Progressive Mind …

Mari kita selesaikan kemacetan Jakarta dengan bersepeda …. Yuk!

Slide1

15 Responses to “Progressive Mind …”

  1. Budi Putra Says:

    Setuju mas Gatot, sy pikir ini solusi yg tepat drpd repot2 bikin Perda yg nyatanya miskin implementasi. Tol atau jalan layang kota jg bukan solusi krn volume kendaraan yg terus bertambah setiap harinya. Selain bersepeda transportasi massal perlu didorong lbh baik dan maju lg fasilitas dan pelayanannya…ini baru nmnya Progressive Mind. Memang bukan perkara mudah krn menyangkut kesadaran individu jg kolektif masy Jakarta yg berfikirnya kebanyakan EGP (Emang Gw progressive, eh Pikirin)

    • kukuh tawanggono Says:

      Mas Budi njenengan itu seperti Jello Biafra gembongnya band punk Dead Kennedys, bener-bener kritis sekali pada setiap hal yg berjalan secara ndak bener.
      Saya sebagai sedulur lanang(saudara laki-laki)merasa bangga sekali.
      Lanjutkan mas …………

    • Gatot Widayanto Says:

      Iya mas Budi, kesadaran individu dimulai dari DIRI SENDIRI sebelum nyablak kemana-mana. Saya mulai gowes ke tempat kerja sejak Nopember 2006 saat mengerjakan proyek Indosat. Tadinya hanya saya yang “gila” karena di Indosat kagak ada karyawannya yang naik sepeda. Sekitar 3 bulan kemudian mulai ada satu sepeda …artinya ada karyawana yang tertular. Setahun kemudian sudah dibuatkan parkir khusus sepeda dengan sekitar 10 pesepeda termasuk saya ….

      Sekarang di Kantor Pusat Indosat bahkan disediakan sepeda di lobby khusus buat karyawan yang ada urusan di gedung lain (Wisma Antara) …. Saya suka parkir di sini karena aman.

      Memang perlu tindakan nyata …

      • andria Says:

        saya jadi ingat di RS Bethesda Yogya dulu, dokternya atau pasturnya pakai sepeda onthel lama untuk menuju antar bangsal. mungkin kl pakai roller blade atau skate board lebih berbahaya & perlu latihan khusus🙂

  2. kukuh tawanggono Says:

    Mas Gatot guru kulo

    Ketika banyak manusia hanya bisa JARKONI/iso uJAR ndak bisa nglaKONI(bisa menasehati tapi ndak melakukan apa yg dinasehatkan)njenengan secara pribadi turun langsung melaksanakan tindakkan/memberikan contoh dahulu baru memberikan nasehat.Niki namine(ini namanya)progresif tulen.
    Matur suwon(terima kasih)mas,atas wejangannya.

  3. Rizki Says:

    Setuju Mas kata2 diatas.

    Saya jadi inget lagu Ordinary People milik John Legend, hehehe …Dilirik lagunya, “ordinary people” memang “don’t know which way to go” dan maunya “take it slow”.

  4. khalil logomotif Says:

    Klw mnurut saya, (sorri mas Gatot) nae sepeda terlalu individualis, nae mobil terlalu egois…jalan kaki terlalu percaya diri….yg paling pas adalah nae kenderaan umum (bus atau kereta) tidak individualis dan tidak egois, bisa silaturahmi, bisa ngobrol, hemat, murah, ngga repot dn tetep bisa sampe tujuan. Jangan dikesampingkan kenyataan berbahayanya udara yg ada, polusi dan hazard, jg jangan dikesampingkan kenyataan temperatur udara yg tinggi, penuh dan panasnya sinar matahari (di holland dingin, di jerman dingin, di aussi jg dingin..pantes unt bersepeda…ngga berkeringat).

    Menurut saya, sama sprti shalat, shalat sendiri lebih rendah derajatnya dibandingkan klw rame rame berjamaah.

    Sayang, di republik ini, yg umum umum (yg rame rame) dianggap remeh, tidak diseriusin, dikelas marginalkan dan bukan jd ukuran bagus tdknya fungsi pengelolaan negara. Semua negara maju, pasti punya pelayanan umum (dlm berbagai aspek kehiupan) yg paling tinggi standardnya.

    • Gatot Widayanto Says:

      Terima kasih mas Khalil. Jangan salah …saya juga penggemar angkot …. seperti saya tulis di blog sebelah:

      PEMANFAATAN RUANG DAN MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT

      Saya kurang tahu apakah judul tret di atas tepat atau tidak. Intinya begini. Coba sekali waktu Anda amati kendaraan yang lalu-lalang di Jakarta ini. Taruhlah kendaraan roda empat, berapa orang isinya? Paling banter juga dua orang. Kemudian, coba Anda amati kendaraan umum seperti metro mini, bus, mikrolet, angkot. Saya sering sedih melihat kendaraan umum ini sering kosong penumpangnya bahkan seringkali di jam sibuk sekalipun sehingga mereka harus ngetem karena tuntutan skala ekonomis. Kemudian Anda liat ojek ….betapa banyak mereka ngantri giliran penumpang yang jarang menggunakan jasa mereka meskipun jam sibuk sekalipun. Bukankah hal-hal tersebut merupakan penyebab kemacetan Jakarta? Tentu saja bila banyak bus atau mikrolet atau bahkan ojek yang ngetem, meski ojek mungkin tak terlalu mengganggu kemacetan tentunya. Artinya apa? Kalau setiap orang yang bekerja di Jakarta ini menyadari pentingnya pemanfaatan ruang: yaitu membuat angkot dan kendaraan pribadi penuh penumpang, saya yakin kemacetan Jakarta tak separah ini. Orang menjadi malas naik angkot karena banyak alasan: gak ada AC, sempit, berdesakan dan alasan lainnya. Namun kalau coba dilakoni serempak sama banyak penduduk Jakarta, tentu akan lain jadinya. Memberdayakan Masyarakat Setiap akhir pekan saya sering ada urusan keluar rumah dengan jarak cukup jauh. Hari Sabtu lalu mislanya, saya harus ke Depok. Sementara itu saya malas sekali nyupir mobil karena banyak hal yang sebenarnya bisa saya lakukan bila saya musti mengorbankan waktu 1 atau 1.5 jam perjalanan nyupir. Makanya saya lebih sering naik angkot dan transportasi umum lainnya. Kali ini yang saya bahas bukan aspek kemacetannya namun dari aspek pemberdayaan masyarakat, atau dengan kata sederhana: bagi-bagi rejeki dengan supir-supir angkot. Bila saya menggunakan taxi maka ongkosnya sekitar Rp. 80.000,-satu kali jalan atau pulang-pergi menjadi Rp. 160.000,- Namun bila saya menggunakan moda yang bervariasi mulai dari angkot yang memakan biaya Rp. 10.000 (sudah termasuk tip) kemudian naik bus Agra Mas sampe Pasar Rebo sebesar Rp. 5.000,- nyambung pake mikrolet 112 jurusan Depok dengan Rp. 10.000,- (including tip dan doa dari supir yang seneng dikasih uang lebih); nyambung dengan ojek Rp. 10.000 (including tip juga), maka total jendral hanya butuh Rp. 35.000,- atau pulang pergi hanya Rp. 70.000,-. Artinya biayanya di bawah 50% dari biaya taxi. Namun bukan itu masalahnya …. Kalau saya naik taxi maka yang dapat untung hanya supir taxi sedangkan tukang ojek, mikrolet, angkot gigit jari. Kurang terjadi pemerataan. Ini bukan berarti saya kurang suka naik taxi – tentu saja lebih nyaman lha wong pake AC kalau taxi. Mari kita bermain-main dengan angka tersebut: Kalau naik taxi, biaya saya Rp. 160.000,-Kalau naik campuran angkot, bus, mikrolet dan ojek, total Rp. 70.000,- (Plus di DOA in oleh supir karena kita kasih tip lebih) Artinya ada penghematan sebesar Rp. 90.000,-. Coba kita pikirkan bila kita tergolong orang yang mampu dengan biaya taxi segitu termasuk biasa dan kita tak mengeluh dengan panasnya naik angkot dan ojek, maka …betapa bermaknanya uang Rp. 90.000,- untuk kepentingan AKHIRAT kita bila uang tersebut kita sumbangkan (sodaqoh) di jalan Allah dengan niat yang lurus hanya mencari ridha Allah … SubhanAllah …betapa besar sekali maknanya itu! Belum lagi …sekali lagi …belum lagi …tambahan doa dari tiga orang: supir angkot, supir mikrolet dan supir ojek. Luar biasa bukan? Mari kita biasakan menggunakan moda transportasi umum sekalian sodaqoh agar kita ringan masuk alam akhirat nantinya …. Aamiin.

    • Gatot Widayanto Says:

      Kalau mikirin polusi terus …ya mana mau kerja? Naik angkot juga kena polusi. Naik motor juga kena polusi. Makanya saya selalu pake masker. Kalau gak ada masker, saya gak berani gowes.

      Anggapan mas Khalil bahwa orang bersepeda di jakarta itu bike to hospital ya memang bisa aja terjadi ….tapi jangan dioakan …. Gak usah naik sepwda juga bisa ke hospital.

      Mohon doa dari mas Khalil agar konsistensi saya bersepeda sejak tahun 2006 hingga kini tak menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan saya ya …. Juga pesepeda lainnya di Jakarta.

      Salam damai!
      Salam gowes!
      Salam prog!

    • Gatot Widayanto Says:

      Oh iya….di Holland and jerman memang dingin ….
      Tapi saya hidup di Indonesia … jadi ya harus saya terima apa adanya …he he he … mosok mau bersepeda aja musti nunggu kalau nanti di Holland ….ha ha ha ….

      *) ini side B nya kaset Cuby + Blizzards yakni Atomic Rooster keren banget musiknya …. Prog abiszzz ….!!!!

      Sugeng istirohaaaaat ….

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas Gatot guru kulo

        Saya punya saudara,kakaknya alm ibu.Beliau ini kerjanya jualan tempe mas,naik sepeda onthel.Bahkan kemana-mana selalu naik onthel.Kalo habis maghrib mengajar ngaji sampai isya.
        Umur beliau ini sekarang 80 tahun mas,dan sampai sekarang tetap mengitari jalan untuk jualan tempe.Pernah disuruh berhenti anaknya karena mereka khawatir.Beliau ngomong hidup/mati,selamet/ndak,semuanya gusti Allah SWT yg menentukan kita hanya menjalani
        Semoga gusti Allah selalu njaga keselamatan njenengan dimanapun njenengan berada(karena kalo saya lihat dan amati njenengan itu selalu menyebarkan kebaikkan dimanapun anda berada),segala nikmat-nikmat gusti Allah selalu diberikan untuk njenengan …amin…amin…amin

  5. hippienov Says:

    Setuju dengan mas G dan rekan-rekan… JIka mau bekerja apalagi tinggal di Jakarta ya harus dengan lapang dada bersahabat dengan traffic jam yang kian hari kian mengerikan. Kalo kita hanya mengeluh ya gak akan selesai masalah ini. Aku pribadi juga gak terlalu optimis bahwa kemacetan Jakarta akan cepat selesai selama budaya kebanyakan “penghuni” nya masih sama yaitu mendewakan kendaraan pribadi sebagai alat transportasi. Kita perlu memberikan masukan pada Pemda DKI bagaimana solusi mengatasi kemacetan atau beraksi langsung seperti contohnya mas G yang lebih banyak gowes untuk kegiatan sehari-hari.
    Tapi gak munafik, aku pun masih termasuk orang yang mengagungkan kendaraan pribadi (motor) untuk moda transportasi karena belum terlampau nyaman dengan moda trans alternatif yang ada seperti KA Jabodetabek. Tapi pelan-pelan kebiasaan ini akan berusaha aku kurangi bertahap…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: