Rolling Stone Indonesia Bagi Saya

Budi Putra

 

Sudah beberapa bulan belakangan ini secara rutin saya membeli majalah Rolling Stone Indonesia (RSI) yang terbit pada tiap awal bulan. Kalo dulu biasanya saya hanya membeli RSI bila ada ulasan tentang musik/band yang saya sukai saja. Kini dengan membeli secara rutin maka saya banyak mendapatkan informasi dan perkembangan musik terkini dari berbagai macam jenis dan aliran (genre). Untuk itu saya akan coba mengulas isi dari majalah RSI dari edisi-edisi yang saya miliki secara singkat dan acak saja.

IMG-20140307-00001

IMG-20140307-00003
Pada edisi 107 Maret 2014, RSI memasang ecover penyanyi pop Lorde yang sudah tentu penyanyi pop yang sangat asing bagi saya. Selain Lorde, sub judul lainnya tentang Lemmy Motorhead, Warpaint, Pearl Jam, dan Tiga Pagi. Ada juga artikel dari Anis Baswedan: Tentang Kaum Muda, Imajinasi dan Perubahan. Serta sisipan tentang Paus Fransiskus, dan sub judul lainnya. Dari cover dan tema yang ditawarkan pada edisi kali ini menurut saya biasa-biasa saja tidak ada sesuatu yang membuat saya penasaran untuk mengetahuinya lebih mendalam. Bagi saya hal yang biasa tentang Lemmy yang sudah uzur namun masih memiliki semangat bermusik yang kuat, lantas Pearl Jam tak lain band alternatif kugiran yang sudah tidak sefenomenal awal kemunculan badai grunge ala Sealtle. Album terbarunya pun terbilang biasa-biasa saja namun seperti tenggelam ditengah kehadiran band-band cadas seperti Beetween The Burried And Me, atau bila ingin beralternatif sound bisa dengerin Matisyahu yang
lebih fresh dan juga mumpuni di jalur alternatif. Dus artikel Anis Baswedan yang  tidak menarik lagi bagi saya setelah ia nyemplung kedalam lumpur partai bernama Demokrat. Jadi saya (maaf) menyangsikan ketulusan intelektualitas dan akademisnya saat ini. Sorry, ini pilihan untuk bersikap dan menilai kapasitas dalam kontek tahun politik. Bukankah saat ini tahunnya tipu daya dengan berbagai cara dan modus untuk berkuasa kedepannya? Dan ulasan tentang Paus Fransiskus yang sama sekali enggak terkait dengan perjalanan rock dan geliat historis bangsa ini. Kenapa enggak mengulas saja sosok Haji Misbach yang revolusioner dengan ajaran agamanya menentang setiap bentuk penjajahan dan penindasan, atau Tan Malaka, atau Rohaniawan (Alm) Romo Mangun, juga Gus Dur yang fenomenal dalam konteks ke-Indonesia-an. Why Paus Fransiskus? Saya belum menyaksikan pengaruh Paus dalam menghentikan atau minimal mengurangi keserakahan kaum kapitalis dan penguasa digjaya model eropa
atau amerika
yang terus meluluhlantakan semesta lewat perang-perang yang mereka ciptakan. Maaf saya bukannya anti agama tertentu loh. Ini hanya penilaian saya dalam sudut pandang yang lebih ngerock terhadap esensi sajian untuk majalah musik dan hiburan sejenis RSI. Untung saja ada liputan klasik tentang Phil Everly tentang kebersamaannya bareng Everly Brothers. Serta yang menarik pada halaman 70, The Liberation of Steve McQueen sutradara film 12 Years a Slave yang mendapat nominasi oscas dus ada reviews film tersebut di kolom Movies halaman 111. Menurut saya ini film yang menarik untuk ditonton ditengah-tengah gempuran film-film Hollywood bergenre triller yang menjemukan. Di sektor indies band lokal asal Bekasi The Experience Brothers yang mengingatkan saya akan Jimi Hendrix, patut juga untuk disimak. Sisanya tentang informasi The Rolling Stones yang akan konser di Singapura pada 15 Maret 2014. Lantas reviews music dengan deretan band-band yang serasa masih asing
bagi saya baik nama dan ragam musiknya sehingga saya enggan mengulasnya disini. Menurut saya format penyajian RSI edisi kali ini kurang menarik minat saya karena sajiannya masih seputar yang itu-itu saja alias ngepop abis dan enggak ngerock!

Dari sekian edisi RSI yang sudah saya peroleh pada edisi 63, Juli 2010, adalah edisi spesial yang wajib dimiliki para metalhead dan tentunya saya tidak melewatkan edisi spesial ini. RSI secara full menyajikan band-band metal era 80an hingga terkini mulai dari, Slayer, Alice In Chains, Testament, Dream Theater, Cannibal Corpse, Judas Priest, Trivium, hingga Lamb Of God. Selain itu juga terdapat rilisan 20 Heavy Metal Albums pada era 2009-2010 yang mumpuni untuk disimak. Ada sejumlah band bagus dirilisan edisi ini seperti Baroness, Mastodon, Obscura, dan Year of No Light, menurut saya patut pula untuk disimak. Tentu dengan sajian seperti ini RSI sangat klop dan relevan dengan minat saya dan para penggemar rock/metal. Untuk edisi ini saya benar-benar digulung selera musik saya dan pas dengan lantunan Dylan…Like a Rolling Stone…top markotop untuk RSI edisi tersebut.

Lompat ke edisi 79 Juli 2013, yang menampilkan cover wajah Steve Jobs yang fenomenal berkat teknologi Apple dan sisi lain kehidupan Steve, cukup menarik untuk diikuti. Dari semua sajian yang terpenting adalah sajian perjalanan bermusik dari para personil serta album-album Pink Floyd dalam Journey To The Dark Side. Untuk edisi 79 ini adalah sajian RSI yang paling saya sukai. Bukan hanya karena saya menggemari Pink Floyd tapi keberanian untuk menampilkan band gaek ini dalam konteks album Dark Side Of The Moon bagi saya adalah sesuatu yang baru dan menggairahkan ditengah hantaman band-band indies, rock, metal dan pop yang menyilaukan mata. Saya menilainya ada nuansa tersendiri dalam ulasan tentang Pink Floyd pada edisi kali ini. Saya setuju bila dikatakan bahwa ada nilai historical education dari sebuah band lawas seperti Pink Floyd yang patut untuk dimunculkan. Alasannya, pertama agar ada perimbangan kualitas antara band generasi era psikedelik/prog
dengan genre terkini bisa menjadi penilaian tersendiri dari pembaca RSI. Kedua, dan terbukti hingga kini belum ada satupun band era terkini yang mampu bersanding dengan keindahan Dark Side atau kemegahan fenomenal konser The Wall baik dari sudut pandang para penikmat dan pengamat musik rock kontemporer. Ketiga, musik dan lirik Pink Floyd kaya akan makna dan sarat dengan kritik sosial yang relevan dengan permasalahan kehidupan masyarakat moderen sehari-hari. Tentu saja kita masih menunggu gebrakan fenomenal dari band-band baik yang lahir dari era rock klasik yang muncul kemudian atau dari generasi terbaru melalui sajian RSI pada edisi lainnya.

Walaupun secara keseluruhan RSI belum mewakili hasrat dan selera  musik saya secara pribadi, namun kehadirannya minimal bisa menjadi oase ditengah langkanya majalah-majalah lokal yang mengusung musik sebagai tren setter. Tentu saja era Aktuil yang secara masif mengulas band-band rock papan atas dengan sajian bermutu yang membuat pembacanya menjadi terkagum-kagum. Padahal di era yang masih minim teknologi informasi pada saat itu Aktuil nyatanya mampu menghadirkan jurnalime hiburan (musik) yang berkelas. Bahkan hingga saat ini masih dibincangkan oleh para pecinta musik rock tanah air. Sisi musikalitas dalam sajian Aktuil yang lebih menonjol ketimbang mengusung tren semata membuat majalah itu mendapatkan tempat spesial di hati para penikmat musik rock.

Secara historis, majalah Rolling Stone yang awalnya lahir ditengah-tengah era rock klasik 70 an, setidaknya bisa menyajikan ulasan musik yang dapat merangkul semua generasi pecinta rock di tanah air. Materi ulasan untuk itu sangat banyak sekali bukan hanya sisipan Pink Floyd yang fenomenal tapi sejumlah band prog/neo era dulu dan sekarang lebih mumpuni dan mendidik baik dari segi musikalitas, lirik, dan desain seni tingkat tinggi pada cover-cover albumnya. Maksud saya hal ini lebih bermutu ketimbang menyajikan rubrik yang tak sedap dipandang dan merusak retina mata seperti pada sajian Crossover RSI edisi 105, Januari 2014.

Pada sajian tersebut RSI mengangkat dua sosok “rocker” dalam negeri, Andy /Rif dan Aryo Wahab, yang menurut saya lebih banyak mudarot ketimbang manfaatnya bagi pembaca. Apa pasal, karena  pada sajian ini yang melulu yang dipertotonkan oleh kedua “rocker” ini hanya sebatas kegilaan Andy /Rif dan Ariyo Wahab akan miras yang bernama Jack Daniels dalam kehidupan bermusiknya. Di sini saya tidak menemukan hal yang nenarik tentang eksplorasi musik seperti apa yang mereka mainkan kaitannya dengan perjalanan dan perkembangan musik terkini dari sisi yang lebih berkualitas dan mendidik dan enggak sekedar asal rock & roll. Membaca ulasan itu perut saya terasa mual karena terlalu banyak alkohol yang disajikan. Lagi-lagi untung saja ketolong dengan Ringo’s Life in Pictures, yang memuat foto-foto personil The Beatles hasil jepretan kamera Ringo Starr beserta narasinya menggugah selera. Lepas dari itu, bagi saya RSI masih menjadi pilihan untuk mengetahui informasi dan
perkembangan musik era terkini.

Sajian RSI Edisi 107, Maret 2014:

Features

28. The New Girl
46. RAN, Rebirt
52. Lemmy
80. Crossover: Bin Harlan dan Jimi Multhazam
96. Paus Franssiskus: They Time They Are A-Changin’

Rock & Roll

14. Aimee Saras Membawa Swing Ke Indonesia

Editor’s Note
Gugur Gunung untuk Indonesia

Charts
Rolling Stone Indonesia Top 10 Albums
22 Kita Hard Rock FM
From the Vault
Top 10 Singles
20+20 Trax FM

21 Responses to “Rolling Stone Indonesia Bagi Saya”

  1. Budi Putra Says:

    Mas Gatot,

    Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk memposting ulasan ini yg luar biasa super duper cepat..ekspress, press, press…utk rekan2 blog gemblung semoga berkenan dg ulasan alakadarnya ini. Tks

    Salam,
    Budi Puta

    • Gatot Widayanto Says:

      Sama-sama mas Budi .. Terima kasih telah membuat ulasan terkait majalah; sebagai variasi ya mas …
      Top ulsanannya mas!

      Makanya harus cepat tayang …

  2. andria Says:

    mungkin yg membuat Rolling Stone (baik dalam maupun luar negeri) tidak menarik bagi saya adalah muatan luar musik yg tidak membuat kita jadi lebih intelektual. saya lebih suka majalah yg total musik macam CuitarWorld, Revolver, MetalHammer, Classic Rock dan semacamnya.

  3. kukuh tawanggono Says:

    Mas budi kalo njenengan membaca majalah rolling stone edisi oktober 2013.didalamnya ada liputan tentang konser metallica di jakarta .mas disitu ada foto ribuan kepala metalhead yg sedang dihajar musik yg tak kenal kompromi.diantara foto ribuan kepala itu salah satunya milik kukuh si bocah gemblung dari boemi ngalam ha ha ha ha ha ha ha.
    Mas budi seribu jempol atas tulisannya,benar-benar menggugah kenangan di hati saya.
    Biar setiba di malang ,di hajar sama ibu dengan senjata favoritnya(tongkat buat ngepel lantai) karena ketahuan pergi kesana bukan untuk urusan kantor ndak masalah yg penting “Metallica Jaya” ha ha ha ha ha ha ha

    • Gatot Widayanto Says:

      Lho mas Kukuh … Mosok wis gerang kok jik digepuki to mas? Yen aku mbiyen dicethoti mas … ha ha ha …

      • kukuh tawanggono Says:

        Panggah mas gatot(maklumlah resiko menjadi rock star ha ha ha ha ha).ibu pernah bilang mas diantara lima bersaudara saya ini yg paling ngentekno cangkem atau kalo menurut bahasanya beliau anak paling edan ha ha ha ha ha ha

  4. yuddi_01 Says:

    mas Budi, tokoh Haji Misbach disebut juga. Orang banyak mengenal kiprah tokoh ini dari tulisan alm Pramudya Ananta Toer.

  5. Budi Putra Says:

    Iya mas Yuddi, lbh mumpuni Haji Misbach di ulas di RS…lbh klop dg semangat pemberontakan dlm rock itu sendiri. Tp bagi yang muda2 mungkin tokoh ini tdk byk dikenal krn cap yg melekat padanya. Sy jg penikmat karya2 Pram semenjak kuliah…mas Yuddi mesti tau karya Bumi Manusia?

  6. Budi Putra Says:

    Mas Kukuh keren bisa nonton Metallica walau pulang kena gebuk ibu…hahaha. Kalo bisa di ceritain konsernya Metallica di blog ini keren juga tuh mas…

  7. Budi Putra Says:

    Siip deh mas Kukuh ditunggu ceritanya…pasti seru ya!

  8. Wahyu Says:

    Aktuil menurut saya lebih mengena di hati karena banyak menyajikan Group band pribumi dan band luar negeri yang berimbang terutama ulasan konser2 mereka..Aktuil bukan majalah gosip..tulisan wartawan Aktuil enak dibaca sampai sekarang..

  9. Budi Putra Says:

    Setuju mas Wahyu Aktuil memang luar biasa. Sy yg pernah megang dan membacanya sekali pd sy msh sekolah dasar kelas 5/6 begitu terpesona dg isinya. Sampe skrg sy msh ingat foto konser Iron Butterfly, Bigfoot, dan Uriah Heep, yg keren bgt. Bahkan stlh baca Aktuil sy jd rajin bikin tulisan di dinding siapapun “Uriah Heep” …kalo RSI memang tdk greget ulasannya dan terlalu ngepop jadinya. Kadang stlh buka2 rubriknya malah jd gak mood krn tampilannya spt mjlh2 lainnya. Utk saat msh sy perlukan sekedar mengetahui informasi dan perkembangan musikyg dikemas versi mjlh lokal walau lisensi luar.

  10. andria Says:

    kl di lagu the Final Cut kata Pink Floyd gini “would you sell your story to rolling stone”

  11. apec Says:

    salah satu tanda orang besar dan berjiwa besar ya seperti mas kukuh ini, andhap asor ning ora nganti ndelosor…pasti beliau ini sudah mendalami ilmu sangkan paraning dumadi…..

  12. Budi Putra Says:

    Mas Kukuh pancen oye!

  13. Budi Putra Says:

    Sekedar info: bagi yg belum sempat nonton Konser 40 Tahun Eros Djarot Berkarya bisa disaksikan siaran ulangnya bsk di metro tv pukul 22.30 wib. Badai pasti Berlalu…

  14. Budi Putra Says:

    Dan bagi yg suka band trash metal Testament, esok ikut meramaikan Kukar Rockin Festival, Tenggarong.

    Salam metal!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: