Marcel Thee

Hendrik Worotikan

Sabtu(8/2/2014),lalu, bertempat di Mondo Cafe, Kemang, saya berkesempatan menghadiri launching party, dirilisnya solo album Marcel Thee ‘With Strong Hounds Three’.

Tentu ada yang bertanya-tanya, termasuk saya. Siapa sih Marcel Thee ? Namanya memang masih terdengar asing dipelataran musik tanah air. Tapi bagi yang suka dengan musik indie, tentu pernah mendengar nama grup musik ‘Sajama Cut’,’Strange Mountain’ atau juga ‘Roman Catholic Skulls’. Bersama band-band itulah Marcel menyalurkan segala bakat musik yang dimilikinya.

Dengan grupnya ‘Sajama Cut’, Marcel sudah merilis album ‘The Osaka Journals’. Sedangkan kiprahnya di ‘Strange Mountain’, ada beberapa albumnya yang juga telah dirilis, salah satunya adalah ‘Childhood’.

Vinyl ‘With Strong Hounds Three’ yang baru saja dirilis ini, merekam sebanyak 13 lagu, yang keseluruhan lagunya ditulis dalam teks berbahasa Inggris dan musiknya dimainkan sendiri oleh MT.

image

image

image

Hebatnya lagi, ia hanya membutuhkan waktu rekaman distudio tidak lebih dari 3 jam saja, memanfaatkan jadwal latihan ‘Sajama Cut’ yg saat itu tengah break.

Dari hasil rekaman yang iseng-iseng distudio tsb, lantas dibawa pulanglah materi vokal dan musiknya untuk kemudian diolah lagi hingga mendapatkan hasil yang maksimal.

Aransemen musiknya terasa begitu simple, minimalist, ambient, penuh dengan ketenangan dan ada juga yang menyebutnya masuk dalam genre musik drone. Sementara harmonisasi vokal yang terkesan seperti ‘mass choir’ dan gitar akustik, sangat mendominasi hampir disetiap lagunya, yang sesekali juga diisi dengan bebunyian orgel.

Inilah yang kadang mengingatkan saya pada komposisi-komposisi musik klasik, dulu, di era romantic music.

Paling tidak, MT telah hadir memberikan warna tersendiri bagi penikmat musik tanah air. Sesuatu yang tidak melulu harus mengikuti selera pasar.

11 Responses to “Marcel Thee”

  1. apec Says:

    Wah,dapat ilmu baru nih dari sak hendrik

    • Hendrik Worotikan Says:

      Ilmu apaan sih bro Apec ?

      Mas G, seperti biasa terima kasih sdh dimuat.

      • Gatot Widayanto Says:

        Sama-sama mas Hendrik …. Setuju …ilmu baru …!! Namanya aja baru denger saya mas …he he …kuper …

      • Hendrik Worotikan Says:

        Iya mas G. Sy juga baru tau setelah albumnya dirilis ulang setelah pertama kali rilis thn 2012 lalu.
        Kalo grup Sajama Cut, sdh pernah dengar sebelumnya. Cuma nggak ngeh aja, ternyata frontman di SC ya si Marcel ini.
        Tengkyu.

  2. apec Says:

    Maksudku dari pak Hendrik

  3. apec Says:

    Ya maturtengkyu soale dengar nama baru Lagi..he..he

  4. Noor Qodri Says:

    Mas Hendrik, ini sama modelnya dengan Roman Catholic Skulls? Kalo sama dan mirip, berarti saya bakal gak mudeng hahahaha.

    • Gatot Widayanto Says:

      Bro Qodri,

      Kalau baca ini:

      “Aransemen musiknya terasa begitu simple, minimalist, ambient, penuh dengan ketenangan dan ada juga yang menyebutnya masuk dalam genre musik drone”

      saya kok kepikiran seperti Anathema yang dulu main death metal dan sekarang musiknya manis …katanya doom metal atau ada yang nyebut drone ini …

    • Hendrik Worotikan Says:

      Bro Qodri, secara keseluruhan musik yg dimainkan MT di Sajama Cut, Roman Catholic Skulls, Strange Mountain dan proyek solo albumnya ini punya karakter yg berbeda.
      Lewat RCS, sy merasakan musik yg dimainkan terkesan lebih dark.
      Kalaupun ada kesamaan, mungkin pada unsur ambient dan minimalistnya.
      Tebakan sy bro Qodri mungkin tidak akan sabar mendengar musik-musik seperti ini.
      Tapi kalo sy liat waktu nulis komennya jam 2 menjelang subuh, mungkin cocok juga koq ngedengerin musik model begini. Hihihi…

      Salam.

  5. Budi Putra Says:

    Sbnrnya banyak band indie yg bagus yg bisa menjadi alternatif band “ongol-ongol” (yg dominan nampang di tv). Sebut saja Sore, S.I.G.I.T, Monkey Milionare, dll. Cuma yg menjurus ke prog msh blm nemuin tuh…?

  6. cosmic_eargasm Says:

    Mas Hendrik, saya juga baru tau skrng. Kalo Sajama Cut sy sempat dengar sekilas bbrp tahun yg lalu di teman sy yg suka mengumpulkan cd/kaset band2 Indie lokal. Kalo PH nggak mengoleksi. Band2 indie semacam ini cukup menarik jg ya mas. Dulu ada Aksara Recs yg memulai membangkitkan band2 indie dgn rilisan2nya. Kalo skrng ada De Majors yg sangat produktif sekali merilis band/musisi indie yg unik dan berkarakter. Label nya Indra Lesmana, InLine lama jg nggak rilis band2 unik, terakhir ada Ligro yg keren itu. Thanks banget infonya mas Hendrik.

    ::: Bravo Indienesia! :::

    “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: