Nostalgia Klenèngan di Magetan

Andria Sonhedi

image

Hari sabtu & minggu kemarin saya  tidak pergi jauh2 dari rumah saya di Magetan. rasanya beneran punya rumah memang menyenangkan, apalagi suasana sekitar rumah mmg sepi. Seandainya waktu pak Gatot mampir ke rumah saya kemarin menengokkan leher ke kiri dari tempat duduknya maka akantampak panorama Gunung Lawu. Kebetulan di barat rumah saya terhampar lapangan luas tanpa pohon sehingga pemandangan ke gunung Lawu bisa mudah terlihat.
Selama ini isteri saya yang sering memutar mp3/vcd lagu2 80-an Indonesia dengan dvd player + speaker sederhana yang sering dipakai untuk komputer. Tape compo kami sementara masih belum bisa dipakai karena ada kabel yang dimakan (tepatnya digigiti) tikus. Saya malah jarang nyetel musik di rumah, maklum musik2 saya dianggap aneh dan cuma saya sendiri yang mampu mendengarkan & merasakan keindahannya🙂
Ketika kami pindahan bulan Juni kemarin semua barang memang masuk kotak termasuk koleksi kaset/CD/DVD/VCD saya, dan untuk menyegerakan pindah barang2 tadi langsung saja disusun di rumah baru tanpa aturan. Perlahan-lahan tiap minggu kami menatanya kembali walau ada juga yang tidak ingat ditaruh ke mana waktu pindahan🙂

image

Sambil menyampuli kotak CD & VCD  dengan plastik supaya tak ada semut yang bersarang tanpa, sengaja saya menemukan beberapa kaset lama saya yang sepintas sangat tak berhubungan dengan kegemaran saya mendengarkan musik yang tak terlalu kalem.
Sekitar awal 2000-an saya memang sedang jenuh dengan musik alternatif, apalagi Nu Metal. Rasanya kok tak ada lagi musik-musik hard rock yang melodius, ada solo gitarnya, berisik tapi menyenangkan. Saat itu saya sempat membaca kalau grup Guruh Gipsy termasuk yang mempelopori perpaduan musik barat dan gamelan Bali.  Jaman itu saya belum tahu internet apalagi download mp3 makanya saya agak penasaran juga. Di toko kaset jelas tak ada, out of print. Selama itu saya cuma tahu kl campursari yang berhasil memadukan gamelan & alat musik modern. namun ya itu, akhirnya banyak yang cuma jadi lagu pop Jawa. Lama-lama saya pikir kalau bebunyian aslinya, gamelan Bali, masih ada yang jual ngapain saya harus repot-repot mencari fusion gamelan & alat musik modern.
Akhirnya saya pergi ke pasar Bringharjo, pas libur karena saya ngantor di Sidoarjo kala itu, nyoba cari kaset gamelan Bali yang seken. Mengapa saya cari yang gamelan Bali? soalnya iramanya saya anggap masih bisa disejajarkan dengan speed metal😀 Gamelan Jawa saya anggap lebih ngeblues. Akhirnya dari beberapa kali datang ke unggunan kaset Pak Tris di los Utara pasar Bringharjo berhasil menemukan 4 kaset gamelan Bali. Alasan lain karena waktu itu kaset2 di tempat pak Tris cuma dijual Rp.2000 sehingga saya anggap itu sama dengan beli dawet aja bila akhirnya gagal membangkitkan minat saya. Memang sih tak selalu cocok dengan beberapa lagunya tapi masih lumayan daripada telinga dibombardir lagu2 Nu Metal/Hip Metal🙂 Saat ini karena belum ada tape compo maka kaset gamelan tadi belum sempat saya setel di rumah.


evil has no boundaries

10 Responses to “Nostalgia Klenèngan di Magetan”

  1. Apec Says:

    Mas Andria, jangan salah, saya juga menyukai musik2 gamelan..demikian juga degung sunda..malah terakhir 2 minggu lalu dapat kaset berisi instrumentalia dengan dominan suling Sunda dan Gamelan Bali..Kalo Degung Sunda disetel pas habis Shubuh sambil nyapu rumah ( maklum tanpa asisten rumah tangga)

  2. herman Says:

    Kok nyetrum ya….saya juga beberapa hari yang lalu mendengarkan musik gamelan…..dengan kacamata musik modern saya mencari yang mana sebetulnya melodinya musik gamelan dan mana ritem atau rifnya….sementara saya menemukan sepertinya demung itu berfungsi sebagai ritem ( mudah2an gak salah ) dan juga adanya nada – nada yang ” minor” yang bikin didengarnya jadi enak gak kalah sama musik klasik …Mas Andria, kalau sudah sempet di setel kaset gamelannya diulas dengan kacamata metal n progmetal…..pasti sueeruu….

  3. Apec Says:

    Pak Herman, dari kacamata saya saya merasa gamelan itu seperti jiwa orang kita yg harusnya tdk boleh bersifat individualistik..kalo musik barat (Eropa) ( termasuk musik klasik) itu bisa ada unsur solo ( yg bisa merepresentasikan individualisme) dan menekankkan komposisi..kalo musik dari Afrika kuwi lebih menekankan ritme..tapi kalo gamelan (jawa khususnya) itu lebih mengedepankan harmoni, dimana slah satu unsur alat musiknya tidak bisa melakukan solo karir..jadi tidak ada yg bisa menonjolkan diri ( coba bayangkan kalo gong itu bersolo karir, uanehh gak bisa dinikmati, paling cuma bisa untuk meresmikan suatu acara seremonial saja, kemung juga begitu. Bandingkan dengan Drum yg bisa dipakai solo, gitar ataupun biola yg juga demikian).. Gamelan baru bisa dinikmati dan dirasakan kalo semua berbunyi dan saling menjaga keseimbangan satu sama lain..
    Ngomong opo iki yooo..he..he…. mohon maaf bila ada yg berbeda pendapat.

  4. andria h8 Says:

    pak Apec, pak Herman & pak gatot, kebetulan tadi saya pulang sendirian ke Magetan dari Blora. Awalnya saya nyetel mp3 grup power metal baru dari Swedia Twilight Guardian, namun karena gangguan mp3 player saya maka akhirnya saya nyaut kaset Legong bali yang paling kanan itu untuk saya setel di tape mobil. Sayangnya ada beberapa bagian yang sudah mleyot walau salah satu sisinya masih lumayan enak didengar. Iringan tari Legong ini agak mirip juga dgn salah satu lagu twilight Guardian tadi😀 Analisa saya yang awam ini dalam 1 lagu ada tempo lambatnya yang sayup-sayup suara gamelan di belakang lalu tiba-tiba gemuruh. Suara gemuruh nyaring itu sepertinya pas para penarinya mempercepat irama tarinya, tangannya bergerak lebih cepat & matanya yg lirak-lirik itu (saya lupa istilahnya). Selama 1,5 jam perjalanan tak terasa 2 kaset saya setel. Rasanya kok tak terganggu dibanding kl saya nyetel lagu pop wl yg manis sekalipun😀 sayangnya pas saya mau ganti kaset ketiga ternyata pitanya masuk cukup banyak ke roda & terpaksa saya gunting, jadi kaset yg ke-2 dari kanan itu terpaksa harus pensiun 😦

  5. herman Says:

    Pak Dokter …..matur nuwun…..jadi tambah modal buat mendengarkan musik nenek moyang kita…..kalau ada buku yang bisa dibaca saya minta info judulnya…….
    @ Mas Andria ….kok sama ya Mas…saya juga nggak terganggu dengan musik gamelan (tapi yang klasik ya bukan campur sari )….saya seperti menemukan dimensi baru dalam dunia musik….dan lucunya saya selalu melihatnya dengan kacamata musik barat termasuk musik prog….padahal dulu waktu awal saya suka musik prog kalau ada yang nyetel gamelan saya nggak suka…

  6. hippienov Says:

    Mas Andria, pita kaset yang putus masih bisa disambung kok walau nanti lagunya jadi “wagu” tapi ndak mengapa karena kaset yang njenengan punya kuwi termasuk artifak sejarah musik tadisional nusantara. Sayang kalo harus dipensiunkan.
    Mengenai suara kaset yang ngegelayut biasanya aku coba akali dengan menyimpan kaset dengan problem ini ke dalam kulkas/freezer selama 1 harian, setelah itu aku jemur di bawah terik matahari tapi jangan terlalu lama, takutnya nanti malah mengakibatkan casing kasetnya kembung.
    Selamat mencoba mas

  7. Edi Apple Santoso Says:

    bjork dadi sinden, sugeng midhangetaken ……

  8. Gatot Widayanto Says:

    Sayang sekali kaset maupun CD gamelan saya kok lupa naruh dan lupa judulnya apa ya … memang hebatnya gamelan itu pake tangga nadanya seperempat atau disebut juga pentatonis kalau ndak salah … yen salah yo wis tak unthal dewe wae … ha ha ha ha …sepuntene ingkang kathah …. wakakakakakakak ….

    Bangga juga punya instrumen gamelan ini karena unik dan sulit dikombinasikan dengan instrumen musik yang konon diatonis …

    Dadi kangen BALI AGUNG sama TITIK API …

  9. herman Says:

    mas Edi terima kasih informasinya video Bjork nyinden ( menjadi penyanyi diiringi gamelan)…..saya sangat mengapresiasi upaya mereka memadukan musik gamelan dengan musik modern (band)….saya juga jadi inget seorang musikus wanita jepang yang membeli satu set gamelan dan dibawa pulang ke negaranya, kemudian secara berkala berlatih dan berkarya dengan gamelan tadi….dan semakin menghargai album Guruh Gipsy yang telah diciptakan dengan penuh semangat dan idealisme yang tinggi,…dan melalui bookletnya kita bisa mengetahui bagaimana penguasaan Mas Guruh akan musik gamelan bali…..saluut
    sepuntene ingkang kathah menawi wonten kalepatan…..(mohon maaf bila ada kesalahan )…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: