12 Menit : Kemenangan Untuk Selamanya

Cukup lama saya berpikir apakah ulasan ini layak masuk dalam blog prestisius Music for Life milik kita ini. Jujur aja saya maju mundur mau menulisnya karena memang tadinya kalau dipandang dari sisi film, kok ndak pas dengan visi blog ini terkait musik untuk kehidupan. Namun begitu liat marching band nya, ini kan tentang musik juga. Maka akhirnya saya putuskan menulis ulasan apa adanya ini di sini aja dari pada bingung-bingung tapi gak ditulis – ya nggak ? 3 x (sambil alis mata naik turun 3 x juga saat mulut berucap “ya nggak?” …namun tak bermakna flirting alias genit lho …qiqiqiqiqiqiqi …). Dasar wong prog, menulis ulasan film kok intro nya ngalor ngidul.

Ada tiga alasan mengapa saya menulis review ini di blog ini:

  1. Film ini berkisah tentang musik, yakni marching band Pupuk Kaltim, Bontang khususnya;
  2. Perjuangan anak-anak Bontang ini meraih impiannya tak beda dengan perjuangan Fish mendapatkan business deal dengan EMI yang kemudian membuat Marillion melejit karena selain musiknya memang muwanteb njuwebles, juga label EMI yang sudah mendunia kala itu di tahun 1983;
  3. Yang gak kalah pentingnya, saya pernah jadi trombonis Marching Band Waditra Ganesha Bandung dan juga pernah jadi pengurus aktif sekitar tahun 1980 – 1983 sehingga gimanapun juga ini akan saya bahas di Bab 13 dalam “The 40-Year ProgGraphy” (Dekade I saya ngeprog dulu).

Kumplitlah alasan mengapa saya ulas di sini. Bagi yang ndak nyambung dengan ini, yo wis …gak usah lanjut baca, skip aja tret gak berguna ini. Rebes.

Mari kita mulai ulasan film yang disutradarai Hanny Saputra ini…

12-Menit-Poster

Saya nontonnya hari Minggu kemarin (1 Feb 2014) setelah dikompori sama temen2 alumni Waditra Ganesha di bioskop XXI Bintaro Plaza. Saya nonton yang jam 14:30 dan penontonnya sungguh sepi karena saya berada di barisan terdepan dari lima baris belakang, ya sekitar 40% occupancy rate begitulah. Ya maklum lah ini kan bukan film Box Office. Namun posisi nonton saya cukup strtaegis karena gak terlalu belakang banget.

Harus saya akui selama film berjalan saya banyak mbrebes mili dalam arti sebenarnya (harafiah) karena banyak sekali segmen yang sesuai alias persis PLEG dengan apa yang saya alami saat menjadi Pengurus marching band dulu: susahnya mendapatkan kehadiran penuh dari seluruh anggota marching band. Ada saja alasan anggota …kuliah lah, mid test lah, ujian her lah …pokoke sembarang kalir alasan saya pernah dengar dari anggota yang tak pernah kumplit kecuali sekitar satu atau dua hari sebelum penampilan. Film ini menggambarkannya dengan baik.

Plot cerita 12 Menit cukup sederhana: perjuangan meraih cita-cita. Cita-cita apa? Hanya satu: Menjadi juara Grand Prix Marching Band (GPMB) yang secara rutin digelar di Istora Jakarta pada bulan Desember, biasanya di minggu terakhir. Ini adalah kisah anak-anak remaja Kota Bontang Kaltim yang berlatih disiplin dan tekun selama ribuan jam sehingga mereka meraih kemenangan. Bagi saya yang sudah kenal Marching Band Bontang sebelumnya, bahkan pernah melihat latihannya di Bontang baik ketika saya jadi konsultan PKT di tahun 2003 maupun sebagai MC Konser PKT Rock Nation tahun 2011 yang lalu dengan band utama GodBless, bukan cerita baru. Mengapa? Saya tahu MB Bontang ini sudah menang 10 kali di GPMB. Tapi kisah dalam film ini seolah mereka belum pernah menjadi juara GPMB. Syuting film ini di pagelaran GPMB 2012 pun saya hadiri dan melihat langsung syutingnya yang memakan waktu lama sekali saat itu.

Sungguh film ini membuat adrenalin saya mengalir deras karena setiap segmennya saya nikmati dengan baik dan detil seolah saya menjadi lakonnya baik sebagai pemainnya maupun si pelatihnya. Kisahnya memang tentang empat lakon di film ini, yakni Rene sang pelatih yang dimainkan dengan baik sekali oleh Titi Rajo Bintang (dulu namanya Titi Syuman) yang memiliki determinasi dan keuletan melatih timnya yang 130 orang agar secara bersama berjuang meraih cita-cita bersama. Gaya kepemimpinan Rene dalam film ini adalah otoriter ala tentara namun tak segan minta maaf bila ia membuat salah. Meski Rene yang sebenarnya adalah seorang laki-laki (Rene Conway) namun dengan diperankan oleh Titi ini maka aspek humanismenya juga muncul pada beberapa segmen film yang juga membuat saya mbrebes mili saat meyakinkan anggota nya yang akan berhenti dari MB.

Tiga tokoh lainnya adalah pertama Elaine seorang putri dari Ir Teknik Kimia Higoshi yang berkebangsaan Jepang dan keras dalam mendidik anak sesuai dengan keinginannya: sekolah nomer satu dan marching band tak bisa bikin kaya. Konflik internal antara Elaine (remaja SMP) dan ayahnya sangat bagus ditampilkan dalam film ini dan penonton faham sekali bagaimana seorang Elaine yang begitu mencintai musik harus menghadapi ayah yang keras kepala. Kedua adalah Lahang, seorang keturnan suku Dayak yang menghadapi masalah berat dimana ayahnya sakit keras dan tak mau dibawa ke rumah sakit. Ayahnya penganut kepercayaan reinkarnasi dan penyembuhan penyakit dengan menggunakan tarian-tarian yang diibaratkan mengusir arwah-arwah yang membuat dirinya sakit. Ayahnya ingin ber-reinkarnasi menjadi elang di kehidupan setelah di dunia. Ketiga adalah Tara yang diasuh oleh nenek dan kakeknya lantaran ibunya kuliah di Inggris. Tara stress berat karena mengalami gangguan pendengaran setelah kecelakaan lalu-lintas yang menyebabkan kematian ayahnya. Kombinasi permasalahan tiga anggota MB inilah yang menjadi dinamika plot cerita di film ini. Sutradara dengan jeli mengemukakan segmen-segmen nunjek ulu ati, misalnya saat Rene mengetahui bahwa ternyata Tara menggunakan alat bantu pendengaran dibalik hijabnya. Selain itu juga bagaimana Rene menghandle Lahang yang ayahnya meninggal dunia saat beberapa menit pertandingan GPMB digelar di istora. Sementara itu untuk Elaine yang membatalkan kesertaannya di olimpiade Fisika oleh sutradara ditampilkan dengan cara berbeda, yakni melalui berita karyawan Higoshi yang istrinya menjadi guru Elaine, memberi tahu ayahnya yang kaget dan kecewa tak diberitahu langsung oleh Elaine.

Meski plot cerita bisa dikatakan sederhana, namun pengambilan gambar menurut saya sangat bagus, menampilkan juga pemandangan pantai dan kampung di Bontang. Background menggunakan gemerlapnya pabrik pupuk PT Pupuk Kaltim juga sangat menawan. Jujur saja saya sangat tertohok nggulung koming saat film menampilkan latihan-latihan penuh disiplin dan ketegangan meski jarang menampilkan secara dekat pemain brass section. paling banyak ya snare dan tenor drums karena Tara memang pemain snare drums, sedangkan Lahang tenor. Elaine yang sebenernya pemain biola, menjadi bermain vibraphone dan terakhir malahan menjadi Field Commander. Terlihat dalam pengambilan gambar juga beberapa teman yang saya kenal: Pak Suldja (Direktur Komersil), pak Bakir (lupa Direktur apa) dan juga ada Sempu temen saya satu angkatan menjadi penonton pas acara pelepasan di Bontang.

Aspek-aspek menarik dari film ini:

  • Memberikan motivasi kepada anak muda agar tak pernah mundur meraih cita-cita, seperti kata kakek Tara (Didi Petet): seperti mobil di tanjakan, kalau gak di dorong ya gak maju, kalau diam saja malah melibas kita mundur;
  • Untuk meraih kemenangan dimana penampilan hanya butuh waktu 12 menit diperlukan latihan ribuan jam secara sungguh-sungguh dan penuh disiplin;
  • Perlu ketegasan seorang Coach (pelatih) untuk tetap menjaga semangat tim;
  • Perlu perhatian khusus bila ada tim yang berhalangan tak hadir, misalnya menjenguk kondisi Lahang yang menjaga ayahnya yang sedang sakit;
  • Selain pelatih yang tegas juga perlu dukungan dari tim kerja di bawahnya dan rasa memiliki yang tinggi;
  • Tak perlu banyak kompromi untuk mencapai tujuan tim (single-mindedness);
  • Dalam kerja kelompok, tanggalkan ego dan lihat sebelah kiri dan kanan teman kita, betapa besar arti kita untuk mereka (main marching band perlu ketrampilan musik dan ketrampilan derakan display – harus hafal pada menit keberapa langkah kaki ke arah sudut berapa derajat dan tak boleh bertabrakan dengan anggota lainnya).

Meski demikian, ada juga kekurangannya yang bagi saya pribadi sangat mengganggu:

  • Adanya flash back cast Tara bermimpi saat tabrakan terjadi yang membuat pendengarannya terganggu, kemudian menggunakan alat bantu pendengaran dan kemudian ditutupi oleh hijab. Menurut saya cast ini tidak sensitif dan tidak bijak dalam aspek edukasi Islami. Mengapa? Penonton jadi menyimpulkan bahwa Tara menggunakan hijab (jilbab) bukan karena hidayah dari Allah SWT namun karena menutupi cacatnya di kuping. Meski Hanny bisa berkilah bahwa “in reality” kejadian ini bisa saja terjadi dan memang benar adanya, namun karena ini sebuah film, mengapa ini jadinya merupakan promosi bahwa menggunakan hijab itu bisa untuk menutupi cacat. Di sini Hanny sebagai sutradara sangat tak peka karena ini Indonesia bung! Mayoritas penduduk kita muslim dan masih banyak yang belum menggunakan hijab padahal sudah diperintahkan oleh Allah SWT. Mestinya sutradara (semoga Muslim juga karena pernah menyutradarai “Di Bawah Lindungan Kabah”) justru menggunakan ini sekaligus sebagai media dakwah. Sekurangnya kalau gak mau dakwah, yaaa … gak perlu flash back masa kecil Tara ditampilkan saat ia menggunakan hijab pada saat pertama kali – terlalu detail tuh. Toh …sudah ada segmen yang juga menyentuh saat Tara melepas alat bantu dengar nya dan diserahkan ke kakek nya, disaksikan oleh Rene sambil berurai air mata. Jujur saja saya jadi ilfil sama film ini karena segmen ini.
  • Meski ini bukan film agama, penampilan segmen agama juga tidak imbang padahal mayoritas Indonesia ini muslim. Kita ambil contoh: pesta tari-tarian ala ayah Lahang dari suku Dayak dieksploitasi sangat detil dan sampai dua kali segmen: di awal dan di tengah film. Doa bersama Elaine dan ibunya juga bukan doa muslim. Sedangkan Tara yang berhijab malah ditampilkan aspek kurang baiknya (lihat poin di atas) dan tak ada ritual doa di keluarga Tara, bahkan Ninik L Karim tak berhijab. Sekali lagi kalau Hanny sensitif semestinya imbang semua agama ditampilkan rata sehingga tak ada kesan pilih kasih.

Apakah saya berlebihan? Semoga tidak … Saya takut Allah SWT murka dengan film ini dan saya harus sampaikan apa adanya meski secara plot cerita dan dinamikanya saya sangat menyukai dan mbrebes mili. Semoga Hanny sadar akan ketidak-sensitifannya ini apalagi dia ini sutradara “Di Bawah Lindungan Kabah” (yang saya juga nonton) …

Saya tahu seniman susah ditegur tapi saya ingat tajuk majalah Tarbawi bulan ini: Menegur itu Menggerakkan …. Wouw!!!

salam,

G

7 Responses to “12 Menit : Kemenangan Untuk Selamanya”

  1. Gatot Widayanto Says:

    Ini trailer nya:

  2. apec Says:

    Jadi ingat dulu Indonesia juga punya Marching Band bagus milik Sampoerna yg sering tampil Di luar negeri

    • Gatot Widayanto Says:

      Sebenarnya MB PKT Bontang ini juga tampil di international event ….hanya saja saya lupa dimana.

    • andria Says:

      saya blm lihat sih pak, cuma garis besarnya adalah semua yg menuju kesusksesan, baik lama atau cukup singkat, harus melalui proses yg keras. hal ini yg masih tdk mau dimengerti generasi muda sekarang.
      beberapa kelemahan film Indonesia yg bertema motivasi adalah banyaknya kompromi dengan sponsor. mungkin di film ini ada himbauan dari pihak kalimantan utk memasukkan unsur adat Dayaknya di samping tetap memasukkan reliji islam atau katolik.

  3. Budi Putra Says:

    Patut diapresiasi keberanian produser dan sutradara yg mengangkat tema musik—marching band—pula ke layar lebar, ditengah industri film yg lbh byk memproduksi film2 horor yg enggak horor film2 sex yg msh malu2 (mksud sy gak vulgar sekalian gitu loh), dan komedi yg kadar humornya garing.

    Kehadiran film ini setidaknya melengkapi kualitas sinema film anak negeri seperti Laskar Pelangi misalkan. Sehingga akan byk pilihan bg penonton. Sy suka film yg mengangkat tema musik sbg tema utamanya. Sayangnya di Indonesia hanya sedikit film spt itu, dan kalo ada penggarapannya krg klop di hati penonton, sebut sj film ttg Iwan Fals, Inul Daratista, atau D’Bijis yg dibintangi Tora Sudiro, Aryanti Catwrigth, yg malah gak jelas efek musikalitasnya dimana? Alih2 bicara anak band yg muncul malah roman picisan…coba kalo kt sandingkan dg film school of rock….jauh2 sekali bro!

    Dan sdh barang tentu bg mas Gatot film ini memiliki sisi emosi tersendiri… apalagi kalo ngebayangin cewek2 MB yg caem-caem…hehehe.

  4. gt Says:

    Film ini sempat diulas diacara Kick Andy…semoga hari sabtu/minggu besok film ini masih diputar di Bintaro Plaza…harus nonton nich.

  5. cosmic_eargasm Says:

    Mas GW, menurut sy musik, buku(termasuk majalah, komik dll) dan film adalah 3 hal yg sangat asyik sekali. Cerita dan analisa mas GW sangat mewakili sekali tentang film yg mas tonton tsb. Thanks share nya mas.

    Bicara film, jadi ingat album kerennya Terry Bozzio & Billy Sheehan “Nine Short Films” yg sangat all-out sekali permainan ke 2 musisi tsb.

    “Powerful Secret are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: