Mari Putar Kembali Guruh Gipsy dan Badai Pasti Berlalu

Rully Resa

image

Momen bersejarah seringkali hadir begitu saja tanpa sempat dengan baik kita antisipasi. Cerita ini dimulai pada minggu pagi 15 desember 2013. Ketika itu saya baru bangun tidur dan masih berbaring ditempat tidur tetapi (seperti biasanya) menyempatkan diri berselancar internet lewat HP dengan ritual mengamati timeline twitter. Dari situ saya dapat informasi bahwa nanti sore akan diadakan diskusi tentang album ‘Badai Pasti Berlalu’ dan ‘Guruh Gypsy’ bersama pembicara Eros Djarot, Yockie Suryoprayogo, Roni Harahap serta Denny Sakrie sebagai moderatornya. Acara tersebut diberi judul “Mari Putar Kembali Guruh Gipsy dan Badai Pasti Berlalu”. Mendengar berita tersebut reaksi saya kaget dan juga antusias, serta gembira membayangkan bagaimana narasumber akan bercerita ttg album tersebut. Kemudian saya tersentak bangun dari tempat tidur dan entah kenapa langsung memutar kaset ‘Jurang Pemisah’ milik Yockie Suryoprayogo. Tanpa persiapan yang matang untuk menghadiri acara tersebut (karena berbenturan dengan janji lain) saya datang ke café 1/15 didaerah Gandaria sekitar pukul 16:30, telat lebih kurang 20 menit dari acara dimulainya diskusi. Sesi pertama dibuka dengan prolog yang disampaikan oleh Denny Sakrie tentang dua album fenomenal ini: Guruh Gipsy dan Badai Pasti Berlalu (BPB). Beliau juga tidak lupa menginformasi kan bahwa dua album tersebut pernah masuk daftar teratas Album terbaik Indonesia sepanjang masa versi majalah Rolling Stone Indonesia tahun 2007.
image

image

Pembicara pertama adalah Eros Djarot yang menuturkan cerita dibalik album BPB. Eros Djarot memulai cerita tentang kecintaannya pada sastra indonesia yang mendasari pembuatan album BPB. Dulu, katanya, pemuda di Jakarta tidak ada mau mendengarkan musik Indonesia dan malu jika kedapatan memiliki album dari musisi Indonesia. Karena sebagian besar yang datang diacara itu adalah anak muda (teman-teman dari kalangan grup music indie terpantau hadir) hampir semua tertawa mendengar pernyataan Eros tersebut. Karena ironisnya yang terjadi belakangan ini adalah kecenderungan anak muda mulai mengganggap keren musik Indonesia jaman dulu. Kejadian ini ditandai dengan fenomena piringan hitam kembali diminati oleh berbagai kalangan, khususnya anak muda. Eros, melanjutkan, salah satu tujuannya dibalik album BPB adalah mengembalikan kepercayaan pemuda terhadap musik dan lirik Bahasa Indonesia yang menurutnya sungguh kaya tetapi sulit untuk dinyanyikan. Cerita panjang dari Eros Djarot ditutup oleh tepuk tangan meriah dari semua yang hadir diruangan itu. Kemudian pembicara kedua adalah Yockie Suryoprayogo. Menurut Eros, yang berbicara sebelumnya, Yockie ini seorang pendiam dan tidak pintar bicara sosoknya agak seram dengan rambut gondrong, tetapi melankolis, dan sangat music oriented. Eros juga beberapa kali mengatakan bahwa Yockie dan Chrisye sering kali berselisih pendapat. Menurutnya jika dinilai dari integritas musik, Chrisye sangat kurang pumpuni walaupun nyatanya Chrisye yang paling baik dalam bernyanyi karena memang talentanya maksimal diranah itu. Pada awalnya Yockie berbicara dengan tenang dan santai tentang pengalamannya dalam dunia musik, tetapi pada saat memasuki topik mengenai ‘musik dan hukum’, ‘musik dimata pemerintah’, serta pelaku musik yang saat ini dinilainya sangat gila tenar, dia menjadi sangat geram. Emosinya meledak, marahnya meletup. Seketika itu juga beliau meninggalkan ‘panggung’ (panggung diberi tanda kutip, karena memang bukan panggung, tetapi hanya kursi panjang. Pembicara duduk dikursi panjang tersebut, sementara penonton duduk dibawah. Lesehan dialasi karpet) untuk minum air putih, menenangkan diri baru kemudian setelah beberapa saat, beliau balik lagi keatas ‘panggung’. Sesi bicara Yockie ditutup dengan keadaan canggung dan sentimentil kemudian pendengar bertepuk tangan. Terdengar ganjil gemuruh yang terdengar. Bagi saya pribadi kejadian ini melukiskan bagaimana seorang Yockie yang sangat melankolis, sangat keras, terlalu terbawa suasana dan terlalu membawa serius segala sesuatunya. tidak heran beliau menelurkan karya-karya yang luar biasa. Kembali Mic berpindah tangan. Roni Harahap musisi yang bermain keyboard di album Guruh Gypsy berhasil mencairkan suasana yang sebelumnya sedikit tegang. Pribadinya penuh canda-tawa, banyak celetukan-celetukan humor yang keluar begitu saja dari bibirnya. Roni bercerita pernah beberapa kali tidur satu kamar dengan Guruh, tetapi katanya, saat itu guruh belum melambai seperti sekarang. Rambutnya masih gondrong, masih suka pakai baju warna hijau ‘Army Look’ dengan buku merah Mao Tse-Tung disaku kanan dan buku Karl Marx disaku kiri. Keseriusan pendengar pecah lewat gelak-tawa. Roni juga mengeluhkan bahwa seringkali kesusahan memainkan part-part di lagu Guruh Gypsy yang rumit. Apa-apa yang rumit selalu dijatuhkan padanya. Beliau juga menjelaskan cerita dibalik pembuatan lagu Chopin Larung, dia berkata, ketika itu dia sedang iseng saja memainkan Fantasia Impromptu kemudian guruh mendengarkan tidak sengaja. Kemudian guruh punya ide untuk mengawinkan karya Chopin tersebut dengan suasana Bali, membayangkan Chopin meninggal di Bali. Sebelumnya sesi bicara Yockie ditutup dengan luapan emosional, ternyata hal ini juga terjadi dengan Roni. Tetapi kali ini Roni menangis, tidak tersedu-sedu, hanya lelehan air mata yang membuat suaranya bergetar ketika berbicara tentang poligami dan anaknya. Melihat kejadian ini saya memahami bagaimana seorang musisi mempunyai hati yang begitu halus, sehingga kejadian-kejadian didunia yang menorehkan guratan didalam dadanya tidak begitu saja mudah dilupakan. Setelah Roni selesai ternyata ada pembicara tamu yang ikut meramaikan diskusi. Adalah Johannes Soerjoko yang angkat bicara tentang pengalamannya dalam label pramaqua. Beliau merupakan seorang pendiri label Pramaqua, yang dikomentari oleh Denny Sakrie sebagai label yang cukup berani menelurkan album-album bagus tanpa peduli akan laku dipasaran atau tidak. Johannes banyak bercerita tentang potret dunia musik Indonesia ketika itu. Sebagai penutup acara, Eros Djarot kembali berbicara mewakili seluruh pembicara yang hadir untuk menjelaskan secara terbuka apa yang terjadi Antara beliau, Yockie, Chrisye dan Berlian Hutauruk terkait permasalahan Royalti dan tetekbengek yang selalu merong-rongnya ketika dihadapakan dengan album BPB. Saya pribadi berkenalan dengan album BPB lewat kaset versi remakenya yang diaransemen oleh Erwin Gutawa ditahun 2000. Ketika itu saya senang sekali dengan lagu-lagu dialbum tersebut karena memang musiknya bagus dan liriknya puitis (tanpa mengerti dengan jelas artinya). Saat saya mendengarkan album tersebut didalam mobil, Orang tua saya mengatakan bahwa lagu-lagu ini adalah lagu-lagu lama. Baru bertahun-tahun kemudian, setelah era internet, saya menyadari bahwa kaset BPB milik saya adalah album remake dari versi aslinya tahun 1977. Album ini.menurut saya, sampai sekarang merupakan salah satu album yang memiliki lirik sangat indah. Kemudian setelah saya kenal versi asli BPB, saya tertarik untuk lebih menggali musik Indonesia lebih dalam dan tidak sengaja bertemu dengan album Guruh Gypsy lewat informasi majalah Rolling Stone Indonesia. Ketika pertama kali mendengarkan Guruh Gypsy, saat itu semester pertama kuliah, saya langsung merinding karena menurut saya musik gamelan dekat dengan mistisisme jawa. Ada Rasa enggan ketika memutar musik guruh gypsy lewat pengeras suara, karena takut menimbulkan nuansa mistis dirumah. Tetapi setelah berkali-kali mendengar album tersebut, saya jadi terbiasa dan mulai menyadari kekayaan musik Indonesia. Guruh Gypsy bisa menyatukan antara symphonic prog milik Genesis dan kebudayaan ibu pertiwi. Setelah menghadiri acara itu, saya jadi paham bahwa kedua album tersebut diracik oleh musisi-musisi hebat yang uniknya dibangun dengan kesederhaan dan apa adanya tanpa perlu memikirkan lebih lanjut hal-hal yang tidak perlu dipikirkan seperti apakah album tersebut akan jadi booming atau akankah menjadi terkenal. Justru hasil tersebut menjadi besar bukan hanya semata-mata karena tujuan musisinya, tetapi sedikit banyak karena apresiasi dari siapapun yang mendengarkan dengan rasa puas.

35 Responses to “Mari Putar Kembali Guruh Gipsy dan Badai Pasti Berlalu”

  1. cosmic_eargasm Says:

    Mas Rully, thanks infonya dan yg pasti sangat menarik sekali diskusinya ya..
    Kaset “Badai Pasti Berlalu” sempat diterbitkan berulangkali dgn bermacam2 kemasan dan berlainan label perekamnya. Yg paling menarik, ada yg edisi Eros nyanyi, tp sy blm pernah punya. Belakangan CD nya jg dirilis oleh label lokal, sayang kualitas soundnya kurang bagus.
    Beda dgn Guruh Gipsy yg sempat dirilis vinylnya oleh Shadoks Recs. Jerman secara diam2. Kemasan kovernya bgs, seperti kulit ular. Sayang sampai skrng label lokal blm ada yg merilisnya. Kasetnya sampai skrng msh bnyk diburu, tp jarang sekali yg ada bookletnya. Bahkan bookletnya saja bisa laku terpisah. “Jurang Pemisah” memang Prog nya kental, sama jg dgn “Selangkah ke Seberang” nya Fariz RM & God Bless album pertama yg sama jg terbitan Pramaqua Recs yg nuansamatique tsb. Konon PH Guruh Gipsy yg lokal bs laku seharga sepeda motor laki2 model terbaru bbrp tahun yg lalu.
    Jd ingat posternya di Aktuil

    • khalil logomotif Says:

      Klw saya paling inget lagu ini, waktu setelah tsunami dulu (kbetulan ini desember). Hampir tiap hari dengerin lagu itu di tv, dan saya uring uringan sendiri, bukan sama lagunya, tapi sama tvnya, sbab udh jelas gempa dan gulungan ombak besar, kok yg diputer lagu yg judulnya badai…apa mereka pada ngga mudeng apa. Menurut saya, mereka salah pilih theme songnya dan nyebelin saya sebagai yg ngalamin yg dianggap mereka hanya badai, its mooooore than that! And its never get over in my head! Until this minute! Apanya yg berlalu. Seharusnya, theme songnya dr peter gabriel, dont give up.
      …lah kok penonton jadi sewot ya mas Cosmic….heheheh…eniwei, nais to get yu hir egein mas!

      • cosmic_eargasm Says:

        Halo Mas Khalil, sip mas nice 2 C U again juga🙂

        Ikut prihatin ya mas, lagu tsb jd menguak memori Mas Khalil tentang tsunami.

        Mungkin yg dimaksud “badai” pihak tv adalah badai secara keseluruhan, tp memang sangat tdk bijaksana jg menggunakan lagu tsb diantara penderitaan Aceh. Memang benar jg kata mas GW, lebih pas lagu2 instrumental, kan bnyk jg lagu2 instrumental yg bernuansa perih, ngelangut, suram maupun mendayu. Org televisi perlu mendpt pendidikan musikal sblm memasukkan sebuah lagu ke dlm acaranya memang, paling tdk mengunjungi blog super gemblunk ini dulu biar terbuka hehehehe..

      • Gatot Widayanto Says:

        Orang tv gak level bergabung di blog gemblung, mas Cosmic … Gak level … Ha ha ha … Takut ketularan gemblung. Padahal kalau mereka mau berkonsultasi sama kita , banyak lagu2 instrumental yang cocok … Misalnya Souvenir of China nya JMJ kan juga ngelangut …malah ada bunyi ceklekan kamera …. Zonder “No Ha” ….wakakakakakak ….

        Ah ..jadi inget saat ibu negara meninggal dunia … Seharian penuh cuman Gugur Bunga muluk ngantèk juwelèh pol!

      • cosmic_eargasm Says:

        hahahahahaha.. “No Hah” menjadi trending topic bbrp saat lalu ya mas GW..

        Halo MAs Herman..

  2. yuddi_01 Says:

    Bro Ruli, seingat sy para pendengar Deep Purple, Led Zepp, ELP , Yes dst serta pembaca Aktuil secara umum tidak tertarik BPB dan lebih tertarik GG/ Guruh Gypsy – yg memang proyek ambisius Guruh setelah kepulangannya ke tanah air sering diliput.
    BPB dianggap pop biasa saja dgn referensi Genesis, Ekseption dan sebangsanya, jika skrg ikut2an mendengar lebih disebabkan nostalgia belaka krn memang di thn ’77/ ’78 populer sekali dan dilanjutkan dgn “Sabda Alam”.

    • cosmic_eargasm Says:

      Mas Yuddi, memang benaq sekali kalo “Badai Pasti Berlalu” dulu jarang ada yg suka, khususnya penikmat musik rock pd era tsb, yg kbnykn msh berorientasi pd band2 luar. Dan, bagi kbnykn band pd era tsb sangat =bergengsi sekali kalo pada show nya membawakan lagu2 dr band barat. Tp tdk berlaku bagi Giant Step & Harry Roesli and His Gank yg getol membawakan lagu2 sendiri. Salut buat Kang Benny dan alm. Harry Roesli. =

      Konon, dulu Eros kesulitan merilis BDP yg pd saat itu bnyk label yg menolak, sampai ada Irama Tara (kalo tdk slh) yg mau merilisnya. Pdhl Eros punya band keren, Barong’s Band yg terkenal dgn lagu ‘Super Star’ dan album “Kawin Lari” nya yg agak ‘mbeling’ tsb. Selain Guruh G=ipsy yg maha dahsyat itu..

      Majulah musik Indonesia!!!

  3. Gatot Widayanto Says:

    Mas Khalil,

    Benar sekali, saat tsunami nan pilu dan menyebabkan saya juga merasakan sedihnya yang amat sangat , meski dari jarak jauh, kok saya berpikiran sama thd tv yg memutar BPB sebagai theme song nya. Seolah terlalu dini mengatakan ke warga Aceh bahwa badai pasti berlalu krn saking dahzyatnya tragedi memilukan tsb. Pada saat bersamaan saya menganggap pemutaran lagu tsb justru membuat apresiasi sy thd album BPB malah menurun . Orang kita suka ngawur. Mendingan pake aja lagu instrumental seperti Mirage nya Jean Luc Ponty.

    Bro Rully,

    Maaf foto masih belum saya upload soalnya kalau formatnya zip saya mati kutu gak bisa ngakalin upload via android. Ntar paling cepet baru besok saya upload soalnya masih di Palembang saat ini dan bermodal android aja. Kalau bisa dikirim lagi fotonya yg format jpg dan ukuran sekitar 100 KB insya Allah segera saya upload. Pliss ya.

    ###

    Ba’da Subuh Palembang hujan super duper deras sampe dinding kamar hotel Aryaduta pun terasa bunyi dentuman air hujan seperti hujan batu.

    Sayang tak sempat melihat apa ada lapak kaset di kota ini. Namun saya sangat menikmati berada di kota ini. Tadi malam saya dan nyonya menikmati kuliner di RM Pindang Musi Rawas makan pindang patin yang nyuamlenk ultradinamik kenyangsonic tenan …..biyuh biyuh ….tuooooobzzz!!!!

    Salam dari Palembang ….

  4. gt Says:

    Besok kamis 19 Des 2013,jam 19.00 wib ,ada obrolan lagi seputar album Indonesia Maharddhika ,dengan pembicara,Ronni Harahap,Keenan Nasution,Setyawan Djodi,Lilo, Kadri Makara,Iwan Hasan Discus dengan moderator Adi Hidayat ( Rolling Stone Indonesia )..Tempat : Rumah Langsat jl Langsat I no 3 A Kebayoran Baru.( seberang SMA Lab School )

  5. Edi Apple Santoso Says:

    tulisan menarik, ijin share mas Rully …..

  6. Rully Says:

    Sebenernya ketika menulis artikel ini saya ragu2 karena topik yg diangkat adalah album Badai pasti berlalu yang tdk ngeprog dan tdk ngerock blas! Tp ya say coba jujur saja apa yg saya rasa pd kedua album ini

    @cosmic: iya mas.. Pasca rilisan guruh gypsy dan those shocking shaking days label luar beberapa kali merilis grup lawas indonesia ya…

    @om yudi: sebagai pedengar prog sebenernya album BSB ini biasa saja ya aransemennya. Tp kok yaa saya senang sekali lirik bhs indonesia dialbum ini seperti di’eksploitasi’ dgn cara baik. Heheh kmrn sempet mengikuti album2 chrisye sampai metropolitan dan yg memang paling top ‘sabda alam’

    @om gatot: terima kasih artikelnya sudah dimuat disini. Permasalahan foto tdk apa2 om.. Maap saya ngga tau kalau om sedang diluar, tau gt tdk usah di zip ya.. Whehe

    @edi Apple: silahkan mas, terima kasih.

    • Gatot Widayanto Says:

      Bro Rully,

      Sekedar usul, setiap kirim foto pake jpeg aja biar mudah upload. Maklum belakangan ini jarang nyentuh laptop … He he …
      Powered by Telkomsel BlackBerry®

      • Rully Says:

        Oke om Gatot saya kirim ulang pake format jpeg aja ya. Trims

      • Gatot Widayanto Says:

        Done. Uploaded.

        Gatot Widayanto

        “Don’t manage – lead change before you have to.” Jack Welch

      • Rully Says:

        Terima kasih OM Gatot atas fotonya. Tdk lupa saya sampaikan bahwa foto2 diatas bukan foto milik saya pribadi tetapi milik Asra Cantsaynotohope yg saya ambil dari facebooknya

      • Gatot Widayanto Says:

        Ya jelas … makanya ada foto Rully yg baju kuning ….he he …

        Gatot Widayanto

        “Don’t manage – lead change before you have to.” Jack Welch

    • eddy irawan Says:

      Bro Rully, saya senang dengan tulisan ini.
      Lebih senang lagi ternyata banyak anak2 muda yg apresiasi thp musik berkualitas spt BPB ini.

      Ayo bro Rully, kapan nih kita progring lagi….

      • Rully Says:

        hehe semenjak era internet, disamping sisi negatifnya, generasi muda lbh mudah ‘ngulik’ musik lokal. Ayok! Tinggal nunggu ajak dari Om Gatot aja nih. Whehe

    • yuddi_01 Says:

      bro Rulli, saat-saat itu sy lebih suka dengar “Jurang Pemisah” itu lho yg gambar sepatu kanvas butut.
      ‘Mesin Kota’ – inget puter2 tebet naik sepeda Phoenix (mirip Sim King) . . .
      ‘Dia’ – permainan hammond B3 Jockie dan gitar Ian Antono mantep.

  7. kunangkunangku Says:

    rully, terima kasih reportasenya yang komplet. berhubung anak-anak sedang sakit, saya absen.

  8. gt Says:

    Itu yg pakai topi berkacamata ( jaket hijau ) vokalisnya Bakutaman ya..eks pemred majalah Trax.

  9. apec Says:

    Mas Rully, dua album yg dibahas tersebut memang sangatlah dahsyat. Sya juga sama dengan smpyn, mendengar album BPB pertama ya dari versi Erwin Gutawa.. Baru setelah itu menyususri versi aslinya. Saking doyannya, saya sampe menyimpan ada 5 versi album BPB versi orisinil ditambah 2 edisi Erwin Guttawa dan edisi Ari Lasso. Edisi Orisinil dengan kemasan yang berbeda dan adanya tulisan di balik covernya yang juga berbeda -beda ( ada versi kulit jeruk, versi tertulis Christian, versi tertulis Chrisye, versi irama Mas baru . Yang belum punya yg edisi Broeri dan edisi Eros yg nyanyi (saya belum pernah tahu yg terakhir ini)

  10. Rizki Says:

    Salut untuk Rully atas tulisannya. Album BPB menurut saya secara keseluruhan memang mengesankan, mulai dari judul, design cover, dan tentunya lagu2nya. Saya ingat dibelikan kaset tersebut sebagai hadiah ulang tahun ketika masih SD (saya jadi geli sendiri karena ingat alm ibu saya pada waktu itu bilang kecil2 kok suka lagu orang dewasa sih).
    Saya juga ingat dulu punya impian untuk dapat melihat lagu lagu tersebut beserta album Chrisye “Sabda Alam” dan “Resesi” dimainkan secara live/konser oleh Chrisye dan musisi orisinilnya.
    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: