Kaos Bagi Saya

Budi Putra

Tulisan ini salah satunya dipicu oleh komentar mas Hendrik di Progring #14 kemarin. Di antara bait yang mas Hendrik tulis ialah: mas G dengan (kaos) Opeth, Mas Yuddi dengan Iron Maiden serta Mas Danang dgn Rush nya. Dari sini kemudian saya jadi tertarik untuk membuat ulasan tentang kaos, rock tentunya.

Secara pribadi kesukaan saya mengoleksi kaos dimulai Sejak 80-an. Selain kaset saya suka mengoleksi kaos band-band rock yang saya idolakan seperti Led Zeppelin, Deep Purple, dan lainnya. Saya ingat pertama kali kaos rock yang saya beli adalah kaos Led Zeppelin. Kaos ini saya beli di Pasaraya Blok M. Kaos dengan desain kapal Zeppelin berwarna putih bercampur hitam ditambah corak oranye dibeberapa sudutnya. Sekeliling kapal dibaluti asap putih tebal yang sedang mengudara. Gagah nian, demikian puji saya saat itu.

image

Bagaimana ceritanya saya bisa membeli kaos Led Zeppelin yang keren itu:

Menjelang lebaran saya dapat uang dari ibu buat beli baju baru untuk lebaran. Maka dengan hati riang gembira tiada tara berangkatlah malam itu ke Blok M. Tujuan saya adalah Pasaraya ke toko kaset yang menjual kaos rock impor. Sebelumnya saya pernah saya kunjungi toko ini (lupa nama toko kasetnya, cukup besar dan lengkap, mungkin sekarang sudah tidak ada). Lantas setelah pilah pilih jadilah saya ambil kaos Led Zeppelin yang harganya woow…mahal bro, untuk ukuran saat itu. Namun karena sudah terniatkan maka saya beli juga kaos tersebut yang memang tinggal satu-satunya stock kaos Led Zeppelin yang tersedia digerainya.

Kaos rock impor harganya memang terbilang mahal. Kaos Led Zeppelin yang saya beli seharga 125 ribu. Padahal saya hanya diberi uang sama ibu 150 ribu. Maka sisa 25 ribu saya belikan kaos produk lokal seharga 20 ribu bergambar personil Deep Purple. Maka sisa 5 ribu saya pakai untuk ongkos pulang ke rumah. Keren banget puji saya saat itu. Bisa beli kaos band idola Led Zeppelin.

Maka setelah selesai sholat Ied saya pakailah dus sekalian pamer ke teman-teman kalo saya punya kaos keren ini. Setelahnya, sekian pujian dari teman-teman datang menghampiri yang membuat saya jadi bangga sekaligus ge’er sendiri…hehehe. Bagaimana tidak, boleh dibilang sayalah orang pertama dikampung yang punya kaos Led Zeppelin produk impor yang langka itu. Bukannya teman-teman tidak punya uang cuma mereka kalah cepat berburu kaos Led Zeppelin dibanding saya. Saking senengnya selama dua hari dua malam kaos itu saya pakai terus. Led Zeppelin gitu lho!

Entah mengapa hingga saat ini saya masih menggemari mengoleksi kaos-kaos rock hingga metal. Padahal umur udah bukan ABG lagi loh. Bahkan beberapa bulan terakhir ini malah lebih sering belanja kaos rock baik via online maupun beli langsung. Tentu saja budget diatur sedemikian rupa agar dapur tetap ngebul dan kebutuhan pokok lainnya agar tidak terganggu. Kalo enggak bisa bara-bere alias berabe kalo istri mulai cemungut…hehehe.

Sepertinya ada kebanggaan tersendiri bila bisa mendapatkan kaos band yang kita idolakan. Dan merasa “sesuatu” bila berjalan dikeramaian memakai kaos yang beda dari yang lainnya. Apalagi kalo memakai kaos band-band prog yang desainnya aneh, unik, klasik, dan langka. Bisa dipastikan bukan cuma yang gemar rock aja yang ngelirik tapi tak jarang cewek-cewek suka perhatiin juga…hehehe. Makanya mulai saat ini sering-seringlah pakai kaos rock!

Saat ini harga kaos rock kategori ORI (lisensi) melonjak naik. Bila di konversi kerupiah seharga 250 ribu sampai 270 ribu. Tergantung produk keluarannya (merk produsen) seperti Anvil, Hanes, Gildan, AAA, dan lainnya. Dan bicara kualitas kaos ORI memang jauh bila dibandingkan dengan kaos produk lokal—itu menurut pendapat dan pengalaman saya. Mulai dari segi kualitas gambar, warna, dan bahan yang digunakan. Biasanya untuk produk impor bahannya dari soft cotton. Jadi bila dipakai akan terasa adem alias nyaman walau dipakai diterik matahari. Namun saat ini mulai tren kaos rock produk Thailand yang dijual dengan harga terjangkau sekitar 100 ribuan. Kualitas gambarnya cukup lumayan dan bahan kaosnya terbilang adem bila dipakai karena terbuat dari katun. Cuma kekurangannya desain kaosnya terbilang terbatas. Mungkin karena faktor lisensi/hak cipta. Namum bagi yang berkocek pas-pasan produk ini alternatif pilihan. Sebenarnya di Blok M juga banyak tersedia kaos rock produk lokal yang beberapa desainnya terbilang lumayan seperti kaos produksi More dan lainnya.

Saya punya pengalaman lucu dengan kaos produksi lokal tersebut. Suatu saat teman semasa SMA, Ricky namanya, pengen banget nuker kaos The Doors yang saya pakai dengan kaos Metallica (Ride The Lightning) miliknya. Akhirnya berpindahlah kaos The Doors produksi More dengan Metallica yang ORI. Saya sih seneng aja. Belakangan dia komplain ke saya karena kaos The Doors nya gak asli. Rupanya, kaos The Doors yang saya pakai dikiranya kaos ORI. Jadi tertipulah dia, ORI minded…hehehe—Halo Ricky dimanakah kini kau berada? Surabaya? masih suka Helloween kah?

Kaos produksi More seingat saya sudah terbilang lama merajai gerai kaos-kaos rock/metal di Jakarta. Sebab semasa SMP karena kocek terbatas saya kerap beli kaos-kaos produksi More. Dua tahun yang lalu saya beli Dream Theater (Change of Season) keren juga kualitas gambar dan bahannya. Lagi-lagi teman saya yang lain sempet terkecoh dikiranya kaos ORI. Jadi kualitas kaos produk More desainnya terbilang mumpunilah. Mungkin ada beberapa merk lokal lainnya yang terbilang bagus. Pernah juga saya menemui via web toko kaos online di Probolinggo yang khusus menjual kaos-kaos band prog. Namun ketika saya kontak produksinya sudah terhenti karena mesin cetaknya rusak, begitu yang empunya bilang.

Di jaman yang serba moderen saat ini bukanlah perkara sulit untuk mendapatkan kaos-kaos rock kesukaan. Karena banyak pilihan yang bisa dibeli, mau impor (ORI) atau yang lokalan. Tergantung selera dan isi kantong. Karena untuk pecinta rock enggak afdol rasanya kalo tubuh ini belum dibalut kaos band kesukaan. Bukan sekedar mau pamer atau gagah-gagahan tapi sisi kebanggaan dan penghargaan terhadap band idola adalah salah satu alasannya—ini menurut saya. Entah mengapa kaos yang simple dan sederhana begitu populer dan fenomenal di jagat moderen ini. Bahkan kehadirannya lebih penting bagi sebagian orang dibanding baju-baju resmi seperti kemeja, jas, dan lainnya.

Dalam sejarahnya T- Shirt atau kaos oblong pada awalnya digunakan sebagai pakaian dalam tentara Inggris dan Amerika pada abad 19 sampai awal abad 20. Asal muasal nama inggrisnya, T-shirt, tidak diketahui secara pasti. Teori yang paling umum diterima adalah nama T-shirt berasal dari bentuknya yang menyerupai huruf “T”, atau di karenakan pasukan militer sering menggunakan pakaian jenis ini sebagai “training shirt”.

Kaos oblong ini mulai dipopulerkan sewaktu dipakai oleh Marlon Brando pada tahun 1947, yaitu ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya Tenesse William di Broadway, AS. T-shirt berwarna abu-abu yang dikenakannya begitu pas dan lekat di tubuh Brando, serta sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. dan film Rebel Without A Cause (1995) yang dibintangi James Dean. Pada waktu itu penontong langsung berdecak kagum dan terpaku. Meski demikian, ada juga penonton yang protes, yang beranggapan bahwa pemakaian kaos oblong tersebut termasuk kurang ajar dan pemberontakan. Tak pelak, muncullah polemik seputar kaos oblong.

Desain kaos yang terus berkembang sampai sekarang selaras dengan perkembangan manusia dan teknologi yang memang terus berkembang. Sejarah akan terus mencatat desain berbagai kaos seperti tie dye yang lekat dengan Flowers Generation, komunitas punk yang lekat dengan T-Shirt sobek, polos bahkan dengan desain typohraphy yang mencolok, dan siapa yang tidak kenal dengan kaos I Love New York yang fenomenal itu.

Di Indonesia kaos oblong baru menampakkan perkembangan yang signifikan hingga merambah ke segenap pelosok pedesaan sekitar awal tahun 1970. Ketika itu wujudnya masih konvensional. Berwana putih, bahan katun-halus-tipis, melekat ketat di badan dan hanya untuk kaum pria. Beberapa merek yang terkenal waktu itu adalah Swan dan 77. Ada juga merek Cabe Rawit, Kembang Manggis, dan lain-lain. Dan tren kaos oblong rupa-rupanya direkam pula oleh Kartunis GM Sudarta melalui tokoh Om Pasikom dan kemenakannya dengan tajuk “Generasi Kaos Oblong” (Harian Kompas, 14 Januari 1978).

Salam, selamat berkaos rock ria!!!

22 Responses to “Kaos Bagi Saya”

  1. danangsuryono2112 Says:

    wah punya teman dengan hobby yang sama. Tos dulu mas Budi. Diluar kerja saya juga paling suka makai T-Shirt (terutama warna hitam), sungguh santai dan nyaman rasanya gak peduli lagi arisan keluarga pun saya pakai kaos kebanggaan.
    Mungkin gak sevariatif mas Budi, saya cuman fokus kaos Rush & Queen

    • Budi Putra Says:

      Tos juga mas Danang…siiip deh.

      Sy beli kaos dr berbagai genre dan generasi: di mulai dr claro trus metal dan kini masuk utk menikmati prog (baru belajar)…hehe. Kaosnya hitam semua, dan baru belakangan beli warna putih dan lainnya krn diprotes sm istri dan anak:
      Istri: ” Dari jaman pacaran sampe punya anak dua, kaos kok hitam terus…”.
      Anak: “yah, nanti beli kaosnya warna putih dong…”
      Saya: “hehehe, iya deh.

      Begitu mas Danang, kaos rock jadi bagian hidup yg tak terpisahkan…hehehe.

      • danangsuryono2112 Says:

        sip mas Budi
        Ternyata kaos mambu kringet pun juga ada bursanya. Yang bikin saya nggumun, pernah ada kaos band lokal, yang kaos bekas pakainya laku 700 rb.
        Oh ya kaos ini pun juga bisa dipakai sebagai cara untuk melumerkan hati Calon Mertua…(sambil lirih lurah Blog gemblung)..xixixixixi

      • Budi Putra Says:

        Iya mas Danang, sy pernah tuh ditawarin kaos Giant Step sama Guruh Gypsi ktnya baru pake 2 bulan mau di jual…waduh gak lah…takut kena gatel2…hahaha. Tp sy pernah loh mas, iseng2 main ke pasar poncol. (sebelah stasiun senen) niatnya nyari kaset seken. Eh liat2 kaos, ada kaos kaos Howlin Wolf (blues man) dan Alice in Chains dg harga 30 ribu dua kaos…seneng bgt. Sampe rumah sy rendam berkali2, krn itu kaos2 bekas impor…hehehe. Yg Howlin Wolf msh ada tp udh bulukan krn sdh hampir 20 tahunan sy simpen…hahaha. Kalo Alice malah udh hilang. Di tangerang pernah juga dpt The Clash (impor) dg harga 15 ribu….

        Begitulah mas, kalo sdh hobby semangat utk wara wiri…hahaha.

  2. andria Says:

    saya juga seneng kaos hitam. dulu kuatnya cuma beli yg buatan C-59. ada juga hadiah lebaran dari kakak saya kaos Ozzy osbourne buatan Thailand. sampai sekarang msh blm saya pakai. saya pernah punya kaos Ozzy Osbourne buatan Dunia&Co Klaten (pak Herwinto pasti tahu) kaosnya sejuk kl dipakai tapi sayangnya kalah dgn jaitannya akhirnya robek, tapi gambar kelelawar Ozzy tetap saya simpan (itu buatan 1988). habis itu beli kaos Boston III Stage buatan dunia & Co juga di Podomoro Yogya dgn bahan lebih tebal tapi bukan katun. dulu maunya beli kaos impor di KotaMas Yogya, cuma kok mending utk beli kaset2 aja🙂

    • Budi Putra Says:

      Iya mas Andria, impor atau lokal soal selera dan kocek jg. Dulu waktu smp krn gak punya duit nyari kaos warna putih trus ditulis sendiri aja pake spidol band kesukaan…hehehe.

  3. andria Says:

    sebenarnya kl bisa nyablon, dan itu mudah, akan lebih enak utk berkreasi sendiri membuat kaos. kebetulan saya pas smp ikut ekskul home industry jadi saat kuliah saya sempat juga mbuat, wl tak terlalu bagus

  4. Herwinto Says:

    Di Jogja Popeye juga jualan kaos, tokonya tepat disebelah toko kasetnya…tapi pintunya berbeda, jd harus keluar dari toko kaset trus masuk disebelahnya….komplit segala band ada…

  5. Budi Putra Says:

    Iya mas Yuddi knp merknya gak Prog atau Claro Edition gitu ya…hehehe. Itu mas Yuddi dan mas win, sy pernah iseng2 buka web nemu online shop namanya “progartees” khusus jual kaos prog buatan lokal. Sy liat desainnya keren2. Yg punya terlihat lg berpose dg kaos Yes…sy kontak eh udh gak produksi lg…sayang bgt. Pdhl sy incer Kansas dan KC.

    • Gatot Widayanto Says:

      malam ini saya keluar makan malam pake kaos Imanissimo yang dicontek the Flower Kings itu ….

      • Gatot Widayanto Says:

        Bagi saya ….kaos itu memang harus nama band kesukaan kita atau polos. Saya paling sebel dihadiahi oleh2 temen kaos gambar negara seperti Thailand atau Australia …. mau ditolak gak enak …

      • Budi Putra Says:

        Siip mas Gatot tambah keren deh…iya mas kok senengnya ya beli kaos nama negara..kmrn teman kasi kaos tulisan I love singapore, love malaysia…walah, sy dikasih males pakenya. Knp gak beliin kaos rock aja ya…hahaha

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas Budi,

        Kaos rock pun kalau band nya saya gak selera juga ogah pake …misalnya, dikasih kaos U2 (Bono) mbok dibayar sekalipun, saya juga gak bakalan pake. Tanpa bermaksud mencela atau menghujat …. Ini karena saya bukan penggemar U2. Dalam hal ini saya masih milih kaos “I Love Singapore” atau “I love sego pecel Mediun” tinimbang pake kaos U2 …. Juga Rolling Stones, meski grup rock. Mengapa? saya bukan penggemar RS meski beberapa lagunya saya suka dan saya salut sama band gaek yang bakalan manggung di Spore ini …

      • andria Says:

        pak gatot, kl ada yg memberi kaos U2 diberikan saya aja🙂

  6. cosmic_eargasm Says:

    Asyik sekali cerita pengalaman hunting t-shirt nya mas Budi. BTW, bbrp tahun yg lalu(mungkin sampai skrng) peredaran kaos musik import 2nd marak sekali. Keren2 dan harganya jg terjangkau, dari SRV, Jimi Hendrix, sampai band2 metal ada semua. Tp memang items tertentu kaos band metal yg sudah tdk diproduksi lg harganya bs gila2 an, malah jauh melesat seperti yg dikatakan mas DananG. Ada lho kaos bekas seharga 2-7 juta. Tapi laku juga. Yg jual dan yg beli sama2 maniac nya. Biyuh2! =

    Thanks juga tulisan sejarah t-shirt nya yg sangat informatif sekali🙂

    ::: You Rules! :::

    “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

  7. Lutfi Says:

    Kaos yang nuansamatik sampai saat ini ada tiga yang sering saya eman-eman:
    1. kaos konser tribute to YES ‘An Evening of YES Music Plus’
    2. kaos Montecristo, beli saat mereka manggung di Bentara Budaya gedung Kompas
    3. kaos Genesis-an ala Bhawikarsu hahaha … keren dan limited. Made in Arek Malang.

    Kata om Yockie S., “Musik saya adalah saya”, maka kaos saya adalah saya:D

    Kok Paguyuban Gemblungers Music for Life gak bikin kaos ya?tulisan sudah ada kan di header hehe …

    • Gatot Widayanto Says:

      Wah Bro Lutfi sudah di tanah air? Semoga perjalanan umrohnya benar2 barokah dan penuh rahmat. Aaamiin.

      Saya masih sering pake kaos YES yang nomer 1 itu … he he he …

      • Lutfi Says:

        Alhamdulillah sudah tiba dengan selamat, mas G. Sangat berkesan kegiatan ‘Journey to the center of the earth’-nya.

        Aamiin …

        Wah kalo kaos Yes yang itu langka hehe …

  8. beni Says:

    pake kaos band itu sangat keren tiada tara hehe..kaos band second asli jg masih mahal apalagi yg udah rare pokonya tiap liat yg jual kaos band yg diinginkan ampun ga kuat dah…salken mas budi

  9. yonde Says:

    Saya punya kaos band luar negeri,tag anvil,tapi tak ada lisensinya,apa itu palsu??

  10. Hitbandit Says:

    Gile banyak bener koleksi kaos band-nya😀
    Btw kaos produk lokal sekarang semakin bagus kok kualitasnya, soalnya bahan yang sama seperti kaos gildan maupun tinta yang bagus sudah mudah didapatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: