Kisah YESS di Tempo Senin, 7 April 2014

Baca dari facebooknya mas Agam Fathurohman, kabarnya besok Tempo mengulas Yess dan ini sediti cuplikannya:

SENIN, 07 APRIL 2014
Kisah Yess dan Idealisme Kaset Rumahan
Jalan Veteran, Bandung. Kalau Anda
melintasi jalan ini, akan terlihat sebuah toko
furnitur di ruko bernomor 107. Kaca
depannya bening sehingga perabot dan
mebel jualan di dalamnya bisa terlihat jelas
dari trotoar. Dulu, akhir 1970-an, barang
siapa melewati toko itu akan menyaksikan
sebuah toko dengan kaca gelap bergambar
drum serta siluet penggebuknya. Konon, itu
siluet Bill Bruford, penabuh drum band rock
progresif asal Inggris, Yes dan King
Crimson.
Para penggemar musik tahu toko itu dulu
markas label rekaman kaset Yess. Dari
situlah ribuan kaset Yess dipasarkan ke
Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya,
Malang, hingga Denpasar. Label rumahan
itu telah tutup pada 1988. Pemilik Yess, A
Fung, sekarang memiliki toko di
seberangnya. Ia tak lagi berjualan kaset, tapi
sepeda.
Tatkala Tempo menyambangi kediamannya
pada Maret lalu, sang istri mengatakan A
Fung sibuk. Hari berikutnya, istrinya bilang
suaminya menolak untuk wawancara tentang
kaset Yess. “Itu sudah masa lalu. Saya tidak
mau bercerita lagi,” kata A Fung melalui
telepon pada hari lain.
Yess memang telah menjadi cerita “tempo
doeloe”. Yess adalah bagian dari “rekaman
indie” Bandung pada 1970-1980-an. Saat
itu di Bandung muncul label-label kaset
produksi rumahan dengan modal cekak.
Produksi kaset mereka jauh di bawah
raksasa label Jakarta, seperti Aquarius dan
Billboard, yang mencetak puluhan ribu kaset
setiap bulan dan memiliki gerai di mana-
mana. Namun mutu produksi dan kurasi
pilihan “kaset Bandung” tak kalah. Awalnya,
pada 1960-an, piringan hitam di Bandung
menjamur. “Piringan hitam itu kebanyakan
masuk dari Singapura lewat Jakarta,” kata
Yongky Nusantara, penggemar musik di
Bandung yang telah sepuh.
Harga piringan hitam itu selangit. Per keping
bisa Rp 5.000, padahal harga kaset hanya
sekitar Rp 400. Nah, sejumlah toko pun
kemudian membuat produksi kaset dengan
cara merekam lagu dari piringan hitam.
Selain Yess, di Bandung muncul label
seperti Mona Lisa, Apple, dan Hidayat. Pada
zaman itu “bajak-membajak” lagu bisa
dimungkinkan karena Indonesia belum
mengikuti Konvensi Bern tentang hak cipta.
Yess boleh dibilang yang paling unik-dari
dunia perkasetan rumahan Bandung pada
1980. Ia fenomenal. “Kaset bajakan”-nya
lain daripada yang lain. Secara visual
tampilan Yess khas. Sampulnya selalu
berwarna gradasi biru dan hijau. Di
punggungnya terdapat nomor urut. Dan,
yang lebih penting, selera Yess gokil. Yess
berani segmented, merilis album rock yang
aneh-aneh. Pada 1980-an, ketika dunia
musik Indonesia dibanjiri rekaman grup
musik pop, disko, dan rock ‘n’ roll, Yess
condong merekam album progressive rock,
jazz rock, dan electronic rock.
Gentle Giant, Jean Luc Ponty, Van der Graff,
Esperanto, PFM, Al Dimeola, Chic Corea,
Klaus Schulze, Peter Bauman, Lucifer’s
Friend, John McLaughlin, Kraftwerk,
Eberhard Schoener, dan Isao Tomita adalah
sederet band dan musikus yang direkam
Yess. Tak pelak, bagi sebagian orang, Yess
telah berjasa memberi wawasan musik rock
yang berbeda. Yess melatih kuping
mendengar komposisi rock yang nyeleneh-
nyeleneh. Bahkan Yess berani memproduksi
album musikus yang tak dikenal.
“Bayangkan, Yess pernah mengeluarkan
album Johnny Warman, “Walking Into
Mirrors”. Ini siapa? Saya tak pernah
mendapatkannya di kaset-kaset lain,” ….

 

11 Responses to “Kisah YESS di Tempo Senin, 7 April 2014”

  1. Gatot Widayanto Says:

    Sepanjang saya kenal Blok M Square, saya belum pernah menemukan dua kaset ini sehingga bisa disebut langka sekali:

    https://gwmusic.wordpress.com/2008/02/12/johny-warman-by-yess/

  2. Budi Putra Says:

    Wah ini akan menjadi liputan yg memorable dan mudah2an harga kaset Yess gak melambung tinggi krn efek dr liputan ini…hahaha.

  3. andria Says:

    dulu di Yogya sekitar tahun 1992 harga kaset seken lama benar2 saya anggap gila-gilaan. harganya bisa 3xt harga kaset royalty. bahkan pak Priyo salah satu penjual kaset seken legendaris Yogya bisa menjual kopian kaset the best Rolling Stones dgn harga tinggi pula. memang kaset Yess di Yogya sdh ada penggemar khususnya tapi tetap kalah harganya dgn kaset2 tematik saat itu. saat thrash metal sdg naik maka yg tertinggi jelas utk Metallica, Slayer, Anthrax, Megadeth dan sebangsanya terutama yg keluaran non royalty.

  4. kukuh tawanggono Says:

    Mas Gatot guru kulo

    Ini wajib beli hukumnya he he he he he.Nanti setelah dibaca(harus dengan hati-hati),lalu dibungkus lagi,diletakkan dekat rak kaset khusus rekaman yess.
    Untuk Van Der Graff saya saat ini sedang mengusahakan untuk dapat boxsethnya mas,ternyata musiknya membuat saya semakin koplak he he he he

  5. kukuh tawanggono Says:

    Mas Gatot guru kulo

    Ini wajib beli hukumnya he he he he he.Nanti setelah dibaca(harus dengan hati-hati),lalu dibungkus lagi,diletakkan dekat rak kaset khusus rekaman yess.

    • kukuh tawanggono Says:

      Mohon maaf mas salah pencet lagi,ternyata gusti allah ndak izinkan saya untuk bohong didepan guru.
      Van Der Graff itu masuk dalam DPB(Daftar Pencarian Boxseth)yg paling utama.Saya ingin sekali menceritakan di blog ini,tapi saya takut menceritakan sesuatu yg masih belum bisa terpegang tangan.Disamping itu untuk mencegah rasa sombong yg ada di dalam hati ini.
      Doakan mas saya segera mendapat boxseth Van Der Graf tersebut.

  6. hardi Says:

    Jaman awal kaset royalti dan demam thrash metal, di lapak kaset seken beringharjo (malioboro) kaset yess masih gampang di dapat. sy ingat betul hampir separo rak kaset pak priyo pernah terisi Yess. kisaran harga kalau gak salah di 6 ribuan
    beberapa yg sy lihat dan ingat : Brand X. marillion, UK. Gong.
    ” aneh. grup musik kok namanya Gong, kayak instrument campursari aja” kt sy dlm hati. apalagi ketika lihat sampul kaset ada tulisan Brand X “grup macam apa ini” pikir sy keheranan
    berhubung selera sy cuma rockshots/line n The best of….. .semua Yess sy abaikan. sy saat itu memang lebih suka sm grup2 dg raungan gitar yg sangar n cepat nyetrum andrenalin. mulai bbrp thn yl sy mulai koleksi Yess, baru dpt dikit.

    • Gatot Widayanto Says:

      Waduh Yess dijual 6 ribuan mas Hardi???? Wadouuuuwwww ….. saya kegirangan buat membelinya itu! … ha ha ha ha …

  7. gt Says:

    Ada fotonya Mas GW dan Mas Edy Irawan.

  8. Budi Putra Says:

    Wah, sy belum beli…di majalah atau koran Tempo pak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: