Bunyi “DHENG” di “Firth of Fifth” itu lho!

Gatot Widayanto

Firth of Fifth

Ini sebenernya kelanjutan dari obrolan di mini progring di Surabaya. Jumat malam itu yang pertama kali datang ke hotel Elmi ya mas Edi dan putra sulungnya, Bintang. Sebenarnya memang saat itu saya agak panik karena baru keluar dari kantor Pelindo 3 di kawasan Tanjung Perak sekitar jam 18:00 ba’da magrib di masjid Baitul Hakam nan indah. Maghrib di Surabaya memang jauh lebih awal darpada di Jakarta yakni sekitar jam 17:30 begitu. Begitu dalam perjalanan menuju hotel saya telpon mas Edi karena saya takut beliau sudah nyampe di hotel sementara saya masih di jalan. Alhamdulillah mas Edi nyampe di Surabaya setelah nyetir dari Jombang, namun masih di pondokan Bintang di kawasan Juanda. Saya lega dan sekaligus memberi tahu mas Edi bila sudah sampe di hotel tolong SMS saya aja.

Senang sekali ketika pada sekitar 19:30 saya menjumpai mas Edi dengan seragam kebanggaannya dari album yang disukainya: Steven Wilson “The Raven That Refused To Sing and Other Stories”. Saya senang sekali mas Edi menggunakan kaos ini karena saya salut kepada orang yang menggunakan kaos sesuai dengan selera musiknya, gak seperti saya yang suka IQ namun kadang pake kaos Helloween (ora nyambung blas!) lantaran adanya kaos ya itu karena dulu pernah jadi MC saat konser di Jakarta. Namun hari Jumat malam itu saya juga menyambut kehadiran mas Edi dengan mempersiapkan diri menggunakan kaos dari album yang saya suka dan dari band yang saya cintai : IQ album “The Road of Bones”. Kaos IQ saya ini bener2 GRESS karena memang baru saya pakai pertama kali dan belum dicuci dari hand carry temen baik saya yang rela membelikan saya dari konser IQ tanggal 3 Mei lalu di Islington Assembly Hall, London. Pokoknya …demi penampilan yang baik karena bertemu dengan Pendekar Prog asli nJombang, saya harus jatahkan “pemakaian kaos IQ” ini pada saat pertemuan dengannya. Alhamdulillah kelakon!

Bintang malam itu menggunakan baju kotak-kotak ala anak muda dengan gaya bicara yang kalem seperti Steve Hackett. Tanpa ba bi bu, kami segera bicara nunjek ulu ati tentang ..,, apa lagi kalau bukan hobi yang sama2 kita sukai …ha ha ha ha ha …. Pembicaraan dimulai dengan kesan-kesan Bintang maupun mas Edi tentang dahzyatnya band prog dari Yogya bernama I Know You Well Miss Clara. Pokoke yang namanya Bintang ini adalah penggemar seta band dari Yogya ini dan sudah puluhan kali menonton konsernya baik di Yogya maupun di Jakarta saat tampil di Rock Lingers. Saya malah kagum dengan bagaimana Bintang dan mas Edi mengapresiasi musik Miss Clara ini. Tak lama kemudian pembicaraan nyelempang ke Pelangi (nama adiknya Bintang yang sedang kuliah di UGM) yang gandrung dengan musik metal. Pokoknya Pelangi ini everything is metal, begitulah ceritanya. Namun yang menarik adalah ketika Bintang cerita mengenai band bernama ZOO dari Yogya yang basisnya metal namun ngeprog. Saya cumak ndomblong mendengarkan cerita dari ayah-anak yang sama2 suka musik ini. Dan ….tentu saja saya menikmati obrolan mereka ini. Luar biasa dah!

Oh ya .. kami juga membahas tentang kelompok Radiohead yang menurut bintang mengawali karirnya dengan lagu pop melalui album Pablo Honey, misalnya. Namun mereka akhirnya ngeprog juga di album OK Computer. Whoooaaaaa …. saya jadi ingat lagu mereka bertajuk “Paranoid Android” yang tak ada hubungannya dengan Black Sabbath maupun samsung Galaxy. meski lagu ini diciptakan sesudah lagu Paranoid nya Sabbath, namun musiknya tak berhubungan sama sekali sama Sabbath dan juga lagu ini lahir sebelum Samsung Android lahir. jangan-jangan teknologi Android terpengaruh Radiohead? Ha ha ha ha …. Tapi saya memang suka lagu ini dan juga lagu pop Karma Police.

Sakjane suarane piringan hitam kuwi koyok opo to?” (sebenernya suara piringan hitam itu seperti apa sih?), begitulah kira-kira mas Edi memulai pembicaraan menyenangkan selanjutnya. Kok ya jawaban saya spontan: “Begini lho mas … pernah gak sampean perhatikan bahwa di interludenya lagu Firth of Fifth saat Steve Hackett solo tiba-tiba ada bunyi DHENG …sekitar satu atau dua detik namun sungguh mematikan dan membuat lagu yang sudah indah ini menjadi super duper nunjek ulu ati? Ya begitulah bunyi pelat mas ….suaranya lebar menggelegar seperti mau mendekap kita …”. Mas Edi terus mengiyakan dan ternyata beliau juga suka dan memperhatikan bagian DHENG tersebut … Lantas? kami bertiga ketawa nguwakak pol sampe semua orang yang duduk di lobi ELMI liat kami bertiga kayak orang gila aja … HUA HA HA HA HA HA HA HA ….

Ya memang begitulah menurut saya suara piringan hitam yang diputar di turntable. saya sendiri sangat jarang menikmati PH karena memang bukan kelas saya yang cukup puas dengan kaset rekaman Yess aja. Namun saat saya kuliah dulu pernah dapet pinjaman PH Chick Corea “The Mad Hatter” dan memang suaranya luas banget …. bidang dinamika (istilahnya Tjandra Gozali) lebar sehingga membuat telinga ini nyaman mendengarkannya. Memang asik menikmati suara PH.

Bunyi DHENG itu …

Masalah utama yang bener2 penting dibahas karena memang strategic ya itu : bunyi DHENG nan indah nuansamatik kemlitik zonder rheumatik. Jujur saja, salah satu kenikmatan mendengarkan Firth of Fifth versi studio selain memang musiknya indah diawali dengan intro yang klasikal, juga bunyi DHENG yang terjadi di interlude. Bunyi ini begitu indah di telinga setelah mengarungi flute solo dan guitar solo nan indah. Rasanya begitu DHENG keluar langsung dah puncak orgasme tercapai dan di situ rasanya kenikmatan paripurna tercapai …. WHOOOAAAAA …..!!!!

Kalau kenikmatan lagu ini versi “Seconds Out” ada di lima not terakhir dari gitar solo Hackett meski bunyi DHENG nya hilang …..

Begitulah nuansamatiknya sebuah musik yang terkadanga hanya sekedar injakan satu not taurus pedal saja membuat hati ini terasa tenteram ….

Salam hari Ahad!

Manifestasi Bunyi “DHENG” ….

 

Tadinya saya akan buat tret lagi terkait hal ini. namun sekalian ajalah saya tulis di bawahnya karena nyambung. Hari sabtu kemarin saya dijemput pak Dokter di Hotel tempat saya menginap untuk diantarkan oleh beliau ke bandara Juanda. Saya sungguh tersanjung dengan budi baik pak dokter ini karena sudi mengantarkan saya ke bandara. Ini jelas pertemanan yang guyub luar biasa! Matur nuwun sekali lagi, pak Dokter Arief Apec Bakhtiar …

Tepat jam 10 sesuai janji beliau sudah berada di lobi. Akhirnya dengan dikemudikan pangsung oleh pak Dokter, saya diajak menuju bandar. Namun karena rumah beliau di sekitar Juanda, maka saya ditawari mampir ke rumahnya. Tentu saya sambut dengan suka cita riang gembira lunjak-lunjak plus gedhruk gedhruk bungah diajak mampir ke rumah kolektor kelas wahid!

Namun …

Tunggu dulu ….sabaaaaar ….. Sebelum sampai rumahnya saya diajak mampir ke warung kuliner Lontong Balapan dan Es Degan. tentu saya ogah menolak alias langsung akur dengan ajakannya! Kapan lagi kulineran Suroboyan oleh seorang dokter yang juga kolektor musik. Akhirnya kami mampir lah di warung kuliner Lontong balap Cak Budi ini dan order lontong balap, es degan plus sate kerang …Muantabz jaya …

Lontong Balap dan Es Degan

Lontong Balap dan Es Degan

Penampilan warung Lontong balap Mas Budi

Penampilan warung Lontong balap Cak Budi

Setelah itu saya diajak menuju rumahnya di kawasan Tropodo yang lokasinya tak jauh dari warung Lontong balap. Kebetulan mbak Anik (istrinya bro Apec) dana putra putrinya sedang ke rumah neneknya yang tak jauh dari rumah pak dokter sehingga kami hanya berdua saja di rumah pak dokter.

House of The Rising Prog Star - tampak luar

House of The Rising Prog Star – tampak luar

Whoooaaaaa…rumah yang luas dan dua tingkat ini cukup egois karena dipenuhi dengan koleksi musik yang banyak: PH, CD, DVD dan tentu saja kaset. Turntable aja ada tiga buah. Wis pokoknya kumplit semuanya. Di lantai bawah banyak PH dan di lantai atas banyak kaset dan CD plus beberapa PH. saya lebih senang di lantai 2 karena ada ruang dengar khusus dan saya minta diputar PH saja sekaligus membuktikan omongan saya ke mas Edi terkait bunyi mak “DHENG” yang saya tulis di atas. Dan Alhamdulilah ada PH Yes Live in Switzerland yang terdiri dari tiga keping (udah kayak Yessongs aja).  Memang benar yang saya katakan ke mas Edi banhwa menikmati suara PH adalah ibarat bunyi DHENG di Firth of Fifth nya Genesis.

Koleksi PH (sebagian kecil) di lantai bawah

Koleksi PH (sebagian kecil)

Akhirnya mak jeglek jarum PH diturunkan dan mengalunlah suara Jon Anderson yang seakan brada di depan hidung saya dan siap merangkul saya lantaran kualitas suara PH yang indah …. (pssssttt … Koh Win dilarang cembokay ya …ha ha ha ha ha ha ha …. Maap Koh Win …saya mendengarkan suara Jon pake PH lho ….bukan CD ….ha ha ha ha ha …silakan misuh2 ….!!!)

Kapan lagi bisa menikmati Yes via PH?

Kapan lagi bisa menikmati Yes via PH?

Salah satu kenikmatan mendengarkan PH ya melihat piringan besar lebar yang berputar konsisten .... Biyuh!

Salah satu kenikmatan mendengarkan PH ya melihat piringan besar lebar yang berputar konsisten …. Biyuh!

Memang ruang dengar bro Apec ini keren banget dan sangatlah cucok buat suatu hari kita menggelar progring di sini …Mungkin kalau nanti kita diundang di pernikahan nina A? (GR ya …kayak kita2 ini diundang aja! ha ha ha ha ha ha …). Kalau perlu kita nginep ndelosor di ruang dengar ini. Bro Apec menawarkan ke kita buat nginep di rumahnya lho … Ketimbang nginep di hotel dapetnya lagu pop tembang lawas dan gak prog, ya mendingan menginap di Tropodo Palace ini … Gimana? hayo dirancang acaranya!!!.

Salah satu dindingnya penuh dengan ribuan kaset berbagai rekaman dan di dinding depannya juga begitu ditambah koleksi CD. Tak kalah pentingnya ada Herman’s Corner di ruangan ini berisi artwork karya mas Herman. Saya jadi malu melihatnya karena saya sendiri belum membuat pigura karena terbatasnya tembok. Namun Herman’s Corner ini bener2 indah dan nuansamatik sekaleee…

Puluhan ribu kaset memenuhi dinding ...

Puluhan ribu kaset memenuhi dinding …

The Herman's Corner

The Herman’s Corner

Greater details of Herman's Corner ...

Greater details of Herman’s Corner …

Posters

Posters

Dinding lainnya ...

Dinding lainnya …

Monalisa nya banyak dan lengkap ...

Monalisa nya banyak dan lengkap …

Sayang saya kemudian harus ke bandara buat terbang kembali ke Jakarta. Next time kita ketemuan di rumah bro Apec …pasti nyamleng suromenggolo tenan ….!!!

Salam Ahad!

 

 

23 Responses to “Bunyi “DHENG” di “Firth of Fifth” itu lho!”

  1. andria Says:

    saya kira lontong balapnya yg di dekat rel seberang pabrik kulit sidoarjo. bagaimana pun sungguh suatu anugerah bisa melihat koleksi pak Apec. saya aja cuma melihat kaset2 mas Hardi di condet itu sdh cukup puas, apalagi utk melihat koleksi yang berlipat banyak nya ini bagaimana rasanya😀

    • Gatot Widayanto Says:

      Sepertinya iya mas Andria karena memang melintas rel sih … Tapi biarlah bro Apec menjawab … Saya ndak tahu blas!

  2. yuddi Says:

    mas G , ada yg selalu konsisten “Abbey Road” is everywhere – cover album paling populer🙂

  3. Edi Apple Santoso Says:

    kira2 diruangan pak dokter apec ini, tujuh hari tujuh malam saja masih belum puas …….

    • Gatot Widayanto Says:

      Iya mas Edi …wajib stay di rumah bro Apec sebulan kayaknya … Tapi makan bayar sendiri ya .. Jangan ngerepoti. Juga umbah2 dewe …. Sing pentng pasang telinga aja …

  4. Rizki Says:

    Mas Apec,
    Top koleksi dan ruangan musiknya! Jelas terlihat Mas Apec penggemar kaset YESS soalnya pagar dan dinding rumah samapi dicat dgn warna hijau dan biru muda🙂

    lontong balap dan es degannya jg sangat menggiurkan …

    • Gatot Widayanto Says:

      Hua ha ha ha ha ha ha …bener juga mas Rizki ini pengamatannya …sampe rumah pun hijau dan biru …wakakakakakakak …seruuuu ….

      Padahal di rak kasetnya semua rekaman kumplit plit!

  5. herman Says:

    Terima kasih Mas GW sudah difotokan poster yang nun jauh di Sidoardjo…..saya jadi tersanjung…thanks juga Pak Doketr apresiasinya…
    Gara gara judul Tret yang bikin penasaran….sudah tau Mak Dheng nya Firth Of Fifth tapi ya tetep aja pengen denger….hahaha….jadi nyetel deh walaupun hanya kaset..
    Saya setuju Mas Rizki…itu Lontong Balap n Es Degan -nya menggiurkan …..kalau nggak ada guide-nya yang faham belum tentu kita bisa ketemu yang betul betul mak nyus….

  6. Koh Win Says:

    Wah yo pantes aelah mas nek aku misuh misuh…..jiancuuuuuuuuuk!!!!!

  7. apec Says:

    ha..ha…iso-iso wae Om Gatot, gara-gara asyik menikmati Yes lagu Show Me, akhirnya sampe keliru masuk terminal bandara..Buat rekan2 yang akan ke dan mau pergi dari Surabaya via bandara, harap ditanyakan ke penjual tiketnya, masuknya lewat terminal berapa, biar gak keliru..ayo nginap, sumonggo..ada satu kamar kosong kok..

  8. Gatot Widayanto Says:

    Dua hari ini workshop dg klien dan di hari kedua tadi saat mereka saya tugasi dengan diskusi kelompok, saya setel Firth of Fifth. Woauuuuuwwww …. merindhink disco saya mendengar alunan lagu ini sayup2 namun terdengar megah sekali dari ceiling loudspeakers ruang ballroom mutiara 3, hotel Gran Melia Jakarta …. wah edan …suasana syahdu menggebu dan menambah semangat saya …. Memang prog paling top markoprog buat workshop ….

    • Gatot Widayanto Says:

      Kalau dipikir ….musik prog yang klasik aja sampai dengan era Marillion Fish sekitar tahun 1988 sudah membuat ndhredhegh …. Kalau gak ngikutin prog lagi juga sudah banyak yang indah dari prog music …
      Belakangan ini saya jarang menikmati yang klasik krn banyak prog baru yg huwebat ….
      Makanya kemarin itu terasa nuansamatik bisa nyetel musik prog di hotel bintang lima …. kapan lagi!!! Ha ha ha ….

  9. kukuh tawanggono Says:

    Mas Gatot guru kulo

    Saya yakin….dari sekian ribu kaset koleksi priyayi agung Surabaya ini ada yg lolos.Fatalnya ini adalah album yg amat uuuuuuuuuniiiiiiiiik sekali……….
    JKT48 mas…….he he he
    Sampun duko njih mas Apec,niki namung guyon(jangan marah njih mas Apec,ini hanya bercanda)

    Sepuntene ingkang kathah(mohon maaf)bila ada tutur yg tidak berkenan

  10. apec Says:

    Lho, kok tahu Mas Kukuh? dulu saya menyimpannya kan gara-gara rekomendasi njenengan, ha..ha..

    • kukuh tawanggono Says:

      Tapi ini kan gara-gara saya ndak tega melihat sambate(keluh kesah) njenengan yg begitu menginginkan album uuuuuuniiiiiiik ini………….ha ha ha ha ha ha ha
      Mas Apec 2:1 njih ha ha ha ha ha ha ha ha

  11. sonii_dr Says:

    Ini rumah en kamar dokter edyaannn….dulu tahun 1997 akhir masih 30 buah & bangga dengan jumlah itu, sekarang udah ribuan…hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: