Archive for the ‘Album Review’ Category

Quartermass by Yess

June 30, 2015

Erieck Saputra

11698997_897150223677497_4048456971798372037_o
Semalam sambil menunggu sahur iseng FBan dan ga sengaja lihat teman seler yang upload kaset Quartermass rekaman yess, awalnya saya biasa aja ga heran, tapi beberapa saat kemudian saya mulai bertanya-tanya dalam hati “emang ada ya quartermass rekaman yess nya ?”

akhirnya saya inbox saja dan langsung saya tanya apa benar itu quartermasnya bukan bootleg (bajakan), tapi saya malah ditanya balik hhehhee, karena sama-sama belum pernah lihat kaset itu selama ini

untuk itu saya ingin bertanya kepada para senior di blog ini, apakah benar kaset quartermass pernah di rilis oleh label rekaman Yess atau kaset ini memang request khusus sehingga dibuatkanya seperti ini

demikian terima kasih

regards,
Erieck Saputra

Bad Company “Live for The Music”

March 24, 2015

Hippienov

Halo lagi Mas G dan rekan-rekan, the prodigal son is back again, hehehe.
Kali ini aku mau sharing kompilasi sederhana yang aku sadur dari cd mp3 koleksi Bad Company pemberian Mas Yuddi dan kemudian aku jadikan 1 cd audio. Kompilasi ini sudah beberapa waktu lalu aku buat namun baru sekarang aku posting di blog. Semoga berkenan buat rekan-rekan.
bad co.
bad co.2
Live For The Music:  BAD COMPANY (1974-1982):
1. Can’t Get Enough (1974 Bad Company).
2. Rock Steady (1974 Bad Company).
3. Ready For Love (1974 Bad Company).
4. Seagull (1974 Bad Company).
5. The Way I Choose (1974 Bad Company).
6. Good Lovin’ Gone Bad (1975 Straight Shooter).
7. Feel Like Makin’ Love (1975 Straight Shooter).
8. Anna (1975 Straight Shooter).
9. Love Me Somebody (1976 Run With The Pack).
10. Live For The Music (1976 Run With The Pack).
11. Sweet Little Sister (1976 Run With The Pack).
12. Morning Sun (1977 Burnin’ Sky).
13. Peace Of Mind (1977 Burnin’ Sky).
14. Too Bad (1977 Burnin’ Sky).
15. Man Needs Woman (1977 Burnin’ Sky).
16. Oh, Atlanta (1979 Desolation Angels).
17. She Brings Me Love (1979 Desolation Angels).
18. Untie The Knot (1982 Rough Diamonds).
19. Cross Country Boy (1982 Rough Diamonds).
20. Painted Face (1982 Rough Diamonds).
Jujur aku tidak begitu kenal dengan lagu-lagu Bad Company, referensi kaset/cd nya pun aku selama ini gak punya, hanya beberapa lagu saja yang aku kenal seperti “love me somebody”, “can’t get enough”, “the way I choose”, “rock steady” dan “feel like makin’ love”.
Saat mau membuat kompilasi ini aku harus mendengarkan singkat album per album supaya bisa mementukan lagu yang akan dipilih. Kebetulan Mas Yuddi mengkopikan album Bad Company dari tahun 1974 sampai 1982 dan supaya adil aku comot lagu dari semua album yang aku punya mp3 nya. Jadilah kompilasi ini dengan 20 lagu dari mulai album Bad Company sampai Rough Diamonds.
Terimakasih untuk Mas Yuddi yang sudah mengkopikan koleksi mp3 Bad Company nya, matursuwun juga untuk Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan.
Untuk rekan-rekan yang sudi mampir mambaca, terima kasih semuanya.
a boy who dreams music,
hippienov

 

Guru Guru “UFO”

March 24, 2015

Hippienov

 

Halo Mas G dan rekan-rekan semua, apa kabar? Cukup lama aku gak nimbrung di blog, tapi hari ini the prodical son is back…
Selama menghilang aku berhasil mendapatkan beberapa album rock klasik hasil buruan ke seorang teman dan salah satunya album “UFO” dari Guru Guru. Tadinya aku kira ini album UFO tapi rasanya UFO gak punya album yang judulnya “guru guru”, lah dalah ternyata terbalik. Setelah nyontek di Google aku baru tahu Guru Guru adalah nama band Krautrock dari Jerman yang terbentuk tahun 1968 dan “ufo” adalah debut album mereka di tahun 1970.
guru guru
guru guru-back
Wah asik nih, keren pikirku… Temanku sempat “memperingatkan” kalo musik Guru Guru di album ini agak beda, jangan kaget pas denger nanti…begitu kata dia, dan ternyata benar.
Buat seorang yang selama ini ngaku bisa menikmati musik Gentle Giant yang kriting tralala atau Sonic Youth yang juga aneh itu, album Guru Guru ini sangat sulit aku nikmati, bahkan setelah beberapa kali didengarkan masih terasa aneh, janggal di telinga ini dan aku masih tetap gak ngerti musiknya.
Di Wikipedia musik Guru Guru dikatakan terpengaruh musik psikedelik seperti Pink Floyd (awal), Jimi Hendrix, Arthur Brown, Frank Zappa, bahkan Rolling Stones, dan mereka memainkan elemen musik yang disebut sebagai “free jazz”. Namun buatku Guru Guru lebih pas disebut satu konsep dengan Popol Vuh, bermain musik instrumental rock dengan gitar sebagai pemeran utama ditambah bass dan drums tanpa kibor. Musik mereka seperti alunan distorsi gitar yang panjang tanpa permainan solo gitar melodi, beda dengan Jimi Hendrix yang rajin bersolo gitar.
Meski aneh dan gak enak menurutku namun tetap ini sebuah koleksi yang menurutku antik dan layak disimpan walau aku gak jamin akan sering-sering aku spin, hehehe… Pengalaman selama ini aku cuma kuat bertahan setengah album terus aku ganti sama cd yang lain, pusing dengernya. Sangat lebih pusing dibanding mendengarkan Napalm Death atau Terrorizer, hehehe.
Buat rekan-rekan yang penasaran mungkin bisa coba di YouTube, atau kalo ada rekan-rekan yang pernah dengar Guru Guru dan menyukai musiknya, mungkin bisa menambahkan ulasanku ini.
Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan.
Untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca tulisan ini, terima kasih semuanya.
a boy who dreams music,
hippienov

 

Music For The Uncommon Man: Bacamarte “Depois Do Fim”

February 12, 2015

Hippienov

image

image

Alo Mas G dan rekan-rekan semua, senang sekali rasanya blog kita tercinta sudah kembali “on air” setelah sempat dibekukan sepihak oleh WordPress beberapa waktu lalu. Sekarang bisa sharing lagi sekaligus bersilaturahim dengan rekan-rekan semua.

Aku sama sekali gak kenal dengan band ini sebelumnya sampai suatu hari temanku yang gila musik (kolektor dan penjual) menyebut nama band asal Brazil ini sekaligus menawarkan cd kopiannya. Awalnya aku gak begitu tertarik namun rasa ingin tahu mengalahkan segalanya dan akupun mengiyakan untuk mengambil kopian cd  yang ditawarkan.

Dari hasil contekanku lewat Google/ Wikipedia, BACAMARTE yang asal Brazil adalah sebuah band progressive rock, symphonic prog-rock tepatnya yang hanya merilis 2 album dalam rentang waktu cukup panjang. Album pertama mereka (Depois do Fim) dirilis 1983 dan album kedua baru rilis pada akhir dekade 90an.

Depois Do Fim sebenarnya direkam tahun 1978 namun kemudian tidak jadi dirilis dengan pertimbangan pada era akhir 70an dunia musik sedang dilanda demam disco, punk serta new wave sehingga Bacamarte memilih untuk menunggu waktu yang tepat untuk merilisnya. Akhirnya tahun 1983 album ini dirilis juga.

Album ini mainly instrumental namun tetap ada beberapa lagu yang ada vokalnya dan asiknya mereka punya dua vokalis, laki dan perempuan.
Suara synthesizer pada kibor selalu hadir di setiap lagu dan semua lagu di album ini menurutku bisa dibilang enerjik/ bertempo mid-fast. Aku tidak mendengar (atau jangan-jangan belum mendengar, hehehe) lagu yang bertempo lambat. Musik Bacamarte sepertinya sejalur dengan Yes dan Genesis, hal ini makin kuat dengan hadirnya flute di lagu-lagu mereka. Yang lebih asik, di album ini aku masih bisa dengar pengaruh musik Latin dengan alunan/petikan classic guitar.

Untuk sebuah band yang belum pernah aku kenal sebelumnya dan album yang gak pernah aku dengar, pada awalnya aku gak terlalu berharap banyak. Tadinya aku menduga musik mereka akan overtly influenced by Latin Music jadi aku akan disuguhi musik seperti Gypsy Kings. Namun semua dugaanku berubah jadi decak kagum begitu aku spin cd ini untuk pertama kalinya. Satu kekurangannya mungkin hanya pada output/ hasil rekamannya yang tidak seciamik album-album prog band prog dari Eropa/ Amerika, namun overall this album is highly recommended karena musiknya juga karena terbilang langka.

Matursuwun Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan serta untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca. Mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam penulisan.

a boy who dreams music,
hippienov

Junior Wells “Come On In This House” – Review

January 6, 2015

Asep Cash Ball

unnamed-1

Jujur ini album pertama kuping ini serius dengerin Blues. Sebelumnya ya cuman musik kaya Burgerkill, Seringai sama Homicide. Yang gitu-gitulah. Gak ada yang laen. Soalnya yang ngerti ya cuman itu.

Dari dulu juga gak pernah koleksi musik blues. Jadi jangan bilang ngerti blues. Gak ada tuh rasa pengen tau musik blues itu kaya apa. Beda sama musik hip hop atau metal rasanya pengen tau lebih. Makanya banyakan koleksi Metal sama Hip Hop. Dulu juga sempet kok coba-coba dengerin sebentar album B.B. King sama Eric Clapton. Gitaris negro yang buat album bareng gitaris bule. Isinya tuh maenin gitar pake teknik tinggi sama jago juga improvisasinya. Dari sana kepikiran kalo semua musik Blues pasti gitu.

Musik berat. Ah maleslah dengerinnya. Gak cocok di dengerin tiap jam. Musik yang didenger muter di situ-situ aja, band-band yang di denger ngehasilin suara yang sama. Hip hop lagi, metal lagi. Bosen juga ya. Bandnya sih beda-beda, rapper-rappernya juga beda-beda, tapi kok gak ngasih yang rasa yang beda-beda ya? Ngedengerin musik jadi ngebosenin. Ah ngapain dengerin musik. Bosen. Pas waktunya lagi bosen-bosennya dengerin musik metal sama hip hop itulah. Rasanya perlu ngedengerin yang laen. Dengerinlah CD keluaran tahun 1996 “Come On In This House”. Di album ini almarhum Junior Wells ngeluarin semua jiwanya buat niupin melodi manis yang keluar dari gesekan rongga harmonikanya. Suaranya enak di denger.

Suara harmonika Junior Wells emang gak kaya suara gitar B.B. King atau Eric Clapton. Namanya juga suara harmonika pasti bedalah sama gitar. Tapi maksudnya tuh ini gak terlalu kedengeran suara gitar gitulah. Jauh dari yang di bayangin sebelumnya. Disni malah lebih kedengeran harmonikanya dibanding gitarnya. Tapi ada bagian-bagian jatah melodi gitar juga yang di bantu sama Sonny Landreth di lagu “give me one reason” wah susah ke uliknya past waktu pertama kali denger. Itu tahun 2007 kalo gak salah. Mulei sok berani-beraninya nyoba ngulik gitarnya. Sial. Susah ya. Sampe sekarang gak pernah bisa nguliknya.

Okey kalo gitu coba harmonika deh. Eh hasilnya sama aja gak bisa. Bener-bener emang gak cocok jadi pemaen musik deh. Mungkin cocoknya jadi pendengar ajalah. Ya udah fokus aja dengerin album ini dari lagu ke lagu laen. Moodnya kerasa manis. Semua lagu gampang buat sukanya. Album ini kerasa ngepoplah. Asik. Gak pernah bosen di dengerin. Ampir tiap bulanlah pasti di stel. Kira-kira udah 7 tahunan ini rajin di dengerin. Gak pernah bosen juga nyanyinya. Dengerin aja lagu “Mystery Train” https://www.youtube.com/watch?v=DJJenh3ZZE4 sama “Come On In This House” * https://www.youtube.com/watch?v=82gKV8TV5EI. Ini jadi pengalaman bagus buat nikmatin blues yang dulu kedengeran musik berat jadi kedengeran pop.

*****

Sekarang baru ngerti kenapa gak suka Blues dulu. Mungkin waktunya aja gak pas, pas lagi suka-sukanya Metal sama Hip Hop. Yang musiknya kenceng drumnya geber kalo gak musiknya pelan nge-rapp-nya geber. Mana bisa di paksa buat digantin sama blues. Tapi ini juga yang ngebuat musik blues itu enak di denger. Rasa yang di kasih dari musik blues itu gak di kasih musik Metal sama Hip Hop. Gak ada rasa bukan berati jelek. Dari musik beda ini gak jadi susah juga ya buat menuhin lapar kuping yang biasa ngedengerin lirik setan neraka sama rima gangster ini. Lirik ini penting, gak keren ya gak perlu di denger. Kalo keren baru deh di denger.

Gak mungkin juga di paksain di isi sama curhatan kuli negro. Kuping pasti nolak. Sama kaya sejarah musik jazz yang gak mau maenin musik kulit putih waktu itu. Musik klasik yang buat negro kedengeran kaya masih dalem penjajahan hidup mereka. Kerja di paksa, eh maenin musik juga kepaksa. Jadi mereka maen musik seenak mereka, ngejiawin musik itu pake gaya sendiri. Berkembanglah musik jazz & blues. Ini kata radio yang di dengerin dulu. Gak tau bener gak tau enggak.

Radio muter blues yang rumit. Susah nikmatinya. Gak tau juga enaknya dimana. Padahal musik blues ada juga yang enak-enak loh. Jadi gak ada alesan juga buat gak ngedengerinnya. Mau
​ngedengerin gitar kek, mau ngedengerin harmonika. Sama aja. Terus masalah lirik jangan di bahas lagi lah. Gak penting. Gak ngerti juga.

Kata radio juga di sini Almarhum ngelawak. Iya ngelawak. Kok bukan curhat ya? Mungkin almarhum bukan kuli negro Amerika kali. Atau mungkin mantan? Gak tau juga ya. Daripada ngarang terus sok pinter kaya anak muda sok nge-blues. Padahal baru denger satu album blues ini doang. Yah udah gak usah di bahas aja ya? kalo salah tolong di benerin. Kalo mau nambahin juga boleh. Bebas ajalah.

Nah kalo jadi banyak yang gak di bahas maafin ya? Maklumlah kan gak suka blues, baru belajar suka sih. Jadi ya segini aja paling yang bisa di bahas. Okeh lajut lagi yang terakhir. Ternyata oh ternyata baru sadar kalo Radio ngasih banyak penjelasan yang ngebuka kalo blues tuh bukan musik curhat kuli doang. Perkembanganya malah jadi musik pop. Alias bisa enak di dengerlah. Gak sekedar musik yang gak jelas juntrungannya. Bukan ngerendahin loh. Tapi emang kedengerannya emang gitu. Salahin kuping ajalah. Dari hasil ngedengerin album ini juga, kuping jadi tau kapan waktu yang pas buat ngedengerinnya. Pemaen Blues mau negro mau bule sama aja ya. Yang penting mah suaranya enak di denger ajalah. Selera pribadi lagi ini mah.

Blues juga dibagi dua. Blues gitar sama blues harmonika. Ini gak ada di Radio loh, cuman pengen ngasih katagori aja biar kedengeran sok nge-blues-lah. Sekalian biar bisa di percaya. Daripada gak percaya apa-apa terus sok tau lagi? Repotkan. Dah percaya ajalah. Percaya deh, ngedengerin musik blues itu perlu jam yang pas. Dimana tempatnya si bebas aja, asal jago milih-milihnya. Lagi-lagi selera pribadi ya. Beda orang beda cerita. Beda juga selera suaranya. Kalo mau dengerin suara gitarnya ya dengerin B.B. King sama Eric Clapton. Kalo mau ngedengerin suara harmonika ya ngedengerinnya Junior Wells. Ayo mau dengerin yang mana nih?

Far Corporation “Division One” – Live and Studio

December 17, 2014

Hendrik Worotikan

Dibelakang cover kaset Far Corporation Live ini tertera bahwa lagu-lagu yang ada adalah merupakan rekaman live mereka di Berlin, Germany, pada 6 Desember 1985.
Ini berarti sudah berlangsung selama lebih 29 tahun yang lalu.

fc

sth

Adalah Frank Farian, seorang produser sekaligus pencipta lagu yang punya ide untuk membentuk band pop rock ini.
Sebelumnya nama Farian sering dikaitkan dengan kelompok Boney M yang populer di era 70-an dan Milli Vanilli diakhir 80-an.

Pada live album series yang dirilis Team records, FC membawakan keseluruhan lagu mereka yang ada di album pertama Division One, mulai You Are The Woman, Johny Don’t Go The Distance, One of Your Lovers, Live Inside Your Dreams, Fire and Water hingga Stairway To Heaven.

Yuuup, Stairway To Heaven lagu kondang milik Led Zeppelin itu dicover sama FC yang kemudian juga menjadi single pertama mereka. Dan tidak sia-sia karena berkat lagu tersebut nama FC mendadak sontak terkenal di jagat raya blantika musik dunia.
Setelah single pertama sukses, mereka pun segera merilis Fire And Water, cover dari grup Free.
Nasib baik rupanya masih berpihak pada Bobby Kimball dan kawan kawan ini, kegandrungan untuk mengcover lagu dari grup lain ternyata memberikan limpahan rejeki bagi FC.

Sederet musisi berada dibalik album live di Berlin ini. Dibarisan vocal ada Bobby Kimball yang alunan suaranya sering kita dengar lewat grup Toto. Ada juga Robin Mc Auley, David Barreto (vocals & guitar), Henry Gorman (vocals & guitar), Curt Cress mantan drummer Saga, Dieter Petereit (bass), Bernd Berwanger (lead guitar), Mel Collins (sax) serta dibarisan paduan suara ada The Jackson Singers.
Sementara di studio version (rekaman YESS with prog number 604) selain nama nama diatas, tertera juga gitaris Steve Lukather (ex Toto), Mats Bjorklund dan Johan Daansen.
Dibarisan keyboards yang turut pula memberikan warna musik bagi FC ada David Paich (ex Toto),Pit Low dan Harry Baierl dan drummer Simon Phillips.

Aacchh…cukup dulu nulisnya. Sekarang saatnya dengerin Stairway To Heaven versi Far Corporation yang ternyata nggak kalah keren dengan versi originalnya.

Cast “Arsis” (2014) – Review

December 15, 2014

Gatot Widayanto

Jiyangkrik! Mana tahan saya tidak mengulas album ciyamik super duper dowahzyat ini? Musiknya kuweren abis meski selama 30 menit pertama hanya main instrumentalia – tanpa vokal. Permainan gitarnya sungguh edhan, gak sekedar mencontek gaya main Steve Hackett atau Steve Howe, tapi justru mainin prog dengan solo gitar yang ngerock abis dibalut komposisi rumit berbasis musik klasik. Lha mosok bikin lagu pembuka kok berdurasi 30 menit meski dipecah ke dalam 7 pergerakan (movement). Namun semuanya berjalan mulus sampe gak terasa 30 menitnya abis dan pengen diulang lagi. Guwendhenk pancen band dari Mexico ini. Mestinya mas Dadi bisa banyak komentar tentang album keren ini.

Akhirnya saya tulis ulasan cukup panjang di ProgArchives dan ternyata merupakan reviewer pertama. Selama 8 bulan album ini telah dirilis, belum ada satupun reviewer yang menorehkan tulisannya. Sayang sekali ….padahal kualitas musiknya keren abis. Gak percuma saya menorehkan empat bintang buat album keren ini.

Studio Album, released in 2014

cover_2454221352014_r

Songs / Tracks Listing
1. La Iliada (30:13)
a) Atrida Agamenon – 4.29
b) Helena en la Muralla – 2.25
c) Diomedes el Tidida – 3.08
d) Andromaca – 6.42
e) Batalla Interrumpida – 5.10
f) Embajada a Aquiles – 3.03
h) En Donde Estabas?… – 5.16
2. The Old Travel Book (9:10)
3. El Puente (18:32)
a) El Puente – 6.22
b) Luz Al Final Del Túnel – 4.02
c) Valle de Los Sueños – 8.08

Total Time 57:55

Line-up / Musicians

– Alfonso Vidales / Keyboards
– Claudio Cordero / Guitars
– Antonio Bringas / Drums
– Flavio Miranda / Bass
– Pepe Torres / Clarinet, Saxophone, Flute
With:
– Bobby Vidales / Vocals
– Michal Jelonek / Violin
– Lupita Acuña / Vocals

Releases information
April 30, 2014

Review saya di PA

 

 

Happy 41st Anniversary Tales From Topographic Oceans

December 13, 2014

Herwinto

Photo0055

Genap sudah 41 tahun album spektakuler tapi juga kontroversial ini. Tales From Topographic Oceans dirilis 14 Desember 1973 dengan hanya berisi 4 buah lagu yang diilhami dari kitab Autobiography of a Yogi karangan Paramahansa Yogananda.  Album ini memiliki sejarah penting dalam hidup saya karena merupakan gerbang pembuka bagi saya mengenal progrock. Tepatnya tahun 2001 saya pertama kali mendengar lagu The Revealing Science of God (Dance of the Dawn) dan langsung jatuh terkapar saking indahnya…..4 lagu dengan durasi 81.15 menit cukup kenyang juga…..

 

Stomu Yamashta’s GO TOO

December 12, 2014

Hendrik Worotikan

image

image

Barangkali tak banyak yang tau, termasuk saya tentunya, tentang keberadaan sebuah grup yang bernama Go.

Tapi ceritanya akan menjadi lain setelah kita dapati sejumlah nama musisi yang terlibat dibalik grup band ini.
Ada Steve Winwood, Michael Schrieve, Klaus Schulze, Al Di Meola dan Stomu Yamashta.
Ya…dari merekalah yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Go di tahun 1976.
Hanya saja yang patut disayangkan di album ketiga nya ini yang bertajuk Go Too (1977), kita tak menemukan lagi nama Steve Winwood (ex The Spencer Davis-Traffic-Blind Faith).

Album yang memuat 8 lagu : Prelude, Seen You Before, Madness, Mysteries of Love, Wheels of Fortune, Beauty, You And Me dan Ecloptic, memberikan keanekaragaman musik. Ada jazz, funk, fusion dan electronic yang dibalut menjadi satu harmoni yang sedap.

Hal lain yang menarik untuk saya tulis adalah dengan tampilnya Jess Roden dan si empunya suara sopran, Linda Lewis pada barisan penyanyi. Kenapa ?
Karena jauh sebelum saya memiliki album ini, rupanya saya sudah mendengar terlebih dahulu suara mereka berdua lewat lagu romantis berjudul ‘Mysteries of Love’ di kaset Heavy Slow 8 rekaman Yess (progressive number 226). Hanya saja di kaset Yess tsb tidak dicantumkan nama grup Go.
Dan saya baru mengetahui belakangan setelah memiliki vinyl nya, bahwa ‘Mysteries of Love’ adalah buah karya emas dari Stomu Yamashta dan penulis lirik, Michael Quatermain.

Stomu Yamashta GO Too :
Al Di Meola, Brother James, Doni Harvey, Klaus Schulze, Paul Jackson, Peter Robinson, Michael Shrieve, Jess Roden, Linda Lewis.

Rare Earth “In Concert”

December 9, 2014

Hendrik Worotikan

rareearth

re

Keinginan saya untuk mendengarkan kembali grup musik Rare Earth akhirnya terpenuhi juga. Berawal dari postingannya Mas Eddy beberapa hari lalu yang sukses mengakuisisi salah satu kaset hitam putih ‘Rare Earth In Concert’, dan tiba tiba saja rasa kangen saya dengan band RE pun menyeruak muncul.
Terlebih lagi album RE yang saya miliki dalam format vinyl dengan desain cover yang menarik. Cover albumnya dikemas menyerupai bentuk tas.
Terdapat 2 keping plat di’tas’ ini, dengan memuat 8 lagu yang kesemuanya direkam secara live saat concert.
Rekaman versi live ini dilakukan di tempat yang berbeda-beda. Seperti Jacksonville, Florida (Civic Coliseum)- Miami, Florida (Marine Stadium)- IT Haca, New York (Cornell University) dan ada juga yang hanya didalam studio Motown.

Band Rare Earth di era 70-an lumayan sukses mendapat tempat di hati penggemar musik. Tidak saja di Detroit, Amerika, tempat dimana band ini dilahirkan, melainkan juga dibelahan benua lainnya.
Ini dibuktikan dengan lagu mereka yang mendapat simpati dari para pengagumnya, sebut saja ‘I Just Want To Celebrate’, ‘Get Ready’, ‘(I Know) I’m loosing You’, dll.
Oleh karenanya tidak heran kalo di rekaman versi live concert ini lagu-lagu tersebut menjadi wajib untuk diikutsertakan.

Kepingan plat pertama pada side 1 diawali dengan kalimat “Do You Want To Celebrate…”? Sapaan dari sang vokalis yang menyapa penggemar mereka yang kemudian disambut dengan penuh antusias. Lantas berkumandanglah ‘I Just Want To Celebrate'(4:50) yang berirama funky.

Selanjutnya adalah ‘Hey, Big Brother’ (7:24. Lagu dengan beat yang menghentak ini juga menjadi salah satu single dari RE yang pernah menjadi hit. Lagu ini rasanya cocok untuk memberi dorongan semangat kala beraktifitas.

Sebagai lagu terakhir di side 1, RE menampilkan ‘Born To Wander’ (4:24). Ada yang menjadi perhatian saya tatkala mendengar komposisi ini. Dimana pada interlude suara flute terdengar dengan begitu indahnya. Hal inilah yang terasa lain dengan 2 lagu sebelumnya.

Dengan durasi lagu yang sangat panjang, yakni 23 menit 38 detik, mau nggak mau ‘Get Ready’ membabat habis sisi plat pada side 2 ini.
Pada intro lagunya kita dibuat seakan-akan terbang melayang dengan tiupan saxophone yang asyik. Barulah kemudian tempo lagu dipercepat dengan hentakan rock n’ roll yang kental. Setelahnya petikan gitar bass beradu dengan gebukan drum yang seru,yang kemudian disusul dengan bunyi suara hammond yang merdu. Wah…edan pokoknya. Semua alat musik tampil seakan sedang beradu untuk memikat penonton, masing-masing pemain ingin menunjukan kebolehan mereka dalam bermain musik. Dan tentu saja ini menjadi sebuah jam session yang menarik.
Boleh dibilang komposisi musiknya 90% dan sisa 10% nya cuma diisi suara vokalisnya.

Berikutnya adalah ‘What’d I Say’ (6:31) lagu yang berada di plat 2 di side 3.
Kocokan gitar yang terasa garang memberikan nuansa musik yang gegap gempita. Hingar bingar dalam balutan rock dan funky.

Dari hingar bingarnya ‘What’d I Say’, kali ini RE sedikit menurunkan tensi musiknya. Melalui komposisi instrumentalia ‘Thoughts’ (10:53) musik yang dimainkan pun serasa mengajak kita untuk sedikit bergoyang. Unsur musik rock, jazz, funk menyeruak menjadi satu dalam balutan yang asyik.
Apalagi di part akhir mereka menyelipkan juga sentuhan musik blues yang sedap.

Yeah, akhirnya sampai juga pada side 4 dari plat ‘Rare Earth In Concert’ ini.
Inilah salah satu lagu andalan dari RE yakni ‘(I Know) I’m Loosing You’ (14:09).
Pada rekaman versi live ini permainan perkusi, congo, drum diberikan peran lebih untuk berimprovisasi.

Satu-satunya lagu yang direkam hanya didalam studio Motown adalah ‘Nice To Be With You’ (2:15).
Dengan sentuhan pop rock lagu ini menjadi penutup ‘Rare Earth In Concert’, sebuah album yang dirilis tahun 1971, puluhan tahun yang lalu.

RARE EARTH :
Pete Rivera-drums-lead vocal & percussion
Gil Bridges-woodwinds-vocal-percussion & flute
John Persh-bass & vocal
Ray Monette-guitars & vocal
Mark Olson-keyboards & vocal
Ed Guzman-congo & percussion


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 189 other followers