Pink Floyd “A Momentary Lapse of Reason” by Yess

Cuaca mendung memang paling asik menikmati lagu jadul melalui kaset jadul pulak…. Dan tentunya kalau saya mencomot kaset nomer seri 690 dari Yess ini banyak yang gak merasa tertarik menyimak tulisan ini soalnya album ini tergolong yang tak banyak direspek sama proggers maupun rockers? Mangapa? Alasannya sederhana … Roger waters gak ada lagi, maka tak sah bila disebut Pink Floyd!

Mosok?

Saya kok ndak percaya mengenai hal ini. Sepertinya si Roger Waters ini penguasa tunggal Pink Floyd aja…. Ya memang, kontribusi Waters di PF bisa dikatakan luar biasa. Apalagi kualitas vokalnya yang dahzyat dan membuat ulu ati tersayat-sayat …. Gak percaya? Coba dengerin lagu ‘Nobody Home’ di album The Wall. Coba simak satu lagu itu saja deh …. Kalau Anda punya nalusi seni yang apresiatif tentu Anda akan acungkan jempol terhadap vokalisasi Waters di lagu tersebut. Apa hebatnya? Di nada rendahnya choy! Coba simak deh! Kalau gak bisa menimati, coba di pangsit njenengan dicantolin Senheiser PX-100 dan dengarkan lagi lagu ini. Biyuh …olah vokal nya di low register notes bener2 doahzyat!!! (nganti iduku muncrat ki lho!).

Namun …tanpa Waters pun Pink Floyd masih bagus meski masa kejayaan The Dark Side maupun The Wall sudah lewat. emangnya ada yang menjamin bila masih ada Roger waters album “A Momentary lapse of Reason” ini bakalan dahzyat? Kagak juga kan? Makanya ….ojok sok mutung mung goro2 ra ono wong sitok iki terus menghujat Pink Floyd sebagai bukan Pink Floyd. Itu sama aja dengan menghujat tanpa Gabriel maka namanya bukan Genesis. Yen awakmu kepikir koyok ngono, TAK SQUONK KOWE! Opo ra kapok?!!! Lha wong A Trick of The Tail maupun Wind and Wuthering album apik kok … Yo pow ra ndul?

Sayang tak ada tanggal belinya kapan ... Yang jelas ya saat album keluar ...

Sayang tak ada tanggal belinya kapan … Yang jelas ya saat album keluar …

LP series kasetnya - bukan C60

LP series kasetnya – bukan C60

 

Ternyata saya punya rekaman MusicBox juga ...hanya saya ambil liriknya saja ...

Ternyata saya punya rekaman MusicBox juga …hanya saya ambil liriknya saja …

Warna Dasar

Album ini syahdu dinikmati di saat mendung sambil menulis postingan ini. Baru saya sadari bahwa versi Yess yang ini adalah versi LP Series – artinya kasetnya tidak berdurasi C-60 namun disesuaikan dengan durasi PH. Wah …serasa menikmati PH nih saya ….Kaset gitu loh! Tapi nuansanya PH … Opo ora nggajak jal?

Dibuka dengan nuansa khas PF melalui ‘On The Turning Away” tiba2 pikiran saya melayang di masa ketika saya sebagai Production Engineer D (kasta engineer paling rendah … ha ha ha ..) di PT McDermott Indonesia – Batu Ampar Fabrication Yard, Batam Island. Saat itu saya memang lagi getol2nya menikmati album Misplaced Childhood nya Marillion versi Yess. Kalau bosen, baru nyetel PF yang album ini. Memang lagu pembuka ini terasa pop ..namun nuansa PF nya masih ada melalu warna dasar yang ditorehkan oleh Richard Wright dan Bob Ezrin melalui bebunyian synthesizer. Meskipun eranya sudah delapan puluhan, mengingat masa itu rasanya kok “gimanaaaaaa….gitu!” …. Saya saat itu kerja satu ruangan dengan boss saya, wong londo Amerika namanya Clint Anderson (mungkin nak ndulurnya Jon Anderson). Si Clint ini sukanya musik disco semacam De Barge atau Paula Abdul. Norce tenan yo? Bule kok senengane lagu menje2 …. Kalah kambek wong Mediun sing selerane gedongan! Kasete wae Yess sing ora ono nang Batam!

Seteleh itu mencuat “The Dogs of War” yang tadinya saya kurang begitu suka. Lama kelamaan saya suka banget lagu ini terutama setelah punya konser Laser Disc nya dimana ada lagu ini dibawakan. Memang ada kesan symphonc di lagu ini terutama dengan tereakan khas David Gilmour.

Sebenernya yang menarik dari kaset ini adalah side B nya dimulai dengan “Signs of Life” nyambung ke “Learning To Fly” yang lumayan melayang itu dan puncaknya di lagu terbaik versi saya di album ini: “Sorrow”. Whoooaaaaa …. lagu ini memang top markotop tenan. Adalah Andy Himawan (Production Engineer C – kasta di atas saya saat itu) yang mengenali lagu ini sebagi lagu top setelah dia mendengar lag ini dari kaset saya. Andy ini senior di urusan fabrikasi anjungan minyak lepas pantai dan tinggal satu kompleks dengan saya di Batam House sehingga dia taj=hu kalau saya suka ngeprog. Sebenernya sih dia gak suka prog. Tapi karena saya cekoki terus akhirnya bisa suka juga meski mungkin terpaksa … ha ha ha …

Coba deh nikmati Sorrow … Iramanya enak kayak lagi naik kuda … endut endut ….DHEH THAK DHENG THAK DHUNG DHUNG DHUNG DHUNG JRENG THAK DHUNG DHUNG ….

Udah ah … bentar lagi adzan Ashar … Mari kita ambil wudhu buat shalat ashar berjamaah pada awal waktu di mesjid terdekat. INGAT! Selama hidupnya Rasul Muhammad tak pernah shalat fardhu yang lima waktu di rumah beliau, selalu DI MASJID!

Monggo ….

Salam,

G

17 Responses to “Pink Floyd “A Momentary Lapse of Reason” by Yess”

  1. hippienov Says:

    Aku pernah liat (walau gak sampai tuntas) video konser PF yg dibuka dgn “signs of life” (mungkin dari delicate sound of thunder ya?) Sangat psikedelik dgn tata cahaya yg luar biasa dan visual (ada film org naik kayak/kano di sungai yg jernih..) makin membuat aura prog/art rock nya muncul.truly Pink Floyd mas..

    Memang Roger Waters suka main di nada2 rendah, dan kalo buat org lain ini riskan karena bisa malah “kepleset” gak pas suaranya, tp Waters piawai membuat kedengaran enak. Gilmour juga keren kok, ak tetap suka PF walau tanpa Waters, sayang sekarang Richard Wright sudah wafat jadi sepertinya gak mungkin ada album baru PF lagi.

    • Gatot Widayanto Says:

      Betul mas Hippie ….punya saya format laser disc. Saya suka sekali video konser tersebut.

      • Rizki Says:

        Selain tata lampu yang luar biasa dan iringan film, yang paling menarik juga buat saya adalah area/tempat peralatan perkusi Gary Wallis yang unik karena berbentuk sangkar/kurungan kotak besi besar.

  2. hippienov Says:

    Sampai sekarang ak masih kagum dgn judul album live PF “delicate sound of thunder” mas. Bayangin aja kok bisa suara thunder yg menggelegar dibuat delicate/lembut..judul album yg keren menurutku mas.
    Bravo Pink Floyd! Long live progrock!

  3. Herwinto Says:

    Pink Floyd menurut saya bagus di semua era….era dominasi Gilmour dan Wright di Middle, Atom Heart Mother dan Umagumma sungguh tak bisa diremehkan, terbukti lahir nomor maha dahsyat Echoes…era Waters pada Animal, Dark Side, Wish You Were Here, Wall dan Final Cut adalah era puncak, dan era Gilmour di Momentary dan Division Bell jelas sungguh mempesona. Bahkan kakak saya sungguh kini penggila Pink Floyd Gilmour padahal sebelumnya dia pengagum Waters hanya karena rajin melihat live live nya Gilmour yang menawan..

  4. Herwinto Says:

    Insya Alloh pak bos, sedang dipersiapkan he he he….

  5. kunangkunangku Says:

    album ini tetap ok meski tanpa waters. kalau dengar the dogs of war, yang saya bayangkan adalah cerita dalam novel frederick forsyth.

  6. Kristanto Says:

    Wuaaah, mungkin sudah 2 – 3 tahunan saya berharap ketemu album PF versi Yess ini di lapak2 kaset termsk yg on line, LHA malahan liat di blog kaset paling aktif di dunia … , dan ternyata koleksinya yang mbau rekso, ngiler, ngeces ces ces …
    Sptnya album ini yg terakhir dirilis Yess, setelah album sebelumnya “The Final Cut” … Saya juga suka nomor “The Dogs of War” (ada film dgn judul yg sama, harusnya pakai theme song dr PF ini), album setelahnya “Division Bell” juga masih recommended buat fans setia PF) …
    (Np “Living a Lie” – Babe Ruth dari Heavy Slow 4 by Yess)

  7. apec Says:

    Om GW, selain nada rendah-nya, saya juga suka kalo si Waters sedang teriak nada tinggi yg seolah olah bener2 kesakitan atau bener2 mangkel atine..bisa dirasakan di lagu2nya di Final Cut, tentunya harus dengan kaset Yess, sebab selain kaset Yess, teriakannya jadi lemah dan tdk bertenaga

  8. wira1987 Says:

    selamat pagi pak G,
    ah, rugi sekali saya telat membaca postingan ini,,karena yang di-review adalah salah satu album PF idola saya setelah dark side of the moon dan meddle,,,hehehe

    betul sekali memang, tak ada ROGER WATERS PF tetap PF, atau istilahnya gak ono waters ora patek-en. Album ini masih menyimpan energi PF untuk menghanyutkan “nalar dan spiritual” sang pendengar dalam suasana ngelangut , coba disimak pada lagu on the turning away,, wuizzz, suara si gilmour yang berat dan tebal benar2 membuat saya berada di alam mana gitu…hehehe
    kemudian track pembuka sign of life & learning to fly serta lagu one slip,,,benar2 enjoyable untuk didengar disaat mendung..🙂

    dan beruntung sekali pak G punya versi rekaman yess, karena saya hanya punya yang rekaman lisensi…. hehehe.

  9. hippienov Says:

    Mas Kris,piye kabare?masih suka invasi lewat mas gunawan?
    Menurut info yg ak baca di album momentary alm. Wright belum resmi jadi member PF lagi tapi masih dibayar seperti session player,entah akurat atw gak info ini.

  10. hippienov Says:

    Bro Apec,album the final cut memang totally Waters. Gilmour agak malas membuat album ini, dia bilang “buat apa merekam lagu2 yg sebenarnya dulu sudah “dibuang” pada album sebelumnya”
    Di album ini Waters bolak-balik nyanyi sambil “teriak” dan juga dgn nada rendah. Ini album yg penuh sentimen pribadi Waters yg marah dgn perang karena ayahnya juga tewas dalam WW II. Simak saja lagu “when the tigers broke free” yg pilu menurutku berkisah ikhwal perang yg merenggut nyawa ayahnya.

  11. hippienov Says:

    Kalo ndak salah Waters sudah menyiapkan materi u/ album PF berikutnya setelah the final cut tapi keburu bubar,akhirnya jadilah materi tsb u/ album solo Waters, kalo ndak salah the pror and cons.. Mas Eddy dapet album yess nya dari bang David. Monggo mas diulas😀

  12. kunangkunangku Says:

    dua tahun sebelum rilis the wall, waters memperdengarkan dua konsep album. dia bilang satu di antara dua konsep itu akan dia garap jadi album solo. setelah debat panjang, konsep yang dipilih untuk album pink floyd adalah yang kemudian dirilis sebagai the wall. konsep yang satu lagi itulah, yang sebenarnya dianggap lebih kuat secara musikal oleh gilmour, yang kemudian jadi the pros and cons of hitch hiking (rilis 1984).

  13. Ernestina Says:

    Hi, after reading this awesome paragraph i am too cheerful to share
    my familiarity here with mates.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: