The 40-Year ProgGraphy (9 of 40)

Gatot Widayanto

Dekade I : Study Tour Ke Yogya Bawa Tape Mono

Sekedar mengingatkan timeline terutama dalam pembagian Dekade

Sekedar mengingatkan timeline terutama dalam pembagian Dekade

Banyak yang menasehati bahwa masa lalu itu telah lewat dan kita kubur saja. Memang benar kalau kita akhirnya meratap karena masa lalu. Namun ada kalanya kisah menarik masa lalu bisa menjadi pembelajaran menarik, apalagi bila itu terkait dengan musik. Kenapa saya katakan demikian? Karena tak semua orang mengkaitkan suatu kejadian dengan musik. Sedangkan bagi saya, setiak walks of life saya kok selalu terkait dengan musik, apapun jenis musik itu meski kebanyak progrock atau sekedar rock. namun ada kalanya disco juga seperti lagu Heatwave bertajuk “Super Soul Sister” yang gak ngetop blas namun saya suka sekali karena di jaman SMA dulu saya punya kaset kompilasi disko rekaman Nirwana ada lagu itu. Keren banget.

Kali ini yang saya angkat adalah kejadian ketika saya masih SMP, kemungkinan besar kelas dua akhir (1974) atau kemungkinan kecil kelas tiga awal (1975) . Saat itu sekolah kami SMP negeri 1 Madiun, dibawah asuhan Bu Djohan (ibunya teman saya: Fuad Diponegoro), mengadakan study tour ke Kraton Yogya. Itulah kali pertama dan satu2nya kesempatan hingga kini saya masuk kraton Yogya. Saya tak ingat persis ada apa saja di dalamnya, meski saya sebagai tukang pembuat laporan dengan sobat saya Djoni (Hadi Muhardjono). Yang menarik sebenarnya bukan kunjungan ke kraton Yogya, tapi justr wisata di daerah yang ada danaunya (saya lupa dimana tepatnya). Saat itu teman saya ada yang membawa tape recorder mono merek National dari seri paling rendah. Kalau gak salah saat itu harganya relatif murah dan suaranya sangat pas2an karena memang mono. Namun enaknya, tape recorder ini handy karena bisa dibawa kemana-mana dengan mudah (dicangking – boso jowone). Ingat …jaman itu walkman belum terbayang blas lho. Jadi, saya sangat beruntung temen saya yang namanya Heru Sulistiko (wah dimana ya dia sekarang?) membawa tape ini. Untungnya selera musik saya dengan Heru maupun Djoni masih mirip-mirip, sekurangnya sama2 suka rock. Heru sukanya Black Sabbath. Djoni sukanya Pink Floyd. Tapi ya sama2 bisa saling suka musik rock lainnya.

Ketika itu saya lagi kagum-kagumnya dengan Yes Fragile yang edan itu. Namun ditengah kedanen saya pada Fragile, gara2 majalah Aktuil, saya tertarik banget pengen tahu musiknya Jethro Tull tuh kayak apa. Kalau liat foto2nya di Aktuil kok seperti gembel main suling karena bajunya compang-camping dan corak kotak2, pake rok kayak cewek; dan kontras banget sama Bay City Rollers (BCR) atau Slades yang saat itu juga sering pake celana kotak2. Akhirnya kepada mas Henky pula saya mengeluh. Akhirnya pas pulang liburan dari Yogya mas Henky membawa kaset Jethro Tull “War Child” rekaman Perina Aquarius hitam putih. Pertama denger saya langsung merasa aneh tapi kagum dengan musiknya yang dimulai dengan lagu “Bungle In The Jungle”. Lucu musiknya, dimulai dengan suara seperti orang muntah kolak “howek …howek” trus suara flute masuk. Biyuh! Kuweren pol meski lauwtjuuuuu banget. Tadinya saya merasa aneh dengan musik Tull. tapi lama kelamaan saya ketagihan dan seluruh lagunya menjadi enak dan akhirnya nuansamatik banget bagi saya. saya tak kan bisa melupakan pengalaman pertama saya dengan Tull ini. Sungguh mengharukan! Dari album inilah akhirnya saya kebawa ke Thick as A Brick dan Aqualung dan seterusnya. Dulu semua pernik sekolah saya selalu ada tulisan tiga grup favorit: YES – JETHRO TULL – LED ZEPPELIN. Saat itu saya anggap Deep Purple dan Rolling Stones band pasaran dan kacangan (maaf bagi penggemarnya ya), soalnya semua hidung tahu band tersebut. kalau LZ lebih berkelas … ha ha ha ha ….

The Serpent

Bukan Jethro Tull yang saya ingin bahas, tapi justru side B dari kaset War Child tersebut adalah Genesis “From Genesis to Revelation”; album yang banyak diremehkan oleh penggemar prog namun sebenarnya saya sungguh cinta banget sama album ini. Cintanya murni bukan karena musiknya prog namun justru karena melodi dan komposisinya yang sederhana banget, bahkan terasa lebih sederhana dari The Beatles. Lantas apa hubungannya dengan Study Tour? Nah …pada saat wisata di danau naik perahu dayung, saya sengaja memilih teman yang suka rock bisa satu perahu yakni Heru (yang punya tape recorder) , Djoni dan saya. Saat itu saya memang keranjingan kaset Warchild; tapi kok saya seneng banget dengan side B nya. Dan yang membuat saya tersentak adalah lagu sederhana bertajuk The Serpent yang diawali dengan hentakan bass sederhana namun groovenya bagus banget. Apalagi saat itu sedang mendayung perahu di danau yang tenang ….Whoa ….kita bertiga joget pake lagu indah The Serpent itu. Liriknya indah pulak:

DHUNG DHENG DHENG DHENG DHUK THAK ….

Dark night, planets are set
Creator prepares for the dawn of man
You’re waking up, the day of incarnation
Said you’re waking up to life

Images he made to love
Images of gods in flesh
Man is wonderful, very wonderful
Look at him
Beware the future

Whooooaaaaa….kami berjoget di atas perahu sambil memutar lagu ini sambil tereak2 kenceng:

Man is wonderful, very wonderful

Look at him

Beware the future

Wuediyaaaaaaaaaaaannnn….buwajindul nuikmatnya bukan maiiin!!!! Jauh lebih nikmat dari pada nyantap sambel tempe kesukaan saya lho. Biyuh biyuuuuuuh ……lagu kok huwenak tenan (saya menulis bagian ini sambil memasang lagu The Serpent ini dan mengulangnya 4 kali saat ini, sambil mata mbrebes mili inget kejadian indah …..oh nikmatnya …..).

Padahal dengan ukuran musik prognya seperti Supper’s Ready atau Firth of Fifth lagu ini gak ada apa2nya dan gak pernah dianggap sama penggemarnya karena dianggap sebagai lagu rohani sekelas The Bee Gees. bagi saya mah …bodo amat orang bilang album ini ecek2 ….efek energinya itu lho …luar biasa! karena setelahnya saya jadi semangat menyusun laporan study tour di rumah dinas bapak Djoni, Karesidenan Madiun. Oh ya selain The Serpent, kami juga joget dengan lagu riang gembira “In The Beginning” – lucu pol musiknya, kayak orang ngamen pake ecek2 … ha ha ha ha …

Trus yang bikin nyesek ati itu lagu sesudahnya yang bertajuk “Am I very wrong?” (sebuah judul lagu yang humble banget dan dinyanyikan dengan mantab sekali oleh Gabriel) …..oh edan diyancuk tenan …bar The Serpent dihajar kambek “Am I Very Wrong?” opo ora ngguweblak jal!!!! Aku menungso biasa yang punya ati rempelo melankolis juga …

Am I very wrong
To hide behind the glare of an open minded stare
Am I very wrong
To wander in the fear of a never ending lie

Jiangkrik! Nangis bombay sesenggukan tenan! Gemblung lagu ini …

Yang juga sangat teatrikal adalah lagu bertajuk “Where The Sour Turns to Sweat” dengan intro yang sangat menarik:
We’re waiting for you
Come and join us now
We need you with us
Come and join us now

Sederhana namun menohok sekaligus mengajak orang bergabung. Saya pakai lagu ini kalau lagi kasih workshop mengajak orang masuk ke kelas setelah rehat kopi. Mantab bukan? Oh ya …pada saat temen2 ITB bikin Apresiasi Musik Genesis di Mario’s Place sekitar tahun 2008 lalu, saya ikut nyanyi diawali lagu ini “We’re waiting for you ….come and join us now …” trus hajar masuk SQUONK. Ha ha ha ha ….berani tampil juga saat itu. Tapi memang lagu ini menggairahkan sekali apalagi bila digabungkan dengan In The Beginning. Whoooaaaa….manteb jek!

Sekian dulu deh … kalau dituruti kagak ada habisnya ngomongin album debut Genesis ini.

Saya bersyukur sekali di saat abis sakit dimana mendengarkan musik menjadi bukan menyenangkan lagi, namun dengan From Genesis to Revelation yang ringan dan menghibur bisa menambah semangat saya untuk berkarya. Mantab sekali menikmati album ini di saat badan meriang kemarin …syahdu …. (sekarang ini mengalun Fireside Song yang juga nikmat …). Pokoke Genesis manteb dah!

(ditulis Jumat, 28 November 2014 pukul 8:45)

Tret selanjutnya (nomer 10)

Dekade I : Break Dance dan Cockpit

 

15 Responses to “The 40-Year ProgGraphy (9 of 40)”

  1. kukuh tawanggono Says:

    Mas Gatot guru kulo

    Remen sanget manah kulo saget ningali njenengan sampun saras(bahagia hati saya melihat njenengan sudah sembuh)….
    Alhamdulillah.Saya dapat kabar itu dari mas Herwinto via sms saat sedang di masjid,jadi njih itu saya kaget.
    Tulisan yg njenengan tulis ini adalah pembuktian komentar saya beberapa saat lalu,betapa pondasi prog njenengan memang kuat.Mengenai JT saya kok jadi ingat pendapat njenengan tentang Iron Maiden yg terpengaruh orang ini.Memang saya akui leres(benar) sekali pendapat njenengan mas.Permainan Irma(terutama bagaimana mereka memainkan tempo)kurang lazim dalam genre metal.Permainan model ini hanya bisa kita dapatkan pada genre prog.

    Salam saya untuk njenengan sekeluarga
    Ttd
    Harya Kukuh Tawanggono

    • hippienov Says:

      Ola Mas Kukuh, piye kabare? Aku langsung nyamber begitu baca njenengan menyebut nama Iron Maiden. Aku suka sekali mereka terutama album-album lawasnya. Aku lupa kapan pastinya aku mulai kenal dan akhirnya suka dengan Iron Maiden tapi sepertinya saat aku SMP dan lagu “powerslave” yang sampai sekarang masih membuatku kagum, lagu metal dengan nuansa padang pasir, keren…

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Hippie sedulurku lanang sing paling tak tresnani

        Ha ha ha…Alhamdulillah mas saya baik-baik saja,saya berharap njenenganpun demikian.
        Saya memang sudah sejak lama mencium ketidak laziman ini, kalo ndak salah ketika saya pertama kali berkenalan dengan mereka di album Killers.Sejak itulah saya terpikat dengan musik mereka hingga akhirnya membuat saya mengkoleksi album-album mereka secara lengkap.
        Ngomong-ngomong bagaimana perkembangan proyek njenengan untuk mengumpulkan album-album metal lama.Kalo saran saya mending njenengan tembak yg versi cd mas daripada yg versi kaset.Saya kemarin lihat di FB kaset Gorgut(itupun versi garapan)dijual 75.000,itu kan ndak masuk akal.
        Selamat berburu mas Hippie

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Kukuh …
      Matur nuwun sanget mas. Alhamdulillah berkat doa mas Kukuh dan teman2 di blog gemblung lainnya, serta keinginan kuat saya untuk sembuh akhirnya disembuhkan oleh Allah swt dengan catatan: saya harus lebih hati2 lagi. Selama ini mungkin saya agak sombong padahal ini hal yang dibenci Allah karena suka meremehkan hal kecil seperti kodanan (kehujanan). Tadinya saya pikir wong pake payung kok, hanya kehujanan sebagian badan aja, masak sakit sih? Eh …ternyata …. Saya diberi peringatan keras sama Allah dan ambruk total hari Selasa. Semoga saya banyak belajar dari sini mas … Semoga bisa. Yang jelas, saya masih belum berani gowes karena cuaca Jakarta sering hujan mendadak mas.

      JT memang unik dan memang benar Steve Harris penggemar berat JT. Setuju sekali musik IrMa beda banget, seolah menggabungkan classic rock dengan metal. Nah …akar classic rocknya pun bukan sebangsa DP atau LZ yang dipakai pakem tapi suara sengau dan ritem ala naik kuda lumping seperti lagu JT itu yang diambil. Liat aja Flight of Icarus …mana ada miripnya sama pakem DP atau LZ. Lagu itu memang enak buat dolanan Jaranan ….kuda lumping …endhut endhut gitu ….ha ha ha ha …

      Tak salah bila Irma masuk dalam ProgArchives …karena albumnya yang Seventh Son itu memang prog sih …. Can I Play With Madness ?? Dhuk thak dhung dhung jek ejek ddhung …. ah dadi pengen dengerin IrMa lagi …. Meski saya penggemar prog, CD IrMa saya kumplit plit. Tapi gak ada box set…album per album, beli di Jalan Surabaya dulu sebelum jaman Blok M Square.

      Senang mas Kukuh muncul lagi. Maaf kalau kemarin balasan SMS saya datar mas. Muwaleeeees pol saat itu! Aku kapok lara koyok ngene iki …jiyan ora kepenak blas!

      • kukuh tawanggono Says:

        Mboten napa-napa(ndak apa-apa)mas Gatot.
        Mas Gatot tempo yg dimainkan IrMa ini justru kalo menurut saya menjadi sebuah kelebihan yg mereka miliki dan tak dimiliki oleh band-band metal lainnya.
        Njenengan membahas Peter Gabriel saya jadi merindukan sosok musisi yg gaya panggungnya begitu teatrikal,karya yg disuguhkan bener-bener penuh filosofi……
        Beberapa bulan yg lalu saya menonton konser musisi yg satu ini via tv kabel dan membuat orang-orang dirumah keheranan.Sudah menjadi tabiat saya apabila mendengarkan musik yg tidak keras selalu protes,akan tetapi ketika melihat si Peter Gabriel ini saya cuma diam dan menyimaknya secara serius.Sungguh sebuah pengalaman mengasyikkan dalam menikmati sebuah karya seni.

      • Gatot Widayanto Says:

        Waduh …pada saat progrng di TMII di tempat mas herman saya bawa DVD Peter Gabriel live with New Blood Orchestra. sayang saat itu ada masalah di player sehingga gak bisa nonton. Tapi memang kita lebih suka ngobrol sih kalau ketemu … ha ha ha ha ….

        Konser2 PG selalu sempurna dari segi tata panggung maupun pencahayaan. Edan …Coba cari yang ada lagu Signal To Noise. Dijamin nangis sesenggukan … Edhan!

  2. Edi Apple Santoso Says:

    wuassiiiik puoll, aku ndhisik yo luwih seneng led zeppelin timbang deep purple, langsung muter dazed and confused album the song remains the same …….

    • Gatot Widayanto Says:

      Dazed Confused versi live The Song remains The Same itu paling mumet dan baru bisa dinikmati bila sambil minum Es Temu Lawak di Apple Cafe …. Kalau situasi normal …jangan harap dah bisa mencerna ….qiqiqiqiqiqi ….

      Jadi inget suatu siang sekitar 5 tahun lalu sedang jalan2 di Ambassador mall, masak musik yang dipasang di speakernya mall adalah Dazed and Confused? Pow ra edan tenan kuwi pemilik mall nya. Saya kaget pol! Versi studio sih …. tapi salut saya ….

  3. hippienov Says:

    Aku juga suka dengan debut album Genesis walau di album itu Genesis belum melintir musiknya (nge-prog) dan sama dengan Mas G, lagu “am I very wrong?” adalah salah satu yang sangat aku suka.
    aku inget dapetin kaset album ini barengan dengan album “the lamb lies down” rilisan Saturn, judulnya “Genesis “from beginning until now vol. 1” dan vol. 5. Kalo gak salah dapetnya di Jasur dengan harga Rp 5,000 per biji.
    Bodohnya saat aku punya rejeki dan bisa beli cd debut album Genesis, kasetnya aku berikan ke temen kantor sesama penggemar prog, sekarang nyesel banget karena nyari-nyari kaset yang sama dan gak pernah ketemu lagi.

    • Gatot Widayanto Says:

      Waduh mas Hippie …kaset itu sekarang jadi buruan kolektor tuh …bisa jadi dijual 60 ribu per kaset nya …tapi harus beli satu set … ha ha ha ha ….edan pancen.

      • hippienov Says:

        Duh makin nyesel aku mas G…hiks…pengin rasanya kalo bisa ketemu temenku itu akan kuminta balik kaset Genesis Vol. 1 yang dulu aku kasih. Aku beli juga gak mengapa.. Nyesel banget…

  4. Gatot Widayanto Says:

    Oh ya …saya lagi cari kaset JT “War Child” rekaman Aquarius hitam putih. Kalau ada yang punya, tolong infokan ke saya. Saya punya raib. Nuansamatik pol tuh kaset. Edan!

    Tadi coba browsing fotonya kaset tersebut di google dengan kata2: “Kaset Jethro Tull War Child rekaman Perina Aquarius”. Tahu gak apa yang muncul? Semua gambar kaset yang ada di blog gemblung ini …semuanya gwmusic …bahkan beberapa halaman ….wakakakak …..tak ada blog lain yang lebih gemblung dari gemblungnya kita ya rupanya??? Ha ha ha ha … Wong gemblung kabeh pancen ….ha ha ha ha ha …

  5. andria Says:

    pak gatot, ini membahas tentang danau tadi,. setahu saya di Yogya nggak ada tempat berdayung, jangan2 itu di kebun bintang Gembira Loka ya? ada kolam gede yg saat saya kecil sepertinya luas banget.
    anak saya yg perempuan sepertinya sdh jadi orang madiun/magetan tulen. kl heran dia bilang “biyuh” seperti pak gatot itu😀

    • Gatot Widayanto Says:

      Bisa jadi mas Andria …Atau mungkin danau buatan ya? Saya gak tahu Yogya blas mas.
      Ha ha ha ha …itu bahasa Mediunan …biyuh biyuh …..

  6. Gatot Widayanto Says:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: