Idealisme dan Industri Musik

Wahyu Triantono

Ketika membentuk sebuah band para personilnya pasti  sudah mempunyai idealisme aliran musik apa yang akan mereka mainkan..namun ketika masuk dalam industri musik apakah idealisme itu masih bisa dipertahankan? Pada tahun 70 an di Indonesia banyak sekali band band yang beraliran rock dimana dalam setiap konsernya mereka memainkan musik rock yang edan edanan..tapi setelah masuk industri rekaman, album mereka bukan album rock tapi pop yang mendayu dayu seperti yang diinginkan oleh para cukong (istilah dari majalah aktuil) sing penting payu (laku) lalu dimana idealisme mereka itu? Di luar negeri yo sebelas duabelas contoh nyata adalah Genesis dan Yes..Genesis awalnya adalah band progressiv namun dalam perjalanannya menjadi aliran pop..dimulai ketika merekam album abacab yang jelas2 ngepop dilanjut dengan album sesudahnya..saya sebagai orang yang ngefans Genesis kaget juga dengan perubahan ini..lalu kemana idealisme prog itu? Mike Rutherford pernah mengatakan album genesis sekarang sebenarnya musiknya Phil Collin yang kita tahu kental dengan musik pop nya..apakah mereka hanya pengen cari uang? Padahal kalau genesis konser penonton sebenarnya menunggu very very old song..demikian juga dengan Yes album 90125 dan Big Generator nya..tapi untungnya Yes masih punya idealisme tinggi sehingga mereka balik lagi Ҡε prog..sebagai penutup apakah idealisme itu kalah sama uang? Atau idealisme itu luntur karena mengikuti perkembangan jaman? Pengen tau jawabannya? Tanya aja sama Genesis hehe.

12 Responses to “Idealisme dan Industri Musik”

  1. apec Says:

    Tapi ada sisii positives nya mas wahyu ,saya akhirnya bisa mengenal lagu2 terbaik mereka ya setelah mereka merilis album bernuansa pop tersebut. Bagi generasi baru ,banyak yg mengenal Yes dari lagu Owner of a lonely heart atau lagu Mama milik Genesis.

  2. andria Says:

    saya juga sama pak Wahyu, contohnya sebagai penggemar berat Queen saya kecewa. Terutama penggunaan keyboard yang menggantikan piano yg sering dimainkan Freddie Mercury. Lagu2 rock dgn ciri Queen yang gegap gempita mulai berkurang. Akhirnya saya mulai mendengarkan grup-grup lain untuk menutupi bolong2 yang dibuat Queen, sebelumnya saya benar2 mendengarkan grup lain utk nomor2 yg enak didengar saja.
    Untunglah sekarang banyak musisi yang masih bisa idealis, apalagi perkembangan jaman melalui internet membuat batas2 negara bukan halangan lagi. contoh kecilnya pak gatot yang mendengarkan Beardfish, yang kasetnya aja blm pernah masuk Indonesia. atau wabah IQ -Ever kemarin🙂

    • wahyu Says:

      Bisa juga karena mengikuti trend music mas, pertengahan tahun 80 an memang didominasi duran duran dan heavy metal sehingga band tsb ikut2an..kalo dari segi bisnis kan menguntungkan hehe..idealisme nomer 1000

  3. Budi Putra Says:

    Pilihan yg sulit bg sebuah band ketika berhadapan dg kepentingan modal (industri), krn suka tdk suka industrilah yg punya kuasa. Benar apa kt mas Wahyu; band kalo dipanggung sangar tiba-tiba masuk rekaman kok jd loyo…utk band lokal jadul sebut sj AKA. Ucok Hararap disebut2 sbg rocker yg kontroversial dlm aksi panggungnya lha kok dengerin AKA versi rekaman jd mendayu2 bikin ngantuk ya…dan sy msh inget band panggung thn 80an, Jet Liar, kalo dipanggung bawainnya lagu2 Judas Priest—dedengkotnya heavy metal—sekali waktu sy liat klip mrk di tv kok jd merengek-rengek…plus tampilan kostumnya putih2 pula kyk jemaah haji. Pdhl kalo dipanggung kostumnya hitam2 ala heavy metal band! Piye to mas bro?

    Namun belakangan ini ada perkembangan yg cukup menarik di industri musik lokal dg munculnya band2 kualitas bagus yg berani menggabungkan sisi idealis dan selera pasar. Sebut sj band Naif, Burgerkill, S.I.G.I.T, Mocca, dan sejumlah band yg indies spt Killing Me Inside, Pandai Besi, Sore, Monkey Milionare, dll. Kehadiran mrk menjadi penyeimbang dr industri musik mainstream macam K-Pop, melayu, dan pop alakadarnya yg menyesaki layar2 kaca.

    Kalo utk kasus internasional, mengapa genesis, yes, menjadi ngepop kemudian dan seolah menanggalkan sisi idealismenya? Menurut sy awal kelahiran band2 prog spt genesis, yes, procol harum, dan band2 prog lainnya, adlh antitesa dr industri rock mainstream ala rolling stones, deep purple, led zeppelin,…dan pd prkmbgnnya mrk band2 prog justru menciptakan industri baru dg label progressive rock yg saat itu dijuluki sbg aliran nguweng-nguweng, sastrawan atau bandnya anak sekolahan dg kualitas prima musikalitasnya. Dan pemodal/industri beserta pasar menikmati dan meraup untung dr kemunculan industri musik rock prog.

    Namun pd perjalanannya band2 prog menjadi ngepop pd era 80an, hal itu tdk lepas dr faktor eksternal yg melingkupinya:
    1. Resesi ekonomi yg trjd di Inggris membuat industri musik yg sebelumnya menopang mrk berpaling kpd industri yg lain. Bahkan para pengamat dan pakar prog yg sblmya gencar mengulas mrk kemudian sdh mulai mengurangi bahkan tdk mengulas sama sekali band2 prog tsb.
    2. Gempuran band2 bergenre new wave dan punk seolah menjadi pilihan baru bg penikmat musik saat itu…musik yg simple dan enggak njlimet alias nguweng-nguweng spt menggambarkan situasi kehidupan ekonomi masyarakat Inggris pd wkt itu—malah sejumlah band punk memelopori kebangkitan musik pemberontakan trhdp kemapanan dus kritik punk trhdp keangkuhan band2 prog. Hal ini yg membuat Pink Floyd trsendiri harus berkompromi dgn lbh byk memasukan unsur ritem pd bbrp lagunya, seolah memberikan jawaban pd komunitas punk.

    3. Kebangkitan neoprog sptnya jalan tengah bagi band2 prog agar terus survive ditengah2 industri musik yg berubah 120 drjt dr idealisme menuju ke pragmatisme. Maka tak mengherankan bila genesis di era Colin atau yes di bbrp albumya spt big generator atau talk jd easy listening ala poprock musik. Pun band2 neoprog spt IQ, walaupun sisi prog-nya msh kental tp adonan pop nya spt nomer Promises, Frequency, jd enak didengar alias easy listening yg barang tentu akan mengalihkan penikmat musik mainstream (new wave, punk) pd mrk; strategi jitu! Walau tertatih-tatih apalagi ditambah gempuran trash, heavy, glam, nyatanya neoprog bangkit menjadi industri trsendiri yg ttp eksis sampai saat ini bahkan melahirkan band2 baru spt porcupine tree, dll.

    Artinya, industri musik itu ibarat ada gula ada semut, dan genesis, yes, pink floyd paham akan hal itu lantas menerapkan menjadi strategi jitu; “kompromi atau tersingkir” dan secara halus msh ttp menyisipkan idealisme prog didlmnya—tp konser mrk msh ttp disesaki olh pengagum2 mrk yg ttp mengelu-elukan old or new songs. Kecuali band2 lokal seangkatan yg memang babak belur dihajar kepentingan modal/industri/pasar.

    • cosmic_eargasm Says:

      Mas Budi, coba dengarkan AKA “Hard Beat” yg dirilis oleh label luar, Strawberry Rain Recs. Disini beat2 Rock dari drum mendiang Syech Abidin disertai riff2 cadas gitar Sonata Tandjung yg kental sangat terasa sekali pd setiap nomor. Walaupun pd bbrp part ada hiasan soul/funk ala James Brown yg merupakan kesukaan mendiang Ucok.

      BTW, komen dan analisa mas Budi amat sangat mantap sekali. Sip mas!

      ::: You Rock! :::

      “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience” John Zorn

    • danangsuryono2112 Says:

      IMHO perbedaan rekaman band dulu dan sekarang adalah “Kesempatan Rekaman”. Segarang apapun band jaman dulu rasanya tak banyak yang punya kuasa menolak keinginan cukong pemilik label, akibatnya pas rekaman mereka harus tunduk pada selera pasar. Jika tidak mau, maka hanya berakhir di master demo nya.
      Band sekarang jauh lebih beruntung, mereka sangat tidak bergantung pada major label. Label Indie rottrevore records misalnya, mereka menampung kreativitas band band extreme metal macam Siksa Kubur, Dead Squad, Death Vomit, Revenge, Killharmonics, Funeral Inception dan lain-lain secara leluasa. Begitu pula demajors yang banyak menyalurkan ekspresi band indie tanah air yang melawan arus ganas mainstream. Bahkan dulu untuk musik progressive rock tanah air PRS Records juga menjadi wadah itu. Hingga sekarang banyak band yang berani merilis album sendiri, sehingga batasan seperti pendahulu mereka bisa dihilangkan.

      • cosmic_eargasm Says:

        Benar sekali mas DananG, jaman skrng bnyk sekali label2 indie dgn link2 yg bgs sampai internasional yg menampung bnyk genre. Dan hal tsb semakin menjamurnya label2 indie dgn spesialisasi bermacam-macam genre dr para musisi/band. Majulah musisi dan musik Indonesia!!!

        “Powerful Secrets are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

      • Gatot Widayanto Says:

        Benar sekali yang dikatakan mas DananG. Kita beruntung hidup di era sekarang …ekspresi musisi bisa terdengar langsung ke kita ….

  4. wahyu Says:

    wuihhhh hebat banget analisa Pak Budi dan menurut saya analisa itu tepat sekali..tapi yang menjadi pertanyaan saya kenapa Genesis tidak meniru Yes yang kembali ke mainstreem progressive..? padahal saya yakin 3 trio itu masih mempunyai stok lagu progressive..dan rindu dengan aliran prog..buktinya mereka pingin reuni sama Mr.Hackett dan Mr.Gabriel..namun apa mau dikata beliau berdua menolak reuni..dan saya yakin apabila Genesis kembali ke khitahnya pasti laku keras albumnya karena penggemar mereka sudah mencapai 3 generasi..

  5. cosmic_eargasm Says:

    Mas Wahyu, memang era 70 an itu adalah era keemasan musik, dimana salah satunya adalah genre Prog yg menjadi trend pada masa itu, membuat para produser rekaman berlomba-lomba merilis band2/musisi Prog yg superdahsyat. Begitu sekitar akhir tahun1970 an ke atas mulailah ada musik disco dan dilanjut dgn new wave yg membuat Prog semakin terdesak. Tp msh untung ada Marillion, IQ dan Pendragon yg muncul menyelamatkan Prog dgn panji baru nya, Neo-Prog dan msh ada Queensryche, Fates Warning, DT juga yg kini dianggap sebagai inovator ProgMet. Dan msh ada Death, Suffocation, Cynyc yg dianggap dewa dlm urusan technical metal=

    Kalo utk lokal, memang sikon negara kita nggak memungkinkan utk mengedepankan musik (olah raga saja yg sdh disupport hbs2 an tp blm menunjukkan prestasi yg signifikan), jd para musisi mau tdk mau ya mengikuti selera pasar, kecuali kalo mereka termsk dlm golongan berduit, bs membuat album yg benar2 idealis seperti Giant Step, Shark Move, Harry Roesli, Guruh Gypsy dll.

    Kesimpulannya, memang benar seperti yg dikatakan oleh mas Wahyu, di luar sana musik pop yg merujuk ke pasar juga merajai dunia industri musik. Org pasti lbh tau Britney Spears dari pada King Crimson (yg msh aktif sampai kini) kan? Namun bgsnya, diluar sana walopun gempuran bombastis dunia industri yg komersial merajalela, namun tetap ada counter nya dgn msh bnyknya label perekam yg msh support thd Prog dan hal tsb nggak bs dibandingkan dgn negara kita yg msh termsk negara berkembang ini. Produser kita pasti memilih merilis Geisha, ST 12, D’ Bagindas dll dr pd merilis Guruh Gypsy, Imanissimo dll. Padahal org bule sempat membajak album Guruh Gypsy tsb. Belakangan, mereka jg rame2 merilis band Indonesia 70 an. Nah kalo sdh gini kita sebagai pecinta musik non-mainstream bisanya cuma curhat saja tentang band2 kesayangan kita yg bagi sebagian penikmat musik cuma menyukai album2 lawas dari band2 lama. Menurut sy, memang mungkin seharusnya gitu. Nggak mungkin Genesis, Yes, King Crimson dll masih saja stag membuat musik dgn style album2 awal2nya terus. Tapi kelemahannya, memang album2 barunya kurang familiar pada telinga para penggila The Sound of Seventies. Biarlah “Foxtrot”, “Tales from Topographic Ocean”, “In the Court of the Crimson King” dll menjadi bagian terpenting dlm sejarah perjalanan Prog yg masih tetap melekat di hati kita sampai kini. Sebagai gantinya msh ada “The Wake”, “Desolation Rose”, “Script for A Jester’s Tears”, “Snow”, “Song of the Lion Cage” dll yg bisa mewakili dunia Prog pada era skrng. Dan msh ada band2 era baru yg sangat berkarakter seperti Animal as Leaders, The Mars Volta, Deeds of Flesh, Porcupine Tree dll yg jg bs mewakili dunia Prog era kekinian, walaupun telinga 70 an kbnykn nggak bs menerima style tsb. Cuma sayangnya regenerasi Avant-Prog amat sangat kurang sekali dibanding sub-genre lain.

    Thanks mas GW dgn blog super gemblunknya.

    Bravo MFL!

    Music Connecting People!

    ::: Salam Gemblunk! :::

    “Powerful Secret are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

  6. wahyu Says:

    betul juga ya Pak..biarlah old song itu menjadi abadi seperti lagu lagunya the beatles..tapi kepengen juga sih Genesis ciptain lagu lagu progresive ditengah gempuran progmetal..kalau Genesis sukses menciptakan lagu progressive rock berarti lagu progressive bisa bangkit kembali seperti era 70 an..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: