Have You Ever Been Misplaced?

By: Khalil Logomotif

Salam untuk semua sahabat. Album berikutnya dari marillion yang saya miliki, adalah la gazza ladra dan misplaced childhood di sekitar ’89 atau ’90 an. Dulu waktu sebelum menikah, kalau saya dengerin dari awal sampe akhir album misplaced childhood, pikiran saya melayang kembali ketahun ’87. Lolongan keyboard Mark Kelly yang seperti serigala ditengah malam yang gelap, segera membawa saya memasuki atmosfir kegelapan keputus asaan yang menghantui, merintih rintih dalam rasa bersalah dan penyesalan yang dalam. Mengingatkan saya pada saat saya pertama sekali merasakan perih dan getirnya putus cinta dengan seorang gadis kecil yang cantik sekali (sebanda aceh), kulitnya putih, rambutnya dikepang satu, wajahnya bule iya, arab juga iya. Saya kenal saat saya antrian karcis nonton film Platoon di bioskop. Putus tanpa saya tau pasti apa sebabnya..dan selalu bertanya tanya, apa yang salah pada diri saya.

Marillion-Lavender-1134

 

Pseudo Silk Kimono menghantarkan kegelapan, tidak tau harus bagaimana dan penyesalan, setiap kali saya mendengarnya, suara Fish yang lemah dan merintih, seperti seorang yang tidak bertenaga, sudah tidak sanggup lagi berkata kata, hanya memakai sisa tenaga yang ada, memperkuat kesan tersebut. Lagu berikutnya, Kayleigh, menyampaikan muara timbulnya seluruh kegelapan dan derita tersebut….putus cinta dengan seorang gadis! Putus karena dianggap tidak becus mencintai, tidak mampu menjadi seperti yang diinginkan. Saya tidak terima kenyataan putus itu sudah terjadi, selalu saya bertanya, apa yang salah pada diri saya sampe dianggap tidak becus dan tidak mampu? Saya tidak bisa terima tidak bisa lagi ketawa dan bergombal gombal masa depan, dan bahwa sekarang yang ditinggalkan dan tersisa untuk saya adalah sakit, perih dan getir di hati. Saya tidak bisa terima bahwa tidak ada lagi waktu dan pintu untuk kembali. Lavender, lagu berikutnya, mengingatkan kembali kepada terangnya hari yang dilewati dan seluruh manisnya hubungan percintaan, yang sudah tidak mungkin untuk dilanjutkan. Sungguh manis sekali seluruh hari yang dilewati bersama. Tapi sayang, itu hanya sesaat, kegelapan dan kegetiran kembali menyengat di lagu berikutnya Bitter Suite yang menyiratkan tertutupnya ruang untuk melanjutkan manisnya hubungan untuk saling mengasihi. Yang ada hanya kesesatan berkepanjangan tanpa pernah ada titik terang. Apakah hidup sebegitu tidak adilnya? Apakah masih ada sedikit harapan? Tentu ada, Heart of Lothian menjawab harapan tersebut dengan penuh semangat dan optimisme. Ngga peduli harapan itu terlihat sekonyol dan sepongah apapun, tetap saja namanya harapan dan harus diambil untuk mengakhiri kegelapan dan memasuki ruang yang terang. Tetapi, hidup tidak sehitam putih itu, dalamnya bekas sayatan dan luka putus cinta, bikin saya kembali berputar putar dalam kesemuan.

Menghantarkan kembali diri dalam penyesalan dan penyalahan diri sendiri yang ujung ujungnya menutup diri dari semua kemungkinan dan harapan tersebut, menutup diri dari menerima terangnya cahaya, itu semua disampaikan pada tiga lagu berikutnya Water Hole, Lord of Backstage dan Blind Curve. Semua terasa seperti berputar putar tidak ada pangkalnya, sampai saat pada akhirnya akan berhenti disatu titik, yaitu diri sendiri. Mendengarkan suara dari dalam diri sendiri yang sayup sayup mengatakan….sudah cukup berjalan dalam kegelapan tanpa arah yang berputar putar tidak menghantarkan kemanapun. Sudah cukup. Sekarang saatnya menerima kenyataan, menerima hangatnya cahaya pagi hari yang muncul perlahan lahan dan terus memperjelas arah kemana harus berjalan, memperlihatkan berbagai yang tersembunyi dan tersamarkan selama ini, semua yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, kini menjelma menjadi harapan, menjadi semangat, menjadi energi. Untuk memulai suatu yang baru. Semua itu disampaikan dalam lagu Childhoods End dan ditutup oleh lagu White Feather. Bukan sayanya yang salah dalam mencintai, tetapi gadisnya yang tidak tepat untuk saya cintai sebesar itu. The only thing misplaced was direction, and i found direction…walaupun saya harus putus beberapa kali dengan beberapa gadis berikutnya, walaupun jauh saya harus menjumpai gadis yang paling tepat tersebut sampai ke jakarta, ngga apa apa asalkan saya bisa menemukan setengah diri saya didirinya, asalkan saya hidup dalam terangnya hari disetiap malam yang dilewati bersama sama. Sungguh, dulu, semua yang saya anggap terbaik dan pantas diterima diri saya, ternyata belum tentu demikian menurut Tuhan saya. Setelah itu, saya dengan tegas menyakini bahwa, setelah seluruh ketulusan saya dan kebaikan yg telah dilakukan, setiap kali gagal, saya tidak boleh serta merta menyalahkan diri saya, tetapi bisa jadi gadisnya yang tidak tepat, dan tugas saya hanyalah terus menemukan gadis berikutnya, berpindah ke hati yang lainnya, yang sepenuhnya tepat. Rugi kalau menyekap diri tidak segera keluar dari keputus asaan dan penyalahan diri sendiri. Saya ikhlas menerima seluruh kejadian putusnya hubungan dan harapan yang pernah saya jalin dulu, berapapun sakitnya, karena sekarang, setelah terus memantaskan diri untuk mendapatkan yang paling tepat, saya sudah menemukan setengah diri saya di diri istri saya tercinta, dan memuji Allah, setiap kali melihat keunikan perpaduan setengah setengah tersebut di diri kedua anak saya.

Have you ever been misplaced?

Khalil Logomotif

29 Responses to “Have You Ever Been Misplaced?”

  1. khalil logomotif Says:

    Salam. Terima kasih sudah dimuat….mas Gatot, sori kalaw kepanjangan curhatnya dan agak agak lebaysonic…..

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Khalil,

      Terima kasih ulasannya. Ini menurut saya:

      (1). Harus diakui bahwa musik Marillion sangat membekas dan karena indahnya komposisi, bisa masuk dalam relung2 kehidupan seseorang.

      (2). Sejarah membuktikan bahwa Fish menjadi produktif saat kehidupan pribadinya diterpa badai. Album Script menunjukkan kerja kerasnya dia membawa Marillion ke puncak melalui deal dengan EMI dan konser2 di pub meski gak laku karena diterpa new wave dan punk. Album Fugazi merupakan ekspresi kuat Fish utk membawa Marillion ke puncak tangga Billboard. Kedua album yg menunjukkan kerja kerasnya ia lakukan hingga kehidupan pribadinya tak keurus hingga ia sempat mengatakan bahwa Marillion lebih penting dari apapun (termasuk pacarnya) dalam kehidupannya. Itulah makanya retak hubungannya dengan Mary Kay Lee yang memuncak di album ketiga dimana ia putus sama si Mary. Jadilah Kayleigh yg nge hits itu. Memang album Misplaced gelap sekali namun kerrreeeennn …

      (3). Pilihan Allah jauh lebih bagus dalam pilihan kita. Jadi kalau putus cinta, itu pertanda pilihan kita gak pas.

      Terima kasih sharingnya yg nunjek itu mas Khalil …..

      Salam

      • khalil logomotif Says:

        Hampir semua album konsep marillion, bisa jadi cerminan kehidupan, seperti wildernes of mirror kata fish. Kalau album setelah fish, lagunya yang bisa jadi cerminan. Kekasih pertama memang membawa kutukan yaitu benchmark untuk yang berikutnya. Sebenernya, saya lebih banyak misplacednya didunia kerja….pindah pindah karena tidak sesuai dengan passion..untung saya sekarang sudah menemukan direction yg tepat.

    • khalil logomotif Says:

      Seharusnya yg keluar dari marillion adalah manajernya yg ngga becus ngatur dan sangat kapitalis, john arnison, bukan fish. Sumber masalahnya kan jadwal yg ketat dan tidak ada lagi waktu untuk diri sendiri apalagi keluarga. Dibandingkan fish, mark kelly lebih besar masalahnya, john arnison lebih mabuk alkoholiknya daripada fish. Buat saya, tiga album solo fish pertama yg masih dengan Emi, masih saya anggap album marillion.

      Menurut saya, seharusnya marillion menukar brandnya, bukan logonya yang ditukar. Setelah dengan Hogi, ngga ada album yg saya suka, hanya lagu lagunya yg saya suka, itu juga cuma satu atau dua disetiap album. Kalau saat fish, fish menyanyi untuk marillion, kalau saat hogi, marillion mengiringi hogi menyanyi.

    • Herwinto Says:

      Mas Khalil baca tulisan diatas…..pertama kali yang melintas di pikiran saya adalah sebuah ‘TURN OF THE CENTURY’……dan ketika membaca penutupnya segera terlintas…’ONWARD’…..salut!!!!

      • khalil logomotif Says:

        Kalau koh Win…mana ada yang ngga yes…hahahaha. Bener koh Win, onward!…walaupun kita mundur kejaman dulu, untuk maju lebih cepat kemasa depan…yang harus kita lakukan hanya membenarkan hari ini.

  2. hippienov Says:

    Kayaknya ulasanku sudah terwakilkan oleh tulisan mas Khalil yang sangat menarik dan personal ini..gak jadi aja ya nulis Marillion nya..😀
    Tuobz mas Khalil tret nya.. I like it

    • Gatot Widayanto Says:

      Usulan gak diterima!

      Mas Hippie masih kudu nulis.

      *”Ciptakan Keterdesakan Sebelum Keterdesakan Yang Sebenarnya Datang”*

      *Gatot Widayanto*

    • khalil logomotif Says:

      Ngga bisa gitu dong….. Kan di ujungnya saya tanyain..have you ever been misplaced ngga? Bisa aja misplacednya di dunia kerja, pertemanan atau lainnya.

      Kalau misplaced yg inikan versi pribadi saya mas Hippie. Sbenarnya saya ngga mau dan malu nyritain yg terkait pribadi saya, tapi krna yg diceritain marillion, mana ada yg ngga terkait dgn hal hal yg sangat pribadi.

      Saya tunggu tulisannya.

  3. Herwinto Says:

    Ha ha ha ha wah semakin seru nih….ayo mas Hippie…dilayani nih permintaan teman teman…..

  4. hippienov Says:

    Hahaha..ak jadi takut u/ ndak menulis..
    Ak pasti akan kirim tulisannya,semoga bisa sebelum mas G “jeda”.

    • Gatot Widayanto Says:

      Syukurlah … Kalau takut berarti masih normal …qiqiqiqi ….

      Saya juga banyak kisah indah terkait Marillion …. Sebagian sdh saya tuangkan dan sisanya masih ada …. Ntar saya tulis juga …

    • khalil logomotif Says:

      Harus!! emang mau kena siksaan panasnya api kompor 24 sumbunya mas Gatot…….

  5. Herwinto Says:

    Saya juga ada kisah sedikit tentang Marillion….mudah mudahan juga bisa nulis dikit…….

  6. Budi Rahardjo Says:

    Entah kenapa kalau mendengarkan album ini yang menggelitik saya (selain keyboards dan vokal Fish) adalah gitaran Rothery. Pada album2 ini notes yang dia pilih sangat menusuk. Sederhana. Tidak over acting. Tapi … Jleb! Jleb! Jleb! Itu yang saya rasakan hilang dari album2 barunya Marillion

  7. Herwinto Says:

    Salam kenal mas Budi….apa ini mas Budi yang punya padepokan Clasic Rock ya….wah tuob mas uraiannya tentang group group progresif dan saran lagu yang harus didengarkan….mulai dari Yes, Genesis, Marillion, Flower King, Camel, Marillion dll semua saya baca….mantab mas….

    • Gatot Widayanto Says:

      Koh Win … Tepatnya pak Profesor Budi Rahardjo sang ahli Teknologi Informasi, khususnya Security System. Meski dia ini otak bledek, namun ngeprog abis dan suka ngeband mainin Genesis. Wong prog masiyo gemblung nanging uteke bledek …he he he he …

      *”Ciptakan Keterdesakan Sebelum Keterdesakan Yang Sebenarnya Datang”*

      *Gatot Widayanto*

      • Herwinto Says:

        Betul mas Gatot, jauh sebelum mengikuti blog ini saya justru sering membaca tulisan pak Budi ini…bahkan lewat tulisan beliau juga saya dikenalkan dahsyatnya album Going For The One…..beliau ulas keindahan Turn Of The Century dan Awaken dengan sangat apik……bikin ngguweblag tenan….

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas Budi Boing ini unik lho … Meskipun sebagai akademisi yang pinter dan ahli di bidangnya; namun beliau ini rendah hati bahkan sebelum Saga menulis repertoire nya yang kondang bertajuk Humble Stance. Di setiap acara reuni alumni hampir selalu beliau ini ngeband. Kalau pas i-Rock membuat acara selalu beliau hadir. Wis ….pokoke top dah!

        Saya pernah diundang mampir ke kantor beliau di Cyber Building terus sorenya ditraktir makan sate ….hmmmm…. mak nyus …. he he he ….

        “Ciptakan Keterdesakan Sebelum Keterdesakan Yang Sebenarnya Datang”

        Gatot Widayanto

  8. pur Says:

    saya kena marillion dari misplaced childhood. waktu itu saya numpang sementara di tempat kos seorang teman yang sedang berusaha mengajak saya ngeband. tiap malam sebagai pengantar tidur dia memutar kasetnya, rekaman yess. saya jatuh hati, lalu saya beli kaset album-album sebelumnya. waktu fish keluar, saya merasa sudah cukup mendengarkan marillion. baru beberapa tahun kemudian saya coba marillion dengan mr. h. eh, ok juga meski impresi saya terhadap format musiknya beda dengan di zaman fish. saya ikuti terus periode mr. h walau menurut saya tak selalu bagus.

    • Gatot Widayanto Says:

      Cerita mas Pur ini jiyan nuansamatik tenan. Ini tentunya di Solo ya mas saat itu. Saya terkesan karena yg diputer temennya mas Pur adalah MC yg rekaman Yess. Kalau saja temen mas Pur masih nyimpen kaset tsb akan saya beli tuh .. he he …nilai sejarahnya tinggi soalnya.

      Pertama kali puter kaset album ini dulu, saya sangat kagum dengan intro kibor meraung raung dari Mark Kelly disambut desahan mantab vokal Fish dan raungan gitar Rothery. Wah edaaaan ….! Muwanteb tenan!

      Setelah itu musik mengalir indah dengan nuansa kelam hingga akhirnys heroik saat Heart of Lothian. Gendhenk!

      “Ciptakan Keterdesakan Sebelum Keterdesakan Yang Sebenarnya Datang”

      Gatot Widayanto

  9. Domme Says:

    Aku harus cari lagi album ini…. Menyesal pula aku kemarin dulu melepas enam album Marillion rekaman Yess hanya karena mengejar rekaman TEAM… Bos Eddy Irawwan, coba tanya Rudi, apa dia masih simpan. Kemarin aku barteran dengan dia…

    • Gatot Widayanto Says:

      Bro Domme …

      Ini namanya “intellectual humiliation” …. Mosok Yess dilepas demi Team records? Siapa yang salah neh? Beda kelas kok barteran …. Huopo tumon!?

      • khalil logomotif Says:

        Misplaced itu namanya

      • Domme Says:

        Nah itu dia Bos… Persoalannya kemarin itu aku juga ada The Best Marillion C90 rekaman Yess, trus ada satu lagi album Fugazi rekaman Yess (kebetulan double). Tanpa merasa berdosa, aku barter aja. Lalu setelah baca dua potingan Bos Khalil soal Marillion…, barulah muncul penyesalan… Akhirnya terjadilah misplaced seperti kata Bos Khalil.
        Pertama dengan Marillon (Punch and Judy), aku langsung suka, tanpa mengerti, bahwa grup ini adalah pengusung progressive. Itulah awalnya aku mengumpulkan semua albumnya yang pernah dirilis Yess (enam album), yang kemudian…, ya begitulah… Hehehehe

  10. cosmic_eargasm Says:

    wah curhat mas khalil terasa begitu matching dg misplaced chilhood..

    dl, sy kenal marillion dr the best team c-90 warna coklat punya teman.. pertama kepincut dg lagu chelsea monday. memang, dr dl sy nggak terlalu suka ngoleksi yg namanya kaset the best ataupun kompilasi.. jd sy putuskan hunting albumnya marillion. kaset pertama yg sy beli yg misplaced childhood ini rekaman yess. sempat ngiler liat jajaran kaset yess yg pngn sy beli. tp apa daya, uang sy wkt itu cukup buat beli 1 kst aja. yg sy putuskan beli yg misplaced td.. medio 1987 kalo nggak salah..

    stlh itu, bbrp minggu kemudian sy putuskan utk beli fugazi dan script for a jester tears. itupun kudu nabung dl..

    yg clutching at straws malah sy beli belakangan.itupun dpt bekas rekaman rockshots.. malah yg brief encounter dan real to reel dpt dg cara barter. tp lupa barternya dg apa wkt itu..

    salam djadoel !!!

  11. cosmic_eargasm Says:

    maaf, ralat.. sy dl pertama kenal dg marillion bukan dr kaset the best team c-90, tp marillion live at hammersmith odeon, london c-90 team, kover warna coklat.

    kalo yg the best team c-90, kover warna biru msh sy simpan sampai skrng, sekaligus menjadi satu2 nya kaset marillion sy yg tersisa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: