Musik Klasik: 5 Komposer Favorit Saya 

Rully Resa

Lewat 5 komposer dan karyanya yang akan diulas dibawah ini, saya akan coba menceritakan kesukaan saya mendengarkan musik klasik. Jika boleh jujur, sebenarnya menikmati musik klasik tidak begitu saja, sekali putar, langsung suka, ada proses panjang dalam mencernanya. Tentu saja, seperti juga musik prog, ketika pertama kali mendengarkan musik klasik sulit sekali dinikmati. Bisa jadi karena saya sendiri tidak terbiasa mendengarkan musik tipe ini. Jadi, bisa dikatakan ketertarikan saya dgn musik klasik berangkat dari rasa penasaran (Hal ini pernah saya bahas bersama dengan mas Khalil sewaktu progring lalu. Semua awalnya penasaran, whehe). Kemudian mendengarkan musik klasik jadi rutinitas yg tidak bisa dihindari, apalagi ketika tidak bisa tidur. alunan piano yang ditata rapih mengalun keseluruh ruangan kamar sering kali bisa membuat tubuh saya jadi relax. Dan pasti langsung mengantuk.
Tapi saya sangat sedih, jika kenyataannya kebanyakan orang mendengarkan musik klasik hanya untuk percaya pada mitos yang mengatakan musik klasik baik untuk pertumbuhan cabang bayi. Padahal saya sdh baca dibanyak artikel, mitos tersebut belum terbukti secara akademis. Lebih dari itu saya ingin mengatakan bahwa musik klasik juga sangat menarik untuk disimak secara serius atau hanya sebagai teman sembari bekerja atau membaca.
Tanpa basa basi yang lebih panjang lagi, berikut listnya:
1. Frédéric Chopin – Nocturnes
fryderyk-chopinBoleh jadi Nocturnes dari Frédéric  Chopin adalah satu-satunya komposisi klasik yang saya suka ketika pertama kali mendengarkannya. Ketika itu kondisinya saya lagi patah hati (saya juga pernah patah mas Kukuh! hehehe) jadi suasana hidup juga berubah jadi sentimentil dan melankolis. Alunan denting piano yang naik-turun serta pilihan nada yang sangat-sangat melankolis nikmat sekali diputar ketika itu. Apalagi Nocturne No. 2 dinikmati sambil menutup mata, sehingga bisa membawa melodi yang menyatat tersebut kedalam hati. Makin galau saya dibuatnya. Galau yang nikmat tentu saja.
Kemudian setelah kejadian itu, perlahan-lahan saya mulai aktif mencari-cari karya chopin lain. Dan hati saya tertambat diatas karya-karyanya.
2. Sergei Rachmaninoff – Piano Concerto no. 2
sergei rachmaninoff
Mungkin Rachmaninoff kalah pamor dengan Igor Stravinsky di Era Modern Classical. Tetapi saya pribadi lebih senang mendengarkan Rachmaninoff walaupun memang musiknya tidak se”nyentrik” Stravinsky. Rachmaninoff sejauh yang saya dengarkan masih memakai pakem-pakem lama sedangkan stravinsky mencoba mendobraknya. Awal ketertarikan saya terhadap Piano Concerto (khusunya yang No. 2) Rachmaninoff ketika menyadari bahwa ada bagian dari musiknya yang diselipkan dilagu “All By My Self” dari celine dion. Dari Rachmaninoff saya coba mencari komposer Rusia lainnya seperti Dmitri Shostakovich, Sergei Prokofiev, dll. garis biru yang bisa ditarik dari musisi-musisi tersebut adalah musik yang dihasilkan semua KELAM. Entah karena kondisi alam atau suasana politik ketika sehingga mempengaruhi karya-karya mereka.
3. Edvard Grieg – Peer Gynt Suite
Edvard Grieg
Karya ini, menurut saya, merupakan karya yang mirip dengan musik progressif rock. Peer Gynt Suite jika didengar secara keseluruhan seperti layaknya mendengarkan album prog. komposisinya Sangat megah, temanya berganti-ganti. Ternyata kecurigaan saya tersebut bisa dibuktikan lewat grup Prog Panta Rhei yang membawakan Peer Gynt Suite secara utuh.
4. Franz Liszt – Hungarian Rhapsody
Franz Liszt
Awal perkenalan saya dengan Franz Liszt dimulai dari Grup musik Indie asal Perancis, Phoenix. Salah satu lagu Mereka berjudul “lisztomania”, yang ternyata didedikasikan kepada seluruh fans Franz Liszt. Dari situ saya berusaha mencari musik franz liszt dan puncaknya adalah menikmati sebuah magnus opus darinya: Hungarian Rhapsody. Menurut saya, hungarian rhapsody terdengar megah walaupun hanya diisi oleh solo piano. tetapi pilihan nadanya sangat indah namun patriotikal. Ternyata benar, ada sangkut pautnya dengan revolusi hungaria tahun 1848.
Kerapkali hungarian rhapsody saya putar dikantor untuk menemani mengisi kegiatan sehari-hari.
5. Johann Sebastian Bach – Air
johann sebastian bach
Siapapun yang menggemari prog tidak akan asing dengan Bach. Karena banyak sekali grup prog yang membawakan komposisi Bach. Sebut saja, Egg yang membawakan Fugue ataupun Ekseption. saya menempatkan Bach di No. 5 bukan berarti saya tidak terlalu sering mendengarkannya, awal saya berkenalan dengan musik klassik justru berawal dari bach, dan Air menjadi komposisi yang saya gemari sampai saat ini.
Demikian curhat singkat saya (bila tidak dikatakan panjang-lebar) tentang kegemaran menikmati musik klassik.
Semoga terhibur.
Salam

25 Responses to “Musik Klasik: 5 Komposer Favorit Saya ”

  1. kukuh tawanggono Says:

    Mas Rully sedulurku lanang

    He he he………………akhirnya dugaan saya terbukti(akan saya jelaskan apabila kita diperkenankan-Nya untuk bertatap muka).
    Kalo saya itu suka musik klasik juga terutama yg periode barok(terutama Claudio Monteverdi).Memang mas musik klasik itu diperlukan olah rasa yg amat tinggi ketika menikmatinya.Setiap nada-nada yg membentuk komposisi mempunyai arti tersendiri jadi njenengan harus jeli.Kalo njenengan seneng yg periode apa?
    Tchaikovsky Shympony Orchestra itu adalah orkestra favorit saya, tafsir Vladimir Fedoseyev pada tiap bangunan komposisi amat-amat mengesankan.
    Sergei Rachmaninoff adalah penggambaran hati saya tentang “nona R”………………..soulnya bagai JP,auranya adalah bangunan komposisi-komposisi rumit yg membuat saya terombang-ambing dalam lautan persepsi,bahkan bau dirinyapun masih terasa walau sudah bertahun-tahun kami terpisah setiap saya memejamkan mata………………….(Lho pagi-pagi aku kok sudah jadi koplak)ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Mas Rully mohon maaf ya, lha kok saya malah curhat.

    • Gatot Widayanto Says:

      Saya angkat topi buat Rully dan mas Kukuh yang perjalanan musik klasiknya sudah jauh. Lha saya malah gak menikmati klasik blassss …. bukannya gak mau tapi karena sudah banyak musik prog menarik yang bekum semuanya diikuti …. wong Cherry Five aja juga belum ….

      Saya cukup menikmati orang lain menikmati musik klasik aja ….

      Top dah!!!

      • Rully Says:

        Wah Oom gatot bisa saja nih. Tapi Oom lebih hebat lagi, karena punya wadah curhat yaitu blog gemblung ini. Jadi kalo tdk ada blog ini. Saya blm tentu bs bertukar pengalaman dan cerita dgn sesama penghuni yg pasti lbh banyak makan asam garam dunia permusikan. Whehehe

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Gatot,level saya ini masih amatir he he he……….masih perlu belajar lagi.

    • Rully Says:

      Wah mas kukuh ini ternyata punya hati sehalus kapas ya. Memang sih kalo menurut saya orang yg bs menikmati musik klasik pastinya tipe melankolis. Kalau ditanya saya senang yg era apa, jujur saja masih bingung karena saya mendengarkannya masih melompat2 (terbukti dari list diatas). Tapi apabila ditarik hipotesis (yg sifatnya sementara) sy belakang senang mendengarkan yg era modern seperti debussy, rachmaninoff dll.

      • kukuh tawanggono Says:

        Asal jangan selembut kertas amplas atau tipe orang yg Melani Soebono mas…..ha ha ha ha ha ha ha .Kalo menurut saya itu hanya sekedar, kita menikmati keindahan itu sebagai wujud utuh.Cerminan atas cipta,rasa,karsa yg letaknya selalu terselubungi,bahkan untuk menuju kesanapun akan banyak aral yg melintang.

  2. Apec Says:

    Mas rully, dulu saya menyukai klasik bukan karena musiknya, sebab saya belum pernah tahu yang namanya musik klasik itu seperti apa. Namun saya meng’gilai’ klasik karena kebesaran nama mereka. Saya masih ingat, saat SMP saya sering menggambar wajah mozart, Beethoven, Bach di buku tulis dengan mencontoh di Buku seni musik..justru baru saat kuliah saya mengetahui bahwa ..ohhhhhh ini ternyata lagunya Beethoven, oohhhhhh…..ini tah musiknya Bach…ohhhh,ini tah musik klasik itu. Padahal ternyata telinga ini sdh pernah mendengarnya dari siaran radio..

  3. Didi Says:

    Wah, ini nyetrum banget Mas. Pagi ini, entah kenapa, dijalan tadi saya nyetel Bach. Toccata & Fugue in D Minor ( yang versi orkestra ) saya ulang sampe 5 kali. komposisinya bener2 asyik. Terutama dibagian akhirnya,menurut saya, benar2 dramatis ( anak bayi kalo dengerin lagu ini dijamin kejang2 jadinya…ha..ha…ha..). Terus yang judulnya Overture from suite no.4 juga asyik. Sampe saya ulang 3X.

  4. andria h8 Says:

    dulu pas SMA saya pengin punya kaset klasik barang 1 buah. mikir saya krn penggemar Queen yg dulu disebut klasik rock harus tahu juga akar musik yg dipakai Queen. apalagi pas mendengarkan Yngwie Malmsteen. sebenarnya mau beli tapi kok sayang, wl seken sekalipun harganya mahal saat itu. sama dgn kaset2 seken yg barat juga.
    akhirnya suatu saat saya pas melihat ada kaset Handel (ini komposer Jerman) di lapak alm.Pak Budi Yogya segera saya beli. memang ada pengalaman baru mendengar alunan musik yg mengalir, itu mengapa saya tak suka jazz yg saya anggap melompat-lompat, wl tak ada sensasi seperti ndengarkan musik rock.
    setelah itu saya coba beli yg lain2: Bach,Mozart,Beethoven, Dvorak dll. kadang dapat yg bagus kadang juga nggak enak dinikmati.

    dulu di Toko Kotamas Yogya disediakan rak khusus di pojok barat utk kaset2 klasik.

    • Rully Says:

      Waktu itu ada yg sempat komentar seperti ini mas: musisi mana lebih jago jazz atau classic? Jelas jazz kalo classic mainnya harus sesuai dengan parititur, sdh gitu ada conductor nya lagi! Kalau jazz jelas ekspresi bisa sebebas bebasnya. Hehehe tp ya kalau masalah selera masing2 kepala pasti punya pendapat yg berbeda. Oh iya saya sempat dpt pengalaman jg dgn “classic rock” sewaktu masih sma tmn2 seusia saya menyebut grup bon jovi itu classic rock. Saya bingung knp disebut classic rock. Apa karena rock jadul jadi dikatakan classic (waktu itu sekitar tahun 2004), tapi setelah tanya sana sini dan baca majalah rolling stone. Ternyata definisi ttg classic rock tdk seperti itu heheh

      • kukuh tawanggono Says:

        Mohon maaf sebelumnya njih,saya kok kurang setuju.Musisi classic memang ketika memainkan komposisi-komposisi komposer lainnya memang seakan-akan melihat partitur sehingga terlihat mereka ndak bisa bebas berekspresi bahkan masih juga dipandu oleh konduktor.Sebenarnya musisi klasik itu mempunyai tugas yg amat berat.Contohnya bagaimana dia harus memaknai bangunan-bangunan not yg membentuk komposisi,bagaimana juga dia harus memberikan karakter pada setiap alur komposisi tersebut,bagaimana dia harus memberikan semacam bentuk tafsir diantara ribuan kepala yg mengeluarkan jutaan tafsir juga,dan masih banyak lagi.Hal ini mas hanya akan njenengan temui pada orkestra yg sesungguhnya.Memang mas ketika kita mendengar ini diperlukan konsentrasi tingkat tinggi.Tampak di luar memang sama,tapi ketika kita lebih konsentrasi saya yakin pasti akan kita temui hal yg beda.
        Mohon maaf njih apabila ada kata-kata saya yg kurang berkenan

      • Rully Says:

        Whehe ternyata langsung mendapat pembelaan dari mas kukuh penikmat musik klassik. Jelas yg berkomentar seperti diatas itu adalah penggemar musik jazz mas jadi pandangannya sedikit menyudutkan. Tetapi bagi saya sih kita harusnya sama2 menghargai apapun karyanya karena pasti karya tersebut tercipta punya beban dan porsi seni yg berbeda2 dan mestinya sih saling melengkapi. Apa jadinya musik tanpa eksistensi musik klassik dan apa jadinya juga tanpa eksistensi musik jazz. Pastinya membosankan!

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Rully amit sewu njih(permisi njih),sebenarnya saya sendiri juga pecinta musik Jazz.Terutama era larangan miras semacam Duke Ellington,Louis Amstrong,Ella Fitgerald,Billie Holiday dll.Musik jazz bagi saya juga olah karya anak cucu adam dalam memperkaya samudera seni yg begitu luas.

      • Rully Says:

        Wah mantap mas. Penggemar jazz era cotton club ya mas? Kalau saya lbh seneng era blue note jaya2nya mas.

      • andria h8 Says:

        sebenarnya musisi klasik sdh hapal not & cara memainkannya,cuma tetap harus melihat partitur. mungkin utk melihat tanda ekspresi & melirik sang konduktor yg memberi penegasan lewat aba-abanya. maklum ini pertunjukan tim tak bisa seenaknya sendiri. anggota band modernpun kl yg egois juga bakal dibenci teman-temannya.

  5. hippienov Says:

    Dikompori oleh tret Bro Rully akhirnya aku jadi dengerin Symp. No. 41 “Jupiter” nya Mozart dan Meditation from Thais yang sangat nuansamatik keduanya. Kompor Mode: On ^_^

    Aku juga kurang sreg liat trend banyak yang dengerin musik klasik karena katanya bagus untuk perkembangan bayi. Waktu istriku hamil malah aku jarang setelin musik klasik, seringnya aku puterin progrock atau classic rock era 70an, hehehe… Tapi malah anakku punya daya ingat yang baik untuk banyak hal (terlebih kalo udah dijanjiin mau dibelikan makanan ringan, hahaha..). Boleh jadi musik progrock dan classic rock punya efek stimulus yang jauh lebih bagus untuk bayi ya?hehehe…

    Salah satu komposer favoritku adalah Strauss dengan musik Waltz nya.

    • khalil logomotif Says:

      Kalau anak saya, matilda, waktu dikandungan, sy dengerin DT six degre of…., anak saya yg kedua, kalani, waktu dikandungan, sy dengerin ELP picture at…

      Dan hasilnya…sekarang…dua dua suka keti peri, marunpaif, brunomars…..dan ngga satupun pemusik lokal….

      • Budi Putra Says:

        Kalo anak pertama sy dengerin Joan Baez, Donna Donna. Karena sy ingin anak sy bila bsr nanti bisa menjadi “burung layang” bukan “anak sapi”. Anak sy yg kedua sy dengerin Moby Dick mknya dia suka sekali nabuh drum mainan, dan selalu minta diputerin video seri drum…krn umurnya baru 6 tahun dia bilangnya setelin drumi…hehehe

    • Rully Says:

      Dengerin waltz dari strauss jadi inget waktu pernikahan ya mas hippie? Heheh

  6. andria h8 Says:

    sepertinya anak saya yg ke-2 nendang2 dlm kandungan saat saya nyetel kaset Black Sabbath🙂
    tapi bisa juga berarti dia nggak suka, bukan kesenengen mosh pit😀

  7. khalil logomotif Says:

    Rulli, klw saya paling betah dgn Holst, jupiter dr seri the planets, trus Gorecki, simponi no.3 simponi of sorrowfull songs, yg ada vokal sopranonya…..liriiiih banget…

    Satu hal yg paling saya benci dari musik klasik adlh, judulnya yg susah amat untuk diinget.

    • Rully Says:

      Waahhh setuju mas Khalil simphoni dari Gorecki itu dahsyattt banget! Ada unsur keindahan sekaligus suasana mencekan. Hahah ya ya kalau musik klasik yg blm modern sulit sekali diingat judulnya tp kalau sdh modern judulunya sudah seperti lagu pop kok mas. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: