Merindukan Radio

Budi Putra

Semenjak dulu dan sekarang keberadaan radio seolah telah memiliki tempat tersendiri bagi para pendengarnya. Kehadirannya semata-mata bukan hanya sebagai media untuk memperoleh informasi dan hiburan tapi lebih dari itu. Bagi sebagian orang kehadiran stasiun radio telah memberikan suatu nuansa dan memori tersendiri yang tak terlupakan.

Soal ini yang juga dialami rekan-rekan para penghuni blog gemblung. Barang tentu radio yang diminati rekan-rekan di blog ini bukanlah sekedar radio yang pada umumnya hanya menyiarkan informasi dan acara hiburan konvensional yang ngepop ala kebutuhan industrial semata. Tapi radio yang lebih spesifik yang bisa berkolerasi dengan minat terkait musik rock (all about rock and progressive rock) merupakan pilihan yang sulit semenjak kejayaan M97 FM berlalu.

Menemukan radio komersil yang memiliki sajian segmentatif seperti halnya radio M97 suatu hal yang tidak mungkin. teslaDi tengah persaingan sengit bisnis penyiaran ditambah gempuran teknologi melalui perangkat internet dan fasilitas musik lainnya yang dapat diperoleh dengan mudah. Saat ini bila orang ingin mencari lagu favorit cukup mengunduh via mp3 atau perangkat lainnya. Bisa diputar nonstop tanpa harus menunggu jeda iklan dan kicau penyiarnya melalui perangkat bernama smartphone. Tidak heran untuk saat ini jarang ditemui warung rokok, nasi, mie rebus, yang kedapatan memutar lagu lewat  radio. Abang atau akang juga mbak penjual lebih asik mensengarkan musik via smartphone. Telinganya sibuk dijejali perangkat handset/walkman/headphone dari smartphonenya. Kadang sambil bengong dan ada juga yang bersiul. Pembeli pun tak dihiraukan lagi. Kalo ditanya ini apa dan berapa harganya kepalanya cuma manggut-manggut saja…hahaha…

Pada tahun 80-an saat saya masih tinggal di kampung (Kereo, Ciledug) pernah ada  stasiun radio amatiran—disebutnya pemancar—Radio ini dikelola secara swadaya oleh anak-anak muda setempat. Menara atau tiang pemancar terbuat dari bambu yang dipancang/diikat dipohon yang paling tinggi. Tujuannya agar daya tangkap siarannya bisa lebih bagus dan terjangkau hingga ke kampung seberang. Untuk kabelnya disambungkan dari satu bambu ke bambu lainnya. Untuk ruang siaran pun hanya dibuat satu ruangan yang ukurannya terbatas yang hanya cukup untuk satu orang penyiar dan ruang tamu yang cukup untuk lima orang. Jadi bila ada tamu atau kunjungan dari pendengar maka bergantian sekedar untuk melihat penyiar yang sedang cuap-cuap didepan mikropon: “buat bang Udin yang lagi nongkrong diwarung mpok imeh…” demikian kicau sang penyiar bergaya. Bahkan tak jarang beberapa beberapa pemancar menempati kamar di rumah teman atau kerabat yang bisa digunakan. Untuk
pendanaan/operasional melalui swadaya (patungan) atau bisa juga melalui iuran dan sumbangan dari para pendengar/fans. Juga dibuat peraturan bagi yang berminat untuk mengisi acara diluar acara yang sudah dikenakan biaya. Saya pernah minta satu sesi acara musik rock dengan membayar uang sebesar lima ribu rupiah. Karena saat itu belum ada perangkat komputer apalagi CD atau mp3, maka saya bawa semua kaset-kaset milik saya. Repotnya kalo ada request dari pendengar maka saya akan puter kaset dengan pulpen atau jari tepat dilubang kaset agar lagu yang diminta bisa saya dapat. Hasilnya lagu menjadi tidak pas awal dan akhirnya…hehehe. Tapi seneng juga bisa jadi penyiar acara musik rock walaupun level amatiran.

Kehadiran pemancar di kampung kami (walaupun berada di gelombang SW) tetap menjadi kebanggaan warga setempat. Nama pemancarnya yang dipilih biasanya mewakili kampung setempat. Misal pemancar di kampung Cipadu namanya Racitra singkatan dari Radio Cipadu Putra, dan ada juga di kampung tetangga dengan kampungnya Gaga Radio (kalo Queen, Radio Gaga), dan  lainnya. Untuk penyiar dipilih dari anak-anak muda setempat yang biasanya hobi musik (suara nomer sekian yang penting pinter cuap-cuap). Kebanyakan pilihan musiknya pada dangdut, pop, dan rock…gado-gado lah. Keberadaan pemancar di kampung membuat suasana kala itu serasa nuansamatik. Di setiap rumah dan warung-warung terdengar alunan suara penyiar dan iringan lagu versi radio dua band yang suaranya gemerisik itu. Sayangnya menjelang tahun 90an pemancar tersebut sudah tidak mengudara karena berbagai sebab seperti pendanaan, kesibukan, dan tren perkembangan radio yang ada saat itu.

Keberadaan radio kelas amatiran ini sebenarnya memiliki nilai positif. Persaudaraan sesama warga pendengar terjalin erat. Anak-anak muda jadi lebih kreatif dan mau memacu dirinya untuk lebih mau tahu tentang musik. Selain itu keberadaan radio ini bisa menjadi media komunikasi dan informasi antar warga. Biasanya selain request lagu warga  juga bisa mengirimkan informasi. Misalkan, dari ajakan siskamling, info lowongan kerja, undangan hajatan, pengajian, dan lainnya.

Pada  dasawarsa 90-an keberadaan radio lokal muncul kembali dalam bentuk radio komunitas yang digagas kalangan LSM dan aktivis. Keberadaan radio komunitas ini tersebar diberbagai kota seperti di Jakarta, Yogyakarta, Bogor, dan lainnya. Di Jombang sendiri sampai saat ini masih berdiri radio komunitas yang dikhususkan untuk kalangan pekerja/buruh. Dan siapa tau bisa juga digagas radio komunitas penggemar classic rock dan progressive rock…!

Belakangan saya mencoba untuk menelusuri situs  radion via internet. Hasilnya tentu banyak sekali situs radio baik lokal dan internasional. Ada radio  Hard Rock FM, Rock Line, i-music, Classic Rock FM, dan banyak lainnya. Namun dari sekian konten yang saya coba tidak jarang banyak yang tak sesuai harapan. Mulai proses loading yang lemot hingga yang enggak update berita dan list lagu dan bandnya. Setelah beberapa kali coba kemudian saya tertarik dengan konten radio Sky FM. Pilihan ini pertama karena konten ini free alias gratis, disamping pilihan musiknya yang cukup beragam. Mulai dari  pop, rock, blues, reggae, classic guitar, piano, instrumental, latin, Indies, tradisional, jazz, new age, dan lainnya. Yang menarik konten musik rock jumlahnya lebih banyak dan terbagi dalam berbagai genre dan era: Classic Rock, Soft Rock, Indie, Alternative Rock, Hard Rock, Metal, Rock Hit ’80, Rock Hit ’90, Rock ’60, hingga Tribute The Beatles—sayangnya tidak ada
konten progressive rock.

Namun fasilitas dunia maya ini mesti memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal ini juga berlaku untuk SKY FM. Namun kekurangan dari SKY FM masih lebih baik dibandingkan konten-konten yang sebelumnya saya coba. Sky FM memiliki kelebihan diantaranya: Banyak pilihan jenis musik yang terbagi dalam berbagai genre dan sub genre. Tidak ada sisipan iklan, gratis didengar lagu-lagunya (untuk yang berbayar bisa diunduh versi premium). Admin tidak mumet alias simple (kita hanya diminta mengisi nama dan email).  Kekurangannya: Kendala sinyal kadang mengganggu. Tidak ada penyiar, hanya sesekali diselingi jingke Sky FM—padahal suara penyiar diperlukan untuk memperoleh informasi mengenai lagu atau grup yang baru kita ketahui.

Pilihan alternatif ini tentu ini hanya salah satu pilihan dari sekian banyak pilihan yang tersedia. Dengan segala keterbatasan yang ada, semalam saya bisa menikmati tembang dari Styx, The Doors, Procol Harum, dan baru tau ada band bernama The Fox yang membawakan lagu Madame Magical yang iramanya mirip-mirip dengan Deep Purple, via radio internet Sky FM.

Salam rock di udara!

21 Responses to “Merindukan Radio”

  1. andria Says:

    “there is magic at your fingers” kata Rush

  2. hippienov Says:

    Nuansamatik banget tulisan mas Budi, aku terharu sambil mesem-mesem dewek…Dulu semasa kuliah aku juga sempat ikut di stasiun radio “gelap” amatiran punya anak-anak kampusku yang iseng dan bosen ngurusin kuliah serta tugas-tugas kampus melulu. Aku diajak gabung dan pastinya aku mau banget. Perangkat siarnya minim dan primitive banget, cuma pake tiang bambu disambung-sambung dengan daerah cakupan siaran sangat terbatas dan compo seadanya tanpa mixer, itupun cuma bisa muter kaset, cd player masih jadi barang mahal jaman itu. Tiap giliranku “on air” aku bawa beberapa kaset dari kos ke pangkalan siaran dan pastinya kaset-kaset rock jadul era 60-80an.
    Siaran kami sering jadi “trending topic” di kalangan anak kos karena suka menyiarkan lagu-lagu “antik bin aneh” yang gak lazim dan bahkan ada yang suka ngopi siaran kami plek tanpa editing jadi masih ada kicauan penyiarnya,hahaha… Lucu tenan kalo inget masa itu. Sayang siaran kami gak bisa bertahan lama karena satu per satu personilnya mau gak mau disibukkan dengan skripsi dan kemudian lulus-wisuda dan pulang kampung. Radio amatian kami yang gelap itu pun berhenti mengudara…

  3. Gatot Widayanto Says:

    Luar biasa ulasannya mas Budi!

    Untuk prog radio cukup banyak kok mas. Ini listnya, silakan klik sini dulu: http://www.progarchives.com/ProgRadio.asp

    Tapi saya (dan juga mas GT) sering memantau MOROW. Prog abis dan updated mas …

    Salam

    NP. A.C.T “Circus Pandemonium”

  4. kukuh tawanggono Says:

    Salam kenal mas budi kulo penghuni baru di blog kumpulan orang jenius ini.kalau membaca tulisan njenengan,saya jadi merasa orang yg paling beruntung di dunia ini(lahir di malang,besar di malang,dapat pekerjaan di malang).di kota saya ada stasiun radio bernama senaputra,lha radio ini setiap harinya memutar lagu-lagu rock dari berbagai genre dan era bahkan jazz sampai blues mereka perdengarkan lho(satu genre musik itu dimasukkan dalam satu acara),dan itu mereka lakukan sejak zaman dulu.mereka punya mc yg jadi legend di kota saya yaitu sam ot(ovan tobing).beliaunya ini bekerja disana mulai awal radio ini ada(saya kurang tahu pasti kapan radio ini mulai ada tapi kata teman-teman mulai dekade 70an keatas mereka itu udah ada.sam ot dan radio senaputra itu jadi semacam saksi sejarah bagaimana dinamika musisi-musisi malang(ian antono,om abadi soesman,alm miky jaguar,silvia sartje)memberikan sumbang asihnya pada dunia musik di negeri ini.satu yg amat suka dari radio ini setiap malam minggu mereka memutar classik rock dalam negeri ataupun luar negeri , sehingga bisa jadi teman bagi saya yg termasuk kedalam kaum bujang lapuk ini he he he.mohon maaf mas apabila kata-kata saya kurang berkenan,matur suwun.

  5. Budi Putra Says:

    Mas Gatot,

    Terimakasih byk sdh diposting ulasan ini…ini juga ngulas ini krn buka arsip-arsip tret nya mas Gatot ttg radio…kalo gak keliru judulnya Andai Saya Punya Radio Sendiri (1 of 4), makanya jd inget ttg radio amatiran di kampung dulu…sbnrnya dulu Kereo itu disebutnya dusun krn mmg jadul bgt. Sy pindah kesitu awal 80 an blm ada listrik, jalan msh becek, pematang sawah msh trhampar luas, lapang bola msh luas, kebun2 sayuran dan buah2an msh sgt asri…indah nian kampung itu dulunya. Makanya stlh baca tret mas Gatot sy jd pengen ngulas ttg radio (amatiran). Lucu bgt dah! Sayang gak dokumen yg bisa disimpan krn gak ngeh akan nilai historisnya kemudian…tks mas Gatot.

    Mas Andria

    Saya tambah semangat nulis tret ini krn pengalaman lgsg jd ngalir aja. Tp jujur semangat juga dipicu oleh ulasan2 mas Andria yg metal abis bikin sy spt memasuki terowongan waktu kembali ke masa2 indah plus jahiiyah ketika SMP, SMA…memori sy lgsg nyantol ke kaset2 metal yg saya pernah milki dus jd inget dosa2 ketika masa jahiliyah saat itu…jd ada memori dan renungannya juga mas…hahaha. Matur numun mas.

    Mas Hippie,

    Jalan hidup kt sama ya mas…hahaha. Tp sy lupa di M97 FM sy gak dipanggil2 pdhl isi lamarannya udh macam2 sy tulis begini isinya: sy pendengar setia M97 FM, suka The Who, Led Zeppelin, Deep Purplen Grand Funk, Ten Years After…sy siap ditempatkan dibagian apa aja…rayuannya udh maut mas tp gak jebol jg. Malah sy sempet dua kali di interview radio Elshinta, pas interview sy blg sy mau ditempatin di surabaya…(Krn cewek sy arek suroboyo…hehehe), wah blm apa2 udh nawar, akhirnya gak dipanggil lg. Kacau ya mas…tks mas Hippie!

    Mas Kukuh,

    Salam kenal mas, seneng bgt dikunjungi teman baru…sy jg baru gabung di blog ini mas Kukuh kecantol dg ulasan2 penghuninya yg maha dahsyat dan walaupun blm sempat bertatap muka dg gemblungers disini tp komunikasi via blog guyub bgt mas…saling respek satu dg yg lainnya. Pdhl sy sendiri baru ngeh musik prog ya krn ngebacain ulasannya para gemblunger disini. Dan menjadi kebanggan tersendiri ulasan sy dimuat di blog ini…trims mas Gatot…krn sblmnya gak pernah nulis ttg musik apalagi rock opo maneh prog. Jd lbh byk cerita pengalaman masa silam aja. Blm PD nulis resensi kaset atau lainnya mas…trims mas Kukuh.

  6. hippienov Says:

    Hahaha… mas Budi 2-3 langkah di depan aku karena sudah sempet dipanggil Elshinta. Aku sama sekali gak pernah dipanggil mas. Sepertinya mas kurang menulis kalo mas fans setia prog-rock, pasti dipanggil interview M97, hehehe…

  7. Budi Putra Says:

    Iya benar mas Hippie, coba kalo sy tulis suka King Crimson, ELP, Genesis mungkin lain cerita ya mas…udahannya malah dpt info M97 gak mengudara lg…ya opo?…tp gpp mas Hippie, berkas lamaran sy menjadi dokumen berharga krn dimiliki M97. Siapa tau kalo ada org bikin buku biografi M97 ada bab yg berjudul “Ini Dia Orang Yang Berminat Bekerja Di M97 FM” di situ disitu dimuat kolom copian berkas lamaran, cv, dan foto…para pelamar, termasuk sy…hahaha

  8. Didi Says:

    Wah, benar2 pengalaman yang mem

  9. Didi Says:

    Wah, benar2 pengalaman yang gak bisa dilupakan ya Mas ! M97 benar2 kasih pencerahan krn waktu itu selera musik saya lagi selingkuh sama yang non-rock & non-prog.
    Berkat M97 saya akhirnya bertobat & kembali ke rel yang seharusnya.
    Mau tanya sekalian, acara progressive music di Radio Pelita Kasih ( RPK FM ) saban Sabtu siang masih ada gak ya ?
    Mungkin ada yg bisa kasih info radio lokalan Jakarta yg punya acara muterin lagu claro & prog-nya ? Tiap hari apa + jam-nya.
    Matur Suwun.

    • Gatot Widayanto Says:

      Halo mas Didi

      Siaran prog di RPK FM masih berlanjut bersama Nengah Rikon dan Andy Julias IPS. Bahkan sudah masuk youtube juga kok. Silakan browsing mas. Saya pernah nonton youtubenya.

      Siiiip

      • kukuh tawanggono Says:

        Mas gatot saya hari ini lagi cuti,rencananya mau I’tikaf di masjid.saya berencana agar berdoa agar mas gatot dianugerahi umur yg panjang,kesehatan,rezeki yg banyak ,serta keberkahan,juga untuk sedulur-sedulur kabeh.tujuannya agar blog ini bisa langgeng terus(jujur mas tulisan-tulisan disini membuka lembaran-lembaran yg telah saya jalani,bahkan lembaran-lembaran hidup yg saya trauma untuk membukanya).

  10. Didi Says:

    Mantap. Matur tengkyu Mas. Seinget saya formatnya bergantian saban 2 minggu. Minggu ini khusus progmet, minggu depannya giliran progrock.
    Terakhir saya dengerin yang edisi progrock dengan tema khusus band – band prog yang memainkan flute & biola sebagai alat musik tambahan. Itu mungkin 2 tahun yang lalu.

  11. cosmic_eargasm Says:

    Keren sekali cerita pengalaman tentang radio nya mas Budi. Memang benar kehidupan masyarakat era 70an dan 80an tdk jauh dari radio. Yg paling menyenangkan adalah saat nomor request kita diputar dan titipan salam kita dibacakan🙂 Sayang M97 sdh lama bubar. Bnyk di daerah kota besar manapun yg pasti ada radio gelap/amatir yg hanya menyiarkan lagu2 non-komersil. Termsk yg sy ingat dgn cerita pengalaman mas GW tentang radio gelap saat dulu di Madiun melalui postingan dan komen di blog super gemblunk ini🙂 Di bbrp daerah di kota kecil atau di desa, peran radio masih terasa berarti sampai skrng, tp ya itu, lagu2nya tdk jauh dr dangdut, campursari, keroncong ataupun wayang🙂

    ::: Viva Old-School Life! :::

    “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

  12. Budi Putra Says:

    Mas Cosmic, mas Didi yg baik..ulasan ini sekedar menjaga tradisi untuk menolak lupa. Artinya ingatan dan kenangan jgn sampai hilang tak berbekas. Namun ulasan ini tdk ada artinya bila bukan krn kesediaan mas Gatot utk mempostingnyai. Masa2 itu memang indah mas sampe2 Gombloh bikin lirik lagui “di radio aku dengar lagu kesayanganku” dan memang beda kalo kita denger lagi yg kit sukai bila mendengarkannya dr radio. Ada nuansa tersendiri yg terbilang dg kata2. Apalgi kalo kita bisa berkirim lagu dan pesan lewat radio…ada komunikasi yg terjalin didalamnya.

  13. Ongkie Says:

    3 atau 4 tahun yang lalu sempat ada radio yang siaran di AM/MW 900KHz, stasiun radio nya Jakarta Alternatif Station, sepertinya didaerah Cipayung, Jakarta Timur. mereka selalu putar lagu-lagu rock classic aliran kita ini. sempat terkesan kalau mereka adalah jebolan M97 FM, soalnya selera dan lagu-lagunya sempat ada yang terputar saat di M97, begitu juga penyiarnya. sekarang sudah tdk pernah mengudara, saat mereka masih mengudara pun kadang On Air-kadang tidak, angin-anginan, tapi jadi malah seru, karena para pendengar jadi menunggu kehadiran mereka, saya sendiri di Pondok Gede, Lubang Buaya. dulu (80an) sempat punya stasiun radio SW yang juga memutar lagu-lagu rock (waktu itu belum jadi klasik), sementara stasiun radio (gelap) lain berlomba memutar lagu populer. sayang nya koleksi kasetnya sudah bubar semua. salam kenal dari kami.

  14. ricky Says:

    sekedar tambahan info dan sejarah per radioan rock musik di bandung sekitar tahun 89-96/97…ada generasi muda radio (GMR fm) yang mengkhuskan sebagai radio rock,tentu format nya rock music,metal(tahun segitu memang masa jaya metal),classic rock,blues,prog…pokoknya semua yang berbau rock….di situ terasa sekali unsur pendidikan terutama untuk musik prog….kebetulan penyiarnya merupakan anak dari pemilik radio tersebut dan menjadi teman keluarga saya….radio ini mengenalkan saya bagaimana cara mendengarkan Think of my kidnnes- gentle giant bisa membuat bulu kuduk dan bulu ketek merinding…….

    • Budi Putra Says:

      Mas Ongkie, mas Ricky asik ya mas bila mengedengar lagu2 kesayangan dr radio…nuasamatik sekali ya…salam kenal mas Ongkie, mas Ricky.

    • Gatot Widayanto Says:

      Terima kasih atas updatenya, Ricky … Meski saya sudah “terpaksa” lulus kuliah, namun kalau ke Bandung saya selalu nyetel GMR yang juga radio penyebar virus Marillion “So here I am once more ..THENG!”

  15. Sim Salabim Says:

    Terus terang saya merasa ada di era pertengahan tahun 70-an ketika berkunjung ke sini. Melihat dan membaca tulisan di dalam blog ini, saya menerawang ke suasana tahun 70-an. Dan nuansa lagu-lagu rock masa itu berkumandang di ruang imajinasi saya. Saya jadi teringat awal tahun 70-an di Bandung marak dengan pemancar radio gelap, kalau tidak salah istilah yang beredar adalah pemancar gelap. Radio-radio tersebut umumnya memutar lagu-lagu rock, baik top rock maupun yang underground, mereka putar full album dan tanpa bicara. Siaran mereka non stop, berhari-hari tanpa henti.
    Beberapa radio gelap yang masih saya ingat adalah VOC, Cosa Nostra, Al Capone, G. Brut, Kelelawar. Radio VOC mengkhususkan dalam musik prog, Cosa Nostra dan Al Capone memuat semua aliran rock. Ketiga radio ini berkumandang hingga pertengahan tahun 70-an. Sedangkan G. Brut dan Kelelawar baru terdengar setelah ketiga radio tersebut hilang dari kancah pendengaran. Selain radio yang gelap tersebut, beberapa radio resmi dan setengah resmi juga rajin memutar lagu-lagu rock dan beberapa di antaranya masih eksis hingga sekarang. Dalam pandangan saya, yang paling ngerock dari radio-radio resmi adalah Bonkenks, Oz, YG dan Sableng. Radio Oz semua tahu masih ada hingga kini tapi sudah tidak bernafaskan rock. Bonkenks berubah jadi Ardan, YG jadi GMR dan Sableng entah ke mana.
    Radio pemancar gelap di Bandung di awal 70-an yang paling fenomenal menurut saya adalah VOC, radio inilah yang meracuni saya dan adik-adik saya dan khalayak Bandung sehingga hanyut di aliran prog. Tiap hari yang namanya Nice, ELP, Yes, Pink Floyd, Gentle Giant, Ekseption, Focus, King Crimson dan seabreg grup band sejenis berkumandang di radio ini. Kalau tidak salah radio ini ada di gelombang MW. Radio gelap lainnya bermain di gelombang SW….ah saya lupa lagi. Sebenarnya masih ada beberapa radio pemancar gelap yang siaran di Bandung di zaman normal tersebut, tapi saya tidak ingat lagi namanya. Yang jelas, rata-rata namanya mengambil nama dari tokoh gangster Itali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: