Steely Dan “Can’t Buy A Thrill”

Rully Resa

image

Grup musik Serieus asal Bandung pernah bernyanyi: “Rocker juga manusia punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati!”. Saya rasa progger juga pantas demikian. Jadi walaupun saya senang mendengar musik prog tapi kalau hati sedang tidak mood ngeprog apa boleh buat! ceritanya, bulan lalu hasrat mendengarkan prog agak kurang, karena lagi senang mendengarkan musik jazz. Sempat gandrung dengan Bill Evans, Wynton Marsalis dan Frank Zappa. Kemudian tiba-tiba saya beralih senang musik yang banyak harmonisasi vokalnya seperti Simon and Garfunkel, Queen. Akhirnya saya ‘ketemu’ dan kemudian intens mendengarkan Steely Dan. Walaupun cenderung lebih ngepop daripada jazz atau rock tapi saya senang dengan album-album mereka, terlebih Can’t Buy a Thrill.

Sebenernya perkenalan dengan Steely Dan tidak dimulai dari situ tetapi jauh sebelumnya saya sudah pernah terlebih dahulu mendengarkan album Aja. Tapi ketika itu agak kurang sreg dengan album Aja yang terasa sekali jazz rock era 80annya. First impression terhadap Steely Dan tidak begitu bagus. Setelah browsing dan ngobrol dengan teman-teman, semua menyarahkan album Can’t Buy a Thrill untuk didengar.

Tidak perlu waktu yang lama untuk menyukai album ini karena memang lagu-lagu di dalam album tersebut seluruhnya bagus dan mudah dicerna ketika pertama kali didengar! (mudah dicerna bukan berarti murahan dan cheesy). Saya senang sekali mendegarkan bebunyian perkusi yang banyak terdengar diseluruh album. Bahkan permainan perkusi dilagu pembuka “Do it Again” sangat catchy dan mengajak bergoyang (walaupun sangat terasa nuansa psychedelicnya, mau tidak mau yang terbayang adalah tarian para gipsi). Saya makin dibuat penasaran dengan grup ini, karena setelah browsing sana-sini dapat informasi ternyata Donald Fegan dan Walter Becker (duo pendiri grup Steely Dan) sangat perfeksionis dalam bermusik, dalam satu lagu begitu banyak unsur yang digunakan dan sangat rewel jika tidak sesuai seperti yang mereka inginkan. Dari situ saya merasa seperti disungguhkan karya terbaik dari musisi-musisi handal.

Kesenangan saya akan harmonisasi vokal terbayarkan pada lagu ‘Reelin’ in the Years’, Pecah suara pada bagian reffnya enak sekali dinikmati dan dinyanyikan. Begitu pula dengan lagu “Dirty Work” lagu yang sedikit bernuansa country ketika masuk bagian reff pendengar seperti diarahkan untuk bernyanyi bersama-sama. Steely Dan mulai banyak menggunakan backing vokal wanita setelah album pertamanya (saya pribadi lebih senang bila backing vokalnya suara wanita). Itu juga menjadi salah satu alasan saya untuk treus menggali album mereka selanjutnya.

Sebagai seorang pencinta musik prog, saya memilih tidak mau jadi jamaah prog garis keras dan fundamentalis (keren ga nih istilahnya? whehehe) yang menolak mendengarkan musik lain. Justru dengan mendengarkan musik lain, menurut saya, dapat menambah khasanah pengetahuan musik dan bisa menjadi cara saya dalam mengkompromikan transformasi musik prog dari jaman ke jaman.

Sekian dari saya, Salam

Sent from my iPad

26 Responses to “Steely Dan “Can’t Buy A Thrill””

  1. Gatot Widayanto Says:

    Thanks Rully ! Lagi tugas di Bali pun masih sempet bikin ulasan keren! Mantab dah!
    Atau karena di Bali ya …suasananya musik muluk …. Ya gak sih? Qi qi qi ….

  2. Rully Says:

    terima kasih Om G sudah memuat tulisan saya. Sebenernya curhatan diatas sudah saya tulis seminggu lalu separonya lalu baru diselesaikan tadi sebelum jumatan. heheh

    • Gatot Widayanto Says:

      Senin 8 Sep 2014 pagi hari saya melihat Rully dengan koper besarnya di baggage check in Garuda. Saya tereakin memangil namanya …namun Rully terus berjalan tanpa menoleh. Saya telpon , mati HP nya. Nasib

  3. Koh Win Says:

    Ha ha ha ha mungkin saya termasuk jama’ah prog ekstrim,fundamentalis,garis keras ya…..ha ha ha…..

    • Edi Apple Santoso Says:

      pejah gesang ndherek prog ……

      • Gatot Widayanto Says:

        Ahay …seru banget …
        Steely Dan memang grup claro. Memang musiknya nanggung sih … Gak rock juga.

        * lagi di Corelli. Blok M Square kering koleksi kasetnya gara2 Kolektor Kelas Wahid sekarang bermukim di Jakarta, hijrah dari Aceh …. Gigit jari kagak ada kaset lagi ….sambik tepok jidat …. *

    • Koh Win Says:

      Kalau saya sudah tidak ada waktu lagi buat dengerin yang tidak prog…..lhah yang prog ajah seluas samudera sampai saya keponthal ponthal ngikutinya….The Tangent aja saya baru 2 album udah gak hilang hilang nikmatnya….masih menunggu deretan prog Transatlantic, Steven Wilson, Porcupne Tree, Spock’s Beard, IQ, Kaipa, Cast, The Watch, The Dear Hunter, Finneus Gauge, National Health, Anglagard, Egg, Arena, Galahad, Pallas, Pendragon, Karmakanic, The Sleepytime Gorilla Museum, Beardfish, Pain of Salvation, Big Big Train, The Aristocrat dan lainnya….ha ha ha….

  4. hippienov Says:

    Alo Bro Rully, seperti biasanya kupasannya asik dan dalam mirip dengan apa yang selalu dihadirkan Mas Cosmic dulu… Dan akhirnya aku jadi curiga jangan-jangan Mas Cosmic itu adalah nama lain Bro Rully di blog gemblung ini, hahaha… (mohon maaf ya bro, sekedar tabak-tebak buah manggis, habisnya antara bro dan mas Cosmic ada kemiripan ^_^)

    Anyway, aku suka isitilah bro “jamaah prog garis keras dan fundamentalis”, serem banget auranya. Tapi sepertinya aku gak termasuk diantaranya karena aku suka juga dengan Michael Franks dan Napalm Death/ Terrorizer, hehehe…

    Sampai ketemu next Friday for (another) mini progring ya Bro ^_^
    Thanks…

    • Rully Says:

      heheh tentu saja keliru mas hippie jika menyangka saya ada lah bro cosmic yg ulasannya lebih canggih lagi. iyaa nih ga sabar utk mini prog ring lagi. ditunggu mas…

    • Budi Putra Says:

      Setuju mas Rully sptnya mendengarkan musik terkadang (bg sy) tergantung suasana hati. Tp kalo sy utk malam hari rutin dengerin yg prog…buat nemenin tidur dus merenung makna arti hidup ini….walah….hahaha. Tp kalo pagi biasanya sy pilih yg heavy atau metal….biar semangat menyambut pagi….mantap kan kalo dengerin Iron Maiden, Helloween, Sonata Arctica, Judas Priest, Anthrax, Testament,….hehehe.

      • Gatot Widayanto Says:

        Lha saya tadi malm kok malah gedebak gedebuk menikmati gebukan drums Casey Grillo di Kamelot “Silverthorn”. Keren nih album ….!

        Tapi beberapa hari di Bandung malah nebikmati King Crimson yg lama2 era 70an ….ha ha ha ….

  5. andria h8 Says:

    Saya suatu saat membaca di majalah Guitar World artikel ttg Donald Fagen yg merupakan pentolan Steely Dan. Saya lalu ingat di los pasar Bringharjo (jaman itu) ada kaset Steely Dan – Gaucho. yang teronggok terus menunggu pembeli. Setelah saya coba ternyata memang tidak cocok juga dengan kuping saya. Ya sudah nggak jadi beli😀

  6. Gatot Widayanto Says:

    saya punya kisah lucu tentang Steely Dan ini. Sekitar tagun 2004 saya ke Duta Suara, Sabang. Saya melihat box set SD dijual murah sekali seperti harga sebuah CD impor padahal box set ini impor juga dan isinya 4 CD. karena gak percaya harganya saya tanyakan ke mas Hari, penjaga yang faham selera saya. Mas Hari kenudian telpon kantor pusat DS dan keputusannya ternyata harga yang tertera yakni Rp. 125 ribu benar adanya.

    Tanpa pikir panjang ya segera saya duitin tuh box set. Banyak temen saya yang ngiri kenapa saya bisa dpt boxset dengan harga murah. sayangnya saya kurang cucok dngan musiknya sehingga lbh bnyk sebagai pajangan aja ….hi hi hi …

  7. andria Says:

    saya pernah baca di komik Asterix bahwa salah satu alasan membeli barang adalah utk bisa membuat iri orang🙂

    • Gatot Widayanto Says:

      Dan saya masuk dia dalamnya mas …Hua ha ha ha …Soalnya jujur aja, saya ndak cucok blas sama Steely Dan mas …

  8. Rizki Says:

    Saya termasuk yg suka sama band ini. Sesuai ulasan Mas Gatot di progarchieves, SD enak didengar terutama utk suasana yang relax. Saya juga suka musiknya karena sangat khas Amerika dan juga dimainkan oleh banyak musisi session yg sy kagumi🙂

  9. Rizki Says:

    Yang menarik, di tahun 90 bbrp lagu2 Steely Dan termasuk ‘Reelin in the years’, ‘Bodhisatva’, Rikki dont lose my number’ dimainkan dengan asik oleh band gado2 bernama ‘The Best’ yang terdiri dari musisi top; Keith Emerson, drummer Simon Phillip, gitaris Jeff Baxter (Steely Dan, Doobies Brothers), bassist John Entwistle (The Who), Joe Walsh (Eagle ).

    Simak videonya: http://www.youtube.com/watch?v=07-0rpXvwWg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: