Blok M Square Bagi Saya

Gatot Widayanto

Hari Rabu sore saya bertemu dengan mas Seno dan mas Ananda dari majalah Tempo dan juga dengan mas DananG dari blog gemblung. Awalnya pertemuan ini dipicu dengan permintaan mas Ananda untuk menggali sejarah kaset Yess yang rencananya akan dimuat di majalah Tempo nantinya. Namun bukan itu yang akan saya bahas di sini namun justru tentang Blok M Square nya sendiri. memang kami berempat sempat membahas cukup intens mengenai keberadaan Blok M Square ini terustama setelah dipicu oleh aktivitas mas DananG mengirimkan CD untuk mas GT yang ternyata di basement pula ada agen JNE yang sempat juga kita bahas. Mari kita sedikit berselancar dengan Blok M Square ini.

Pertama, sebenernya dari segi lokasi, ini adalah bangunan di jaman 70an hingga 80an saya kenal dengan nama Aldiron. Saat itu saya memang rajin mengunjungi Aldiron karena dua alasan: mencari kaset (bajakan) karena di sinilah banyak toko kaset maupun di toko di seberang Aldiron atau sekedar mampir setelah cari buku atau beli stasionery di TB Gramedia. Seperti sering saya bahas melalui komen-komen di tret sebelumnya saya termasuk rajin cari kaset di daerah ini. Pada jaman itu saya menikmati liburan kuliah dengan seharian ngendon di dua atau tiga toko di seputar Aldiron ini. Banyak kaset yang saya coba, bahkan puluhan, karena sekalian pengen tahu band-band yang belum pernah saya tahu namanya dan kemudian hanya membeli satu kaset saja dari satu toko. Kemudian pindah ke toko lain, cobain kaset-kaset lainnya lagi dan beli cukup satu. Ada kalanya tak membeli kaset, wong gak ada larangannya.

Kedua, tentunya tempat ini menjadi bersejarah lagi ketika saya suatu ketika mendapatkan kabar dari Jl. Surabaya bahwa Udin membuka lapak di sini pada sekitar dua atau tiga tahun lalu. Namanyapun sekarang menjadi Blok M Square,  bukan lagi Aldiron seperti jaman dulu. Memang saat itu saya sedang ikut pengajian di masjid yang terletak di lantai 7 di setiap hari Rabu dan Jumat bada Maghrib. Di saat itulah saya mencoba mampir ke lapak Udin. Saat itu memang belum banyak lapak seperti Udin. Namun yang saya kaget adalah sederetan buku-buku yang ternyata adalah pedagang dari Kwitang yang pindah ke situ. Sungguh kesan pertama saya mengunjungi Bsement dari Blok M Square ini langsung ada kecocokan bathin yang luar biasa. Bagaimana tidak? Sejak tahum 1990 saya memang penggila buku dan kegilaan saya terhadap buku bisa dikatakan cukup parah karena hampir tiap hari saya ke toko buku dan sekurangnya dalam sebulan ada 5 bahkan sampe 10 buku saya beli. Gak sok-sokan sih …saat itu yang saya beli memang buku2 berbahasa Inggris semua karena sekaligus memaksa diri belajar bahasa Inggris. Nah …begitu saya melihat Basement dipenuhi buku-buku ….hati saya langsung njumbul bersorak riang gembira. Apalagi …ada juga pedagang kaset , CD dan PH. Maka KLOP lah tempat ini menjadi “sesuatu” banget bagi saya.

Ketiga, pusing juga ketika saat itu penghuni blog gemblung ini mendaulat saya untuk menyelenggarakan progring yang memeng sebelumnya sering saya gelar namun tempatnya gonta-ganti (silakan telusuri di SEARCH nya blog ini bahwa kita tak pernah hanya satu tempat saja, gonta-ganti terus). Nah …tiba2 ide gila saya muncul .. Kenapa gak ngadain progring di BlokM Square tepatnya Basement saja??? Memang alasannya egois banget sih …karena saya terasa “SREG” banget dengan tempat ini. Maka saya hunting tempat yang cocok dan pada suatu hari akhirnya saya menemukan Corelli. Itulah kali pertama progring diadakan kembali, di Corelli dan berulang beberapa kali dan hanya sekali pindah ke TMII atas budi baik mas Herman dan mas Ugik. Namun …sepertinya Corelli ini sudah semacam tempat “default” pertemuan penghuni blog gemblunk ini.  Kafenya sebenernya gak prog banget sih …namun kita2 yang ngeprog inilah yang semakin hari semakin cocok dengan kafe ini. dan ternyata mas Seno dari Tempo pun sering ngopi di sini setelah cari buku di Basement.

Keempat, saya terkesima juga dengan ucapan mas DananG saat diskusi berempat hari rabu sore dimana Jakarta diguyur hujan lebat dan di Basement tak terasa apa-apa. Saat diskusi hangat dimana mas Seno mengatakan bahwa Jokowi harus tahu tempat ini sebagai salah satu oase di Jakarta dimana di sini juga lahir gerakan, misalnya anti download dan mengundang artis2 ibukota terutama aliran indie. Mas DananG nyelethuk “Iya juga …di sini mau ibadah juga gampang ..” . mendengar ucapan mas DananG ini mak DHEG saya merasa tertohok karena memang inilah menurut saya tempat paling huwenak dan paling balanced dalam mengadakan pertemuan dengan siapapun karena duniawi dan ukhrawi bisa kita dapat pada saat bersamaan. Mushalla di Basement ini di marboti oleh bapak2 yang istiqomah menjaga shalat BMW (berjamaah di masjid pada awal waktu) sehingga praktis kalau ada pertemuan di sini saya aman dari tertinggalnya shalat BMW karena memang selalu ramai jemaahnya, apalagi kalau Maghrib ..wah …membludak! Saya juga pernah “memaksa” klien saya datang ke Corelli untuk membicarakan pekerjaan saya. Padahal proyeknya saat itu belum dapat, tapi toh beliau nurut aja dan ternyata dia suka karena dia suka buku juga. Alhamdulillah. Nyaman dan aman memang berkegiatan di Blok M Square ini karena kegiatan duniawinya lengkap: musik dan buku ….dan kemudian juga “bisnis” karena memang klien saya tersebut memang akhirnya menggunakan saya. Klop lah …semuanya dapat.

Kelima, kuliner nya juga OK punya karena memang banyak sekali pilihan meski di Corelli tak ada. kalau suka soto Padang ada pak Marlin langganan mas DananG. Terus kalau sudah malam jam 8 ada lesehan di seputar lobby nya. Langganan kuliner saya justru soto yang di sebelah toko emas di pintu sekitar RM Padang Sari Ratu (?). namun masih banyak pilihan lain. Kata mas DananG ada Sate padang juga. Pokoknya gak bakalan kelaparan dah. Oh ya … yang juga khas di sini adalah donat kentang yang dijual Rp. 10.000,- dapet tiga donat. Nyamleng suromenggolo tenan!

Keenam, saya juga mendapatkan perlengkapan sepeda saya di Blok M Square. Saya termasuk sulit mendapatkan celana panjang olah raga karena ukuran paha saya yang relatif besar kayak tukang becak gara-gara kebanyakan gowes; sehingga amat sulit mencarai celana olah raga yang pas. Lha kok tiga bulan lalu saya mendapatkan sebuah toko di lantai 1 yang menjual celana panjang olah raga. Wah ..langsung beli 2 buah sekalian karena memang sulit dapet yang pas. Selain itu, pada saat ketemu mas Khalil saya lupa gak bawa lampu senter sepeda, dan saya tinggal ke Lantai 1 karena di situ ada mini market khusus sepeda. Lampu sangat penting bagi saya karena kalau pulang malam gowes tanpa lampu, mendingan sepeda saya lipat dan cari taxi …soale bahaya banget rek! Isok disundhul metromini sisan yen ra nganggo lampu.

Ketujuh, toko musik nya semakin banyak sehingga kita bisa banyak pilihan kalau mau cari kaset rekaman apapun. Selain itu juga ada CD dan PH serta kaos terutama metal (di tempatnya Budi Deep Rock). Pokoknya lapak musik semakin hari semakin semarak dan seronok aja. Kadanga, sekedar liat-liat lapak saja hati ini tenteram sekali. Selain itu lapak-lapak bukunya juga sangat menjanjikan. Saya pernah mendapatkan buku terbitan Free Press (biasanya pengarang dari Harvard menggunakan Free Press) dengan harga sekitar 50 ribu padahal masih kinclong meski terbitan tahun 2000. Saya juga mendapatkan buku tentang sepeda yang masih baru dan keren banget dengan harga damai. Pokoknya dengan Rp. 200 ribu sudah dapat banyak buku berkelas. Dan yang jelas …buku2 yang saya beli tersebut kebanyakan bukan buku hobi tapi terkait profesi saya sebagai konsultan (kongkonane sultan) dan membantu saya dalam meningkatkan kompetensi (halah opo kuwi???!!) …

Maka ,…..nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan?

Everything is there at Blok M Square!

*) Tulisan ini saya akhiri dengan menikmati “El Raton” dari Fania All Star yang saya kenal dari kaset “Jazz Rock II” rekaman Perina, di saat hujan gerimis di dini hari ini …membuat suasana menjadi melankolik nuansamatik kemlitik zonder rematik. Sebenernya tulisan awal dari tret ini saya lakukan saat tadi ngopi di Lotte Mart dan kata HP saya tak terposting karena ada masalah dengan communication line … Namun ternyata terposting, terbukti dengan komen dari Bro Apec.

 

29 Responses to “Blok M Square Bagi Saya”

  1. apec Says:

    Dari Corelli ini,jadinya banyak sejarah terukir…makin lama Om gatot makin dikenal, dan tentu saja saya juga ikut bisa bangga,karena apa???? ya karena jadi teman Om Gatot..jadi misalkan suatu saat om GW nongol lagi di telepisi, minimal saya bisa memberitahu istri dan tetangga, bahwa saya kenal baik dengan orang yg masuk tipi tadi,ha..ha..
    Kabari jika Majalahnya sudah dirilis yo om..

  2. Gatot Widayanto Says:

    Tanggal 20 Des 2012 saya pernah posting terkait survei lokasi progring #7:

    https://gwmusic.wordpress.com/2012/12/20/survei-lokasi-progring-7/

    • eddy irawan Says:

      Betul Mas G, motivasi saya kl dinas ke jkt ialah Blok M square. Jadi kalo nginap ya seputaran melawai lah. Mudah2an makin rame

      • Gatot Widayanto Says:

        Halo mas Eddy … Kalau ke JKT kasih kabar ya. Konon mas Khalil tanggal 5 Maret ke Jakarta lagi. Kalau jadwal mas Eddy sama, kita progring lagi mas … YUK!

      • eddy irawan Says:

        Insya Allah gk bisa tgl segitu Mas G, padahal udah lama banget gk ke Square dan pengen ikut progring dgn Mas khalil.

      • Gatot Widayanto Says:

        Gak pa pa mas … Mas Eddy progring dg mas Khalil di Banda Aceh aja mas.

        Hari ini mas Khalil mestinya sdh di Jakarta. Halo mas Khalil!!!

  3. gt Says:

    Mas GW,layak mendapatkan predikat Tokoh Perubahan.

  4. hardi.dokken Says:

    Perasaan bpk sama dengan saya. Blok m square yg skarang beda banget dg dulu. Pertama x ikut progging 22 feb sy langsung kesengsem, malamnya sy janji sm anak2 n istri mau ngajak ke sana, mereka antusias. Komplitlah lah blok m ada lapak buku, kaset, cd. Kalau mau yg ‘wah’ tinggal jln sedikit ada pasaraya. Pak Gatot, kalaau kaset yess masuk majalah tempo siap2 aja sbentar kemudian jd 100 rb/pcs.
    Skarang aja di lapak lampu merah sdh 30 rb/pcs

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Hardi, syukurlah kalau keluarga pun mendukung … Semoga menambah keberkahan bagi pedagang di Basement (utamanya) dan juga lantai lainnya tentunya. Masjid di lantai 7 juga bagus lho ..meski tak semegah yang di Pasaraya. Silakan coba. Tapi akalu saya lebih sering di mushalla Basement karena sudah kenal dengan pak marbot nya yang setia menjadi imam setiap shalat BMW …

  5. apec Says:

    Kalimat terakhir yg dicapkan Om GW lgs bikin tersentak, sebabkalimat itu adalah satu2nya kalimat panjang yg diulang2 ( dalam hal ini diTEGASkan oleh Allah sehingga sampe perlu diulang-ulang) dalam Ar-Rahman agar kita selalu MELEK atas setiap sesuatu yg ada disekitar maupun didalam diri kita adalah sesuatu kenikmatan yg diberikan oleh-Nya, hanya kita tdk menyadari atau sengaja pura2 tdk menyadari…termasuk salah satu diantaranya ya pertemanan dalam blog ini…kuwi kenikmatan lho…..

    • Gatot Widayanto Says:

      Betul Bro Apec … Jujur aja pertemanan di blog gemblung ini sungguh dahzayat sekali. Bahkan setiap ada progring saya tak lagi peduli dengan “banyaknya” yang hadir meski tentunya saya senang kalau banyak yang bisa hadir. Namun dengan dua orang saja yang hadir, bagi saya juga sangat mencukupi karen a”makna” guyub nya itu yang penting. Ini terjadi saat saya janjian ketemuan sama mas Khalil yang tadinya saya pikir hanya saya dan mas Khalil saja …eh ternyata mas Yuddi tanpa diduga nongol juga. Aduh seneng banget saya. Padahal kalau gak ada yang bisa hadir dan hanya saya “ndil” berdua dengan mas Khalil, saya juga gak masalah …
      Jaman dulu kalau ketemuan saya sering melihat sukses atau tidaknya bila yang hadir banyak. Itu dulu …. Sekarang tidak lagi. Aapalagi ini Jakarta bung! Aktivitas warganya semakin berragam dan juga kemacetan makin parah … jadi ya “dinikmati” saja setiap pertemuan.

      Oh ya … Pertemuan hari Rabu sore yang mana Jakarta diguyur hujan lebat dan macet, tanpa dinyana ketemu mas Rizki juga meski hanya sebentar. Mas Rizki, seorang profesional yang sukses aja, setiap pulang dari kantornya masih juga menyempatkan mampir Blok M Square. Ini bukti bahwa Blok M Square sudah bisa menjadi MAGNET yang mencciptakan traffic dimana warga berkumpul di tempat nuansamatik ini. …

      Maka, nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan?

      Dunia dikasihNya, jalan menuju surga pun dikasihNya juga …. Bukankah memperkuat silaturahim itu merupakan amalan baik pula?

  6. yuddi_01 Says:

    istilah blok-blok tsb +/- sama dgn sektor di bintaro, sbg identifikasi area perumahan dan peruntukannya. Alkisah awal ’50an pemerintah memerlukan perumahan utk pegawai2 pemerintahan maka ditentukanlah daerah Grogol, Slipi dan Kebayoran . Untuk Kebayoran di dibagi menjadi blok-blok dan menjadi daerah terluas dgn dibuatkan jalan penghubung yg sekarang disebut Jl. Jend. Sudirman. Akhir ’50an rumah-rumah sdh bisa ditempati oleh para pegawai pemerintahan. Rumah nya gede2, penghuninya anak2nya banyak minimal 5 org bahkan ada yg 10 org . . .
    Yg sy ingat ada es krim yg jualannya pakai gerobak berkuda, jual jamu atau anggur obat dgn orang kuntet berjoget diatap mobilnya🙂

    Aslinya yg disebut pasar blok-M itu ya yg sekarang jadi blok-M square itu. Sampai akhir ’60an pasar blok M lebih utk pasar kebutuhan sehari-hari (sayur, besar dst..) walaupun sdh ada toko kelontong yg menjual buku2, mainan dan PH – sampai sekarang saya ingat sekali disamping toko mainan ada toko PH yg menjual PH Lord Sutch (?) bergambar Roll Royce dgn atap Union Jack.
    Utk kebutuhan sandang, kain, alat rumah tangga dst orang lebih ke Mestik/ Majestic. Dahulu ada bemo dari Pasar Santa ke Mestik.

    Jaman Gubernur Ali Sadikin blok-M dibangun, disisi yg ada Aldironnya dibangun Sarinah Blok-M yg barang di jual kira2 sama dgn Sarinah Thamrin sekarang.
    Glen Hughes sempat mampir ke Sarinah Blok-M ini pd waktu Deep Purple ke Jakarta 1975. Akhir ’70an di lahan eks Sarinah ini dibangun Aldiron Plaza bersamaan dgn Ratu Plaza dan Glodok Plaza. . . kok jadi bicara sejarah sihhh.

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Yuddi,

      Terima kasih banyak atas pencerahannya. Sebagai warga Jakarta tulen sejak dulu, tentunya cerita mas Yuddi ini memang sangat berdasar. Dulu saat masih remaja saya pernah tanya ke kakak saya mengapa ada Blok M dan tak ada Blok D (misalnnya?). Belakangan saya tahu memang ada Blok A dan Blok S.

      Namun cerita mas Yuddi ini sungguh mencerahkan …

      Cerita tentang Glen Hughes saya jadi inget obrolan santai saya dengan mitra bisnis saya (orang AUstralia) yang sedang berada di Jakarta hari Jumat lalu. Di dalam taksi kami berbincang tentang industri otomotigf Australia yang saya mulai dengan perbincangan bahwa sejumlah ahli otomotif Australia sedang berdialog dengan Menteri Perindustrian RI terkait kerjasama dimana Aust menawarkan bantuan “advisory” untuk Indonesia karena industri otomotif Australia akan tutup pada tahun 2017 – Holden bakal ditutup. Mitra saya tersebut langsung komentar: “Kok aneh ya, orang di Australia saja mereka tak bisa mempertahankan industri otomotif kok malah mau menjadi Advisor di Indonesia?” Terus kami berdua tertawa lebar …. Lucu memang . Namun pembicaraan mengenai Holden tersebut akhirnya saya katakan bahwa dulu Holden Kingswood begitu top markotop di Indonesia (THUING! Saya langsung ingat Holden Kingswood yang dipake buat menjemput rombongan DP dari bandara di tahun 75 lalu). Saya juga ingat bahwa jaman saya kuliah ada taxi 4848 melayani rute Jakarta-Bandung dan sangat prestigius (buktinya sebagai mahasiswa saya tak pernah mampu naik 4848… ha ha ha …).

      Ah …memang jaman telah berubah drastis …. 4848 juga sudah tergilas oleh Cipaganti dan CitiTrans …

  7. Budi Putra Says:

    Scr pribadi sy seneng bisa kenal dg mas Gatot dan temen2 di blog gemblunk ini yg okay2 wwsn musiknya. Lbh seneng lg bbrp tret sy diposting disini, bangga tentunya.

    Baru bbrp minggu lalu sblm progring 14 yg lalu, sepulang dr acara di Lenteng Agung sy sempetin mampir ke Blok M Square…ini adlh kunjungan pertama stlh sekian tahun lalu tak singgah ditmpt ini, dahsyat memang. Lengkap ada buku dan kaset, cd, dan lainnya. Pertamakali sy ktmu Ari yg tampilan sdh spt bos besar, beda dg Ari yg sy kenal bbrp tahun lalu di lapak Enjun, Tampur. Rupanya dia pun sdh tdk kenal sy lg…hehehe.

    Hebat Aldiron (Blok M Square) saat ini lengkap dan pastinya cocok dg selera temen2 di blog ini…apalagi bg yg remajanya dihabiskan ditempat ini tentu nuansamatik sekali.

    BTW, hasil wawancaranya kpn mas di muat di majalah Tempo?

  8. Gatot Widayanto Says:

    Mas Budi … Kita belum sempat bernilai-muka ya mas … He he .. Suatu hari, insya Allah …

    Mengenai wawancara dengan Tempo, demikian yang bisa saya update:

    Majalah Tempo berencana mengulas Yess dalam artikel selingan 6-8 halaman mencakup dari segi tojkoh2 di balik Yess, proses produksi, investor, kolektor dan sebagainya. Pokoknya khusus YESS thok. Alasan mas Seno dari Tempo: Karena Yess berjasa memperkenalkan “musik bagus” ke negeri ini. Mas Seno ini juga koleksi kaset Yess meski akunya tak banyak. Mas Seno penggemar musik avant gard dan sangat cocok bila bernilai-muka dengan mas Cosmic di blog gemblung ini. Salah satu musisi yang sering dia sebut adalah Phillip Glass yang juga favoritnya mas Herman.

    Mas Ananda, yand paling muda di foto di atas, sudah saya persilakan bicara langsung dengan I’an Arliandy von Yess menggunakan telpon saya. Ini karena I’an ini tergolong species introvert dan pemalu, gak seperti saya yang umpakan .. ha ha ha … Saya ingat sekali beberapa tahun lalu saya rayu I’an supaya bersedia di interview M97 namun selalu ditolaknya secara halus. Dia selalu bilang “Kamu aja Tot ..karena yang kamu katakan juga sama dengan apa yang saya katakan …jadi buat apa musti saya?”. Memang I’an ini lumayan pemalu. Beberapa jam sebelum saya bertemu mas Aananda di Blok M Square saya sudah bicara sekitar 40 menit dengan I’an tentang rencana Tempo mengulas Yess ini. Seperti biasa, dia menyerahkan ke saya saja yang bicara. Saya bilang ya gak seru kalau yang ngomong BUKAN pelakunya. Akhirnya beliau mau juga dan bersedia saya telpon untuk bicara dengan mas ananda dari Tempo.

    Rencananya akan diadakan nilai-muka pada akhir pekan ini, hari Minggu 9 Maret 2014 di Bandung. Namun saya belum dapat kepastian dari mas Ananda maupun I’an. Kalau sudah pasti, apa ada temen2 gemblungers yang mau hadir juga biar seru?

    • Budi Putra Says:

      Wah seneng ya mas Gatot bila dimuat di Tempo hsl wawancaranya dan ini pasti edisi spesial krn Tempo yg memuatnya bukan mjlh Rolling Stone…siip. Iya mas blm sempet bertemu tp sy merasa kenal dkt ya dg mas Gatot, mas Andria, mas Hippie…Metal Rules! Sementara silaturahmi via blog…hahaha.

      Sy cerita dg temen2 sy terutama yg jd wartawan di daerah2…di Jombang sy ada temen wartawan sy minta utk ngeliput pendekar prog Jombang, mas Eddy…mudah2an bs trlaksana.

      • Gatot Widayanto Says:

        Tentu nas Budi … Kita silaturahim via blog dulu. Suatu hari bisa nilai muka mas … insya Allah …

        Wah …wajib tuh pendekar prog Jombang diliput. Ntar direlai ke blog ini

    • herman Says:

      lewat Mas GW salam kenal untuk Mas Ananda biar tambah temen…..

    • andria Says:

      saya jadi malu, jadi orang yg hidup di abad pertengahan (antara kaset bajakan dgn yg resmi) tapi blas nggak pernah beli kaset YESS asli padahal pernah menghadapi dinding YESS di toko kaset Popeye Yogya😀

  9. Alfie Says:

    Memang Blok M Square itu tempat yang sangat cocok buat para kawula jadul hunting kasset dan PH dan sekarang sepertinya menyaingi Jl Surabaya dan Jenderal Oeriep karena 99% pensiunan Tampur pindah kesana hehehehe

  10. prasetyoindro Says:

    kalo bagi saya, yg paling nunjek dari tulisan ini adalah upaya menyeimbangkan antara dunia dan ukhtowi..haduh biyuunggg suwun banget diingatkan…

    • Gatot Widayanto Says:

      Halo mas Indro …! Apa kabar? Kita gak pernah progring di Blok M Square ya …selalu di DJPK atau di Alila ….ha ha ha ….

      Iya mas …. kalau Maghrib, mushalla basement yang digawangi pak Tua sbg marbot dan imam, mushalla nya penuh sesak padahal udah expanded ke sayap kanan …tapi tetep umpel2an ….! Subhanallah …. Seneng melihat pengunjung basement yang berbondong- bondong menyerbu mushallah buat shalat BMW . Suasana jadi khusyu banget.

      Oh ya . .. Lapak buku nya ada juga yang jualan buku bajakan. Saya pernah beli buku baru karangan Yusuf Mansur namun harganya murah banget, hanya 20 ribu. Ternyata bajakan alias cetak stensil pake kertas koran. Saya sih gak masalah karena yang penting isinya bukan kertasnya. Namun ada perasaan bersalah karen melanggar hak cipta (padahal kaset Yess juga ya?). Tapi ….setelah kemarin baca buk kecil tipis dahzyat bertajuk nunjek “Kuingin waktuku Menjadi jembatan Menuju Surga” yang baru saya baca kemarin, ternyata …tak perlu risau baca buku bajakan atau copy an karena penulisnya diberi pahala berlimpah oleh Allah karena menyebarkan kebaikan dan ilmu kepada banyak orang dan digunakan. Bagi kita yang baca juga tak menfapatkan dosa … Dahzyat tenan. Sepertinya Kih Win lbh paham tentang hal ini ….

      Monggo ….

      • prasetyoindro Says:

        waduh dpt ‘cakrawala’ baru nih dlm menyikapi buku bajakan..tp boleh gak ini diterapkan pula dalam mp3 downloadan hehehe…lha wong sbnrnya kaset2 koleksian kita kan hakekatnya jg bajakan, mung ono stempele lunas PPN🙂..tp insya Allah para pemusik itu jg diberikan pahala berlimpah oleh Allah karena menyebarkan kebaikan dan ilmu kepada banyak orang dan digunakan. Semoga bagi kita yang menikmati juga tak mendapatkan dosa…

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas Indro … Rasanya ini kompetensinya Koh Win untuk menjawab karena beliau mumpuni banget dalam hal ilmu agama. Rasanya gak masalah kita pake MP3 download-an. Tapi rupanya Koh Win lagi berjuang keras sampe akhir maret …saat peak nya beliau. Nanti April s/d Desember beliau tinggal tidur-2 an aja …duwik wis moro dewe ….

        Salam
        G

        *) Seger tenan bar gowes trus adus gebyur-gebyur …trus ojrek … what a life!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: