Listen to Me, Just Hear Me Out (3)

Khalil Logomotif

image

Buat saya, Thick as a brick Jethro Tull, adalah album paling aneh, mengejutkan dan hueboh! Bayangkan, di saat saya sedang gandrung gandrungnya denger rod stiward dan sejenisnya….tiba tiba saya dihadapkan dengan sebuah kaset yang satu album, dua side kaset, isinya cuma satu lagu! Judul lagunya ya judul albumnya! Gimana mau disiulin…very very unsiulable!

Saya pertama denger album ini, juga waktu sma, hasil minjem punya sepupu yg waktu itu sudah kuliah, bahkan hampir wisuda. Waktu itu, saya pikir, apa mereka yg dewasa itu, musiknya yg aneh aneh seperti ini, baru disebut hebat?….taraf ke sma an saya tetep ngga bisa terima….apanya yg hebat? Itusih namanya ngga kreatip…bertele tele. Waktu itu juga, saya pikir thick as a brick artinya adalah setebal bata….menunjukkan suatu yg kuat dan susah ditembus.

Disisi lain, kaver art disampul kasetnya, seperti lembaran depan surat kabar, St. Cleve Cronicle, dgn gambar tajuknya adalah seorang anak kecil yg mukanya cemberut, pake kacamata berambut poni…pasti ini sejenis nerd!….sedang dirangkul dan dihadiahi secarik kertas oleh seorang bapak tua, sepertinya guru atau pejabat. Dilatar belakang ada gambar ibu ibu dan disamping ada gambar seorang gadis yg wajahnya juga cemberut, dan agak agaknya, roknya kependekan sehingga sedikit kliatan isi dalamnya. Apa artinya ini?

Nah, di headline nya, ditulis bahwa juri juri mendiskualifikasi si kecil Milton. Oke…waktu itu saya pikir, si anak kecil cemberut itu pastilah Milton, yg sedang ikut suatu perlombaan (ternyata lomba tulis puisi), menang jadi juara satu, tetapi kemudian dibatalkan….wajar aja dia cemberut. Dan gadis yg dibelakangnya, mungkin kakaknya…yg juga ikut cemberut karena adiknya ngga jadi menang.

Lalu, apa hubungannya dengan thick as a brick? Ketidak mudengan saya ini sudah lama nempel, dan akhirnya kemarin saya dapetin jawabannya…setelah blog walking kemana mana.

Jadi, listen to me, just hear me out.

Kalau dulu saya artiin sebagai setebal bata, sebenernay Thick as a brick kurang lebih artinya adalah ungkapan terhadap kebebalan, kebegoan, ngga sanggup mikir atau lemot. Berarti, JT menceritakan dengan panjang lebar mengenai suatu kedunguan. Diceritakan bahwa, sikecil Milton (lengkapnya Gerarl Bostock) ikut perlombaan puisi. Puisinya menang, jadi juara satu, sungguh luar biasa, padahal dia baru 8 tahun. Tetapi, kemudian diprotes, karena isi puisinya ada menyebut bahasa kotor yg dianggap tidak pantas dan tidak boleh diucapkan dalam puisi…apalagi yg nulis anak usia delapan tahun. Kemudian kemenangannya dibatalkan. Nah..semua isi puisi Milton itu, kemudian diadaptasi oleh JT untuk menjadi tema album konsep JT , jadi thick as a brick adalah adaptasi dari puisi Milton tersebut.

Tetapi….ternyata? Semua itu, mulai dari sikecil Milton, kompetisi puisi, puisi yg diprotes, juri juri, kemenangan yg dibatalkan, bahkan surat kabarnya….semuanya adalah palsu belaka…karang karangan belaka…hanya lelucon tipu tipuan pura puraan. 100persen dagelan. Jadi..kalau album konsep ini berasal dari adaptasi puisi Milton…berarti seluruhnya hanya karang karangan belaka…atau bisa dibilang sebagai album konsep yang tidak berkonsep….ngga lebih dari pada..lelucon…dagelan. Menurut hemat saya ini artinya adalah….menciplak yang palsu…sudah ciplakan..palsu pulak. Kalau percaya itu asli…bearti thick as a brick!

Kenapa bisa begini ceritanya?

Ini semua berawal dari ketidak senangan Anderson terhadap penyimpulan pengamat musik, bahwa Aqualung (album sukses sebelumnya) adalah musik progresive dan adalah sebuah album konsep. Padahal saat itu, Anderson meyakinkan dan menyampaikan bahwa musik dari bandnya lebih mengusung blues rock, folk dan jazz, ketimbang prog….dan bukan album konsep…yg diera itu, album konsep menjadi ukuran prog tidak prognya sebuah band. Dan menurut saya, memang benar begitu adanya, sesulit apapun komposisinya, ditukik dan ditikung…rasa folk music nya masih tetap tebal dan nyaring bisa dirasakan. Mungkin untuk melampiaskan kegundahannya, kekesalan terhadap salah paham itu, Anderson berniat akan kasi pelajaran, biar nyahok… bikin sebuah album yang akan dikira bener bener sebuah album konsep….induk dari segala album konsep….satu album…satu lagu…titik. Maka lahirlah thick as a brick. Yang, sekarang, kalau saya artikan, kurang lebih Anderson bilang begini..dasar dungu! Kalau mau album konsep….yang lagunya panjang nyambung menyambung…nih saya kasi satu album satu lagu…biangnya album konsep…kurang apa lagi. Atau bisa juga begini…Begitu aja kok susah banget mikirnya…dasar dungu! Kok ya ngga bisa ngbedain yg mana konsep yang mana ngga konsep. Son..son..nih dengerin dagelan dari kami! …begitulah kira kira.

Lantas kemudian, Thick as a brick, digambarkan sebagai sebuah aransemen musik yang berdasarkan sebuah konsep, konsep itu berasal dari sebuah kejadian nyata yang terjadi…kejadian faktual yang terekam dan terdokumentasi dalam berita surat kabar. Memang, dalam penyajiannya, album ini dilengkapi dengan banyak properti visual yang sekonyong konyong mengarahkan kita untuk menganggap ini semua adalah sebuah tema, sebuah konsep, asli, true story, bukan karang karangan, bukan dagelan, bukan khayalan. Surat kabarnya dibikin seasli mungkin, bahkan lengkap dengan tts dan kolom sambung sambung titik untuk anak anak. Beritanya juga dibikin seolah olah berita beneran. Kemudian belakangan hari, lebih parah lagi..ada gosip mengenai gadis di foto yg mukanya cemberut, cemberutnya karena minta pertanggung jawaban kepada Milton, atas…..kehamilannya! Ya ampun….bener bener deh. Mungkin kalau jaman sekarang…upaya Anderson ini disebut dengan viral marketing.

Isi lagu yg disampaikan dalam album ini, yang katanya dari adaptasi puisi Milton, secara singkat dapat disimpulkan mengenai seorang anak yg galau untuk menentukan cita citanya, mana yang ingin dijalani dan ditempuh, apakah jadi tentara, jadi seniman atau jadi apa.

Saya masih tetep ngga mudeng….tetapi dari sedikit informasi dan cerita dibalik layar yg saya dapetin, sudah bisa menjawab pertanyaan…kenapa satu album satu lagu….ternyata hanya untuk lelucon belaka….lelucon mengenai album konsep. Dagelan Jethro Tull.

Berikutnya….album Close to the edge. Sebenarnya dipinggir apa? Dipinggir jurang?…terus…i get up..i get down?

Khalil Logomotif

14 Responses to “Listen to Me, Just Hear Me Out (3)”

  1. Apec Says:

    Serial ulasan kisah di balik cover akhirnya jadi trade mark mas khalil…jadi makin semangat membaca…kalo begitu,ayo mrogrig di aceh saja..(lho,apa hubungannya?dasar thick as a brick apec iki…..)…btw, cover milik I Wayan Balawan juga mengingatkan akan cover JT ini

  2. Edi Apple Santoso Says:

    ulasan berkelas …. tengkiu, tengkiu …..

  3. herman Says:

    Mas Khalil,….terima kasih tulisannya yang menghibur dan bikin cuaca cerah…saya bacanya dua kali lho….saya sependapat bahwa maksud album ini Ian Anderson ingin bilang “Kok ya ngga bisa ngebedain yg mana konsep yang mana ngga konsep…..”
    Sama juga Mas Khalil, saya kenal Jethro Tull juga karena pinjem ….pinjemnya dari teman, kenalan baru, waktu tinggal Jombang, ( sebelumnya saya tinggal di Kediri), dan saat itu juga masih sma…
    Saya sempet kaget waktu pertama lihat kaset satu muka isinya hanya satu lagu….waktu itu taunya kaset isinya 12 lagu, album grup Rock saja satu muka isinya sekitar 5 dan sudah keren serta panjang – panjang lagunya. Jadi waktu lihat kaset satu muka satu lagu sempet kaget campur malu saya, karena merasa ketinggalan dan kalah mbois ….hahahaha…Tapi begitu denger musiknya yang diawali dengan petikan gitar dan ada seruling yang unik… langsung suka saya …pikir saya musik ini keren …sepertinya itulah awal saya kenal musik Prog ….

    • khalil logomotif Says:

      Bener sekali mas Herman. Musiknya memang enak, relatif nyaman dan tdk begitu berat untuk didengerin sepanjang itu. Perpindahan iramanya jg cukup lembut.

      Selain album ini, Anderson jg cukup ngetop dgn pose nyulingnya dgn kaki ketekuk sebelah. Dulu saya pernah bikin stikernya dan tempel di kotak spiker….waktu itu yg kepikir, kok musik gaduh begini, lambangnya orang nyuling?

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Khalil
      Terima kasih pencerahan tentang cover2 yang sangat penuh makna mendalam termasuk album Thick As a Brick, Thin as a Sheet ini ….

      Mas Herman,

      Saya juga kenalnya saat SMA setelah sebelumnya saya denger album War Child yg merupakan pertama kali kenal JT dan Aqualung. Sayangnya kaset Thick ini tanpa cover hanya kaset telanjang rekaman dari PH nya Geronimo yg dibawa mas Henky ke Madiun. Meski telanjang, saya langsung kesirep sama album ini. Saat itu saya hanya tahu yg terpanjang hanya Yes Gates of Delirium ….

      Nyetrum pol!

      Tapi akbum A Passion Play dari JT juga keren lho … satu lagu juga.

  4. kerajinan rotan Says:

    terima kasih banyak untuk informasinya

    • Budi Putra Says:

      Awalnya sy tau JT bukan krn lagu2nya tp ada cerita kalo si Ian Anderson ini mmg super jorok…selagi dia garuk2 kepala eh keluar tuh kecoa dr rambut kriwulnya…hehehe. Cerita ini sy dpt ketika jaman kaset lisensi tiba tp sy lupa dr mana sumbernya.

      Setelahnya sy hanya punya Aqualung dan very best nya (versi cd).

      • khalil logomotif Says:

        Eniwei, saya malah ngga punya satupun album JT. Saya ngga begitu suka adonan folk musicnya. Tapi ya itu, satu kaset satu lagunya itu yg sangat mengesankan saya.

        Klw digaruk keluar kaset, pasti yg garuk mas Apec

  5. Gatot Widayanto Says:

    Perkenalan saya dengan JT ternyata pernah saya tulis juga …

    https://gwmusic.wordpress.com/2009/08/06/jethro-tull-thick-as-a-brick/

    • herman Says:

      Iya Mas GW, saya sudah ikut baca tulisan njenengan 5 tahun lalu….tuops…..
      @ Mas Khalil…pemilihan figur guru yang menyerahkan hadiah pada cover Thick As A Brick itu kok sepertinya dimirip-miripkan dengan Winston Churcil ya….apa ada artinya.ya….?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: