Jim Morrison: Sebuah Kisah Pembebasan

Budi Putra

Ngobrolin Claro kurang afdol rasanya bila tidak menyertakan sosok legendaris yang satu ini Jim Morrison,The Doors. Di tengah-tengah himpitan pekerjaan yang menghampiri silih berganti saya sempatkan waktu untuk mengulasnya berdasarkan buku biografi dengan judul asli No One Here Gets Out Alive, karya Jerry Hopkins dan Danny Sugerman. Buku ini saya peroleh dalam edisi Indonesia diterbitkan oleh penerbit Ayyana Jogyakarta, April 2010. Buku setebal 468 halaman ini ditutup dengan diskografi The Doors. Buku ini dicetak dengan soft cover dan disisipi foto-foto Jim Morrison dan personoil The Doors lainnya (sayangnya kualitas gambarnya kurang bagus). Hopkins dan Sugerman dengan detail sekali menuliskan kehidupan Jim mulai masa kanak-kanak hingga drama hidupnya bersama The Doors, dan berujung pada senjakala kematiannya yang misterius.

Pada saat itu musim dingin 1955, Jim Morrison di masa kanak-kanak tinggal bersama kedua orang tuanya dan dua orang adiknya, Anne dan Andy. Jim saat itu berusia 12 tahun. Ayah Jim, Steve, ditugaskan di Pangkalan Udara Kirkland, sebagai executive officer, setingkat dibawah kapten. Sedangkan ibunda Jim adalah seorang putri pengacara independen dari Wisconsin yang disebut sebagai wanita urakan dan suka bersenang-senang. Hidup dengan anggota keluarga yang terpisah dan terus berpindah-pindah tempat tinggal menjadi ciri khas keluarga Morrison dan keluarga militer lainnya selama masa perang. Saat Steve ditugaskan di Korea pada awal 1953, Jim adalah seorang anak yang tampan, sedikit gemuk; yang kecerdasannya, daya tariknya, serta perilakunya yang santun membuatnya menjadi anak kesayangan para guru dan menjadikannya ketua kelas diseluruh kelas lima. Namun ia juga bisa membuat kakak-kakak kelasnya takut dengan tingkah lakunya yang menantang dan bahasanya yang mengejutkan. Ia sering mengendarai sepeda tanpa memegang stang, dan ia dikeluarkan dari kepramukaan karena berkata lancang kepada ibu Pembina. Problem lainnya Jim juga sering bertindak kasar pada adik lelakinya, Andy.

Antara tahun 1955-1957, Jim didaftarkan di sekolah umum Albuqueque di New Meksiko. Satu-satunya persahabatan yang terbina secara sungguh-sungguh adalah dengan seorang teman sekelasnya yang tinggi tapi gemuk, Fud Ford. Melalui temannya inilah Jim mengenal lingkungan sosial di sekolah menengah Alameda. Jim dan Fud benar-benar tak terpisahkan. Mereka minum-minuman keras pertamanya bersama-sama, dan melakukan kenakalan-kenakalan lainnya, seperti hasrat seksualitas. Lepas dari segala macam bentuk kenakalan yang dibuatnya, Jim adalah seorang kutu buku. Buku-novel yang dia baca adalah novel Jack Kerouac mengenai generasi beat, On The Road. Jim menemukan buku itu pada September 1957 bertepatan dengan kedatangan keluarga Morrison di Alameda. Jim terpesona dengan sosok Dean Moriarty, sang “jagoan dari barat yang bersalju dengan tubuh separuh terbakar”. Jim pun mulai meniru Moriarty bahkan hingga ke cara tawanya yang “hiii-hiii-hiii”. Dengan segala perilaku ganjilnya Jim pada masa ini mulai dekat dengan seorang gadis bernama Tandy, hingga kepindahannya ke Florida.

Di Florida adalah masa Jim menempuh tahun akademiknya dan ia menyewa sebuah rumah modern tiga kamar bersama lima mahasiswa lainnya, yang jaraknya satu mil dari kampus Florida State University. Sebagaimana telah menjadi kebiasaannya, ia segera “menjadi ujian” teman-teman serumahnya itu. Jim mulai terobsesi dengan Elvis Presley dan akan memutarnya kencang-kencang volume radio. Kegemaran Jim pada buku, puisi dan film muncul pada masa ini. Jim mulai membangun persahabatan sekelompok kecil komunitas yang terdiri dari orang-orang yang paling aneh dan paling eksplosif diantara para siswa sekolah film. Pada masa ini pula Jim mulai mengenal Ray Manzarek seorang mahasiswa sinematografi yang berbakat. Diam-diam Jim mengagumi sosok Ray yang memiliki sisi idealis dalam pembuatan-pembuatan filmnya. Selain itu Jim juga tertarik dengan musik yang dibawakan oleh Ray, dengan bandnya Rick and The Ravens. Pernah suatu kali Ray mengajak Jim, termasuk beberapa kawan lain dari sekolah film untuk tampil dalam band. Penampilan mereka saat itu, dengan suasana kacau karena mabuk bir mereka menyanyikan “Louie-Louie”, dengan teriakan-teriakan dan gelak tawa. Pada kesempatan yang lain Ray pernah mengajak Jim pada acara pesta dansa wisuda sebuah SMU. Kejadiannya saat itu terbilang spontan karena Ray kebingungan salah satu dari anggota band-nya keluar, bila demikian maka dia tidak akan dibayar, kecuali ia membawa enam musisi sesuai kontrak. Kutipan dialognya tertera sebagai berikut.

“Hey, man,” kata Ray ketika melihat Jim, mau ikut main band?” “Aku enggak bisa main alat musik apapun, Ray.” “Nggak apa, kau cuma harus berdiri dan memegang gitar elektrik. Kabelnya kita tarik kebelakang ampli. Bahkan kabelnya tidak perlu dicolok.”

Belakangan, Jim mengatakan bahwa belum pernah ia mendapatkan uang dengan cara yang semudah itu.

Lahirnya The Doors

Pada bulan Agustus tanpa sengaja Jim bertemu kembali dengan Ray Manzarek yang sedang berjalan-jalan sepanjang Venice Beach. Pada saat perjumpaan inilah Jim mempunyai kesempatan untuk menyanyikan lagu yang ditulisnya dihadapan Ray. Ia memilih bait pertama dari “Moonlight Drive”. Kata-kata didalamnya tersusun dengan lembut dan penuh perhatian.

Let’s swim to the moon/uh uh Let’s climb through the tide Penetrate the evenin’ that the City sleeps to hide…

Ketika ia selesai, kata Ray, “Shit, lirik lagu paling bagus yang pernah aku dengar. Ayo kita bikin band Rock dan bikin berjuta dollar.” “Tepat sekali,” kata Jim balik. “Itulah yang ada dalam pikiranku selama ini.” Suara Jim sebenarnya lemah. Tapi dia dan Ray sepakat bahwa itu adalah persoalan kepercayaan diri, yang akan semakin membaik seiring latihan. Tak lama setelah bertemu dengan keluarga Ray dan bersamaan dengan itu bergabunglah seorang drummer baru, John Densmore, dan seorang wanita pemain bas cabutan yang tidak diketahui lagi namanya. Hanya dalam waktu dua minggu latihan dengan semangat mereka berangkat ke studio rekaman World Pacific di Third Street di Los Angeles karena pada saat itu Rick and The Ravens punya kontrak dengan Aura Record. Pada waktu bersamaan Jim juga mencetak tiga piringan yang berisi lagu-lagu yang ditulis Jim pada musim panas tahun itu, diantaranya “Moonlight Drive”, “My Eyes Have Seen You” (lagu yang belakangan diganti judulnya menjadi “Go Insane”), “End Of The Night”, dan sebuah lagu “tanpa dosa” dengan tema parenial, “Summer’s Almost Gone”, yang oleh Jim, Ray, John dan kadang-kadang oleh Dorothy Fujikawa, dibawa-bawa dari satu perusahan rekaman ke perusahan rekaman lainnya. lagu-lagu tersebut, serta band pemainnya, ditolak oleh semua perusahaan rekaman.

Di masa-masa inilah Jim bertemu dengan Pamela Courson yang kemudian menemani Jim pada masa-masa di The Doors dan di kehidupan lainnya.

Pada perjalanannya kondisi band mulai mengalami perpecahan, saudara Ray keluar digantikan oleh Robby Krieger, seorang gitaris yang juga ikut dalam kelas meditasi bersama Jim. Ia juga sosok yang paling tidak meyakinkan. Rambutnya kriwil kecil-kecil dengan warna coklat roti bakar matang, memiliki mata sayu berwarna hijau yang membuatnya seperti sedang pusing, yang sebagian orang menduga karena sebab obat bius atau karena ukuran lensa kontak yang salah ukuran—pribadi yang nyentrik. Obrolan-obrolan dan latihan musik terus berlangsung sehingga mereka berempat jadi semakin dekat satu sama lain dan bertemu di rumah Ray dan juga di rumah Robby. Lima hari seminggu, sepanjang sore mereka berlatih. Mereka mencoba tampil sesekali pada acara bar mitzvah, acara-acara pernikahan, dan pesta-pesta mahasiswa—mengandalkan lagu-lagu yang sudah terkenal seperti “Louie-Louie”, dan “Gloria”. Kadang-kadang mereka menyanyikan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri. Jim saat itu masih belum percaya diri dan malu untuk menghadap penonton, sedikit apa pun jumlahnya, masih menghadap kebelakang ketika tampil dipanggung. Bahkan di hari-hari awal penampilan The Doors justru Ray yang lebih banyak tampil sebagai vokalis, dan Jim hanya member penekanan pada lirik-liriknya dengan meniup harmonika atau membuat suara-suara seperti “Yeah!” Atau “Drive on!”

Pada bulan Februari, The Doors sudah memiliki repertoir tidak kurang dari empat puluh lagu, dan dua puluh lima dari repertoir mereka merupakan karya orisinil, termasuk “The End”, yang pada 1966 tidak lebih dari sekedar lagu cinta yang semakin menghilang, yang ditulis dengan bagus. Kecuali lagu “Alabam Song”, yang diambil dari musik-musik Brecht–Well tentang kejayaan dan degradasi Nazi Jerman sebelum perang. Sekarang Jim-lah yang menyanyikan hampir semua lagu itu. Seiring waktu Jim semakin meraih kepercayaan diri. Ia tidak berpikir bahwa ia memiliki suara yang istimewa —tapi ia tahu ia semakin baik. Yang terpenting bagi The Doors adalah rasa “menyatu”, ketiga musisi dan sang penyanyi semakin saling mengenal musik masing-masing. Mereka memiliki suatu perjanjian kerjasama yang tidak biasa, yaitu membagi semuanya sama rata. Hampir semua lagu ditulis oleh Jim, namun dalam rekaman nama The Doors-lah yang dicantumkan sebagai pencipta, dan semua royalty maupun pemasukan-pemasukan lain akan diberi rata kepada empat personil. Semua keputusan kreatif dilakukan secara bersama. Namun pada saat ini pula Jim mulai membawa obat bius keatas panggung, bernyanyi dalam keadaan mabok tak terkendali. Pada saat itu The Doors berkesempatan tampil di The Whiskey Club sejak pertengahan Mei hingga pertengahan Juli, dan setidaknya dalam seminggu mereka dipecat karena membuat berang pemilik klub. Pada saat itu The Doors kerap menjadi band pembuka dari band-band seperti The Animals, The Rascals, dan lainnya. Aksi panggung yang urakan dan sikap Jim yang tak terkontrol adalah sebab The Doors di pecat dari klub The Whiskey. Anehnya, The Doors masih tetap dinginkan oleh pemilik klub untuk tampil kembali. Mungkin berita yang beredar tentang penampilan Jim menjadi pertimbangan bagi pemilik klub.

“Kau harus lihat The Doors di The Whiskey, vocalisnya gila banget,” demikian berita yang beredar di jalanan kala itu.

Ketika sudah tampak jelas bahwa The Doors akan tetap di The Whiskey untuk beberapa waktu—mereka sudah tidak membicarakan pemecatan-pemecatan dengan serius pada dua minggu pertama—mereka berempat pindah rumah secara terpisah. Kemudian penawaran kontrak konser juga diperoleh The Doors, dan pada perjalanannya The Doors sudah memenuhi The Whiskey dengan fans fanatiknya sendiri. Sementara itu Jim mulai terlibat lebih jauh dengan obat bius.

Pada minggu pertama bulan Januari 1967, album mereka yang berjudul The Doors dan single “Break On Through”, keduanya diluncurkan. Sebuah billboard yang memasang wajah mereka dan tertulis disana: THE DOORS: Break On Through with an Electrifying Album” menjadi panel iklan rock pertama di Sunset Strip, dan The Doors tampil di Bill Grahams Fillmore Auditorium di San Francisco, dengan peringkat urutan ketiga setelah The Young Rascals dan The Sopwith Camel , bayaran mereka $350. Bayaran terendah namun ditempat konser yang terbaik di Amerika. Musim panas tahun ’67, bulan Juni versi edit lagu “Light My Fire” untuk pertama kali masuk tangga lagu tingkat nasional. Lalu The Doors di San Francisco sebagai tampil sebagai band utama untuk pertama kalinya di Fillmore bermain dengan Jim Kweskin Jug band. Kemudian ikut tampil di acara ulang tahun radio WOR-FM dengan sambutan yang sangat meriah dan tepuk tangan panjang. Pada saat yang sama single “Light My Fire” bergerak sangat cepat, popularitasnya menyapu wilayah Barat hingga ke Timur, demikian pula The Doors. Pada minggu ketiga Juni lagu ini masuk ke tangga lagu Hallowed Top 10 dan bertengger disana selama sebulan penuh, pelan-pelan memanjat keatas, dan pada bulan Juli edisi Billboard yang berikut, The Doors ada di nomor satu. Mereka berhasil! Nomor satu. Status superstar sudah ditangan. Bagaimana kisah Jim dan The Doors selanjutnya?

(Bersambung ya bro)

9 Responses to “Jim Morrison: Sebuah Kisah Pembebasan”

  1. Prettyh8 Says:

    saya dapat buku yang sama juga pak Budi, yg terjemahan lokal itu. kl boxsetnya saya pernah hampir dapat sekennya, sayangnya ada 1 cd yg disertakanl shg saya batal beli.apalagi harganya tak beda jauh dgn aslinya. menurut alm. Ray film theDoors karya Oliver Stone tak akurat memotret Jim “barangkali itu jimbo morrison, bukan Jim Morrison yg saya kenal” kira2 begitu katanya.

    • Gatot Widayanto Says:

      Kalau menikmati When The Music is Over ….saya bisa njungkel kejedug tanpa terasa sakit saking musiknya asik ….nggelendhem ….

    • Budi Putra Says:

      Kalo sy sdh sempat dpt cd box set nya…keren hbs, saking kerennya cuma sy pandangin aja. Cuma sesekali aja sy panteng di kompo. Jd wkt ke lego msh kinclong-clong…sy suka nomer People are Strange, Love Street, dan pasti Light my Fire…

      Mas Gatot, matur suwun ulasan ini di posting di blog gemblung nan dahsyat jadul sonic poll…

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas Budi,

        Sama2 mas. Fotonya nyusul ya … terlalu kecil size nya mas.

        People are Strange saya juga suka biyanget! Lucu dan riang gembira kayak orang main jamuran ….

        Light My Fire juga kerrrennn ….

  2. prasetyoindro Says:

    mas budi, salam kenal..seneng sekali saya membaca tulisan ttg jim morrison ini…sy prnh nonton filmnya yg dibintangi oleh val kilmer, dan memang si jim ini kadar “mbelingnya” luar biasa namun juga diimbangi dengan kemampuan berkesenian yg hebat…rocker yg menerapkan prinsip sex, drugs, and rock ‘n roll dengan sebenar-benarnya..

    • Budi Putra Says:

      Salam kenal mas Indro, Jim Morrisom lbh populer dg perilaku sex, drugs, and rock n roll, tp disisi lain Jim seorang intelektual yg mumpuni. Semasa kuliah di hafal semua judul buku2 dan isinya yg memenuhi kamarnya. Selain novel, Jim jg membaca karya2 filsuf spt Nietzhe, Jung, dll. Bahkan Jim jg memiliki bakat di bdg sinematografi, bbrp filmnya biasa di putar di festival film mahasiswa. Umumnya anggota The Doors lainnya memang anak sekolahan yg nyentrik…

  3. cosmic_eargasm Says:

    Mas Budi, top postingannya tentang Jim Morrison. Sy sendiri blm sempat baca bukunya, tp film nya The Doors dgn pemeran utamanya Val Kilmer sy sangat suka sekali, walaupun katanya menurut alm. Ray Manzarek, sosok Jim nggak seperti yg di film garapan Oliver Stone tsb. Sy dulu jg sempat memiliki cd boxed-set The Doors 7cd album studio nya. Bagi sy The Doors dgn Jim sebagai figurnya sangat bs mencurahkan sisi pemberontakan (seperti yg dikatakan oleh Mas Budi) secara radikal dan inovatif dr dandanan Jim yg suka pakai celana kulit & sikap urakannya. Selain itu style musiknya jg sangat inovatif. Permainan pattern organ Ray Manzarek sangat tdk lazim pd era tsb, yg kelak diteruskan oleh band2 Rock macam Deep Purple, Uriah Heep dll. Walaupun pd era tsb Ken Hensley sdh punya The Gods yg sdh sangat canggih hammond sound nya dan jg ada Keith Emerson yg menggila dgn The Nice nya. Jon Lord jg keren mainnya di Artwoods.

    Ditunggu lanjutan dr kisah “The Lizard King” ini mas.

    Thanks.

    ::: Keep Rockin’ :::

  4. aad Says:

    salut sama Morrison, krn dia ini kuliah walo berandalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: