The 40-Year ProgGraphy (2 of 40)

Periode Lima Tahun Pra-Prog 

The 40-Year ProgGraphy Pra-Prog 2 of 40

Pada periode sebelum saya mengenal musik yang kemudien populer dengan sebutan prog, selera musik saya sangatlah biasa dan seperti umumnya orang lain. Namun bila dibandingkan dengan temen-temen saya sebaya saat itu saya lebih gila dalam menyukai musik. Saat itu memang saya selalu menandai hari-hari saya dengan mendengarkan musik, terutama dari radio karena memang saya belum kenal kaset atau pemutarnya. Di Madiun ada dua radio swasta resmi yakni Moderato dan Gabriel plus RRI. Saya menikmati musik ya dari radio listrik merek GE yang kemudian diupgrade ke radio “transistor” merek Ralin. Hebat juga tuh kalau dari segi ukuran terjadi perubahan drastis karena radio GE besar sekali plus “salon” (loudspeake) yang ukurannya besar seperti koper besar. Sedangkan radio Ralin hanya berukuran sebesar batu bata merah. Ciri khas siaran radio saat itu adalah saling kirim lagu dan selalu dengan tagline “Dengan ucapan ….” …ha ha ha ha …jadulsonik nostalgik tenan!

Radio yang saya sering setel adalah Moderato dimana radio ini pulalh yang akhirnya sering memasang intro Child In Time di saat menjelang relay siaran berita dari Radio Republik Indonesia. Dari radio ini pula saya mengenal Koes Plus, Koes Bersaudara, Panbers, NoKoes dan sebagainya. Lagu yang saya suka saat itu “Kelelawar” yang karangan almarhum Murry. Saya suka karena drums nya kayak kotekan “Dhuk tak dhuk …Kelelawar sayapnya hitam!” ….

Musik dan Sepeda Jengki

Saya lupa tepatnya tahun berapa gitu, pokoknya saat saya sering ikut Pramuka setiap hari Minggu, ibu saya dengan baik hati membelikan sepeda jengki laki-laki merek Forever warna hijauDSC_0018tentara. Waduh edan! Saya suwenengnya setengah modar mendapat hadiah sepeda dari ibu saya ini. Rasanya masih kelas 5 SD saat itu. Di Madiun saat itu memang lagi ngetren sepeda mini. Sebenarnya saya minta sepeda mini karena sexy: sadelnya panjang terus di belakangnya ada sandaran. Jadi, bisa buat boncengan seperti orang naik motor. Keren deh! Namun ibu saya secara bijak menolak halus dengan pertimbangan bahwa kalau sepeda mini itu gak akan lama kepake dengan beranjaknya saya menjadi lebih dewasa. Saya kuciwa, tapi sebenarnya ibu benar sih. Sebenarnya sepeda jengki juga ngetren di tahun sebelumnya karena saat itu sebenernya sepeda yang dikenal orang hanya sepeda unta (di madiun disebutnya sepeda “Cap Tank”) dan ibu sebenarnya sudah punya peninggalan dulu merek Gazelle yang buatan Belanda. Tapi saya gengsi pake Gazelle karena kesannya tua gitu…ha ha ha ha … [Kisah mengenai permintaan saya ke ibu terkait sepeda mini, silakan baca disini ]

Saya senang sekali dibelikan sepeda jengki Forever ini dan saya merasa gagah kalau sedang mengonthelnya. Saat itu memang yang tren sepeda jengki merek Phoenix, Asia Bike atau Sim King. Bagi yang naik sepeda jengki, rasanya punya kelas beda, begitu kira2 … ha ha ha … Sedangkan yang pake sepeda Fongers, Gazelle atau lainnya dianggap kuno alias ketinggalan jaman …. Dengan sepeda jengki itulah saya sering melanglang buana seputar Madiun bahkan pernah sampai Nganjuk (jarak 50 KM dari Madiun). Yang lebih senang lagi, saya selalu semangat karena sambil gowes sambil nyanyi atau senandung Bunga Di Tepi Jalan, Kelelawar, Diana, Main Belakang, Nusantara, bahkan beberapa lagu “barat” seperti The Cats dan The Beatles sebangsa Hey Jude dan Don’t Let Me Down (cocok sekali ya …sambil gowes nyanyi lagu ini ….serasa semakin lengket dengan sadel sepeda)….

Pada era yang sama itu pula saya sering nangkring nebeng baca buku di undak-undakan rumah paviliun di Jl Sumatra 26, Madiun. Ya, rumah kami ada Paviliunnya dan ditempati oleh keluarga Paklik Djajadi (purnawirawan) yang memiliki lima orang anak, semuanya putri. Waktu itu saya terbilang dekat dengan mbak Wati (kira2 dua tahun di atas saya) yang merupakan anak kedua dari Paklik / Bulik Djajadi. Nah, keluarga ini paling suka koleksi buku2 komik wayang karya RA Kosasih, yaitu Mahabarata, Barata Yudha dan Parikesit. Saya rutin membaca komik-komik tersebut terutama Mahabarata dan Barata Yudha yang kisahnya sangat menyentuh hati dan membekas sampe sekarang. Lucunya selagi baca, saya sering senandung lagunya The Cats “Lea” dan “I’ve Got To Know What’s Going On” sambil menghayati alur cerita Mahabarata. Saya tak perlu uraikan panjang lebar karena pernah saya ulas di blog gemblung ini.

[Kisah terkait Mahabarata dan musik 70an ini saya pernah ulas disini dan juga disini ]

Disunat dan Kenal Uriah Heep 

Pada saat saya libur sekolah di kelas 6 SD saya mengunjungi Jakarta ke rumah tante saya di Tebet Barat dimana kakak saya mas nDoet dan mas Jokky tinggal. Yang membuat saya terkesan adalah 220px-Deep_Purple_-_Fireballadanya kaset rekaman Remaco bertajuk Deep Purple yang ternyata album Fireballs. Saya hanya inget ada satu lagu yang nunjek ulu ati dan saya suka sekali lagu tersebut yakni “Fools”. Gila ….lagu ini keren banget. Ngerock abis! Saya suka bagian interlude dimana hanya ada suara Hammond dan gebukan drums nan indah. Wis ….rasane gagah tenan! Itulah kali pertama saya njegrak rambut terpesona dan kepincut dengan musik rock. Keren banget dah lagunya … apalagi di segmen yang ada tereakan Gillan : “There can be bad blood in all and I can see. It’s in my brain…” dinyanyikan dengan penuh aksentuasi. Kerrreeennn …..!  Apa lagi bagian ini: “Man is not my brotherhood” ….WHOOOOAAAAAA….. serasa tuob tenaaannn!!!

Selain itu juga saya senang lagu “I Can Feel Him In The Morning” dari Grand Funk Railroad yang GrandFunkSurvivalpertamanya saya suka karena ada dua anak kecil berdialog dan suaranya terpisah speaker kanan dan kiri. Memang saat itu sedang tren teknologi STEREO. Edan tenan …saya suka lagi ini meski gak ngerock amat. Saya rasa dua lagu inilah yang membawa saya ke ranah musik hingar bingar.

Pada saat kelas 1 SMP saya disunat sama Mantri sunat paling top di Madiun, namanya Pak Djoremi. Biyuh …saya takut …lha manuk nggo dalan uyuh kok dikethok (dipotong – red.) kulite …. Tapi seneng juga karena hasil akhirnya nanti bentuknya bagusan, ada helem-nya dibandingkan bentuk kuncup yang suka sulit membersihkan kalau abis pipis …ha ha ha ha ha … Saya ke rumah pak Djoremi pagi hari jam 6:00 diantarkan oleh mobil kuno milik pak Parto yang tinggal di seberang rumah kami di Madiun. Selain itu juga ada pak Sudjio. Rumah pak Djoremi di depan terminal bus Madiun, terusan jalan Thamrin. Alhamdulillah sesi pemotongan kulit manuk berjalan lancar.

Sorenya saya mendapatkan kunjungan dari kolega ibu saya dan tentu ada angpo nya. Ternyata semua angpo terkumpul sekitar Rp. 23.000,- (dua puluh tiga ribu rupiah). Tanpa pikir panjang, besoknya dengan diantar kakak saya, mas Henky dan Ibu, uang tersebut kami belanjakan sebuah Tape Recorder (automatic stop) merek National Panasonic, warna abu2. Waduh! Hati saya melonjak girang! Masalahnya kemudian: apa yang mau diputar, wong belum punya kaset? Ha ha ha ha ha ha ha ….. Untungnya mas Henky berbaik hati memilihkan enam kaset buat tape recorder kami yang baru. Enam kaset tersebut semuanya dibeli di Toko Miraco, termasuk :

  • Uriah Heep “Demons and Wizards” rekaman Starlite dan side B nya Khan “Space Shanty” dua lagu dan ditambah dua lagu dari Lucifer’s Friend “Where The Groupies Killed The Blues” dimana ada lagu berjudul Hobo nan nuansamatik kemlitik tenan.
  • Deep Purple “Who Do We Think We Are?” rekaman Nirwana dengan lagunya yang top “Woman from Tokyo”
  • Santana (lupa album apa, yang jelas ada lagu “No One to Depend On” ….. I got nobody JRENG! That I can depend on …dhuk dhuk jreng!!!!
  • Koes Plus “Bunga Di Tepi Jalan”
  • The Gembel’s (side B nya The Mercy’s)
  • Satu lagi lupa kaset apa …mungkin El Chicano.

Nah …inilah tonggak bersejarah bagi kehidupan saya menyukai musik rock secara utuh. Sejak 220px-Demons_and_Wizardssunatan itulah tiap hari saya dan mas Henky nyetel kaset Uriah Heep tersebut. Biyuh! Musiknya sungguh indah membahana dimulai dengan petikan gitar akustik Mick Box dan alunan vokal jernih David Byron …”He Was the wizard of the thousand kings ….” mak JUEGLERRRRRR ….hati saya langsung kesedak setiap mendengar intro dan bagian ini …hingga kini choy! So damn powerful this song is! Apalagi di bagian ketika drum mulai masuk DHUK DHUK DHUK …THAK DHUK DHUK JRENG! Whooooaaaaaa……nggulung koming tenan aku!

Yang juga saya suka, satu album semua lagunya enak dan urutannya sangat mematikan dan kami jadi apal urutan lagunya. Setiap nyetel kaset ini, selalu sampe abis kasetnya …ngentek pok tanpa ada interupsi di tengah kaset. Sungguh nikmat sekali. Karena saking seringnya nyetel kaset ini, ibu kami pun kenal band ini dan sering bilang kalau suatu hari saya mau nyetel tape: “Uriah Heep Tot …”, pesan beliau ….

(insya Allah bersambung)

Saya tambahkan lagi…

Pada periode ini pula saya mulai suka membawa tape recorder berpindah tempat dan sekaligus membawa kasetnya. Yang jelas, sejak punya National Panasonic saya jarang nyetel radio karena sedang keranjingan dengan Uriah Heep, Deep Purple, Santana, Koes Plus, Gembels, The Mercy’s dan juga El Chicano. Kaset Starlite berisi Uriah Heep itu sudah menjadi menu harian dan saya sangat suka sekali petikan gitar akustik Mick Box mengawali The Wizards nan nuansamatik tenan itu. Saya juga sering menirukan gaya nyanyi lagu2 Uriah Heep misalnya dengan Traveller In Time yang ditengahnya ada gebrakan suara drums, saya tirukan seolah saya ini Lee Kerslake. Wuih! Keren tenan! Selain itu ibu saya suka dengan Circle of Hands yang organnya menyayat hati itu ….

9 Responses to “The 40-Year ProgGraphy (2 of 40)”

  1. Edi Apple Santoso Says:

    lha komik asmaraman sukowati kho ping hoo sing nyewo ndhik persewaan komik, gak kecrito mas …..

  2. Budi Putra Says:

    Membaca ulasan mas Gatot, sy jd ingin mengutip kata2 dalam buku Bumi Manusia karya sastrawan terkemuka Pramoedya Ananta Toer: “Dalam hidupku, baru seumur jagung, sudah dapat kurasai: ilmu pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya”.

    • cosmic_eargasm Says:

      Wah keren banget nih kata mutiara dari penulis hebat kita. Bung Pram ini dulu di sia-sia di negara kita, namun malah mendpt penghargaan di luar negeri.

      Thanks mas Budi.

      “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

  3. gt Says:

    Lagi enak2nya baca,koq bersambung….hehehe..

  4. wahyu Says:

    yang antik antik itu sekarang mahal lo Pak….

  5. Gatot Widayanto Says:

    Ba’da Maghrib ini tadi saya manasin sayur brongkos masakan ibunda tercinta ….sambil nunggu sayur panas, saya nyetel Demons and Wizards pake Media Drug … wah asiiiik pol!!! Nuansamatik sekali … Pas bagian Traveller In Time kok saya tiba2 semangat banget ya …. Liriknya juga kerren …

    Every day I have to look to the sun
    To see where it was that I have come from
    I have a feeling that there must be a time

    When I’ll get a chance to go home
    ‘Cause I’m so tired of being here alone
    But Im just a traveller in time
    Trying so hard to pay for my crime

    If I could go back the same way I got here
    And see the people that I once held so near
    I’d do my best to find an answer for you

    But first I must wait till I’m set free
    And I don’t know how long that’s gonna be
    ‘Cause I’m a man with a whole lot on his mind
    Just out there somewhere travelling in time

    Travelling in time
    DHUK TAK DHUK …DHUK TAK …
    Travelling in time ….
    Yeeeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh!!!

    Terus kibornya asik ..

    I’ve tried for so long to find
    Some way of helping mankind

  6. cosmic_eargasm Says:

    Asyik sekali cerita sekuel ke 2 dari mas GW ini. Benar kata Pak GT, saking asyiknya baca eh kepotong dgn ‘bersambung’😀

    Waaah ‘The Wizard’ nya Uriah Heep sampai skrng menjadi top playlist sy mas. Biasanya langsung sy sambung dgn ‘The Wherefore’s and the Why’s’ nya Toe Fat (pra Uriah Heep) dan ‘Seaful’ nya Trapeze yg nuansamatique itu. Ditambah ‘Lonely Ship’ dari Weed makin sempurna. Dijamin menikmati 4 nomor tsb bakal ngguweblak mas🙂

    kalo GFR ya apa lg kalo bukan ‘Someone’ dan 1 lg ‘Sally’. Lanjut mas..

    ::: ProgGraphy Rules! :::

    “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

  7. Lutfi Says:

    Duh mas G, Gazelle nya sedekahkan ke aku aja dech. Siap dirawat hahaha …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: