It’s only Rock’N Roll, but I Like It

DananG Suryono

Rolling Stones merupakan cinta pertama dengan musik rock, sebagai remaja Solo yang baru masuk SMP di tahun 1977, setiap berangkat dan pulang sekolah saya selalu melewati kawasan Baluwarti. Setiap melewati benteng yang mengelilingi baluwarti selalu mata saya menatap graffiti di tembok kokohnya , bertuliskan It’s Only Rock’n Roll dengan gambar logo lidah terjulur. Sebuah graffiti yang melekat di benak saya tanpa mengerti apa makna tulisan itu.

Berbekal majalah aktuil koleksi Om saya, saya mulai tahu tentang logo ilat melet itu, dan saat saya pindah ke kota Padang, saya berkenalan dengan video betamax Gimme Shelter yang bertutur tentang konser penuh huru hara di Altamont Speedway tahun 1969, serta kaset The Rolling Stones Still Life American Concert  rilisan AR, saat itulah kesukaan saya terhadap Rolling Stones mulai terbentuk, dan semakin menjadi saat saya punya serial kaset Rolling Stones the Platinum Album vol 1-17 rilisan Billboard. Ditambah provokasi tentang konser Rolling Stones di majalah Vista, saya pun semakin menikmati Stones, sehingga saya pun mempunyai suatu impian saat remaja “suatu saat saya bisa nonton Rolling Stones”

Kaset Still Life rilisan AR

Kaset Still Life rilisan AR

 

Tahun berlalu, ragam musik yang saya cerna semakin beragam, dan bergabungnya dengan milis m-claro semakin membuat candu mengkoleksi CD dan menonton konser semakin kronis, namun Stones tetap tidak terlupakan. Ratusan konser sudah saya nikmati secara langsung, namun justru Rolling Stones, Queen dan Rush malah belum bisa saya tonton secara langsung. Khusus Rolling Stones hingga tahun lalu rasanya kesempatan menonton pun semakin meredup saat justru menjelang di usia setengah abad mereka berkarir di dunia music rock,  terjadi pertikaian antara duet maut Mick Jagger dan Keith Richards. Saya membathin rasanya stones yang sering dianggap band paling banyak mengumpulkan uang itu tidak akan pernah manggung lagi.

Harapan pun muncul saat Richards dan Jagger kembali akur dan melakukan konser merayakan 50 tahun kehadiran Rolling Stones, tapi mau nonton dimana?, Eropa & Amerika rasanya mustahil untuk saya jangkau. Namun tiba-tiba di twitter Stones berkicau akan konser dengan tajuk 14 On Fire tour, dan salah satunya memunculkan Singapore tgl 15 Maret 2014 sebagai salah satu persinggahan mereka, wah…sayapun segera berdiskusi dengan pasangan setia saya setiap nonton konser merangkap menteri keuangan dirumah tentang rencana ini. Namun belum selesai kami mengkalkulasi, tiba-tiba Singapore hilang dari web resmi Rollingstones.com dan rasanya ada celah bahwa Jakarta akan merebut tempat itu. Namun saya sungguh galau dan terombang-ambing dengan pertanyaan di benak “ya kalau iya, kalo nggak gimana?”. Dalam galau itu pada group whatsapp mas Nelwin menawarkan saya untuk bareng nonton di Macau saja dan tidak berspekulasi dengan Singapore, mengingat penjualan tiket yang seperti kacang goreng sepulang kerja saya segera berdiskusi dengan istri. Rupanya kegalauan saya terbaca oleh istri saya, dan dengan lembut menyuruh saya untuk ke Macau dan biar cukup istri saya tidak ikut. Sungguh berkaca-kaca mata saya dengan ucapan pasangan hidup saya yang berujar “kapan lagi bisa menonton legenda kamu?”

Besoknya segera saya kontak mas Nelwin , dan saya dapatkan konfirmasi bahwa sudah ada 4 tiket dan atas kebaikan mas Nelwin dan mas Surjo, didapat rencana perjalanan, booking tiket pesawat, hotel dan tetek bengek lainnya.

3 bulan lebih menjelang hari-H, saya putuskan untuk mengurangi pengeluaran sekunder, sehingga selama 3 bulan itu praktis jarang membeli CD/DVD/Kaset hingga buku dan rekreasi lainnya agar bisa memenuhi impian nonton legenda hidup ini. Untunglah sedikit konser yang ada pada awal 2014, hanya band oldschool thrash metal Havox dan Java Jazz yang saya tonton dengan strategi membeli tiket presale dan early bird biar lebih murah.

Audio Video

Audio Video

 

Di sela kesibukan kantor setiap hari lagu-lagu Rolling Stones dari album 12 x 5 hingga Shine A Light terus berkumandang dari computer saya, sehingga aroma lagu-lagu beraroma Blues dan Rock N Roll setia menemani kesibukan sehari-hari.

Disamping itu sesampainya di rumah sambil tiduran saya memutar DVD/Bluray Stones mulai dari Gimme Shelter, Stones at the Park, Lets Spend The Night Together, Voodo Lounge, Stones at the Max, Four flicks, Biggest Bang, Shine a Light hingga konser terbaru mereka tahun lalu Sweet Summer Sun.

Saat Singapore akhirnya kembali masuk kedalam agenda tour 1 bulan yang lalu, saya sudah tidak memikirkannya lagi, saya hanya berfikir Macau aku khan datang

Akhirnya saat yang dinanti pun tiba, kami berlima berangkat dari Jakarta sabtu dini hari menuju Manila. Dalam penerbangan selama 5 jam rasa gelisah saya muncul, rasa gelisah seperti saat mau ketemu pacar yang saya rasakan. Setelah sampai Manila kami sempat keluar dijemput mas Amrullah teman SD mas Surjo yang bekerja disana, Setelah mampir sarapan di Saturday Market Makati dan Rizal memorial Park jam 11.00 kami kembali ke Bandara Ninoy Aquino untuk melanjutkan perjalanan ke Macau.

Rizal Memorial Park

Rizal Memorial Park

Sesampainya sore hari kami disergap hujan dan cuaca dingin di Macau dan setelah check ini ke Hotel, malam itu kami menuju Cotai Arena tempat Stones konser besoknya. Beruntung kami langsung bisa menukarkan ticket dan bisa membeli  official merch yang sudah dijual di lapak hotel Venetian tempat Cotai Arena berada.

Ticket & Merch

Ticket & Merch

Hari H, setelah check out dari hotel, sedikit wisata dan kulineran sampai sore, kami segera menuju venue yang ternyata sudah ramai. Sempat kebingungan mau nitipin koper/backpack kemana?, ternyata konser ini menyediakan fasilitas penitipan yang bagus. Setelah penitipan selesai kami ngopi dan bertemu dengan beberapa teman dari Indonesia (ada pasangan yang dating khusus dari Tasikmalaya khusus untuk Stones). Jam 19 waktu setempat, pintu dibuka dan kami masuk ke venue. Suasana masih lengang dan tidak perlu rebutan masuk, karena kursi penonton telah diatur sesuai ticket. Kami duduk di balkon belakang, cukup jauh dari pentas, namun keberadaan layar raksasa sangat membantu kami.

 

Layout venue

Layout venue

 

Pukul 20.40 molor 40 menit dari skedul, lampu menyala merah darah dan setelah intro perkusi MC mengumandangkan “Ladies and gentlemen  please welcome The Rolling Stones”, Mick Jagger, Keith Richards, Ron Wood, Charlie Watts dengan additional player Darryl Jones (bass), Bobby Keys dan Tim Ries (saxophone), Chuck Leavell (Keyboard/Piano), serta Bernard Fowler dan Lisa Fischer muncul dan langsung membuka pertunjukan dengan Jumpin’ Jack Flash yang segera membuat air mata bahagia saya tanpa sadar menetes), disusul It’s Only Rock N Roll.

Rolling Stones + Mick Taylor

Rolling Stones + Mick Taylor

Konser ini juga mempunyai bintang tamu istimewa, mantan gitaris Rolling Stones Mick Taylor juga turut meramaikan konser ini. Pertunjukan selama sekitar 2 jam ini pun di akhiri dengan lagu ke 19, Satisfaction. Sungguh kagum saya dengan Mick Jagger cs, di usia lebih dari 71 tahun, mereka sungguh masih sangat tangguh, melebihi banyak musisi yang patut menjadi cucunya. Komitmen dan Konsistensi mereka sungguh luar biasa. Lebih 5 dekade berada pada music rock. Selalu hadir dalam berbagai perubahan warna musik, Rolling Stones tidak memainkan musik yang rumit dan njlimet, mereka main dengan arwah blues dan rock’n roll namun sungguh melekat ke banyak orang di dunia.

 

Mick Jagger, Ron Wood, Keith Richards, Mick Taylor dan Charlie Watts

Mick Jagger, Ron Wood, Keith Richards, Mick Taylor dan Charlie Watts

Sungguh saya mensyukuri nikmat Allah telah diberikan kesempatan meraih impian ini. Dengan shuttle bus gratis, kami menuju Terminal Ferry untuk melanjutkan perjalanan panjang  Macau-Hongkong-Manila-Singapore-Jakarta.  1 kali penyeberangan ferry, 3 kali ganti pesawat tanpa tidur sejak konser. Perjalanan kembali ke Jakarta sangat melelahkan, namun sungguh memuaskan. Dan begitu sampai Jakarta, saya sempatkan mampir ke nasi Kapau Kramat. Memang kota yang kami singgahi sungguh teratur, dan asri, namun untuk  menjalani hidup dan urusan kuliner, sungguh saya cinta Jakarta.

Terima kasih mas Nelwin, mas Surjo dan Nyonya serta mas Oggy atas pengalaman  menggapai impian ini. It’s only Rock’NRoll, but I like it.

33 Responses to “It’s only Rock’N Roll, but I Like It”

  1. khalil logomotif Says:

    Wah…mas DananG beruntung banget!!!
    Bukan karena bisa nonton rolingston..bukan!
    Beruntung karena punya menteri keuangan yg pengertian dn baeeek banget…..

    • danangsuryono2112 Says:

      Alhamdulillah mas Khalil, demikian juga dengan mas Khalil tentunya…:)

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Khalil,

      Saya kok suka banget dan terasa tertunjek dengan komentar ini. Kenapa? Karena itu pula yang saya rasakan membaca ulasan mas DananG. Dan maaf …saya bacanya insya Allah lebih duluan dari mas Khalil ….he he …

      Mas DananG,

      Tulisan MD ini sungguh menyentuh sanubari nunjek uku ati baik mulai dari impian hingga menyampaikan kepada menkeu. Sungguh ….saya hanyut terbawa dengan yang ini, sama dengan komen mas Khalil. Saya jadi lupa bahwa ini ulasan musik. Mengapa? Karena ranah personalnya penuh dengan sentuhan dan sealiran darah dan pola pikir dengan saya dan juga saya yakin beberapa penghuni blog gemblung ini. Memang saya bukan pecinta Srones sejati namun saya turut hanyut dalam cerita MD di sini. Luar biasa!

      Saya salut Ny. DananG secara lembut memberikan blessing kepada hubby nya ….sehingga semboyan dibalik pria perkasa ada wanita hebat itu terbukti di MD dan Nyonya. Top markotop! Mungkin akan tambah seru bila Nyonya DananG juga berkomentar di blog gemblung ini. Salut dah!
      Padahal saya tahu di setiap konser MD selalu ajak Ny dan kadang anaknya juga.

      Salam buat Nyonya ya mas. Semoga tetap rukun sejahtera dan dilimpahi rahnat oleh Allah swt. Aamiin

      • danangsuryono2112 Says:

        suwun mas Gatot, Tadi malem berdua kami membaca bareng blog ini, dan saya melihat senyum serta sedikit tetes air mata haru pada menkeu saya. Semoga kita semua rukun sejahtera dan dilimpahi rahmat oleh Allah swt.Amin YRA.

      • Gatot Widayanto Says:

        Aamiin Ya Rabb! Mas DananG sudah memberikan contoh yang baik kepada kita semua bahwa menyalurkan hobby tak perlu slinthutan dibelakang menkeu karena bika dibahas dengan baik tentu bisa terlaksana dengan baik dan menambah kerukunan keluarga. Insya Allah ….

        Saya jadi mbrebes mili juga teringat nonton Yes di Singapore dengan my better half dan kemudian di tahun berikutnya nonton DT namun dia tak ikut karena saya mbambungan lewat Batam …. Nuansamatik. Sayang saat itu blog gemblung belum lahir dan saat itu saya punya blog Progressive Mind di Friendster almarhum ….

  2. andria Says:

    Keith rupanya sdh bisa nerima Mick Taylor, di bukunya Ron Wood saya dulu itu Keith bilang kl suara gitar Taylor terlalu keras.

    • danangsuryono2112 Says:

      Mungkin mereka sudah pada tua, jadi sudah bisa saling terima mas Andria, tapi Mick Taylor malahan hadir pada album yang IMHO merupakan album terbaik Rolling Stones “Sticky Fingers”. Coba cek lagu “Sway” dan “Moonlight Mile” yang uenakkkk pol itu. Sayang Mick Taylor seperti tidak bisa menjaga badan, dia terlihat tambun dibanding 4 personal Stones lain yang langsing dan atletis. Sayang Bill Wyman tidak gabung dalam konser ini

  3. kukuh tawanggono Says:

    Mas DananG dua ribu jempol.
    Kalau membaca tulisan njenengan bagaimana pertama kali berkenalan dengan stones amat mengharukan.Kalau saya pribadi dikenalkan dengan band ini oleh alm bapak melalui poster yg dibelikannya(Mick Jagger).Bahkan karena mulut ini menurut beliau sama-sama njebernya maka beliu memanggil saya gujir(plesetan beliau untuk Jagger).
    Setiap membaca Stones,saya selalu terkenang sesuatu.Bagaimana band ini amat mendekatkan diri saya dengan alm bapak.Setiap saya ada didepan pusara alm bapak,panggilan gujir itu masih terngiang-ngiang.
    Band ini juga yg telah memperkenalkan saya pada musik blues dan jazz.Genre musik yg membuat saya terus melakukan perburuan terhadap artefak-artefak yg mereka tinggalkan khususnya dekade 70an kebawah.
    Logo Stones ilat melet itu adalah hasil rancangan seniman pop terkenal Andy Warhol.
    Terima kasih mas benar-benar beruntung njenengan.

    • danangsuryono2112 Says:

      Matur nuwun mas Kukuh
      wah sungguh mengharukan ikatan mas Kukuh dengan alm Ayahnda tertali karena band ini. Mohon maaf saya menebak alm Ayahnda mas Kukuh penggemar Stones juga.
      Memang kalo melihat penonton pada konsernya rasanya ada 4 generasi penonton yang hadir. Sepertinya Stones selalu bisa menyeruak kepada berbagai generasi. Menonton 2 DVD Stones di Hyde Park, at the Park (Hyde Park 1969) dan Sweet Summer Sun (Hyde Park 2013) rasanya sungguh berbeda, 1969-Stones yang rebel dan 2013-Stones yang mapan.
      Kalo yang saya pernah baca awalnya logo ini disebut sebagai karya Andy Warhol (karena muncul dalam sampul belakang Sticky Fingers) namun ternyata logo ini bukan karya Warhol. namun karya John Pasche. Dan khabarnya logo ini paling banyak mendatangkan keuntungan finansial bagi Rolling Stones

      • kukuh tawanggono Says:

        Matur nuwun mas DananG atas tambahan ilmunya tentang Stones.
        Gini ini saya jadi ingat juga alm ibu mas,tentang kata-kata yg selalu beliau ucapkan…………………..
        Menawa awakmu iso kok kendali`na kepingin sembarang iku saktemene awakmu iso,sayange awakmu seneng nuruti atimu sing terus-terusan kaco iku(andai dirimu bisa kau kendalikan keinginanmu semua bisa terlaksana,sayangnya kamu senang menuruti hatimu yg selalu kacau).
        Terima kasih mas tulisan njenengan mengingatkan akan nikmat gusti Allah pada saya(dianugerahi orang tua yg terbaik didunia).

      • gt Says:

        Asyik Mas Danang,kebetulan sy sudah nonton DVD konser yg di Hyde Park thn 1969 dan 2013.

  4. gt Says:

    Mantap Mas Danang…yg di Australia batal ya..

    • danangsuryono2112 Says:

      Suwun mas GT, betul terkait dengan meninggalnya pacar Mick Jagger, 7 rangkaian show di Australia dan NZ
      Perth Arena – 19 March – postponed
      Adelaide Oval – 22 March – postponed
      Sydney Allphones Arena – 25 March – postponed
      Melbourne Rod Laver Arena – 28 March – postponed
      Macedon Ranges Hanging Rock – 30 March – postponed
      Brisbane Entertainment Centre – 2 April – postponed
      Auckland Mt Smart Stadium – 5 April – postponed

      Beberapa teman-teman sudah terlanjur beli ticket di Aus jadi tertunda nontonnya, Sayangnya ada yang ticket pesawatnya gak bisa di refund

  5. wahyu Says:

    buat ngiri aja nih..hehe..

  6. Surjorimba Suroto Says:

    really enjoying reading this!

    • danangsuryono2112 Says:

      terima kasih atas pengalaman barengnya mas Surjo, semoga dapat terulang dengan RusH, Porcupine Tree dan yang lain..amin

      • Surjorimba Suroto Says:

        Saya juga sedang menulis review utk blog. Tapi belum bisa dirilis karena tulisan untuk koran belum rilis. Mungkin hari minggu besok tayang. Sebagian dari tulisan utk koran ada di dalam review tsb. Nanti spoiler dan ngga etis.

      • Gatot Widayanto Says:

        Pak Suryo,

        Apa kabar? Rasanya sudah limapuluh tahun kita gak jumpa ya pak.
        Wah …saya ngiri abis liat foto dengan istri nonton bareng di Macau plus kulinerannya yang saya lihat di FB. Keluarga setunkinah ….tak sekedar sakinah ….karena keduanya menikmati musik rock dari band legendaris.

        Saya juga mesem liat foto berempat di atas …. lha nonton Stones kok kaosnya Wedhuz Gimbal on Broadway ….ha ha ha …

        Bener pak ….posting di blog memang seharusnya setelah yang di media sudah keluar karena tak etis memang. Tulisan mas Pur dan mas DananG ini juga setelah dimuat di media. Untuk mas Pur yang mengulas Clapton ya langsung saya upload setelah dapet soft copynya dari beliau….lha wong yang punya Tempo juga beliau …he he ….
        Kalau mas DananG ulasannya berbeda dengan yang dimuat di Tempo karena di blog gemblung ini beliau memasukkan aspek nuansamatik yang sangat personal. Makanya tanpa pikir panjang langsung upload.

        Oh ya pak Suryo, sebagai dedengkot Yes, di blog gemblung ini juga ada pencinta Yes sejati yang tinggal di Klaten. Beliau sudah banyak bikin ulasan ciamik nunjek ulu ati terkait Yes di blog gemblung ini. Silakan aja searh di blog ini nama Herwinto yang panggilan sayang nya adalah Koh Win. Bukan main lho Koh Win ini ….punya cita2 membawa Yes main di Klaten …. “An Evening of Yes Music Plus Klenèngan Klaten” ….he he ….

        Koh Win,

        Pak Suryo ini kalau bicara Yes sangat luas dan dalam. Cucok tenan berkomunikasi dengan Koh Win …. Monggo ….

        Salam

      • Surjorimba Suroto Says:

        wah Pak Gatot…saya mah biasa aja dengan Yes…. udah lama ngga ngikutin malahan.

        Jangankan t-shirt Wedhuz Gimbal itu… saat itu nggada dari kami yg pakai kaos RS. Kami pakai kaos Kiss, Rush, Yes, Genesis…. Baru ganti ihram menjelang konser.

        Ttg tulisan utk blog, sebenarnya tulisan nya beda total karena ditulis ulang. Utk koran tulisan saya murni ttg traveling. Konser RS nya cuma 1 paragraf. Utk majalah tulisan saya ttg resep RS bertahan 50 tahun. Konsernya sendiri ngga nyampe 1 paragraf.

        Tulisan utk blog ini yg utuh, detik demi detik perjalanan. Linear. Tapi mau saya simpan sampai koran dan majalahnya terbit, meskipun tulisan utk blog beda total.

        Yes di Klaten? Hayuuukkkk

      • Surjorimba Suroto Says:

        eh iya pak Gatot…. istri saya ngga ikutan nonton. Dia cuma ikut jalan2nya ke Manila, Macau, Hong Kong & Singapore.

      • Gatot Widayanto Says:

        Oh gitu … Paling tidak kan istri mendukung suami Nyetun ….he he …. Top dah!!

  7. unggul phillip jagger Says:

    mantab sekali mas ….
    impian mas ini sejalan dgn impian saya … sya telah memendam hasrat bertemu, nonton mereka sejat tahun 1985 an … setiap detik setiap saat hasrat ini muncul tak pernah padam …

    sedikit terobati ketika bisa nonton langsung konser mick jagger di thn 88 di istora … tp itu tak memadamkan hasrat unt berjingkrak” di hadapan personel stones itu sendiri …

    akhirnya, setelah sempat putus asa krn tak sanggup ke macau yg saya rasa terlalu jauh, nama singapore muncul dan menyelamatkan hidup saya dr kebinasaan … hehehe …

    We know, it’s only rock n roll, but we like it …

    • danangsuryono2112 Says:

      mas Unggul, nyaris saja, Jika tragedi pacar MJ terjadi di Abu Dhabi atau Tokyo, impian kita buyar

      • unggul phillip jagger Says:

        iya mas … walau kesannya jahanam, tp jujur sya bersyukur L’Wren Scoot bunuh dirinya setelah konser Singapore pula …

        Duhh Mick, maafin ya … sya turut menyesal banget kok sama yg menimpa pasanganmu itu …

  8. Budi Putra Says:

    Mas DananG, keren bgt bisa nonton Stones…kapan lg ya mas! Ini salah satu band pujaan semasa abg dulu. “Time Is On My Side”, “Under The Broadwalk”, Tell Me, “Heart Of Stones”, “Memory Motel”, “Wild Horse “, “Honky Tonk… dll…ini lagu2 wajib yg selalu mengiringi masa2 itu. Liputannya keren, mengalir dan enak di baca krn pastinya yg menuliskannya pun dg hati riang gembira. Siip mas DananG!

    • danangsuryono2112 Says:

      terima kasih mas Budi. Alhamdulillah mas, wah berarti banyak yang punya kenangan sama lagu lagu Stones masa lalu, saat ini saya masih nyari kaset Rolling Stones rilisan Billboard, sungguh enak-enak isi kaset itu, No Use In Crying, The Spider and the Fly, Till The Next Goodbye, Love In Vain, You Got The Silver dan lain-lain….

  9. diansyah Says:

    Stones seperti pelajaran membaca ‘ini budi’ bagi penggemar musik rock. Belum rock kalau gak tahu stones walaupun cuma tahu 1 ataw 2 lagu. Di kota saya, garut th 80an, setiap panggung 17 agustusan lagu2 stones wajib ada dinyanyikan band lokal, nyaingin mars ibu2 nyanyi lagu perjuangan. Dan selalu ada pemuda mabuk di bawah panggung sambil teriak ‘a stun a !’. Pemain band nyapun rata2 ‘drinkin’ juga. Terima kasih mas DananG telah mewakili kami merasakan ‘a stun a’ langsung originally …

    • danangsuryono2112 Says:

      hehehehe, perumpamaan yang pas sekali “ini budi” nya musik rock mas Diansyah. oh ya, Mungkin saking identiknya Stones masa lalu dengan Alcohol & Drugs sampai sampai istilah untuk fly disebut stun ya. Kalo gak salah dulu pernah beredar kompilasi stones yang lagu lagunya mengarah-arah seperti “The Spider and the Fly”, “Sister Mporphine” ….terima kasih kembali

  10. andria Says:

    saya dulu termasuk tak suka dengan Rolling Stones terutama karena masalah gaya hidup mereka. sebagai anak baik-baik😀 saya memilih Queen aja. kl the Beatles sdh terlalu banyak yang suka & lagu2nya tak saya anggap membuat ‘greng’ Belakangan saya mulai mendengarkan RS setelah pinjam kaset RS – Flower punya kakak kelas SMA saya. ternyata lagu-lagu lamanya yg jarang diketahui orang awam sangat menarik & melodik, beda dgn lagu2 RS yang memasuki dunia modern tahun 90-an: Dead Flower, As Tears go by, She was the Rainbow, atau Paint it Black.

    • danangsuryono2112 Says:

      mas Andria kata orang kalo udah suka Beatles, biasanya susah untuk suka Stones dan sebaliknya…, kebenarannya?…gak tahu juga..:)
      Tahun 60-70 an kesannya Stones memang badung dan rebel, dengan pola hidup drugs & alcohol rasanya mereka semua akan mati muda (apalagi setelah Brian Jones meninggal), namun ternyata waktu membuktikan mereka masih sehat secara fisik s/d saat ini diusia diatas 70 tahun. Salah satu rahasia yang muncul di DVD four flicks adalah mereka rajin renang, jogging dan ballet..

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas DananG dan mas Andria …

        Saya juga bukan penggemar Stones namun tetap ada kenangan dengan beberapa lagunya. Tanpa bicara musiknya, saya punya kenangan dengan album Flower dan Black and Blue. Kedua kaset tersebut adalah milik mas Henky. Saya ingat sekali dulu jaman album Flower mas Henky selalu nyetel She’s A Rainbow … Wah nuansamatik sekali itu lagu …

        Kalau album Black n Blue saya terkesan dengan Memory Motel yang merupakan kesenangan mas Henky. Namun ada satu lagu nunjek di album B & Blue ini yakni Fool To Cry terutama di bagian akhirnya saya suka banget …string arrangement nya itu loh!

        Saya tak mengikuti Stones dan saya anggap Stones dengan The Beatles hampir mirip. Hanya saja Stones fokus ke rock n roll sedangkan The Beatles lebih ekzploratif …

        Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: