It’s a Kind of Magic

By: DananG Suryono

Anak saya yang kelas 1 SMP pada tanggal 12 April tiba-tiba bertanya, “pak mau nganterin ke rumah eyang di Jogja ggak?” Tercekat mendengar pertanyaan itu, ternyata anak saya sudah merasa punya kampung halaman. Akhirnya saya mengambil cuti 1 hari dan kami sekeluarga Tanggal 19 April 2013 berangkat ke Jogja mengantar anak yang rencana akan liburan hingga tanggal 26 April 2013.

Disamping sowan ke orangtua, ada 2 hal lain yang terbersit, satu kulineran  menikmati masakan ibu serta jajanan yang susah didapat di Jakarta, yang kedua apalagi kalo tidak mencari kebahagiaan masa lalu, mencari kaset jadul.

image

Menikmati kemudahan mendapatkan ticket Kereta Api secara online, kami berangkat pukul 8 pagi dari stasiun Gambir menggunakan kereta ArgoDwipangga. Sepanjang perjalanan saya menikmati musik melalui perangkat tablet 7 inch yang memberikan kemudahan dalam mendengar playlist dalam format MP3 dari Iron Maiden, Pantera, Lemur Voices, Cynic hingga Dream Theater. Diselingi nonton konser Metallica di Quebec dalam format MKV sehingga perjalanan selama 7,5 jam tidak terasa. Pukul 15.30 kereta tiba di stasiun Tugu dan selera kuliner langsung menggelegak untuk mampir ke Bakso Telekom. Setelah melepas kangen dengan orang tua, malamnya kami bergerilya ke lesehan sekitaran rumah, dan pilihan jatuh kepada lesehan dengan menu burung puyuh goreng. Sungguh enak sekali burung puyuh goreng ini, mungkin karena jarang sekali ketemu di Jakarta, saya pun serasa konser music progresif, setelah menyelesaikan 1 burung puyuh dan sepotong paha ayam kampung, lamat-lamat cacing dalam perut meneriakkan “we want more!”, “we want more!”, “we want more!” sehingga sayapun memutuskan memberikan encore 1 burung puyuh lagi.

Bangun pagi, hari sabtu rencana adalah menyusuri Malioboro dan sekitarnya. Mencoba bus TransJogja, sekitar pukul 9.00 pagi bus berhenti dan kamipun turun di Malioboro yang masih rada sepi. Sambil menunggu pukul 10,00 kami ngopi di mcD Malioboro Mall dan SMS an dengan mas Herwinto. Yang sayang nggak sempat ketemu. Setelah jam 10 kami menuju took CD/kaset legendaries di Jogja Popeye, menyusuri gang sempit nan asri di samping Malioboro Mall yang langsung tembus ke Popeye. Setelah masuk hal pertama yang saya tanya adalah “mbak masih ada jual walkman?”. “O masih, ada tinggal 2 lagi” dan tampaklah 2 buah walkman merk Aiwa yang dihargai Rp 275,000. Sayapun beli 1 unit dan minta dicoba dulu. Ternyata walkman ini sudah tidak berfungsi dan dicoba 1 unit lagi dan lagi-lagi tidak berfungsi. Sesama Penjaga toko pun berdiskusi, dan lamat-lamat terdengar ucapan “janjane iki isih muter, ning ora iso muni”, mungkin karet  njerone wis nglokro, yen ora yo wis pedhot”. Tersenyum dalam hati saya mendengar dialog itu, ya barang udah lama nggak laku, ya rusak lah.

Sambil menunggu Aiwa tersebut diothak athik, saya lihat banyak perubahan yang terjadi. Sekarang isi dari Popeye kebanyakan adalah kaset Tari, Gendhing dan lawak Basiyo cs. Dan saya lihat kaset itu masih banyak yang membeli. Mungkin inilah strategi pintar Popeye dalam bertahan menghadapi lesunya penjualan CD akibat maraknya pembajakan serta pengunduhan music Digital.

Di Popeye

Di Popeye

Iseng-iseng saya bertanya apakah mas Herwinto sering main kesini?, mbaknya menjawab iya, beliau itu langganan disini, barusan mas Win sms ngasih tahu kalau temannya dari Jakarta mau datang beli walkman kesini. Apakah bapak dari Jakarta?, asma nya sinten?. Saya jawab nama saya danang. Tiba-tiba mbaknya membuka laci dan merogoh Walkman Sony yang ada tulisan pesanan mas Win. Kemudian mbaknya bilang ini kata mas Win, yang mau dibeli pak danang. Wah…..saya segera telp mas Win mengkonfirmas. Dan atas kebaikan mas Win walkman Sony itupun berpindah tangan ke saya bersama CD Gombloh dan CD Perspektif Tanda, matur nuwun mas Win.

Perjalanan kami teruskan ke sasaran berikutnya, Kaset bekas mBeringharjo. Hanya 1 penjual yang kami temui, dan kaset Rush & Queen yang saya cari hanya ada 3 kaset. Dan juga nemu 1 kaset Dream Express 4, kompilasi rock rilisan AR yang legendaris itu. Semuanya berpindah tangan seharga masing masing Rp 10.000. Hasil yang mengecewakan, Untunglah makan siang di mberingharjo cukup mengobati kekecewaan itu. Pecel yang isinya langka di Jakarta (Kembang Turi, Kenikir, Kecipir) dengan toping baceman puyuh menggoyang lidah, menenangkan hati.

Masih penasaran saya bertanya kepada penjual pecel dimanakah penjual kaset bekas?, diberi tahulah di lantai 3 pasar mberingharjo. Kamipun bergegas kesana. Namun yang kami dapati bukanlah penjual kaset bekas, namun penjual pemutar kaset bekas. Cukup banyak barang tersedia, mulai dari compo hingga tape deck komplit ada disana.

Sesampai dirumah, segera saya putar Dream Express melalui Tape deck Kenwood tua berumur 25 tahun yang masih berfungsi dengan baik.  Mengalunlah Cowboy (Three Dog Night) disusul Sea of Joy (Blind Faith).

Walkman belum saya gunakan, sengaja saya simpan untuk memutarnya di Kereta pada perjalanan kembali ke Jakarta tanggal 21April. Kombinasi Sony dan Sennheiser PX100  untuk memutar Rush The Spirit of Radio Greatest Hits, Queen greatest Hits II, Queen A Kind of Magic hingga Dream Express 4. Menggantikan tablet saya yang akan saya simpan rapat dalam backpack

Walkman nan nuansamatik

Walkman nan nuansamatik

 

Hasil buruan dan Kenwood

Hasil buruan dan Kenwood

 

Bekal perjalanan

Bekal perjalanan

Mungkin orang akan senyum-senyum melihat walkman ini, tapi yang jelas kombinasi desis dan musickQueen akan berusaha meredam deru angin dan bunyi rel yang beradu.

It’s A Kind of magic, It’s A Kind of magic, Magic, magic, magiiiiiiicccccccccccccccccccc

45 Responses to “It’s a Kind of Magic”

  1. Gatot Widayanto Says:

    Assalamualaikum wr wb.

    Mas DananG, terima kasih ulasannya … Tuooobbbzzzz!!!

    Mohon maaf dua gambar yang dikirimkan gak bisa saya akses baik dari android maupun laptop. Hanya ada simbol “?” saja. Bisa tolong kirim JPG nya ke email mas? Nanti saya upload …

    Oh ya …bagii temen2 …kalau kirim artikel langsung tulisannya di tulis di bagian tubuh email dan fotonya dai lampirkan dalam JPEG format ukuran sekitar 150 KB.

    Suwun …

    Wass

    • danangsuryono2112 Says:

      waalaikumsalam wrwb.
      maaf, kemarin buru-buru email menjelang berangkat ke stasiun, jadi templekan fotonya kurang sempurna. Barusan sudah saya kirim fotonya mas Gatot, terima kasih

  2. Herwinto Says:

    Selamat mas Danang, oh ya tadi malam popeye sms ke saya katanya saya diminta tenang, sebab walkman sony minggu depan insya alloh datang lagi bersamaan cd Yes Keys To Ascension vol 2 pesanan saya….ha ha ha….sukses ya….

  3. eyang Says:

    Wah laporan perjalanannya nuansamatik bgt krn sy bisa membayangkan dgn jelas setiap jengkal rute perjalanannya he he.. ada yg kurang sedikit yaitu kalau sore hari ada yg jual sate ayam yg dujual simbok2 pakai keranjang bambu (tenggok) dan wedang tape ketan di depan pasar mbering harjo, berbeda dgn tape ketan cirebonan yg dibungkus daun jambu warna tape ketan yg di mbering harjo ini hijau pupus spt (warna daun pisang muda) sehingga kalau disajikan dlm gelas terlihat segar & menggoda🙂. klo pemutar kaset brp walkman rasanya masih sering lihat di toko seputaran glodok tetapi memang benar spt mbak pelayan toko tadi kelemahan alat ini adalah antara motor dan penggulung pita dihubungkan dgn karet yang mudah kering atau melar entah kenapa ya gak pakai roda plastik saja spt pemutar cd spy awet ? yang agak menjengkelkan wlp string karet ini di toko elektronik di glodok masih banyak yg jual tapi utk cari yg cocok bukan hal yg mudah.
    Penjual kaset di depan pasar mberingharjo 8thn lalu kalau sore masih ada 7 org tetapi tahun 2011 sy lihat tinggal 3kios yg koleksinya krg menarik.
    Kalau kuliner dii jogya koq sy belum nemu yg cocok ya? bakmi kadin yg ktnya tob ya cumak mahal gitu saja tp krg enak, gudeg wijilan tiwas diubek blusukan masuk kampung rasanya standar saja spt kantin dikantor sy. paling parah lesehan malioboro sudah mahal blass gak enak😦 yg terakhir ini sgt mengecewakan & tdk rekomen.

    @ Mas Herwinto tgl.28 maret kemarin sy dari Bdg ke Solo lewat Klaten tetapi persis didepan pengadilan negeri sudah jam 11mlm, krn bus yg sy naiki (mandala) spanjang jln ngompreng cari2 penumpang jadi lambat bgt, pdhal kalau jam 7an dah sampai Klaten wlp belum pernah ktm sy nekat mau mampir utk sialhturahmi barang sejam atw 2 jam utk ngangsu kawruh bgmn crnya hunting kaset yg baik krn akhir2 ini blong terus

    • Gatot Widayanto Says:

      Wah eyang Sosro bagus penjelasannya ttg walkman. Saya jadi harus lebih ber-hati2 merawat walkman. Takut kalo rusak karetnya. Tadi siang di rumah menikmati kaset Jean Luc Ponty “Civilzed Evil” (opo tumon? Setan kok beradab! Ora mungkin!) Rekaman Saturn. Whoooaaa …. Kuweren rekamannya! Walkman juga masih bagus banget. Puwaaazzz !!!

      Kok, sama ya ….saya benci banget sama gudeg lesehan di Malioboro. Wis ora enak blas!!! Luwaraaaaang pol!!!! Tapi gak hanya gudeg …penjual bakso pun di depan Mirota, pernah ngentol aku dimana 2 porsi bakso dihjargai 28 ribu!!! Itu enam tahun lalu! Makanya aku gak sula sama Malioboro ….tukang kentol kabeh! Dodolan geleme untung gede. Tukang becak yo sami mawon ….

      Kalau mau maju, pedagang di Malioboro harus diberi edukasi biar pariwisata maju …. Mosok harga di Malioboro lebihj mahal dari Jakarta!

      I hate Malioboro street traders!

      Satu2nya kuliner saya suka adalah Ice Cream di depan Ibis Malioboro … Wis enak es krim nya …. Murah pulak! Padahal kafe lho ….

      Oh ya, gudeg yu Djum juga ra enak ….

      Setuju pokoke sama eyang Sosro!

      Powered by Driji_Jempol®

    • danangsuryono2112 Says:

      Iya mas Onnie, kemarin cuman 1 lapak pak Botak itu yang buka, kata adik saya itu yang terlengkap. Sebenernya kalo seneng yang hardcore ada Baceman Kepala Kambing yang di pasar Jl. Kaliurang km.7. Saya mengindari Malioboro untuk kulineran, Mengingat rumah orang tua saya di Janti saya memilih lebih disekitaran kolong jalan layang yang cukup pepak. Sambel welut + wader goreng serta puyuh goreng nya sudah memenuhi selera saya. Dan di Yogya rasanya nggak afdol kalo nggak nongkrong di cafe ceret telu aka. Angkringan. Makanannya sederhana, namun obrolan khas Jogja akan mengalahkan semua rasa.

  4. Herwinto Says:

    Ha ha ha….siap mas Eyang dengan senang hati….

  5. apec Says:

    Mas Danang, senang sekali baca ulasan mas DananG..gak ngerti yo, rasanya setiap ulasan ataupun sejarah yg rekan2 alami yg dipostingkanm terasa pula seolah olah saya ikut mengalaminya, mungkin gara2 sudah saling satu jiwa..
    Membaca ulasan mas DananG pun, rasanya pengen muka ini bertatapan dengan mas Herwinto yg yg bener2 Down to Earth…

    • danangsuryono2112 Says:

      betul mas Apec, memang blog ini menyatukan orang-orang seperti kita, satu jiwa..jadi postingan teman-teman semua rasanya seperti kita yang menjalaninya…Perlu di agendakan ketemu mas Herwinto yang luar biasa ini. Mungkin progring nya di Jogja..:)

      • Gatot Widayanto Says:

        Mas DananG dan rekan2 gemblungers lainnya …

        Pada saat ngobrol ngalor ngidul, wetan kulon sama mas GT dalam perjalanan ke TMII untuk menghadiri ultah yang ke 38 hari Sabtu malam, kami asik “ngerasani” Koh Win …. Ngerasani sing apik2 lah tentunya … Lha angel golek ora apike Koh Win …. Belum diomongin aja ujug2 mak gedandut sudah ngirim welcome gift yang variatif banget …ada kaset ada CD …wis pokoke tuooobzzz tenan!

        Saya cerita ke mas GT bahwa pengen sekali saya ke Yogya terus mbambungan ke Klaten nyambangi orang baik hati luhur budi yang namanya Koh Win ini …. Tahu gak, apa jawaban atau tanggapan pak GT? “Wah setuju mas! Kita rame2 aja ke sana barengan!” ….

        Dan ….sekarang ini mas DananG posting tentang menggelar progring di Yogya … WHOOOOAAAA … Gayung bersambut timba air sumur nih namanya …. Hayo … Kita realisasikan progring di Yogya!!! Numpak sepur ejes ejeng thuit thuiiiiiiit …. Budal Jumat sore …. Sabtu pagi di Yogya, trus naik angkot mbambungan ke Klaten …. Nggelar kloso sambil menikmati kopi kapulaga khas Koh Win ….ngantek sore … balik ke Yogya ….nginep mbambungan di hotel mbambungan …. Minggu sore balik Jakarta …

        Whoooaaaa … bakalan nuansamatix jadulsonic tuwenaaaannn ….!!!

        Siapa ikut???

        1. mas GT 2. mas DananG 3. GW 4. … 5. … 6. … 7. …. … ,… … 15. …..

        Hayo isi … sekalian usulan KAPAN …

      • danangsuryono2112 Says:

        Saya setuju, hanya waktu barangkali yang harus dipilih..usulan saya jangan bentrok sama liburan sekolah

  6. herman Says:

    wah saya baru sempet gabung……seperti Mas Onny….saya juga ikut merasakan setiap langkah Mas Danang….kalau nyebut Popeye rasanya lebih afdol kalau disertai jalan Perwakilan……jalan kecil sepotong nan nuansamatik karena selain ada Popeye dulu ada restoran Legian yang jadi tempat nongkrong Bule2 shg kesannya eksotis….
    Bapak2 yag jual kaset di mBringhardjo itu jangan2 yang dulu saya sebut Oom Nakasone ( karena dulu waktu masih muda mirip PM Jepang Nakasone…hahaha), dan dulu lokasinya jualannya di dalam…
    kalau kulineran di Jogja sekarang favorit saya masih di Pasar Ngasem….segala macem ada…mulai menu sarapan berupa Gudangan yang bumbunya ada bubuk kedelenya….wah saya belum pernah nemu di tempat lain…mana sayurannya direbusnya empuk sekali tapi warnanya tetap hijau….ada pastel isinya daging ayam lembut, rasa hotel bintang 5….terus jajanan ndeso segala macem ada, yang semuanya hampir jarang ditemui di Jakarta….lempeng gepit yang kres kres….sate ayam dibacem, …dan semua dengan harga yang terjangkau….
    Belum suasana pasarnya yang berarsitektur tradisional, rangka bangunan dari kayu, bersih, segar, di pinggir2 disediakan wastafel utk cuci tangan….
    saya sempet tanya kepada Ibu2 penjual kue di situ, retribusi yang harus dibayar oleh Ibu2 tsb. Rp.600,- ( enam ratus rupiah!!!) per hari…..biaya renovasi tidak dibebankan kepada para pedagang pasar, full tanggung jawab Pemda…..wah tuop tenan ……
    Kalau Gudeg, kata orang Jogja yang bisa dibilang spesial katanya Gudeg Nggeneng, makannya dengan mangut lele, ….biasanya jualan di Aloon2 utara waktu sekatenan, warung tetapnya di Nggeneng ( tapi yang ini saya belum pernah nyoba….baru jarene….hehehe…)..

    • danangsuryono2112 Says:

      wah gudeg nggeneng saya belum mencoba, meskipun orang jawa, saya kelamaan di Sumatra, makanya lidah saya lebih terdistorsi dengan masakan melayu. Sehingga gudeg agak nggak masuk disaya. Yang menolong adalah sambel goreng kreceknya.

  7. gt Says:

    Mas GW,sy mengucapkan banyak terima kasih atas tumpangannya,mobilnya nyaman,adem,resik dan maknyus,walau jalanan macet tapi hati ini tetap tentrem…apalgi pulangnya dapat buah tangan dari TMII,Tas besar yg isinya mantap tenan.

    • Gatot Widayanto Says:

      sama2 mas GT. Sebuah kehormatan bagi saya bisa berangkat bareng Ketua KPMI …. tuooobz!

      Terima kasih juga sudi naik gerobak saya yang tak ada apa2nya dibandingkan Alphard nya pak dokter yang luar biasa ….including musik power metal ala Luca Turili …..

  8. herman Says:

    Mas Danang, foto walkman-nya kelihatan kalo motretnya pakai camera canggih…..terlihat dari background yang jadi blur, sehingga obyek lebih menonjol…..iya apa iya…?

  9. herman Says:

    saya inget foto2 konser Metallica ….lupa di majalah apa….itu karya Mas Danang ya…?

    • Gatot Widayanto Says:

      Tidak hanya itu mas …. Jauh lebih banyak lagi karya mas DananG ….

    • danangsuryono2112 Says:

      Bukan pak Herman, mas Gatot itu ngada-ada hahaha. Saya memang hobby motret konser pak Herman, tapi belum level fotografer nya majalah.

      • Gatot Widayanto Says:

        mas Herman seperti gak tahu ilmu padi aja … mas DananG itu merendah mas …. Andaikan bukan karya mas DananG, majalah tsb lari terbirit-birit gak bisa bayar mas DananG mas ….. he he he ….

  10. apec Says:

    Om GW dan Pak GT, sepertinya ide Klayapan Ngayogjakarta kuwi menarik…kebetulan saya juga ada paman di Klaten…

    • Gatot Widayanto Says:

      Monggo diatur bro Apec … Kapan waktunya? Siap mbambungan turu nang kloso kayak Rasul …. Ayo!!! Perencanaan harus dari sekarang!!!

  11. herman Says:

    Sekedar informasi ….di Jogja banyak rumah2 yang dijadikan “hotel” dengan penataan tetap ada ruang tamu ada ruang keluarga, AC….suasana seperti rumah….tarif juga terjangkau…kalau buat ngumpul 8 sd 10 orang sekalian tidur di situ mungkin praktis juga….

  12. eyang Says:

    Ide bagus tuh jalan2 ke Jogya barengan, sdh kebayang nanti penumpang2 lain bakal heran karena di kereta pada buka bekal masing’s berupa walkman & kaset jadul he he he.. saran sedikit klo bisa dipilih yg ada libur pjg 3hr berderet sehingga masih ada waktu istirahat dirumah🙂 maklum balung tuwo jadi kalau duduk begadang semalaman di KA suka “jet leg” 🙂.

    @ masGW tadi nyebut2 becak jogya sy juga ada pengalaman naik becak yg unik disana yaitu : 1. dioper disuruh pindah ke becak lain dgn alasan tempat yg dituju bukan wilayahnya (sy dr penginapan skitar blkg Malioboro mau ke Monjali/monumen jogja kembali) jadi hrs cari becak lagi dan mnrt dia tarip yg (ckp mahal) telah disepakati tadi ya cuma sampai dipalang sepur dpn sta Tugu. 2.Minta tambah ongkos dgn alasan jauh bgt pdhal cumak dr stasiun Tugu ke penginapan/hotel di blkg toko ramai Malioboro yg notabene max hanya 1km 3. yg agak lucu adl sy mta antar ke tujuan tertentu krn tdk tahu temptnya, kmd mas becak mengajukan tarif ckp mahal fix price.. e eh setelah kita naik ternyata jarak antara kita berdiri dgn alamat yg dituju sangaat dekat, sudah begitu jalannya menurun pulak..2menit sudah sampai.
    Tetapi sy yakin tdk semua mas becak berperilaku spt itu.., tipsnya klo naik becak di Jogya kalau bisa jgn naik didepan hotel aplg dekat/sktr stasiun tugu. O ya disana pendekatan menggunakan bhs daerah (bhs jawa) tidak berlaku krn mas becak wlp logatnya medok jawa banget tetap akan menjawab pertanyaan2 ringan kita dgn bhs Indonesia baku, maksud mas becak mungkin scra psikologis tetap menjaga jarak antra pngemudi & penumpang spy jgn terlalu akrab🙂

  13. pur Says:

    wah, kapan-kapan mesti mengikuti jejak perjalanan ini. naik kereta memang pilihan yang jitu.

    • Gatot Widayanto Says:

      Mas Pur,

      Apa lagi kalau keretanya “Gaya Baru” yang tempat duduknya rotan dan kalau lagi gak beruntung, rotannya jebol pas di bokong ….wakakakakakakak …. Dulu pernah Madiun – Jakarta pake Gaya Baru, gak dapet tempat duduk, ya ndelosor di lantai, ngeelar koran. Udah gitu, kereta jaman dulu setiap setasiun kecil berhenti dan sering mandek di jalan …..walah … Madiun – Jakarta jadinya 16 jam dah …. Pipis aja di omplong ….lha wong WC juga penuh manusia …juga di bhordhèsz …..

      Wakakakakak …. Saat itu walkman belum ada, Deep Purple masih sampe album Fireballs dengan “Fools” nan nuansamatix itu …… Marillion dan IQ belum lahir ….

      • pur Says:

        hahaha… ingat zaman masih nakal di sma. saya pernah lari dari rumah, sengaja menghindari teman-teman main, langsung ke stasiun, beli karcis kereta sembarang, masuk peron tunggu sebentar, dan segera naik begitu kereta datang. tujuan: solo. kereta ekonomi ini kursi di gerbongnya masih pakai rotan. waktu itu belum ada walkman.

      • Gatot Widayanto Says:

        Ha ha ha ha …bener2 nuansamatix jadulmatix tenan ya mas ….

        Wah tanggal 3 Mei saya ke Madiun mas Pur … Numpak sepur BIMA …ejes ejeng …thuit thuiiit … Ayo mas ke Madiun mas …. Aku wis kuangen tenan ….

      • pur Says:

        pingin juga, mas. sayangnya belum bisa cuti lagi. februari lalu, pas adik saya nikah di sidoarjo, saya sudah rencanakan mau ke madiun. tapi batal, karena waktu yang ada tak cukup. saya ke surabaya naik pesawat, pulangnya naik kereta yang lewat jalur utara.

      • Gatot Widayanto Says:

        Wah iya ya mas …sekarang mas Pur sibuk teyus ya …. Terbaca dengan “miss” nya tiga progring ….he he he … Biasanya mas Pur selalu hadir … Hayo, kapan mas Pur ada waktu luang Sabtu? Kalau gak Sabtu juga boleh … Kita bikin mini progring mas … Sekalian saya ajak liat2 seputar Corelli ….

  14. apec Says:

    Ngomong omong tentang mbambungan, jadi ingat hunting kaset di Jogja semasa kuliah, berangkat dari kampus jalan kaki ke stasiun gubeng (karena dekat, sktr 1,5 km pada jumat sore, nyampe lempuyangan jam 9 malam, bukannya cari makan,lngsung jalan kaki ( ya, jalan kaki dari Lempuyangan melewati Jalan Mas Suharto menuju lapak beringharjo ( maklum,uangnya tdk dibuat naik becak atau angkot,krn mending buat nambahi beli kaset,ha..ha..). sebab lapak Bringharjo ,yang saat itu ada sekitar 8 lapak, tutup sekitar jam 10 an malam.. selesai hunting, baru mikirin perut yg melilit buat cari makan. Itupun makannya disebuah warung yg biasa dipakai tukang becak untuk makan , dibelakang Hotel Melia Purasani… wuihh, jadi melayang mengingat masa bersejarah tersebut..tidurnya milih di masjid juga dekat hotel melia Purasani tsb, dan kalo sampai 2 malam, malam berikutnya tidur di RS PKU Muhammadiyah dekat alun2, tidur bareng-bareng keluarga pasien lain.. ..pulang ke surabaya hari Minggu nya.. dan itu saya lakukan hampir sebulan sekali..
    Mbambung nan nikmat saat itu.. Terima kasih mas DananG sdh meuncratkan memori saya kembali

  15. cosmic_eargasm Says:

    waah.. From Jogja With Prog..

    sungguh asyik membaca tret nya mas danang beserta komen2nya yg kemlithik menggelitik. komplit! plit! pokoknya

    • danangsuryono2112 Says:

      suwun mas Cosmic, sayang bapak penjual kaset itu telah menyerah, dan menjadi penjual kaos.
      Terakhir saya ke Jogja, cari kaset di Sarthir (Pasar Senthir), tapi mereka memang bukan penjual kaset, hanya jualan apa yang bisa dijual.

  16. Jefi Says:

    Salam kenal, para pecinta kaset pita, setelah baca2, menarik juga ya,, saya juga punya bbrapa walkman dan kset, masih enak dan jernih suaranya santai didengarkan dan terasa klasik. Kalau di tempat umum bawa walkman pasti dilihatin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: