Dari Konser Ke Konser: Rock Bergema Sepanjang Masa

Budi Putra
My%20pic
Kalau Tan Malaka pernah menulis buku Dari Penjara Ke Penjara karena pengalamannya sebagai aktivis kemerdekaan. Maka saya mencoba mengulas cerita ini berdasarkan pengalaman  ketika menonton konser- konser musik rock pada era 80-90an. Walaupun hanya pada level  konser tingkat lokal namun bagi saya hal ini sangat berkesan. Bagaimana tidak demi bisa menonton konser segala daya dan  upaya ditempuh walau dengan kemampuan yang terbatas. Memang bukan sesuatu hal yang baru ulasan ini dan mungkin pengalaman teman-teman lain malah lebih dahsyat dan keren. Apalagi ulasan ini hanya bersandar pada pengalaman semata yang pasti lebih banyak kekurangannya.  Untuk itu monggo dilengkapi.

Sambil ditemani film Lawless via tv kabel Fox Movies sore ini saya mencoba mengumpukan kembali serakan pengalaman saat menonton konser rock kala itu. Saya ingat, pertamakali nonton konser rock yakni di area Parkir Timur, Senayan. Saya lupa nama acaranya.  Pentas ini dipandu oleh trio Warkop DKI (Dono,Kasino,Indro). Warkop sempat menyanyikan beberapa lagu jenaka ditengah-tengah konser yang sempat ricuh. Konser ini menampilkan sejumlah band dari berbagai genre; rock n roll, hard rock, dan heavy metal . Selain performa band ada juga penyanyi solo yakni penyanyi gaek nan nyentrik, Renny Jayusman. Salah satu band yang saya ingat bernama Robot. Band ini sepertinya spesialis membawakan lagu-lagu dari Judas Priest. Salah satu nomor yang dibawakan adalah Turbo Lover dari album Turbo. Ada juga band A yang  memainkan musik Iron Maiden seperti nomor Trooper dan Power Slave. Namun saat itu lagu yang paling populer adalah lagu miliknya White Snake, Here I Go Again.
Selain nomor slow rock seperti Home Sweet Home, dari Motley Crue, dan Nobodys Fool, Cinderella, beberapa kali dinyanyikan—banyak band yang membawakan slow rock songs saat itu. Dan sudah tentu nomer gres The Rolling Stones, Honky Tonk Women yang dinyanyikan rocker nyentrik Renny Jayusman menjadi antiklimaks pertunjukan konser siang itu. Di tengah-tengah lagu sejumlah penonton mulai terlibat perkelahian. Terlihat diantara meraka saling kejar dan pukul. Saya perhatikan dari kejadian itu ada lucunya juga. Saat aksi kejar mengejar beberapa penonton malah mengambil kesempatan. Satu-dua orang sambil berlari nyomot (mengambil) minuman botol dari gerobak dagangan yang sudah ditinggal pergi penjualnya karena ketakutan. Mereka terus saja berulah. Kekacauan terjadi hingga hampir satu jam. Ban-ban bekas dilemparkan ke udara. Suasana siang itu semakin panas.  Saya kok heran bagaimana bisa ada ban-ban bekas ditengah-tengah konser rock? Suasana tak terkendali
sehingga saat itu Indro mengambil alih mix dan  mengancam akan menghentikan konser. Untuk meredakan suasana  Kasino kemudian bernyanyi sambil memainkan gitar. Suasana mulai reda mungkin karena mendengar kejenakaan lirik lagu yang dibawakan Kasino….wo ai ni, ni ai wo…..Konser yang dimulai sejak pagi itu berakhir jelang petang.

image

Pengalaman  nonton konser musik rock selanjutnya masih di area Parkir Timur, diadakan menjelang pergantian tahun baru 1987. Karena lokasinya tidak jauh dari sekolah maka saya  bersama teman langsung menuju Parkir Timur. Saya kurang ingat band-band yang tampil pada malam itu. Yang saya  ingat ada band bernama Cikini Stones Complex (CSC)—infonya ini adalah bandnya Bimbim sebelum membentuk Slank—-yang fasih membawakan lagu-lagunya Rolling Stones dan Sigma Band yang membawakan lagu The Final Coundown, Europe. Seingat saya era itu adalah masa keemasan band-band seperti Rolling Stones, Beatles, dan band glam rock seperti  Bon Jovi, Europe, Motley Crue. Satu dua band masih ada yang bawain lagu-lagu Deep Purple atau Led Zeppelin.

Pada saat itu boleh dibilang stigma musik dan konser rock identik dengan kericuhan masih melekat kuat. Hal ini menurut saya bisa terjadi karena acara ditempat terbuka cenderung menimbulkan gesekan, apalagi tidak dipungut biaya alias gratis. Atau memang diantara penonton yang memang berniat bikin ricuh bukan untuk menikmati tontonan. Semenjak itu konser-konser musik rock sudah jarang digelar diarena terbuka karena masih dikuatirkan akan memicu keributan. Apalagi beredar pelarangan oleh aparat keamanan agar tidak lagi menggelar konser ditempat terbuka.  Namun demikian, sejumlah konser masih digelar walau diadakan ditempat tertutup seperti konser Mick Jagger di GBK. Itupun dengan pengamanan yang super ketat khas orde baru. Saya sempat nonton konser di GOR Bulungan dengan Cokcpit sebagai guest star.  Cockpit saat itu memang dikenal sebagai Genesis-nya Indonesia. Malam itu Cockpit membawakan nomor-nomor seperti Invesible Touch, Mama, dan lainnya. Sedang band
Majapahit asik dengan hentakan lagu Highway Star, Burn, milik Deep Puple.  Namun sayangnya konser yang digelar di GOR Bulungan itu sepi penonton.

Pada kesempatan lain saya beruntung bisa menyaksikan konser bertajuk Tur Raksasa, God Bless di Pantai Carnaval, Ancol pada tahun 1989an. Tur kali ini God Bless ditemani band asal Surabaya Power Metal dan Mel Shandy. Sayang saat Power Metal tampil saya tidak sempat menyaksikannya karena bersama rombongan masih nego dengan aparat keamanan agar bisa masuk dengan harga tiket murah. Tapi yang saya ingat Power Metal saat itu membawakan nomor I Want Out miliknya Helloween. Setelah nego berhasil kami bisa masuk dan menyaksikan Iyek yang berbalut kaos hitam bergambar The Cure menyanyikan hit lagu-lagu di Album Raksasa. Iyek dan Donny Fatah masih terlihat garang diatas panggung. Namun sayangnya konser ini sempat dinodai keributan antara penonton dan aparat keamanan yang marah karena dilempar sepatu oleh penonton. Fokus nonton God Bless jadi sempat buyar.

Era Pensi
Setelah era konser dilapangan terbuka kemudian muncul tren konser musik yang dikemas -dalam bentuk Pentas seni (Pensi) di sekolah-sekolah. Dan  kampus-kampus ternama kerap menggelar konser bertajuk isu kemanusian (HAM).  Tempat-tempat Pensi yang menjadi favorit para penikmat musik dari band panggung adalah SMA 82 di Jl. Daha, SMA 6 Melawai, SMA 46 Blok A, PL di Jl. Brawijaya, serta sejumlah sekolah dibilangan Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sekolah-sekolah yang menjadi favorit kunjungan nonton konser bukan semata karena tampilan band-nya saja.  Tapi keberadaan cewek-cewek cantik di sekolah tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi bila ada performance dance dan cheer leader maka mata bisa melotot tanpa berkedip dan betah seharian duduk manis. Sedangkan untuk kampus-kampus biasanya di Unas, Atmajaya, ISTN, UI, Budi Luhur. Sedangkan untuk arena tertutup yang menjadi langganan pagelaran adalah GOR Bulungan, Kuningan, Poster Café dan Pub dibilangan
Pondok Indah.

Banyak band-band terkenal kemudian lahir dari Pensi-Pensi ini. Sebut saja  Roxx, Sucker Head, Rotor, serta band underground lainnya macam Morthor, Toilet, No Problem, Anti Septic, dan lainnya. Pada masa itu dominasi band-band dengan genre trash metal seperti Kreator, Testament, Anthrax, sangat kuat pengaruhnya dikalangan band-band panggung. Maka band seperti Roxx yang dikenal dengan lagu-lagu dari Metallica atau Anthrax tidak meninggalkan tren ini. Roxx yang seringkali membawakan track Be All And All dari album State of Euphoria miliknya Anthrax dan Master of Puppet-nya Metallica. Sedangkan Sucker Head populer dengan lagu-lagu dari Kreator dan Sepultura. Sewaktu pentas di SMA 82, Yaya, vokalis Sucker Head dengan warna vokal growlnya sukses menyanyikan lagu wajib kaum trasher masa itu, Extreme Agression dengan intro growl yang dahsyat menggema menarik minat penonton untuk ber-headbanger. Band-band lainnya yang juga menjadi favorit penonton adalah No
Problem. Band ini dikenal dengan gempuran trash metal ala Sodom atau  hard-core model SOD. Di tempat lain ada  band Toilet dengan personil cewek-cewek cantik ini, dikenal penonton dengan nomor-nomor band punk horror, The Misfits, “Mommy, Can I Go Out and Kill Tonight….teriak sang vokalis cewek. Serta yang menjadi legendanya kaum punk Jakarta adalah Anti Septic dengan nomor-nomor punk milik Sex Pistols. Saat konser di Granada, band ini sempat bikin heboh karena penonton chaos dengan melempar kursi ke segala penjuru. Saat itu Anti Septic membawakan nomor God Save The Queen. Namun ditengah gempuran trash metal dan punk  masih ada Brawijaya band yang setia mengusung lagu-lagu rock klasik. Band ini kerap membawakan nomor lawas Kansas, seperti  Dust In The Wind.  Dengan vokalisnya Once—yang kemudian dikenal sebagai vokalisnya Dewa—membawakannya pada saat Pensi di SMA 6 dan konser bertajuk Jakarta Rock n Rhythm di GOR Bulungan, dengan sangat indah.
Salah satu personil Brawijaya yang memainkan alat musik biola kabarnya kemudian gabung di band progrock, Discuss.  Kemudian Acid Speed Band dengan vokalisnya yang mirip Jagger, pernah tampil juga di Pensi SMA 82 dengan membawakan hits dari Rolling Stones dan Aerosmith. Namun saat Acid tampil nampaknya penonton kurang tergerak untuk jingkrak-jingkrak. Mungkin penonton enggak ngeh lagu yang dibawakan atau memang karena saat itu era-nya trash line—walaupun sejumlah band pengusung alternatif seperti Pearl Jam atau Nirvana sudah muncul—jadi performance Acid kurang diminati penonton.

Maka tak bisa dipungkiri bila Roxx dan Sucker Head adalah band yang merajai Pensi-Pensi kala itu. Performancenya selalu ditunggu-tunggu penggemar metal. Roxx menurut saya adalah band yang paling populer dan memang patut diapresiasi. Sang drumer, Ari Januar, dalam setiap konsernya selalu menyiapkan perangkat drum tersendiri untuk performancenya. Saat menggebuk drum tak kalah dahsyat dengan gebukan ala Lars Ulrich ataupun Tommy Lee. Sayangnya drummer berbakat ini yang pernah membentuk band di Australia tidak berusia panjang. Ari meninggal dunia pada usia muda akibat over dosis heroin. Bersama Roxx,Ari sempat menelurkan 2 album. Yang populer dijagat underground kala itu ialah titel Black Album dengan judul lagu seperti Price, Gelap, 5 cm, dan Rock bergema.

Gelombang trash metal saat itu memang tidak bisa dilepaskan dari peran stasiun radio. Salah satunya adalah radio Mustang FM. Melalui acara Rock n Rhythm bersama penyiarnya yang ngerock Bugi Usman, radio ini ikut merayakan tren metal saat itu. Mereka juga sukses membuat pagelaran bertajuk Jakarta Rock n Rhythm di GOR Bulungan. Deretan lagu dari band-band seperti SOD, MOD, Suicidal Tendencies, Sepultura, Morbid Angel, Coroner, Sanctuary, dan lainnya meluncur dahsyat dari corong Bugi Usman. track Speak English Or Die (SOD), Color My World , lagu milik band Chicago yang diplesetkan oleh band hard core, MOD, serta nomor You Can’t Bring Me Down, Suicidal Tendencies menjadi track andalan Rock n Rhythm. Mungkin karena pada saat itu sangat  jarang stasiun radio mau menyiarkan acara seperti ini maka acara Rock n Rhythm menjadi acara favorit dikalangan pecinta metal saat itu. Namun disisi lain acara ini  kerap dijadikan referensi untuk hunting kaset impor yang
memang sangat langka saat itu.

Klimaksnya adalah saat kedatangan band death metal, Sepultura ke Jakarta.  Pada sesi acara temu fans di radio Mustang ratusan trasher mania se Jabodetabek berdatangan khas dengan atribut hitam-hitam ala Sepultura. Boleh dibilang kedatangan Seputura adalah tonggak masuknya band-band metal mancanegara lainnya. Sebut saja Metallica. Bila diilustrasikan saat itu adalah puncaknya arus mudik eh arus musik metal/trash. Konser  Sepultura di stadion Lebak Bulus terbilang sukses membahana. Ribuan penonton menyaksikan konser itu, termasuk saya tak ketinggalan. Walau dengan kocek nipis saya bisa juga nonton konser dahsyat Sepultura….Beneath The Remain! Penampilan personil Sepultura memang luar biasa. Max Cavalera tiada henti menggeber penonton dengan lagu-lagu hit Sepultura. Penonton pun ber head-banger termasuk saya yang berada nyaris didepan panggung. Dengan tubuh belepotan lumpur karena stadion yang becek tapi tetap semangat mengikuti gempuran Cavalera, dkk.
Sayangnya saya tidak sempat menyaksikan band pembuka Edane. Namun menurut cerita teman yang sempat menyaksikan Edane dia bilang kehadirannya tidak diminati penonton. Bahkan ada cerita sang vokalis, Ekky Lamoh, beberapa kali keseleo lidah saat membawakan sejumlah lagu. Hal ini membuat Eet jadi berang. Entah benar atau tidak cerita itu boleh jadi penonton tidak minat karena saat itu adalah eranya trash metal. Maka kurang  pas bila Edane disandingkan dengan Sepultura dalam satu panggung.
Setelah Sepultura kemudian Metallica tampil ditempat yang sama, stadion Lebak Bulus. Namun kali ini konser Metallica tidak berjalan mulus. Terjadi kerusuhan disekitaran Lebak Bulus hingga Pondok Indah. Saya sendiri harus berputar-putar agar bisa mendekati stadion yang dijaga ketat aparat TNI. Di luar stadion terdengar tembang From Whom The Bell Tolls membuat bulu kuduk saya jadi merinding. Bersama penonton lain yang senasib  saya berupaya mencari celah agar bisa mendekati lokasi konser. Namun sulit tercapai karena di sejumlah perempatan jalan terjadi kerusuhan; traffic life yang dirobohkan dan ada beberapa mobil yang dirusak dan dibakar. Baru mendekati lokasi konser aparat sudah merangsek mengejar penonton dengan pentungan. Namun menjelang hampir tengah malam aparat megijinkan kami masuk dengan syarat harus antri dan baju dilepas…..hadehhh! Akhirnya bisa juga menyaksikan konser Metallica, plus sempat menyaksikan solo bass yang dimainkan Jason Newsted.
Metallica oh Metallica, kesampaian juga melihatmu secara langsung…live! Mungkin nonton konser Metallica adalah capain tertinggi saya sebagai penikmat sekaligus penggemar musik secara live. Setelahnya saya hanya menyaksikan konser Mr. Big di stadion Tambak Surabaya dengan band pembuka Boomerang—-Walaupun pada tahun 2013 banyak konser band metal mancanegara sebut saja Dream Theater dan Metallica, namun hal itu belum mampu menarik minat saya untuk datang menyaksikan konser.

Pada saat kuliah entah mengapa saya kurang minat mendatangi konser-konser musik. Saya  malah lebih senang hunting kaset dan cd classic rock dan kembali mendengarkan musiknya. Mungkin karena mulai jenuh dengan aroma trash/punk saat itu maka balik maning neng musik jadul. Apalagi saat itu (tahun 2000-an) ada stasiun radio di Jakarta yang spesial mengudarakan tembang-tembang rock klasik, M97 FM, menambah gairah untuk mendengarkan rock klasik. Dengan penyiarnya yang jenaka, kang Ipet, lantunan rock klasik begitu nuansamatik didengarkan. Bahkan bassis Sucker Head, Krisna Sadrach, sempat juga menjadi penyiar di stasiun radio ini dengan acaranya Metal Malem-Malem. Nah, dari M97 saya banyak mendengarkan lagu-lagu dari band-band progrock seperti King Crimson. Lagu Epitaph yang pertama kali saya dengar dan kemudian In The Court Of The Crimson King, memang kerap diputar. Stasiun radio ini juga pernah mengulas band-band progrock seperti Yes yang saat itu
menghadirkan Dwiki Darmawan sebagai narasumber. Bahkan dalam setiap periode M97 FM punya acara covering band-band prog-rock mancanegara. Seingat saya M97 FM pernah bikin acara covering Pink Floyd dengan band pengusung bernama Bluesky. Biasanya sebelum perform diadakan sesi on air di radio dengan mengundang partispasi para pendengar untuk mengomentari acara itu. Namun sayangnya, M97 FM sudah tidak mengudara lagi alias bangkrut karena persoalan keuangan. Namun dalam perjalanannya musik rock tetap bergema hingga saat ini. Rock Never Die!

Salam,

Budi

19 Responses to “Dari Konser Ke Konser: Rock Bergema Sepanjang Masa”

  1. Budi Putra Says:

    Mas Gatot matur suwun sdh diposting ulasannya di blog gemblung nan dahsyat ini.

    Salam

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Budi … Luar biasa tulisannya! Top dah!!! Keep on writing mas!

      Kaos Black Sabbath nya keren tuh …

  2. Didi Says:

    Mas Budi, luar biasa ulasannya. Bikin saya ingat lagi masa2 keemasan thrash, speed, death metal. Rock n Rhythm di Radio Mustang itu juga saya inget banget mulai dari jam 18:00 pake lagu pembukanya into the lungs of hell-nya Megadeth. Menurut saya, akhir 80-an sampai awal 90-an merupakan kebangkitan kembali musik rock karena waktu banyak lahir band2 baru dengan warna yg berbeda2. Glam rock, speed, thrash, death metal, grind & hardcore, alternative, dll. Mantap Mas tulisannya

  3. Budi Putra Says:

    Tks mas Didi, ini sekedar berbagi ingatan dan semacam reuni kenangan kala itu. Sy jg awalnya classicrock tulen, andalan sy DP dan LZ…terus tambah Uriah Heep. Tp krn suasana metalnya saat itu kuat bgt maka nyemplung jg ke kancah metal. Klo lagu di acr rock n rhythm yg plg gak lupa sampe skrg…track Speak Englis Or Die (SOD), ini jd guyonan di sekolah (SMP). Pas pelajaran bhs Inggris sblm mulai kami akan teriak “Speak English Or Dieeeee”! Maka yg ikut teriak ikut di setrap dimuka kelas olh guru bhs inggris…:hahaaha. Dan You Can’t Bring Me Down (Suicidal Tendencies)—-lagu ini biasanya diputar menjelang jam 21.00. Imi lagu favorit jg.

    Kalo skrg balik ke classic rock dan utk prog dan neo prog, msh mualaf…hehehe. Lg asik dengerin IQ-The Wake.

    Salam,

  4. Wahyu Says:

    Salam kenal mas budi alhamdulillah sampean sudah balik ke classic rock..saya sendiri suka musik rock Progressive tp juga suka hard rock..bukan heavy,death metal dll..menurut saya hard rock itu mengutamakan harmoni nada..tdk asal buanter musiknya..

  5. Budi Putra Says:

    Salam kenal balik mas Wahyu. Aslnya memang suka rock klasik. Tp genre yg lain jg msg ngikutin prkmbgnnya spt DT, Opeth, Devin Townsend, dan musiknya emang keren. Saat ini utk prog/neoprog msh mualaf, hehe. Coba nyelami keindahan IQ, ats saran mas G, trnyata luar biasa…track headlong mmg dark-sweet.

  6. Gatot Widayanto Says:

    Mas Budi,

    Tadi mas Gatot Triono mengirim foto poster konser 80an yang keren dan jadulsonic pol!

    Terima kasih banyak mas GT!

  7. Budi Putra Says:

    Mas GT, keren abisss posternya. Jd inget waktu smp sering sy jumpai poster2 itu bila ada praktek renang di kolam renang Lapangan Tembak, Senayan…bbrp sy ambil dan tempel di kamar…hehehe. Mas Gatot, tks sisipan poster ditulisan ini. Black Sabbath tambah edan mas di album “13” (2013)…..hahaha.

  8. lutfi Says:

    Mas Budi, tks flashback-nya, ini obat anti lupa lho hehehe …

    Anthrax, Testament, Sacred Reich, Suicidal Tendencies, Sex Pistols, D.R.I. pernah menjadi bagian dari masa-masa SMP dan SMA saya di Jakarta. Ketika SMP, wabah Anthrax dengan topi ‘Injun’-nya ikut nular ke topi biru smp saya n’ the gank. Kok keren rasanya ditulis ‘Injun’ sembari diangkat tudung topinya sbg ekspresi kesukaan kita dengan band Anthrax yang waktu itu meledak dengan ‘Be All End All’-nya. Lalu, Sacred Reich dengan album American Way-nya yang juga jadi lagu fav saya n the gank karena setiap kali setel lagu itu di minicompo, kami berlima berputar2 menari sembari moshing dan berheadbanging ria hahaha … Bahkan D.R.I. album Thrash Zone menjadi inspirasi saya mendisain kaos kelas smp saya yang waktu itu Acid ‘Septic tank’ yang satu smp dan sempat satu kelas dengannya mengenalkan saya dengan D.R.I.

    Dari Radio Mustang FM itu juga, lagu ‘Master of No Mercy’ Suicidal Tendencies yang sangat ngebeat dan thrash itu bikin saya penasaran. Ini kok asik juga ya lagunya. Pada akhirnya saya mencari tahu dan dipinjami kaset aslinya dari Acid yang sudah mengkoleksinya. Sementara saya belum mampu beli kaset aslinya karena jatah uang jajan sekolah bisa ludes hahaha. Ada tiga album Suicidal Tendencies yang saya suka ‘Controlled by Hatred/Feel Like Shit…Déjà Vu (1989)’, ‘Lights…Camera…Revolution! (1990)’, dan ‘The Art of Rebellion (1992)’. Tren baju kotak2 ala Mike Muir sang vocalist dengan ikat kepalanya, gaya kancingan atas bajunya dan membiarkan kancing lainnya tidak dikancing juga ikut menjadi style kesukaan kami.

    Ada-ada saja anak muda jaman itu hehehe …

    Demikian, sekedar buat obat anti lupa hahaha …

    • Budi Putra Says:

      Mas Lutfi,
      Kita pernah jd generasi kotak2 ya…sy punya semua motifnya tuh…hahaha. Jaman itu asik sekali suasana trash nya terasa sampai ubun2. Selain Sacerd Reich yg covernya catchy, Death Angel (Act III) jg keren bgt. Dulu yg paling di buru2 kasetnya AMQA…Bowling Ball…lagu favorit. Sdh pesan sana sini gak dpt jg, dptnya malah Voivod, Nothing Face…lagunya aneh2, hhehehe. Kala itu jaman edan ya mas dan skrg lbh edan lg nyemplung di blog gemblung nan nguweng-nguweng ini, kayaknya skrg penghuninya lg tersengat IQ…hahaha. Cocok!

      Salam,

      • lutfi Says:

        Oiya, AMQA (Apple Maggot Quarantine Area), lagu kok cuma semenitan, gak ada panjang2nya babar blas, tapi ya itu, ternyata suka juga. Lagi2, Acid ‘Anti Septic’ lah berbaik hati meminjamkan kaset aslinya ke saya. Saya, cuma modal ngerekam pake dual tape minicompo merah merk tens aja hehe …

        Kalau sekarang, mas Budi kudu back to IQ-an, meski jaman AMQA, IQ sudah bikin album juga tapi gak sekeren sekarang tho hehe …

        Sambil baca berita banjir, ‘Life support’-nya IQ mengalir jernih …

  9. andria Says:

    album Voivod yg Nothingface itu cikal bakal Voivod dimasukkan genre prog metal, crn mengcover lagu Pink Floyd – Astronomy Domine

    • Budi Putra Says:

      Iya mas Andria, saat itu sy anggap aneh…kok musiknya beda dr album Voivod lainnya yg trash nya kentara. Tp blkngn nyari lg album ini, dan memang sdh msk genre progmet. Bisa diulas mas Andria album Voivod, kykny asik tuh…

      Salam,

  10. cosmic_eargasm Says:

    Mas Budi, luar biasa top dan runut sekali tulisannya mengenai pengalaman nonton konser rock.

    Oya, sedikit ralat mas, Sepultura itu msh termasuk Thrash Metal, bukan Death Metal. Tentang Brawijaya, dulu memang sangat top di Jakarta ya mas, vokalnya Once memang keren dari dulu, dan setau sy Once adalah adik dari Peter, gitarisnya Getah, band gothic Jkt yg sempat merilis bbrp album, Tyo Nugros dulu sempat jg main drum disana. Anti Septic, Alien Scream memang top jg di era nya. Dengar2 Rotor bangkit lg ya mas. Suckerhead jg asyik, dan wkt itu Khrisna =dgn Anang membuat album kompilasi “Metalik Klinik” berisikan band2 metal lokal di seluruh daerah di Indonesia yg kasetnya sangat laris sekali. Show Metallica sayangnya rusuh. Dan menurut pendapat sy, show/event paling lancar adalah event metal lokal. Walopun penampilannya sangar2, tp anak2 metal terkenal sopan, santun dan disiplin hingga setiap show pasti aman.

    Btw, kiriman poster djadoel nya Pak GT asyik juga, mengingatkan event2 Rock tempo doeloe era 80 an. Btw, Rawe Rontek skrng kemana ya? Jd ingat pernah dibahas di majalah Aktuil jg tuh. Giant Step nya jaman promo “Geregetan” pastinya. Solid 80 memang secara otomatis mengingatkan pada Tony Wenas yg vokalnya Phil Collins bgt.

    Thanks bgt postingannya yg top mas Budi.

    Kalo sdh begini, memang benar apa yg dikatakan oleh Roxx: Rock.. Rock… Rock.. Bergema di kesunyian dunia..

    ::: You Raaawwk! :::

  11. kukuh tawanggono Says:

    Mas Budi sedulur lanangku sing dadi sigarane ati(mas Budi saudara lelakiku yg jadi belahan hati)

    Saya ini kok semakin koplak njih(kok baru tahu tulisan njenengan yg mirip dengan lembaran-lembaran masa lalu saya)he he he he he.Mangkane njenengan begitu menggebu-gebu setiap mendengar dan menceritakan dunia metalhead yg penuh dengan kisah-kisah seru,ternyata njenengan pernah terjun didalamnya.Sebenarnya saya sudah lama menduganya tapi saya takut bila menyinggung njenengan.
    Yg konser Sepultura di Surabaya ada insiden mas.Waktu itu kami lari dikejar-kejar plokis gara-garane disangka mau ikut-ikutan rusuh.Saya inget atas saran seorang teman kami sembunyi di kawasan dolly ,sampai situasi aman.Jujur seumur hidup saya baru tahu(maaf bukan sok naif) tempat seperti itu,saya malah nelongso mas.Bahkan penjual makanan tempat saya dan teman-teman ngumpet sampe melongo melihat saya menangis mas(waktu itu dipikiran saya, andai gadis-gadis yg dietalase itu adalah saudara-saudara perempuan saya bagaimana rasa hati saya ini mas).
    Juga pengalaman-pengalaman di pentas-pentas lain,baik hanya sebagai penonton,ikut main,ikut membantu penyelenggaraan,ikut ngisruh he he he he benar-benar membantu dalam pendewasaan diri saya mas.Oh njih mas setiap kali menonton pertunjukkan musik-musik metal saya mesti mengalami cedera mas.Seperti acarane Napalm Death tubuh memar-memar,konser Iron Maiden tangan kesleo,acarane Metallica kepala buncur(berdarah),dan pentas-pentas lainnya yg saya sudah lupa he he he he.Hal ini terjadi karena saya berprinsip ketika didalam konser saya ingin mengeluarkan segala energi negatif saya sehingga ketika konser selesai saya jadi fresh(gerakan tubuh saya selalu total ketika dihantam musik yg sadis bin ganas itu he he he he).kalo sekarang sudah mulai berkurang mas,maklum faktor usia ha ha ha ha ha ha
    Oh njih mas,kaos Black Sabbath itu saya juga punya(tapi gambarnya sosok iblis yg terbang).Andai difoto itu njenengan sama saya dijejer,mesti dikiranya orang ,anak kembar mas he he he he.

  12. andria h8 Says:

    tadinya saya kira mas Kukuh badannya kurus seperti anggota Slank😀

    • kukuh tawanggono Says:

      Mas Andria kalo njenengan lihat Kery King gitarisnya Slayer ya itu gambaran saya he he he he
      Gundul/plontos sama
      Berat badan mungkin sama(berat saya 90 kg)
      Bersifat seperti jaran nakal(kuda liar)sama
      Ketampanan wajah masih tampan sana tapi lebih sedep saya ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha

  13. gerobak minuman Says:

    What’s Going down i am new to this, I stumbled upon this I
    have discovered It positively helpful and it has aided me out loads.
    I hope to give a contribution & assist other users like
    its aided me. Good job.

  14. Arief Hidayat Says:

    mas, sy juga nonton konsernya Mr Big di Stadion Tambaksari surabaya, tahunnya kalo nggak salah 1989. Saya masih terkenang sampai sekarang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: