Yes, I Fear Tomorrow I’ll Be Crying …

Halo teman2ku yang baik dan budiman. Apa kabar? Semoga semuanya sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Ya Rabb.

Rasanya sudah begitu lama saya tak menulis di blog kita tercinta ini. Rindu sekali. Makanya saya sempatkan untuk menulis pagi ini selagi ada waktu dan memang urgensinya semakin mendesak. Kalau tulisan ini ditunda, akan tidak bagus dan lebih tepatnya tidak fair bagi temen2 sekalian. Lho? Iya, soalnya teman2 banyak yang menanyakan ke saya mengapa lama tak menulis lagi di blog ini, dan saya cenderung menjawab yang ada aspek bohongnya, “ya …nanti”. Sebenarnya gak bohong juga sih, buktinya ini saya menulis. Ha ha ha ha …

Yes, I fear tomorrow I’ll be crying

Bagi temen2 yang mengikuti blog ini sejak awal, mungkin sudah bisa menangkap bahwa sudah ada kegalauan pada diri saya yang tersirat maupun tersurat dari tulisan-tulisan saya. Yang paling telak mungkin adalah announcement tentang selama bulan Ramadhan (saya lupa tahun kapan) saya tak menulis atau membaca blog ini karena fokus untuk meningkatkan ketakwaan saya ke Allah Rabbal aalamiin. Selama Ramadhan memang bisa dikatakan saya jarang bahkan tidak memutar musik sama sekali (Ramadhan tertentu, dan saya lupa kapan, mungkin tahun lalu atau dua, tiga atau empat tahun lalu). Sebenarnya musik hanya salah satu saja yang membuat saya galau, namun cukup signifikan. Mengapa? Karena saya kalau mendengarkan musik bisa lupa segalanya sehingga pernah suatu ketika beberapa tahun yang lalu, saya sampai menunda panggilan Allah melalui adzan yang dikumandangkan muadzin masjid tetangga. 

Pada tanggal 20 Agustus 2007 saya pernah menulis artikel Merajut Makna Melalui Prog Rock (1/99) di blog ini dimana di situ saya menulis seperti ini: (cuplikan)

Di sisi lain dari kehidupan, saya juga seorang muslim yang kadang berupaya meningkatkan iman dan takwa kepada Rabb nya Allah SWT. Bagi saya hidup adalah pencarian makna secara terus menerus dan bagaimana bisa hidup dalam makna yang sebenarnya. Makna hidup yang benar ada di Al-Qur’an. Life is a quest for value, begitulah kira-kira. Tapi tidak berhenti di sini tentunya. Begitu kita udah mendapatkan valuetersebut kita harus berpikir dan bertindak yang selalu menambah nilai, baik itu dalam hubungan antar manusia maupun dengan Allah SWT.

Makna hidup yang selalu saya cari itu jawabannya memang mudah bahwa pada akhir dari semua perjalan hidup ini, kita semua akan masuk ke liang lahat karena tak ada satupun manusia yang hidup di dunia ini yang tak akan masuk ke liang lahat (alam kubur). Lantas, bekal apa yang saya bawa agar bisa mendapatkan tiket untuk nikmat kubur? Nah ….masalah bekal ini ternyata sangat menohok surohok ke ulu ati saya paling dalam karena semakin hari saya kok semakin gak yakin bisa mendapatkan tiket itu. Meskipun cari tiket konser Yes saat itu juga sulit, ternyata mencari tiket nikmat kubur itu tak pernah ada kepastiannya bahkan hingga detik saya menulis ini. Cukuplah sudah untaian kata dari King Crimson dalam lagu Epitaph ini memicu saya tertohok sampai KO: Yes I fear tomorrow I’ll be crying …... Benar sekali!!! Saya sangat merasakan hal ini.

Nah …untuk menyiapkan tabungan demi mendapatkan tiket nikmat kubur nanti, sudah lebih dari enam bulan ini saya berhenti total mendengarkan musik, kecuali bila musik tersebut diputar saat saya lagi bekerja di kafe. Maklum, profesi saya sebagai konsultan mau gak mau harus punya banyak kantor, termasuk kafe-kafe atau kedai kopi, selain kantor nya klien saya. Namun saya sama sekali tak pernah lagi memutar kaset maupun CD atau sekedar klik iPod atau laptop untuk memutar musik. Ini sama sekali bukan masalah halal atau haramnya mendengarkan musik, namun bagi “saya” musik sangat melalaikan saya untuk belajar lebih jauh tentang bagaimana menabung yang benar demi tiket nikmat kubur nantinya. Dan, nikmat kubur ini penting, karena merupakan tiket untuk konser yang lebih besar lagi yakni yaumul qiyyamah atau hari akhir dimana kita semua akan dihisab oleh Allah.

Saya sendiri tak tahu, bagaimana sikap saya terhadap blog ini. Saya yakin temen2 semua memiliki kadar kelalaian yang kemungkinan besar lebih baik dari saya sehingga belum merasa perlu meninggalkan hal yang sebenarnya sia-sia ini, karena saya tak mendapatkan jawaban dari Quran dan Hadits adanya anjuran mendengarkan musik membuat kita lebih bertakwa. Yang sudah pasti, in sya Allah mulai hari ini saya tak akan posting lagi artikel baru, baik itu dari saya maupun tulisan temen2 sekalian. Saya mohon maaf sekali atas ketidaknyamanan ini. Silakan berkomentar saja di tret2 yang ada selama ini, namun tak akan ada lagi tret baru lagi. In sya Allah.

Kekerabatan

Harus saya akui, kekerabatan kita sudah sangat baik dan kekeluargaannya sangat bagus. Hal ini tak boleh putus. Saya masih menganggap teman2 sekalian sebagai teman dan bahkan meningkatkan hubungan pertemanan kita. Hanya sayangnya, saya gak begitu banyak lagi update terkait musik. Blog ini hanya sebagai salah satu media saja untuk komunikasi antar kita; toh masih banyak media lainnya seperti email maupun HP atau temu muka. Jangan juga hapus nama saya sebagai teman Anda hanya karena artikel ini. Ini sebenarnya hanya masalah sikap pribadi saja dan saya sama sekali tidak membenci musik. Saya hanya berhenti saja dari kegiata yang “dengan sengaja” menikmati musik. Itu saja.

Terima kasih telah membaca sampai kalimat ini. Mohon maaf kalau artikel ini tidak menyenangkan meski saya tak bermaksud apapun untuk berbuat tidak menyenangkan. Nyuwun ngapunten sanget.

Friends will be friends

JRENG!

Tags: ,

28 Responses to “Yes, I Fear Tomorrow I’ll Be Crying …”

  1. gt Says:

    Mas GW,saya belum sepenuhnya secara total untuk tidak mendengarkan musik,saat ini saya masih belum bisa untuk tidak mendengarkan musik Indonesia.

  2. Gatot Widayanto Says:

    Monggo mas … Seperti saya katakan, ini sifatnya pribadi ke “saya” aja mas. Suwun

  3. apec Says:

    Beres kumendan…nama njenegan tetep tersimpan kok…tapi minimal lek aku nang jakarta tetep iso cangkruk bareng ora??

    • Gatot Widayanto Says:

      Tentu. Dengan senang hati bahkan. Beberapa minggu lalu saya sama nyonya ke Corelli sekedar ngopi, juga mampir ke beberapa lapak untuk silaturahim; paling lama di Bang Oman sih. Blok M Square memang menyenangkan sekali, terutama orang2nya. Udin sekarang sendirian dan saat itu lapaknya tutup. Konon mas Imam, yang basa nyetel blues, resign dan bang Udin belum rekrut penggantinya.

    • Gatot Widayanto Says:

      Emang kapan mau ke Jakarta, bro Apec? Kasih kabar yo … wis suwe ra ketemu.

  4. Iskandar Says:

    Assalamu’alaikum. Hidup adalah pilihan dan pilihan ustadz tidaklah buruk, meski terkadang seseorang ketika mendengar musik yang indah (lagu dan syair) bisa mengingatNya dan bersyukur atas karuniaNya yang satu ini (musik)…

    • Gatot Widayanto Says:

      Waalaikumsalam wr wb. Pak Iskandar benar sekali. Salah satu yg menyebabkan saya kepincut sama Yes di sekitar tahun 74 kala itu adalah adanya lagu The Revealing Science of God. Setiap menikmati lagu tsb saya selalu ingat kepada Nya disamping untaian indahnya komposisi. Akhirnya membuat saya terbuai dan lalai. Mungkin bagi temen2 lainnya masih bisa mengendalikan diri. Kalau saya suka kebablasan. Saya tak membenci musik. Bahkan saya suka sekali musiknya Omar Series (kisah Umar bin Khattab). Megah sekali ketika musiknya masuk di awal maupun akhir film.

  5. Rully Says:

    Halo Om Gatot,

    Apa kabar? senang juga melihat tulisannya walaupun sebenernya merupakan perpisahan. Agak aneh jika disebut perpisahan karena nyatanya Om G masih “ada” dan hanya memilih jalan lain saja. Jujur.. saya merasa sedih ketika pertama kali membaca tulisan ini (tetap saja yang namanya perpisahan tak luput dari rasa sedih) tapi saya coba untuk menghargai jalan yang Om G pilih. Saya bersyukur bisa berkenalan, menjalin pertemanan dengan Om G. Jadi teringat ketika pertama kali jumpa di Sarinah Thamrin. Saat itu saya langsung merasa akrab dengan Om G walaupun perantaranya hanya pengetahuan dan kegemaran musik. Terima kasih Om G atas segala kebaikannya dan ilmunya. Mungkin lain waktu, jika diizinkan olehNya kita dapat dipertemukan kembali. Mungkin bukan lagi membicarakan hingar-bingar musik, tetapi berbagi cerita tentang ayat-ayat Allah, mazhab-mazhab, Hadist Nabi, ataupun ilmu fiqih.

    Salam

    • Gatot Widayanto Says:

      Halo juga Rully!

      Kabar saya baik. Benar, gak ada perpisahan kok. Tetap Rully teman saya dan saya siap bila kita mau ketemuan lagi. Saya juga bersyukur bisa ketemu sama Rully saat itu. Ha ha …iya ya … Saat itu memang obrolan bisa mengalir ya karena hobi nya sama dan sebagai generasi muda, Rully bener2 tak mewakili generasinya karena lbh suka musik prog. Makanya klop ya. Anggap saja musik sebagai wasilah pertemuan kita.

      Sama2 Rully, terima kasih atas pertemanan lintas generasi ini. Semoga Rully makin sukses.

      Saya sendiri sedih menulis artikel ini. Namun saya juga sedih tak bisa banyak kontribusi di blog ini mengingat fokusnya jadi beda. Mungkin memang ini sudah jalannya yg mana makna Music for Life ternyata saya alami juga. Musik jugalah yang mengantarkan saya hingga kondisi saat ini. Giyubnya pertemanan kita semuanya tercapai karena adanya media musik sebagai bahan omongan. Dan ketika saya tak lagi mendengarkan musik, getar jiwa pertemanan masih terasa kental.

      Semoga pertemanan kita terus langgeng. Aamiin.

  6. prasetyoindro Says:

    saya pribadi sangat menghormati pilihan mas GW…sekedar kilas balik, pertemuan saya pertama kali dengan mas GW dulu pun di dunia kerja, bukan berawal dari musik…jadi, dari angle manapun pertemanan kita, semoga akan selalu nyambung dan tetap gayeng pertemanannya..amin..

    • Gatot Widayanto Says:

      Aamiin Ya Rabb!
      Benar mas Indro Mpink …. Masih ingat saya ketika selesai sebuah sesi, ujug2 mak gedhandhut ada yang mendekati saya sambil bilang “Saya juga baca blog gemblung”. Walah! Dua angle dapat ya: kerjaan dan musik. Itulah indahnya pertemanan.
      Tetap gayeng pokoké ….!

  7. Koh Win Says:

    Hidup memang sebuah pilihan, ada banyak pilihan dalam hidup ini dan mas GW sudah menemukan pilihannya…Meninggalkan Musik…sebuah pilihan yang harus kita hargai bersama….yang paling penting adalah blog ini telah menjadikan SEBUAH PERSAUDARAAN dan bukan lagi hanya sebuah pertemanan semata, melalui blog ini kita kenal pribadi pribadi yang walaupun di cover oleh kegemaran mendengarkan musik rock namun sebenarnya beliau beliau adalah pribadi pribadi yang shalih, lewat blog ini kita kenal mas Khalil, mas Apec, mas Herman, mas GT, mas Kukuh, mas Rully, mas Danang, mas Andria, mas Edigimo, dan yang lainnya yang semuanya adalah pribadi pribadi yang santun, walaupun berangkat dari sebuah hobi toh ketika berjumpa selalu penuh dengan obrolan kehidupan. Maka mari tetap kita jalin persaudaraan ini meski sebagian diantara kita sudah tidak lagi mendengarkan musik.

    • Gatot Widayanto Says:

      Koh Win,

      Saya ini meski ngakunya progger, namun cèngèng lho! Saat saya bertandang ke Klaten, saya diantar Koh Win ke bandara oleh Koh Win dengan ikhlas. Sempat mampir shakat ashar di masjid, kemudian kuliner soto tengkleng sebelum ke bandara. Masya Allah! Suatu peristiwa yang memorable dan membuat saya mbrabak mbrebes mili. Inilah apa yang dikatakan Koh Win dengan PERSAUDARAAN. Benar sekali!
      Ya ya ya ….banyak obrolan kehidupan yang menarik. Bukankah musik juga membicarakan tentang kehidupan? Mari kita tingkatkan persaudaraan.

  8. Budi Putra Says:

    Assalamu’alaikum mas Gatot

    Tiba2 saja kok sy ingin buka blog (gemblung) ini stlh sekian bulan sama sekali gak melihatnya. Kalo sy pribadi mmg msh blm bs lepas dr musik malah kedepannya mau mengembangkan bisnis (online) di jalur musik. Mohon doanya mas Gatot…:)

    Jujur sedih jg sih baca tretnya mas Gatot ini krn dlm bbrp kesempatan sy sempat berinteraksi baik melalui media ini atau tatap muka nge progring di blok m square. Walau hanya bbrp kesempatan mengikuti sungguh berkesan di hati. Apalagi sy msh ingat saat2 awal berkenalan dg blog ini dan kemudian tret2 alakadarnya dr sy dg baik hati mas Gatot mau mempublishnya. Jujur, hal itu sangat berkesan buat saya pdhl pada saat awal awal itu mas Gatot tdk kenal sy dan tentunya sejauhmana kapasitas pengetahuan bermusik sy…tp sy yakin silaturahmi lah yg menggerakan mas Gatot mau mengerjakannya…upload tret via emai—sungguh sebuah pemerjaan yg tdk mudah dan diperlukan keikhlasan tingkat tinggi.

    Bagi sy blog ini sdh menjadi bagian dr keseharian sy terkait musik. Rasa kangen jg dg teman2 lainnya…mas Hippie, mas DananG, bro Apec, Rully…dll. Terimakasih mas Gatot yg pernah menerima sy bagian dr blog ini, dan mohon maaf bila ada sesuatu yg krg berkenan selama ini.

    Wassalam

    • Koh Win Says:

      Turut berduka cita yang sedalam dalamnya atas meninggalnya Ibu dari mas Gatot Widayanto semoga beliau diampuni dosanya dan diterima amal sholehnya. Amiin

      • Gatot Widayanto Says:

        Terima kasih Koh Win. Aamiin Allohumma Aamiin. Mas GT dan mas Herman sempat takziah ke rumah duka di Bintaro dan bertemu saya.

    • Gatot Widayanto Says:

      Waalaikumsalam wr wb.

      Mas Budi, terima kasih tanggapannya. Memang persahabatan kita di blog ini sungguh guyub sekali dan seperti sudah kenal puluhan tahun, padahal tatap muka juga paling beberapa kali. Namun memang begitulah, karena kita sama2 punya passion terhadap musik sehingga mengalir begitu saja, tanpa ada hambatan berarti.

      Untuk itu, sayang sekali bila guyub yang telah terbangun ini tak dilestarikan. Mungkin setelah Ramadhan kita perlu face-value lagi, ya semacam halal-bihalal begitu? Mengapa tidak! Apalagi bila Bro Apec bisa hadir …. Pasti tambah seru sekali. Mari mas Budi, dirancang bersama. Atur saja waktunya.

      Wassalamualaikum wr wb.

  9. Alfie Says:

    Assalamualaikum ww.membaca tulisan pak Gatot saya merasa sedih dan gembira….sedih karena saya sendiribel bisa seperti pak Gatot tapi saya gembira karena pak Gatot telah membuat suatu Giant Step dan itu memang tidak salah……Hidup ini memang pilihan. Wassalam

    • Gatot Widayanto Says:

      Waalaikumsalam wr wb.

      Yth. Pak Alfie,
      Terima kasih banyak atas kontribusi luar biasa dari Bapak terhadap blog ini melalui tulisan2 kugiran band Indonesia yang ngetop saat itu, juga ulasan2 terkait Triumvirat serta lainnya. Mantab tenan pak.

      Pak Alfie, sebenarnya bukan masalah belum bisa atau tidak bisa, ini hanya masalah prioritas saja pak. Secara matematika manusia, kontrak saya untuk hidup di dunia rasanya tinggal beberapa waktu saja sedangkan time management saya masih sangat kurang fokus mendalami jalan lurus menyiapkan bekal untuk hari kelak. Saya sendiri sebetulanya saat tak lagi memutar musik tidak saya awali dengan keputusan, hanya MENGALIR begitu saja. Bahkan, saya tak tahu sejak kapan tepatnya saya mulai OFF dari musik, atau album apa yang terakhir saya putar, saya juga sudah lupa, karena semuanya terjadi begitu saja, tanpa desain sama sekali.

      Mari kita tetap jaga silaturahim yang sudah terbina selama ini.

      Wass,

  10. andria Says:

    Walau tak seperti dulu, yg nyaris tiap ada waktu dlm sehari saya membuka blog ini pakai komputer, siang ini setelah lama tak mbuka saya membuka gwmusic. Saya beberapa menit sebelumnya juga dapat sms dari pak gatot, wl bukan ttg blog ini.
    Awalnya pak Gatot saya kira akan mengulas wafatnya Chris Squier karena dimulai dgn kata “Yes” tapi ternyata bukan. Saya semula masih menyangka absennya pak Gatot nulis di sini karena sibuk. Maklum saya juga punya website bersama teman2 se komunitas yg nasibnya serupa karena kesibukan kerja & keluarga. Saya malah pernah melontarkan ide utk meniru blog gwmusic ini utk acuan blog yg bisa menyalurkan keinginan rekan2 saya menulis atau berbagi cerita. Saya rasa blog ini di masa lalu tetap akan saya pakai utk acuan di tempat saya suatu saat.
    Saya berterima kasih pada pak Gatot karena sdh bisa berkenalan dan dikenalkan dgn tokoh2 yg ada di blog ini. Beberapa orang bisa saya jumpai langsung tapi masih banyak yg menunggu waktu utk bisa ketemu (mas Kukuh, mas indro, mas budi, Mas Hippie, pak Edi Apple dll)
    Untuk saya musik selain utk menyenangkan hati (mata, telinga) utamanya untuk menjalin persaudaraan. Saya malah nggak bisa ngomong musik saat ketemu pak Gatot, mas DananG dan KohWin karena fokus saya malah seneng ketemu orangnya. Pilihan musik saya yg terlalu beragam kadang membuat sulit utk membagikan pada rekan2 akhirnya saya menempatkan diri sebagai pendengar dan pembaca, sesekali nulis. Paling seneng kl tulisan saya ada yg ngomentari di sini,:)
    Semoga kita masih bisa ketemu di Madiun lagi ya pak gatot🙂

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Andria,

      Perkenalan tatap muka saya dengan njenengan terjadi di kota Anda, Magetan, ketika dengan ketulusan hati njenengan mengantar saya dari Magetan ke kuliner MBOK MI di Babadan, Ponorogo sambil nyetel kaset The Fox Lies Down on Broadway di mobil njenengan. Wuah! Sungguh …itu suatu kejadian yang memorable dan tak kan terlupakan. Setelah itupun njenengan tergolong rajin mengunjungi saya saat berada di Madiun, padahal Magetan berjarak lumayan jauh dari Madiun. Sebuah persahabatan yang tulus. Masya Allah!

      Iya mas …In sya Allah awal AGustus saya ke Madiun karena ada undangan mantenan anaknya temen. Belum pasti kapan berangkatnya dan apa bisa ketemu. Andai memungkinkan saya pengen mampir Solo dan berjumpa Koh Win juga. Nanti saya kabari lagi ya mas.

      Salam,

  11. hippienov Says:

    Apa kabar Mas G? Semoga njenengan masih sempat membalas tulisanku ini.
    pertama-tama, aku turut berduka cita yang dalam atas wafatnya Ibunda tercinta. Aku bisa merasakan dalamnya kesedihan njenengan kehilangan Ibunda selama-lamanya. Aku pikir tak ada satu anak pun di dunia ini yang sanggup dan rela melepaskan kepergian sosok Ibu saat beliau dipanggil kembali ke pangkuan Tuhan, walaupun hal tersebut adalah sebuah kepastian bahwa setiap insan akan kembali ke Penciptanya, seperti penggalan lirik sebuah lagu dari band metal Dark Angel “…death is certain, life is not…”
    Kadang saat aku melihat mamaku yang sudah semakin tua termakan usia akupun menangis dalam hati bahwa suatu hari nanti akupun harus menghadapi kenyataan bahwa beliau akan “pergi”, namun aku belum siap dan tiap saat aku berdoa pada Tuhan agar beliau diberi kesehatan dan umur panjang karena aku masih sangat membutuhkan sosok mama dalam hidup ini, meski aku sudah menikah dan punya anak namun my mom is still and will always be the first one that I love so much… Aku berusaha “bargain” dengan Sang Pencipta untuk membeli waktu lebih…

    Kembali ke postingan terakhir Mas G, seperti rekan-rekan lain akupun merasa sedih dan teringat saat pertama berjumpa Mas G di acara monumental progring di Corelli (aku lupa tahun berapa), dan lucunya aku sudah sering membaca nama beliau di situs progarchives.com dengan ulasan-ulasan panjang dan dalamnya.
    Aku juga ingat saat Mas G menghibahkan “lukisan” cover Marillion padaku, ada satu yang sudah terpajang di kamar tidurku Mas, walau awalnya istri dan anakku protes karena katanya gambarnya kok serem, hehehe…
    Matursuwun sanget Mas untuk persahabatannya selama ini, dan pastinya akan terus terjalin sepanjang masa. Semoga satu waktu nanti kita masih bisa ketemu ngobrol di Corelli lagi injih…

    Best Regards,
    hippienov

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Hippie,

      Yang namanya teman tetap teman … Terima kasih buanyak atas pertemanan yang terjalin baik selama ini dan harus tetap dijaga dan dilestarikan. Monggo mas Hippie, kita atur pertemuan halal bihalal yang waktunya enak buat kita semua, atau sebagian besar dari kita. Siang ini memang saya ada rencana ke Blok M Square. Barangkali ada temen2 yang di sekitar situ. Monggo SMS aja ke 0811931175. Kalau telpon susah karena sinyal gak kuat di basement.
      Saya gak tahu apa Corelli juga buka.

  12. Edu Krisnadefa Says:

    Assalamu alaikum Pak Gatot…pertama-tama saya juga mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian ibunda tercinta Pak Gatot.. semoga almarhumah khusnul kotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan..aammiinn..Terus terang, saya bisa merasakan kehilangan yang Pak Gatot rasakan..karena kebetulan saya juga pernah merasakan hal yang sama. Ibunda saya meninggal Agustus 2012, pada bulan Ramadan, tepat seminggu sebelum Idul Fitri..
    Tentang postingan terakhir ini, tentu saya sedih. Sebab, meski baru pertama berkomentar, saya sebenarnya sudah cukup lama menyimak blog keren ini. Saya banyak belajar dari postingan Pak Gatot dan teman-teman lainnya tentang rock n roll, tentang persahabatan, tentang kehidupan di blog ini, begitu hidup, begitu penuh kekeluargaan…tapi saya tentu juga teman-teman senior yang lain sangat menghargai keputusan pak Gatot…Semoga saya tetap bisa belajar terus dari Pak Gatot dan teman-teman senior lain di sini…tentang rock n roll, tentang kehidupan… Salam…
    Edu Krisnadefa

  13. Edi Apple Santoso Says:

    epitaph – king crimson
    semoga semuanya merupakan hidayah …

  14. yuddi Says:

    Ya, mas GW . Apapun keputusan nya saya berterima kasih atas adanya blog ini hingga saya bisa berkenalan dan akrab dgn teman2 sampai sekarang dengan bertatap muka atau media lain.
    Sekali lagi terima kasih mas.

  15. Nelwin Aldriansyah Says:

    Salut dengan jalan yang dipilih om Gatot.. saya pribadi belum bisa melepaskan keinginan untuk mendenarkan musik. Semoga saya tidak menjadi lalai karenanya.
    Terima kasih om Gatot atas persahabatan dan guyubnya pertemanan yang tercipta dari blog gemblung ini..
    indeed, friends will be friends..🙂

  16. Heroe Glam Says:

    Salam prog dari malang sam….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: