Listen To Me, Just Hear Me Out (4)

Khalil Logomotif

image

Kembali lagi kejaman sma, saat pertama denger Yes, Close to the edge…..hasilnya…Pusiiiing yang berkepanjangan! Banyak pertanyaan muncul dikepala. Terutama mengenai, kenapa lagunya kok puanjang banget.

Trus, kenapa penyanyinya (Jon Anderson) bukan seperti sedang nyanyi, tetapi lebih seperti sedang membaca puisi atau lebih tepatnya baca mantra…dibaca cepet cepet, dengan irama yang relatif datar dan serupa…hanya diujung ujungnya aja, sedikit berirama. Ini sih baca mantra yang diiringi musik rock campur musik klasik pakai organ gereja. Kesan saya ini diperkuat dengan ada penggalan lirik atau bait yang terus diulang ulang, dari awal lagu, tengah, sampai akhir lagu…. I get up, i get down….aku naik, aku turun…diulang ulang. Juga banyak banget mengulang ngulang kata river…down at the end, close by a river….close to the edge, round by a corner….diperkuat dengan suara gemericik air sungai mengalir dan kicauan burung diawal dan akhir lagu. Sebenarnya, lagu ini mau nyeritain apa?

Saat itu saya mengartikan close to the edge adalah hampir ditepian. Saya jadi menebak nebak….tepiannya tepian apa? Jurang? Langit? Ruang angkasa? Tepian laut? Atau bantaran kali? Masak lagu sepanjang itu, ceritanya tentang bantaran kali?. Kebingungan saya bertambah…. Sebab di sampul kasetnya, hanya warna hijau daun bergradasi gelap dibagian atasnya. Terkesan mistis dan menghipnotif. Kalau memang tentang bantaran kali, seharusnya warna biru atau coklat atau apa gitu selain hijau, yg lebih mirip dengan air sungai. Tulisan judul albumnya justru ditengah atas, bukan diujung (the edge)…padahal judul albumnya..hampir ditepian! Seharusnya tulisannya berada diujung dong! Bukan ditengah!

Kurang lebih, begitulah kebingungan saya waktu itu….maklum..tarafnya masih sma. Karena terpaan tulisan Yes yg bertubi tubi dari koh Win, beberapa waktu yg lalu, saya baca baca dibeberapa situs dan blog, untuk dapetin jawaban atas kebingungan dan ketidak mudengan saya atas close to the edge…..dan sedikit banyak, saya mendapatkan pemahaman.

Jadi, listen to me, just hear me out.

Semua situs dan blog yg membahas close to the edge, baik mengenai musiknya maupun interprestasi liriknya, memberikan informasi yg kurang lebih sama, yaitu….kagak usah dipikiriiiinn! Dengerin aja udah, kalau suka, diulang, kalau kagak, ya dibuang…atau umpanin kucing! Bahasa sopannya, yang diceritakan Jon adalah poetic nonsense…ngga akan masuk diakal…cuma dia seorang yang paham…halaaahh..Jon..Jon! Memang begitu adanya, kalau mau paham, sepertinya harus kembali ke era album itu dikeluarkan, kembali ketahun 1972. Saya jelas ngga tau bagaimana kondisi ditahun itu, lah sayanya baru lahir.

Yes mengeluarkan debut albumnya, pas sehari setelah peluncuran Apollo 11. Close to the edge diluncurkan tiga bulanan sebelum peluncuran Apollo 17, yg adalah perjalanan terakhir ke bulan. Jaman itu adalah jaman penaklukan ruang angkasa, space age era, jaman eksplorasi, jaman fantasi sayen fiksi…..lsd juga! Jaman itu juga jamannya perang vietnam, feminimisme, hak azazi dan hippis (berbau india, sitar, yoga, ganja, baju bunga celana katbrei dan ajaran spiritual berdasarkan budha/hindu). Kalau ditambah semuanya, jaman itu adalah jaman progressive. Begitu katanya. Jadi, close to the edge lahir dikondisi jaman yg seperti itu, jaman proggresif.

Jon sangat tertarik pada ajaran spiritiual budha/hindu (dan mendakwahkannya kepada temen temennya, bahkan ngakunya bisa masuk kedimensi ke 4), sastra puisi dan mantra mantra, mimpi besar serta dominasi. Jon memakai karangan Herman Hesse, siddhartha (semua juga sudah tahu ini kan), sebagai tema pembuatan lagunya, mengenai keterbaharuan, perputaran hidup, awal adalah akhir, akhir adalah awal (terlihat dari awal lagu akan sama dgn akhir lagu, baik lirik dan musiknya). Dengernya sih, bandmate yg lain ngga mudeng dgn ide begituan, cuma ngekor aja, patuh sama komando dan dominasi Jon….yang penting bisa genjreng aja…udah…soal liriknya cerita apa…sebodowae (terbukti dengan beberapa dari mereka yang keluar dan pindah ke band lain, atau solo, karena ngga betah jadi band pengiring Jon, ribetnya proses penulisan lagu dan musik, dan tentunya dominasi yg berlebihan). Jangankan kita, mereka aja ngga ada yang tau apa arti Khatru…siberian kathru…kata Jon, ngga penting artinya, yang penting enak didenger. Memang kalau dipikir pikir, semua segmen lagu dibangun dengan gaya musik yg tidak sama dari para pemusiknya, gitarnya rock, bassnya jazz, kibordnya klasik, drumnya rock campur jazz…..diadon menjadi satu adonan aransemen yang seperti kita denger dan kagumi selama ini. Semua adalah karya komposisi Eddy Offord produser sekaligus enginer suara Yes, yang menyambung nyambung penggalan fragmen rekaman pita permainan musik masing masing Yesman sesuai arahan Jon, menjadi satu aransemen utuh yang menakjubkan….kemudian diimbuhi vokal, jadi musiknya dulu disusun, baru setelah tersusun, Jon nyanyi mengisi vokalnya. Itu maunya Jon. Mungkin kalau jaman itu sudah ada aplikasi garage band nya Mac, kerjaan Eddy jadi jauh lebih mudah…tinggal rekam…selanjutnya copy and paste! Mudah banget. Ngga perlu ngumpulin potongan potongan gulugan pita.

Okey, kembali ke Jon. Setelah sukses fragile, Jon ingin yg lebih spektakuler, lebih mengawang ngawang (lebih nonsense). Jon terpikir untuk menceritakan pengalaman perjalanan yg dia tempuh sewaktu dia mimpi. Perjalanan dari hidup ke mati. Perjalanan itu diasosiasikan dengan aliran air sungai (makanya ada suara gemericik air sungai dan cicicuit burung) yang bergerak turun menuju laut, kemudian naik lagi (penguapan) kemudian turun lagi sebagai hujan, memenuhi sungai…kemudian mengalir lagi. Sebuah perputaran. Logikanya, untuk naik, maka harus turun dulu..dan untuk turun, maka harus naik dulu….lah iyalah!

Jon memang agak beda dibanding yang lainnya. Dari logat bicaranya saja sudah beda, aksen inggris jadulnya sulit dipahami oleh yang lainnya. Jon berasal dari Lancashire, dan kalau bicara, logatnya ya logat lancashire yg relatif beda dalam pengucapan kata katanya. Misalnya, kata old bacanya owd. Jadi kalau ngomong, susah dimengerti. Jon juga menghilangkan huruf h dari namanya, saat sudah dewasa. Juga sangat tertarik dengan fantasi mistis…drug…sudah pastilah. Anutannya juga beda, Jon menganut aliran syncretic, sejenis aliran yang mencampur aduk beberapa ajaran agama. Makanya, novel siddharta jadi tema close to the edge, dan kemudian buku authobiographi of a yogi menjadi dasar tema album tales from topographic oceans.

Karena saya ngga bisa ngerti liriknya, maka close to the edge itu sebenernya dipinggiran apa, saya ngga dapat jawabannya….mungkin memang ngga ada jawabannya. Close to the edge itu sendiri sebagai ungkapan, bisa diartikan sebagai..hampir aja ngerjain suatu yang ngga bener. Jadi menurut saya, dari pada jadi close to the edge…mending dengerin aja ngaungan hammond wakeman….atau gitaran howe…atau dentuman brufford dan betotan squire…..peduli amat sama apa yg dinyanyiin Jon the napoleon.

Baiklah, sekarang kaver artnya.

Ternyata, Roger Dean rada kecewa dengan garapan ilustrasi album sebelumnya, sebab banyak yang ngirain bahwa Fragile itu adalah buku cerita ketimbang album musik. Maka dirubahlah semuanya. Sama sekali tidak menampilkan objek. Hanya warna….warna hijau bergradasi hitam. Selain itu, Dean juga meng retouch logo Yes menjadi bentuk yang lebih menarik..seperti yang sekarang ini….huruf balon. Logo retouch itu, diperkenalkan pertama sekali di album ini, diletakkan dibawah tulisan judul album, sama seperti saat di album fragile. Nah supaya logonya dominan dan lebih terekpos, maka tidak ditambahkan gambar objek apapun, hanya warna saja sebagai latar belakang. Ilustrasinya, ditampilkan dibagian dalam sampul. Kurang lebih temanya adalah mengenai close to the edge…hamparan air sperti danau, laguna atau billabong, ada juga air terjunnya…yang terletak diatas sebuah puncak atau pecahan gunung batu yang tinggi menembus awan, seperti danau dikalderon gunung api, didominasi warna hijau kartesu dan biru….100%khayalan nonsense…. Mana ada landscape seperti itu! Katanya Dean sangat terpengaruh dan terinspirasi dengan lukisan cina yg memakai tinta dan cat waterbase. Menurut saya, kaver dari band amerika, Kansas point of know return, jauh lebih tepat untuk album Yes ini.

Jadi, yaaaahhh…begitulah. Ngga usah repot mau tau album itu ceritanya apa, cukup nikmati permainan musik yang teramat canggih dari Yes (tentu selain Jon)…..terkadang, saya berpikir, kalau saja Siberian Khatru hanya musik tanpa vokal…waduuuuhhh….bakal bagus banget….ada rocknya, simponicnya, klasiknya dan…ada jazznya..bahkan kental banget.

Dulu saya juga pernah bertanya tanya, kenapa album Dream Theater judulnya Images and Words..gambar dan kata? ….kok ada suara seksoponnya di Another day…..kan band progmetal? kok pake seksopon kaya Kenny G? Bukannya seharusnya pake suling?

Khalil Logomotif

17 Responses to “Listen To Me, Just Hear Me Out (4)”

  1. khalil logomotif Says:

    Thank mas Gatot! Lagi sibuk buanget yak?

    • Gatot Widayanto Says:

      Sama2 mas Khalil ….
      Bukan sibuk mas, tidak pandai mengatur waktu ….ha ha ha …

      Tapi saya selalu baca blig gemblung di sela2 kegiatan dan senyum sendiri ….. Sayang belum bisa banyak komentar.

      Sore nanti ke Sby, trus Minggu siang ada rencana progring dengan Gemblungers Jateng dan Jatim …. Siapa tahu yang dari Aceh juga gabung? He he he ….

  2. apec Says:

    Agar tidak salah tafsir, oleh Mas Khalil kalimat yg mengandung SMA didahulukan.. SMA = SD Muhammadiyah Aceh, benarkah begitu???

  3. hippienov Says:

    Sepertinya memang kalo mau bener-bener ngerti lagu-lagu Yes atau progrock pada umumnya kita harus bertanya pada penulis lagunya karena seringkali maksud dan pesannya gak mudah dimengerti buat orang lain.

    • Budi Putra Says:

      Bagi org awam mesti mengernyitkan dahi utk memahami lirik lagu2 prog. Sebab kalo gk gitu bukan prog nmnya…hehehe.

    • khalil logomotif Says:

      Saya sering mikir gini mas, kalau saya ngerti semua ucapan yg dinyanyiin (ngerti bahasa inggris) apakah saya masih mau dengerin lagunya?

      Kalau aransemen musiknya, pastilah..ngga ada keraguan…memang canggih, ngga ada ruang untuk ngga suka. Cuma masalahnyakan, musik sepaket dengan nyanyiannya. Sayang dong kalau musiknya enak, nyanyiannya ngga karuan isi liriknya….kan yg paling bisa dan sering kita lakukan adalah senandungin nyanyiannya, bukan mainin musiknya. Bayangin, liat anak sd di aceh senandungin lirik lagu oplosan..hapal…dan pada goyang sambil ketawa ketawa. Coba kalau mereka tau artinya (ngerti bahasa jawa)….

      • andria Says:

        saya setuju dgn pak khalil😀
        makanya dulu selain mendengarkan Queen saya juga mencari lagu2 instrumental gitar. saya sering males menghapalkan syair lagu🙂 kadang2 saya anggap vokali di lagu2 berbahasa asing adalah instrumental juga. suara Jon Anderson rasanya bisa digolongkan seperti itu

      • Koh Win Says:

        Dengan kata lain mas Khalil mau bilang, udah deh dengerin aja TFK, lebih lebih Whai if god is alone……ha ha ha….lirik lirik TFK memang keren….

      • khalil logomotif Says:

        Hehehe….kliatannya seperti itu ya?
        Idealnyakan, musiknya enak, liriknya bagus, saling melengkapi dan tercampur dgn baik…jadi, ada manfaatnya, ngga hanya sekedar suatu yang melalaikan. Walaupun memang ada lagu yang disenandungin aja udah enak (tanpa musik), ada lagu yg disiulin aja udah enak (tanpa lirik)…tapikan bagusnya kalau dua duanya enak.

        Pasti sudah pernah nonton vid klip blue planetnya tfk kan koh Win?

  4. herman Says:

    Sekali lagi Mas Khalil terima kasih atas tulisannya yang ueeenak dibaca…,informatif , mengaduk emosi dan juga ada lucunya… jadi tau, ternyata begitu kuat ya kemauan Jon the napoleon terhadap teman2nya, …..( maaf ya Jon…..abis baca kata Jon the napoleon ini lucu banget…..) …terus ada naik turunnya juga, asiklah…..
    Tapi yang bikin saya seneng karena saya seperti mendapatkan pembenaran……terus terang saya selama ini menikmati musik dengan cara seperti yang dianjurkan bagaimana mendengarkan Close to The edge…yang penting dengerin, kalau enak ya jadi suka, puter lagi puter lagi…..vocalpun sering saya lihat sebagai bagian dari musik……tapi saya heran kenapa yang saya lakukan dengan cara seperti itu jatuhnya kok bisa sama dengan padangan umum …?

    • khalil logomotif Says:

      Sekali lagi Mas Herman, terima kasih ya.
      Kalau saya, sampe sekarang, cuma suka musiknya, ngga suka dengerin nyanyian Jon yg karakternya rada datar dan suaranya tipis…dulu saya kira dia nyanyinya falseto, ternyata ngga. (wah..saya bakal digempur oleh koh Win nih…).

      Vokalis baru Yes yg dialbum baru, jauh lebih seger dan nyaman serta berirama nyanyinya…lebih bagus dibanding Jon, sdikit lbih bagus dari Rabin. Bocoran mp3nya udah ada mas.

  5. yuddi Says:

    Gambar diatas mengingatkan saya pd pemandangan pada perjalanan dari Meulaboh ke Banda Aceh – pemandangan pantai yg paling indah.

  6. Lilik Setiabudi Says:

    Selamat malam mas Gatot, mas Khalil dan bapak2 penggemar progrock di blog Music for Life ini..perkenalkan nama saya Lilik Setiabudi..saya selalu terhibur dan senang kalau membaca blog-nya mas Gatot ini..

    Saya juga sangat menyukai lagu2 Yes band sejak SMA di Malang th 80-an..dari sekian banyak lagu Yes yg sangat saya sukai adalah Close to the Edge yg dibahas oleh mas Khalil ini..sudah puluhan tahun atau mungkin sudah ratusan kali mendengar lagu ini tidak pernah bosan2nya..ini komposisi luar biasa sejak awal sampai akhir..

    Setahun terakhir ini anak saya yg baru saja naik klas 6 SD terlihat mulai menyukai lagu2 Yes..saya perhatikan sejak tahun lalu dia selalu minta diputarkan lagu Yes..oh ya setiap pagi saya selalu antar dia ke sekolahnya didaerah Pejaten dari rumah kami di Jagakarsa..memang yg saya setel di mobil itu ya seringanya CD2 Yes..seingat saya waktu CD album Tormato anak saya kelihatan suka dengan Circus of Heaven dan arriving UFO..nah kemudian waktu saya ganti dengan album Going for the One dia juga kelihatan menyukai album ini..dia sendiri yg selalu milih track lagu Going for the One dan Turn of the Century..kalau Awaken dan Parallels jarang disetel sama dia..

    Nah terakhir2 ini dia yg rajin cari2 lewat youtube buat dengerin versi Live-nya..yg lagi disukai dia itu And You and I dan Close to the Edge..saya perhatikan serius banget kalau lagi dengerin di ipadnya..kadang terlihat dia ikut menirukannya..jadi mulailah ada dialog diantara kami tentang hal2 tentang personil Yes misalnya..kalau sudah ada percakapan seperti ini istri saya cuman senyum2 aja karena nggak paham hehehe..

    saya berpikir kok anak baru berumur 11 thn sudah bisa menikmati lagu yg bapaknya saja baru mulai dengar waktu SMA..setelah saya ingat2 mungkin waktu istri saya hamil, selama perjalanan dari rumah ke kantor istri saya, waktu itu saya nyetelnya cuman CD Yes yg kompilasi (nama albumnya lupa,,pokoknya isinya 2 CD anatar lain ada Close to the Edge, Siberian Kathru, And You and I dll)..mungkin memang ada benarnya bahwa sejak dalam kandungan seorang anak bisa mulai mendengar lagu..entahlah mungkin karena 9 bulan dengarnya lagu itu2 terus, akhirnya terekam di memorynya hehehe

    oh ya di kesehariannya anak saya ini saya ikutkan kursus musik dan dia milih biola..

    demikian mas Gatot saya berbagi cerita..mohon maaf mungkin terlalu panjang..terima kasih mas Gatot sudah membuat Blog yg menghibur dan nuansamatik ini (hehe)

    terima kasih juga buat mas Khalil dan bapak2 yg lain atas tulisannya..

    semoga semakin banyak anak2 muda yg menyenangi lagu2 Yes..

    Selamat malam

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Lilik,

      Salam kenal mas. Selamat bergabung dengan temen2 gemblungers di sini …. sebagai kera ngalaM saya gak kaget kalo mas Lilik suka prog karena memang kota Malang itu ngeprog dari sononya. Sampe Ian Arliandy heran kok permintaan kaset rekaman Yess kala itu kok banyak di Malang sampe didrop langsung, bukan via Surabaya. Hebat dah!

      Wah …anaknya perlu diperkenalkan dengan Kansas ya mas biar tambah ngeprog main biolanya …. pasti dia suka lha wong Yes aja dia lahap.

      Mas Lilik, kalau punya pengalaman menarik, silakan tulis artikel dan kirim ke email saya di gatotprog@gmail.com. insya Allah saya posting dalam waktu 24 jam di blog gemblung. Kita saling berbagi pengalaman kok di blog ini.

      Sekali lagi, senang kenal sama mas Lilik dan semoga kerasan. Penghuninya baik2 kok mas.

      Monggo ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: