Merajut Makna Melalui Prog Rock (28 of 99)

Gatot Widayanto

Menyelami Makna Sebuah Perjalanan melalui IQ “The Road of Bones”

Jujur …pada saat artworknya album baru IQ ini muncul saya tak begitu tertarik mengenai kandungan dari artwork nya meski saya sangat suka karena kesannya gelap dan di situ saya melihat wajah Peter Nicholls sedang menempelkan telunjuk jari di mulutnya pertanda: diam lu! He he he … Tapi itu kan sekedar kesan pertama, selanjutnya ya terserah Anda ….(sambil ngikutin gaya iklan tv tentang produk deodorant kalau ndak salah).

cover_2012102532014_r

Namun begitu mendengarkan musiknya, saya jadi penasaran memaknainya secara lebih mendalam dari aspek historis alias fakta dan yang paling penting adalah apa artinya bagi kehidupan, terutama peringatan apa yang bisa saya pelajari dari memaknai lagu ini. Semoga juga yang saya makna ini juga sedikit ada manfaatnya bagi temen2 sesama gemblungers di blog paling gak punya arah ini … Emang arah penting? Bukankah arah nanti juga akan terbentuk dalam “resultante” seperti kata Pak Samiran (almarhum) guru Fisika saya yang legendaris saat saya ngangsu kawruh di SMA Negeri I Madiun – the land of progressive minds …. ha ha ha ha … Pak Samiran ini legendaris karena beliau punya trade mark khusus yaitu TMF (Te- Em – Ef) yang bukan kepanjangan dari Telecommunications Management Forum namun “Tugas Mingguan Folio” yakni semacam PR yang harus dikerjakan oleh setiap siswa di kertas folio bergaris (harus folio!) yang memiliki empat halaman itu. Dan jaman itu komputer belum kami kenal, jadi ya tulis tangan! Nuansamatik tenan . Inilah salah satu bentuk nggladrah tanpa arah dari blog paling gemblung di seantero jagad …lha ngowong mengulas musik kok nyinggung Pak Samiran …huopo tumoooon????

Aspek Historis

Paling mudah membahas aspek ini karena The Road of Boanes sebenarnya diasosiasikan dengan sebuah jalan menghubungkan antara Magadan ke Yakutsk di Rusia dan jalan ini sekarang disebut sebagai The Kolyma Highway. Sejarah jalan ini pahit karena di jaman Stalin yang bengis dan kejajam antara tahun 1930an sampai dengan 1953 banyak tahanan politik yang disiksa secara biadab sepanjang jalan ini sambil membangunnya. Bila ada tahanan politik yang mati, ia segera dikuburkan di pondasi jalan tersebut tanpa ada upacara penguburan. Pokoknya Stalin ini sadis lah. Setelah era Stalin runtuh, maka jalan ini sengaja dihancurkan untuk menutup sejarah kelam pembuatan jalan mengerikan ini …semacam Killing Fields begitulah. Saya rasa benar juga, daripada banyak hantu gentayangan, ditutup saja jalan ini.

Namun ….sekitar tahun 2004 orang mulai mengenal kembali jalan ini dan sejarah Stalin terkuak kembali. Banyak wisatawan asing sengaja datang dan berpetualang di jalan ini melalui perjalanan berat penuh tantangan dengan menggunakan sepeda motor atau bahkan kendaraan offroad karena memang kondisinya mengerikan sekali. Coba temen2 buka di google “images” dengan mengetik The Road of Bones. Semua fotonya suram sekali, namun banyak petualang yang menjelajahi kawasan ini. Beberapa fotonya:

An-icy-bridge-on-the-Road-of-Bones

1727.karlbones

backtobroke_kolymaroad03-500x331

ontheroadofbonestop

Itu foto-foto yang lumayan bagus jalannya…namun ada juga jembatan kayu kuno yang sudah ringsek dan rintangan lainnya. Saya yakin petualang sejati pasti menyukai The Old Kolyma Highway ini …

 

Aspek Makna

Menurut saya memahami sejarah itu penting namun lebih penting lagi adalah bagaimana menggunakan sejarah sebagai guru terbaik agar kita menapaki kehidupan ini dengan baik dan benar. Justru inilah tantangan sebenarnya karena masa lalu sudah terjadi sedangkan masa depan belum pasti. Yang jelas kita miliki ya saat ini. Maka tak salah bila di penggalan lirik ada kalimat “all the journeys I’ve retraced, to return me to this place” dan juga “the shadow cross my face, all the futures yet to waste “. Lirik lengkap saya copas di bawah tulisan ini namun saya tak bermaksud mengupas kalimat demi kalimat dari lagu keren ini namun lebih bijak bila diambil maknanya.

Pertama, ini adalah sebuah potret relasi Penguasa dan Yang Dikuasai dalam dua pengertian yang serupa tapi tak sama. Seperti saya uraikan dalam fakta sejarah, Penguasa adalah Stalin sedangkan Yang Dikuasai adalah para tahanan politik. Terlepas tahanan politik itu merasa benar apa tidak namun yang pasti sang Penguasa sudah menghukumnya, artinya sudah dianggap bersalah – makanya kena hukuman sadis dan instan yakni saat itu juga. Penguasa memiliki rumusan “like and dislike” yang mungkin juga tak diketahui oleh Yang Dikuasai karena bisa jadi tak pernah dikomunikasikan oleh Stalin – begitu ketahuan membangkang ya langsung ditangkap dan disiksa tanpa ampun.

Kedua, masih dalam konteks yang sama yaitu relasi antara Penguasa dan Yang Dikuasai, ini ibarat dunia dan suluruh isinya merupakan perjalanan yang bisa ditempuh seorang anak manusia yang mana akhir dari semua perjalanan fisik adalah liang lahat kuburan, tanah dengan cacingnya. Artinya, kehidupan jasad kita ini hanya tergantung dari kontrak hidup antara Penguasa (Allah subhanahu wa ta’ala) dengan Yang Dikuasai (manusia). Hanya saja, kita tak tahu kapan kontrak itu akan berakhir – hampir sama juga dengan Stalin yang tak memberi tahu kapan akhir dari tahanan politik itu. Namun juga ada perbedaan fundamental dalam kaitan Penguasa ini karena Allah telah memberikan petunjuknya secara gamblang dan menyeluruh tentang bagaimana menjalani kehidupan fisik ini melalui Al Quran dan Hadits agar nanti ketika tulang berakhir di liang lahat, ruh manusia bisa masuk alam akhirat dalam keadaan baik dan menjadi penghuni surga.

Perbedaan fundamental lainnya adalah dalam hal siksaan. Bila jaman Stalin langsung (instan) namun kalau dalam kehidupan yang diberikan oleh Allah kepada kita, siksaan ada yang sebagian diberikan selama kita di dunia (musibah, sakit, bencana dan sebagainya) yang bisa jadi bukan merupakan siksaan namun ujian, pada akhirnya balasan paripurna akan diberikan di Hari Pembalasan saat Yaumul Akhir atau Yaumul Qiyamah.

Perbedaan fundamental lainnya adalah dalam hal derajat kebebasan dimana manusia diberi kebebasan dan otoritas penuh melakukan apa saja yang dia mau, termasuk mau mengikuti dan percaya Al Quran dan Hadits atau tidak, semuanya diserahkan ‘sepenuhnya’ tanpa ada sedikitpun kendali dari Sang Penguasa, Allah subhanahu wa ta’ala. Enak to? Kita disuruh milis dak enaknya kita sendiri. Yang diberikan Sang Penguasa hanya panduan hidup yang benar yang seyogyanya dipenuhi manusia, namun ya terserah manusia mau mengikutinya atau tidak.

Lalu apa makna kalimat “all the journeys I’ve retraced, to return me to this place” di lagu ini? Bagi saya kalimat sederhana ini bermakna bahwa saya menjadi saya yang seperti ini ya karena perjalanan selama ini yang telah saya alami selama saya hidup mulai dari lahir hingga dewasa ini. Maksudnya, saya menjadi seperti ini ya karena resultante dari semua usaha maupun kemalasan berusaha yang telah saya jalani PLUS adanya ijin atau ridhla dari Allah sehingga saya seperti ini. Artinya, terlepas dari saya puas atau tidak dengan kehidupan yang saya lakoni ini ya saya “memilih” untuk mensyukurinya. Ini bagi saya penting karena kalau saya tak “memilih” sikap ini maka hidup saya selalu akan membandingkan dengan hidup orang lain yang kelihatannya lebih nikmat dari hidup saya. Bisa saja saya selalu berangan-angan …wah andaikan saya jadi konglomerat, maka saya tentunya mudah plesir kemana-man …ke Paris, London, Mekkah, Madinah, Sydney dan sebagainya secara leluasa. Ah andaikan saya masih bekerja di bank asing, saya sudah menjadi Country Manager di Swedia, Hongkong atau mana begitu …akhirnya hidup saya penuh angan-angan dan saya jadi lupa dimana tempat saya berdiri (to return to this place).

Untungnya IQ secara bijak menorehkan lirik penuh makna ini “the shadow cross my face, all the futures yet to waste “. Wah …ini membuat dada saya terasa sesak karena saya senang sekali diingatkan melalui kalimat. Bayangan masa lalu yang indah atau suram ditambah angan2 keinginan masa depan yang cerah (materi) yang sering melewati benak manusia termasuk saya, memang kadang terlintas dan untuk itulah maka kita menjadi semangat dalam hidup. Katanya Yes “Without Hope You Can Not Start The Day” …artinya harapan masa depan itu memang perlu ditanamkan dalam benak namun jangan dilupakan bahwa harapan itu jangan berorientasi pada dunia, namun akhirat. ARtinya, kalaupun kita berorientasi ingin kaya raya, itu sama sekali tak salah, namun niatkan bahwa dengan makin kaya maka zakat, infaq dan sodaqoh semakin meningkat. Artinya, kita bisa mendapatkan dua hal: nikmatnya hidup di dunia karena jauh dari kehidupan miskin dan tabungan akhirat yang penuh dengan pundi-pundi amal.

Namun semuanya bermuara pada satu hal bahwa kita hidup hari ini. Artinya, boleh jadi kita punya angan-angan tinggi, namun ingat bahwa yang kita miliki ya hanya saat ini saja. Artinya kita harus melakukan yang terbaik hari ini juga, termasuk mengatasi semua permasalahan dan tantangan yang ada: klien yang resek, atasan yang rewel dan bawel, waktu yang serba mendesak, komplain yang meningkat dan lain sebagainya.

Melalui lagu ini saya belajar bagaimana kita hidup memanfaatkan semua potensi pikiran baik rasional, emosional maupun spiritual semuanya numplek bleg jadi satu dan kita racik menapaki kehidupan ini (selama tulang dan ruh kita menjadi satu) sampai akhirnya suatu titik dimana tulang kita harus kita tinggalkan bersama cacing dan serangga di liang lahat yang sempit, sementara ruh kita melanjutkan perjalanan ke alam berikutnya. The end is the start of another life …life after death.

#ditulis sambil menikmati lagu IQ yang sederhana namun nunjek ini #

 

27 Responses to “Merajut Makna Melalui Prog Rock (28 of 99)”

  1. kukuh tawanggono Says:

    Mas Gatot guru kulo

    He he he………………….akhirnya sekuntum bunga yg selama ini menyembunyikan dirinya didalam rerimbunan semak belukar menampakkan indahnya.Selain itu bunga ini juga masih sempat menjewer telinga saya,melalui kata:”Pokoknya (kamerad)Stalin ini sadis lah”(mohon maaf bila saya mencantumkan sebutan kamerad,walau di teks njenengan tidak ada). Yg saya suka dari sosok ini adalah keuletannya dalam memperjuangkan cita-citanya,walau rival-rivalnya berasal dari kelas yg berada,tingkat pendidikannyapun begitu tinggi teramat jauh bila dibandingkan dengan kamerad Stalin sendiri(saya akui bila saya memandang sosok ini seperti memandang wajah saya).
    Saya sependapat dengan njenengan tentang pemaknaan sejarah.Banyak sekali orang mempelajari sejarah,namun tidak dibarengi dengan pemaknaannya.Akibatnya selalu terulang kesalahan yg sama.

    Sepuntene ingkang kathah,bilih wonten atur kulo ingkang kurang tata(mohon maaf,apabila ada tutur kata yg tidak berkenan).

  2. Gatot Widayanto Says:

    Monggo mas Kukuh …perbedaan itu justru menunjukkan derajat prog …. Gak masalah mas ….he he he …

    Tadi tulisan belum selesai saya tinggal shalat Dzuhur dulu mas .. Sekarang sudah rampung. Tadi berakhir di yaumul qiyamah …dan saya tambahi lagi dengan paragraf yang dimulai dengan kalimat ini:

    “Perbedaan fundamental lainnya adalah dalam hal derajat kebebasan dimana manusia …..”

    • kukuh tawanggono Says:

      Mas Gatot,pada kalimat…wah andaikan …dst,ini saya pernah mengalami sendiri.
      Dulu saya ini nelangsa kala melihat teman-teman sekolah bisa kuliah,naik sepeda motor,ndak bingung dengan duit semuanya tinggal minta,sementara saya harus banting tulang untuk menghidupi alm ibu(bapak sudah meninggal),membiayai adik sekolah,bahkan kadang masih disambati kakak-kakak saya yg lain kala membutuhkan sesuatu.
      Dengan senjata “Syukur”itulah saya singkirkan rasa tsb.Karena dengan itu saya berhasil mencukupi kebutuhan belanja alm ibu, berhasil membiayai adik sampai lulus dari PT,juga membantu kakak-kakak saya yg lain.
      Syukur pula yg membukakan mata saya yg selalu buta,(maaf bukannya saya bermaksud menyombongkan diri) kini walau berbekal ijazah SMK saya berhasil diberi amanah yg seharusnya diperuntukkan bagi mereka yg lulusan PT,bahkan dari segi kehidupanpun saya kok njih selalu mendapat yg terbaik bahkan berlebihan.Sekarang yg iri malah teman-teman yg dulu saya iri dengan kehidupannya itu mas.
      Ya Allah gusti leres…leres…leres…njenengan leres sanget mas(anda benar sekali).

      • Budi Putra Says:

        Tinggal dilengkapi dg nona R ya mas Kukuh…syukur ngalhamdulillah.

      • kukuh tawanggono Says:

        Ha ha ha Ha ha ha ………ya Allah gusti, dulurku lanang sing gantheng dewe kok ya kober-kobere njalu njih(saudara lelakiku yg paling tampan kok sempat-sempatnya njalu).
        Saya ingin sekali seperti njenengan mas,punya anak terutama laki-laki.Bahkan saya sudah menyiapkan sebuah nama kalo kelak dikaruniai anak laki-laki yaitu:”Muhamad Harya Kukuh Dewa Brata”.Saya juga kepingin punya anak perempuan seperti mas Hippie(untuk ini biar istri saya yg memberi nama, biar adil).Kalo itu sudah terjadi,alangkah terasa lengkapnya hidup ini.

      • andria Says:

        itulah mas Kukuh, tak perlu ada Time Machine utk membalikkan waktu krn Tuhan kita telah mencukupkan apa yg kita inginkan, wl mungkin dgn jalan yg misterius. seperti kutipan Qur’an yg sangat sering ditulis tapi tinggal sbg tulisan “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

      • Gatot Widayanto Says:

        Juga seperti kata bro Apec itu … besok tuh sebenarnya gak ada karena begitu kita alami langsung menjadi hari ini dan tak lama kemudian kemarin ….

        Hidup adalah hari ini …

      • kukuh tawanggono Says:

        Leres mas Andria,njenengan leres sanget.(Benar mas Andria,njenengan benar sekali)

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Kukuh,

      Kita baru bisa menikmati hidup bila kita merasa kaya dan berkecukupan. Dan, kekayaan itu sebenarnya ya bisa kita rasakan sekarang. Kalau hari ini kita merasa kaya, hidup sudah nikmat …dan memang kita harus merasa kaya tanpa harus menyombongkan diri. Lha wong burung aja tiap hari gak tahu mau makan apa tapi gak pernah sambat bahkan burung konon kabarnya gak pernah marah. Makanya di sebuah taklim pernah dibahas bahwa permainan Angry Birds itu gak bener karena gak ada burung yang marah.

      Sore hari burung bisa pulang membawa makan buat dirinya dan buat anaknya ….

      Maksud saya kaya ya itu ….merasa sudah cukup, gak perlu neko2 …

      Perjuanagn mas Kukuh yang begitu panjang, harus disyukuri apalagi sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan …

      • kukuh tawanggono Says:

        Setuju sekali mas,memang saya harus banyak bersyukur.Saya mengawali ini semua,dari gaji sebesar rp 4500 sehari dibayar seminggu sekali,saya nyambi mbantu di warungnya orang juga jadi kuli panggul barang di pasar,sampai saya pindah kerja ditempat saya yg sekarang ini,sampai bisa bekerja layaknya sedulur-sedulur disini(jadi orang kantoran),kalo saya ndak bersyukur ya Allah gusti kok kebangeten (keterlaluan)sekali.
        Bahkan slip gaji saya yg pertama itu(yg 4500 sehari)saya lamilating.Saya letakkan di meja kerja,agar saya selalu eling(ingat)asal saya.

    • Budi Putra Says:

      Salut dg mas Kukuh…sebenarnya, kalo sy ikuti melalui tulisan2nya, teman2 di blog ini semuanya brgkt dr nol loh mas Kukuh…Mas Gatot, mas Apec…dll, dg perjuangan bs sampe spt skrg ini sukses dan bahagia dan suka prog pula…lengkap! Keberadaan teman2 ini (melalui kt2 dan tulisan) kerap sy jadikan pegangan dan semangat dlm menapaki hidup ini…wong sy jg brgkt dr keluarga tak berpunya. Dan Alhamdulillah sampe saat ini byk kenikmatan yg sy peroleh dan patut di syukuri.

  3. Budi Putra Says:

    Luar biasa, mas Gatot mmg bener2 penyambung lidah prog/IQ…mantuabz!

    Bicara kekejaman Stalin, jg ditorehkan dlm karya novel dan film “Animal Farm” (George Orwell), dan dlm bentuk album “Animals” karya Pink Floyd…utk buku lainnya ada karya “Gulag”.

    Tp hebatnya IQ mengangkat kembali dlm bentuk album dg back ground historis ini di jaman (kebanyakan) masyarakat, apalagi elit politik, yg sdh tuna sejarah.

    Menurut sy cover album yg gelap dan wajah Peter Nicholls sdg menempelkan telunjuk jari seolah ingin mengingatkan suatu fakta sejarah yg terlupakan: “ssst, jangan lupa sejarah ya”…mungkin itu pesan Peter Nicholls (IQ) utk album ini.

    Dalam konteks Indonesia, album ini tepat sekali dirilis di saat bangsa ini sdg menggelar “pesta demokrasi” (pileg-pilpres), dimana byk caleg/capres/cawapres muka baru-stok lama, yg kemudian muncul ingin merebut kekuasaan lewat jalan demokrasi.

    Namun tahukah kita siapa mereka? Seperti IQ yg mengingatkan dunia akan fakta sejarah, dan semoga kita tidak lupa dg peristiwa kelam bangsa ini: 1965, 1974, 1998, byk rakyat tak berdosa menjadi korban dan sejumlah aktivis (98) yg hilang di culik yg hingga kini entah dimana jasadnya???

    Akankah Indonesia kedepan akan “terjual” kembali utk kepentingan kekuasaan/asing??? Walauhualam…

    ((Karena blm punya album IQ yg baru ini maka saat ini sy dengarkan aja Genesis “Selling England By The Pound”))

  4. Gatot Widayanto Says:

    Mas Budi,

    Terima kasih. Wah …pemaknaan yang bagus mas …

    Oh ya untuk sementara ini ada link youtube nya buat satu lagu ini:

    • Budi Putra Says:

      Ok mas Gatot, trims utk link nya…

    • erick s Says:

      Om GW, Dari membaca tulisan ini sungguh sy jd bengong sndr mikirin semua isi tulisan Om dan sy jdi ingin dengarkan album IQ ini secara penuh smbil bc liriknya, tp dmn ya sy bisa beli CD nny heehee

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas Erick, …dulu CDnya ada di Musik+ Sarinah, Namun saya klik dari amazon saat itu …

  5. Apec Says:

    Sama dengan mas Kukuh,ulasan Merajut Makna ini juga saya tunggu…saya jadi teringat pula lagu milik Nektar, Remember the Future part I dan part Ii

  6. Apec Says:

    Meskipun dikatakan mengingat masa depan, namun secara real, tomorrow itu tdk pernah ada. Hanya ada didalam benak kita .yang ada hanyalah hari kemarin dan hari INI. Begitu kita sudah sampai hari besok, maka sesungguhnya dia merupakan Hari INI bagi kita saat itu..so jangan menyia nyiakan Hari INI karena tdk akan permah terjadi lagi dan sesudah itu sudah berubah menjadi hari kemarin

  7. Alfie Says:

    A very long and amazing tauziah…so cool !

  8. Alfie Says:

    Di Aktuil The Legend (ATL)ada seorang temannya namanya pak Ndy Giberish , beliau itu kalau memberikan uraian dan penafsiran sebuah lagu saya sangat terkagum kagum abiz karena begitu mendalamnya tulisann beliau itu tapi begitu saya membaca tulisan pak Gatot ini saya jadi terkagum kagum kwadrat …..it has a very deep meaning.

    • Gatot Widayanto Says:

      Terima kasih pak Alfie …saya hanya penikmat musik yang tak bisa bikin musik ….makanya harus bisa diapresiasi bagi mereka yang bisa bikin musik bagus dan gak rumit banget buat dicerna pak ..

  9. gt Says:

    Komposisi 1312 Overture asyik banget..

    • Gatot Widayanto Says:

      Disc 2 belum saya setel karena iti sifatnya hanya bonus pak GT. Saya cukup menikmati disc 1 yang merupakan “the” album.

  10. Gatot Widayanto Says:

    Komentar dari medsos lainnya:

    Danny Leonur Dwi Putra: Pak Suhu Gatot Widayanto.. wadaaw.. ternyata dalem juga makna dari judul album IQ yang paling anyar ini yaa… kalau di bahasa indonesiakan menjadi.. Jalan Tulang-belulang.. mengingatkan saya pada sejarah kejam ” GULAG ” di era represif Stalin di Uni Sovyet ( 1930 – 1950’an ), yaitu instalasi kamp kerja paksa bentukan pemerintah untuk menghukum warganya yang melawan pemerintahan komunis Sovyet pada saat itu. Mengingat pada masa itu adalah awal dari era ” Cold War “, post world war II.. perang sesungguhnya telah usai, selanjutnya adalah perang pengaruh 2 blok besar dunia pada saat itu.. USA vs USSR.. pada masa itu banyak orang Rusia yang berpikiran Liberal (penetang komunis) ditangkap dan menjalani kerja paksa di kamp2 tersebut… sampai mati.. Alam yang sangat ekstrim, suhu udara yang sangat dingin menambah cerita tentang sangat kejamnya tempat ini… ini salah satu sukses Stalin untuk me-nakut2i warganya untuk tidak berkhianat, dan tetap patuh pada pemerintahan komunis Uni Sovyet.. patuh.. patuh dan patuh…. dan ini juga mengingatkan saya cerita di awal abad 20 di Rusia, yaitu seekor anjing yang berhasil didoktrin oleh majikannya agar bisa patuh seutuhnya sesuai apa kehendak tuannya.. Pavlov’s Dog..

    • lutfi Says:

      Saat ngeprog ring di saudagar kopi dua hari lalu, ada letupan trigger dari dalam diri untuk ‘memaksa’ ketemuan dengan mas G rasanya, meski di blog gemblung dan blog sebelah masih ngobrol lewat dunia maya terus, tapi rasanya tanpa ‘bernilai muka’ kok gimana gitu. Alhamdulillah, akhirnya dapat bocoran IQ ‘jalan tulang belulang’ ini sebagai bonus dari silaturahim itu. Selepas keluar rumah, saya putuskan untuk bike to Saudagar kopi, karena saya tahu jalan kesana cukup macet. Dekat tapi kok macet. Payah juga. Mengabari, 20 menitan saya akan tiba di sana, dan dengan sedikit ambil selah diantara kendaraan bermotor, 20 menitan bisa dikejar. Agak ngos2an tapi asik dan lepas stres macet. Setibanya disana, langsung disambut dengan hangat mas G, dan langsung pesan kopi roti bakar. Nikmat Tuhan mana lagi yang mau kita dustakan, coba? Semua kelancaran dan kemudahan untuk bertemu dengan CPRO (Chief Progressive Rock Officer) akhirnya kesampaian juga setelah tiga tahunan lebih tidak bernilai muka langsung. Alhamdulillah!

      Lihat IQ anyar ini, langsung tertuju pada bahasa visual kaver album ini yang bernuansa kelam, mengundang tanya tanya, kenapa Nicholls bergaya seperti menyuruh kita diam. Seperti ingin mengajak kita untuk mendengarkan dulu album IQ ini, dan setelah itu menyimak lalu memaknainya. Ada cerita kelam yang ingin disampaikan. Dan benar, memang ada cerita kelam seperti cerita mas G diatas. Menjadi pertanyaan saya selanjutnya, mengapa IQ mengambil konteks setting cerita sejarah ttg Stalin diatas ya?

      Setuju juga dengan mas G, bahwa kita itu ‘Jasmerah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebab sejarah adalah pelajaran untuk masa kini, masa kini untuk perubahan di masa depan, dan masa depan adalah harapan/cita-cita.

      Layak koleksi. Siap2 ngorder CD-nya. Semua track lagunya buat saya, gilaaakkk!!! keren banget. 5 tahun penantian sejak album Frequency, IQ benar-benar fokus untuk garap lebih ‘gila’ album anyar ini. Stunning akrobat mellotron sound, piano, dan synth Neil Durant menjadi warna old progresif album ini. Gitar Mike Holmes juga ga begitu dominan, tapi tetap menciptakan harmonisasi yang pas dengan yang lainnya. Mendengarkan album ini, saya jadi terhanyut ke suasana sound keyboard Genesis era Hackett. IQ gak salah pilih Neil Durant. Raungan gitar Holmes juga menjadi lebih berat, bahkan nge-metal di beberapa sesi. Gagah tenan musiknya. Lagu terpanjang 19 menitan, masih 5 menitan dibawah masterpiece ‘Harvest of Souls’-nya.

      Dari semua itu, buat saya yang paling sungguh menyenangkan, bisa ketemuan lagi dengan mas G, sembari bersepeda di hari kerja, menjadi jalan tulang badan saya untuk aktif lagi berolah raga. Silaturahim berbonus IQ hehehe …

      Semoga spirit silaturahim dan keberkahan selalu tercurah … Tks ya mas G! Semoga tawaran project-nya deal!

    • andria Says:

      Pavlov’s Dog itu juga grup prog dari kanada kan pak Gatot?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: