Sudah 45 Tahun, Bisa Apa

Catatan: review ini dimuat di koran tempo minggu, 19 mei 2013

————————————————————————-

By: Purwanto Setiadi

cover_44535642013_r

Deep Purple, earmusic, 2013

selalu mudah untuk meragukan satu kelompok musik yang sudah berkarier sangat lama, misalnya 45 tahun seperti deep purple. pertanyaan nakal atau kritisnya, jika mereka belum juga mau pensiun dan, apalagi, hendak menerbitkan album kumpulan lagu-lagu baru: kakek-kakek ini mau bikin apa lagi setelah praktis sudah melakukan dan juga melalui segala hal?

deep purple, yang dibentuk di hetford, inggris, pada 1968, sudah berganti-ganti personel, dengan jumlah orang yang datang dan pergi terhitung cukup untuk menjadi bagian dari satu “pohon keluarga” yang rimbun–berisi informasi siapa dan ke mana saja orang-orang itu. mereka juga telah beberapa kali merevitalisasi formula musiknya. mereka sempat mati suri, sebelum bangkit, terguncang lagi, dan lalu bertahan hingga sekarang dengan jadwal masuk studio yang makin jarang–dalam sepuluh tahun belakangan mereka hanya merilis empat album; terakhir kali mereka melakukannya pada 2005.

tampaknya mereka sadar telah menempuh perjalanan luar biasa panjang serta berliku dan karena itu sengaja memilih judul album barunya, urutan ke-19 dalam diskografinya, now what!? tapi, sebenarnya, judul ini juga relevan digunakan sebagai penghormatan ketimbang indikasi tentang masa depan yang seketika suram setelah jon lord, keyboardist mereka, meninggal juli tahun lalu.

lord, lebih dari sekadar ikut mendirikan band, adalah salah satu arsitek yang ikut membangun karakter musik deep purple, lewat permainan organ hammond-nya. berkat itu, antara lain, deep purple ditabalkan sebagai satu dari the holy trinity of heavy metal. meski telah memilih pensiun dari deep purple sejak 2002, pengaruh lord tetap sulit dinafikan. dalam hal album ini, misalnya, “anda bisa merasakan spiritnya di studio dan saya pikir anda bisa mendengarnya di dalam album,” kata roger glover, sang pemain bas, seperti dikutip majalah classic rock edisi juni 2013.

maka, wajar jika kemudian, sebagaimana diterakan dalam bukletnya, mereka memang mendedikasikan album yang dirilis pada 26 april lalu ini untuk lord. “souls, having touched, are forever entwined,” demikian mereka menulis, dan kemudian menyanyikannya sebagai larik dalam above and beyond. dan mereka menggarap persembahan itu dengan energi berlipat-lipat.

mendengarkan album ini sepenuhnya kita bisa merasakan seberapa keras roger glover, ian gillan (vokal), ian paice (drum), steve morse (gitar), dan don airey (keyboard)–formasi terkini–berikhtiar; juga melihat sinyal bagaimana mereka mencurahkan segenap daya kreasi dan musikalitas yang ada sejak dari menulis lagu, mengaransemen, hingga merekamnya. setiap not, setiap kata, dan setiap detak tempo memancarkan vibrasi tentang para sahabat yang merayakan kegembiraan dan masa-masa indah bersama, semuanya seperti lepas dari aturan-aturan yang membelenggu.

lagu pertama, a simple song, memulai semua langkah memerdekakan diri itu. berbeda dari pembuka album-album deep purple sebelumnya yang selalu langsung menderu (misalnya speed king, highway star, burn, vavoom: ted the mechanic, atau any fule kno that), lagu berdurasi 4.39 menit ini diawali dengan motif petikan bas dan gitar dalam tempo orang berjalan santai dan suasana hati melankolis, dengan latar belakang sapuan lembut cymbal oleh paice yang menimbulkan kesan bunyi lonceng. vokal gillan lalu masuk, melantunkan “time, it does not matter/ but time is all we have….” baru kemudian tempo berubah cepat, seakan membawa kita menumpangi kereta roller coaster yang tengah melaju.

di menit-menit awal itu sudah sangat terasa betapa bebunyian yang kita dengar bagai keluar di satu ruang besar dan luas minim perabotan. bukan saja kesan modern sangat menonjol, melainkan juga betapa dinamisnya presentasi mereka–tapi tanpa menghapus sama sekali jejak deep purple dari masa lalu. peran bob ezrin, produser yang sudah berpengalaman antara lain dengan alice cooper, kiss, dan pink floyd sulit diabaikan di sisi produksi ini.

dengan umpan serupa itu sulit mengabaikan lagu berikut, dan berikut, dan berikutnya lagi sampai lagu kesebelas (atau kedua belas untuk versi dengan bonus track) berakhir. pada lagu kedua dan ketiga, weirdistan dan out of hand, mereka membawa semua yang ada di lagu pembuka ke tataran yang lebih tinggi. ini menjadi etalase bagi apa yang akan mereka sajikan selanjutnya. ada elemen progresif di sini. gitar morse dan keyboard airey seperti beratraksi “terjun bebas”. kadang mereka bersahut-sahutan, atau berbarengan membunyikan not yang sama (unison), ada kalanya mereka menempuh alur solo yang menggairahkan. tapi dengan takaran yang pas.

dengan takaran itu pula airey menerakan karakter permainannya: suatu kali dia membubuhkan ciri khas lord, tapi pada kali lain dia sepenuhnya menjadi dirinya sendiri, seorang pemain keyboard dengan jejak bermusik yang panjang dan berwarna-warni.

simak, misalnya, blood from a stone, lagu tentang seseorang yang menimbang-nimbang hendak melakukan kejahatan agar bisa bertahan hidup. benar jika ada yang mengatakan di sini airey mengingatkan kita pada ray manzarek dari the doors ketika, dengan organnya, dia memainkan melodi jazzy dalam riders on the storm. atau, perhatikan juga gaya emerson, lake and palmer dalam uncommon man: di lagu yang mereka akui mengambil ilham dari komposisi klasik fanfare for the common man ini kita bisa mendengar perayaan bebunyian terompet dan organ setelah intro kontemplatif yang menghanyutkan dari morse.

di semua performans berkelas pada sisi instrumen itu gillan, di usia 67, memang sulit menjadi gillan di masa jayanya pada 1970-an. jangkauan dan tenaga vokalnya telah menurun. tapi, dengan caranya, dia toh sanggup tampil mengimbangi dengan cara mentransformasikan vokalnya sebagai wahana untuk menyampaikan tema, tentang perenungan, humor, rasa puas diri, penyesalan. dalam all the time in the world, misalnya, dia menyanyikan: and so i watch the world/ go racing by, tearing up the street/ i lay back in the long grass/ take it easy and rest my feet/ don’t worry/ you know, there’s no hurry/ here we are/ with all the time in the world.

dengan semua itu, melalui album ini, deep purple menunjukkan betapa mereka tahu benar apa yang mereka masih sanggup lakukan. dan mereka mewujudkannya dengan cara-cara yang sudah mereka kenal sejak lama, tak pernah kurang tapi selalu ada lebihnya.

26 Responses to “Sudah 45 Tahun, Bisa Apa”

  1. Yoshi Says:

    deep purple, salah satu band favorit saya

  2. hippienov Says:

    Kalo Yes aja kalah, gimana dgn E.L.P ya mas?sudah lama sekali gak rilis album, terakhir in the hot seat kalo gak salah. Padahal semua member asli masih lengkap. Pertanyaan yg sama juga u/ Genesis yg sepertinya ogah reuni dgn formasi paling top mereka.

  3. gt Says:

    Mas Pur, ulasannya sangat bagus..

    • Gatot Widayanto Says:

      Ya jelas mas… mas Pur gitu lho … Udah senior pol dalam hal jurnalistik.

      Yang penting, kalau menurut mas GT yang punya album DP baru ini, bagaimana album ini?

      Biar imbang gitu mas …

      Salam,

      • gt Says:

        Mas GW,ya Begitulah…he..he..he

      • Gatot Widayanto Says:

        Lha kok “begitulah” …. Soalnya saya baca review di internet kok dapet empat bintang … berarti OK dunk …he he he …

      • kunangkunangku Says:

        hehehe… sudah lama saya tidak nulis review, mas. ini juga tadinya saya diminta nulis eric clapton. sudah saya sanggupi. tapi setelah saya dengar albumnya dan album dp, rasanya kok dp lebih layak. jadi saya minta clapton-nya diganti saja.

    • kunangkunangku Says:

      terima kash banyak. saya suka sekali dp baru ini. rasanya sudah tak terhitung berapa kali saya spin. anak saya yang masih kelas tiga sd sampai hapal lagu-lagunya.

  4. yuddi Says:

    Agaknya album ‘Purple’ yg sangat istimewa, sampai sang begawan mas Pur bikin ulasan.
    Mari kita simak album tsb dan bikin tanggapan spt mas G minta.

    @mas Hippie – ELP setelah “Brain Salad Surgery” agaknya sdh bingung kehabisan ide mau bikin apa??

    • kunangkunangku Says:

      kalau tak ada masalah dengan purpendicular, mestinya album yang ini masuk juga. menurut kuping saya, yang baru ini sedikit lebih bagus. morse dan airey edan.

  5. hippienov Says:

    Bener juga mas Yuddi,album works bisa jadi pertanda awal E.L.P mulai jenuh dan makin unmotivated dalam album love beach yg judul dan covernya lebih cocok u/ albumnya Bee Gees🙂

  6. herman Says:

    mas Purwanto, salam kenal….tulisannya mengungkapkan detil2 yang bikin penasaran…..

    • kunangkunangku Says:

      salam kenal juga, mas herman. terima kasih sudah baca.

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas Herman,

        Apa kabar? Fyi, mas Pur ini dulu rajin hadir ProgRing … Namun kesibukan beliau membuatnya ketinggalan beberapa progring …. Next time ya mas Pur …biar bisa “face value” dg mas Herman …..

        Salam,

  7. kunangkunangku Says:

    siap, mas.

  8. khalil logomotif Says:

    Saya suka dgn disain kavernya, cerdas banget mengeksekusi tanda tanya dan tanda seru sebagai huruf “p” dan “l” di kata purple, dan dapat dengan jelas mengkomunikasikan now what nya. Sekelas dengan purpendicular, lebih bagus dari banana. Beberapa lagunya juga enak (mungkin karena saya suka morse) sayang gillan nya udah ngga full loaded ya.

    • kunangkunangku Says:

      betul, mas. setidaknya selevel dengan purpendicular, di atas bananas. tapi di kuping saya, rasanya, lebih ok what now?! ini daripada purpendicular. tapi, ya, selera.🙂

  9. herman Says:

    Mas G…Okey nanti kita face value-an sama mas Purwanto…..
    Mas Khalil ….apa kabar nih….

  10. herman Says:

    Mas Khalil, terima kasih, mungkin ini untuk tret yang di atas ya….sekedar menyalurkan hobi lama, daripada foto numpuk…

  11. DananG Says:

    Kemarin mampir ke Musik + Sarinah, nimang-nimang kok harganya kurang bersahabat. Mana Piringan Hitam Queen lagi banyak dietalasenya. Jadi masih pending Deep Purple ini. BTW ini bakal dirilis lokal gak yach mas Pur?

  12. kunangkunangku Says:

    mas danang, saya beli yang rilis lokal. rp 75 ribu saja. saya sengaja tidak order ke amazon, karena yakin pasti ada versi lokal, seperti album-album sebelumnya.

    • Gatot Widayanto Says:

      Kelakuan toko cd memang begitu, yang dipajang justru import sedangkan lokal disembunyikan. Dulu cari cd DT juga gitu. Namun kalo kita tanya petugas, dia langsung ambilkan dari laci dengan alasan bahwa tadinya sudah dipesan orang. Kampret ….

      Memang kasihan sih toko CD dewasa ini …

  13. Domme Says:

    Saya makin pengen beli album Now What setelah baca ulasan ini. Memang bagi saya dan teman-teman penggemar Purple lainnya, apa dan bagaimana pun album Deep Purple, sepertinya wajib punya. Karena seperti kata salah seorang personil Purple (lupa yang mana), Deep Purple bukanlah sekedar nama group, tetapi sebuah konsep musik. Dikatakannya, Deep Purple adalah sebuah konsep musik yang bernama Deep Purple Concept Music. Dan memang setiap album Deep Purple keluar, kita selalu penasaran, bagaimana kira-kira konsep musiknya. Anggota-anggota Deep Purple memang sungguh jenius dan selalu digantikan oleh para jenius juga. Entah sampai kapan Deep Purple Concept Music ini akan terus bergulir…. Saya membayangkan, konsep musik ini akan terus bergulir beberapa belas atau puluh tahun mendatang, tentunya dengan personel yang berganti sesuai kemampuan usia, kebutuhan, dan zaman…. Who Knows…?
    Thanks banget Bos Purwanto Setiadi atas ulasan ciamiknya….
    Bravo Deep Purple…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: