Rick Wakeman Bagi Saya (10 of 38)

Gatot Widayanto

Tertohok South Side of The Sky

Hari Kamis saat liburan kemarin (15 Mei 2014) saya gowes dengan jarak lumayan jauh setelah selama sekitar sebulan saya hanya gowes sekitar 30 KM total per hari. Perjalanan hari Kamis itu cukup jauh menuju Depok sehingga total jelajah sekitar 55 KM. Sebenarnya tak sekedar gowes tujuan saya namun sekaligus dengan silaturahim. Pas saya mau balik pulang sekitar jam 14:00 di Depok turun hujan deras dan cukup lama. Rupanya tak hanya Depok yang hujan deras, seluruh Jakarta kebagian rata hujannya. Sekitar ba’da Ashar barulah reda meski masih gerimis dengan densitas jarang. Akhirnya saya berangkat juga gowes setalh menggunakan secara lengkap jas hujan supaya kalau ditengah jalan hujan deras lagi saya sudah siap.

Perjalanan gowes setelah hujan deras selalu memberikan kenikmatan paling puncak karena suasana menjadi adem dan bunyi band sepeda Mongoose saya menyentuh aspal basah setelah hujan memberikan nuansa indah yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Belum lagi bau tanah setelah kena hujan memiliki aroa tersendiri yang membuat gowesan semakin mantab. SubhanAllah ….nikmat sekali. Belum lagi di telinga saya ada headset warna putih bawaan iPod milik putri saya, Dian Widayanti, yang sudah dihibahkan ke saya. Gak tahu ada angin apa kok saya tiba-tiba muter album Fragile dari Yes. Mungkin karena di layar iPod terpampang artworknya Fragile dan mengingatkan saya kepada sebuah foto ProgArt yang dikirimkan mas Edi Apple via FB.

Kayuhan kaki saya semakin mantab karena terdengar sayup-sayup musik Roundabout yang merupakan lagu pertama yang membuat saya benar-benar cinta sama musik prog di tahun 1974. Saya dulu nggumun banget kok ada lagu dengan struktur yang gonta-ganti namun masih tetap kohesif sebagai satu lagu nan utuh. Makin semangatlah saya ngonthel sepeda namun tak membuat saya semakin ngebut. Oh ya …kalau gowes dengan headset saya selalu punya policy ketat, yakni: 1. yang diputar harus musik yang sudah dikenal dan bukan album prog baru; 2. Nyetelnya juga sayup-sayup saja dengan volume kurang dari setengah. Mengapa? Safety first. Tujuan nyetel musik sambil gowes hanya untuk mendapatkan nuansa prog nya saja, bukan buat menikmati musik beneran. Kalau musiknya belum familiar, konsentrasi bisa buyar karena penasaran menyimak musiknya. Nyetel musik sayup-sayup, apalagi musik progrock, itu enak dan punya kesan tersendiri.

Yang membuat saya terkesima dan kemudian bercita-cita menulis tret ini adalah ketika musik mencapai lagu South Side of The Sky. Tiba-tiba dada saya bergetar mendengarkan indahnya komposisi musiknya baik dari segi melodi, harmoni maupun kompleksitas aransemen dan perpindahan style. Mulai dari awal lagu saja betotan Rickenbaker Chris Squire sudah mendentham dentham seolah menjadi talking bass dan mengambil porsi melodi yang sejatinya dilantunkan oleh Jon Anderson. Whoaaaaaa ….!!! Merupakan pengalaman tersendiri dah menikmati musik ini sambil suasana habis hujan, dingin, dan suara kayuhan kaki saya saja masih tembus ke telinga meski sedang mengalun South Side of The Sky.

south_side_of_the_sky_by_tolkyes-d2iopqn

Pada saat remaja, pada awalnya saya kurang suka dengan lagu ini karena breaknya terlalu panjang sedangkan Roundabout bisa dikatakan kenceng terus, dan sebentar breaknya. Namun dengan berjalannya waktu saya semakin apresiasi lagu ini dan keren banget. It grew on me, istilah boso Jowone ….ha ha ha ha ….Ada satu pemicu yang akhirnya membuat saya menulis tret ini. Apa itu? Justru kenikmatan paripurna saya saat menikmati indahnya sore menjelang maghrib, mengayuh sepeda dalam cuaca dingin setelah hujan di headset saya terdengar bunyi sentuhan piano melengking sebagai bagian dari break panjang South Side of The Sky. Tak lama sih, mungkin sekitar 5 atau 7 detik dan hanya terkait beberapa notasi yang dihasilkan dari jemari linsah seorang Rick Wakeman memainkan grand piano nya. DUH! Uwediyaaaannnn …meski lima detik namun sudah sanggup membuat dada saya berdegup seolah jantung mau coplok aja. Harus saya akui memang solo piano di bagian break lagu ini sangat indah sekali dan kadang ada jeda yang justru membuat suasana makin khusyu.  Adapun bagian lima detik yang saya maksud adalah saat Rick nguwamuk memencet tuts piano sampai nada paling tinggi di sebelah kanan dari papan tuts piano sehingga suaranya melengking tinggi. saya yakin saat memainkan inipun Rick dalam hati juga bilang begini :“Diyancuk! …kok wis entek mung sampek kene wae to tuts piano iki? Kudune aku rak iso ngepok luwih tengen maneh!!!” (Aduh ..kok sudah habis ya tuts pianonya? mestinya aku masih bisa pentokin lagi lebih kanan lagi (setelah tuts terakhir – red.)

Harus saya akui bahwa Rick tak sekedar maestro dalam memainkan piano maupun keyboard dan moog synthesizer, namun lebih dari itu …. Jari tangannya tak sekedar memencet tuts pada notasi tertentu namun…. justru efek suara yang dia hasilkan dari pijitannya itu bisa membuat ati gogrok! Sekurangnya ati saya lah yang gogrok. Namun meski gogrok …..pikiran saya terasa adem tentrem dan teringat keindahan masa remaja ketika mendengarkan kaset Fragile hanya dari rekaman PH milik Geronimo yang direkam kakak saya, mas Henky.

Saya ndak tahu dengan Anda bagaimana …namun bagi saya, solo piano di tengah lagu South Side of The Sky itu amat sangat super duper indah! (Dan sepertinya solo piano ini kok menginspirasi Chopin Larung nya Guruh Gipsy ya?). Apalagi dilakukan setelah hiruk-pikuk dan hingar-bingar musik yang menggelegar dengan powerful riff dari permainan bass Chris Squire yang menggelegar seperti badai dan juga sabetan maut guitar fills dari Steve Howe. Pokoke Rick wakeman pancen oye!

Salam prog!

 

14 Responses to “Rick Wakeman Bagi Saya (10 of 38)”

  1. kukuh tawanggono Says:

    Mas Gatot guru kulo

    Ini lho salah satu yg saya sukai dari njenengan………”Kesederhanaan”…….Jarang-jarang lho mas,ketika orang sudah mencapai level seperti njenengan(apalagi selalu diburu sama jadwal yg ketat)masih mau sepedahan.Biasanya itu ya cuma waktu liburan,itupun masih diikuti sifat pamer…………sehingga kadang menimbulkan kecemburuan sosial.
    Saya setuju sekali,apabila Choping Larung terinspirasi South Side of The Sky.Akan tetapi hasilnya lebih mengaduk-aduk emosi South Side of The Sky mas…………….Rick Wakeman ampuh tenan.

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Kukuh … ha ha ha … dari dulu memang bisanya sepedahan mas .. ha ha ha ha …
      Jujur aja demi rasa nasionalisme membela karya anak bangsa saat saya review Guruh Gipsy di Progarchives beberapa tahun lalu saya tak menulis bahwa Chopin Larung terinspirasi oleh South Side of The Sky mas … Itin tenan aku … soale GodBless album pertama kan juga lebih parah lagi dan bisa dibilang njiplak pol … Itupun juga malu saya …

      • kukuh tawanggono Says:

        Ketika njenengan mereview GodBless dan Guruh Gypsi juga album-album prog yg lainnya itu, saya merinding sekaligus bangga mas Gatot.Gaya penulisan njenengan mirip wartawan senior,habis itu masih dibumbui cita rasa Indonesia.Sehingga itu menjadi karakter njenengan yg membuatnya beda dengan penulis-penulis yg lain di blog itu.
        Saya setuju kala njenengan bilang GodBless njiplak pol………..bahkan om Jocky sendiri mengakui kurang puas dengan album ini.

      • Gatot Widayanto Says:

        Iya mas .. aku malah malu kalau ada orang asing mendengarkan album pertama GodBless …

      • kukuh tawanggono Says:

        Oh njih mas Gatot………
        Bagaimana kondisi kesehatan ibu njenengan,harapan saya semoga sudah pulih lagi……….
        Apakah Rick Wakeman ini sampun wonten(sudah ada) box setnya njih

      • Gatot Widayanto Says:

        Ibu masih dalam proses penyembuhan kaki kiri. Sudah fisioterapi 3 kali, insya Allah atas doa temen2 juga (mohon) agar kaki ibu saya bener2 bisa pulih setelah 2 atau 3 kali lagi fisioterapi … Suwun atensinya mas Kukuh …

        Kalau yang disebut box set itu seperti PF atau Genesis Platinum ….khsusus buat Rick ya namanya bukan box set … rackset …lha wong albume atusan mas … ha ha ha …

  2. Edi Apple Santoso Says:

    sir richard christopher wakeman born 18 May 1949, hari yang tepat untuk muter karya beliau sepanjang hari …….

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Edi iki progger sejati! Aku malah lupa ultahnya dia lho mas … Hebat njenengan ini!

  3. Koh Win Says:

    Album Fragile memang termasuk karya Yes yang sangat brilian….lagu South Side Of The Sky ini pada saat dibawakan dalam live at Montreux dibawakan dengan lebih dahzyat terutama pada bagian akhir lagu terjadi duel maut gitar Howe dan Kibor Wakeman yang sangat seru…tuobz…makanya saya punya kebiasaan seminggu sekali harus dan wajib memutar Fragile ini…benar benar keren….apalagi lagu Heart Of The Sunrise…wis tiada tanding…..

    • Gatot Widayanto Says:

      Saya malah jarang puter musik dari grup lawas soalnya banyak grup prog baru yang keren2 albumnya …ya termasuk IQ, Transatkantic, A.C.T, Spock’s Beard, Steven Wilson, The Tangent dsb. Kemarin iseng aja ….kok asik juga …

  4. Apec Says:

    Nyetrummm…pagi ini tadi sambil visite ke RS, arthur versi live dalam album Yes,relatives and friends ikut menemani dan saya ulang beberapa kali

    • Gatot Widayanto Says:

      Waduh …saya kok malah playlist hari ini Epica terbaru dan Transatlantic terbaru juga …. Dua2 nya bagus meski beda musiknya ….

      Pusing ya ngikutin album2 baru. Namun album2 prog sekarang banyak yang bagus sekali ….

  5. andria h8 Says:

    Epica terbaru malah blm sempat download mp3 pak gatot, sibuk kegiatan lain🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: