Eric Clapton “Live in Singapore”

Temen2 …berikut ini adalah ulasan dari mas Pur yang beruntung bisa nonton langsung pertunjukan classic rock ini di Singapore. Tulisan ini dimuat di majalah Tempo edisi minggu ini. Selain tulisan ini, mas DananG juga menulis di majalah Tempo edisi yang sama namun tajuknya adalah Rolling Stones Live in Macau. Monggo disimak – Red.

—-

Purwanto Setiadi

E.C. di Ambang 70
Tak ada lagi Brownie, juga Blackie. Hampir 30 tahun setelah kedua gitar Fender Stratocaster yang membantunya melahirkan hit demi hit itu dia pensiunkan, Eric Clapton toh masih bertahan menjalani kariernya. Barangkali ada di antara penggemarnya yang sudah meninggalkannya, karena tak mendapati lagi lagu-lagu seperti Sunshine of Your Love, Crossroads, I Shot the Sheriff, atau Before You Accuse Me. Tapi di usia 69 tahun dia sebenarnya justru kian matang–jernih, tenang, sekaligus tajam. Tak selalu serta-merta menyodorkan blues, hanya saja dia tahu persis di sanalah musiknya selalu bersandar.
Di panggung National Indoor Stadium, Singapura, pada Selasa dua pekan lalu, misalnya, perhatikan bagaimana dia menyajikan Layla dalam aransemen akustik. Duduk di kursi, di bawah sorotan cahaya lampu panggung, dalam tatapan sekitar 5.000 penonton yang memenuhi gedung, dengan santai dia bermain-main dulu dengan potongan-potongan melodi bluesy yang menjadi ciri khasnya sebagai gitaris, sebelum akhirnya membunyikan not-not yang menyusun intro atau melodi pembuka. Gitar Martin-nya terdengar super-renyah.


;

Dalam rekaman versi orisinalnya, dari masa 1970, lagu dengan tempo moderat itu berformat elektrik; ia dikenal berkat melodi pembukanya yang mudah menyangkut di telinga serta duel solo gitar yang menggairahkan antara Clapton dan Duanne Allman. Aransemen versi akustik, yang pertama kali diperkenalkan melalui acara Unplugged di MTV pada 1992, mengendurkan tempo lagu dan sedikit memodifikasi melodi pembukanya, menjadikannya elegan. Kedua versi, boleh dibilang, mewakili suasana, perspektif, dan aura berbeda. Tapi efeknya tetap sama, yang, dalam kata-kata Dave Marsh, penulis The Rolling Stone Illustrated History of Rock and Roll, “bagaikan menyaksikan satu pembunuhan atau bunuh diri”.
Memuat larik “Layla, you got me on my knees/ Layla, I’m begging darlin’ please/ Layla, darling won’t you ease my worried mind” pada bagian chorus-nya, Layla sebenarnya adalah balada. Sebuah ratapan cinta tak berbalas, persisnya. Muatan blues dan rock-nya datang belakangan, ketika Duanne Allman, gitaris kelompok southern rock The Allman Brothers Band yang diundang ikut dalam sesi di studio, menyumbangkan lima bar melodi pembuka yang kemudian digunakan dalam rekaman.
Set akustik lima lagu pada penampilan Clapton malam itu, bagian dari rangkaian tur dunia sepanjang 2014, boleh dibilang momen paling mengesankan. Bisa saja bagian ini dianggap semacam jeda–mungkin penting buat satu-dua musikus pendukung yang perlu menarik napas dulu–setelah membombardemenkan enam lagu berturut-turut tanpa henti. Tapi, sebenarnya, ia juga berperan menjadikan pertunjukan sekitar 1,5 jam itu lebih variatif. Sekurang-kurangnya secara ritme tak jadi timbul kesan “mengejar argo”.

Perihal yang disebut terakhir itu harap dimaklumi, karena berkaitan dengan kebiasaan Clapton di panggung. Kebiasaan itu bisa mengingatkan kita pada Julius Caesar, diktator Romawi yang masyhur itu: ia selalu datang, main, lalu pamit. Nyaris tak ada kata-kata “halo”, “selamat malam”, atau basa-basi lainnya.
IMG-20140318-WA0001
IMG-20140318-WA0002
Menjelang peluncuran album Old Sock dan tur tahun lalu, dalam wawancara dengan majalah Rolling Stone, Clapton mengisyaratkan hari-hari keliling dunianya sudah mesti berakhir. “Pada saat usia saya 70 tahun, saya akan berhenti,” katanya. Lahir pada 30 Maret 1945 di Ripley, Surrey, Inggris, dengan nama Eric Patrick Clapton, jarak yang mesti dia tempuh menuju usia yang dia sebut itu praktis tinggal setahun lagi.
Dia rupanya tak bicara sambil lalu perihal niat untuk pensiun itu. Tur kali ini, yang dimulai di Nippon Budokan, Tokyo, pada 18 Februari lalu, sudah dia bayangkan sebagai sesuatu yang tak bakal terulang. Dalam catatan programnya untuk lima pertunjukan di Jepang, dia mengatakan: “Saya mungkin tak bisa kembali lagi. Saya sudah ke sini selama 40 tahun, sejak sebelum beberapa orang dari kalian lahir. Ini tempat terbaik yang saya pernah tampil.”
Memulai kariernya sebagai pemusik profesional pada 1962, Clapton bukan saja telah menembus aneka masa dan melalui bermacam badai. Hanya kurang dari lima tahun, dari seorang yang bukan siapa-siapa, dia berturut-turut ikut mengangkat dua band, The Yardbirds dan John Mayall & The Bluesbreakers, ke tataran popularitas yang lebih tinggi. Bergabung dengan The Yardbirds pada Oktober 1963 dan ikut melahirkan For Your Love sebagai hit, dia pindah ke gerbong John Mayall & The Bluesbreakers pada April 1965 karena ingin tetap setia pada blues.
Dalam Clapton: The Autobiography yang terbit tujuh tahun lalu, Clapton menceritakan kesannya ketika pertama kali mendengarkan blues–musik yang dia anggap cocok menyuarakan hidupnya sebagai anak yang diabaikan orang tuanya. Dia menulis: “Saya seketika mengenalinya. Kesannya seperti saya sedang diperkenalkan lagi dengan sesuatu yang saya sudah tahu, mungkin dari kehidupan lain yang lebih awal.”
Belajar gitar sendiri sejak usia 13 tahun, dia “mencuri” trik-trik dari para pioner electric blues atau aliran Chicago seperti Freddie King, B.B. King, Albert King, Buddy Guy, dan Hubert Sumlin. Perlahan-lahan dia menemukan formula dan gayanya sendiri. Di masa bersama John Mayall & The Bluesbreakers itulah, berkat permainan gitar yang melompati zamannya, dengan efek suara yang tiada duanya kala itu, seseorang menyemprotkan grafiti “Clapton is God” di dinding stasiun bawah tanah Islington, London, pada 1967. Dalam sebuah foto yang kini terkenal seekor anjing tampak sedang kencing di dinding itu.
Dari semua musikus blues yang dia kenal dari pergaulan dengan sejumlah orang dan blusukannya ke toko-toko penjual plat atau piringan hitam, yang dia anggap sebagai master tak lain adalah Robert Johnson. Sejak mendengarkan King of the Delta Blues Singers dari Johnson, yang direkam di dua tempat di San Antonio, Texas, pada 1936 dan 1937, dia menggariskan jalan hidupnya dalam berkarya: mengikuti teladan bluesman misterius yang meninggal di usia 27 tahun, konon karena diracun itu.
Jalan Clapton tak pernah lurus dan mulus, meski kariernya sukses. Sejak meninggalkan John Mayall & The Bluesbreakers pada Juli 1966, dia berganti-ganti band, dari Cream ke Blind Faith ke Derek and the Dominos, lalu bersolo karier, menghasilkan sejumlah album dan lagu yang menduduki daftar rekaman terlaris. Tapi kehidupan pribadinya makin berantakan. Dia sempat merasa jadi seperti Qays dalam kisah Layla dan Majnun, karena putus asa cintanya kepada Pattie Boyd tak berbalas–inilah yang melahirkan Layla, melalui Derek and the Dominos. Yang paling parah: kecanduannya terhadap alkohol, setelah sebelumnya narkoba, bertambah menjadi-jadi, bahkan setelah kemudian menikahi istri George Harrison itu.
Pada 1982 dia memutuskan masuk ke Hazelden Treatment Center di Center City, Minnesotta, untuk menjalani perawatan. Selepas rehabilitasi di fasilitas yang dia gambarkan “tampak suram dan mirip [pangkalan militer Amerika] Fort Knox” itu, dokter melarangnya menyibukkan diri dengan kegiatan apa pun yang bisa memicu lagi keadaan depresi dan kecanduannya. Dia mengabaikan larangan itu dan pada 1983 merilis Money and Cigarettes. Bukan album istimewa, tapi setidaknya dia membuktikan bisa bertahan.
Perlahan-lahan kariernya kembali tegak. Album demi album dia lahirkan. Ada yang bagus seperti Journeyman, Unplugged, dan From the Cradle, ada yang sekadar berlalu saja. Pada 1992 dia memenangi enam Grammy Award untuk Tears in Heaven–lagu yang dia persembahkan bagi Conor, anak lelakinya yang meninggal di usia empat tahun karena jatuh dari lantai 53 sebuah apartemen di New York–dan album Unplugged.
Pada 2000, dia berkesempatan merekam album bersama dengan salah seorang pahlawannya, B.B. King. Berjudul Riding with the King, inilah kolaborasi yang tergolong monumental. Empat tahun kemudian dia membubuhkan ke dalam diskografinya sebuah album yang sepenuhnya didedikasikan bagi Robert Johnson. Di album ini dia merekam tafsirnya atas lagu-lagu Johnson yang selama ini belum pernah dia bawakan, di panggung maupun dalam rekaman.
Melampaui setengah abad berkarier, sementara musikus seangkatannya meredup, atau hanya sesekali meluncurkan karya baru, Clapton malah terlihat belum kekeringan gagasan. Yang justru dia rasakan berkurang adalah kemapuan fisik untuk bisa menjumpai penggemarnya di mana pun. “Perjuangan ada di perjalanannya,” katanya.
Dengan kemungkinan tur kali ini jadi yang terakhir, bisa dipahami jika penjualan tiketnya, di beberapa tempat yang sudah masuk jadwal, cepat berakhir. Di Singapura, sebulan sebelum pertunjukan berlangsung, tiket berharga antara S$ 108 dan S$ 298 tersedia hanya tinggal di satu penjual. Itu pun sudah sisa-sisa kursi di kelas-kelas tertentu.
***
Mengenakan kemeja biru laut, celana jins, dan rompi hitam, malam itu Clapton muncul di panggung sekitar pukul 20.15. Penonton, yang sebagian besar datang berbusana rapi, mungkin sempat pulang dan berdandan dulu selepas jam kantor, riuh bertepuk tangan. Didukung Chris Stainton (piano), Paul Carrack (organ Hammond), Nathan East (bas), Steve Gadd (drum), dan Michelle John serta Sharon White (penyanyi latar), Clapton langsung menggemakan intro Pretending.
Sesudah itu, hanya dengan menyerukan “terima kasih” atau “terima kasih banyak” setiap kali lagu berakhir, berturut-turut Clapton mempersembahkan dua nomor dari masa Derek and the Dominos: Key to the Highway dan Tell the Truth. Mengingat katalog lagu yang sekurang-kurangnya berjumlah ratusan, “salvo” pembuka konsernya yang keempat kali di Singapura ini terhitung melegakan. Perpaduan antara irama blues dan lagu-lagu yang energik itu seketika menghangatkan suasana–walau, sayangnya, penonton terlalu anteng.
Sebenarnya, untuk konser Clapton, lagu apa saja yang dimainkan, dan bagaimana urutannya, tak sepenting apa yang penonton benar-benar ingin saksikan ini: bagaimana dia mengisi dan menaklukkan bagian-bagian solo gitar pada lagu-lagunya.
Dalam hal itu, Clapton memang bisa diandalkan. Dan dia memenuhi ekspektasi. Sepanjang penampilannya, dia mengkompensasi bicaranya yang irit cenderung pelit dengan berkomunikasi intens nyaris tanpa putus melalui gitarnya. Dengan jemarinya yang masih tangkas, dia menjelajah papan nada, menekan dan memelintir dawai dengan penuh artikulasi untuk menghasilkan susunan not yang bisa berupa rayuan, erangan, lolongan. Sesekali dia memberikan waktu bersolo bagi Paul Carrack dengan Hammond-nya atau Chris Stainton dengan pianonya.
Momen terbaik dari semua itu ada pada bagian interlude di lagu keenam, I Shot the Sheriff, yang aslinya dinyanyikan bintang reggae Bob Marley, dan lagu keempat belas, Little Queen of Spades, lagi-lagi milik Robert Johnson. Suara solo gitar di bagian-bagian ini terdengar seperti mengepung gedung. Dalam keremangan, di satu sudut bangku penonton, seorang pria berambut putih secara sembunyi-sembunyi pura-pura bermain menirukan Clapton.
IMG-20140318-WA0003

IMG-20140318-WA0000
IMG-20140318-WA0004
Tepuk tangan penonton bergemuruh ketika intro Crossroads diperdengarkan, setelah sejam berlalu. Lagu dari zaman Clapton “magang” di John Mayall & The Bluesbreakers ini bukan penutup konser. Tapi, di samping suasana yang timbul jadi bagaikan akhir dari repertoar, ia seperti menegaskan posisi Clapton saat ini: berada di persimpangan yang membuatnya harus memilih.
I went down to the crossroads,
Fell down on my knees.
Purwanto Setiadi (Singapura)

6 Responses to “Eric Clapton “Live in Singapore””

  1. Rizki Says:

    Mas Pur, salam kenal. Wah past seru banget konsernya – selain Eric yg mmg melegenda, musisi2 yg mendukungnya juga asik -paul c, steve g dan nathan e. Terima kasih atas ulasannya.

    • kunangkunangku Says:

      salam kenal, mas. konsernya oke. dan benar, musisi pendukungnya asyik-asyik. sayang penontonnya terlalu anteng. terima kasih sudah membaca.

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas Pur,

        Penonton singapore memang gak seru …. yang seru selalu penonton Indonesia …. Dulu nonton Yes dan DT yang ribut justru orang Indonesia ….ha ha ha ….

  2. kukuh tawanggono Says:

    Mas Pur dua ribu jempol untuk njenengan.
    Riding With The King adalah sebuah album yg membuat saya merasa terberkati karena memilikinya.Begitu lembut perpaduan dua maestro tanpa harus saling berebut pengakuan,karena waktu telah wujudkan kerjanya.
    Setiap mendengar clapton bermain,saya merasakan sebuah pencarian anak manusia.Pencarian akan metamorfosis arti seni yg sesungguhnya dari satu karya menuju karya yg lain.Terkadang terjal dan berdarah-darah tetapi Clapton mampu melewatinya dengan mulus.
    Petikannya begitu membangun soul pada setiap nomor yg dia mainkan.
    Mas Pur terima kasih,tulisan njenengan begitu menghibur saya.

    • kunangkunangku Says:

      riding with the king memang album wajib buat penggemar clapton, juga blues. kalau suka j.j. cale, boleh juga ditambah album the road to escondido. ini kolaborasi clapton dengan cale, musisi pelopor tulsa sound yang lagu-lagunya di-cover band/musisi lain, termasuk clapton (after midnight, cocaine). terima kasih sudah baca tulisan saya, mas.

      • Gatot Widayanto Says:

        Keren memang Riding with The King ….apalagi sound production nya bagus banget dan CD nya rilisan lokal ….cukup 60 ribu aja …ha ha ha ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: