In The Beginning: Didahului dengan “Goodbye”, bukan “Welcome”

Arief Apec Bakhtiar

 

Asslammualaikum,wr,wb
Selamat pagi, siang,petang dan malam buat sejawat gemblunger..
Terkait dengan Prog-Graphy Om GW dan pemberitaan Tempo mengenai sejarah Yess sebagai kaset rumahan (bukan murahan) disamping Monalisa, Apple dan rekaman Hidayat, kali ini saya sedikit mengisahkan awal-awal perjumpaan saya dengan sebuah kotak bertajuk kaset rilisan Yess. Tentu saja perkenalan dengan Yess tidak akan terjadi bila saya belum mengenal sebongkah kotak plastik berpita bernama Kaset yang diperkenalkan di dunia oleh perusahaan Phillips tsb.
Alkisah……Pada kisaran tahun 1992 saat saya masih sekolah bercelana pendek biru kelas dua Negeri 9 Surabaya,tanpa diduga ibu saya membeli tape compo mini Panasonic di Pasar Kapas Krampung Sby seharga 125 ribu sekaligus dua buah kaset, yakni The Greates memory 2 ( berwarna dasar hijau bergambar orang berboncengan naik sepeda rilisan EMI) dan sebuah kaset kompilasi oldies Indonesia dan barat berwarna dasar putih ( saya lupa rilisan mana). Bila sebelumnya saya sering menikmati lagu2 populer saat itu via TV, maka sejak adanya mini compo, Lagu-lagu lama seperti Only You , Nobody’s Child, Rain and Tears, Walk Away, House for Sale, Kupu-Kupu Malam, Ayah (mercy’s), Widuri mulai sering mengisi hari-hari melalui tape Panasonic mini compo tadi. Apabila teman2 seangkatan masih berkutat dengan NKOTB, Tommy Page dan Debby Gibson, maka saya sudah bisa ngomong The Platters, Matt Monroe, Aphrodite’s Child….namun ya itu, nggak ada lagu rock, opomaneh Prog ..tapi ora masalah, sing penting iso gaya karena berbeda dengan selera teman meskipun di cap selera tua.

Apec 1
Gambar 1. Tape mini compo semacam ini yg dibeli ibu saya (hasil searching)..Tape yg asli sdh rusak saat ini ,namun msh tersimpan di rumah Paklek Hadi di Lampung

Sampai selama dua tahun, ya hanya dua kaset tadi yang kami miliki,lha karena memang tidak ada anggaran. Namun selama 2 tahun itu, bapak saya berbaik hati dengan ‘memaksakan’ diri untuk dapat berlangganan majalah Ananda dari seorang loper majalah yg masih bertetangga. Enaknya adalah pembayarannya tidak mesti harus tepat, bahkan bisa sampe telat 2 minggu menunggu uang lebih ( lebih tepatnya si tetangga tadi memang punya belas kasihan pada saya,he..he..lha piye maneh, pancen ora duwe duit lebih). Dari majalah Ananda tersebut saya mengetahui kiprah artis asing saat itu dan bukan hanya musik, tapi juga film, seperti Richard Dean Anderson (MacGyver), David Hasselhoff (Knight Rider) , dan Jon Bon Jovi yg menurut saya saat itu sangat ngerock musiknya padahal belum pernah sekalipun mendengar lagunya..
…just hanya lihat gambar posternya only saja. (dialah musisi rock asing yg pertama kali saya kenal).
Dan dari majalah tersebut pula saya mendapatkan banyak koleksi poster yang saya tempel di dinding hampir memenuhi tiga sisi kamar.
Istilah kamar sebenarnya menurut saya kurang tepat, karena tempat tidur, ruang makan tempat kumpul keluarga adalah menjadi satu. Dalam benak saya, jika ada pelajaran Bhs Inggris dan saya diminta untuk menceritakan kegiatan sehari-hari pasti akan dinilai salah oleh guru, sebab saya akan menuliskan sebagai berikut: I am sleeping in the living room (bukan Bed room), I am eating in the living room ( bukan Dining room), I am watching TV in the living room juga..jadi semua kegiatan dilakukan di living room, tentunya kecuali untuk mandi
…hingga suatu waktu kisaran bulan Agustus-Oktober 1993, disaat lagu Goodbye milik Air Supply meledak. Wis jan, lagu itu sangat enak di telinga saya waktu itu (sampai sekarang juga sih) sehingga membuat saya lebih sering memelototi TV untuk menunggu klip Goodbye diputar setiap menjelang pergantian acara di SCTV ( waktu itu TV non-TVRI di Surabaya yg ada seingat saya hanya TPI dan SCTV)… Nah, yang bikin ke-BENAR-an (lebih dari sekedar ke-BETUL-an), pada saat itu saya bersama teman- teman sebaya di kampung Sidotopo menjalankan suatu arisan anak-anak, senilai 200 rupiah perminggu dan jika narik arisan sebulan sekali,kami akan mendapat uang sebesar 6000 rupiah. Sebagai gambaran, saat itu uang saku saya 200 rupiah perhari dan uang saku rata2 teman di kelas adalah 500 rupiah. Saking minimnya, sampe kadang2 teman sebelah bangku saat itu memberikan penganan baik yg dibeli olehnya atau dibawakan dari rumah.. Tentu saja uang Rp. 6000 teramat berarti bagi saya dan teman2 sebaya. Nah, bertepatan dengan meledaknya Goodbye, saya pas dapat tarikan arisan ala anak2 tersebut…berlabuhlah uang Rp 6000 tadi ke tangan saya.
Masih nyantol kuat di ingatan saya, pada hari tersebut di sekolah, seorang teman sebangku bernama Ayu menunjukkan kaset Air Supply album The Vanishing Race berwarna dasar biru dan ungu bergambar orang Indian naik kuda dimana di dalamnya termaktub lagu ciptaan David Foster berjudul Goodbye..Wuahhhhh, langsung ngiler melihat barang tersebut…Entah mengapa, pokoknya saat itu saya merasakan detak jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Gak sabar menunggu bel pulang sekolah..Oh ya, sekolah Negeri 9 tersebut saya anggap berpikiran progresif, sebab bel pulang sekolah adalah nada dari lagu Romance d’ Amor, sedangkan bel masuk sekolah adalah nada lagu Fur Elise..(tapi saya baru mengetahui judul nada tersebut belakangan setelah saya kuliah, sebab saat itu tidak mengenal judul lagu musik klasik)..
Nah..setelah Romance d’amor berkumandang, saya langsung engkol itu sepeda BMX pulang sendirian dengan setengah ngebut..Biasanya sehari-hari saya pulang bersama dengan 8 orang teman..saat itu tidak…tancap gas mendahului dengan harapan bisa segera ganti baju untuk menuju toko kaset Pasar Kapas Krampung. Sebenarnya lokasi Pasar tersebut dekat dengan sekolah, namun saya harus pulang dulu…wajib!!.. Bukan karena apa, namun perlu minta tambahan uang seribu rupiah dulu ke Paklek Hadi yang saat itu tinggal serumah dengan kami. Harga kaset Barat saat itu Rp 7000 dan itu saya ketahui dari teman saya yang menunjukkan kaset Airsupply tadi..
Begitu sampe rumah kisaran pukul 13.00, langsung menodong paklek untuk dapat tambahan seribu rupiah…dan tanpa makan siang terlebih dahulu, werrrrrr……langsung cengklak sepeda menuju Kapas Krampung yang berjarak 4 km dari rumah..Sesampainya disana, sepeda langsung saya arahkan ke depan toko kaset. Ada sekitar 3 toko kaset saat itu berjejeran. Toko pertama saya datangi dan, “ Mas, ada kaset Goodbye AirSupply?” tanya saya..” Oh, ada dik..”, sambil tangan mas penjaga toko mengambil salah satu kaset di dalam display..Diambilnya kaset bercover putih dengan tulisan Goodbye mencolok di tengah2nya..lha kok beda dengan yang ditunjukkan teman saya..Saya tanya lagi, “ Mas, yang saya cari yang gambarnya orang Indian berjudul Vanishing Race.” Dan ternyata dijawab tidak ada. Demikian juga dengan 2 toko di sebelahnya. Kok ya untung pagi hari sebelumnya saya ditunjukkan teman saya (bukan Nona R lo) kaset aslinya, kalo ndak, pasti kebluwuk (terjebak).. Belakangan saya tahu ternyata kaset berwarna putih tadi adalah memang berisi lagu Barat campuran dan GoodBye salah satunya namun penyanyinya ndak asli, cover version..
Begitu ndak mendapatkan apa yang saya cari, langsung cengklak BMX lagi mengarahkan ke THR Surabaya Mall yang berjarak sekitar 3 km arah barat dari Pasar Kapas Krampung. Toko kaset disana terletak di dalam Ramayana dan ……… jrenggg!!! itulah awal saya memasuki toko kaset asli..Di display New Release, kaset Vanishing Race terpampang dengan jelas…”Nahhh, ini baru benerrr,” batin saya saat itu..Tanpa tedeng aling-aling, saya ambil satu kaset yang masih bersegel plastik dan barang tersebut segera bertukar tangan bersamaan dengan uang 7000 rupiah saya berikan ke mbak penjaga toko. Segera ke parkiran, ambil itu yg namanya BMX hitam pemberian bos ayah saya dan langsung cengklak (gowes) pulang ke rumah..Sudah gak sabar ingin merobek plastik segel pembungkus kaset.
Setiba di rumah, dengan tergesa-gesa, saya buka pembungkus kaset, cabut kasetnya dan masukkan kaset bertuliskan Vanishing Race itu dalam Player Tape Panasonic yang sudah berumur dua tahun itu..Mengalunlah lagu Its Never too late yang merupakan lagu pertama side A di kaset tersebut..ternyata lagu Goodbye diletakkan di urutan terakhir side A..Alhasil, karena hanya Goodbye yg saya tahu, maka langsung dipercepat menuju lagu terakhir..Dan, mengalunlah Denting Piano intro Goodbye yg didahului bunyi Jrengggg!!! ( bunyinya memang Jrenggg, coba anda tamatkan lagu tsb, pasti bunyi Jrengg di awal lagu sangat terasa)


apec 2

Gambar 2. Kaset AirSupply yang masih tersimpan hingga detik ini. Kertas cover sdh lecek di bagian lipatan,karena sering dibuka-tutup untuk baca liriknya.

Sejak saat itu, saya sangat menikmati yg namanya mempercepat dan merewind kaset hingga menemui lagu pilihan ( di belakangan hari saya baru menyadari, bahwa tindakan ini mempercepat derajat kerusakan pita kaset)..Hingga kini kaset tersebut masih tersimpan,meskipun cover kertasnya sdh kucel karena dulu sering dibuka untuk membaca liriknya..
Itulah fase awal perkenalan saya dengan kaset….meskipun didahului dengan GoodBye, bukan dengan Welcome….

29 Responses to “In The Beginning: Didahului dengan “Goodbye”, bukan “Welcome””

  1. Budi Putra Says:

    Mas Apec, asik sekali ceritanya…”Googbye” Air Suply mmg ngetop hbs pd saat itu, krn mmg lagunya enak didengar. Kalo mas Apec menjadi kenangan manis lwt lagu ini, sy malah sebaliknya krn saat itu sy hrs kehilangan koleksi kaset2 sy krn sesuatu hal…jd beneran Goodbye dg Helloween (Live in UK), Rush, Trapeze, PFM, KC, GG, PH, dll…hehehe. Trims mas Apec membawa kpd kenangan yg lalu, walau pahit justru menjadi manis bila sy ingat saat ini.

    Btw, model radionya pernah sy punyai jg tuh mas, bel seken di Kebayoran Lama…suaranya cempreng…hahaha.

    Malam ini, sambil dengerin (((Triumvirat-Pompeii)))…

  2. khalil logomotif Says:

    Sangat menyentuh….

    • andria h8 Says:

      ini sepertinya pak khalil sambil nyengenges bilang itu🙂
      saya pertama kali dengar nama Air Supply pas kakak saya beli the best Air Supply rekaman Billboard sekitar tahun 1984, tercetak ada bonus poster tapi malah diberi poster Queen 😀
      Saat itu saya bingung kok lagu2 bagus dgn cara menyanyi yg luar biasa seperti itu tak banyak dikenal di radio2 Yogya. Sayangnya kaset tadi pitanya kusut & disambung teman saya yg minjam. walau kemudian saya sempat beli lagi tapi dari perekam Ego Record jaman lagu Lonly is the Night (album Heart in Motion).
      kasetnya pak Apec saya juga punya, tapi yg seken & pas harga murah soalnya kualitas AS sdh saya anggap menurun. di Tunjungan Plaza Surabaya saya sempat juga dapat cd Air Supply masa awal yg ternyata tak terlalu bagus.

      • apec Says:

        iya mas andria, saya merasa mas khalil berkomen sambil nyengenges,ha..ha….dan nyengegesnya akan berhenti kalo kaset Yess sudah mampir ke rumah,ha…ha…

      • khalil logomotif Says:

        Whahahahahahahaha…. kliatan ya!!
        Ternyata airsuplai toh……

        Mendingan aku….
        Stepi wonder..aijas kol tusei ailofyu….
        whahhahahahaha……

  3. kukuh tawanggono Says:

    Mas Apec sedulurku lanang

    Membaca tulisan njenengan ini,saya kok seperti tertohok njih…………….he he he.Tadi malam sehabis shalat Isya,saya keluar bersama seseorang.Dikarenakan amunisi lagu didalam mobil saya,yg paling ramah ditelinga orang awam cuma GodBless(mau saya putarkan album ini saya takut dia bosan,soalle setiap hari dia sudah mendengar setiap masuk ruangan saya)saya putuskan pinjem adik cdne AirSupply.
    Memang mas lagu-lagune mereka enak untuk dinikmati(musiknya ndak terlalu rumit),lirik-liriknya begitu “Romantis”(bukan Rokok Makan graTis lho…..he he he) .Bahkan temen saya ini waktu lagu Goodbye itu ikut bersenandung dengan lirih(Ya Allah gusti saya membatin suara anak ini kok begitu merdu sekali njih),pertanda dia ini seperti njenengan suka sama lagu ini.Ketika saya tanyakan ke dia apakah ada suatu kenangan dengan lagu ini,jawabnya:”Lagu ini mengingatkan saya pada seseorang yg mirip sama kamu,yg pernah mengukir kenangan di dalam diri saya”.Mendengar itu mas Apec,saya ya kok merasa bahagia sekali.Konsentrasi saya dalam mengendarai mobil agak terganggu sampai rombonge(gerobak)bakso hampir saya pepet……………………ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha

  4. andria h8 Says:

    mas Kukuh, yg seseorang yg semobil dengan sampeyan itu laki-laki ya? 🙂

    • kukuh tawanggono Says:

      Ha ha ha ha ha ha …………..untuk pertanyaan ini saya kira mas Andria lebih tahu jawabannya.

    • Gatot Widayanto Says:

      Pasti laki2 lah … wong mas Kukuh telah mengkukuhkan dirinya untuk berteman dengan laki2 kok ….ha ha ha … Untung ada Nona “A” yang suka melirik …

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Gatot guru kulo

        Sepuntene ingkang kathah(mohon maaf)mas njih,apabila saya terkesan kok selalu curhat.Setiap saya membaca komentar njenengan rasa rindu saya pada alm ibu(dulu saya selalu bercerita semua yg saya alami sama beliau,tidak ada yg saya sembunyikan dari beliau)langsung terhapus tergantikan rasa kasih dan sayang yg melimpah.Njenengan yg sebenarnya sudah mencapai pada tahapan memaknai akan tetapi selalu njenengan samarkan dalam tahap mempelajari persis sekali dengan yg alm ibu dulu lakukan.

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas Kukuh,

        Salut njenengan bisa selalu cerita apa adanya ke ibunda karena tak semua anak bisa seperti itu, termasuk saya ke ibu. Mungkin karena kesenjangan generasi …

        Ndak juga mas …saya hanya mencoba menikmati apa saja yang telah diberikan Sang Pencipta ….yang ternyata kalau dihitung gak akan ada habisnya bahkan kalau ngitung pake kalkulator paling canggis sekalipun, hingga jari kita kapalan gak ada habisnya … Dari pada buang waktu menghitung apa yang telah diberikan, lebih baik menikmati semuanya yang ada saja …. Bukan begitu mas?

        Tadi malam saya baca buku LIDAH Tak Bertulang. Bagus banget bukunya, penuh makna sampe saya sulit tidur karena sayang mebutup buku berisi kumpulan artikel Edi Santoso di majalah Tarbawi. Lha trus abis Subuh tadi tiba2 kok saya membayangkan …andaikan saya lahir tanpa lidah bagaimana ya? Tak hanya itu …misalnya tiba2 hari ini saya tak punya lidah ….bagaimana saya bisa memfasilitasi workshop ninggu depan ya?
        Wah ngeri rasanya …. Kalau gitu gak usah dibayangkan, langsung saja dinikmati dan disyukuri telah diberi lidah yang sempurna dan semoga lidah ini menjadi sumber petaka karena tak bertulang. Kalau kelasnya Rasul saja sudah berprinsip “jagalah lisanmu” ….apalagi saya yang tak berkelas alias jauh dari Rasul ini perilakunya ….

        Semoga kita dirahmati Allah … Aamiin

      • kukuh tawanggono Says:

        Oh njih mas,ternyata gusti Allah ndak ijinkan saya melihat Hammersonic kemarin setelah saya renungi ada hikmahnya mas.Yaitu:
        1)Minggu siang tetangga saya mengalami kecelakaan di Pandaan.Dikarenakan pak RT ndak ada di rumah,akhirnya saya ketiban sampur yg ngurusi kesana(orang ini hidup sendirian tidak punya sanak saudara).Sampai-sampai dapat sms dari mas Hippie ndak tahu.
        2)Akhirnya saya bisa keluar juga dengan si “A”ini.Pulangnya saya sampai ndak bisa tidur mas(njenengan bayangkan saja muka saya yg seperti Albert Mugabe bisa mendekati dewi Sumbadra yg bermata sipit namun indah,dll)sampai sekarang saya ndak menyangka mas.
        3)Barusan saya dihubungi teman-teman yg seharusnya nonton bersama saya di sana.Katanya saya untung kemarin ndak ikut ,karena teman-teman mengalami…………………..Entah apa jadinya kalo saya kemarin itu maksa ikut mas,bisa-bisa ndak karu-karuan saya.
        Sekarang saya baru menyadari betapa bodoh dan dungunya saya mas.Gusti Allah SWT
        selalu memberikan yg terbaik untuk saya,kok ndak saya syukuri(saya malah menggerutu).

        Dalam perjalan ke kantor diiringi GodBless “Apa Kabar”

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas Kukuh,

        Si A sudah dibawa ke penghulu belum? Buruan ….

        Temen2 yang Hammersonic kenapa mas kok titik titik …kayak gitu aja dirahasiakan . .

      • kukuh tawanggono Says:

        Matur sembah nuwun(terima kasih)mas,sampun purun maringi wejangan maleh(sudah memberi nasehat lagi).

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Gatot,Insya Allah target saya bulan depan saya harus sudah proklamasi(mengenai hubungan saya ini).
        Untuk mengapa saya kasih titik-titik teman-teman yg seharusnya bersama saya nonton Hammersonic,alasan saya”Barang siapa menutupi aib saudaranya,maka kelak gusti Allah SWT akan menutupi aibnya.

      • Gatot Widayanto Says:

        Hebat tenan mas Kukuh sudah punya target bulan depan. Tapi targetnya kurang SMART karena bulan depan itu sumir ….tahun berapa? Misalnya, paling lambat 1 Juni saya sudah proklamasikan …Itu baru manteb …itu baru prog!

        Wah …ya mana tahu kalau itu aib …lha wong bisa aja misalnya “ketinggalan sepur”, “kehujanan”, “macet di jalan” …. lha saya ndak tahu kalau aib …. Bahan gak usah disebut bahwa itu aib atau gak usah dikasih titik titik multi tafsir. Ya ndak?

        Monggo …

      • kukuh tawanggono Says:

        Kalo sampai menginjak tanggal untuk masalah”perasaan saya ndak berani mas,soalnya pengalaman saya selama di medan laga …he he he …seperti perang mawon(njih):Jangankan masalah perasaan yg bentuknya abstrak lha wong benda aja yg sudah pasti ujudnya sering mbleset mas,jadi solusinya ya melihat kondisi kedepan aja mas.Untuk ini saya Insya Allah optimis,soalle prospeknya sekitar 94%lah.
        Njih mas,itulah kelemahan saya dalam susunan kalimat,maupun dalam meletakkan tanda baca.Saya memang perlu banyak belajar lagi mas.

        Sepuntene ingkang kathah (mohon maaf)njih mas.

      • Gatot Widayanto Says:

        Kalau sudah 94% tuh berarti hebat banget …berarti mas Kukuh sudah NEMBAK ya? Edaaaannnn!!! Top markotop!

        # Ayo shalat maghrib dulu … Jakarta adzan nih …#

      • kukuh tawanggono Says:

        Maksudnya, itu pengakuan dari dia kalo menerima saya itu lho mas.Dia minta saya waktu selama satu bulan(padahal kalo menurut saya itu cuma dianya saja yg berlagak sok jaim,padahal intinya ya mau-mau saja).

  5. apec Says:

    sama Jembres Mas Andria, ha..ha… ( ngapunten ingkang so much lho mas Kukuh)

    • kukuh tawanggono Says:

      Ha ha ha ha ha ha ha …………..njenengan nyebut Jembres lha kok nyambung mas Apec.Barusan saya ini mbalik lagi kerumah gara-garae waktu tadi saya pulang mengambil dokumen yg ketinggalan,lha kok Jembres menyelinap ke dalam mobil saya(karena terburu-buru pintu mobil ndak saya tutup,saya langsung lari ke kamar saya).Lha kok waktu di perempatan kasin,tiba-tiba sudah kriyip-kriyip sama menjilati tangannya di kursi belakang se mas,wis mbalik lagi ke rumah saya mas……………….ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha

  6. hippienov Says:

    Lagu Air Supply “goodbye” juga sebenarnya punya kenangan yang gak akan aku lupakan. Bukan kenangan “love” dengan Ms. RR (ups… salah ya, itu sih kepunyaan Mas Kukuh, hehehe… mohon maaf, guyon loh mas ^_^) tapi pada saat lagu ini “boom” di tahun 1993, aku baru akan masuk ke dunia kampus dan saat itu pertama kali aku jauh dari rumah, orang tua dan 2 orang adikku di Depok karena harus segera kost di Semarang. Saat pertama datang di Semarang aku menumpang di rumah orang tua dari teman kantor papaku selama hampir 1 bulan pertama (karena belum sempat nyari kost) dan tetangga sebelah rumah singgahku ini hampir setiap hari memainkan lagu “goodbye” dengan piano. Waduh…makin menyayat hati ini, di saat aku masih kaget dan sedih harus berpisah dengan keluarga nun jauh di Depok setelah belasan tahun sejak aku lahir gak pernah pisah eh ada tetangga yang rajin main lagu goodbye Air Supply dengan pianonya, bagai irisan luka yang ditaburi garam, perih buanget…
    Untungnya aku segera dapet kost dan pindah jadi no more of that song, so I say goodbye to goodbye…hehehe…

    • kukuh tawanggono Says:

      Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ……………………..kalo yg sekarang tafsir saya itu kok antara JJ sama Yoko Ono mas Hippie.Apalagi ketika rambutnya yg panjang itu dibiarkan terurai seperti tadi malam,persis sama jamannya Yoko kala masih muda dulu.

  7. apec Says:

    Mas Khalil, jangankan AirSupply, kaset Jayanti Mandasari juga ada lho aku…dulu umur sekitar 4 th an saat di Lampung, telinga saya dijejali Ebiet G Ade, Jayanti Mandasari dan Jamal Mirdad,ha..ha..

    • khalil logomotif Says:

      Tapi…dipikir pikir…
      Memang cocok dan sdh garisnya sampeyan dnger air supply…sampeyan kan kemudian jadi ahli paru…jadi sprtinya..bayangan masa depan sampeyan sdh kliatan dari saat pertama skali sampeyan beli kaset..yaitu kaset air supply

      Klw sekarang sampeyan jadi ahli jantung…pasti dulu kaset pertama yg dibeli adalah kaset heart…whahaha hahaha hahahah haaa

      • Apec Says:

        Ha…ha….ha……suatu penarikan kesimpulan yang brillian…kalo dulu awalnya membeli King Diamond The Eye, bisa jadi dokter mata..lha kalo sampeyan apa dulu membeli kaset Michael Learns to Rock yang Paint my Love, Mas Khalil?

  8. herman Says:

    Pak Dokter….asik bener baca ceritanya…bisa bikin ikut tegang juga ketika baca ” sudah gak sabar ingin merobek plastik segel pembungkus kaset……” hahaha ….jadi pengen baca serial lanjutannya…..
    saya juga jadi mikir2 kaset apa ya yang dulu saya beli sendiri….sepertinya Santana ” No one depend on”…dan itu gara gara kena pengaruh waktu lihat konser The Gembells yang banyak bawain lagu Santana….

  9. apec Says:

    ha..ha…asyik juga tuh pak Herman buat diceritakan…biasanya kisah2 awal terhadap sesuatu itu terasa istimewa..apalagi menceritakannya beberapa tahun kemudian

  10. Gatot Widayanto Says:

    Terlepas apa musiknya dan darikelompok apa, yang jelas pengalaman bro Apec ini sungguh nuansamatik sekaleeee ….

    Meski Air Supply grup pop, namun mereka jauh punya nyali dibandingkan YES. Dulu Yes batas main di Jakarta di tahun 2003 gara2 travel warning terkait bom Marriott. Namun Air Supply menter wae …tetep konser di Jakarta ….ha ha ha ha … Yes gak prog blas kelakuannya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: