Renungan: Memotret Politik dari Pinggiran

Budi Putra

Dalam beberapa hari ini sambil membacai biografi singkat para personil Pink Floyd, Jefferson Airplane, hingga The Clash, Rage Against The Machine, SOAD, saya jadi tergerak untuk menuliskan situasi yang saya rasakan dan mungkin juga rekan-rekan blog gemblung, tentang hiruk pikuk perpolitikan di negeri ini. Saya mencoba menuliskannya dari pinggiran gelanggang permainan sambil bolak-balik memaknai lagu “Apatis” dari Benny Soebardja.

Perjalanannya, setelah pemilihan anggota legislatif (Pileg) kini mulai memasuki fase pemilihan presiden dan wakil presiden (Capres/Cawapres). Dan yang kita rasakan tensinya sudah mulai memanas. Apalagi hampir di semua media berita politik ini sudah menjadi suguhan sehari-hari baik yang hoax maupun yang berdasarkan fakta. Sepertinya suka tidak suka kita dipaksa untuk mau mengunyah dan menelan konsumsi berita itu. Lantas apa makna dan manfaatnya kelak bagi kita semua dari proses yang terjadi saat ini? Mengenai itu hampir setiap menit saya dikirimi broadcast, newsline, sms atau informasi/rumors oleh teman-teman yang saat ini sudah dan sedang menggelantungkan hidupnya di medan politik negeri ini…hadeuh capek juga menerimanya. Umumnya berita yang mereka kirimi terkait figur dari kedua capres dan cawapres yang tengah bertarung pada pemilu saat ini. Tidak semua saya respon dan lebih banyak saya buat guyonan aja. Buat apa diseriusi wong saya gak dapat apa-apa kok…hehehe. Saya katakan bila saya lebih asik di pinggiran gelandang dan menikmati hidup alakadarnya, bercengkrama bersama keluarga, menyelami keindahan musik kesukaan dan rutin menyimak blog ini yang justru mencerdaskan dus guyub/silaturahim. Hal ini bukan berarti saya apatis dengan situasi yang ada loh. Karena menurut saya apa saya lakoni diatas nyatanya lebih bermanfaat baik secara jasmani maupun rohaniah dibanding kecemplung dalam hiruk pikuk yang abnormal itu…hahaha! Tapi apapun itu saya ingin memotret situasi terkini dari pinggiran saja…maksudnya biar lebih jernih dan enggak meledak-ledak kayak kompor mau meledug!

image

Begini, setiap waktu saya saksikan di tv dan media lainnya, demi memenangkan/merebut kekuasaan maka segala cara ditempuh oleh masing-masing pihak. Segala caci maki, intrik dengan menghembuskan fitnah, bahkan intimidasi, semuanya seoalah menyesaki ruang publik juga pribadi. Mengenai ini, sampai-sampai anak saya (Timur Mardika) bila ada muncul iklan kedua capres-cawapres di tv, dia mengatakan “Ayah, yang ini musuhnya si A ya?…atau sebaliknya. Saya kaget dan mencoba memberikan penjelasan dengan bahasa anak-anak. Karena saya tidak ingin kebencian/permusuhan bersemayam dibenak anak saya. Bagi saya, itu artinya politik saat ini sudah sama sekali tidak mendidik bahkan bagi anak-anak sekalipun. Saya juga heran padahal masing-masing dari dua kubu ketika mendeklarasikan diri dengan mengenakan tampilan pakaian putih-putih yang menurut saya melambangkan kesucian, kebersihan, kejujuran, kesopanan. Tapi faktanya bicara politik antara tampilan dan tindakan tidaklah berbanding lurus. Jadi hanya lips service/pencitraan semata demi mengelabui masyarakat. Menurut saya, kekuasaan sungguh memang membutakan bagi siapapun tak terkecuali bagi mereka yang disebut sebagai ulama, ustadz, artis, profesor, dosen, atau gelar-gelar prestisius lainnya. Politik sejatinya untuk kemaslahatan nyatanya hingga saat ini belum saya temui perilaku politik yang mencerdaskan.

Bahkan ada yang lucu dan membuat saya terpingkal-pingkal sekaligus sedih dan prihatin ketika menyaksikan sejumlah artis/musisi yang ikut meramaikan pentas politik saat ini. Sebut saja nama Rhoma Irama sang Raja Dangdut yang kebelet ingin jadi presiden di pemilu kali ini. Tapi belakangan mutung karena akhirnya cuma digombali oleh anak-anak muda yang bercokol di partai bentukan (Alm) Gus Dur, PKB. Ada juga nama Anang Hermansyah yang beruntung bisa lolos jadi anggota DPR tapi banyak juga artis yang tidak beruntung dalam pertaruhan itu. Nampaknya gedung DPR tetap menjadi gula-gula bagi mereka yang haus akan kekuasaan: status sosial, cari rejeki dengan menjadi wakil rakyat di gedung DPR. Jadi semangatnya hanya itu yang bisa saya saksikan.

Berbicara musisi/seniman setelah era Gombloh, Leo Kristi, Harry Rusli, Iwan Fals, Franky Sahilatua, yang kerap menyuarakan ketidakadilan lewat lirik dan lagu-lagunya, nampaknya jarang sekali kita temui musisi yang sejalan dengan mereka diatas pada saat ini. Mungkin masih bisa kita temui di musisi/band underground/indies. Tapi tentu saja gaungnya hanya terbatas ditingkat komunitas atau lapisan masyarakat tertentu saja. Namun hal yang bisa menjadi oase kita dapatkan dari musisi-musisi luar negeri. Kita tentu mengenal Genesis, Pink Floyd, serta band-band prog/metal lainnya yang melalui lirik-lirik lagunya menggugah kesadaran masyarakat akan hiprokitisme dunia modern saat ini. Sebut saja nama beken di scene punk rock The Clash, Dead Kennedys, Rage Against The Machine, System Of A Down dll, yang dengan lantang menyuarakan kritik sosial dan revolusi dunia melalui media pop kontemporer. Jadi mereka pandai memafaatkan popularitas tapi tidak gamang dengan situasi yang ada. Bahkan yang membuat saya salut ialah walau mereka sudah sedemikian terkenal namun tidak lantas tergiur dengan godaan kekuasaan yang ditawarkan. Melalui musik hingga saat ini mereka tetap teguh dengan pilihannya. Bahkan, eks vokalis RATM (band ini sudah vakum) karena mendalamnya pemahaman akan ideologi yang ia yakini dengan rela meninggalkan dunia pop dengan hidup (live in) berjuang bersama kelompok perlawanan Zapatista di rimba hutan belantara Mexico.

Tentu saja hal ini berbanding terbalik dengan musisi pop yang kita jumpai dinegeri ini dengan alasan yang menurut saya dangkal: semua orang punya hak untuk berpolitik. Padahal ujungnya tidak berbeda dengan yang sudah-sudah karena minim kualitas akademis maka keberadaannya hanya meramaikan atau ujungnya ikut bermain dalam lingkar korupsi…untuk itu mari kita buktikan nanti…kok jadi apatis? Ah biar aja emang saya lagi dengerin lagunya Benny Soebardja “Apatis”…

Reff. Jurang curam berkeliaran
Tanda bahaya sana sini
Padang rumput lembut hijau
Itupun tiada tertampak

16 Responses to “Renungan: Memotret Politik dari Pinggiran”

  1. Budi Putra Says:

    Mas Gatot yg keren terimakasih sdh dimuat renungan ini. Semoga berkenan dan bermanfaat utk rekan2 semua di blog gemblung.

  2. Edi Apple Santoso Says:

    aku wis pesen kaos frank zappa for president karo sam rahendra wardhana, tp beliaunya jik semoyo 2 atau 3 hari ini selesai …. suwun suwun sam, ente bener2 penyebar kaos prog ……
    lumayan keno dienggo kampanye …….

    • Budi Putra Says:

      Hahaha, mas Edi bisa aja…kaos presiden prog keren tuh mas…hehehe. Bbrp waktu yg lalu aku kontak Rahendra ktnya msh blm bs order krn mesinnya rusak…wah kalo sdh bs mau pesen Peter Gabriel For RI 1.

      • Edi Apple Santoso Says:

        yang digital printing gambarnya gampang luntur mas budi … minta yang sablon, lebih awet …..

      • andria h8 Says:

        pesen mas Kukuh aja coba, buktinya sdh ada di blog ini🙂

      • Budi Putra Says:

        Iya mas Edi, model digital printing mmg gak awet bbrpkali cuci mulai luntur apalagi kena mesin cuci. Tp kalo di cuci manual repot juga ya….saya ngerasain sendiri…hahaha.

        Iya mas Andria, mungkin mas Kukuh bisa memulai dr Frank Zappa For Presiden, atau yg lainnya…..?

      • kukuh tawanggono Says:

        He he he….Untuk berupa foto ditempat saya itu hanya bisa melalui Print Digital,sedangkan untuk sablon manual paling banter itu kalo wujud gambar ya yg model sketsa mas Budi.

      • andria h8 Says:

        kl saya malah milih yg mirip Godbless tadi mas kukuh, lebih nyeni. pakai kaos jenis misty atau bahan yg adem.

  3. kukuh tawanggono Says:

    Mas Budi sedulurku lanang

    He he he………akhirnya muncul juga tulisan yg sudah saya duga-duga beberapa hari ini akan muncul(suara keras dari sedulurku lanang,menjelang pilpres).Tulisan njenengan ini lha kok mengingatkan saya,pada suatu kejadian di kampung saya baru-baru ini.
    Tetangga saya ada yg mencalonkan diri sebagai anggota DPRD pada Pileg kemarin.Waktu itu saya heran,bagaimana mungkin orang yg selama ini ndak pernah aktif dalam lingkungan masyarakat kok berani-beraninya nyaleg.Terbuai oleh mulut manis dunia politik,akhirnya orang-orang ini mendadak berubah.Menjadi lebih aktif dalam kegiatan masyarakat,segala upaya dilakukan untuk mendulang suara.Singkat cerita akhirnya…….ya ndak jadi……he he he.Kini ya jadi ngaplo kaya Jembres kelangan tikus(bengong seperti Jembres kehilangan tikus).
    Kalo dipikir-pikir kekuasaan memang kejam mas,sanggup menghilangkan rasio seseorang njih.
    RATM dari dulu selalu mendasarkan pada sosialisme karya-karyanya.Hal ini bisa njenengan lihat pada musik ataupun cover album yg dipenuhi dengan nuansa sosialisme.

    • Budi Putra Says:

      Sekedar mengingatkan buat diri sendiri dan mungkin yg lainnya mas Kukuh….sebenarnya bukan politiknya yg salah tp pelaku/politisinya yg gak beres. Politik jg bagian dr seni utk mengelola kekuasaan jd tujuannya bagus sebenarnya. cuma krn memandang politik semata-mata utk kepentingan pribadi/golongan adan kekuasaan mk malah runyamlah urusannya.

  4. andria h8 Says:

    ini mungkin pak Budi sdh tahu, Tom Morello juga membuat lagu2 folk rock utk proyek soloya

  5. danangsuryono2112 Says:

    mas Budi, sungguh nunjek tulisan njenengan.
    Memang beberapa bulan terakhir saya sungguh eneng dengan apa yang ada di dunia maya, berita gak mutu, komen gombal, posting gak jelas…isinya ya seperti mas Budi paparkan, serangan dan fitnahan muncul deras…

    Saya jadi ingat sepenggal lirik lagu Gelisah (Kantata Takwa) yang dinyanyikan oleh Iwan Fals & Sawung Jabo

    …………………………….
    Orang orang saling bertengkar
    Untuk apa bukan soal lagi
    Keserakahan sudah menjadi nabi
    Kekuasaan adalah jalan keluar
    …………………………………

    betul betul membuat gelisah…..

  6. Budi Putra Says:

    Iya mas DananG, padahal ujungnya ya begitu-gitu aja ya….krn politik hanya dimaknai sbg merebut kekuasaan mk segala cara ditempuh. Yg bikin pening malah media jg sdh ngeblok sana-sini, ditambah para pengamat, lembaga survey…jd masyarakat samasekali tidak mendapatkan gambaran utuh ttg sosok presiden yg sesuai harapan mereka.

    Semoga saja Iwan Fals, Jabo, tdk ikut2an nyemplung ke comberan politik saat ini yg tdk mendidik.

  7. Gatot Widayanto Says:

    Di jaman Rasul saat seseorang mendapat tugas menjadi pemimpin malah berucap Innalillahi karena amanahnya berat. Bahkan seorang Salman al Farasi tak mau menerima gajinya sebagai Gubernur dan menghidupi keluarganya dengan menjadi kuli.

    Di Indonesia malah bilang alhamdulillah ….bahkan kekuasaan diburu ….

    • Budi Putra Says:

      Saya pernah ketar ketir mas sewaktu mahasiswa diusulkan teman2 utk memimpin organisasi pergerakan…krn sy takut sekali tdk amanah. Loh kok byk teman2 yg malah berebut pdhl tdk diusulkan.

      Sekarang pun demikian mas, mrk berlomba2 ingin menjadi penguasa bahkan dg tdk mengukur diri, segala cara dilakukan dg menjual ayat2 suci sekalpun demi menggampai tujuannya. Agama spt yg Marx blg spt candu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: