Ngobrol Musik Di Era Digital

 Budi Putra

FACT #1

Bertemu teman lama memang mengasyikan apalagi pulangnya bisa membawa oleh-oleh. Apalagi kalo bukan kaset. Cuma sayangnya tidak banyak kaset yang saya temui di rumah teman karib saya ini. Saya lihat hanya beberapa kaset yang terlihat seperti, Queensryche (Promise Land), Gorky Park II, King’S X (Dogman),  M.S,G., KIX, serta sejumlah kaset hard rock jadul macam White Snake, Y&T, Journey, Kiss dan Krokus, yang sebagian sudah rekaman era lisensi. Dalam hati saya bertanya-tanya, kemana ya koleksi kaset-kasetnya  yang dahsyat itu? Siapa tau dia lagi berbaik hati kemudian mau menghibahkan sedikit atau sebagian koleksinya itu. Ya, siapa tau rejeki nomplok menghampiri.
 
Semasa SMP, teman saya ini Imam panggilannya, terbilang kolektor kaset kelas kakap. Di meja laci besarnya tersimpan ratusan kaset rekaman Team, Billboard, Aquarius, Rockshot (tapi enggak ada rekaman Yess, hehehe) berjejer rapi kemlincing yang mengundang selera dan bikin hati berdebar plus dengkul lemes seperti mas Kukuh saat memandangi nona R. Bagaimana tidak, saya ingat sekali ia punya deretan album komplit Yngwie Malmsteen rekaman Team Record, Ozzy Osbourne, Helloween, Raven, Venom, serta band-band dengan label aneh yang sama sekali belum saya ketahui seperti Gream Reaper, Malice, Omen, Macabre, Helix, etc. Karena penasaran saya tanya kemana kaset-kasetnya yang dulu dia koleksi. Dia bilang sebagian besar koleksinya diboyong tetangga dan teman-temannya saat dia pindah rumah. Jadi semuanya habis tanpa sisa ujarnya dengan nada tanpa rasa menyesal. Wah, padahal saya menyesal sekali karena hal itu dan kenapa juga saya tidak sempat menemaninya saat dia pindah rumah kala itu. Sebab penasaran pula teman saya pun bertanya: “Ngapain masih nanya-nanya kaset, kayak jaman SMP aje, hehehe. Padahal sekarang kalo mau cari grup musik favorit gampang aja tinggal donlot di internet. Semua tersedia, dari A sampai Z”, kata teman saya ini sambil mesam-mesem. Lantas kontan saja ia menghidupkan laptop yang dikoneksikan dengan speaker aktif….jreng, terdengarlah intro “Jump” dari Van Halen.”Nah, praktis kan ujar nya”. Walah, rupanya teman saya sekarang ini bukan lagi seorang kolektor sebagamana ia dahulu. Rupanya era digital sudah merubah cara pandangnya  akan menikmati musik. Pilihan itu memang bukan salah atau kelirunya. Siapa sangka jaman bisa sedemikian maju/modern. Segala sesuatu terkait informasi atau musik (album/live) juga film dengan mudah bisa diperoleh hanya dengan berbekal modal 10 ribu; cari warnet dan mulai browsing. Soal ini yang saya lakukan sebelumnya. Penasaran ingin mendengarkan Frank Zappa maka saya donlot album Hot Rats. Sebab terpancing dengan sundulannya mas Hippie maka Solaris pun juga jadi target donlotan. Wah, kasian sekali ya para musisi itu. Karya-karyanya hanya dihargai gratisan dalam format mp3. Kualat tenan!
 
Maka, sambil dengerin kompilasi band-band hard rock via laptop plus speaker aktif kami sempat mengobrol berbagai hal. Mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga grup musik favorit saat ini. Saya banyak cerita tentang band-band prog-neo yang bagus-bagus berkat ulasan blog gemblung seperti Marillion, IQ, Satellite, Solaris, New Trolls, etc. Rupanya teman saya tidak tau banyak perihal grup-grup itu yang dia gemari hanya band yang sempat dia miliki kasetnya dus band-band hard rock era 70-80an. Semua band-band itu dia koleksi kembali namun dalam format kekinian (mp3). Tapi dia juga mengakui bahwa ada sesuatu yang terasa berbeda mendengarkan via kaset dengan digital dalam format mp3/youtube. “Soulnya kurang dapet kalo dengerin via digital. Terasa hampa jadi cuma mengalir begitu saja. Gak muncul suasana untuk menikmatinya. Coba aja dengerin Stones versi mp3 dengan kaset. Rasa jadulnya Stones gak muncul”, tuturnya. Makanya dia masih berkesempatan membeli kaset walau tidak sedahsyat dulu lagi. “Sesekali perlu juga dengerin musik via kaset. Lumayan untuk melatih kesabaran dan membangkitkan memori lagi ke jaman baheula, hehehe”, guraunya. Saya juga katakan dalam beberapa kesempatan masih membeli kaset yang seken utamanya agar memori itu tetap terjaga…hehehe. Saya juga masih rutin membeli majalah Roliing Stone walau kadang artikel-artikelnya gak nyambung dengan selera saya terkini. Tapi satu alasan selain informasi, mengapa saya masih membeli majalah itu, karena saya ingin mengabadikan format cetak majalah musik versi lokal yang kini sudah langka dan jarang ditemui. Menurut saya sayang sekali bila ini sampai tidak terdokumentasikan menjadi rekam jejak perjalanan musik tanah air bahkan dunia.
  
Akhirnya menjelang petang saya pamit sambil tak lupa membawa oleh-oleh darinya, 4 buat kaset lisensi dari band-band era 80an. Yah, lumayan deh. Dalam perjalanan pulang jadi teringat mas Gatot, mas Apec, dan rekan-rekan blog yang tetap bersemangat penuh gairah untuk melestarikan budaya kaset/PH yang perlahan mulai ditinggalkan generasi terkini yang ternina-bobokan oleh budaya instan. Apa yang dilakukan rekan-rekan menurut saya adalah sebuah upaya yang patut dihargai dan diacungi jempol di era digitalisasi musik dunia saat ini. Kadang merasa malu bila mendonlot band-band kesukaan via mp3 hanya dengan modal 10 ribuan bahkan gratisan….hahaha. Sorry, mas Frank Zappa…
 
 
Tabik.

17 Responses to “Ngobrol Musik Di Era Digital”

  1. Budi Putra Says:

    Dahsyat mas Gatot ini…baru ngedip mata 5 kali ulasan sdh muncul. Terimakasih mas!…semoga bermanfaat dan menghibur untuk rekan-rekan semua.

  2. kukuh tawanggono Says:

    Mas Budi sedulur lanang sigarane atiku(belahan hatiku)

    Setelah cukup lama akhirnya muncul tulisan yg saya rindu-rindukan.Terus terang(tanpa terjebak dalam kenaifan),penuh dengan upaya pendewasaan diri,ampuuuuuh tenan ulasan njenengan mas Budi….he he he.Memang mas sekarang semua serba mp 3 njih,salah satunya njih karena alasan ndak ribet dan murah.Akan tetapi bagi saya pribadi kok lebih menikmati yg rekaman fisik(kaset pita/cd/ph).Karena konsep sebuah karya seni bisa tersampaikan secara utuh apabila melalui media tersebut mas.Seribu jempol untuk ulasannya ini,amat mengobati rasa rindu saya…he he he
    Ngomong-ngomong tentang pandangan mata dengan…jangan diekspos mas Budi.Lha ini pinggang saya sudah ndak lebam akibat bekas cubitan,bisa lebam lagi rasanya apabila ada orang yg membaca tulisan tersebut…ha ha ha ha ha ha ha ha ha

  3. Rizki Says:

    Artikel yang menarik dan nyambung dengan filmsci fi yang baru saya nonton tadi malam berjudul “Guardian of the Galaxy”. Di film tersebut: kaset, walkman dan lagu2 jadul kembali hadir ditengah kehidupan teknologi tinggi diluar bumi.

    • kukuh tawanggono Says:

      Mas Rizki sugeng enjing(selamat pagi)…Jawara kompetisi NBA musim depan sinten(siapa)njih mas….kalo cavaliers sepertinya agak berat mas,walau ada King James disana…he he he

      Sepuntene(mohon maaf) mas Gatot membahas basket,lha mas Rizki ini yg sudah merasakan atmosfir liga NBA secara langsung.

      • Rizki Says:

        Iya Mas Gatot, maaf numpang lewat ttg bahasan basket.

        Mas Kukuh, wah saya blm dpt gambarannya siapa yg ok, bisa2 San Antonio lg🙂

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Rizki ampuh tebakkannya,naluri saya kok sama dengan njenengan.

    • Gatot Widayanto Says:

      Film Guardian of the Galaxy sempat dibahas di sebuah milis. Saya baru ngeh bahwa di situ ada kaset dan lagu jadul. Boleh dong mas Rizki kasih pencerahan film ini … Diulas juga gak masalah ….he he he … Blog gemblung kok … Tapi kan ada hubungannya dengan musik …

      • Budi Putra Says:

        Film School of Rock juga asik utk diulas…yg keren cuplikan musik2nya mulai dr AC/DC, LedZep, dll. Bahkan di shoot juga cd Yes (fragile) ketika si Dewey (pemeran utama) memperkenalkan musik rock pd siswa didiknya.

    • Budi Putra Says:

      Thanks mas Rizki…blog gemblung mmg suka nyambung menyambung. Kayaknya sy perlu nonton filmnya tuh mas….

  4. hippienov Says:

    Aku juga sependapat dengan Mas Budi dan sahabatnya. Walau mendengarkan musik digital bisa dibilang menghemat waktu dan biaya namun rasanya hampa seperti kita dibacakan buku cerita tanpa memegang sendiri bukunya. Makanya tiap aku ngeburn file mp3 ke cd audio aku akan cari/buatkan covernya supaya dapet “feel” old fashioned cd nya walau jadinya mirip cd bajakan karena cuma cover depan-belakang tanpa innner sleeve.

    • Budi Putra Says:

      Saya gak tau ya mas Hippie…apa krn kt gk merasa puas atau krn kt ada “kelainan”…manusia bukan pd jamannya. Wong sdh dikasih praktis dan murah kok malah balik ke jaman baheula, itu ucapan yg kerap keluar dr mulut para pegiat modernisme….(walah opo iki….hehehe). Mungkin ini yg disebut dlm teori alienasi kali ya…(opo maneh-teori mumet…hehehe).

  5. apec Says:

    Mas Budi,mungkin sutradara film Guardisn tsb sering baca dan malah ingin melu progring

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: