Nilai Muka Yang Visioner

Gatot Widayanto

JrèNg!

Mari kita bahas album legendaris yang sering kita plesetkan di blog gemblung ini dengan istilah “nilai muka” dari versi aslinya oleh Phil Collins …. Face Value. Ternyata ….bukan main visionernya Phil Collins yang sudah bisa membaca apa yang akan terjadi beberapa dekade setelah album diluncurkan di era delapan puluhan.

Apa pasal?

Mari kita tengok apa yang terjadi di seputar kita ini. Saya mulai dengan pengamatan saya ya ….

1.) Beberapa bulan lalu saya sedang sarapan di sebuah hotel di Palembang. Meja di sebelah saya kemudian menyusul duduk sepasang suami istri usia sekitar 35-40 tahun duduk berhadapan saling menyantap sarapan masing masing. Sang istri sarapan ala amerika sedangkan suami ala indonesia dengan nasi goreng. Bukan itu yang saya amati. Sejak menarik kursi kemudian duduk dan sarapan, masing-masing tak saling menatap pasangannya namun keduanya rajin menunduk. Bukan …bukan sedih …tapi masing2 sibuk dengan gadget yang ada di tangannya sambil sekali waktu salah satu diantaranya ketawa sendiri. Demikian mereka begitu rajin dengan gadgetnya hingga akhirnya mereka menarik kursi kembali untuk keluar dari coffee shop hotel tak sepatah katapun diantara mereka keluar untuk pasangannya. Luar biasa.

2.) Dua orang remaja bertubrukan ketika berjalan di jembatan penyeberangan busway di Ratu Plaza. Keduanya berucap “Sorry” trus melanjutkan perjalanannya dengan menundukkan kepala karena masing2 asik memandang gadget dan memainkan kedua jempolnya untuk ngetik. Bagus sih …keduanya tak ada yang nenyalahkan namun justru saling minta maaf meski ekspresinya datar dan mungkin juga masing2 kesel dengan yang lainnya.

3.) Seorang teman curcol bahwa saat ia menyetir bersama istri disampingnya, sang istri dengan santai dan sering jetawa sendiri membaca gadgetnya tanpa menghiraukan suami yng sedang nyetir.

4.) Di sebuah acara kopdar yang dihadiri oleh teman2 saat kuliah, enam orang yang hadir di sebuah meja di sebuah kafe asik bernain dengan gadgetnya meski mereka juga saling ngobrol.

5.) Di sebuah kedai kopi, sebuah keluarga berkumpul dengan komposisi kumplit: ayah-ibu dan dua orang anak perempuan usia sekolah SD. Masing2 sibuk dengan gadgetnya. Anak2nya sibuk dengan games di iPad, orang tuanya sibuk chatting maing2. Seru ….kumpul tanpa interaksi.

Saya rasa masih banyak lagi pengamatan senada dengan di atas yang pasti kita jumpai di seputar kita yang intinya adalah terjadinya pepatah yang mengatakan ” ….mendekatkan yang jauh, mnjauhkan yang dekat” yang dulu popular ketika tren BlackBerry melanda kita. Pemandangan ini semakin biasa kita jumpai di seputar kita yang intinya menyiratkan bahwa nilai muka menjadi barang yang berharga dewasa ini.

Orang berkomunikasi namun tanpa tatap muka karena masing2 sibuk menatap gadgetnya sendiri.

Orang berkumpul namun tanpa interaksi hati

Keluarga melakukan rekreasi bersama namun tanpa sentuhan berkualitas

Ini semua tentunya terkait dengan begitu langkanya nilai muka dewasa ini.

image

Foto ini dari status seseorangbdi media sosial FB yang menunjukkan perilaku tatap layar ....

Meskipun demikian ….

Hal-hal atau contoh-contoh yang saya uraikan di atas sama sekali tak terjadi di blog gemblung ini. Lihatlah begitu gayengnya kita ngobrol saat ketemuan di progring ….sampe2 lupa menulis update lapsing progring. Interaksi diantara temen2 yang hadir di progring begitu lancar mengalir dan setiap individu menyimak setiap ada yang sedang bicara. Sangat jarang ada yang sibuk dengan gadgetnya bahkan saya sendiri kadang gak sadar ada sms dari temen yang tak ikut ketemuan karena berhalangan atau karena jarak namun sangat penasaran dengan progring hingga kirim sms. Bro Apec, mas Andria, mas Khalil dan Kohwin termasuk yang rajin sms saat progring berlangsung…namun saya sering telat respon lantaran asik ngobrol di progring. Inilah kekuatan pertemanan kita di blog gemblung ini dan sekaligus ini adalah contoh baik untuk ditularkan ke masyarakat. Kit berikan edukasi bahwa nilai muka masih jauh lebih penting dan nunjek ulu ati dibandingkan dengan nilai layar.

Sekaligus kita progkan masyarakat biar punya prinsip hidup dan pola pikir yang progresip apalagi menghadapi pasar bebas AFTA (opo meneh iki?!). Jangan bilang bangsa kita ini punya mental tempe meski tiap hari nemang makan tempe. Buktinya? Mr. K “Madman” Yen Ing Tawang Ono Lintang aja sampe diimporboleh orang ustrali beberapa kali saking ahlinya Mr K ini dalam bidangnya, meskipun hatinya metal.

Dan juga kita masyarakatkan prog. Ya nggak ?! 3 x sambil alis mata naik turun tiga kali. Kapan lagi kita bisa memasyarakatkan prog kalau gak di jaman yang serba galaubpenuh dengan nilai layar ini. Jadi ….kesimpulan dari tret ini adalah: “Nilai muka disertai dengan sentuhan hati lebih bermakna dibandingkan nilai layar” (apabila sedang ketemuan). Blog ini telah membuktikannya. Percayalah!

JrèNg!

20 Responses to “Nilai Muka Yang Visioner”

  1. Edi Apple Santoso Says:

    fear of a blank planet, yang ini juga sudah dikhawatiran porcupine tree …. (copy paste wikipedia) The concept of the album was heavily influenced by Bret Easton Ellis’ novel Lunar Park.[8] The novel is told from the perspective of a father, who bears the name of the novel’s author himself, whereas the album is mostly from his son’s perspective, an eleven-year-old kid named Robby.[9] Many of the lyrics for Fear of a Blank Planet are lifted directly from the novel, particularly “My Ashes”, which is a homage to the last chapter, in which the ashes of Bret’s father are scattered and cover the memories of his life.

    The lyrics deal with two typical neurobehavioural developmental disorders affecting teenagers in the 21st century: bipolar disorder and attention deficit disorder, and also with other common behaviour tendencies of youth like escapism through prescription drugs, social alienation caused by technology, and a feeling of vacuity—a product of information overload by the mass media. In an interview with Revolver magazine, Wilson described the main character of the story as “…this kind of terminally bored kid, anywhere between 10 and 15 years old, who spends all his daylight hours in his bedroom with the curtains closed, playing on his PlayStation, listening to his iPod, texting his friends on his cell phone, looking at hardcore pornography on the Internet, downloading music, films, news, violence…”[10]

    The songs on Fear of a Blank Planet seem to have a connection not just between the lyrics but also musically; every track flows into the next, comprising a single fifty-minute piece of music.[11] Wilson said the idea was to make an album that could be listened to in one sitting, in contrast to some bands tendency to make very long records that do not maintain the attention of the listener.[10] He described Fear of a Blank Planet as an homage to ’70s records, whose moderate length helps the listener maintain focus:

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Edi, suwun diingatkan … Rasanya saat album ini keluar pernah baca tapi bukan di wiki.
      Memang demikian kenyataannya dewasa ini ….interaksi tatap muka dan tatap hati menjadi langka. Orang lebih suka tatap layar ketimbang tatap muka …

    • Gatot Widayanto Says:

      Jadi pengen nyetel album ini … Ada Alex Lifeson mengisi di satu lagu …. Siiiip !

  2. hippienov Says:

    Sedih juga saat baca tret Mas G ini, karena setiap saat aku selalu menjumpai hal ini, bahkan istriku, walau belum terlalu “freak”, sudah mulai lebih sering asik membaca dan sibuk dengan “bebe” daripada mempedulikan hubby nya. Memang selama ini aku gak terlalu ambil pusing karena akupun biasanya akan mengisi “communication breakdown” ini dengan menikmati musik progclaro ^_^
    Tapi ya tetap aja rasanya ada sesuatu yang mulai terkikis disini, nilai muka mulai tergantikan dengan nilai layar.

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Hippie … Banyak kok temen saya yang mengeluh tentang ini. Mungkin menyiasatinya (menurut saya lho ….bisa jadi tak cocok bagi mas Hippie):
      1.) Anggap saja ini memang menjadi tren dewasa ini yg kit sulit membendungnya
      2.) Tetap saja berkomunikasi meski lawan bicara asik dengan gadgetnya
      3.) Biasakan kita tetap menatap wajahnya meskipun lawan bicara asik dengan gadgetnya
      4.) Dengan cara ini mungkin lawan bicara lambat laun merasa gak enak juga
      5.) Kalau masih juga tak ada perubahan, baru diajak bicara baik2 tentang masalah interaksi yang makin menurun kualitasnya ….

      • hippienov Says:

        Tepat sekali Mas G siasat yang njenengan berikan, sepertinya poin 1-4 aku sering lakukan meski kadang ada rasa dongkol di hati. orang lagi ngomong kok ditinggal nunduk sambil jempol sibuk pencat-pencet keypad tapi aku biasakan terus seperti itu mas dan aku berjanji dalam hati gak akan pernah melakukan hal itu saat sedang bertemu atau berbincang dengan orang lain. Seperti Mas Yuddi bilang, kurang etis-kurang menghargai lawan bicara kita.

    • Gatot Widayanto Says:

      Ada yg lebih sedih lagi seperti yg dicopas mas Edi: remaja ABG kecanduan main play station, mngurung diri di kamarnya, lihat gambar porno, chatting di HP ….

  3. yuddi Says:

    saya SANGAT TIDAK SUKA dgn kondisi belakangan ini kadang lawan bicara kita spt tidak menghargai kita jika berbicara sambil pararel juga berkomunikasi dgn ‘gadget’nya –
    Hal yg tidak santun tetapi menjadi biasa –

    • Gatot Widayanto Says:

      Sama mas …. Saya juga mas Yuddi. Namun memang susah jaman ini. Mari kita lakukan edukasi meski berat … Tantangan bagi kita semua ini

    • Gatot Widayanto Says:

      Mari kita biasakan yang benar bukan membenarkan yang biasa. Setidaknya …saya senang di progring kita gak pernah terjadi ….

  4. anton Says:

    selamat siang, sedih baca tuisan mas Gatot. Saya pernah datang ke reuni SMA di rumah makan, sebagian besar sibuk fb-an. akhirnya saya tinggal saja. padahal saya dateng untuk tanya kabar mereka. untungnya hp saya jadul jadi ngak bisa fb-an hehe.

    saya kalo ketemu orang yang lagi nunduk sambil jalan karena sibuk sama hp-nya, saya malah sengaja ngak mau minggir, biar nabrak sekalian. hehe

    • Gatot Widayanto Says:

      Wah …. Tindakanbyang hebat itu mas Anton …. Meninggalkan orang2 yang autis.

      Kok sama mas …. Saya juga gak mau minggir kalau ada orang yang asik jalan nunduk sambil “wirid” …. Ha ha ha …m

  5. Budi Putra Says:

    Apa yg disampaikan mas Gatot sebelumnya pernah diramalkan juga oleh empu futuristik Alvin Toffler….sy pernah bc bukunya di tahun 1994…dia bilang “pada abad yg akan datang interaksi sesama manusia bisa terjadi hanya dengan satu benda kecil dlm genggaman. Benda itu bisa menghubungkan antar manusia dr berbagai belahan dunia lain…..orang bisa melakukan transaksi bisnis lewat benda itu walau dia tengah berada di gurun pasir, atau didalam kamar/ruangan…..” rupanya benda itu adlh gadget.

    • Gatot Widayanto Says:

      Saya juga baca beerapa karya Alvin Toffler seperti Future Shock …. Saya jadi ingat apa yang ditulis mas Budi. Sebelumnya saya benar2 lupa …. Tbksh mas Budi.

  6. khalil logomotif Says:

    Dulu, saya pernah..bahkan sering…kena marah nyonya besar, karena pagi pagi langsung buka blog mas Gatot…dan itu adlh extended version dr kena marah sebelum tidur..sbab sbelum tidur jg yg terakhir dilihat adalah blog mas Gatot.
    Alhamdulillah, klw bb, fb, atw aplikasi ngobrol…saya ngga nyentuh.

    Menurut saya, drpd ngobrol online sama seseorang (dan obrolannya jg ngga penting penting amat) mending ngobrol online sama Tuhan…berdoa dan zikir (ngingetin Tuhan) wlpn ngga kliatan real feedbacknya..paling ngga bisa ngrasain kehadiranNya.

    Disisi lain, sy suka gadget, dgn satu gadget, bisa banyak manfaat, bisa poto, bisa komunikasi, bisa presentasi keklayen, bisa banking ngga perlu kebank, ngga perlu tunjukin tiket pesawat, bisa belajar..bahkan bisa ngaji.
    Menurut saya, hanya yang rendahan dan yg tdk suka berpikir saja (wlpn bisa jd dr kalangan berada atau tas) yg memanfaatkan gadget hanya untuk satu manfaat..ngobrol bahkan gibah! Karena waktunya ngga tau mau diabisin untuk apa atau untuk yg bermanfaat…dan masih blum cukup yakin klw Tuhan punya brand Maha…Maha tau segala hal..segala solusi.

    • Gatot Widayanto Says:

      Setuju dengan mas Khalil …. Saya menjalankan bisnis saya juga banyak pake gadget. Kemarin sore meeting sama CEO nya, setelah itu dalam waktu satu jam saya sudah kirim Minutes of Meeting via email ke jajaran direktur di bawahnya CEO agar cepet tindak lanjutnya. Udh gitu saat rapat saya hanya modal gadget sambil ngomong cas cis cus ….karena kebetan di gadget udah lengkap sekali.

      Cuman itu …kita harus tetap kembalikan human factor dalam berinteraksi. Kita tingkatkan nilai muka ya …. Siiiipppp …!!!

  7. andria h8 Says:

    Saya sama dgn pak Khalil, dimarahi isteri karena pulang ke rumah pasti langsung buka netbook lalu buka FB (dan blog pak gatot tentu saja). Padahal dia juga hampir sama, cuma mediamya BB atau android. HP saya sebenarnya bisa juga utk buka internet atau FB tapi bagi saya nilai muka monitor komputer lebih menarik bagi saya jadi HP saya cuma sebatas nelpon, SMS, dan muter lagu (dan justru yg itu paling jarang). Rasanya terbebas dari wassap dll lewat HP kok membuat lebih bebas utk saya, wl mungkin ketinggalan info dari teman.
    Bu Endang teman kantor saya memberi julukan fenomena yg diceritakan pak gatot tadi dengan nama PADI = Persatuan Arek nDungkluk Indonesia (Persatuan Orang Menatap Kebawah Indonesia)

  8. Gatot Widayanto Says:

    Mungkin kita perlu membuat gerakan baru ya ….nama gerakanannya GERONIMO (Gerakan Nilai Moeka ….ha ha ha ha ha ….Mekso DOT ORG) ….
    Salah satu kampanyenya:

    * Setiap ketemu orang, menatap mukanya, atau kalau malu ya paling tidak jidatnya …

    * HP atau gadget gak boleh dipegang tangan, masukkan kantong

    * tangan kanan pegang spu lidi. Kalau yang diajak ngomong masih suka ndingkluk menatap layar, maka wajib hukumnya ditepuk satu kali dengan sapu lidi …

    GUBRAK!

  9. Gatot Widayanto Says:

    Oh ya …kalau ngomongin NILA MUKA kok jadi inget mas Herman ya … Kemana aja ya beliau? Apa lagi mini progring dengan mas Cosmic?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: