A Visit to a Forgotten Cassette Store

By: Hippienov

 

Selamat jumpa Mas G dan rekan-rekan semua. Sekian lama absent kirim tulisan ke blog dan hari ini aku mau sharing tentang pengalaman mampir ke sebuah toko kaset di Jl. Sabang yang hampir tutup dan sebenarnya bisa dibilang gak aktif lagi.

Beberapa hari menjelang bulan suci Ramadhan aku datang ke pusat pelayanan Indosat di komplek Sarinah untuk bertanya soal layanan sosialita Indosat di gadget istriku yang tiba-tiba ngambek gak berfungsi dengan baik. Bagai ketiban durian runtuh aku langsung menyanggupi saat dia meminta bantuanku. Bukan karena senang ke Indosat nya tapi jelas ini kesempatan untuk main sepuasnya ke Musik+ Sarinah dan Duta Suara Sabang setelah urusan gadget beres, hehehe… Alibi ini makin mantab dengan turunnya hujan dan jadi alasan untuk “neduh” sampai hujan berhenti, makin lengkap pula karena hujan ternyata berlangsung lama, deras-gerimis-deras lagi, hampir gak pernah berhenti total waktu itu. Muluslah rencana “tour de music” kali ini, maafkan aku ya istriku..

Singkat cerita persinggahan di Musik + Sarinah cukup berkesan karena aku termukan beberapa koleksi yang membuat hati berdebar walau tidak ada satupun yang dibungkus. Keluar dari Musik + perjalanan aku lanjutkan ke Duta Suara Sabang, sudah cukup lama aku tidak mampir ke toko kaset/musik penuh nostalgia ini. Kondisi saat itu gerimis sedang…

Di tengah perjalanan gak sengaja aku melihat ke dalam sebuah toko dengan rak kaset di salah satu sisi dindingnya. Sebenarnya saat itu aku sudah beberapa langkah melewatinya tapi entah mengapa tiba-tiba berhenti dan balik langkah masuk ke dalam toko tersebut. Di dalam seorang bapak yang sudah cukup berumur menyapaku dan kubalas serta bertanya basa-basi “jual kaset juga ya Om?”

O ya, sebagai gambaran, sebagian ruangan toko ini sudah menjadi tempat menjual stationery dan layanan fotokopi serta sedikit aksesoris fotografi. Sedang kaset hanya tersisa pada satu sisi dinding ruangan dengan jumlah koleksi yang sudah sangat minim.

Beliau kemudian mengatakan bahwa kaset-kaset tersebut diobral, satu kaset seharga Rp 10.000 dan Rp 40.000 jika ambil 5 kaset.

Dari ujung kiri ke ujung kanan, balik lagi ke kiri dan go through all the way back to the right aku memperhatikan dengan teliti dan mencari kaset yang sekiranya cukup nuansamatik untuk dibungkus. First attempt was fruitless, gak ada yang bagus…Semuanya kaset lisensi tanpa ada satupun yang menggelitik sindrom kasetipus complex ku.

 

Hujan ternyata kembali turun deras, dengan maksud memperpanjang waktu “meneduh” lalu aku kembali menyisir jajaran sisa kaset yang terpajang sambil dimulailah obrolan panjang dengan sang pemilik toko.

Berikut sekelumit petikan obrolan yang awalnya hanya lip-service tapi lalu berkembang jadi obrolan nuansamatik yang bergairah… (tentunya obrolan aslinya gak persis seperti ini, ini adalah rekonstruksinya tapi aku berusaha mengingat dan menulis inti obrolan aslinya) :

 

Hippienov: “kenapa diobral Om kasetnya? apa sudah mau ganti usaha?”

Om: “saya sudah mulai obral dari 4 tahun lalu dan sampai sekarang masih ada, banyak yang sudah dipilihin orang tinggal ini yang tersisa”

Hippienov: “wah berarti aku telat datang kemari ya Om?

(Si Om pun tertawa kecil sambil lanjut cerita…)

Om: “sekarang susah jual kaset mas, bajakan kaset ada dimana-mana, cd dan mp3 yang gocengan juga banyak. sekarang player kaset susah ditemuin, makanya orang lupa sama kaset. saya sendiri masih punya beberapa tape deck jaman rame jual kaset dulu untuk nyoba kaset. mau saya jual tapi susah cari pembelinya. tapi ya itu harus pake amplifier kalo gak ya gak bunyi. tuh masih saya simpan si dalam. ada yang sudah gak bagus tapi ada yang terakhir dicoba masih bagus”.

Hippienov: “sapa bilang orang lupa sama kaset Om? aku gabung di satu blog yang masih suka kaset, malah kita suka hunting kaset kemana-mama. harga kaset jadul tinggi loh Om ”

Hippienov: “Om dari tahun berapa jualan kaset?”

Om: “saya mulai tahun ’79”

Hippienov: “wah udah lama ya Om? aku kira-kira tahun ’82 mulai ke Duta Suara Om, waktu itu diajak Om (pamanku) tapi jujur gak pernah ngeh disini ada toko kaset juga.”

Om: “saya kenal sama yang punya Duta Suara, sekarang udah dioper ke iparnya, adik istrinya. Pemilik aslinya waktu itu pindah ke Singapura sama keluarganya, jadi Duta Suara dia kasih ke iparnya. Tapi sekarang dia ada di Indonesia lagi, berobat.”

Hippienov: “berobat Om? kenapa?”

Om: “kena stroke terus pulang ke Indonesia buat terapi tradisional. Saya kenal baik sama dia, saya dulu suka ambil kaset ke Duta Suara.”

Hippienov: “kalo gitu dulu Om juga jual kaset Yess, Monalisa, Apple dong? Apa masih ada sisa yang tersimpan Om? kalo ada boleh juga Om, aku mau, sekarang kaset-kaset itu tinggi loh harganya. di blok m ada banyak yang buka kios kaset loak jual kaset jadul Om”.

Om: “Yess itu dari Bandung, saya tahu juga. dulu (saya) jual juga rekaman Yess dan yang lainnya. Yess itu unik sampulnya cuma satu warna sama tulisan besar, tulisannya diketik pula.”

Om: “Yess agak beda dari yang lain soalnya ngerekam musik jazz-rock, pokoknya gak umum deh.”

(mungkin maksud beliau dengan jazz-rock adalah progrock, dan sungguh dahsyat ketenaran nama Yess masa itu…)

Hippienov: “o ya Om? masih ada gak sisa kaset Yess yang disimpan?”

Om: “wah sudah gak ada lagi..jaman itu jualan kaset enak sekali.kalo gak laku kaset bisa kita tukar dan biasanya dioper ke tempat yang laku.”

(mungkin yang dimaksud beliau adalah sistem konsinyasi… dan akupun lanjut bertanya)

Hippienov: “maksudnya Om?”

Om: “iya jaman itu jual kaset dilihat daerahnya, misalnya daerah ini yang laku musik rock ya yang banyak juga kaset rock. kalo di tempat lain yang lebih laku jazz ya kaset jazz akan banyak disitu.”

Om: “jaman kaset PPN (lisensi maksud beliau) semua jadi susah, jualan kaset gak seenak dulu lagi. kita beli putus gak bisa tukar apalagi kalo segel udah dibuka. belom lagi bajakan makin banyak, makanya saya akhirnya tutup.”

Hippienov: “kaset jaman dulu lebih awet ya Om daripada kaset sekarang? apa karena pitanya banyak maxell ya?”

Om: “iya, maxell kualitasnya bagus sekali, stabil, awet tapi agak mahal. Tdk juga bagus. Banyak rekaman yang pake maxell, Yess juga selalu pake maxell tuh.”

Hippienov: “iya Om bener.. kalo basf, hdx Om? ada satu lagi Om merek pita yang sering dipake Perina… trusonic Om…”

Om: “basf kualitasnya gak stabil, kadang bagus sekali tapi ada juga gak bagus. hdx itu pita lokal, murah, jarang dipake untuk kaset lagu barat. Perekam lagu-lagu Indonesia, Remaco malah pake pita dibawah hdx makanya kaset lagu Indonesia gak awet, cepat sekali rusak, suaranya juga gak gitu bagus.”

Om: “trusonic itu juga pabrikan lokal. awalnya yang bikin merek trusonic ya salah satu orangnya hdx terus bikin merek sendiri. dia cari pita yang agak murah tapi bisa keluarin suara treble yang tinggi. makanya kaset pita trusonic suara treble nya bagus kan? coba perhatiin deh…”

(jujur aku gak pernah perhatikan sebelumnya…)

Om: “trusonic terus ditawarin ke perusahaan-perusahaan rekaman, banyak yang pake (perina, aquarius, contessa, macem-macem) tapi gak lama karena pitanya cepet rusak, gak awet. mereka balik lagi ke maxell.”

Hippienov: “o gitu Om baru tahu aku…”

Om: “saya dulu juga suka bikin kompilasi sendiri. lagunya saya pilih yang bagus-bagus terus saya rekam pake C-90.”

Hippienov: “O ya Om? ngerekam sendiri?”

Om: “bukan, kebetulan saya kenal dengan beberapa perusahaan rekaman (nama aquarius, king’s dan contessa disebut). Nah mereka yang ijinkan saya susun list lagu dan mereka yang rekam, makanya kualitas rekaman saya dulu bagus. satu kaset kompilasi C-90 saya jual Rp 10.000”

Hippienov: “wuih…masak Om? asik banget… ada labelnya aquarius gitu Om?”

Om: “gak lah…mereka cuma bantu rekamin aja gak mau cantumin label, soalnya ini kan “bajakan” gak ada sticker “lunas PPN” nya.”

 

Obrolan masih terus berlanjut sampai akhirnya aku menemukan kaset yang cukup menarik yaitu Cold Chisel (lisensi Aquarius) album Twentieth Century yang masih disegel dan kaset jadul rekaman Deck berjudul Amormio Cillam Jr. – Yamaha Goes Pop II.

 

Hippienov: “coba Cold Chisel nya Om… wah masih segel ya? udah lama nih Om… aku dulu suka liat kasetnya di Duta Suara.”

Hippienov: “kalo yang itu Om, kayaknya kaset rekaman lama ya?”

Om: “iya, rekaman deck tapi udah gak bagus lagi kayaknya. maklum pita lama.”

(aku terus memaksa untuk melihat kaset itu yang akhirnya diberikan juga dan setelah aku liat pitanya maxell serta kondisinya masih mulus, belum bergelombang.)

Om: ” ini album Amormio Cillan, dia main organ. dulu terkenal namanya. enak didenger mainnya.”

(aku malah baru saat itu tau nama Amormio Cillan Jr.)

 

Saat aku liat kaset Amormio Cillan Jr. dengan gambar organ tertampang, hal pertama yang aku bayangkan adalah nama Ray Mazarek, Jon Lord, Keith Emerson dan Rick Wakeman… Ini yang membuat aku “out of control” ngotot membeli kaset ini. Padahal jelas permainan dan musiknya gak sama dengan nama-nama yang aku bayangkan tadi, tapi faktor organ nya yang buat aku jatuh hati. Sama seperti kalo liat flute, yang pertama terbayang adalah Ian Anderson/Jethro Tull, Peter Gabriel/Genesis dan Andrew Latimer/Camel…

DSC02009

— DSC02001

Tak terasa waktu berlalu cepat walau hujan rintik masih turun tapi aku putuskan menyudahi obrolan panjang dengan pemilik toko kaset yang telah bercerita banyak ini. Sayang aku tidak terpikir untuk mengabadikan toko/koleksi kaset milik beliau dalam foto.. Akhirnya 2 buah kaset pun terbungkus, Cold Chisel dan Amormio Cillan Jr. 2 kaset ini lebih aku anggap sebagai suvenir dari sebuah toko kaset dulu sempat jaya tapi kini mungkin gak lama lagi akan tutup, hilang tak berbekas.

Entah kapan aku bisa mampir lagi kesana, dan bila ternyata toko kaset ini sudah tidak ada lagi, paling tidak ada kenang-kenangan yang bisa mengingatkanku saat aku berbincang dengan Om pemilik toko kaset yang lagi-lagi aku lupa sekedar bertanya siapa nama beliau…

 

Akupun pamit dengan berjanji akan datang lagi nanti (this promise I don’t know I can keep it or not)… Kunyalakan sebatang rokok putih dan perlahan melangkah meninggalkan tempat nuansamatik itu.

…Thank you Sir for sharing your stories with me…

 

 

 

Thursday, 18.07.13

Somewhere on West Jakarta,

hippienov

19 Responses to “A Visit to a Forgotten Cassette Store”

  1. Gatot Widayanto Says:

    Mas Hippie,

    Terima kasih banyak. Saya menikmati dialog mas Hippie dengan si Om ….. mbrebes mili tenan aku ….

    Salam

  2. hippienov Says:

    Aku yg matursuwun mas G sudah posting tulisanku ini..semoga berkenan ya mas..
    Suwun

  3. eddy irawan Says:

    Mas Hippie, saya baca story nya sambil deg2an, wah jangan2 ada harta karun di Jalan Sabang…..

  4. hippienov Says:

    Ha3..setauku gak ada lagi harta karun kaset di Jl. Sabang mas.kayaknya tinggal duta suara toko musik aktif yg tersisa disana.Itupun tadinya ada 2 duta suara tapi yg 1 sudah tutup berubah jadi kedai kopi kalo ndak salah.
    toko yg ak jumpai ini hanya tersisa stock penghabisan.kalo gak salah ada kaset little river band yg kayaknya lumayan buat dikoleksi dengan album nini rosso pemain trumpet legendaris itu (both are licensed).tp karena budget terbatas 2 kaset ini terpaksa aku tinggalkan dulu..kalo ada rejeki mungkin aku mampir lagi “jemput” keduanya,ha3..

  5. Rizki Says:

    Tulisan yang dikemas secara menarik dan enak dibaca. Salut Mas Hippie

  6. khalil logomotif Says:

    Mas Hippie, aku jadi keinget pengalamanku dulu, waktu ngungsi kejakarta waktu tsunami 2004 dulu. Setelah sampe ke jakarta dan dapet sjumlah uang sumbangan….langsung ke duta suara dan musik+ sarinah…..nongkrong di dankindonat yg dipojokan pintu masuk samping sarinah. Waktu itu duta suaranya masih dua…seingetku dulu dideretan deket duta suara pertama ada dankin, dan sebelum dankin ada toko kaset yg jg jual kamera…bener ngga sih? Yg paling enak, deket situ ada yg jual sate kambing….

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Khalil,

      Tepat sekali.

      Gang di sebelang Dangkin Donat itu adalah “Aisle of Plenty” dan merupakan gang menuju surga karena nembus nya adalah Masjid. Saya suka shalat di situ sampai menemukan sahabat saya, pak Triman, penjaga titipan sepatu. Kenal beliau karena sama2 pegowes …. Pernah gowes bareng pulang ke rumah ba’da Isya, berpisah di Blok M karena jalur pak Triman beda setelah Blok M.

  7. DananG Says:

    Cerita yang mantab mas hippenov
    Musik + ke Duta Suara adalah jalur mingguan saya, disamping ke 2 toko itu saya suka jajan sate telor muda di Sabang, tapi kok gak ngeh kalo ada toko kaset ini ya? Ini nama tokonya apa ya?

    • Gatot Widayanto Says:

      Saya sering lihat toko dan pernah mampir. Namun gak ada yg cocok.

      Jaman duku di seberang DS juga ada toko kaset tandingan DS yg kadang saya sambangi karena malu kalau cuman dengerin di DS muluk …. ah … jadi inget kaset Greenslade rekaman Aquarius, albumTime and Tide, dibeli di toko kaset aldiron, trus nyambung makan siang di Bakmi GM

      “Ciptakan Keterdesakan Sebelum Keterdesakan Yang Sebenarnya Datang”

      Gatot Widayanto

  8. hippienov Says:

    Matursuwun mas Rizki, mas Khalil dan mas Danang u/ apresiasinya.senang rasanya bisa sedikit berbagi cerita dgn rekan2 semua,apalagi ceritanya ada hubungan sama musik dan kaset🙂
    bangunan toko ini sudah tua dan seingatku plang nama tokopun ndak kelihatan.tdk spt kebanyakan gedung lain di area situ yg menarik/eye catching.mgkn ini yg bikin kita sering kelewatan.memang yg nampak jelas dari luar adalah mesin fotokopi dan jualan stationery nya,sedang rak tempel (dinding) kaset dari luar agak terhalang jendela toko. Om yg punya juga sudah cukup sepuh tp masih jelas menceritakan pengalaman beliau dulu

  9. Domme Says:

    Wah. Bos Hippie memang punya bakat bikin tulisan yang mengaduk perasaan…

    • Gatot Widayanto Says:

      Setuju … ! Penghuni blog ini pada jago menulis …

      “Ciptakan Keterdesakan Sebelum Keterdesakan Yang Sebenarnya Datang”

      Gatot Widayanto

  10. hippienov Says:

    Bener mas G,di seberang DS dulu ada toko kaset juga.ak pernah juga mampir tp kyknya gak pernah beli😀
    Entah sekarang telah berubah jadi bangunan apa toko kaset itu ya?tinggal DS yg masih bertahan.

    • Gatot Widayanto Says:

      Rasanya saya pernah beli di situ mas Hippie …yg jelas kasetnya rekaman Contessa, namun lupa apa judul artisnya …. Jangan2 Duran Duran “Rio” yg kesukaan saya lantaran ada lagu “New Religion” sebagai pembuka… Wah edan pake solo bass segala lho. Iti lagu keren banget …..

  11. hippienov Says:

    Keseringan nonton sinetron di tv jadi kebawa mellow bro Domme,he3..

    Tp ya gak gitu juga kok,memang moment waktu itu kok ya pas bisa ngobrol panjang sama pemilik toko.ada perasaan sedih juga liat kondisi kaset2nya,kalo bunga rasanya sudah layu..
    Asik dgn cerita si Om meski benar atau tdknya ak juga ndak paham,tema utama obrolannya yg lebih penting menurutku: kaset..

  12. herman Says:

    Mas Hippie,….saya menikmati tulisan yang asik ini, …rasanya certa di atas seperti di manaaaa begitu…padahal ada di tengah2 kita….itulah Mas Hippie…..karena sesuatu yang biasa tapi dikerjakan secara luar biasa….certa lagi dong Mas….hehehe….

  13. hippienov Says:

    Ha3..bisa aja mas Herman..matursuwun apresiasi nya.sekedar bocoran saat nulis itu ak sambil denger album2 Marillion via youtube (di warnet). Era Fish n Hogarth ak comot randomly plus satu lagu dari John Carrie & Moor Green judulnya please dari album folk is not happy.. Bikin hati ini lumer mas😀

  14. Oni Says:

    Hi. …aku banyak bgt cassette lama,kalau minat email ke febval
    2006@yahoo.com dengan Oni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: