bagi kita karena lagu “Cowboy” pernah ngetop di seantero Negara Kesatuan Republik Indonesia. Siapa gak kenal kelompok ini!

Namun … Nama Sharks jelas belum kesohor dan bahkan saya baru tahu setelah mendapatan hibahan harta karun ini. Saya terpaksa gugling dan mendapatkan beberapa youtube nya dari lagu yang ada di kaset ini.

Tapi…bukankah kita sepakat bahwa yang penting “kaset” nya bukan siapa band nya? Lha iyalah …kalau cuman siapa band nya, dua nama band ini juga bukn idaman banyak orang termasuk gemblungers di blog gemblung. Ya nggak? Tapi … Kasetnya itu lho! Rekaman Starlite pulak! Lihat dong desain sampulnya yang Afro Rock banget ….ha ha ha … Mas Herman pasti suka sama covernya, sedangkan mas Eddy Irawan pasti mangkel lan misuh2 karena sulitnya cari rekaman Starlite. Pssstt …buka rahasia nih …. Mas Eddy bisa dapetin Starlite di tempat Kims Varia atau Gunawan. Cuman liat kasetnya musti dengan gaya sok gak butuh …karena kalau kita girang pasti harga meradang dan dipathok Rp. 30 ribu. So pasti saya! Alasannya klise …barang langka. Padahal dia belinya cunak Rp. 2 ribu ajah ….hi hi hi ….

image


Salam,
G

Koleksi 234: Temptations & Stealers Wheel – BSR

December 15, 2014

image


Rasanya bukan wong pitungpuluhan kalau gak kenal nama besar Stealers Wheel yang ngetop banget dengan “Late Again” ….when i get home; …and you’re complaining ….dengan balutan khas suara organ yang dipencet lamaaaa banget bahkan lebih lama dari pencetan Rick Wakeman di Tales From Topographic Oceans. Pokoknya lagu Late Again itu popularitasnya tak kalah sama Someone nya GFR atau I’d Rather Go Blind nya Chicken Shack atau Soldier of Fortune nya DP. Top von ngguwajak tenan kala itu. Sebuah radio amatir lainnya yang menamakan dirinya BULLDOG quell dengan dedengkotnya Aang dan Kotjo selalu mengudarakan Late Again ini saat mereka siaran. Nuansamatik tenan.

Tapi …coba liat di kaset rekaman Better Sound Reproduction (BSR) ini …. Lha mosok band ampuh ini cumak jadi Side B nya The Temptations! Opo ra kenthir tuwenan iki?!!! Pancen kurang asem pol ini BSR. Tapi ya begitulah jaman kaset bajakan …kita pasrah ajah ….ha ha ha …

image

LATE AGAIN

Late again when I get home
You be waiting
Still you know
There ain’t no use in you complaining

I know that I can show some respect
Especially when I am wrong
But when I get back I know you say
“You’ve been away too long”

Ooh, I wonder why I stay
When everybody’s gone
There’s always something there
That keeps me hanging on, on

Ooh, I wonder why, I stay
When everybody’s gone away
There’s always something there
That keeps me hanging on, on

I know that I can show some respect
Especially when I am wrong
Late again when I get home
You be waiting

-

Boney M Golden Hits dari Pasar Sayur Magetan

December 15, 2014

Andria Sonhedi

     Rasanya kl nggak terlaksana melihat kaset2 seken itu, merujuk lagu Cita Citata, sakitnya tuh di sini (silakan tunjuk yg dirasa sakit pas mbaca ini). Dua kali berturut-turut di Yogya tak ketemu lapak pak Priyo, di Lokananta minggu lalu juga tak ada kaset-kaset bagus & murah (penekanan di murah-nya :) ). Yang terakhir kamis malam kemarin saya tak jadi mampir di RM Padang jaya Semarang, padahal malamnya sudah sampai sana. gara2 saya cuma nunut mobil maka pupuslah harapan menyelamatkan kaset2 dari invasi pak eddy irawan :D
     Hari Sabtu kemarin, tgl 13 Desember, akhirnya saya tekadkan hati mengunjungi pasar sayur Magetan untuk beraudisi di bilik mas Slamet satu-satunya penjual kaset seken di Magetan. Pasar sayur Magetan masih benar-benar tradisionil, kalah dengan pasar besarnya pak gatot di madiun. lantainya masih tanah shg wl sdh keras tetap aja becek. Bilik mas Slamet ada di belakang pasar barengan dengan alat2 kebun dan sandal, keuntungannya tdk becek. Namun demikian di meja kaset ada beberapa kotoran tikus, yg ini mungkin bukan piaraan dia, sehinga baunya cukup menyengat. Untunglah kaset2 yg saya cari diletakkan khusus di rak sederhana di bagian dalam shg terjauh dari kotoran kecuali debu. Sesungguhnya tak ada perkembangan dari kaset2 yg sekarang dengan beberapa bulan lalu, atau mungkin kaset2 yg tak saya sukai ada yg baru. Akhirnya setelah melalui  proses seleksi saya dapat juga 6 kaset normal + 1 kaset singel. Kaset Favorite Piano Pieces itu hanya terbawa pas di mobil aja, belinya sdh agak lama :)
Yang akan saya ulas sedikit justru kaset disko Boney M :D
Boney M. adalah vokal grup yg berasal dari Jerman bentukan Frank Farian (yg juga melejitkan Milli Vanilli). Para penampilnya memang dicari yg bisa menari yaitu Liz Mitchell, Maizie Williams, Marcia Barrett, dan Bobby Farrell (yg ini ternyata tak ikut nyanyi. Sound Boney M. adalah 2 suara wanita aja : Liz & Marcia.

image

image


Ternyata musik disko 70/80-an gaya Boney M. bukan seperti house music atau remix, walau tetap ada ‘jedag-jedug’-nya. Musik mereka mirip lagu pop dan bisa mudah dijadikan dangdut atau rock sekalian. Contohnya lagu Belfast dicover oleh grup Spanyol: Mago de Oz sedang lagu rasputin dicover oleh grup viking metal Finlandia Turisas (ada videoclipnya yg lucu, bagi saya)
jaman saya SD lagu2 mereka yang paling populer adalah “River of Babylon” yang ada lagu dalam bahasa Indonesianya, lalu “Hooray it’s Holi Holiday”. Sayangnya kaset ini tak ada lagu-lagu tadi, cuma ada medleynya di lagu pertama side A. Lagu Children of Paradise malah synthesizernya unik, sedikit mengingatkan ke space music yang pernah saya dapat kasetnya. Ada lagi lagu Malalaika yg pas saya dengarkan kemarin langsung ingat lagu “Api Unggun” di kaset si Unyil teman saya dulu :D Musiknya sama tapi diganti lirik Indonesia doang.
     Pitanya Maxell makanya tanpa saya bersihkan awalnya langsung terdengar jernih di tape mobil. Perekamnya adalah Top’s Dynamic dengan stiker rumah kaset bergaris hijau cerah. Kasetnya saya potret di teras rumah sambil melihat the lambs yang kurang kerjaan wira-wiri di muka rumah saya .


evil has no boundaries

Koleksi 234: The Edgar Winter & Stevie Wright – Orient

December 15, 2014

image


Baiklah …memenuhi permintaan mas Andria, maka saya lanjutkan penayangan kaset2 nuansamatik legendarik dari koleksi radio amatir fenomenal bernama Dji Sam Soe atau kadang menyebut dirinya Borimex yang di sekitar 1975 sd 1979 rajin siaran malam hari di kota kebanggaan saya: Madiun – the city where it all begun progressively ….ha ha ha … Kehidupan belajar saya membedah soal2 SKALU buat masuk ITB mulai dari soal2 tahun 1968 hingga 1978 baik Fisika, Matematika maupun Kimia semuanya ditemani setia oleh mas Pri penyiar Dji Sam Soe. Uwediyan tenan ….masa yang super duper indah meski tegang karena menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Kalau saat itu sudah kenal Koh Win, sudah barang tentu saya daulat mekso buat ngajarin saya terkait magnet dan listrik dari pelajaran Fisika nan rumit ….qi qi qi ….

Kali ini kaset rekaman Orient, yang juga ngetop saat itu utamanya dengan suara treble yang kemreces kayak habis maan buah cermai, dengan kemasan bertajuk Hard Rock volume 5 menampilkan dua grup: The Edgar Winter Band dan Stevie Wright Band. Sopo kuwi Stevie Wright? Embuh! Ra penting! Sing penting kaset iki ketok ngguwajak pol dan mewakili jamannya. Coba bayangkan bila kala itu temen2 gemblung mengantongi uang rp. 500  kemudian melihat kaset ini dipajang di toko Miraco. Pasti akanbrela membayarnya! Lha wong penampilannya keren. Lagu2 yang ditampilkan dalam kaset ini sebenernya lebih bernuansa rock n roll ketimbang hard rock. Tapi ya ndak papa ….sing penting kasete! JrèNg!

image

-

Koleksi 234: Super Groups

December 14, 2014

Rock n Roll Hoochie Koo
-

image


Sungguh saya amat beruntung diberi amanah untuk menjaga semua koleksi kaset radio Dji Sam Soe yang dulu berjaya sebagai radio amatir dengan tema siaran yang seringkali memutar musik rock seperti tertera di sampul kaset ini. Aneh juga kompilasi ini mencomot beberapa lagu yang memang ngetop namun dari jenis musik atau aliran yang berbeda. Blood Sweat sebenarnya band brass rock, namun lagu “I Love You More Than You Ever Know” tergolong blues, makanya disandingkan dengan Johny Winter. Namun lagu “Rock n Roll Hoochie Koo” lebih beraliran rock n roll. Lucu juga. Side B nya Warhorse yang kala itu memang ngetop dengan “I (who have nothing)”. Seru juga …. Yang penting ini memang claro pitungpuluhan pol.

image

-

25 Or 6 to 4: The Short Story Of Chicago

December 9, 2014

Hippienov

Halo Mas G dan rekan-rekan semua, gara-gara tret Mas Eddy yang bertajuk “13…” aku jadi tergelitik untuk sharing album kompilasi ini di blog. Tadinya gak ada niat untuk menulis tentang kompilasi yang sudah cukup lama aku buat cd nya ini tapi akhirnya aku emailkan juga ke Mas G sekedar untuk menghibur rekan-rekan, semoga berkenan.

image

Awal terciptanya kompilasi ini karena ide isengku untuk membuat sebuah kompilasi lagu-lagu Chicago yang aku suka dalam 1 cd, khususnya lagu-lagu mereka era 70an. Sebetulnya aku sudah punya kaset dan cd kompilasi Chicago tapi campur dari era 70, 80 dan 90an. Aku ingin sekali punya kompilasi Chicago yang berisi lagu-lagu era 70an saja. Gayung bersambut akupun ketemu cd mp3 Chicago di sebuah lapak emperan, lumayan murah cuma 5 ribu perak seingatku, asik! Jadi nih nge-burn cd Chicago… Gak lama berselang aku mulai mewujudkan ide iseng ini diawali dengan proses pemilihan lagu, tapi namanya cd gocengan pastinya gak semua file bisa terbaca baik banyak yang “korup” alias rusak, menyebalkan karena banyak file yang rusak pas di lagu yang harusnya aku akan pilih dan ini menyebabkan proses awal proyek abal-abalku ini molor agak lama.
Setelah melalui proses seleksi yang sangat hati-hati karena aku harus pastikan lagu yang aku pilih tidak rusak file nya di tengah atau akhir lagu, sedangkan beberapa lagu yang “rusak” di bagian intro terpaksa aku akali dengan cara di-cut di bagian yang rusak kemudian tetap diikutsertakan dengan teknik “fade in”, akhirnya terjaringlah 18 lagu Chicago 70an sebagai berikut:

1. Song For You.
2. Colour My World.
3. Another Rainy Day In New York City.
4. Does Anybody Really Know What Time It Is.
5. 25 Or 6 To 4. 
6. No Tell Lover.
7. Saturday In The Park.
8. I’m A Man.
9. Baby, What A Big Surprise.
10. Old Days.
11. If You Leave Me Now.
12. Beginnings.
13. Call On Me.
14. Make Me Smile.
15. Questions 67 & 68.
16. Just You And Me.
17. Take Me Back To Chicago.
18. (I’ve Been) Searchin’ So Long.

Sayang aku gak bisa memasukkan beberapa lagu yang aku suka seperti lowdown, feeling stronger everyday, street player dan dialogue (part 1 & 2) karena file nya rusak parah gak bisa diakalin sama sekali.

Aku menghindari memberi judul kompilasi  ini “the best” karena banyak lagu bagus Chicago gak bisa masuk dan rasanya lebih humble aku beri judul “the short story of Chicago”, dan biar “serem” aku tambah embel-embel “25 or 6 to 4″ di depannya, akal-akalan marketing aja biar menarik, hehehe… 

Demikian sharing ku kali ini, mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam penulisan dan seperti biasa matursuwun Mas G atas waktu serta kesempatan yang diberikan. Juga untuk rekan-rekan yang sudah mampir membaca.

A boy who dreams music,
hippienov

The 40-Year ProgGraphy (9 of 40)

November 27, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I : Study Tour Ke Yogya Bawa Tape Mono

Sekedar mengingatkan timeline terutama dalam pembagian Dekade

Sekedar mengingatkan timeline terutama dalam pembagian Dekade

Banyak yang menasehati bahwa masa lalu itu telah lewat dan kita kubur saja. Memang benar kalau kita akhirnya meratap karena masa lalu. Namun ada kalanya kisah menarik masa lalu bisa menjadi pembelajaran menarik, apalagi bila itu terkait dengan musik. Kenapa saya katakan demikian? Karena tak semua orang mengkaitkan suatu kejadian dengan musik. Sedangkan bagi saya, setiak walks of life saya kok selalu terkait dengan musik, apapun jenis musik itu meski kebanyak progrock atau sekedar rock. namun ada kalanya disco juga seperti lagu Heatwave bertajuk “Super Soul Sister” yang gak ngetop blas namun saya suka sekali karena di jaman SMA dulu saya punya kaset kompilasi disko rekaman Nirwana ada lagu itu. Keren banget.

Kali ini yang saya angkat adalah kejadian ketika saya masih SMP, kemungkinan besar kelas dua akhir (1974) atau kemungkinan kecil kelas tiga awal (1975) . Saat itu sekolah kami SMP negeri 1 Madiun, dibawah asuhan Bu Djohan (ibunya teman saya: Fuad Diponegoro), mengadakan study tour ke Kraton Yogya. Itulah kali pertama dan satu2nya kesempatan hingga kini saya masuk kraton Yogya. Saya tak ingat persis ada apa saja di dalamnya, meski saya sebagai tukang pembuat laporan dengan sobat saya Djoni (Hadi Muhardjono). Yang menarik sebenarnya bukan kunjungan ke kraton Yogya, tapi justr wisata di daerah yang ada danaunya (saya lupa dimana tepatnya). Saat itu teman saya ada yang membawa tape recorder mono merek National dari seri paling rendah. Kalau gak salah saat itu harganya relatif murah dan suaranya sangat pas2an karena memang mono. Namun enaknya, tape recorder ini handy karena bisa dibawa kemana-mana dengan mudah (dicangking – boso jowone). Ingat …jaman itu walkman belum terbayang blas lho. Jadi, saya sangat beruntung temen saya yang namanya Heru Sulistiko (wah dimana ya dia sekarang?) membawa tape ini. Untungnya selera musik saya dengan Heru maupun Djoni masih mirip-mirip, sekurangnya sama2 suka rock. Heru sukanya Black Sabbath. Djoni sukanya Pink Floyd. Tapi ya sama2 bisa saling suka musik rock lainnya.

Ketika itu saya lagi kagum-kagumnya dengan Yes Fragile yang edan itu. Namun ditengah kedanen saya pada Fragile, gara2 majalah Aktuil, saya tertarik banget pengen tahu musiknya Jethro Tull tuh kayak apa. Kalau liat foto2nya di Aktuil kok seperti gembel main suling karena bajunya compang-camping dan corak kotak2, pake rok kayak cewek; dan kontras banget sama Bay City Rollers (BCR) atau Slades yang saat itu juga sering pake celana kotak2. Akhirnya kepada mas Henky pula saya mengeluh. Akhirnya pas pulang liburan dari Yogya mas Henky membawa kaset Jethro Tull “War Child” rekaman Perina Aquarius hitam putih. Pertama denger saya langsung merasa aneh tapi kagum dengan musiknya yang dimulai dengan lagu “Bungle In The Jungle”. Lucu musiknya, dimulai dengan suara seperti orang muntah kolak “howek …howek” trus suara flute masuk. Biyuh! Kuweren pol meski lauwtjuuuuu banget. Tadinya saya merasa aneh dengan musik Tull. tapi lama kelamaan saya ketagihan dan seluruh lagunya menjadi enak dan akhirnya nuansamatik banget bagi saya. saya tak kan bisa melupakan pengalaman pertama saya dengan Tull ini. Sungguh mengharukan! Dari album inilah akhirnya saya kebawa ke Thick as A Brick dan Aqualung dan seterusnya. Dulu semua pernik sekolah saya selalu ada tulisan tiga grup favorit: YES – JETHRO TULL – LED ZEPPELIN. Saat itu saya anggap Deep Purple dan Rolling Stones band pasaran dan kacangan (maaf bagi penggemarnya ya), soalnya semua hidung tahu band tersebut. kalau LZ lebih berkelas … ha ha ha ha ….

The Serpent

Bukan Jethro Tull yang saya ingin bahas, tapi justru side B dari kaset War Child tersebut adalah Genesis “From Genesis to Revelation”; album yang banyak diremehkan oleh penggemar prog namun sebenarnya saya sungguh cinta banget sama album ini. Cintanya murni bukan karena musiknya prog namun justru karena melodi dan komposisinya yang sederhana banget, bahkan terasa lebih sederhana dari The Beatles. Lantas apa hubungannya dengan Study Tour? Nah …pada saat wisata di danau naik perahu dayung, saya sengaja memilih teman yang suka rock bisa satu perahu yakni Heru (yang punya tape recorder) , Djoni dan saya. Saat itu saya memang keranjingan kaset Warchild; tapi kok saya seneng banget dengan side B nya. Dan yang membuat saya tersentak adalah lagu sederhana bertajuk The Serpent yang diawali dengan hentakan bass sederhana namun groovenya bagus banget. Apalagi saat itu sedang mendayung perahu di danau yang tenang ….Whoa ….kita bertiga joget pake lagu indah The Serpent itu. Liriknya indah pulak:

DHUNG DHENG DHENG DHENG DHUK THAK ….

Dark night, planets are set
Creator prepares for the dawn of man
You’re waking up, the day of incarnation
Said you’re waking up to life

Images he made to love
Images of gods in flesh
Man is wonderful, very wonderful
Look at him
Beware the future

Whooooaaaaa….kami berjoget di atas perahu sambil memutar lagu ini sambil tereak2 kenceng:

Man is wonderful, very wonderful

Look at him

Beware the future

Wuediyaaaaaaaaaaaannnn….buwajindul nuikmatnya bukan maiiin!!!! Jauh lebih nikmat dari pada nyantap sambel tempe kesukaan saya lho. Biyuh biyuuuuuuh ……lagu kok huwenak tenan (saya menulis bagian ini sambil memasang lagu The Serpent ini dan mengulangnya 4 kali saat ini, sambil mata mbrebes mili inget kejadian indah …..oh nikmatnya …..).

Padahal dengan ukuran musik prognya seperti Supper’s Ready atau Firth of Fifth lagu ini gak ada apa2nya dan gak pernah dianggap sama penggemarnya karena dianggap sebagai lagu rohani sekelas The Bee Gees. bagi saya mah …bodo amat orang bilang album ini ecek2 ….efek energinya itu lho …luar biasa! karena setelahnya saya jadi semangat menyusun laporan study tour di rumah dinas bapak Djoni, Karesidenan Madiun. Oh ya selain The Serpent, kami juga joget dengan lagu riang gembira “In The Beginning” – lucu pol musiknya, kayak orang ngamen pake ecek2 … ha ha ha ha …

Trus yang bikin nyesek ati itu lagu sesudahnya yang bertajuk “Am I very wrong?” (sebuah judul lagu yang humble banget dan dinyanyikan dengan mantab sekali oleh Gabriel) …..oh edan diyancuk tenan …bar The Serpent dihajar kambek “Am I Very Wrong?” opo ora ngguweblak jal!!!! Aku menungso biasa yang punya ati rempelo melankolis juga …

Am I very wrong
To hide behind the glare of an open minded stare
Am I very wrong
To wander in the fear of a never ending lie

Jiangkrik! Nangis bombay sesenggukan tenan! Gemblung lagu ini …

Yang juga sangat teatrikal adalah lagu bertajuk “Where The Sour Turns to Sweat” dengan intro yang sangat menarik:
We’re waiting for you
Come and join us now
We need you with us
Come and join us now

Sederhana namun menohok sekaligus mengajak orang bergabung. Saya pakai lagu ini kalau lagi kasih workshop mengajak orang masuk ke kelas setelah rehat kopi. Mantab bukan? Oh ya …pada saat temen2 ITB bikin Apresiasi Musik Genesis di Mario’s Place sekitar tahun 2008 lalu, saya ikut nyanyi diawali lagu ini “We’re waiting for you ….come and join us now …” trus hajar masuk SQUONK. Ha ha ha ha ….berani tampil juga saat itu. Tapi memang lagu ini menggairahkan sekali apalagi bila digabungkan dengan In The Beginning. Whoooaaaa….manteb jek!

Sekian dulu deh … kalau dituruti kagak ada habisnya ngomongin album debut Genesis ini.

Saya bersyukur sekali di saat abis sakit dimana mendengarkan musik menjadi bukan menyenangkan lagi, namun dengan From Genesis to Revelation yang ringan dan menghibur bisa menambah semangat saya untuk berkarya. Mantab sekali menikmati album ini di saat badan meriang kemarin …syahdu …. (sekarang ini mengalun Fireside Song yang juga nikmat …). Pokoke Genesis manteb dah!

(ditulis Jumat, 28 November 2014 pukul 8:45)

Tret selanjutnya (nomer 10)

Dekade I : Break Dance dan Cockpit

 

Happy 43rd Anniversary “Fragile”

November 27, 2014

Herwinto

Photo0047

Kemarin 26 November tepat 43 tahun dirilisnya album nuansamatik nan berkelas milik Yes yaitu Fragile. Saya tahunya dapat sms jam 24.00 dari sahabat paling prog hatinya yaitu mas Edi Jombang, lha bagaimanan tidak prog sampai sampai ulang tahun album juga hafal….wakakak…maka untuk merayakan album kuereen ini saya memilih memutar kaset Yes Fragile, nuansamatik sekali memang kalau menggunakan kaset karena nuansa jadulnya muncul….. gak mengira ya Fragile dah 43 tahun tapi lihatlah kedahzyatannya…nuansa Ngggg…Thuing nya masih terasa segar sekali!!!

Kasetnya pun gak sembarangan, dipilih yang rekaman yess, seni banget memang memutar kaset itu, ada proses membuka kotak almari tempat kaset disimpan, udah kayak membuka lemari berisi pusaka antik milik kerajaan rasanya, belum lagi kasetnya yang muluuuuuus puol kayak perawan….jadi ada proses mengelus, memandang dan menikmati betul sisi sisi keindahan kaset ini…ha ha ha ha..dasar gemblunk….Ok….saya mau mutar kaset dulu…..udah lama banget gak mutar kaset…..Salam!!!

The 40-Year ProgGraphy (8 of 40)

November 21, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I : Ribut Ritchie Blackmore Keluar

Ini memang masih periode yang campur-aduk antara prog dan rock standar karena memang kala itu bahasa umum yang dipakai di kawula muda Madiun untuk musik rock ya Deep Purple, Led Zeppelin, Black Sabbath, Bad Company dan sejenisnya. Masih jarang anak muda membahas Yes, ELP atau Genesis. Termasuk ketika suatu hari di tahun 1974 juga saya terima rekaman kaset terbaru dari album Deep Purple paling gres dengan dua pemain baru yakni David Coverdale dan Glenn Hughes. Biyuh …kala itu bahasan di Aktuil begitu gencar terkait dua orang manusia ini, dimana paling santer ya masalah Coverdale menggantikan Gillan. Di kalangan pencinta musik, Deep Purple adalah Gillan dan Blackmore sehingga kalau salah satunya pergi, maka bukan lagi Deep Purple namanya. Bagi saya yang suka musik Deep Purple karena ngerocknya, saya sih kagak ambil pusing blas. Bahkan ketika kaset rekaman mas Henky bertajuk Deep Purple “Burn” saya langsung jatuh hati,

Sailaway

Anehnya, lagu yang membuat saya suka banget sama album Burn kok malah sebuah lagu cemen bernada slow dengan tajuk Sailaway. Kok ya pas ya, hari ini pas saya gowes ke tempat kerja di speaker Divoom VoomBox saya kok mengalun “Sailaway” nya Deep Purple ini. What a coincidence! Aduh biyung …lagu ini bagi saya saat itu sungguh damai sekali karena temponya yang pelan namun riff gitarnya huwenak pol. Belum lagi gebukan drums Ian Paice dan kibor solo Jon Lord. wah …sempurna banget dah lagu ini. Jadi, kaset ini lebih sering posisi putarnya justru pada lagu Sailaway ini. Memang saya faham, tak ada penggemar DP yang menyukai lagu ini karena memang gak top blas. Tapi ya itu ….bagi saya musik sangat personal, jadi saya gak peduli orang lain suka atau tidak.

Setelah itu saya baru menyukai beberapa lagu lainnya seperti “You Fool No One” yang drums nya sungguh dahzyat dan akhirnya baru bener2 suka “Burn” yang memang secara musikal menurut saya top banget ini lagu, tak hanya ngerock tapi juga komposisinya maut! Tak lama kemudian di Madiun sontak dengan lagu mehek2 “Soldier of Fortune” yang memang syahdu dan bagi saya jadi nuansamatik karena kaset saya rekamannya bagus sekali sehingga dentingan gitar akustiknya begitu indah masuk di telinga saya. Memang lagunya njelehi pol. Namun karena ngetop saat itu, saya jadi terpaksa ikut demi pergaulan. Padahal dari album “Stormbringer” ini saya justru paling suka lagu Stormbringer dan Lady Double Dealer. Anehnya ….beberapa saat kemudian saya suka banget sama lagu “You Can Can’t Do It Right” bahkan hingga kini. Bagus sekali groove nya lagu ini. Memang gak top sih …namun nohok banget groove nya. Apalagi kocokan gitar dan gebukan drums nya …manteb jek!

Hiruk Pikuk Ritchie

Berita paling heboh adalah ketika Aktuil mengabarkan Ritchie Blackmore hengkang dari Deep Purple. Sontak segala macam opini bertebaran di majalah Aktuil tersebut. Ingat, saat itu belum ada mbah Google sehingga opini di Aktuil begitu besar pengaruhnya. Opini yang banyak muncul adalah pengakuan bahwa tanpa Ritchie maka DP akan terpuruk karena yang mendefinisikan musik DP itu Ritchie dan Gillan. Namun masalah Gillan sudah sedikit banyak dilupakan orang mengingat Burn dan Sormbrnger bukstinya sukses, terutama Burn. Kepergian Ritchie ini heboh banget kayaknya lebih penting daripada lengsernya Presiden saja karena memang setiap hidung kawula muda saat itu pemujaan terhadap Ritchie begitu tinggi. Banyak yang mutung gak mau lagi dengerin DP setelah Ritchie cabut.

Akhirnya muncullah “Come Taste The Band” dimana pertama kali DP menggunakan gitaris BUKAN Blackmore lagi namun gitaris yang pernah kontribusi di album Billy Cobham “Spectrum” bernama Tommy Bolin. Dari album Spectrum itulah Glenn Hughes menemukan talenta Tommy Bolin sehingga diajak jam session selama 4 jam dengan DP, cocok, dan kemudian direkrut sebagai pengganti Ritchie Blackmore. Sebagai wong Mediun tulen, saya dan anak muda Madiun, hanya plonga-plongo saja ndak tahu siapa itu Tommy Bolin. Saya hanya tahu via Aktuil saja. Mas Henky tak merekamkan kaset untuk saya dari album anyar ini sehingga saya beli sendiri, kalau gak salah rekaman BASR.

Jujur dikata, saya kok malah takjub dengan album Come Taste The Band ini. Kenapa? Musiknya beda dengan tipikal musik DP selama ini dan permainan gitarnya tipis dan unik, tak menonjol seperti Ritchie, Lagu yang membuat saya bener2 JLENG jatuh hati sama album ini justru yang juga ndak terkenal: “Getting Tighter”. kenapa? Kocokan gitarnya itu lho …..!!! Mauuuuuuuuuuuuuut … JRENG TEK JRENG TENG TENG JRENG “CEK E CEK CEK E CEK” (waduh! bikin semaput jek!). Memang saya sering terkesima lagu justru dari segmen sebentar seperti:

Ngggggggg….thuing (Roundabout nya Yes)

Cek e cek cek e cek …(kocokan gitar Bolin di Getting Tighter)

Blekhuthuk blekhuthuk JRENG …(Sound Chaser nya Yes)

Blekthuk blekuthuk ….(Toccata nya ELP)

Ha ha ha ha …seru ya …seneng lagu kok gara2 CEK E CEK …CEK E CEK ….ha ha ha ha … Wis yo ben! Sing penting aku seneng!

Ternyata dari Come Taste The Band saya justru terpikat dengan sosok Bolin dan mencoba membeli kaset2 dimana dia terlibat seperti Spectrum nya Billy Cobham, atau saat di di James Gang bahkan solo albumnya “Teaser” dan “Private Eyes”. memang musiknya rada funky, tapi saya suka main gitarnya tipis.

Gak Prog Blas

Lha memang saat itu saya belum bisa mendefinisikan musik rock standar dengan yang keriting sehingga sering campur aduk dalam menikmati musik, yang penting ada rock nya meski saya juga mendengarkan lagu disko seperti BT Express (lagunya “Do It” ngetop banget dulu) atau Atlantis dengan “Friends” nya yang asik banget itu. Namun harus saya akui meski GPB (gak prog blas) musik seperti Deep Purple, led Zeppelin, Black Sabbath itu turut mewarnai jiwa prog saya saat itu. Seringkali play list saya campur aduk antara DP, Yes, ELP dan Genesis yang penting ada rock nya.

Salah satu yang membuat tahun 1975 itu “sesuatu” banget ya karena Deep Purple manggung di Jakarta. Sayang, saya gak punya duit atau sponsor yang bisa membawa saya ke Jakarta. Namun saya baca berita hebohnya melalui Aktuil. Hebat banget dah Aktuil saat itu bisa membawa DP ke Jakarta. Apalagi DP memiliki roh baru karena 7 dari 9 lagu di Come Taste The Band itu kontribusi dari Tommy Bolin termasuk “Owed to G” yang keren nyambung dengan “This Time Around”. saking sukanya saya dengan album Come Taste The Band, saya kasih empat bintang lho album ini di review saya. Salut dah buat Bolin!

Kaset saya Come Taste The Band yang rekaman BASR itu ketika kemudian saya masuk SMA termasuk kaset paling laris dipinjam teman2 saya bahkan akhirnya itu kaset raib gak tahu kemana. Hampir semua lagunya saya suka termasuk Drifter, I Need Love, You Keep on Moving. Bahkan ketika saya gowes Jakarta Bandung (2010) tema yang saya pakai adalah terinspirasi lagu DP ini “Gowes Keep on Moving” dan lagu tersebut termasuk salah satu yang saya pasang di playlist dua-jaman (setiap dua jam saya paksa istirahat, makanya playlistnya masing2 diua jam).

JRENG!

Pagi ini dapet kiriman berita dari mas Koni terkait konser Deep Purple di Jakarta tahun 1975 lalu:
image

 

 

The 40-Year ProgGraphy (7 of 40)

November 15, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I : Kaset Kompilasi Made-in Mas Henky

Ini masih berkisar dekade pertama yakni antara 1974 sampai 1984. Yang saya mau ceritakan adalah saat mas Henky kuliah di UGM jurusan Ekonomi Perusahaan di tahun 1973 sampai kalau gak salah 1978 dimana saat itu rumah madiun terasa sepi karena hanya saya dan ibu saja di rumah besar tersebut. Padahal saat mas Henky sekolah SMA negeri 1 Madiun, hampir tiap malam rumah kami dipakai sebagai pos begadang temen2 nya mas Henky. mereka bener2 begadang karena sampe pagi dan bahkan ada sebagian yang tidur di kamar depan yang memang kamar mas Henky. Senang juga ketika mereka kumpul kadang terdengar suara musik rock diputar dan saya merasa nikmat bisa mendenarkan samar-samar dari kamar tengah dimana saya menemani ibu tidur. Biyuh …itu kamar berisiknya bukan main kalau sudah kumpul karena bisa puluhan orang yang datang. Di sebalah kanan rumah kami adalah kantor polisi, jadi ya aman-aman saja rasanya. Kadang mereka main gitar membawakan lagu-lagu yang saya kadang gak paham …dan akhirnya saya tahu bahwa yang dimainkan adalah “Mood For a Day” atau “The Clap” nya Yes. Atau kadang “Stairway To Heaven”. Namun setelah mas Henky kuliah pun kalau liburan, tempat kami tetep buat ngepos temen2 mas Henky itu. Yang paling jago main gitar namanya mas Kandar (fotonya pernah saya posting di blog ini).

Yang jadi topik sekarang adalah saat mas Henky kuliah tersebut. Ini paling menarik karena saat itu setiap liburan mas Henky selalu membawa satu atu dua kaset yeng merupakan kompilasi lagu-lagu yang direkam dari PH nya radio Geronimo. Banyak sekali koleksi kaset kompilasi saya saat itu dan sungguh selalu saja lagu-lagunya menarik dan menjadi perkenalan saya pada musik-musik atau band tertentu. Pertama kali saya dengar ‘Stairway To Heaven’ ya dari kaset kompilasi dan bahkan saya tak tahu itu dari album LZ ke berapa. Kalau ditanya ada berapa kaset kompilasi, jelas saya lupa. Gak semuanya kaset kompilasi sih, kadang album tertentu dari sebuah band. Namun akan saya uraikan beberapa lagu atau band yang saya ingat sekali.

  1. “I am A Man” – Chicago Transit Authority. Ini merupakan kali pertama saya kenal ada band namanya Chicago karena memang lagu ini keren banget. Satu hal yang membuat saya kepincut dengan lagu ini ya karena di tengah lagu atau interlude nya ada “kothekan” bebunyian perkusi dan drums solo yang keren banget. Kebetulan di kompilasi tersebut lagu ini merupakan yang pertama, jadi ya bolak balik saya setel karena memang keren. sampe sekarang saya masih suka lagu ini.
  2. “Smiling Faces Sometime” – Rare Earth. Lagu ini lucu pol karena ada narasi dan ketawa ketiwi yang unik sekali di bagian awalnya. Musiknya jan claro pol ….Nikmat sekali. Ini saya sambil pasang lagu ini via youtube. Lucu dah lagunya ….bikin ketawa sendiri kalau denger.
  3. “Hold Your Head Up” – Argent. Wah ini juga lagu nuansamatik pol. Sebenarnya ada beberapa lagunya yang enak dan direkam mas Henky. tapi saya gak ingat judulnya.
  4. “Nutbush City Limits” – Ike & Tina Turner. Ini lagu rock kecimpringan yang sebenernya biasa saja. namun karena nama Ike & Tina Turner sering disebut di Aktuil, maka saya ikut2an seneng juga … ha ha ha ha ..padahal jauh dari prog pol …
  5. “Woman” – Barrabas. Sebenernya saya gak faham band ini namun sering banget mas Henky merekam lagunya; saya hanya ikut2-an seneng aja, buat godeg2 ajah …
  6. “Live 73″ – Uriah Heep. Whooooaaaaa…ini kaset kesayangan terutama di lagu Gypsy dimana panjang banget dan ada solo drums dan solo kibor nan keren pol!!! Uwediyan kaset ini dulu tiap hari saya setel kuwenceng …terutama dibagia awal saat nyetem gitar dan Byron bilang “Uriah Heep …” JRENG! thak dung dung JRENG ….”Sunrise ….” whoooaaaa…menhjunjam kalbu tuwenan!!! Uwediyaaaaaannn!!!
  7. “Journey to The Center of The Earth” – Rick Wakeman. kalau ini jelas prog dan saya juga awalnya gak tahu bahwa ini adalah Wakeman karena kasetnya telanjang tanpa bungkus dan dicorekin bendera Inggris pake spidol Artline 70 …wakakakakak … saya njumbul terkesima dengan kaset ini karena kok lucu banyak ngomong selain nyanyi dan musik nguing nguing ….biyuh biyuh ….musik kok ngguwajak tenan! Saya gak nyadar ini musik siapa yang jelas tiap hari juga saya setel karena aneh dan gak lurus seperti musik rock biasanya. Gagah sekali musiknya. saya gak peduli saat itu ini musiknya siapa …pokoke paling keren ya pembukaannya yang orkestra penuh. Juga ketika narator bilang “They call the street …THE HANSBACH!!!” …JRENG!!! Biyuh biyuh …ngguwajak temenan musike!!! Bayangin …saat itu saya bocah clondo ingusan yang masih SMP klas 3 tapi disuguhi musik berkualitas prima dari wakeman. Apa gak paling nggantheng saya saat itu se Madiun? Lha mana ada cah mediun menikmati Rick Wakeman kala itu??!!! Pow gak visioner to saya? Ha ha ha ha ha ha …. Saya tuh baru ngeh ini Wakeman ketika kakak saya lainnya, mas Jokky, yang tinggal di Jakarta berlibur ke Madiun bawa kaset Prambors Hits dan ada tulisan: Journey – Rick Wakeman. Wooooooooo …..!!! Gitu to? pantesan musike nggajak tenan!
  8. “Fragile” – Yes dan “Brain salad Surgery” – ELP. Ini sudah saya ceritakan di 5 of 40.
  9. Kompilasi Shirley Basey dan Roberta Flack (lupa lagunya apa aja …tapi termsuk Never never Never … Going Going Gone ) …hahahahaha …pop pol!
  10. Osibisa yang ada lagu terlarang TNT itu …saya juga direkamin satu album penuh … “Allahu Akbar ..Bismillah …ala ala …”. tapi lagu ini dilarang karena melawan syahadtain. Astaghfirullah …saat itu saya ndak tahu dan hafal liriknya karena memang lagunya enak banget.
  11. “Yessongs” – Yes. Ini kaset keren dan direkam di pita TDK; kalau gak salah dua kaset direkamin mas Henky. mantab jaya!
  12. “Man of Miracles” – Styx. Keren nih kaset, direkam di pita Maxell dan saya langsung suka “Evil Eyes”, “A Song For Suzanne”, “Christopher Mr Christopher” …. Wah nuansamatik banget kaset ini. Untung sudah dapet versi Billboard nya dari mas Andria.

Sebenarnya masih banyak lagi kaset kompilasi tanpa judul, namun saya sudah lupa. Yang jelas semuanya merupakan perkenalan saya dengan beberapa kelompok musik. menikmati musik kompilasi itu enaknya banyak variasi dan sering gak tahu ini lagunya siapa. Hari-hari saya semakin berbunga dengan adanya kaset-kaset made-in mas Henky ini. Oh ya …selain itu mas Henky juga membawa kaset2 rekaman yang dijual di Yogyakarta saat itu:

  1. “No Earthly Connection” rekaman Pop Discotic. Opo tumon?
  2. “Flowers” Rolling Stones rekaman Aquarius hitam putih
  3. “Teaser” Tommy Bolin rekaman Aquarius hitam putih
  4. “Wish You Were Here” Pink Floyd rekaman Aquarius hitam putih
  5. “Black and Blue” Rolling Stones rekaman Perina Aquarius kuning. Mas henky seneng banget dengan lagu “Memory Motel” sedangkan saya “Fool To Cry”
  6. “Nursery Cryme” Genesis (side B nya Kayak II) rekaman Pop Discotic kuno
  7. “Six Wives of Henry VIII” Rick wakeman rekaman Aquarius hitam putih
  8. “Captain Fantastic and the Brown Dirt Cowboy” Elton John rekaman Aquarius hitam putih (ini album terbaik Elton John, menurut saya)
  9. ….lupa yang lainnya …

memang jaman normal itu indah sekali …. JRENG!

Ojok ngguyu yo ...ini foto jadul saat saya hari ketiga bidhuren (makany tembem): Saya, Ibu, mas Henky. Di belakang ada TV item putih merek Sierra ...ha ha ha ha ...tooobz!!!

Ojok ngguyu yo …ini foto jadul saat saya hari ketiga bidhuren alias alergi karena makan udang air tawar (makanya tembem): Saya, Ibu, mas Henky. Di belakang ada TV item putih merek Sierra …ha ha ha ha …tooobz!!! Ini sekitar tahun 1976 atau 1977.

 

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 177 other followers