Yesstory Membenamkan Rolling Stone

Budi Putra

Pemilu kali ini benar-benar tidak menarik minat saya untuk turut berpartisipasi. Apa pasal, menengok rekam jejak para “wakil rakyat” sebelumnya yang sungguh mengecewakan: alih-alih membuktikan janji malah korupsi yang mereka perbuat. Makanya, saat ini bertepatan dengan nyoblos, saya memilih berdiam dirumah sambil membaca dua majalah (Rolling Stone dan Tempo) yang saya beli kemarin dengan hati yang riang gembira.

Jujur saja baru kali ini saya membeli Tempo kembali sebelumnya saya hanya membeli majalah ini pada jaman-jaman mahasiswa dan awal bekerja dahulu. Untuk kali ini bukan tanpa alasan saya membelinya sebab, ulasan tentang kisah Yess—yang sebelumnya diinformasikan rekan-rekan blog gemblung—menarik minat saya. Ajibnya, berita-berita lain di majalah ini yang saya baca kemudian hanya saya baca secara sekilas saja. Apalagi terkait politik dan pemilu, enggak mutu blas!…hahaha. Berbeda dengan ulasan tentang “Kisah Yess & Idealisme Kaset Rumahan” yang termuat di rubrik Intermezo tak ayal saya baca hingga beberapa kali tanpa bosan—saya pandangi foto Ian Arliandy sedang berada di toko kasetnya dengan back ground ph-ph yang terjejer rapi dirak. Nampak ph King Crimson yang unik itu.

image

Mengapa rubrik ini demikian menarik minat saya? Mungkin ini penilaian dangkal saya. Pertama, ditengah maraknya media audio visual dalam bentuk non fisik yang menjamuri dunia musik saat ini Tempo, berani melawan arus mainstream dengan menampilkan kisah kaset rumahan Yes, Monalisa, Apple, Hidayat, dengan sangat nuansamatik sekali. Kedua, memunculkan tokoh-tokoh dibalik produksi kaset rumahan tersebut membuat pembaca menjadi mengetahui sejarah/asal-usul pembuatannya yang penuh kisah-kisah lucu dan mengharu biru pembacanya. Yang ketiga, Tempo mampu memotret keberadaan kaset Yess, Monalisa, Apple, pada kondisi terkini yang telah menjadi barang langka namun masih diburu para kolektor juga para penikmat kaset-kaset jadul lainnya. Runutan ulasan ini menurut saya menarik sekali dibanding (maaf) majalah Rollling Stone yang juga saya beli dan memang banyak memuat ulasan musik namun tak ayal keberadaan rubriknya bila disandingkan satu rubrik Tempo tersebut menjadi tak berarti apa-apa. Edan! Hanya dengan satu rubrik Tempo mampu membenamkan rubrik-rubrik di Majalah Rolling Stone, tentu dihadapan saya sebagai pembaca kedua majalah ini.

Bagi saya sosok Ian Arliandy, tokoh dibalik Yess, merupakan seorang yang berpikir melampaui jamannya yang berani melawan arus ditengah kepungan record besar macam Aquarius atau Billboard dalam dunia perkasetan. Bagaimana tidak, memilih musik yang tidak lazim dan minoritas penikmatnya pada masa itu rock progresif, merupakan suatu keputusan besar dengan pertaruhan yang terbilang beresiko besar pula: faktor modal dan pemasaran. Namun berkat kejelian yang berangkat dari kesukaan terhadap genre musik Ian, memutuskan untuk merekam hanya band-band yang masuk dalam genre rock progressif seperti Yes, King Crimson, Pink Floyd, Genesis, dan lainnya, kaset Yess justru menjadi trademark (jaminan) mutu sebuah record rumahan dibanding record-record lainnya. Hingga kini Yess masih tetap memancarkan aura kaset rumahan dengan sisi idealisme dan kualitas audio dus level band/album yang direkammya yang malah makin moncer karena diburu para kolektor kaset. Coba saja tengok di lapak-lapak kaset seken dibilangan Blok M square atau tempat-tempat lainnya. Mesti kaset Yess, Monalisa, Apple, yang paling dicari dan diburu para kolektor terutama untuk album-album yang terbilang langka. Harganya pun perlahan tapi pasti menanjak naik seiring dengan adanya permintaan—seperti rumus ekonomi pada umumnya, supply and demand. Barang tentu bagi kolektor kelas wahid, harga sepertinya bukan masalah asal kaset/album kesukaannya bisa dimiliki…hehehe…

Bagi saya yang pernah dan kini mengoleksi kembali kaset-kaset Yess memiliki penilaian tersendiri terhadap kaset rumahan tersebut. Sebelumnya, saya tidak terlalu memperdulikan Yess karena bagi saya yang lahir di era-era yang tidak mengalami langsung record tersebut lebih memilih kaset keluaran Aquarius atau Team Record. Hal ini berangkat dari sisi subjektif saya semata-mata karena melihat tampilan/cover kaset-kaset produksi record itu yang terbilang lebih mengena (ngepop, mungkin istilahnya) dibanding Yess yang terkesan serius dan minimalis pada tampilan/covernya. Apalagi untuk edisi Aquarius untuk album-album tertentu yang disisipi chord lagu beserta foto-foto yang hitam putih. Untuk Team record selain album-album yang terbilang gress, covernya juga memikat hati saya pada saat itu.

Namun seiring perjalanan waktu dan pergulatan batin (weiss, keren!), dalam menikmati musik dus ditambah racun yang disuntikkan para penghuni blog gemblung ini maka Yess, menjadi pilihan utama saya saat ini untuk mengoleksinya. Tentu, sesuai dengan kemampuan finansial dan harga yang ditawarkan lapakers. Sedangkan kaset-kaset lain yang lisensi (era royalty) hanya sekedar membangkitkan dan menggairahkan memori saya pada masa-masa remaja dahulu. Akhir kata saya jadi teringat akan pesan Bung Karno: Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dan Yess, adalah bagian dari sejarah (perkasetan) bangsa ini yang ikut berperan mendidik pendengar musik melalui karya-karya yang mumpuni yakni rock progresif.

39 Responses to “Yesstory Membenamkan Rolling Stone”

  1. Budi Putra Says:

    Mas Gatot luar biasa super duper cepat…quick qount kalah cepat mas…hehehe…terimakasih mas sdh diposting ulasan ringkas ini sbg bentuk apresiasi sy trhdp Yess.

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Budi …
      Sebenarnya gak cepat karena saya baca dengan hati dag dig dug karena setiap ada anak manusia berkisah tentang Yess kok hati saya langsung “mak ser …..ser …..ser” kegirangan seolah ingin merasakan juga.

      Kisah mas Budi uni bener2 membuat dada saya sesek sekaligus bungah karena tadinya saya kadang menyesal mengapa dulu kok gak begitu rajin kuliah dan lebih mementingkan gowes dari Kubangsari (tempat kos saya) menuju Jl. Veteran sekedar untuk ngobrol sebentar dengan Ian atau Ihok (Wanto) adiknya Ian. Rasanya kalau sehari saja gak ke Veteran ada sesuatu yang hilang. Bahkan bisa jadi sehari dua kali yakni siang dan sore. Itulah resminya tempat kuliah prog saya dengan Guru Besar I’an Arliandy dan Dosen Luar Biasa nya Ihok. Memabg yg lebih sering jaga Ihok namun I’an belakangan juga sering di situ ngobrol sama saya …. Indahnya saat itu …..!

      Saya masih ingat ketemu I’an pertama kali ia pake kaos Steve Hackett “Defector”. Whooooaaaa ….kerren banget kaosnya dan original dari negeri londo. Perkenalan pertama itu langsung KLIK ….ada chemistry yang nyambung.

      Dan sekarang mas Budi mengulas dengan apik.

      T kasih mas

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Gatot guru kulo

        Barusan saya ini tiba dirumah, langsung menuju ke kamar saya.Tiba-tiba adik saya nyelonong masuk sambil bawa majalah tempo itu.Dia membuka rubrik yg membahas kaset rekaman yes tersebut.Tepat pada foto njenengan dia ngomong:”Ndul iki lek bapak sing bloge gene sering kok buka’I iku ya(ndul ini kan bapak yg blognya sering kau kunjungi ya),hebat ya alumnine ITB rek.Ya ngenea nyedek karo wong sing genah,aja karo begajul-begajul kancamu sing isone mek mimpi thok iku”(ya beginia bergaul dengan orang yg baik,jangan dengan teman-temanmu yg bisanya hanya bermimpi).Mendengar itu saya hanya tersenyum-senyum mas.
        Foto njenengan terlihat gagah mas,terutama kaos Marillionnya merayu-rayu hati agar segera cari…..he he he
        Sepuntene ingkang kathah(mohon maaf)apabila ada tutur yg tidak sopan.

      • Gatot Widayanto Says:

        Hua ha ha ha ….aku ngguwyu pol baca dialog antara adik mas Kukuh dengan mas Kukuh ….pake istilah ‘ndul’ ….ha ha ha …. aku malahan dulu sering panggil anak sulungku, Endro Alkaula, dengan ‘ndul’ jugak …wakakakakakakak …. lauwtjuuuuuu ….

        Mas Kukuh sedulurku …. Salam kuli kagem yayi njenengan njih …
        Gèk ndang rabi to mas Kukuh …..! Ojok mbok gandhulno thok kuwi ….qiqiqiqi….

      • Budi Putra Says:

        Sama2 mas Gatot, sy sungguh mengapresiasi sekali bila adalah koran atau majalah yg mau meliput berita seperti ini aplg pd moment yg saat ini org tercurah pd perhelatan politik (pemilu). Setidaknya dg adanya liputan ini generasi lampau dan saat ini seolah menemukan oase di tengah padang tandus industri perkasetan yg telah memudah seiring dg tutupnya toko2 kaset legendaris spt Aquarius dll.

      • kukuh tawanggono Says:

        Ha ha ha ha ha ha ha……mas Gatot wonten-wonten mawon(ada-ada saja).Saya ini dipanggil ndul gara-gara rambut saya selalu saya babat habis alias gundul.
        Njenengan doa`kan mas,saya segera dipertemukan gusti Allah SWT sama jodoh saya.

  2. herman Says:

    Mas Budi, tulisannya mengalir dengan enak untuk dibaca…seperti jargon majalah tempo ” enak dibaca dan perlu”…..melalui kaset Yess saya nyemplung sebagai warga Blog gemblung ini….dengan diulasnya kaset Yess secara khusus oleh majalah Tempo ( majalah kesukaan saya jua di masa kuliah sampai awal bekerja..hehehe ) menambah kebahagiaan saya karena sempat punya pengalaman beli kaset Yess di markasnya di Jalan Veteran Bandung walau hanya sekali….dan pengalaman yang saya simpan selama 28 tahun tersebut akhirnya saya bisa share di tempat yang tepat, ya Blog gemblung ini, tgl 21 Oktober 2012 dengan judul “Makan Rujak di Toko Yess Bandung” …..
    apapun sebutannya menurut saya kaset Yess telah dibuat dengan citarasa yang bagus serta hasil pemikiran yang serius….terbukti pada eranya dapat dikategorikan papan atas….itu seperti produk yang dibuat secara hand made bukan produksi masal…..

    • Budi Putra Says:

      Pak Herman terimakasih, yg tentunya memiliki pengalaman yg menarik bersama Yess…dan kita apresiasi jg ya pak atas ikhtiar mas Gatot memajukan khasanah permusikan melalui media kaset di blog gemblung ini. Sy seneng sekali ada blog yg membangun kekerabatan melalui media musik/kaset krn selain kesukaan kita jg memperoleh teman2 baru dan ilmu yg bermanfaat. Bagi sy dg mengikuti perkembangan dan informasi musik lewat blog gemblung ini hidup serasa lebih berwarna dan menggairahkan…

      • Budi Putra Says:

        Mas Kukuh sedulurku yg sdg menanti seorang kekasih…setuju mas, byk org blg saat ini adlh eranya/generasi MTV yg lbh byk menampilkan kuantitas dibanding kualitas…mknya sifatnya hanya sesaat, numpang lewat aja tanpa menorehkan kenangan tersendiri. Beruntung sy lahir dimana era blm adanya internet, handphone, pd saat itu awal2 80an, yg justru membuat sy lebih kreatif dlm mencari dan mengolah informasi ttg musik. Bayangkan hanya dgn beberapa kali membaca Aktuil sy sdh sgt terkesan dg sajian beritanya dus foto2 yg ditampilkannya. Ya, mungkin setiap jaman punya sejarahnya msg2, namun beruntunglah kita hingga saat ini msh bisa menyaksikan, memiliki dan menikmati alunan musik berkelas lewat kaset2 spt Yess.

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Budi sigarane atiku(belahan hatiku)

        Mas Budi,rubrik crossover majalah RS edisi terbaru itu,amit sewu(permisi)ndak mutu blas njih.Kayak musik rock itu hanya tentang sex n drug,s saja(mohon maaf bukannya saya naif).Dan ini kalo saya amati tiap bulan ya gitu aja (kecuali crossover antara eed dengan salah satu personil siksa kubur)kaya ndak ada pembahasan lain yg lebih bermutu.

      • Budi Putra Says:

        Mas Kukuh, sy jg sempet mengkritik ribrik crossover pd edisi Januari 2014 yg memuat andi rif dan ariyo wahab yg bikin mual perut sy krn yg dibicarain cuma alkohol aja…sy heran sptnya redaksi RS kekurangan bahan tulisan kali ya…????!!!

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Budi saya ini heran.Sayapun juga bukan orang baik-baik.Ketika saya teringat sama kesalan di masa lalu yg keluar adalah malu dan sesal.Setiap hari bagi saya adalah penebusan dan pencarian pengampunan.Saya ingin ketika saya pulang sama dengan saya ketika tiba.
        Lha orang-orang ini ndak itu mas.Seperti bangga dengan yg mereka lakukan.Entah cara berpikirnya itu kok kaya anak umur lima tahun…..ampuuun dah.

    • Gatot Widayanto Says:

      Hari Senin malam saya telpon I’an dan menceritakan tentang kejadian makan rujak yang dialamin mas Herman. Dia kagum kok masih aja inget karena memang makan rujak itu sdh biasa dia lakukan ….dan bila ada yang di toko, pasti ia tawari makan ….. (saya sendiri sdh lupa apa pernah makan rujak bareng sama Ian di Veteran 107).

      Ian dengan humble nya bilang ke saya kok orang sekarang aneh, kaset jaman dulu kala kok masih nyimpen dan diburu pula ….

      Dia juga bilang hari Senun sepanjang hari dia dibanjiri sms dari temen2 nya yang ada di Jakarta, Bandung dan lainnya ….

      Dia juga cerita bahwa ada seorang yang ketemu di Bandung belakangan ini negor Ian karena faham mukanya lantaran orang tersebut kadanf mampir di Veteran. Ian sendiri gak kenal alias lupa. Namun karena orang tersebut mengapresiasi karya Ian di Yess malahan sekarang inu mereka berteman. Bahkan orang tadi kalau ke Bandung, nginepnya ya di hotel tempat Ian bekerja.

      Ah …jadi inget pernah gowes Jkt – Bandung trus nginep di hotel Ian ….dua tahun lalu. Nuansamatik tenan ….

      Semoga keguyuban di blog gemblunk ini juga seperti keguyuban temen2 alumni Veteran (Bungsu) …. aamiin …

      • herman Says:

        Mas GW, terima kasih sudah menyambungkan silaturahmi yang pernah saya alami dengan orang yang telah berbaik hati nraktir makan rujak, mak sedut rasanya sambil mbrebes mili…..padahal saya beli kaset cuma satu biji, Genesis Trespass…karena beli kasetnya hanya satu biji ini malah jadi lebih indah dan terasa sekali ketulusan mentraktir rujaknya…..

      • Budi Putra Says:

        Wah luar biasa ya mas Ian bukan hanya keuntungan yg ingin diperoleh tp juga persaudaraan…suatu sikap yg jarang kt temui saat ini. Semoga blog hemblung ini jg bs mengikuti jejak kebaikkan mas Ian.

      • Gatot Widayanto Says:

        Ian mengundang saya main ke rumahnya di Bandung. Kepikir juga ya kita progring bareng Ian Arliandy di Bandung … Pasti seru!

      • Budi Putra Says:

        Pastinya seru tuh mas, bertemu legendnya Yess…

      • herman Says:

        Wah pasti seru Mas GW……

      • Gatot Widayanto Says:

        Asik ya kali … Ke Bandung naik cititrans bareng2 ….isinya gemblungers semua. Pergi pagi dan pulang sorenya ….

  3. kukuh tawanggono Says:

    Mas Budi sedulurku lanang

    Setuju sekali mas kalo majalah RS kalah telak oleh rublik tempo tersebut.Yg paling berkesan di hati saya adalah harga rekaman yess yg begitu ekonomis,sehingga amat membantu pencinta musik yg tak mampu membeli ph yg harganya mahal.Juga ketika mereka hanya merekam musisi-musisi yg bermutu saja.Secara ndak langsung kaset rekaman yes mendidik generasi saat itu bahkan hingga saat ini apa itu karya yg bermutu.
    Kalo melihat keadaan saat ini ngenes mas.Kita hanya menikmati karya-karya yg nyampah,kalau mau menikmati yg bermutu harus keluar uang yg banyak.Andai bisa memilih saya kepingin sekali hidup di masa itu walau ndak ada internet,MTV,atau apapun itu.
    Seribu jempol untuk njenengan…………….

  4. andria Says:

    saya dulu juga pernah berpikiran ada mesin waktu utk mengembalikan di tahun 1984 mas kukuh, biar saya bisa membeli kaset2 yg dulu saya abaikan. namun karena berarti saya akan mendapatkan kenangan buruk macam nona R sampeyan itu🙂 saya lebih memilih utk tak ada mesin waktu. lagian setelah sempat melihat semua koleksi mas Hardi baik Rockline & Rockshot saya pikir kenangan lama saya sdh terobati.

  5. apec Says:

    Terimakasih mas Budi sudah mengetengahkan sudut pandang pembaca terhadap ulasan Tempo tsb..Kaset Yess memang kaset gedongan..dulu waktu awal-awal ngoleksi kaset, Yess relatif tdk terjamah oleh saya, sebab saat itu saya masih mengutamakan kaset lisensi khususnya yg ada di toko kaset…Hal itu terjadi dikisaran pertengahan 90-an. Saat itu saya nyambangi toko kaset paling sebulan sekali setelah nabung uang saku, dan itupun hanya bisa beli satu kaset lisensi yg harganya 7000 saat itu ,untuk kaset barat dan 4500 untuk kaset Indonesia..
    Melihat kaset Yess rasanya kurang menarik karena hanya terdiri dari 2 lembar, tanpa foto dan gambar anggota band, selain gambar covernya doang saja..ditambah lagi tdk ada lirik…
    Namun setelah saya mengenal dan terpikat sama musik progresif, dan ini didahului dengan terpikat oleh Pink Floyd dengan album Division Bell. Sejak itu mulai memburu album2 PF dimana banyak dirilis oleh Yess. Candu terhadap PF makin diperdalam dengan siaran Classic Rock di TPI saat itu (termasuk adanya siaran Marillion dgn narasumber om GW (hanya saat itu belum kenal GW,he..he..)..Jadi Pink Floyd lah yg menjadi pintu gerbang bagi saya untuk mengenal Yess

    • Budi Putra Says:

      EMas Apec terimakasih utk komennya…kalo sy kecanduan kaset sebenarnya sejak jaman sekolah dasar. Sy inget2 semasa kecil bila ibu (Alm) berbelanja di pasar kebayoran lama yg jaraknya lumayan jauh dr rumah (kereo), ibu selalu membeli kaset2 kesukaannya seperti Dian Pisesa, Endang S Taurina, dll yg memang gak ada musik kaset rock nya. Tp sy pikir itulah awal mula sy kenal yg namanya kaset. Setelahnya dlm sebulan sy suka beli The Beatles, utk kaset Yess yg pertama sy beli album The Best Procol Harum, yg gambar siluet cewek, seterusnya Rush, King Crimson, Jeff Beck, lantas ketika ke Yogya sempet. Di beli Fokus dan Moody Blues di mas Gunadi. Dulu sy sering liat kaset Marillion di Jatinegara tp waktu itu nyari kaset Frank Zappa eh, udh dpt pas di stel isinya malah album lain…gak tau album apa itu. Pernah di taman puring beli Gentle Giant isinya malah Genesis…begitu deh, lika liku penikmat musik via kaset mas Apec.

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Budi, kalo saya mulai jaman smp mas.Kaset yg pertama saya miliki best Led Zeppelin dibelikan alm ibu di Lasido.
        Lha berawal dari inilah mas penyakit ini dimulai he he he

    • kukuh tawanggono Says:

      Mas Apec sedulurku tercinta

      Kalo saya periode 90an itu saya kasih judul “Babat Alas Wanamarta”.Dekade 90an bapak saya sudah tiada,tiga kakak-kakak saya sudah berumah tangga,tinggal ibu yg tidak bekerja,adik yg masih sekolah SMA dan saya yg lulus SMK.Saya putuskan ndak melanjutkan kuliah(saya tidak ingin ibu saya bekerja ,karena seumur hidup beliau ini ndak pernah kerja hanya ibu rumah tangga)langsung kerja di papanya bos saya yg sekarang(bekas majikan alm bapak)di sebuah pabrik tenun.Saya ingat gaji saya waktu itu 4500 sehari diberikan setiap minggu.Hari sabtu sehabis gajian ,saya berikan semua ke ibu untuk makan plus biaya sekolahe adik.Pulang kerja jam 4 sore,setelah itu terus membantu di warung orang,juga ikut membongkar pick up yg memuat barang untuk dibawa ke toko-toko(hasilnya lumayan mas).Nah dari uang hasil inilah yg saya buat beli kaset dll.Saya dulu punya rumus kalo kaset yg ringan-ringan semacam bangsanya metal,glam rock dst saya beli di toko kaset lasido tapi kalo yg berat-berat semacam blues,jazz,prog saya beli di rombengan kaset (dari tempat inilah Wu Tang Clan lahir).Saya beli itu ya ndak bisa nggladrah(sembarangan)soalnya saya mesti kasihkan juga uang ini untuk ibu.Periode ini saya alami selama ± tujuh tahunan,sampai akhirnya saya pindah ke bos saya yg sekarang(anaknya bos saya yg dulu).Lha disini ini gizi saya tercukupi …………he he he sampai seperti sekarang ini.
      Malam-malam kadang saya berpikir seperti ndak nyangka kalo bisa jadi seperti ini,mengingat awal saya yg seperti itu.
      Matur suwon sanget(terima kasih)mas,tulisan njenengan membuat saya semakin meningkatkan rasa syukur saya kepada gusti Allah SWT,juga membuat saya semakin mawas diri.
      Semoga njenengan tansah(selalu)mendapat rahmat-Nya.

  6. hippienov Says:

    Rolling Stone edisi kali ini gak menarik buatku untuk membelinya, karena kebetulan aku juga gak suka dengan film The Raid 2. Kata temenku yang sudah nonton film ini dia bilang terlalu banyak adegan kekerasannya dan kalo gak salah film ini di-banned di Malaysia karena faktor tersebut. Jelas lebih menarik dan nuansamatik membaca liputan tentang Yess daripada The Raid 2 ^_^

    • Budi Putra Says:

      Setuju mas Hippie…(loh sdh tau gak mutu kok sy beli jg ya…hahahha…kebanyakan duit)…hahahha. Beginilah sy mas Hippie kadang suka sekali membuat perbandingan, dlm hal musik mknya sy tdk terpaku pd satu genre semua sy lahap…yg penting akarnya rock. RS edisi kali ini mmg bener2 bikin sy jengkel…mengapa krn liputan jg soal Justin Biber…kampret! Usia segini kok dicekokin Justin…pdhl dulu di tahun 90an ada NKOTB habis2an sy dan komunitas ejek2! Lagian knp jg RS hrs angkat The Raid sbg headline pdhl kan sdh ada majalah Cinemags. Makany saking kesalnya sy bikin judul “Yesstory Membenamkan Rolling Stone”.

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Budi sedulurku lanang

        Saya membaca tulisan njenengan ini jadi nelangsa(sedih)mas.Niat njenengan untuk mendapat informasi dunia musik lha kok dapat sajian seperti itu.Coba njenengan cicipi majalah Metal Hammer mas ini kalo njenengan lagi senang yg rasanya ekstrim,njenengan coba juga cicipi majalah Classic Rock ini kalo njenengan lagi senang cita rasa lama(bahkan di majalah ini juga dibahas band-band prog).
        Dari pada majalah RS yg bahasannya itu itu juga.
        Sepuntene ingkang kathah(mohon maaf)mas bila ada tutur yg kurang berkenan.

    • Gatot Widayanto Says:

      Saya sudah lama gak baca majalah RS karena memang saya tak mendapatkan apa yang saya mau. Saya lebih suka majalah Classic Rock apalagi yang PROG ….atau majalah Progression yang mengulas khusus prog aja.

      Film? Sudah lama sekali saya tinggalkan kecuali yang bener2 bermakna. terakhir nonton ya film nasional 12 Menit itu. gak lagi nonton. Daripada nonton film lebih baik nonton DVD konser musik …

      • Budi Putra Says:

        Kalau film sesekali msh mengikuti mas Gatot, apalagi film yg berlatar belakang musik atau sejarah. Film yg paling sy sukai Animal Farm yg diadopsi dr novel George Orwell dan jg mnjd inspirasi penulisan album Animal, PF. Adalagi film festival smcm Googbye Lenin, Pepermint Candy (film Korea)…di film ini setting filmnya setback jd menarik sekali alurnya, ditambah ada satu adegan dengan back ground lagu Catch the Rainbow (Rainbow), wah keren sekali. Atau film ‘Mo Better Blues, dll.

  7. hippienov Says:

    Aku juga heran pas pertama liat RS edisi terbaru di outlet, aku pikir ini cover album apa kok serem amat berdarah-darah gak jelas, eh taunya film The Raid 2. Tambah bingung lah kok RS ngebahas tentang film? Apa mau memperluas market atau gimana?
    Hehehe… kalo Justin Biber sudah masuk RS kemungkinan besar RS Indonesia mulai kehabisan narasumber “good and great music” untuk dibahas.. Mungkin karena jarang atau gak pernah mampir ke blog yahud ini, coba kalo sering mampir pasti akan punya banyak topik musik nuansamatik untuk dijadikan tulisan atau bahkan dijadikan headline, hehehe…

    • Budi Putra Says:

      Betul mas Hippie gak sesuai dg namanya RS…kalo kt brows kan byk bgt tuh band2 bagus dr berbagai genre atau bs di mix band2 terkini dg masa lampau…jd bs merangkul 2 generasi dan tentu akan menjadi referensi bg yg membacanya…cuma kalo Justin emBer yg dimunculkan inikan terlalu umum…wong setiap hari dan hampir media mainstream ngangkay ini si Justin…di Inggris aja media gak terlalu menganggap Justin ini. Trus film Raid, waduh sy liat covernya jg ngeri sekali…apa gak ada pilihan cover lain apa? Mending masang cover film Badai Pasti Berlalu…sesuai selera kita ya enggak…

    • kukuh tawanggono Says:

      Mas Hippie,kalo menurut saya majalah RS itu seperti menelan RS versi AS mentah-mentah.Ndak coba disaring dulu dengan budaya kita.
      Aktuil dulu juga pernah membahas JP tercinta juga JM dari The Doors atau musisi 70an yg kontroversinya bahkan lebih parah dari musisi jaman sekarang.Tapi mereka menuliskannya ndak begitu vulgar.
      Juga majalah Hai juga sering meliput musisi-musisi terkenal bahkan sampai sekarang.Juga ndak vulgar,masih dalam tahap kewajaran.
      Yg saya lihat dari dua majalah tadi malah sisi positifnya yg ditonjolkan.
      Sepuntene ingkang kathah(mohon maaf)apabila tutur saya kurang berkenan.

      • Budi Putra Says:

        Wong namanya RS Indonesia hrsnya bisa ngikutin kaidah lokal/kearifan lokal. Kayak rubrik crossover Januari redaksinya malah jd kampungan bgt…wong isinyanya cuma pengalaman bermabok ria…ya kritik utk RS, semoga mrk kebetulan baca komen2 penghuni blog gemblung ini.

  8. andria h8 Says:

    saya berdoa supaya tak akan ada GuitarWorld Indonesia pak Budi🙂

  9. Gatot Widayanto Says:

    Sebenarnya yang dilakukan YESS Bandung gak salah ya .. Buktinya saat ada wabah Rolling Stones di dunia sono, trus muncul majalah Rolling Stone (tanpa “s”) …. Sementara YESS bandung hanya sekedar nambahin “s” dari band prog Yes dan sekaligus sebagai positioning strategy bahwa label Yess khusus musik prog karena Yes adalah band prog …

    Mestinya majalah Metal Hammer namanya Metallicas, atau sekalian Black Sabbaths …

    • kukuh tawanggono Says:

      Mas Gatot,asal jangan sampai diberi nama “JEMBRES”.Kalau diberi nama itu bisa mengandung banyak kutu,seperti yg disamping saya saat ini ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha

      Sedang mengoleskan bedak Dandie pada tubuh jembres yg beberapa minggu terakhir diinvasi kutu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: