Uriah Heep: “The Beach Boys of Heavy Metal”

Budi Putra

Mas Gatot dan rekan-rekan blog gemblung yang super-super. Rasanya gatel sekali tangan ini ingin mengulas tentang band kesukaan saya Uriah Heep, yang mulai saya kenal pada tahun 80-an. Tentu pengalaman yang saya tuangkan dalam bentuk ulasan ini tak sebanding dengan pengalaman mas Gatot bersama Uriah Heep. Bahkan beliau sempet pula bersua dengan personil Uriah Heep dan menuliskannya di blog ini dengan apik yakni “Uriah Heep-Salisbury”. Kalo saya hanya dalam kilasan (sekedar singgah) saja tentang band ini. Namun melalui ulasan ringkas ini, walau tak ada sesuatu yang baru tentang Heep, saya ingin tempatkan sebagai sebuah bentuk apresiasi dan kesukaan saya pada band ini. Tanpa berpanjang lebar, moga-moga saja ulasan ringkas ini berkenan di hati rekan-rekan semua.

Uriah Heep, band rock yang sempat singgah dalam kehidupan pribadi saya pada saat itu. Mulai mengetahuinya pada saat saya buka dan baca majalah (belakangan saya ketahui majalah Aktuil) milik teman sekampung saya, Edi. Di majalah ini terpampang foto-foto sejumlah band rock ‘tempo doeloe’ yang se-ingat saya terpampang foto band Iron Butterfly, Bigfoot, Golden Earring dan Uriah Heep. Namun dari beberapa band itu yang paling menarik perhatian saya adalah Uriah Heep. Entah mengapa, menurut saya foto konser dengan back drop “Uriah Heep” pada saat itu keren sekali. Alhasil setelah melihat foto itu saya jadi penasaran dan kepingin tahu seperti apa sih (musik) Uriah Heep ini?

image

image

Seingat saya pada waktu itu diantara teman-teman sepermainan lagi booming/ngetren lagu-lagu The Police. Lagu-lagu seperti “Roxane”, “So Lonely”, dan lainnya kerap diputer di tape bila kami sedang ngumpul/nongkrong bareng. Bahkan beberapa teman meniru habis-habisan potongan rambut juga fashion ala personil The Police—karena pada waktu itu saya masih suka dengan The Beatles dan musik-musik pop lainnya jadi saya enggak ikut-ikutan deh.

Kemudian rasa penasaran pada Uriah Heep terus menggebu-gebu dan karena belum bisa mendapatkan segala sesuatu yang terkait Uriah Heep (kaset/poster), maka saya lampiaskan saja dengan membuat coretan di dinding dan pintu samping rumah yang digunakan bapak sebagai tempat menaruh kandang ayam. Salah satu coretan yang berbentuk tulisan “Uriah Heep” saya buat dengan cat besi warna putih metalik pada pintu kayu berwarna hitam atau mungkin coklat tua bila tidak keliru, dengan ukuran besar. Keren, gumam saya setelah selesai membuat tulisan itu. Sesudahnya tulisan di pintu itu kemudian menarik perhatian teman-teman yang biasanya bila berangkat sekolah melewati halaman depan rumah: ada yang berkomentar tapi banyak juga yang cuma melihatnya aja. Mungkin pikir mereka “nulis apaan tuh”?!. Maklum karena pada saat itu kami masih mengenyam bangku sekolah dasar, jadi enggak ngerti arti dan maksud tulisan Uriah Heep, mahluk jenis apa Heep itu…hahaha…Saya sendiri sebenarnya cuma sok-sokan aja karena sebelumnya habis lihat di majalah Aktuil. Padahal enggak tahu juga tuh artinya Uriah Heep dan seperti apa musiknya band ini, karena saya taunya baru The Beatles aja. Mungkin ini yang disebut sebagai “Aktuil Effect”.

Baru kemudian menginjak SMP saya mulai mencari kaset-kasetnya di Taman Puring serta poster Uriah Heep dibilangan Blok M—untuk poster saya tidak mendapatkannya yang banyak di jual di Blok M seingat saya poster-poster Led Zeppelin, Deep Purple, Scorpions, Iron Maiden, Judas Priest. Lantas, kaset Uriah Heep pertama yang saya beli di Taman Puring yakni album “Fallen Angel”, dan kemudian “The Best of Uriah Heep”, keluaran Saturnus (?). Pada kaset The Best ini saya kecantol total dengan lagu “July Morning” yang dinyanyikan dengan vokal vibratonya David Byron. Di sisipi iringan additional synthesizer Manfred Mann. Irama lagu ini begitu harmonik bak mengubek-ubek rasa batin saya yang paling dalam. Menurut saya melalui lagu ini Uriah Heep berhasil memikat saya pada pandangan pertama. Di tambah lagu “Come Away Melinda”, yang sendu nan syahdu itu, sampai-sampai air mata kerap menitik bila mendengarkan lagu ini. “Alamak bener-bener dalem nih lagu…” gumam saya kala itu. “Come Away Melinda” begitu harmoni dengan petikan gitar akustik Mick Box yang mengiang digendang telinga dan serasa tak bosen untuk berkali-kali memutar lagu ini. Selain kedua lagu itu saya pun terhanyut dalam harmoni vokal dan backing yang padu (koor) pada lagu “Sunrise”, “Look At Your Self”, Sweet Lorraine”, dan lagu-lagu lainnya, dengan nada khas band rock era 70-an yang kental iringan synthesizer yang “me-nguweng-nguweng”. Bahkan saking padu backing vokalnya Uriah Heep pernah dijuluki sebagai “The Beach Boys of Heavy Metal” karena gaya melodis lagu-lagunya dan juga gaya koor vocal dan backing vocalnya agak berbau The Beach Boys. Tapi justru itu yang saya sukai, harmonisasi seperti Beach Boys atau The Beatles yang enak di dengar dan nyaman di telinga. Belakangan saya mendapatkan kembali album “Live, Uriah Heep” dari teman. Maka tanpa pikir panjang saya beli kaset ini dengan harga dua ribu rupiah. Di album ini suara gitar Mick Box terdengar lebih terdistorsi pada saat track “July Morning” dibawakan ditambah raungan synthesizer Ken Hensley pada epilog lagu terdengar seperti tak ingin berkesudahan ia memainkan single itu.

Kegemaran pada Uriah Heep bertambah lengkap ketika main ke Taman Puring mendapatkan semacam “Songs Book” seken yang berisi chord lagu-lagu dari band-band jadul seperti Nazareth, Deep Purple, The Hollies, Fleetwood Mac, Janis Joplin, Ten Years After, dan Uriah Heep. Melalui “Songs Book” ini kerap saya bawa keteman-teman untuk menyanyikan lagu-lagu Uriah Heep juga lagu lainnya. Belakangan setelah utak atik informasi malah saya baru tahu bila Uriah Heep adalah nama tokoh dalam novel berjudul David Copperfield karya Charles Dickens—pantes aja dulu saya cari-cari di kamus enggak ketemu artinya Uriah Heep…hahaha!.

Dari “Songs Book” saya ketahui pula band yang mulai digagas pada 1969 ini dibentuk oleh produser rekaman Gerry Bron yang menyandingkan gitaris Mick Box dan vokalis David Byron serta pemain kibor Ken Hensley (mantan The Gods) dan pemain bass Paul Newton dan kemudian menyusul untuk posisi drum, Kerslake. Mereka menamai band mereka awalnya Spice, kemudian berganti nama Uriah Heep.

Berdasarkan informasi yang beredar, kala itu Uriah Heep memiliki sejumlah besar pengikut setia pada tahun 1970-an. Walaupun posisinya kerap dibayang-bayangi supergrup Deep Purple, Led Zeppelin dan Grand Funk namun pada tahun 1972, Uriah Heep membuktikan kelasnya sebagai band yang patut disegani dengan mendapatkan dua piringan emas di Amerika Serikat untuk album “Demons and Wizards” (1972) dan “The Magician’s Birthday”. Bahkan untuk album kedua mereka, “Salisbury”, (untuk ulasan album ini bisa dibaca tulisan mas Gatot: Uriah Heep-“Salisbury”), bahkan bisa digolongkan sebagai album prog karena berisi lagu sepanjang 16 menit yang dimainkan bersama sebuah orkestra alat musik gesek dan tiup—sepertinya pada era 70-an band yang tidak memainkan prog kurang diperhitungkan atau berupaya untuk mengikuti tren? Album ini mungkin pembuktian dari Uriah Heep bila mereka apresiatif pula dengan prog.

Pada album keempat, “Demons & Wizards”, Gary Thain asal Selandia Baru menggantikan pemain bass Paul Newton. Berikutnya, adalah album kelima, “The Magician’s Birthday” yang berisi lagu “Sweet Lorraine”. Pada perjalanannya setelah merilis album ketujuh, “Wonderworld”, tak berapa lama kemudian berembus kabar Gary Thain ditemukan tewas akibat overdosis heroin. Thain meninggal di usia muda, 27 tahun pada 8 Desember 1975—berikutnya pada beberapa tahun kemudian setelah dipecat dari Uriah Heep, David Byron ditemukan tewas akibat serangan jantung. Soal konsumsi alkohol yang demikian parah adalah penyebab kematian Byron.

Lazimnya sebuah band kesuksesan nyatanya tak berjalan mulus menemani mereka. Sejumlah prahara menimpa Uriah Heep. Perselisihan kemudian merebak dengan dipecatnya David Byron pada bulan Juli 1976 akibat Byron yang sudah terjerembab terlalu dalam bersama alkohol dan ia menjadi pribadi pemabuk. Setelah Byron, tidak lama kemudian, John Wetton menyatakan ikut keluar. Maka “Firefly” menjadi album pertama Uriah Heep tanpa kehadiran David Byron. Posisi vokalis digantikan oleh John Lawton (mantan Lucifer’s Friend), dan pemain bass Trevor Bolder menggantikan John Wetton. Prahara terus berlanjut menginjak tahun 1981, bongkar pasang sepertinya telah melekat pada band ini. Mick Box membubarkan Uriah Heep dan membentuk formasi baru yang berisi pemain kibor John Sinclair (mantan Heavy Metal Kids), vokalis Pete Goalby dari Trapeze, Bob Daisley dari Rainbow, dan Lee Kerslake dari band pengiring Ozzy Osbourne. Selang setahun kemudian keluar album “Abominog” yang menjadi album pertama Uriah Heep dengan formasi baru. Menurut berbagai kalangan penikmat musik warna musik Uriah Heep telah berubah menjadi Adult Oriented Rock (AOR), namun “Abominog” kemudian menurut kabar menjadi album laris dari Uriah Heep kala itu.

Walau dengan berbagai prahara dan konflik yang menyertai formasi yang dibentuk Mick Box pada tahun 1986 bertahan hingga tahun 2007. Uriah Heep tidak berhenti merilis album studio dan album konser. Mereka melakukan konser secara teratur di Jerman, Belanda, negara-negara Skandinavia, Jepang, dan Rusia. Namun di awal 2007, pemain drum Lee Kerslake mengundurkan diri karena sakit yang dideritanya. Tahun sebelumnya bersama Kerslake, Uriah Heep mengadakan konser keliling dunia tahun 2006, mulai dari India, bahkan pernah singgah di Indonesia, Thailand, Brasil, Peru, Rusia, Bulgaria, dan ditutup dengan enam minggu tur akustik di Eropa.

Lepas dari segala pernak-pernik yang menyertai Uriah Heep, tetaplah band legendaris papan atas yang terbukti masih sanggup berkarya di usia senja perjalanan karir bermusiknya. Sepadan dengan Deep Purple atau band-band seangkatan yang masih terlihat eksis di era band-band muda yang terus bermunculan dengan berbagai varian dan skill yang terbilang mumpuni.

Perjumpaan saya dengan Uriah Heep, nama unik yang hingga kini masih melekat dalam benak ini menyiratkan apresiasi bagi saya dan tanpa ada rasa ragu sedikitpun saya menyatakan bahwa Uriah Heep adalah band besar era lampau namun layak mendapatkan tempat terhormat pada abad mondial saat ini. Untuk itu salut saya untuk Uriah Heep!

10 Responses to “Uriah Heep: “The Beach Boys of Heavy Metal””

  1. Budi Putra Says:

    Mas Gatot,

    Untuk yg kesekiankali matur suwun telah diposting ulasan ini dengan super duper cepat, pat! ” Kita sama2 kecantol Uriah Heep ya mas, kala itu”, hehehe. Tapi mas Gatot jauh lebih beruntung dan layak untuk itu karena sudah mejeng bareng dengan personil Uriah Heep. Sekali lg trims mas Gatot.

    • Gatot Widayanto Says:

      mas Budi,

      Terima kasih banyak atas tretnya yang bagus sekali. Ini bukan karena saya juga suka Heep namun cara penulisan mas Budi yang bagus dan sekaligus nuansamatik.

      Saya memang mengenal Heep dari kecil dan menyukainya hingga sekarang.

      Salam

      • Budi Putra Says:

        Trims mas Gatot, sbnrnya biasa aja tp krn terkait band kesukaan jd nulisnya mengalir aja.

  2. khalil logomotif Says:

    Mas Budi, saya jg punya kaitan khusus dgn yuraiyah hip (dulu saya nyebutnya bgitu). Yg pertama, namanya memang lucu, sama seperti marillion, aneh ngga lazim untuk ukuran saya yg anak kampung, eh ternyata sama dgn yuraiyah, dicomot dari novel. Yg kedua, lagunya yang paling nguweng nguwengpun, masih kedengaran lembut bagi saya, ngga perduli siapa yg nyanyiin. Buktinya, sampai sekarang, yuraiyah tetep ada diplaylist saya, mulai dari firefly, wizard, the park, july morning, rain, lonely night(?) sampe yg baru baru macam time of revelation, misstress of al time atau juga only the young.

    Tidak demikian dgn ledzep, dippurple atau hardrock legend band lainnya…ngga ada satupun diplaylist saya…yuraiyah tetep ada.

    Tulisan bermutu dan berisi. Terimakasih mas Budi, telah berbagi.

    • Budi Putra Says:

      Mas Khalil,

      Namanya yg unik menjadi daya tarik tersendiri dr band ini, itu yg sy rasakan. Setelah itu baru mulai menikmati lagu2nya, walau ttp nguweng-nguweng dg sound synthesizer tp sy rasa tak sehingar bingar Zepp/Purple…nadanya msh harmonis spt “Look At Your Self” yg ngebeat tp msh trjg melodisnya, juga “Sunrise”…itu menurut pndpt sy. Sy pernah liat livenya via yutub, Mick Box rupanya jenaka jg dlm memainkan gitarnya sbg upaya utk berkomunikasi dg penonton. Kerennya di band ini tdk ada yg menonjol diantara personilnya, semua mendapatkan porsi/peran msg2…jd beda dg Purple, misalnya, org byk tau sosok Blackmore/Giillan di dibanding Purple itu sendiri. Kalo Heep yg dikenal ya bandnya.

  3. andria Says:

    dulu, jaman kaset non royalty, saya heran kok nama grup ini seperti nama wanita😀 apalagi sampul album Abominog saya anggap mengerikan shg citra Uriah Heep sbg grup yg mirip Iron Maiden. saya jadinya nggak pernah beli kaset2nya. yg sering beredar di kaset2 kompilasi malah lagu2 baladanya.

    • Budi Putra Says:

      Iya mas Andria kebanyakan org taunya Heep krn lagu2 balladnya. Spt Scorpions yg awam pun mengira lagu baladnya hanya terbatas pd “Always Somewhere”, “Still Lovimg. You”…pdhl kalo dengerin “Fly People Fly” lbh dahsyat lg…begitu jg dg Heep, coba bila nyimak “Salisbury” mesti berbalik 100`dg album2 Heep lainnya. Soal desain cover mmg bbrp gak membuat sreg kita akan Heep, contohnya aja cover album “Demons and Wizards” yg gak meyakinkan itu…pdhl isinya keren2. Untungnya pertama yg sy liat dr band ini foto2nya yg keren di majalah…coba kalo dlm bntuk lain, gak tau jg deh…hehehe.

  4. kukuh tawanggono Says:

    Mas Budi, seribu jempol
    Kalo saya kenalan sama grup ini dengan cara aneh mas.Melalui cd yg dijual cukup murah,cuma 45000(album Demons and Wizards).Waktu itu saya sedang rindu mendengarkan sound-sound lawas dekade 70an. Eeh langsung dah sama teman-teman kartel dikasih cd itu.
    Sesampai dirumah saya puter ternyata cocok dengan keinginan saya,kalo begitu sudah jodoh saya ini.

    • Budi Putra Says:

      Lbh cocok lg bila dengerin Heep di Malang ya mas kukuh, udara dingin ditemani lagu2 Heep versi ballad…sambil nyeruput kopi/teh panas dan pisang/singkong goreng…mak nyusss! Siip mas Kukuh!

  5. andria Says:

    utk pemilihan nama saya pernah baca di internet bahwa sang manajer, Gerry Bron, yang mengusulkan nama tadi menggantikan nama awal band Spice.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: