Satu Pink Floyd dalam Tiga Tulisan

Andria Sonhedi

20 Januari 2014

sembari mencarikan rekan2 saya “daftar pustaka” ttg Queen, yg msh juga ada yg belum ketemu sampai sekarang, saya malah menemukan tulisan lama ttg Pink Floyd yang sempat menghilang.

     banyak orang menulis tentang Pink Floyd di majalah atau surat kabar, saat itu 1994 saya masih awam ttg internet, namun baru di Kompas ini saya mulai mendapat pencerahan.  saya sering membaca tulisan pak Budiarto Shambazy (wartawan Kompas ) tentang konser atau profil  grup 70-an. sekitar tahun itu sepertinya baru demam album alternative & punk & jelas mendengarkan Pink Floyd adalah suatu hal yang percuma🙂
     kembali ke tulisan tadi, dalam satu halaman tengah Kompas, pak Budiarto menampilkan 3 tulisan berbeda tentang Pink Floyd:
1. Kritik Sosial Pink Floyd melalui konser canggih
artikel ini berisi laporan pandangan mata tentang konser yang mempromosikan album Division Bell di New Jersey, Amerika. pak Budiarto juga sempat minta tanggapan dari para penonton yang kebanyakan tergolong sudah berumur kepala 3. ada yang sampai bolos kerja & menitipkan anak, ada yang membawa seluruh keluarga termasuk ibunya yg berusia 54 tahun, bahkan ada yang perlu menunggu 20 tahun utk bisa melihat kembali konser Pink Floyd.
2. “British Invasion” di Amerika
Artikel ini menceritakan tentang invasi musisi2 Inggris ke Amerika: Yes, Pink Floyd dan Rolling Stones di tahun 1994 melalui konser promo, wl tetap PF yang jadi topik utama artikel ini.
3.Musik Penyembuhan dan “Sonic Sound”
  sebenarnya ini hanyalah petikan kalimat di artikel ini bahwa musik PF ada yang menggolongkan sebagai healing music. isi artikel ini sekelumit tentang riwayat  PF dan album-albumnya. ada kutipan yang sumbernya dari PF, “Musik kami merupakan meditasi untuk menyembuhkan  ketegangan dan stres dalam kehidupan sehari-hari”
     cara penulisan pak Budiarto sangat memikat saya, beberapa lirik lagu PF,statistik tentang PF,  sampai cara pembuatan album dia masukkan utk ilustrasi. tulisan pak Budiarto ini benar2 powerfull (wl tak sampai mbuat ngguweblak), sampai2 membuat saya ingin segera mencari kaset2 PF lagi. seperti pernah saya tulis, satu-satunya kaset the very best of Pink Floyd terbitan Aquarius sdh lama saya jual utk ganti beli kaset Ozzy Osbourne di tahun 1987.  Dan perburuan kaset Pink Floyd pun dimulai,
PF1_kom
PF2_kom

9 Responses to “Satu Pink Floyd dalam Tiga Tulisan”

  1. Gatot Widayanto Says:

    Mas ANdria, maaf …email nya ketlisut yang ini. Next time kalau dalam 1 x 24 jam postingan gak muncul di blog gemblung, tolong SMS saya atau kirim ulang ya via email …

    Maafff …. Ini juga berlaku buat temen2 lainnya … Kalau dalam 1 x 24 jam gak nongol, tolong ingetin saya yah …

    Salam,
    G

  2. andria Says:

    terima kasih pak gatot, barusan malah saya kirim ulang🙂

    • Gatot Widayanto Says:

      Iya mas Andria … Tlisipan …hahahahaha

      *Gatot Widayanto*

      *”Don’t manage – lead change before you have to.* *” Jack Welch*

      On Sun, Feb 2, 2014 at 9:41 PM, Music for Life

  3. cosmic_eargasm Says:

    waaahhh thanks banget info nya tentang Pink Floyd dalam berita mas Andria..

    “Powerful Secret are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

  4. Budi Putra Says:

    Mas Andria, keren ulasannya.

    Sy jd inget kliping2 artikel musik sy lg nih…tapi sy taruh dimana ya? Seinget sy Kompas, scr brkala mmg menyisipkan artikel musik dr sudut pandang jurrnalistik. Sy sempet simpen bbrp artikel diantaranya tulisan Riza Syahbudi (pengamat LIPI) yg menulis ttg grup Procol Harum dan kutukan lagu Whiter Shade of Pale bagi perjalanan bermusik PH. Banyak artikel2 menarik lainnya.

    Bagi sy ulasan PF ini menarik bukan hanya dr sudut pandang konsernya yg megah ala The Wall tapi memang lirik2 lagu PF sarat dg kritik sosial—aplg Roger Waters adlh penganut Sosialisme, atau utk band lain bisa disandingkan dg Rage Against The Machine (RATM), yg semua personilnya adlh aktivis gerakan sosial. Album Dark Side adlh album konsep dengan tema mengenai tekanan-tekanan kehidupan modern. Lagu-lagu: “On The Run” adalah tentang bepergian ke seluruh dunia, “Time” mengenai masa dulu, “The Great Gig in the Sky” (judul-judul awal “Mortality Sequence” dan “Religious Theme”) mengenai kematian dan agama, “Money” mengenai uang yang datang dengan ketenaran, “Us and Them” mengenai konflik kekerasan di masyarakat, dan “Brain Damage” mengenai penyakit jiwa dan neurosis.

    Album Animals lagu-lagunya diilhami oleh buku Animal Farm karya George Orwell, misalnya “Pigs on the Wing”, “Dogs” dan “Sheep”. Animal Farm menceritakan kisah Soviet dibawah kekuasaan rezim Stalin, dan pertentangannya dg Leon Trotsky. Animal Farm jg dibuatkan versi layar lebar (film) yg sangat apik dlm penggarapannya.

    Sedangkan The Wall, adlh kritik PF trhdp dunia pendidikan. Album ini menjadi inspirasi bagi para mahasiswa di Inggris yg melakukan protes akibat kenaikan biaya pendidikan—bahkan putra Gilmour dijatuhi hukuman penjara 16 bulan krn keterlibatannya dlm aksi protes keras trhdp kenaikan biaya pendidikan di universitas di Inggris.

    Menurut sy mendengarkan PF bukan semata perihal keindahan aransemen lagu2nya dan konser megahnya tp juga mengajak kita utk kritis trhdp realitas sosial yg ada disekeliling. Dan hebatnya PF, mrk dpt menyelami dunia pop dg balutan kritik sosial. Siiip!

    • Gatot Widayanto Says:

      Komen mas Budi ini dahzyat banget. Kalau Roger Waters sempat ke Yogya dan mengambil kursus bahasa Indonesia, saya yakin dia bakal membik-membik mbrebes mili membaca komen mas Budi ini.

      Kudo!

      *Gatot Widayanto*

      *”Don’t manage – lead change before you have to.* *” Jack Welch*

      • Budi Putra Says:

        Mas Gatot bisa aja…seneng aja mas dg Pink Floyd…walaupun waktu punya cewek tmn sekampus bilang musiknya PF monoton…lbh keren metallica….hahaha!

      • Gatot Widayanto Says:

        yang asik anak saya, yang selama ini gak pernah sealiran musik …tahu2 bilang bahwa di laptopnya sudah penuh dengan semua mp3 Pink Floyd. Lho? Rupanya dicekoki pacarnya … wakakakakakakakak …. Asik juga, bapaknya gagal mendidik, ternyata temennya yang berhasil … ha ha ha ha ….

        *Gatot Widayanto*

        *”Don’t manage – lead change before you have to.* *” Jack Welch*

        On Mon, Feb 3, 2014 at 9:08 PM, Music for Life

      • cosmic_eargasm Says:

        Mas Budi suka koleksi kliping ya. Mantap mas. Sy dulu jg sempat walo nggak bnyk, tapi skrng sudah hilang semua entah kemana😦 Mantap sekali utk keterangan album2 PF nya mas. Thanks.

        Hahahaha cerita pengalaman mas Budi dan mas GW tentang menebar virus2 PF pasti jg bnyk dialami oleh semua pecinta PF. Generasi muda skrng bnyk menganggap bahwa musik Prog djadoel itu terlalu bertele-tele, nggak lgs jebrat jebret pada intinya. Maklum saja, setelah era milenium dunia Prog didominasi oleh band2 Prog era baru yg permainannya penuh dgn akrobatik dan teknikal. Meskipun begitu, bbrp anak muda penggila Technical Prog Metal ada yg blm tau dgn SPIRAL ARCHITECT, BEHOLD… THE ARCTOPUS, SPASTIC INK dll yg notabene mengedepankan unsur teknikal dan akrobatik dlm permainan musiknya.

        ::: Grab the Prog without Borders! :::

        “Powerful Secret are revealed through Intensity and Extremes of experience.” John Zorn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: