The 40-Year ProgGraphy (5 of 40)

Gatot Widayanto

Dekade I: “Mak Jedhandhut” Njumbul nGgumun Jumpa Musik Prog

Ini sebenarnya kisah yang tadinya sederhana sekali dimana dimulai dari pembicaraan dua orang murid SMP Negeri 1 Madiun yang saat itu menginjak kelas 2, tepatnya pada tahun 1974. Seorang teman saya yang ndhugal (nakal – red,) bernama Tjahaja Utama (apnggilannya Yayak) di sekolah memberi tahu saya bahwa ada band namanya ELP dengan lagu berjudul “Yes”. Kontan setelah sampai di rumah jalan Sumatra 26 (sekaang nomer 28 – red.) Madiun saya mengambil secarik kertas untuk menulis surat kepada kakak saya, mas Henky, yang saat itu kuliah di Fakultas Ekonomi UGM dan ngekos di Gowongan Kidul (kalau gak salah nomer 56). Isi suratnya ringkas padat, intinya saya minta direkamin lagu berjudul “Yes” dari kelompok yang menamakan dirinya ELP. Blas! Saat itu saya belum tahu makna ELP itu apa dan juga lagu berjudul “Yes” itu seperti apa.

Pas mas Henky liburan ke Madiun, benar saja dia membawakan saya sebuah kaset dengan pita Maxell “Low Noise” yang seri lama dan belum ada istilah “UD” yang isinya justru nama band YES dan lagu pertamanya “Roundabout” sedangkan side B nya band namanya ELP dengan album yang saya tak tahu apa yang jelas ada lagu yang kayak “banyu umup” (blekuthuk2 musiknya kayak air mendidih gitu ….) yang akhirnya kita semua tahu album Brain Sallad Surgery. Karena penasaran dengan lagu bertajuk “Yes” tentu saya setel band YES dulu.

Dan,,,,……bener2 “mak jedhandhut!” saya njumbul abis2an mendengarkan lagu pembuka bertajuk “Roundabout”. Biyuuuuuuuuuuh ……!!!! Musik kok ciamik cemampik kemplik cuwanntik tenan …. Mana saya pernah nyangka ada musik indah yang dimulai dengan suara “……ngggggTHING” yang khas itu. Abis itu petikan gitar akustiknya juga menawan dengan suara dawai yang sengau namun menyemburatkan ketegasan. Sungguh saya kagum dengan intronya dan belum tahu siapa saja musisi yang main, lha wong baru pertama kali denger nama Yes. Saat itu pemain gitar yang saya tahu ya cumak Ritchie Blackmore, Rory Galagher dan Marc Bolan. Dua nama yang saya sebutkan hanya saya tahu dari Aktuil, tak pernah denger musiknya kayak apa. belakangan saya tahu Marc Bolan itu gitaris dodol kecimpringan ora huwenak blasssss … ha ha ha ha … Tak hanya intronya saja dari Roundabout ini yang berhasil menohok ulu ati saya, struktur musiknya pun gak standar plus sering gonta-ganti style dan tempo. Selain gitar yang menjadi perhatian saya adalah kibor yang banyak tukikan maut dan kemudian dibalut dengan suara snare drums yang sungguh beda dari umumnya musik rock. JRENG dah! Sejak itu hatiku tertambat kepada band yang namanya YES ini. Uwediyaaaaaan ….! Bahkan Roundabout ini selalu saya senandungkan ketika berangkat atau pulang sekloah sambil jalan kaki. Ingat, jaman itu mendengarkan musik hanya bisa di rumah karena Walkman belum ditemukan, apalagi iPod.

Prejengan saya ketika lulus SMP. bayangin bocah ndesit muka kampung gini jaman dulu sudah bisa menikmati YES "Fragile" dan ELP "Brain Sallad Surgery" ... Huopppo tumoooon???!!! Cah Mediyun sisan rek! Nduwesit pol!

Prejengan saya ketika lulus SMP. bayangin bocah ndesit muka kampung gini jaman dulu sudah bisa menikmati YES “Fragile” dan ELP “Brain Sallad Surgery” … Huopppo tumoooon???!!! Cah Mediyun sisan rek! Nduwesit pol!

Ha ha ha ha ...mas Edi kreatip tenan ...mosok dibandingkan sama John McLaughlin ... ha ha ha ha .... (edited 13 Nov 2014, based on dab Edi Apple comment)

Ha ha ha ha …mas Edi kreatip tenan …mosok dibandingkan sama John McLaughlin … ha ha ha ha …. (edited 13 Nov 2014, based on dab Edi Apple comment)



image

Dari mas Rizki: " Sepertinya ini juga teman sekolah Mas Gatot, he he he

..." (15 Nov 2014)

Selain Roundabout, saya juga suka dengan Southside of The Sky yang musiknya miris banget dan terasa sangat tematik banget tuh lagu. Di bagian awal yang ada angin ribut dan kemudian drums masuk itu rasanya nuansamatik kemlitik tenan. Melodi lagunya sungguh nunjek ulu ati apalagi pas dibagian menjelang chorus dan terutama chorusnya. Wah menggelepar tenan saya dibuatnya oleh lagu aneh ini. Dalam hati saya mbatin “Hebat juga ya mas Henky tahu aja ada musik ajaib kayak gini. Apa karena dia jadi penyiar radio ya? Ah …nikmat juga kalau jadi penyiar ya, bisa setiap saat mendengarkan musik selama 24 jam dan paling duluan dapet PH nya … Ah mau jadi penyiar radio aja ah …!”. Sungguh, Yes telah nyirep saya menjadi melupakan jenis musik lainnya apapun yang ada di muka bumi. Lagunya Deep Purple kayak Woman From Tokyo atau Strange Kind of Woman atau Fools yang dulu saya gandrungi terasa seperti musik pop gak ada tantangannya blas, karena cumak lurus2 aja, tambah gitar solo, kibor solo …trus selesai. Lha? kapan musical orgasm nya? Kalau di Yes (yang baru beberapa tahun kemudian saya tahu bahwa nama albumnya “Fragile”) di setiap menit selalu ada orgasmnya lha wong nikung terus, sehingga di akhir lagu kita lempoh (loyo – red.) menderita kepuasan paripurna.

Sekolah saya semakin semangat sejak mengenal YES sehingga di kelas saya selalu mendapatkan ranking paling tidak nomer 3. Lha, apa hubungannya YES dengan prestasi sekolah? Bagi saya ya jelas ad to, lha wong kalau belajar saya selalu mendengarkan musik. Ketika dapat musik yang “menggairahkan” seperti Fragile ini, birahi saya buat beajar makin meningkat karena adrenalin dipacu terus buat selalu belajar dan belajar. Saya mulai kenal kopi tubruk di masa ini meski hanya konsumsi saat mendekati ulangan saja. Masih ingat saya, bu guru bahasa Inggris saya yang cantik sekali, namanya ibu Herawati (almarhum dan semoga beliau masuk surga – amiin …), selalu menunjuk saya untuk PR yang sulit dikerjakan oleh siswa lain. Gak rugi mendengarkan Yes karena nilai bahasa Inggris saya tergolong moncer kala itu. Ya jelas aja wong masih tarafnya dulu “This is a car. This is a comb” masih belum menyentuh Past Participle yang rumit itu … ha ha ha ha ha … Ilmu Ukur saya nilainya juga bagus dan dipuji sama Pak Bagio (alamarhum juga, semoga masuk surga. Aamiin). Aljabar? Jangan tanya …saya sempat disayang Bu Salbiyah (alhamdulillah beliau masih sehat di Madiun, usia 91 tahun, dan pernah saya ulas di artikel di sini). Wis to …pokoke prestasi sekolah gemilang gara2 prog … Gak percaya? Rugi nek ra percoyo mbek aku.

Sebenarnya, jujur saja, otak saya itu gak encer bahkan lambat von lemot kalau belajar. Namun semangat saya untuk menjadi juara sangat membara apalagi dengan kompor sumbu 48 yakni musik prog ala YES dan ELP. Wah …saya giras banget belajar dan semboyan saya adalah (gaya ya, masih kecil sudah punya visi meski ecek2 …) “ketekunan demi kesuksesan”. Kalau orang lain bisa menyerap persamaan Aljabar dalam waktu 15 menit, untuk saya perlu waktu satu jam. Artinya, saya lemot alias lemah otak. Namun alhamdulillah ada musik prog indah yang tinggal saya bolak balik saja kasetnya ping kopang kaping sampek bodhol sehingga “endurance” saya dalam belajar bisa lama sekali. Sejak SMP saya sdh biasa tidur tengah malam. Lucunya, saya belajar kalau maunya sendiri. Kalau disuruh belajar sama ibu, saya malah nonton tv karena mangkel …gak suka disuruh-suruh.

Singkat kata , bagi saya pribadi, pengaruh musik dalam kehidupan saya sangat besar sekali …makanya memang dari dulu saya sudah menerapkan “music for life” …. Bagi saya musik adalah semangat yang membara an bisa meletupkan api di dalam diri untuk meraih yang terbaik, paling tidak bagi diri saya sendiri, bukan dibandingkan dengan orang lain. Bukti nyatanya selama kelas 2 dan kelas 3 SMP saya selalu masuk dalam kelas “khusus” (kalau istilah sekarang ya akselerasi) padahal saya lemot …

Sejak Fragile, saya memburu semua hal terkait YES, termasuk Yessongs (terpesona dengan “Perpetual Change”), Relayer, Tales dan juga Rick Wakeman “Journey to the Center of The Earth”. Yang mempesona dari Perpetual Change itu kocokan gitarnya sungguh membahana jiwa (opo kuwi?). Saya rasa Perpetual Change itu judul lagu yang visioner sekali dan terbukti EMPAT PULUH TAHUN kemudian saya menjadi Change Management consultant ….he he he … Makanya “Change before you have to!” JRENG!

Salam prog,

G

No music as great as PROG

And you have to believe it, or …die!

Slide2

9 Responses to “The 40-Year ProgGraphy (5 of 40)”

  1. apec Says:

    Ha..ha…ha…lihat fotone mboyss pollll

  2. Edi Apple Santoso Says:

    senyum sedikit, wis koyo john mclaughlin electric guitarist ….

  3. santo Says:

    wah mas gatot ceritanya sm fotonya uyu banget…bener2 geli baca ceritanya … kl saya br denger fragile pas sma th 88 jauh banget periodenya sm mas gatot yg dengernya th 74 masih fresh

  4. Koh Win Says:

    Trimakasih mas G telah menulis tret yang punya ”roh”, mrebes mili tenan saya baca tret ini….sampai sekarang saya kalau baca kitab kitab fisika juga sambil dengerin prog, daya serapnya lebih cepat megena….tuobz…

    • Gatot Widayanto Says:

      Semuanya masih “jernih” di ingatan saya Koh Win … ha ha ha … Memang musik prog itu dahzyat sekali ya … Sejak Fragile saya bisa menikmati Nursery Cryme lebih utuh ….

  5. Gatot Widayanto Says:

    Wah caption foto Phil Collins kiriman mas Rizki kok gak keluar ya? Payah nih wordpress. Terima kasih mas Rizki atas kiriman foto temen SD saya mas Collins ….wakakakak … Updated 15 Nov 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: