Frank Zappa Di Pulau Kelapa

Budi Putra
 
 
Minggu (31/8), saya bersama tim bersiap untuk mengunjungi Pulau Kelapa di Kepulauan Seribu Utara. Kunjungan ini  tak lain tak bukan untuk  menunaikan tugas kantor. Seperti biasa selain perlengkapan sehari-hari,  saya juga menyiapkan teman dalam perjalanan di kapal nanti yakni play-list Guruh Gipsy serta Frank Zappa album Hot Rats. Setelah semuanya ready maka tepat pukul 07:30, kami tiba di dermaga kapal nelayan Muara Angke. Dermaga ini sebenarnya bukan dermaga untuk kapal angkut penumpang melainkan tempat sandar kapal-kapal  penangkap ikan. Maka tak mengherankan bila suasananya jadi terlihat semrawut, kotor, dan bau amis menyeruak di tempat ini. Namun, biarpun demikian dermaga ini tetap diminati para pelancong yang ingin berlibur ke Pulau Seribu. 

Lewat dermaga ini kami berangkat menggunakan kapal motor tradisional yang masyarakat pulau menyebutnya sebagai kapal ojek. Kapal ojek ini berukuran cukup besar dan mampu mengangkut penumpang sekitar 200-an orang beserta barang-barang bawaannya. Kapal ojek ini cukup diminati baik para wisatawan dan khususnya masyarakat pulau.  Hanya dengan tarif yang rekatif murah kita bisa mengunjungi obyek-obyek wisata bahari seperti, Pulau Untung Jawa, Pulau Pari, Pulau Tidung, Pulau Pramuka, Pulau Harapan, dan pulau-pulau lainnya. Tepat pukul 8 kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga menuju ke tempat tujuan yakni Pulau Kelapa. Untuk menemani perjalanan play list yang telah siap dimainkan bersama nomer-nomer symprog-etnik Guruh Gipsy….jreng, tereret….intro “Indonesia Maharddika” mulai menemani awal perjalanan pagi ini.

image

image

Perjalanan yang akan ditempuh selama ± 3 jam bagi saya cukup menantang. Selain cuaca yang begitu terasa panas dan ombak laut yang kurang bersahabat menyebabkan perjalanan jadi kurang terasa nyaman. Untung saja pemandangan di perairan Kepulauan Seribu yang elok sedikit menghalau rasa pening yang mulai terasa akibat guncangan ombak. Track “Indonesia Maharddika” masih menemani hingga mendekati pulau Bidadari menuju Pulau Untung Jawa. Hentakan musik dan lirik lagu seolah merepresentasikan keindahan dan kekayaan alam bahari di sepanjang perairan di Kepulauan Seribu. Birunya air laut  bak memperkaya rasa kecintaan akan negeri kepulauan ini. Mendekati Pulau Untung Jawa kapal rehat sejenak karena ada gangguan di mesin kapal. Pulau Untung Jawa terlihat ramai dengan wisatawan yang tengah menikmati tamasyanya. Sejumlah orang nampak bersuka cita menaiki banana boats yang berputar tak jauh dari sebelah kiri dermaga. Senang sekali pemandangan pada pagi ini ditingkahi hiruk pikuk orang yang lalu lalang untuk sekedar mengambil dokumentasi pemandangan di sekitaran pulau. Kapal kembali bergerak menuju ke Pulau Pramuka berbarengan dengan masuknya track “Janger 1897 Saka”. Perjalanan menuju Pulau Pramuka secara normal akan ditempuh selama ± 2 jam. Seperti diketahui Pulau Pramuka adalah pulau yang menjadi bagian dari kelurahan Pulau Panggang. Pulau Pramuka juga dikenal sebagai tempat wisata bahari yang sering dikunjugi wisatawan pada setiap pekannya. Di pulau ini banyak berdiri homestay/penginapan dengan harga sewa yang cukup terjangkau 300/400 ribu per-orang dengan fasilitas kamar AC, makan, bakar ikan, snorkeling. Dll. Banyak wisatawan baik domestik dan luar yang datang untuk menikmati wisata bahari di pulau ini yang terkenal dengan wisata bawah  lautnya/snorkeling. Tak terasa “Smaradhana” mulai tergantikan dengan “Chopin Larung” yang berdurasi 17-an menit ini. Sedang track lainnya “ Barong Gundah” dan “Geger Gelgel” yang berdurasi 12-an menit, tak sempat ternikmati akibat kantuk yang datang menyerang. Mata terpejam hingga kapal merapat di dermaga Pulau Pramuka. Setelah dari Pulau Pramuka perjalanan menuju ke Pulau Kelapa dengan jarak tempuh sekitar 1 jam. Ombak kali ini mulai bersahabat sehingga laju kapal menjadi lebih stabil dan nyaman. Terik matahari semakin menyengat dan play list tak lagi bisa difungsikan karena kapasitas batere yang mulai terbatas. Akhirnya mendekati pukul 10:30 kapal merapat di dermaga Pulau Kelapa. Sampailah kami di tempat tujuan.

Di Pulau Kelapa saya habiskan waktu untuk bertemu dengan rekanan hingga hari menjelang malam. Esoknya tugas tak terlalu padat maka jreng…Frank Zappa (Hot Rats) sudah menggantikan etnik sound ala Guruh Gipsy.  Namun bukan hanya play listnya saja yang siap saya dengarkan tapi t-shirt Zappa warna hitam juga ikut melengkapi suasana sore yang nyaman dipinggiran dermaga barat Pulau Kelapa. Sambil memandangi anak-anak yang tengah berenang dan bercengkrama sesama temannya di pinggiran pantai track “Sons Of Mr. Greem Genes” sengaja saya pilih terlebih dahulu. Mendengar track instrumental ini seolah menjadi latar dari keceriaan anak-anak itu. Wah dahsyat sekali track ini suara bass dan melodi bak menari-nari digendang telinga. Belum lagi sisipan piano dan saksofon dan entah bebunyian lainnya semakin melengkapi komposisi yang harmonis ini….mantabs jaya!. Di susul kemudian dengan “Little Umbrellas” dengan irama yang ngejazz serasa mengiringi sore yang mulai menghampiri. Track “The Gumbo Variations” yang berdurasi 16 menitan sepertinya cocok menghantarkan mentari yang mulau terbenam di garis laut yang tak bertepi itu. Episode Zappa sementara berakhir di sore ini dan berlanjut pada malam ini. Mendengarkan Zappa memang bukan perkara gampang apalagi dengan corak/irama jazznya yang masih kurang familiar dikuping ini. Namun malam ini saya tetap bertekat melanjutkan dengan ke sisa track lainnya seperti “It Must Be A Camel”, “Peaches En Regalia” dan “Willie The Pimp”. Lagi dengan “It Must…kurang begitu melebur di rasa ini namun begitu masuk track “Peaches En Regalia” lumayan bisa untuk dinikmati karena musiknya yang harmonis itu. Irama ngeblues terwakili pada track “Willie The Pimp” yang kali ini diisi dengan latar vokal yang sumbang dan berat khas musisi blues.

Wah sore dan malam mendengarkan Zappa merupakan pengalaman terbaru bagi saya. Sebagai awalan Zappa memang berat untuk dinikmati bagi saya yang pemula ini. Dan kiranya perlu petunjuk khusus dari mas Gatot atau bro Cosmic untuk mendengarkan dan menikmati Zappa yang unik ini….hehehe. Tapi setidaknya beberapa track bisa untuk dinikmati dengan hati yang riang gembira di tempat ini di Pulau Kelapa.

19 Responses to “Frank Zappa Di Pulau Kelapa”

  1. Edi Apple Santoso Says:

    uzzzzz tempat indah, musik indah n kaos mboys. kesetroom langsung muter buffalo …..
    Majulah Prog!! …..

  2. Budi Putra Says:

    Mas Gatot terimakasih banyak sdh dimuat cerita ini. Mas Edi, tempatnya indah mas cuma akhir2 ini byk nelayan yg mengeluh krn langkanya solar. Kaos ini spesial sy kenakan di pulau ini. Trims mas Edi….

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Budi … Ceritanya seru banget sih. T shirt nya keren.

      Saya baru sampe rumah sehabis gowes ketemu klien di Kuningan City. Herannya selama giwes kok saya senandung Wind and Wuthering ya … Mulai track pertama hingga Wot Gorilla … Wah …

      • Budi Putra Says:

        Iya mas Gatot suasananya mmg seru jd terbawa dlm cerita….hehehe. T shirt langka nih mas…khusus utk pulau kelapa.

  3. apec Says:

    wahh, mas cosmic disebut sebut lagi sama mas Budi, ….ayo hidup lagi dong mas cosmic…

    • Budi Putra Says:

      Lah iya memancing kembali bro Cosmic agar muncul pak dokter….hehehe

      • Gatot Widayanto Says:

        Halo mas Cosmic nan budiman
        Yang luas ilmunya …
        Yang dalam bahasannya …
        Yang tajam ulasannya ….

        Sudilah kiranya menyapa kami yang rindu
        Cukup sapaan “Halo” itupun sudah cukup
        Ayo dong mas … Sapalah kami …

        Semoga Allah Tabaroka Wa Taala merahmati mas Cosmic. Aamiin

        Salam

    • Gatot Widayanto Says:

      Bro Apec … Selamat jalan ke negerinya VOC ya … Salam buat Thijs Van Leer … Jangan lupa bawa kaset bajakan dari situ …hi hi hi …

  4. Edi Apple Santoso Says:

    solo king crimson 3 drummer ….. https://www.youtube.com/watch?v=N1JapuD0ikk

  5. Koh Win Says:

    Rober Fripp ini pancen bajindhul tenan!!!! dia ini sangat progresif sekali otaknya….lhah saya aja masih nggumun kemlumun dengan doble trio kok ini malah trio drummer….tobat tobat!!!

    • Edi Apple Santoso Says:

      mandore lungguh ning kursi ngawasi tukang drum telu main, elok tenanan ……

      • Gatot Widayanto Says:

        Ngawasine yo berwibawa ora sok ngatur … Dadi yo enak didelok yo. Main drums nya juga maut tak asal gebug sak enake udele mbahe sangkil … Kabeh podo menahan diri ben terjaga harmonine … Mbuwois pol!

    • Gatot Widayanto Says:

      Itulah hebatnya Robert Fripp yang selalu punya ide2 segar tak hanya format musik yg berubah total di tahun 1981 saat album Discipline dirilis, namun line-up pun dia prog kan juga. Double Trio itu konsep yang brilliant dari segi musikal maupun branding karena oni merupakan the new positioning bagi King Crimson yg sebagian besar orang menganggapnya sebagai pelopor prog melalui album In The Court. Double Trio kan seolah seperti Double Rush karena drums dua, bass dua dan gitar dua. Udah gitu kinsep bass nya adalah stick atau Warr guitar dengan sound yang mantab.

      Jadi ..kalau menikmati New King Crimson cara pandang kita harus beda karena mereka gak jual komposisi namun lebih eksplorasi sound baik itu bass, gitar maupun drums.

      Brilliant!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: