Dream Theater Dalam Sebuah Kisah (Bag. 1)

Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah

Yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah

Part I

 Boeddhierif Setyawan

Salam Hormat saya sebagai anak muda kepada Om G dan para sesepuh, para suhu dan seluruh penghuni Blog Gemblung ini. Akhirnya untuk pertama kali dan semoga saja hal ini menjadi Penjebar Semangat (gen koyo majalah lawas sing diterbitkan oleh Pendiri Boedi Oetomo, rodo mekso disrempetke wae mumpung jeneng’e yo nganggo Budi..hihihihi) saya untuk seterusnya dapat berbagi dan bercerita di sini, di Blog Gemblung ini..hehehehe

Tanpa panjang lebar lagi (karena mungkin tulisan ini nanti akan panjang dan melebar jauh dari detail musik di dalamnya, karena saya berusaha untuk menuliskan kisah emosional dari salah satu atau beberapa lagu dari setiap album Dream Theater), untuk kali ini saya ingin membagikan kesan, kisah dan cerita tentang lagu-lagu Dream Theater yang saya ambil dari setiap albumnya, meskipun bisa dibilang saya termasuk salah satu orang yang terlambat untuk mendengarkan lagu-lagu Dream Theater (apalagi band proclaro lainnya yang era sebelum Dream Theater). Tapi apapun bentuknya yang namanya musik itu tidak pernah terlambat, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar maupun mendengarkan musik (iki asline yo gur ngayem-ngayem aku dewe gen ora diarani salah utawa telat nemen..hahaha)

  1. The Killing Hand – 1989 When Dream And Day Unite

01 When Dream and Day Unite

Ketika itu di akhir tahun 2000, sekali lagi saya bisa dibilang sangat terlambat mendengarkan musik progressive karena faktor usia (sebuah pembelaan yang semoga saja sangat logis..hahahaha). Pada awalnya saya penasaran dari judul lagunya dan akhirnya saya mendapatkan lagu ini dari para dermawan website alias download meskipun harus ke warnet (harap maklum, karena pada saat itu saya belum punya internet sendiri, pye arep pasang internet, wong arep telpun pacar’e wae kudu golek wartel disik, opo meneh internet).

Sebenarnya, album When Dream And Day Unite ini merupakan album kedua Dream Theater yang saya dengarkan karena album pertama yang saya dengarkan adalah album Images and Words -yang akan saya bahas salah satu lagunya di bagian selanjutnya-.

Pertama kali mendengarkan album ini saya kurang begitu suka dan kurang begitu greget karena pada saat itu saya sudah terlanjur nancep dengan karakter suara James LaBrie pada album Images and Words. Namun ketika saya mendengar lagu The Killing Hand ini, untuk pertama kalinya, intro suara petikan gitar John Petrucci yang setting sound’nya pada saat itu menurut saya agak aneh dan kurang familiar di telinga saya, dan akhirnya masuklah suara dari Charlie Dominici yang langsung membuat saya ngguyu nggeblak sambil berkata dalam hati “nah, iki termasuk pecinta ketinggian” (suara vokal melengking tinggi tanpa ada seraknya sama sekali).

Setelah mendengarkan lagu ini, saya menjadi penasaran dengan lagu lain sehingga membuat saya berfikir, “sesuk neng warnet meneh gen iso ngrungokne sak album sisan” (besok ke warnet lagi biar bias mendengarkan full album sekalian). Dan akhirnya dari album ini saya mulai berkata dalam hati “Band iki kudune sing tak rungokne lan kudu tak golek’i kaset-kaset’e nganti kecandak mbuh piye carane!” (Band ini seharusnya yang saya dengarkan dan harus saya cari kaset-kasetnya sampai ketemu entah bagaimanapun caranya). Hingga kemudian pada akhirnya saya berhasil mendapatkan kasetnya meskipun bootleg atau bajakan ataupun “Kaset Malangan”, mbuh, ora urusan sing penting aku nduwe rekaman’e dalam format pita trus suarane termasuk kategori apik (entahlah, tidak peduli yang penting saya punya rekamannya dalam format pita dan suaranya termasuk kategori bagus).

Dan dari pengaruh inilah hal yang membuat saya sering menjajah lapak kaset bekas di Solo, entah 1 atau 2 minggu sekali sebelum pulang ke Sragen saya pasti menyempatkan diri mampir ke lapak-lapak kaset bekas dengan catatan nek pas nduwe duit turahan, nek ora nduwe yo gur lewat ngarep’e thok karo entrane ora ngerti nek lapak’e kwi bukak (kalau pas punya duit sisa, kalau tidak punya ya cuma lewat depannya saja sambil pura-pura tidak lihat kalau lapaknya itu buka). Dan di Solo inilah saya mulai perlahan dan dengan sedikit demi sangat sedikit sekali mengumpulkan kaset Dream Theater karena pada waktu saya masih SMA tinggal di Sragen sangat terbatas musik yang saya dengarkan dengan keterbatasan kaset yang dijual di toko-toko kaset maupun jumlah toko kaset yang ada di Sragen. Selain itu, alasan saya yang paling utama adalah keterbatasan dana untuk membeli kaset..hahahaha

  1. Surrounded – 1992 Images And Words

02 Images and Words

Album ini merupakan album tonggak awal bersejarah yang penuh keluh kesah dalam kisah perkenalan saya dengan Dream Theater. Boleh dikatakan juga bahwa album ini merupakan awal mula saya mulai gandrung dan kesengsem dengan musik progressive (akhir tahun 2000), yang pada saat itu sedang marak musik alternative rock yang begitu menyita waktu, telinga dan perhatian saya. Awal mula saya mendengarkan album ini adalah ketika saya dipinjami kaset ini oleh seorang teman sebangku saya waktu sekolah di SMA yang saat itu dia melanjutkan kuliah di Semarang. Dia merupakan teman saya yang paling legendaris karena dialah orang yang sering saya jadikan alasan bila sudah tidak punya uang saku untuk segera menjemput saya ke rumah biar saya bisa ada alasan untuk minta uang jajan tambahan kepada ibu saya. hahaha.. Saya sudahi cukup sampai di situ saja cerita tentang teman saya, karena kalau saya teruskan cerita tentang dia malah semakin panjang dan lebar ini nanti ceritanya, bias-bisa malah lupa tidak jadi membahas keluh, kesah dan kisah tentang Dream Theater ini nanti.

Mari kita kembali lagi ke pokok pembahasan awal yaitu tentang kaset Dream Theater. Saat pertama kali saya dipinjami kaset ini, pada awalnya saya putar kaset ini 2 side penuh, namun apa daya, karena sebelumnya saya amat sangat jarang sekali mendengarkan musik progressive rock/metal, saya belum begitu bisa menikmati musik seperti ini. Tetapi seolah-olah tidak mau menyerah dengan perjuangan yang telah saya lakukan (berjuang opone, wong ngrungokne kaset silihan wae kok ndadak nganggo ukara perjuangan –berjuang apanya, orang mendengarkan kaset pinjaman aja kok pakai kalimat perjuangan segala), saya bertekad untuk memutarnya berulang-ulang setiap hari dengan tape mini compo kecil milik ibu saya yang saat itu sering dipakai untuk mendengarkan kaset Koes Plus dan aliran musik sejenis seangkatannya). Sampai suatu saat ibu saya pernah bertanya kepada saya, ”Kowe kuwi nyetel kaset opo tho le, kaet mau kok gur nyetel kwi terus? (Kamu itu muter kaset apa sih nak, dari tadi kok cuma muter itu terus?)”

Saya hanya menjawab, ”Wah, iki kaset sing rodo ora penak neng kupingku Bu’, iki lagi wae disilihi Hahan, arep tak rungokne tenanan nganti ketemu neng bagian ngendi penak’e.” (Wah, ini kaset yang agak kurang enak di telinga saya Bu, ini baru aja dipinjami Hahan -nama teman saya-, mau saya dengarkan betul-betul sampai ketemu di bagian mana enaknya). Dan akirnya secara tiba-tiba entah kenapa mak bedunduk, saya langsung nancep di bagian lirik ini ”light to dark, dark to light, light to dark, dark to light…..his shadow slowly fading from the waaalllllllll”. Bagi telinga saya nada di lirik itu terkesan dipas-paske trus tone nadanya tidak enak, tp justru malah membuat saya semakin ketagihan dengan album ini sampai-sampai saya hafal setiap lagu berakhir saya sudah bisa menebak intro lagu selanjutnya.

Dan sejak saat itulah, saya sangat rajin sekali mendengarkan musik-musik Dream Theater baik dari MP3 digital hasil download sendiri (maupun copy dari warnet yang ada koleksi lagu-lagu Dream Theater di dalam harddisknya) ataupun dari rilisan fisik berupa kaset pinjaman..hahahaha

Dan dari kaset pinjaman inilah saya mulai mencari tahu lebih dalam tentang Dream Theater termasuk siapa saja yang menjadi influence mereka sehingga saya bisa mengenal lebih jauh tentang band-band progressive yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Terima kasih untuk album Images and Words yang begitu bermakna dan memberi warna dalam hidup saya, serta terima kasih kepada teman saya yang kasetnya sampai sekarang masih saya ”amankan”. hahahahaha

Demikian dulu kiranya penggalan cerita saya tentang ”Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah”. Cerita ini rencananya akan saya lanjutkan kisahnya untuk masing-masing 1 lagu di setiap album selanjutnya dan saya butuh waktu untuk memutar kembali tidak hanya kaset saya tetapi juga otak saya agar mau menaiki tangga darurat yang bernama kenangan karena begitu banyak cerita hidup yang masih selalu tersimpan di dalam ingatan saya yang cukup terbatas ini. Dan seperti saran Om Gatot, ”Gak usah buru-buru, sing penting dinikmati saja mas prosesnya”. Hehehehe

Dan dari hal itulah akhirnya saya memutuskan untuk mengambil judul ”Dream Theater dalam Sebuah Keluh, Kesah dan Kisah yang Membuat Diri Menjadi Risau, Resah dan Gelisah Part I”, karena memang rencananya akan ada Part selanjutnya. Maksud lain dari tambahan Part I itu adalah dipekso gen koyo lagune Metropolis sing ono Part I karo Part II (dipaksa biar seperti lagunya Metropolis yang ada Part I dan Part II). hahahahaha

Sungkem saya,

Boeddhierif Setyawan (inibudi)

5 April 2015

Mari kita giatkan dan galakkan GERAKAN DOWNLOAD BERAS
agar kita bisa beli kaset sebanyak-banyaknya!

Bravo Kaset!

Tags:

14 Responses to “Dream Theater Dalam Sebuah Kisah (Bag. 1)”

  1. Boeddhierif Setyawan Says:

    Om Gatot, terima kasih telah memberikan kesempatan kepada tulisan saya ini untuk berada di sini..
    Semoga segera kembali sehat seutuhnya dan bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala, Om..

    • Gatot Widayanto Says:

      Aamiin Allohuma Aamiin… Terima kasih mas Boedi.

      • Ini Budi Says:

        Sama-sama dan terima kasih banyak curhatan saya sudah diizinkan untuk tampil di sini Om G..
        Bagaimana kabarnya saat ini, Om? Sudah sehat dan pulih sepenuhnya untuk kembali beraktifitas?

  2. Akram Says:

    Mas Boeddhi salam kenal ya !
    Saya juga termasuk telat menyimak DT. Awalnya, sekitar tahun 92-an, sayup2 aja mendengar Pull Me Under. Cuman sekelebatan aja karena waktu itu lagi gandrung2nya sama Thrash & Death Metal, jadi lagu2nya DT yang lain sama sekali gak saya simak.
    Sampai akhirnya sekitar tahun 2003-an, waktu itu teman muter lagu Endless Sacrifice, saya benar2 terkesima dengan permainan rally antara gitar dan keyboard dilagu itu. Apalagi pas dibagian akhirnya, wah bener2 mantap jaya dan sama seperti Mas Boeddhi, saya juga sependapat “Band iki kudune sing tak rungokne”.
    Sejak itu saya rajin searching informasi tentang band ini & ngumpulin lagu2nya secara halal maupun sebaliknya….sing penting iso ngerungokne lagu2ne DT.
    Buat saya, DT termasuk salah satu band yang memainkan progmet dengan sangat apik….walaupun ada pergantian personil.
    Matur suwun Mas.

    • Ini Budi Says:

      Salam kenal, Mas Akram..
      Tahun 1992 saya masih kelas 4 SD itu Mas Akram, jadi jelas sekali bahwa saat itu belum saatnya bagi saya mendengarkan lagu-lagu seperti ini..hehehehe
      Tapi seperti pepatah bilang, tidak ada kata terlambat untuk belajar dan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, jadi isih mending wis tau krungu musik ngene iki tenanan daripada babar blas ya Mas Akram? hihihihi

      Pergantian personil itu jelas membuat perbedaan di corak musik yg mereka mainkan, tp apapun itu mereka tetap patut diberikan apresiasi untuk hasil karya mereka. Impian saya untuk bisa menyaksikan penampilan mereka secara live sudah terobati tahun kemarin, meskipun sudah bukan Mike Portnoy yd di balik drum set, tp Mike Mangini juga sangat layak untuk mendapatkan apresiasi..hehehehe

  3. Eddy Irawan Says:

    salam kenal mas Boeddhi.
    terimakasih atas ulasan DT yg menarik

    • Ini Budi Says:

      Salam kenal juga, Om Eddy..
      Nampaknya kita pernah saling komen di sosmed dengan logo warna biru tentang nomor kaset yess yg tubrukan itu Om. Akun saya Ini Budi..hehehehe

      Matursuwun, Om..
      Ini saya juga masih proses berusaha memutar kembali kenangan tentang kisah album-album Dream Theater dengan tujuan bisa melanjutkan ke Part selanjutnya..

  4. andria Says:

    mas Budi, ternyata lagu Surrounded yg saya sukai itu ya bagian ”light to dark, dark to light, light to dark, dark to light” itu🙂 Saya agak telat beli kaset Image & Words gara2nya saat itu saya sedang nyari kaset2 instrumental gitar macam Joe satriani, Marty Friedman, Steve Vai dll. Tapi gara2 saya lihat ulasan ttg album itu di majalah GuitarWorld (yg juga terlambat krn beli bekas) akhirnya saya beli juga. Untungnya saat itu di lapak pak Priyo Yogya harganya blm mahal krn pak Priyo ya tdk tahu kl ini grup bagus🙂 Saya ingat malah yg agak mahal kaset Ted Nuggent-Free For All (Nirvana) yg saya beli bareng. awalnya tetap blm suka karena ada vokal, bukan 100% instrumental. Akhirnya kaset ini saya nikmati dengan teman SMA saya Andhi Kreshna yg wl suka jazz tapi gara2 mendengar Another Day yg ada saxophone-nya itu mau juga mendengar DT. Selanjutnya semua kaset DT saya usahakan beli sekennya🙂

    • Ini Budi Says:

      Om Andria, salam kenal Om..
      Wah, alumni “ngejaman” juga ini nampaknya..hehehe
      Sebenarnya saya juga pengen ngumpulin semua album tentang Dream Theater beserta side projectnya.., sayangnya banyak kasetnya yg tidak dirilis di Indonesia, jadi agak susah untuk koleksi secara utuh..hehehe

  5. apec Says:

    Salam kenal mas ini budi…saya bapak budi..Ha..Ha…saya mulai nyimak DT sejak album falling into rilis…yap,baru setelah rilis 3 kaset..karena When a day and dream gak ada resminya disini…baru mundur cari tiga kaset lainnya…setelah itu tiap rilis baru mesti beli yg baru

    • Ini Budi Says:

      Salam kenal dan sembah sungkem saya Bapak Budi (Om Apec)..hahahaha
      Kalau album Falling itu sudah beda banget musiknya dengan 3 album sebelumnya ya Om, dengan pergantian Kevin Moore menjadi Derek Sherinian..
      Saya dengar pertama album Images and Words, jadi udah pas karena album When Dream and Day Unite tidak ada produksi resminya di Indonesia..
      Photo yg saya posting itu juga kaset gilingan kok Om (kalo dari sumber yg jual sebuah lapak di Solo tahun 2003 silam, itu bikinan Malang).. Karena dengan keterbatasan cara untuk beli kaset impor dan keterbatasan dana waktu itu, jadi bagi saya gak apa-apa deh, yg penting bisa mendengarkan dalam bentuk kaset pita biar bisa lebih nuansamatik -kalo para sesepuh blog ini bilang-..hehehehe

  6. Muhammad Yunus Says:

    Saya juga termasuk terlambat mendengarkan DT,pas sewaktu lulus SMA tahun 2013 lalu,
    lagu pertama yg didengar ialah lagu The Spirit Carries On …wew setelah saya putar putar beberapa kali ini lagu dan mbaca ini lirik
    wew ada juga ya band yang buat lagu beginian,baca lirik sampai nangis….
    setelah itu saya mncoba untuk mencari cari album laen yaitu Images and Words, wew kesan pertama Pas denger lagu Metropolis Part 1 , gudug dag gudug bunyi Drumhead nya Mike Portnoy bikin saya merinding bukan main + Bunyi Keyboard Sama Gitarnya bikin megah ini lagu…
    Belum Puas dengerin album ini, Saya pun Download Album “Awake” dengan Cover yg agak menyeramkan…Lalu saya pun putar lagu yg Judulnya “6.00” dengan intro permainan drum yg khas sekali…setelah selesai Loncat pun saya kelagu yg judulnya “Erotomania” lama lama asik juga ni lagu…
    Falling Into Infinity begitulah tulisan dicovernya yg saya liat Di Google…Dialbum ini pertama dengar lagunya gak begitu suka…dan pas dengerin Hell’s Kitchen wew Instrument yg Hebat dengan khasnya Hit-Hatnya Mike Portnoy dan Keyboardnya Bunyi seperti Gamelan bikin saya suka ini lagu….

    itu saja yg saya bisa jelaskan…klo ga paham ga papa saya baru pertama kali posting di blog ini…mohon dimaklumi dan mohon bimbingannya
    -Lebih lagi pada sepupuh sepupuh yg ada di postingan ini,hehehehe

    • Ini Budi Says:

      Salam kenal, Mas Yunus..
      Dalam perkembangannya setiap kali band ini mengalami perubahan personil, selalu membawa perubahan warna musik (kalau menurut telinga saya)..
      Saat Kevin Moore digantikan oleh Derek Sherinian, kemudian saat Derek Sherinian digantikan oleh Jordan Rudess, dan paling akhir adalah Mike Portnoy digantikan oleh Mike Mangini..
      Tiap pergantian itu selalu ada perbedaan warna musik yg mereka mainkan..
      Kalau saya sebenarnya lebih suka saat Kevin Moore berada di posisi keyboardist, dia bisa menciptakan lagu dan dia juga tidak terlalu sering memainkan keyboard dengan sound “irama digital”..

      Tapi siapapun personil yg diganti, Dream Theater tetaplah Dream Theater, salah satu band progressive metal yg sukses..

      “Mari kita giatkan dan galakkan GERAKAN DOWNLOAD BERAS agar kita bisa beli kaset sebanyak-banyaknya!”

  7. Muhammad Yunus Says:

    nah benar tuh Mas Budi,disaat era Kevin Moore Keyboard agak kurang nampak dimainin,pas Era Derek Sherinian Sound Keyboardnya agak terlalu Loud dan agak Lebay sih menurut ane….nah pas zamannya Om Rudes agak banyak masukin sdikit Synth ,begitu juga Drumnya disaat Era Portnoy saya dengar semua lagu ketukannya banyak menonjol apalagi pas Album Six Degrees,..dan masuknya Mangini saya masih No Comment.

    tapi benar kata Mas Budi..
    Tapi siapapun personil yg diganti, Dream Theater tetaplah Dream Theater, salah satu band progressive metal yg sukses..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: