Konser 40 Tahun Eros Djarot

Gatot Triyono

(Buka kapling dulu …sambil menunggu tulisan mas GT yang tadi malam menonton …)

 

27 Responses to “Konser 40 Tahun Eros Djarot”

  1. Edi Apple Santoso Says:

    wuennaaak …..

  2. Budi Putra Says:

    Mantap dah…

  3. apec Says:

    Jan ,wong2 sing nang blog ini pancen podo gemblunk lan edan ,lha tret durung nongol wis lgs ono komen ,ha…haa ..ha….iku artine wis saling nyambung pikirane macam telepati

    • Gatot Widayanto Says:

      Bro Apec,

      Yang penting kan diskusinya. Memang sebaiknya dan akan lebih sempurna bila ada artikelnya dulu , baru dibahas. Ya gak pa pa lah …pesen kapling dulu aja, sekalian memberi semangat ke mas GT yang nonton langsung dan juga ada foto-fotonya di FB beliau. Kita patut bersyukur punya temen2 sekaliber mas GT yang levelnya sudah bisa berkomunikasi langsung sama musisi / komposer (ada foto berduaan sama Eros Djarot). Opo ora top???

      • HERWINTO Says:

        Bahasa lebih jelasnya ini sebuah upaya memaksa seseorang untuk bikin tret….ha ha ha…..lha mbiyen aku iyo kok…mosok Megahnya Konser Yes belakangnya langsung ditodong (1 of 10) nek ora blog edan yo ra ono ha has ha ha….

      • Gatot Widayanto Says:

        Wakakakakak …Koh Win sudah pernah mengalami ya .. ha ha ha … Toh alhirnya bisa dan kuwereeeennn!!! Istilah kerennya “peer pressure” … ha ha ha ha ..

        Ayo mas GT …ditulis dong … Anda satu2nya eye witness lho … Kami gak ada yang nonton lho …

  4. andria Says:

    saya jadi ingat kakak kelas SMA yg bernama Jarot tapi dipanggil Jawul. suatu saat kok ya ada yg ingat Eros Jarot (si Jarot pas ada di situ juga) lalu langsung ada yg nyeletuk “kl gitu panggilannya Eros Jawul”

  5. gt Says:

    Saya komen disini saja,bintang nya konser ini,siapa lagi kalau bukan Berlian Hutauruk,tampil sebagai penutup konser …suaranya melengking tinggi membawakan lagu Badai Pasti Berlalu,diiringi musik Erwin Gutawa Okestra,merinding..dasyat.

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas GT,

      Yang dibawakan BPB versi asli atau versi Erwin Gutawa? Jujur aja saya mangkel sama versi Erwin Gutawa … njelehi. Lagu api dadi ajur … Aslinya lebih keren.

      • gt Says:

        Sepertinya versi asli,waktu Berlian nyanyi,sy betul2 terkesima dengan suaranya,padahal sudah tidak muda lagi ya..

      • Gatot Widayanto Says:

        Lagu-lagu yang dibawakan apa saja mas? Dan apa akan ada versi CD yang dilempar ke pasar nantinya? Barong’s Band nya gimana?

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas GT, apa Berlian Hutauruk ini dulu juga anggotanya Trio Bebek?

      • yuddi_01 Says:

        lho trio bebek kembar Ana-Ani anak FISIP UI + 1 org lagi, Ana-Ani ini sepertinya adiknya Roni Harahap dueeh🙂

      • cosmic_eargasm Says:

        Sama mas GW, sy kok dr dulu nggak suka dgn lagu lama diaransemen baru dgn format orkestra oleh musisi lokal ya. Kesannya memang njelehi, dan nggatheli kata mas Aan🙂 Bukannya nggak musical open-minded, tp hal tsb memang seperti itu yg sy rasakan dan jg memang nggak bisa diteori jg kok. Sama jg dgn Rock Mbeling yg kebanyakan tdk disukai oleh penggemar musik. Bahkan mungkin di muka bumi ini bs dihitung dgn jari yg suka Avant-Garde/Avant-Prog/Free Jazz/Free Form/Free Improvisation sampai Zeuhl dll. Tp anehnya sy kok malah suka🙂 itulah uniknya musik.

        ::: Vote for Avant :::

        “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

  6. gt Says:

    Seharusnya konser ini dibuat DVD nya,semoga….yg menarik lagi Band asal bandung The SIGIT,membawakan dua lagu karya Erros Djarot,lagu Kembalikan Masa Depanku dan yang satu lagi dari album Barongs Band….asyik,dengan aransemen mereka sendiri,terasa LZ nya..hehehe.

  7. gt Says:

    Yang ikut main, The SIGIT,Iwan Fals, Glen Fredy,Once,Marcel,Bunga Citra Lestari, Berlian Huaturuk,Alexia,diiringi musik oleh Erwin Gutawa Okestra…durasi konser sekitar 3 jam.

    • Aan Chudori Says:

      Mas GT, aku tambahin ya…ada juga Woro dan Eva Celia, Kikan dan Musikal Laskar Pelangi. Selain itu ada Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Riri Riza, Melly Goeslaw, Adib Hidayat (pimred majalah RS) hingga Usman Hamid ex. Kontras yang secara langsung memberi testimoni sebagai bagian dari acara tsb.
      Sebetulnya saya cuma pingin menikmati Berlian Hutauruk dan Iwan Fals, tapi karena acara ini merupakan perjalanan eros sebagai manusia indonesia, bukan sebagai musisi, maka repertoar yang dibawakan agak “njelehi” atau kata arek suroboyo “nggatheli”. Perjalanan Eros Djarot sebagai musisi, sutradara dan politisi.
      Artistik yg dibikin Jay Soebiyakto, tidak memanjakan penonton kelas sudra karena tidak disediakan giant screen. Mencoba untuk minimalis dgn background video mapping yg lumayan walaupun agak maksa dikit. Jay mencoba kasih kejutan dgn stage hidrolik ketika the SIGIT muncul.
      Dengan agak molor, setelah kelambu putih penutup stage di tembak video ttg preambule Slamet Rahadjo, Once membuka dgn tembang Penghuni Malam, kemudian Marcel, Woro, Eva dll saya agak lupa urutannya, diselingi testimoni secara langsung oleh Melly Goeslaw dll…lha dalam benak saya, masak sih hanya karena Mira Lesmana yg bikin script, keponakannya Eva bisa nyanyikan lagu Eros? Agak protes telinga saya ketika dia membawakan lagu Semusim, kok agak ditekak-tekuk nadanya hehehe…
      Ketika Iwan Fals pidato sebentar untuk jeda lagu kedua, ada quote menarik Iwan tentang pemilu…”…hati-hati jangan salah pilih. Hanya 5 menit salah, SIAL 5 tahun…” hehehe, ada penonton di belakang saya komentar “kita udah 10 tahun siaal…!”…
      Nah, yang agak njelehi ya ketika episode “politisi”, dengan menampilkan thema pembreidelan Tabloid Detik yg diawali oleh testimoni video Andy Noya…mungkin penggarapannya kepingin di-wol-wolin kayak Pink Floyd tapi malah kelihatan njelehi, terlalu panjang dan malah lebih bagus bikinan teater Gandrik yg biasanya pesannya lebih kuat tp bikin ketawa. Kikan dan Laskar Pelangi secara teatrikal sih maksudnya bagus, tapi karena kita yang nonton udah keburu terbius Badai Pasti Berlalu jadi kesannya malah mengganggu. Saya rasa ini antiklimaks karena justru ini lagu Eros yg belum dipublikasikan, audio naik turun pesan jadi gak jelas.
      Galau itu sirna ketika Berlian Hutauruk tampil. Melengking. Bikin merinding. Tanpa bermain-main dengan memaju-mundurkan mike, suaranya bikin hampir semua penonton “standing ovation”.
      Dari sisi yg datang, terus terang bening-bening, seleb hingga mentri, sosialita dan orang biasa penganut blog gemblung ini. Semua wangi wangi, hanya yg saya lihat cuma Butet yg tampil seperti Butet sehari-hari. Ada karangan bunga dari Megawati yg oleh beberapa kalangan diartikan bahwa Eros udah gak ambeg2an ama mbak Mega….lha wong enak2 main band kok nyobak dadi politisi…yowislah, emang itu perjalanan Eros Djarot yang harus kita hormati.
      Yang jelas, saya puas dengan Berlian Hutauruk dan penampilan The SIGIT walaupun sedikit ada gangguan audio di awal penampilannya. Karena Eros Djarot pingin cerita tentang perjalanan hidupnya, maka episode “politisi” yg njelehi tadi agak kita maklumkan. Badai Pasti Berlalu tetap album yang inspiratif. Top.
      Demikian mas GT tambahan sekalian curhat saya ini…

      • cosmic_eargasm Says:

        Mas Aan, thanks banget utk liputan khususnya menonton pagelaran akbar tsb. Luar biasa mantap bin dahsyat mas, sy seakan menonton lgs konser tsb. Ditunggu tulisannya mas Aan yg pasti keren.

        Thanks!

        ::: You Rules! :::

        “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

    • Gatot Widayanto Says:

      Wah ..tambahan mas Aan luar biasa! Dahsyat! Matur suwun njih mas … Nanti di copas jadi artikel di atas aja …

      Salam

  8. cosmic_eargasm Says:

    Ingat Eros Djarot, ingat Barong’s Band yg agak2 Mbeling musiknya🙂 tp album “Manusia Manusia” keren juga.

    Puncaknya ya di album fenomenal “Badai Pasti Berlalu” yg diproduksi ulang sampai skrng dan tetap menjadi salah satu album terlaris.

    Salut!

    Majulah musik Indonesia!

    “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

  9. Budi Putra Says:

    Mas Eros yg saya kenal:

    Saya tau akan ada konser 40 Tahun Eros Djarot Berkarya dr teman dan majalah Rolling Stone yg sy beli pd awal Februari lalu. Namun krn kesibukan mencari nafkah maka terlewatlah keinginan utk menyaksikan konser itu. Namun sy ingin membagi cerita ttg mas Eros dr sisi lain saat saya bekerja membantu partai yg dibentuknya, PNBK.

    Awalnya saya kenal mas Eros saat jaman mahasiswa (1999an). Saat itu mas Eros berkunjung ke Jombang dlm rangka aktifitas politiknya dan berlanjut ke diskusi yg kami adakan di ruang kelas sederhana milik Pesantren. Dengan fasilitas alakadarnya, lesehan dg tikar lusuh, kami berdiskusi ttg berbagai hal mulai dari isu politik hingga permasalah peran mahasiswa. Mas Eros byk memberikan motivasi dan pendapat agar kami para mahasiswa hrs lbh cerdas dlm memahami dinamika yg ada saat itu. Singkat cerita hubungan itu berlajut kemudian saat sy di ajak teman senior utk bantu di PNBK dbagian sekretariatan. Di situ sy kenal ahli IT, Gondez yg tiap malen muter DT terus, dan Apri, web master yg jago utak atik desain komputer. Di ruangan sekretariat ini pula setiap malem sy panteng M97 FM—sy ingat lagu pertama yg sy denger “Free Bird” dr Skynyrd Lynyrd.

    Yg saya tau, mas Eros memiliki karya trilogi master piece yg legen: 1. Badai Pasti Berlalu (musik) 2. Tjut Nyak Dien (film), 3. Tabloid Detik (media massa)—sayangnya alat perjuangan mas Eros dibidang politik dan kebudayaan melalui partai (PNBK Indonesia), kandas ditengah jalan. Sebagai seorang yg pernah bekerja utknya bagi saya mas Eros adalah sosok yg konsisten, perpect dlm berkarya, humanis, low profle…saat bekerja dg mas Eros tdk ada jarak semua melebur dlm kebersamaan—sering juga secara spontan mas Eros ngasih bbrp lembar ratusan kpd saya…”Nih, ada berapa tuh, ambil aja dah.” Inilah salah satu kepribadian mas Eros yg saya sukai…kalo terlihat mulai ngerogoh kantong…hehehe. Thanks mas! Walaupun jebolan sekolah Jerman mas Eros ttp asik dg kami2 bahkan bahasa dan tutur katanya gaul dan merakyat.

    Singkat cerita, mas Eros sempet ingin mengajari saya dan teman2 ttg teknis membuat film. Cerita ini bermula gara2 film dokumenter tentang masyarakat tranportasi pinggiran (bajaj) kami utak atik jd gak karuan—ide alur ceritanya saya tambah2in. Maka, kami (sy, Gondez, Apri, dan 2 teman) dipanggil mas Eros dirumahnya dibilangan Bintaro. Kami disuruh duduk dan menyaksikan film dokumenter tsb. Setelahnya mas Eros sangat marah…dia tanya knp filmnya dirubah2 alur ceritanya tanpa seijin dia, dan apa alasannya? Krn sy yg punya ide maka saya yg jawab: “Ceritanya krg lengkap mas krn orang2 bajaj merasa belum terwakili keberadaannya di film itu—-judul filmnya “Bajaj (semoga) Tidak Berlalu”. ” Saya pingin kaya film “Bands of Brother” yg ada testimoni diawal film” jelas saya. Bla, bla, bla… ujungnya mas Eros malah salut dg kami yg berani melakukan sesuatu yg baru apalagi sampai nekat membongkar karyanya. Mas Eros blg “Ya udh nanti gue ajarin cara bikin film….” (Sayangnya krn kesibukan mas Eros dan kami mengurus partai rencana itu tdk terealisasi). Dalam perjalanan pulang sekitar tengah malam dr rumah mas Eros, sy baru kepikiran “Gila berani2nya gw bongkar2 filmnya mas Eros, sutradara senior dan terkenal itu. Nekat!, ucap saya dlm hati—maaf ya mas Eros.

    Salam,

    Budi Putra

    • cosmic_eargasm Says:

      mantap ceritanya ,as Budi..

      Thanks sudah share..

      “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

    • khalil logomotif Says:

      Mas Budi yg baik dan nekat..
      Coba klw mas tdk ngejar ngejar rejeki, pasti mas tdk akan sibuk, dan tentunya punya waktu untuk nonton eros jarot.
      Saya yakin, klw eris jarot itu, dikejar kejar rejeki…makanya bisa mudah bagi bagi untuk orang lain.
      Begitu menurut saya mas….mungkin saja belum sepenuhnya benar

      • Budi Putra Says:

        Iya betul mas Khalil sbnrnya kt gak perlu ngejar-ngejar rejeki ya…semakin dikejar malah semakin menjauh, hehe. Sayang sekali tdk bisa menyaksikan konser mas eros. Padahal sdh sekian tahun ini tdk bersua dgnnya. Inilah anehnya hidup di Jkt, kok mau bersua saja byk sekali aral merintang. Dan sudah lama pula diri ini tdk menjadi saksi mata dr perhelatan2 sejenis (musik).

        Trims mas Khalil sdh diingatkan.

      • cosmic_eargasm Says:

        Wuih, ilmu mas Khalil ini sudah termsk tingkat tinggi ya. Boleh di share pengalamannya berkaitan dgn hal tsb mas. Ditulis sebagai tret malah semakin asyik dgn berbagi pengalaman dan ilmunya mas Khalil tsb.

        Thanks mas Khalil.

        Welcome to Jakarta🙂

        ::: You Rules! :::

        “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

  10. cosmic_eargasm Says:

    Salah satu karya Eros Djarot pada era 90 an yg sy sukai adalah ‘Rindu’ nya Fryda.

    Nuansamatique sekali lagu ini.

    “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: