The Beatles: A Grammy Salute

Budi Putra

Tret ini dipicu karena tayangan Net tv, The Beatles: A Grammy Salute. Karena acara ini beberapa teman nyempetin diri untuk sms dan BBM bunyinya, “Woi, bitel tuh di Net”…”Bitel mas bro di net…jangan dilewatin…kualat entar! “Bitel enggak ada matinye! Liat di net tv bro”…demikian sekian sms dan BBM yang saya terima. Rupanya teman-teman ini masih belum bisa melupakan The Beatles walau ngakunya lebih suka prog, jazz, reggae, blues, dan metal. Tapi untuk The Beatles sepertinya ada pengecualian.

beatles

Sebenarnya ini siaran ulang yang sebelumnya pernah ditayangkan di stasiun yang sama. Pada acara ini ditampilkan sejumlah grup dan penyanyi ternama dari berbagai genre. Mereka membawakan nomor-nomor hits The Beatles seperti “Yesterday, “Here Comes The Sun”, hingga Ringo Starr dengan “Yellow Submarine”, “Boys”. Paul McCartney yang tak kehilangan energi mudanya ikut melantunkan “Get Back”, “I Saw Her Standing There”, kemudian duetnya bersama Ringo dan penyanyi pendukung lainnya dengan menyanyika “Hey Jude” sebagai sesi penutup. Weih, bener-bener keindahan sempurna malam ini bersama dua orang personil band legendaris yang masih hidup. Nampak Yoko Ono yang berada dibarisan terdepan penonton dengan kacamata bulat khas John Lennon sambil bertepuk tangan dan berdansa mengikuti irama lagu. Acara ini memang sengaja digelar untuk memperingati 50 tahun The Beatles. Dengan tampilan grup dan penyanyi dari berbagai generasi (bahkan Dave Grohl-Foo Fighter membawa serta
putrinya) acara ini sangat menarik untuk disaksikan. Setting panggung yang indah dan tampilan back ground foto-foto serta gambar para personil The Beatles semasa muda dulu. Sungguh kemasan acara ini berhasil membawa penonton memasuki masa-masa indah dan kenangan saat bersama sang legenda. Maka tak mengherankan lagu-lagu yang dinyanyikan begitu antusias diikuti para penonton dengan bernyanyi bersama.

Ngomongin The Beatles memang enggak ada habisnya. Tak lekang dimakan jaman. Lagu-lagunya abadi sepanjang masa. Kata teman, The Beatles itu ibarat bunga edelweis, bunga abadi di pegunungan yang hanya muncul di bulan-bulan tertentu dan kerap menjadi oleh-oleh bagi para pendaki yang sampai ke puncak. Ingatan saya juga masih lumayan kuat mengingat grup dan sosok para personilnya mulai dari Lennon, McCartney, George, Ringo. Bagaimana tidak, karena The Beatles-lah cinta pertama saya dalam mengenal musik ngak, ngik, ngok…musiknya wong londo yang dikekang oleh Bung Karno pada jaman revolusi dulu. Berkat The Beatles pula uang SPP 2 bulan melayang karena tergiur beli double kaset plus bonus booklet terbitan AR record yang top markotop…hehehe. Kala itu, mendengarkan The Beatles seperti mengejar dan kemudian mendapatkan cewek idaman. Karena keindahan musik, lirik dan lagunya bak mewakili isi hati yang paling dalam. Coba saja dengerin ” And I Love Her”,
“Michelle” “Girl” “Anna”…..ketika hujan turun rintik-rintik…indah, indah nian.

Semasa SMP dulu, teman-teman di kelas baik yang laki-laki juga perempuan semua suka The Beatles. Kalo ada yang enggak suka kita musuhin bareng-bareng…hehehe. Bahkan, beberapa teman juga ada yang meniru gaya dan tampilan rambut yang dimirip-miripin model rambut para personilnya. Mungkin karena masih SMP yang wajahnya masih imut-imut maka jadi pantes-pantes aja. Bahkan teman sebangku, Herry Maulana, wajahnya sangat mirip Ringo Starr. Karena kegemaran tersebut tak heran bila kelas kami dulu dijuluki sebagai “Kelas The Beatles”. Pernah ada kejadian karena kami selalu bising bila tak ada guru pengajar yang absen…nyanyi-nyanyi, pukul-pukul meja, gosipan, dan kehiruk-pikukan lainnya…ya, mirip-mirip bonbin dah! Kemudian ada guru pengganti yang masuk kelas kemudian mendaulat saya dan teman untuk menyanyikan lagu The Beatles. Tak membuang waktu saya dan teman langsung menyanyikan “I Saw Her Standing There” yang kemudian membuat heboh seisi kelas dan dikelas
lainnya. Jadi setelahnya semakin kuatlah julukan “kelas The Beatles” bagi kelas kami. Memang dimasing kelas punya julukan masing-masing. Ada kelas Rolling Stones, Helloween, Sex Pistols, dll. Wah seru deh, kalo lagi jam istirahat ngumpul di kantin masing-masing kelompok/kelas ngomongin band kegemarannya sambil makan bakwan dan es sirup warna-warni. Fenomena The Beatles bukan hanya terjadi di kelas/sekolah kami saja. Di kampung dan di jalan-jalan banyak sekali coretan-coretan terkait band ini yang banyak ditemui di sepanjang jalan Cidodol Raya, Permata Hijau hingga jalan menuju sekolah di SMP 185 Kemandoran Utara, Senayan. Tulisan seperti Mat Bitel, Beatles Forever, Bharata Band Fans Club, Bitel Enggak Ada Matinye! (BEAM!), hingga nama-nama para personilnya seperti Lennon Boys, Ringo’s and Friend, dan lainnya.

Fenomena The Beatles memang mengharu biru generasi muda pada saat itu tak terkecuali kami. Kini, walau sudah sekian tahun bubarnya The Beatles namun keberadaannya selalu dinanti. Lagu-lagunya tetap abadi dan selalu kontekstual dengan kondisi yang ada saat ini. Wah, jadi pengen nyetel The Beatles nih…jreng!

14 Responses to “The Beatles: A Grammy Salute”

  1. andria Says:

    sama pak Budi, awal dulu saya penasaran mau tau seperti apa musiknya the Beatles. akhirnya kakak saya yg 2 kelas di atas saya minjam kaset the Beatles (keluaran Billboard) saat dia kelas 2 SMP. baru tahu ternyata musiknya Beatles seperti itu. awalnya juga terkesima dgn musik sederhana mereka yang ternyata beda dgn musik pop yg ada di indonesia. tapi akhirnya saya lebih milih Queen🙂

  2. kukuh tawanggono Says:

    Mas Budi sedulurku lanang

    Album The Beatles “Sgt.Pepper’s Lonely Hearts Club Band”adalah album yg membuat saya menyelingkuhi The Rolling Stones(sepuntene/mohon maaf njih mas DanaG).Sejak itu di hati saya cuma ada dua band The Rolling Stones dan The Beatles.Band ini jika digambarkan dengan grafik,selalu mengalami peningkatan dari album ke album.Mereka ini sepertinya selalu bermetamorfosis dari sebentuk keindahan menuju keindahan lainnya.
    Mas Budi saya mau pamer,njenengan ndak boleh iri njih……..he he he.Barusan saya menyanyikan lagu The Ballad John And Yoko bersama-sama si A sambil tangan kami saling menggenggam.Sampai-sampai petugas parkir tersenyum-senyum melihat tingkah kami.Mungkin disangkanya ada tacik selingkuh sama pembantue……ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    Seribu jempol untuk mas Budi atas tulisannya yg njalu, apa yg barusan dialami adikke ini.

    • Gatot Widayanto Says:

      Wah mas Budinya lempar tangan sembunyi batu …. Soalnya tadi posting hanya perlu waktu lima menit setelah mas Budi kirim …..ha ha ha ….

      • kukuh tawanggono Says:

        Ha ha ha ha……mas Gatot naluri njalue mas Budi amat tajam,kok bisa tahu njih apa yg barusan saya alami.Lha ini jantung saya masih ser-seran(berdebar-debar),Jembres saya elus-elus sambil mesam-mesem(senyum-senyum)………….ya Allah gusti,surup-surup(senja hari) saya kok jadi wong edan…..ha ha ha ha ha ha

      • Gatot Widayanto Says:

        Sepertinya setelah menulis tret dan membuang tangan, mas Budi repot acara kekuarga dan gsk nyangka tulisannya secepat kilat sudah tayang ….ha ha ha …trus batu yang disembunyikan hilang ….ha ha …rak yo cotho tenan to? Wk wk wk ….

      • Budi Putra Says:

        Mas Gatot guru kulo…terimakasih sdh diposting tret ini. Maaf bgt baru ditengok lg blog dahsyat ini…pas ngirim tret dlm perjalanan ke puncak, bogor krn acr kantor dan kemudian disibukkan dg tetek bengeknya…skrg lg nyantai sambil menikmati dinginnya udara disini.

        Sbnrnya tret ini sy buat sambil nonton dan sesudahnya tengah malam biar bs sy krm biar bsknya bangun tidur lgsg diliat mas Gatot…lah kok jaringannya lemot sekali dan jelang brgkt ke puncak baru konek.

        The Beatles, walau hanya diwakili sisa personilnya ttp menawan hati…mknya sy bersemangat utk melayangkan tret ini ke mas Gatot dan siapa tau ada yg ikut kesenggol dg tret ini…hehehe

      • Gatot Widayanto Says:

        Wah asik ya mas di Puncak …kok malah hari Minggu. Berarti acara sampai besok ya mas? Sukses ya mas …. Kalau butuh facilitator workshop yang ngeprog, you know my number mas … wakakakakak ….ora payu sing ngeprog ngene iki! Ha ha ha ….

        Salut dengan tulisan The Beatles nya mas. Hari ini saya juga terima brotkes dari temen2 yang salut dengan acara tersebut. Dengan ulasan mas Budi menjadi imbang pemberitaan di blog gemblung ini karena saya gak kober ngikutin selain yang bener2 prog. Lha ini baru ngurus IQ dan Transatlantic ujug2 ada album live Anglagard yang keren di Jepang …. hadewwwww ….prog jaman ini makin edan aja …. Mana sempet saya ngikutin aliran lain?

        Sempet juga sih ….karena ada album hard rock dimana bassist prog jaman kini, Jonas Reingold, juga main …. wah ….musti simak yang baru lagi.

        Duh ….kapan ya derita prog ini berakhir? Tiap hari saya menderita kepuasan dengan hadirnya album2 prog baru sehingga gak sempat menoleh ke belakang …..

        Majulah prog!

      • Budi Putra Says:

        Acaranya sampe selasa nih mas…lah iya kok bikin acr malah dimulai hari minggu…ada2 saja. InsyaAllah mas suatu waktu perlu fasilitator ngeprog spt mas Gatot mesti sy hubungi deh.

        Malam ini sy panteng Transatlantic dg lagu2 covering Yes, Moody Blues, dan lainnya…asik bener dingin2 menikmati “You and I”…wah keren!

        Sambil nunggu ulasan mas Gatot dengan IQ-nya…wah mesti keren habis! Kmrn dibabat oleh Koh Win dg rentetan Yes yg menakjubkan.

        Prog emang gak ada matinye!

    • danangsuryono2112 Says:

      Wah sungguh hebat mas Kukuh bisa seneng Stones sekaligus Beatles….mantab..

      • Budi Putra Says:

        Tp utk Beatles mas Kukuh khusus lagu cintanya aja mas DananG….hehehe

      • kukuh tawanggono Says:

        Sepuntene njih mas DananG saya jadi menyelingkuhi The Rolling Stone……………….memang The Beatles…… ini kalo menurut saya lho”Satu-satunya band yg mampu menandingi The Rolling Stone”
        Mulai dari album “Sgt.Pepper’s Lonely Heart Club Band”itulah awal perselingkuhan saya ini di mulai.
        Untuk album itu ada dua perasaan di dalam hati saya.
        Saya benci album ini karena bisa mengalahkan dengan telak “Their Satanic Majesties Request”sekaligus saya cinta album ini karena strukturnya yg terlihat sederhana namun sebenarnya rumit.Setiap lagu yg ada didalamnya, menggambarkan dengan jelas soul dari para penciptanya.

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Budi mesti njalu…..ha ha ha
        Sepuntene ingkang kathah njih(mohon maaf)jaluannya sudah saya balas di tulisane mas Hippie…..he he he

  3. andria Says:

    ndak apa2 mas kukuh, mungkin John Lennon paham cara membuat lagu yg dikhususkan orang yg sedang kedanan🙂

    • kukuh tawanggono Says:

      Ha ha ha ha….njih mas Andria orang kalo lagi roman seperti wong edan(jadi malu saya).
      Saya membaca komentar njenengan yg mengandung sanepan jadi senyum-senyum sendiri,padahal saat ini saya sedang mengikuti pertemuan warga yg dihadiri pak RT sama pak RW.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: