Biografi Donny Fattah: 40 Tahun Bersama Godbless

Budi Putra

image

“Kenapa tadi pindah-pindah melulu, Yan?” “Ini, tadi di samping kok kayaknya panggung agak miring, Don. Terus gue pindah kebelakang, lha kok masih miring juga. Pas gue liat, ternyata hak (sepatu) gue copot sebelah,”

Sederet cerita lucu dan kisah sedih tertuang dalam buku biografi Donny Fattah 40 Tahun Dalam Godbless, Bersama Godbless, Untuk Godbless. Perjalanan Donny Fattah bukan hanya sebagai musisi, tetapi sebagai seorang suami. Sebagai seorang ayah. Sebagai seorang sahabat. Sebagai insan dengan jalan hidupnya yang penuh warna dan berliku.

Buku biografi yang ditulis oleh Asriat Ginting, secara detail memotret kisah hidup sang bassis dari tahun ke tahun melalui tutur bahasa penulisan yang sederhana namun enak untuk dibaca. Buku setebal 207 halaman ini juga dilampirkan foto-foto Donny Fattah saat bersama Godbless serta orang-orang terdekatnya.

Donny Fattah lahir di Makassar, tepatnya di rumah sakit Goa, dengan nama Giddon Patta Onoa Gagola. Sebagai anaka pertama dari delapan bersaudara. Ayahnya adalah seorang anggota ABRI (sekarang TNI), yang kerap pindah tugas. Walaupun dari keluarga militer darah seni rupanya mengalir pada keluarga ini. Donny sendiri menguasai gitar, piano, akordeon, flute, yang dipelajarinya secara otodidak. Menurut Donny walaupun ayahnya mendidik dengan disiplin tinggi, tapi ayahnya juga memperhatikan kesukaan anak-anaknya pada musik. Bahkan band keluarga (IYAMBA) yang terdiri dari anggota keluarga, Donny, Rudy, dan sepupunya, Yanto adalah berkat dorongan sang ayah. Bahkan untuk nama band (IYAMBA) berasal dari usulan ayahnya. Setelah IYAMBA, Donny kemudian membentuk Venus yang memainkan lagu-lagu The Beatles yang jadi tren pada masa itu.

image

Perjalanan bermusik Donny selanjutnya pada saat bergabung dengan Fancy yang memainkan lagu-lagu Led Zeppelin. Mereka rajin manggung di acara-acara perpisahan SMA, pesta ulang tahun, pernikahan, dan mulai mendapat honor yang sebagian dia gunakan untuk membantu ibunya. Melalui Fancy Donny berkenalan dengan Fuad Hasan yang sudah lebih dulu terkenal. Namun di Fancy inilah secara tidak sadar Donny mulai bersentuhan dengan morfin, LSD, dan obat-obatan lainnya. Menurut Donny, penggunaan barang-barang terlarang itu sebab pengaruh popularitas dari band-band dunia seperti The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin dan lain-lain.

Pasca Fancy, Donny bersama Yockie Suryo Prayogo membentuk Zonk yang biasa memainkan lagu-lagu Procol Harum, Spooky Tooth dan sejenisnya. Setelah periode ini Donny sering diajak Fuad Hasan untuk ngeband bersama. Kadang bersama Enteng Tanamal, Idris Sardi, Jopie Item, Rully Johan dan lainnya antara tahun 1971-1972. Pada periode inilah melalui Fuad, Donny kenal dengan Ahmad Albar (Iyek) yang baru pulang dari Belanda. Saat itu Iyek datang bersama temannya, Ludwig Lemans seorang gitaris. Di Belanda Iyek sudah punya band bernama Clover Leaf dan sempat mempunyai satu album.

Sejak itulah mereka mulai berlatih bersama dengan materi lagu-lagu Focus, James Gank, Edgar Winter, Rare Earth, Frank Zappa, Led Zeppelin dan sebagainya. Personilnya terdiri dari Iyek (vocal), Donny (bass), Fuad Hasan (drum), Ludwig (gitar) dan Deddy Dores (keyboard). Namun karena kesibukan Deddy sebagai personil Rhapsodia posisinya kemudian digantikan Yockie Suryo Prayogo.

Terbentuknya Godbless

Awalnya mereka menamai band mereka Crazy Wheels kemudian berubah menjadi Godbless. Ide nama Godbless didapat dari selembar kartu natal yang bertuliskan “God bless you.” Itu terjadi pada saat Donny, Fuad, Mia (Camelia Malik)—Iyek sedang dikamar mandi—saat bertandang kerumah Ahmad Albar. “Udah deh kita ganti aja namanya jadi God Bless,” demikian ucap Fuad saat itu. Maka sejak hari itu, nama Crazy Wheels resmi berubah menjadi Godbless. Show pertama Godbless adalah di Taman Ismail Marzuki, pada tanggal 5 Mei 1973, dengan formasi Ahmad Albar (vocal), Ludwig Lemans (gitar), Fuad Hasan (drum), Yocky (keyboard), dan Donny (bass). Tak lama setelah itu, tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1973, Godbless kembali naik panggung dalam acara musik SUMMER ’28 yang merupakan akronim dari Suasana Meriah Menjelang HUT Kemerdekaan RI ke 28. Acara yang mirip Woodstock ini digelar di Ragunan, menampilkan band-band papan atas Indonesia seperti Koes Plus, Panbers, Rollies, Gank Of Harry Roesli, AKA dan banyak lagi lainnya.

Sayangnya Yockie tidak lama bergabung dengan Godbless karena keterlibatannya dengan narkotik, sehingga posisi keyboard kembali diisi oleh Deddy Dores. Padahal saat itu sempat membuat album rekaman dibawah bendera The Road. Maka jadilah Godbless rekaman lagu-lagu pop dibawah bendera The Road (minus Iyek). Walaupun tak ada satu pun lagunya yang nge-rock namun itu menjadi pengalaman yang berharga buat Godbless. Cerita lucunya, ada satu lagu berirama keroncong dalam rekaman The Road tersebut, yang berjudul Cinta Pelarian. Dalam lagu tersebut, yang memainkan gitar bukan Ludwig karena ia tidak bisa ‘sentilan keroncong’ kata Donny, lucu juga kalau mengingat Lugwig, yang di Belanda sering disejajarkan bersama George Kooymans (Golden Earring) maupun Jan Akkerman, kebingungan saat disodori lagu keroncong.

Bersama Deddy, Godbless sempat juga tampil dalam film Ambisi, membawakan dua lagu Free Ride (Edgar Winter),dan Persembahanku (saduran dari lagu milik The Beatles) berjudul I Will yang diberi lirik bahasa Indonesia. Satu kelebihan Godbless saat itu selain skill individu yang baik, penampilan kostum menjadi daya tarik tersendiri. Padahal pada peralihan Orde Lama ke Orde Baru, penampilan rambut gondrong, celana cutbray, kemeja ketat, masih belum terbiasa bagi kalangan generasi tua termasuk anggota ABRI. Rambut gondrong masih dianggap bajingan (cross boy) akibatnya sering terjadi razia pada anak-anak muda yang bernampilan nyentrik tersebut. Celana di gunting, rambut dipotong asal-asalan sampai pitak, sepatu diambil, disuruh pulang jalan kaki. Hal-hal itu terjadi sampai tahun 1972.

Di penghujung tahun 1973, cobaan pertama datang menerpa Godbless. Permohonan visa Ludwig Lemans ditolak, karena sebelumnya ia telah memperpanjang sebanyak dua kali. Padahal saat bersamaan tawaran manggung untuk Godbless mulai berdatangan. Deddy Dores kemudian menggantikan posisi Ludwig pada gitar dan untuk posisi keyboard digantikan Soman Lubis yang saat itu masih kuliah di ITB. Sebelumnya Soman sudah lebih dulu dikenal bersama The Peels dan Shark Move. Gaya permainannya mirip Keith Emerson (ELP). Bersama Soman Godbless melangkah pasti sampai terjadinya tragedi itu…

Pada saat persiapan latihan di Pegangsaan motor yang ditumpangi Fuad Hasan dan Soman mengalami kecelakaan di Pancoran. Motor yang dikendarainya menabrak truk tronton. Fuad tewas dilokasi kecelakaan dan menyusul Soman meninggal malamnya di rumah sakit Pelni. Peristiwa kecelakaan ini digambarkan Donny dengan sangat menyayat hati.

Kehilangan Fuad dan Soman dan kepergian Ludwig jelas sangat memukul Godbless, sementara Godbless vakum latihan karena masih dalam suasana berduka. Iyek sibuk mengurus pemakaman Fuad Hasan, yang kebetulan masih ada hubungan saudara dengannya. Padalah saat itu Godbless sedang ada kontrak dua kota di Jawa Timur, yang terpaksa dibatalkan. Barulah setelah suasana duka mereda Gobless mulai aktif kembali dengan bantuan Nasution Bersaudara, Keenan, Odink, Debby, hingga bergabungnya Ian Antono dan Teddy Sujaya (Bentoel Band) mengisi posisi gitar dan drum. Formasi inilah menurut Donny yang paling solid sampai tersiar kabar Deep Purple akan show di Indonesia pada akhir 1975.

Menurut Donny, kehadiran Deep Purple telah membawa revolusi dalam pentas musik rock di Indonesia. Godbless juga mempelajari kesempatan emas itu untuk mempelajari segala teknis dan manajemen bermusik, mulai dari mengeset peralatan musik, dan sampai pada settingan panggung. Walau ada harga untuk semua itu, honor yang diterima Godbless tidak pernah utuh karena digunakan untuk kebutuhan menyewa lighting, sound system dan lain-lain. Namun hal itu sebagai upaya Godbless untuk menjadi band rock nomer satu di Indonesia.

Album Godbless

Menurut Donny, ide untuk merilis pertama kali tercetus dari Fuad Hasan. Ia sangat ingin punya sebuah band yang memiliki identitas, bukan hanya sebagai band pengiring di mana sebelumnya ia bermain, seperti Zainal Combo. The Pro’s dan lain-lain. Namun saat itu belum terkumpul materi untuk sebuah album. Namun keinginan untuk memiliki album mulai nampak ketika Ian Antono dan Teddy Sujaya dan Yockie bergabung di Godbless untuk menempati posisi yang ditinggalkan Nasution Bersaudara.

Bermula dari tawaran untuk membuat lagu soundtrack film seperti, Huma Di Atas Bukit dan Sesat untuk film Laela Majenun, lalu Setan Tertawa untuk film Semalam Di Malaysia, yang semua liriknya dibuat oleh almarhum Sumandjaja. Atas usulan Pak Suryoko pemilik Aquarius, jadilah ketiga lagu itu masuk kedalam album perdana Godbless. Sisanya adalah Rock Di Udara dan She Passed Away dikerjakan Donny bersama Iyek. Lalu Gadis Binal yang diciptakan Ian Antono. Keenam lagu ini muncul dalam bentuk piringan hitam album perdana Godbless. Sedangkan untuk versi kasetnya, ada tambahan dua lagu cover version dari The Beatles (Eleanor Rigby), dan Easy Beats (Friday On My Mind). Walaupun banyak kendala menyertai rekaman album perdana Godbless yang direkam di studio Tri Angkasa di Jalan Hang Lekir, Kebayoran rampung juga. Setelahnya Godbless kembali disibukkan dengan jadwal show yang padat sehingga secara otomotis tak ada lagi masuk dapur rekaman.

Setelah album perdana Godbless kemudian melalui Teddy Sujaya mendapat tawaran dari JC Records untuk menggarap album kedua, Cermin. Studio pun segera disiapkan. Waktu itu bila tidak salah adalah studio Gelora Seni yang letaknya disamping duta Merlin. Bebrapa lagu yang disiapkan diantaranya yang diciptakan Donny seperti Anak Adam, yang merupakan komposisi terumit dalam album ini. Anak Adam sudah dibuat Donny sejak 1978. Lagu kedua yang diciptakan Donny adalah Ingat, yang bernuansa religi.Setelah itu, lagu berikutnya adalah Cermin. Sedangkan Ian menyumbang lagu Selamat Pagi Indonesia, Balada Sejuta Wajah dan Sodom Gomorah, dan Abadi Soesman menciptakan Insan Sesat. Namun materi lagu yang terkumpul masih kurang dua lagu lagi. Lagu Tuan Tanah yang bernuansa acapella diciptakan Ian. Sedangkan satu lagi yang diciptakan Donny ialah Musisi.

Saat album Cermin dirilis oleh JC Record pada 1979 (rilis ulang tahun 1984 oleh label berbeda yaitu Billboard), animo penikmat musik Indonesia seperti kurang antusias menyambutnya, alias album Cermin tidak laku. Mungkin karena yang sedang booming saat itu adalah pop kreatif, sedangkan music yang ditawarkan Godbless cenderung ke progressive rock yang kurang bersahabat di telinga mereka. Barulah 20 setelah beredar, album ini diburu, bahkan di Malaysia album Cermin malah lebih bisa diterima penikmat musik disana.

Why Did You Runaway, Donny?

Kebesaran Godbless tidak lantas membuat Donny teguh mengarungi kehidupan di jalur musik. Keraguan menghinggapi apakah sebagai musisi dirinya bisa menghidupi keluarganya. Di tengah keraguan itu kemudian Donny memutuskan untuk bekerja di Departemen Luar Negeri sebagai local staff di KJRI Houston (Texas) yang baru saja diresmikan—kebetulan saat itu ayah Rinny (mertua Donny) bekerja di Departemen Luar Negeri. Perubahan gaya hidup dari seorang musisi menjadi seorang diplomat membuat dirinya merasa tertekan. Untuk menghilangkan rasa itu pada saat selesai pulang kantor Donny keluyuran di bar-bar yang menyajikan musik rock. Di bar-bar itulah Donny berkenalan dengan musisi-musisi rock seperti Van Halen, Ratt, Quiet Riot, dan lain-lain yang saat itu baru mulai berkarir.

Dengan visa A2 yang dimiliki Donny mendapat prioritas dan kebebasan yang tidak bisa diperoleh visa biasa. Akses inilah yang kemudian dimanfaatkan Donny untuk lebih jauh berkenalan dengan musisi besar yang dulu diidolakannya seperti Paul McCartney, Geddy Lee (Rush), Chris Square (Yes) dan Mike Rutherford (Genesis). Di Amerika, Donny banyak bergaul dengan musisi dan perkenalannya para musisi tersebut membuka mata betapa kerasnya persaingan sesama musisi disana. Bahkan band sekelas Van Halen pernah makan roti dibagi empat. Itu terjadi saat mereka baru saja meniti karir. Beberapa tahun setelah itu mereka merambat naik menjadi salah satu super grup internasional.

Dalam kesempatan lain band Autograph sempat menawari Donny untuk menjadi bassis mereka namun karena posisinya sebagai staf KJRI maka tawaran itu tidak berlanjut apalagi manajer band meminta Donny untuk total bermusik. Perkenalan yang paling berkesan dan tak terlupakan bagi Donny adalah saat bertemu dengan Geddy Lee (Rush). Di rumah Geddy Lee, ia banyak mendapat pelajaran berharga sebagai seorang musisi. Dalam perjumpaan dengan Geddy Lee, Donny menggambarkannya sebagai berikut:

“Di malam kedua aku menginap, Geddy memanggilku lalu memutarkan salah satu album Rush. Di album tersebut ada sebuah lagu yang menurutku sangat aneh, yang ia putarkan sampai 8 kali. Aku sempat terheran melihat ulahnya. “Ngapain nih lagu diulang-ulang terus?” tanyaku dalam hati. Namun pada saat Donny menunjukkan kalau itu adalah piringan hitam music Jaipongan. “This is your music, man,” ucap Geddy. Aku benar-benar malu!

Ada satu lagi yang begitu tertanam dalam benak Donny, yaitu saat memperlihatkan kliping berisi show-nya bersama Godbless. Saat itulah Geddy baru mengetahui kalau Donny juga adalah bassis dari sebuah supergrup, walau cuma di Indonesia. Geddy nampak begitu serius melihat foto-foto itu bersama Godbless dan mendengar kisah-kisah yang dituturkan. Sampai kemudian Geddy berucap “Why did you runaway, Donny?” bagai disambar geledek Donny mendengarnya. Pertanyaan itulah yang kelak berulangkali Donny renungkan, sampai akhirnya membuka mata hatinya bila yang tengah dijalaninya bukanlah dunianya. Bukan lah kata hatinya. Bahwa dirinya terlahir untuk menjadi seorang musisi.

Pada akhirnya Donny memutuskan untuk kembali menekuni profesinya sebagai seorang musisi dan kembali bergabung dengan Godbless pada saat ia kembali ke Indonesia dalam rangka cuti kerj.

Keputusan yang diambil Donny untuk kembali ke jalur musik bukanlah tanpa konsekuensi. Berbagai aral menghadang ditengah perjalanan, hingga membawanya pada satu peristiwa yang menurut Donny sebagai titik balik kehidupanya ketika ia mengalami serangan jantung.

Pada akhirnya buku ini ditutup dengan kesaksian sahabat-sahabat dekat Donny seperti Ahmad Albar, Ian Antono, Teddy Sujaya, Yockie Suryo Prayogo, Eet Sjahranie, dan buah hatinya, Iman Fattah.

Alhasil Donny Fattah tetaplah seorang musisi legendaris yang mengabdikan dirinya bersama Godbless dalam kancah permusikkan (rock) di Indonesia dari masa ke masa yang tak pupus di gerus peradaban. Donny Fattah adalah inspirasi bagi kita semua karena sejatinya hidup adalah sebuah pilihan yang harus dilakoni dan diperjuangkan secara sadar dan bersama.

17 Responses to “Biografi Donny Fattah: 40 Tahun Bersama Godbless”

  1. wahyu Says:

    wah…..Pak Budi apakah bukunya sudah beredar? saya pengen beli nih..saya fans GB dan dari dulu sudah penasaran dengan kehidupan masing masing personilnya..

    • Budi Putra Says:

      Mas Gatot,
      Terimakasih sdh dimuat review singkat ini dan maaf ya tengah malam mengirim emailnya.

      Salam,
      Budi

      • Gatot Widayanto Says:

        Sama2 mas … Kebetulan saya pas akan tidur makanya segera saya posting ….Makanya jangan kaget kalau belum juga 30 menit mas Budi kirim ini tret sudah tayang…. tentu setelah saya baca terutama di bagian Why DiD You Run Away ….

        Suwun mas …

    • gt Says:

      Buku ini tersedia di kios Agus WM Blok M Square.

  2. Rizki Says:

    Mas Budi, tulisan yang sangat menarik, dan salut buat Donny Fatah dan Godbless
    Salam
    Rizki

  3. wahyu Says:

    apakah bukunya tidak didistribusikan ke Gramed atau toko toko buku lain?

  4. yuddi_01 Says:

    “Celana di gunting, rambut dipotong asal-asalan sampai pitak, sepatu diambil, disuruh pulang jalan kaki. Hal-hal itu terjadi sampai tahun 1972”
    >>>seingat saya thn ’72 razia semacam itu sdh tidak ada lagi, razia tersebut ada thn ’66an jaman akhir orde lama.

  5. hippienov Says:

    Walau hanya sekelumit/cuplikan dari biografi aslinya tapi sanagt luar biasa dan menarik kisah perjalan hidup/karir Om Donny Fattah. Aku malah gak tahu beliau sempat jadi diplomat di Amrik. Tahu berapa itu ya? Setelah album Cermin pastinya tapi pastinya tahun berapa aku ndak tahu…

    • Budi Putra Says:

      Iya setelah album cermin Donny Fattah memutuskan utk krj di KJRI Houston. Krn saat dia kembali ke Indonesia utk cuti dia memutuskan bergabung kembali dg Godbless, stlhnya rekaman album Semut Hitam dan bbrp tahun kemudia album Raksasa. Saat itu promotornya Log Zhelebour.

  6. gt Says:

    Koreksi sedikit ya,sepertinya AKA tidak ikut main diacara Summer 28.

  7. cosmic_eargasm Says:

    Dahsyat mas Budi. Sy blm pernah baca buku ini. Memang mantap sekali cerita bio Donny Fattah. Yg paling sy suka tentunya album God Bless pertama dan “Cermin” (walopun bnyk mengadaptasi lagu2 dari band2 Prog djadoel). Sayang sekali GB ini termsk band yg tdk produktif merilis album. ‘Friday on My Mind’ yg ngebeat itu juga pernah dibawakan oleh mendiang Gary Moore dgn versi lbh nge-Rock. ‘Eleanor Rigby’ pernah dibawakan oleh Esperanto dgn amat dahsyat sekali dan Stanley Jordan (gitaris Jazz yg memainkan gitar dgn teknik two-handed tapping dan tanpa dipetik maupun menggunakan pick).

    Dari buku ini yg paling asyik adalah pas Donny bertemu dgn Geddy Lee, dan memang sangat benar Geddy mengadaptasi jaipongan ke dlm lagu Rush di album “Presto” lagu side A pertama (lupa judulnya). Kalo Robert Fripp menyerap unsur gamelan di album “Discipline”. Tentang Clover Leaf setau sy tdk punya album, melainkan bbrp EP berisi 2-4 lagu yg dirilis dlm format PH. GB “Cermin” memang menurut sy paling hebat dan
    memorable sekali bagi sy. ‘Anak Adam’ dahsyat Prog nya dgn sisipan etnis Bali walopun ada bagian ‘Journey of Maria Borrn ‘Kansas. ‘Musisi’ sangat keren dan menjadi standart lagu utk even festival2 Rock. ‘Balada Sejuta Wajah’ dan ‘Panggung Sandiwara’ nuansamatique dgn ballad tune nya. ‘Selamat Pagi Indonesia’ jg tdk kalah keren. Namun album pertama jg asyik dgn ‘She Passed Away’ walo pd bagian interlude nya ada ‘Fifth of Firth’ nya Genesis. Kalo ‘Semut Hitam’ musik dan melodi vokalnya persis dgn ‘Going Crazy’ nya David Lee Roth. Namun sy tetap suka dgn GB yg merupakan band Rock legenda hidup Indonesia. PH GB “s/t” & “Cermin” sampai kini msh diburu para kolektor. Sayang sekali pd wkt kaset msh ada, “Cermin” tdk dirilis sehingga menjadikan harganya tetap tinggi di pasaran, meskipun yg edisi Billboard kotak tebal😦

    Selain itu, PH Bentoel Band jg msh diburu hingga kini. Utk lbh jelasnya ada Pak GT & Pak Alfie yg bs menerangkan detailnya.

    ::: Bravo Rock Indonesia Djadoel! :::

    “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

  8. riefky Says:

    kalau mau pesen bukunya di mana ya ,,, atau sudah beredar di mana saja ?

  9. Goy Says:

    Mas budi, saya minat untuk membeli bukunya. Kebetulan saya berdomisili di Semarang. Ada yg jual Semarang? Ataukah via online.

    yoga_arya@icloud.com
    Suwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: