SHARKMOVE

Sharkmove was established in Bandung, West Java, Indonesia in 1970 by Benny Soebardja (lead guitarist and vocals) who also wrote songs titled “My Life”, “Butterfly”, “Evil War”, and “Insan”. Benny, at that time was

registered as student at the Faculty of Agriculture, Padjadjaran University. He invited his best friend, Soman Loebis, a student at ITB (Bandung Institute of Technology) to join Sharkmove as keyboard player as well as percussion. He then contributed writing one song “Bingung” for the band’s debut and only album “Ghede Chokra’s”.

They then recruited one of the best bassists in Bandung, Janto and also drummer: Sammy. Janto wrote two songs: “Harga” and “Madat”. The music of the band was then recorded in the Musica Studio, one of the well-known label in Indonesia until today, and sponsored by Bhagu Ramchand, an Indian with Indonesian nationality. The contribution of Bhagu was significant as he contributed financial support as well as ideas to make the one and only album of Sharkmove “Ghede Chokra’s” became a reality. The band was considered as pioneer in Indonesian rock scene by combining rock music with traditional harmonies and progressive sounds.

Some songs in the album were written using English lyrics while at that time most of Indonesian played sweet music and Indonesian lyrics. It was considered as “experimental” in the way the album was made. Right after the release of this album in 1970, the band performed frequent gigs in Indonesian big cities like Bandung, Jakarta (capital city), Palembang, and others.

At the end of 1970, a tragic event occurred when Soman Loebis passed away due to traffic accident in Jakarta and Benny Soebardja decided to stop the band and all of its related activities because at that time it was quite difficult to find Soman’s replacement who could play keyboards as good as him.

After approximately 6 months in vacuum, Benny Soebardja went back to rock music by mid of 1971 and formed a new band called GIANT STEP which was one of important rock bands in Indonesia during the glory days of 70s and 80s.

At the end of 2006, “Ghede Chokra’s” which was originally recorded on January 2, 1970, was re-mastered at Pendulum Studio, Jakarta and was then issued by Shadoks Music (Germany) in 2007.

Line Up:

  • Benny Soebardja / vocals, lead guitar, sings on “My Life” and “Butterfly”
  • Soman Loebis / vocals, keyboards, piano, percussion, sings on “Bingung”
  • Janto Diablo / vocals, bass, flute, sings on “Harga”, “Madat”, “My Life”, “Butterfly”
  • Sammy Zakaria / drums, sings on “Insan”
  • Bhagu Ramchand / promotion, sings on “Evil War”

———————————————————-

(The write-up was originally written by Benny Soebardja on October, 2006 as appeared at the remaster’s sleve notes; modified a bit by Gatot Widayanto – a die hard fan of Sharkmove, Honorary Collaborator of http://www.progarchives.com, Chairman of i-Rock! Music Community which will organize the SHARKMOVE Reunion Concert at Mario’s Place, Jakarta, May 8, 2008 under the ROCK 2 GENERASI theme, featuring also Benny’s son’s band IDEALEGO)

20 Responses to “SHARKMOVE”

  1. torro Says:

    wah mantep, udah masuk progarchives. mudah2an makin banyak group rock indonesia yang di-progarchives-kan.

    sy ada tulisan mengenai shark move di republika 18 maret 2008 (http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=327389&kat_id=383). tulisan ini melengkapi sekaligus koreksi tulisan sy yang dimasukkan ke wikipedia (mengenai benny soebardja) dan tulisan di soundup (pasca deal dengan shadoks). koreksi yang paling krusial adalah tahun release, yaitu 1973 bukan 1970.

    salam//torro

  2. alfie_khc Says:

    Mas Torro Yth,

    memang repot kalo kita hanya berpatokan pada berita yang ada dimedia saja ,seperti bubarnya Shark Move dikatakan karena Soman wafat itu sangat bertolak belakang karena saya tahu sekali Soman itu wafat bareng Fuad Hassan God Bless waktu naik motor di pancoran tersambar oleh truck dan itu kejadiannya tahun 1974 sedang dimedia media sekarang dikatakan/ditulis Sharkmove bubar karena Soman Lubis wafat (ini sama seperti Denny Sakri tulis God Bless yang manggung di pesta musik Summer 28 Ragunan tahun 1973 yang terdiri dari : Albar,Fuad, Donny, Ludwig dan Yockie Suryo Prayogo dan ini jelas karena ketidatahuan dia lo wong saya nonton langsung yang maen keyboardnya Deddy Dores eh ditulisnya Yockie!) itu yang aneh bin aneh , lo wong Soman Diajak Dores buat gabung ke God Bless yang ditinggalin Ludwig LeMans.

  3. Priyo J Says:

    lah ternyata release nya 73 ya ?? maklum saya baru dapat sharkmove versi kaset bajakan di tahun 80 an .. karena tertarik mendengar di radio lokal di Malang ada yg mutar “Butterfly” dan “My Life” hampir setiap hari .. mau gak mau penasaran berburu ke pasar loak2 di Malang nyari kaset atau PH nya.

    Saya lihat lagi di Shadoks ada grup Indonesia Ariesta Bhirawa , apa itu grup progressif juga ya ? judul hit nya “siompong” blm berhasil download streaming mp3 nya he he he

    pak Alfie , abdi butuh penjelasan nih he he he

    Rgds

    Mahavishnu Orchestra – Sister Andrea (The Lost Trident Session) now listening

  4. Priyo J Says:

    wah … dapat ldari blog temen nih ada snippet mengenai Ariesta Birawa plus kisah tragis salah satu personilnya

    Mungkin anda lebih mengenal Ariesta Birawa Group dengan personil : Oedin Syach, Jeffry Zaenal, Noerche. Tapi sebenarnya ada beberapa personil pengiringnya, antara lain seorang pemuda bernama Arkan. Dimana dia sekarang ?.
    Melihat beberapa musisi lawas yang sekarang sering ngempi, dengan berbagai profesi yang terlihat cukup mapan, seperti ada yang menjadi Diplomat, mengelola PH, atau tetap menulis lagu untuk jingle atau soundtrack sinetron.
    Tapi ternyata banyak juga musisi lawas yang nasibnya di ujung tanduk, seperti Fariz RM dan Achmad Albar !!!, Iwan Madjid, yang menghilang setelah keluar penjara karena narkoba.
    Tapi terbayang nggak, kalau musisi lawas ada yang jadi penjual air pikulan ?. Lalu Arkan ini apa kabarnya ?. Dimana kita bisa menemui dia ?. Dimana rumahnya ?. Jawabannya menyedihkan !!, Arkan bisa ditemui di Makam Tembok Surabaya !!. Rumahnya ?, “Beralaskan bumi dan beratapkan langit !!”. Pekerjaan dia sekarang ? “Gelandangan !!”.
    Konon kalau Mus Mulyadi kebetulan mampir ke Surabaya, Mus selalu memberi dia uang sekedarnya untuk menanggung hidup. Sungguh Tragis.

    uhuk uhuk pengen nangis hiks (serius ini ga guyonan)

    Mahavishnu Orchestra – John’s Song now listening

  5. alfie_khc Says:

    Sedih ,Sedih sekali memang , dan kelemahan orang tahun 70an itu mereka itu sudah meresa cukup dengan tammat SMA saja hingga jarang sekali yang mau kuliah atau bekerja dikantoran(saat itu kantor pemerintah yang banyak ) dan tidak antisipatif terhadap perkembangan jaman contohnya semalam saya melihat UCOK AKA di Trans TV dalam acara empat mata sedih saya melihatnya konon kabarnya rumah saja beliau tidak punya hanya menumpang dirumah sahabatnya disatu kamar dan lebih suka tingga di kaki gunung sambil mengajar agama para orang kampung disana.
    Guntur Simatupang vokalis dahsyat dari band Destroyer Medan jadi montir di Tangerang dn wafat dalam keadaan yang sangat menyedihkan belum lagi Deddy Stanza diakhir hayatnya jadi …. maaf tukang gulung kabelnya SLANK begitu juga Adhy Haryadi bassist Giant Step sekarang jadi Para Normal di Bandung, Kasim alias Karel Simon Golden Wing jadi guru nyanyi lagu daerah di Palembang, Sammy Zakaria masih mending jadi Ustadz di Lampung. dan banyak lagi kisah sedih para Rock Legend era 70an yang kehidupannya sangat menyedihkan.

    Salam

  6. Priyo J Says:

    Iya pak Alfie , saya lihat UCOK AKA di Trans 7 kemaren , aduhh.. koq segitunya ya… trenyuh.. miris campur adukk… dulu beliau jadi simbol dan mewakili anak muda jamannya yang berani, nekat dan bisa berkarya serta selalu di tunggu aksi panggungnya yang luarbiasa , theatrical, selalu menwan dan penuh kejutan , koq jadinya sekarang seperti itu ya….

    Quo Vadis …..
    Apa kita bikin gerakan atau aksi ‘penyelamatan’ the rock legend2 jaman baheula ?? paling gak bisa menyentil ingatan dan perasaanb orang2 yang melewati jaman normal dengan musik dan pertunujkan para rock legend tsb untuk lebih peduli sama asset bangsa ini…

    tapi .. kelihatannya bangsa kita sedikit (ga semuanya) mudah melupakan hal2 yang pernah membentuk kita jadi seperti sekarang ya … ??

    jadi sedih gini ..he he he dengerin Kalle Kapner (solo piano adaptasi lag u Opeth) aja biar mendukung suasana mellow :D

    Salam

    Kalle Kappner – Death Whispered a Lullaby (Piano Damnation) now listening
    Kalle Kappner – In My Time of Need (Piano Damnation) just listened

  7. alfie_khc Says:

    Ini adalah tugas besar pak Gatot yang sebagai komandannya i Rock untuk mengangkat kembali para leluhur rock 70an paling tidak untuk kita apresiasikan perjuangan mereka dijaman kejayaannya dahulu dengan mengadakan pagelaran seperti Shark Move dengan demikian mereka akan menjadi terhibur bahwa mereka masih ada yang memperhatikan.

    Salam

  8. alfie_khc Says:

    Mas Priyo Yth,

    Bikin gerakan atau aksi ‘penyelamatan’ the rock legend2 jaman baheula ?? , ini suatu ide yang sangat baik dan pak Gatot serta temans progger pasti sangat setuju dengan ide ini. Jadi jangan prog legend barat melulu yang kita apresiasi dan lestarikan He he..he..he.he.

    Salam

    Salam

  9. Gatot Widayanto Says:

    @ Mas Torro & Pak Alfie Yth.
    … terima kasih atas koreksinya. Saya juga mendapatkan koreksi dari mas Benny mengenai tahun rilis yang bukannya 70 tapi 73. Saya memakai 70 karena di CD nya ditulis begitu. Mas Benny minta maaf atas kekeliruan menyebut tahun tersebut.
    Terlepas dari semua ini, tetep aja Sharkmove merupakan salah satu pionir. Tapi apakah Sharkmove merupakan band prog pertama? Nah ini yang jadi sumir .. karena HARRY ROESLI “Philosophy Gang” dirilis tahun 1971 (http://www.progarchives.com/artist.asp?id=3263).

    @ Mas Priyo dan pak Alfie …
    Saya sungguh prihatin dengan kehidupan musisi kita tahun 70an. Gak masalah kalo kita mau ngadain malam reuni musisi 70an biar seru, dan mungkin perlu kita bahas nanti di Prog Ring#3?

    Wah saya seneng sekali ternyata temen2 saya ini semua bener2 prog arriors yang peduli dengan musisi2 jadul … hebat …

    Salah satu “mimpi” saya adalah, kita bikin program dan dituangkan ke dalam PROPOSAL, buat ditawarkan ke radio2 di nusantara .. buat disiarkan .. agar musisi 70an tetep ada taringnya … KIta bahas ntar di Prog Ring#3

    Salam,
    G

  10. alfie_khc Says:

    Pak Gatot Yth,

    Benar pak, itu ide yang sangat bagus karena banyak sekali musisi musisi rock kenamaan saat itu sekarang nyaris dilupakan, mungkin karena ada suatu disconected information antara generasi era sekarang dan era 70′an Jadi sangat baik sekali ide pak Gatot .

    Salam

  11. Priyo J Says:

    tak dukung sepenuh hati, jiwa dan sepenuh raga …

    ayo konco2 podo dolanan
    padang bulan padange koyo rino

    Kalle Kappner – Window Pane (Piano Damnation) now listening

  12. Hengki Herwanto Says:

    Salam kenal Mas Gatot. Nama saya Hengki. Domisili Jakarta Timur. Beruntung saya bisa menyaksikan latihannya Shark Move di rumah Kang Benny Soebardja 2 hari sebelum pentas di Tennis In Door Stadium. Semangat muncul manakala mendengar My Life, Evil War, Decision, Bingung, Manusia Modern dinyanyikan oleh Benny yang didukung Erwin Badudu, Yoyo Mukti dkk. Sayang saya nggak nonton live shownya yang di Senayan.

  13. Gatot Widayanto Says:

    Mas Hengki …
    Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Selamat bergabung! Saya sudah kenal nama mas Hengki dari Den Bagus Djoko Dwijono via SMSnya.

    SharkMove hebat memang. Ntar kita kopdar ya …

    Salam,
    G

  14. ALFI Says:

    Shark Move my life klik di http://www.mediafire.com/?8hejpskpsrl

  15. Teeshyemponse Says:

    bardzo ciekawe, dzieki

  16. hargasamsunggalaxynote Says:

    Dropping on Your Great Blog Dude!
    see my Samsung Galaxy Note

  17. cosmic_eargasm Says:

    wah. mantap!!!
    yg komen kebanyakan para senior dan sesepuh.. terimakasih bnyk atas semua informasi dan sharingnya buat bapak2 semua.. sangat mencerahkan sekali..

    sebelum Sharkmove, Benny Soebardja sempat punya band hebat jg ya pak. THE PEELS. konon, dulu pas di awal kariernya, Benny masih umur 18tahun, dan sering “ditanggap” main di malaysia.. konon pula, jaman itu album the peels cuma dirilis dlm format LP (piringan hitam) saja? jd, nggak bnyk org yg tau.. termasuk saya. kalau diantara bapak2 ada yg tahu menahu tentang The Peels ini, mohon bisa diulas di blog super gemblunk ini..
    Terimakasih banyak..

    :::salam djadoel:::

  18. cosmic_eargasm Says:

    Selain itu, saya pernah tahu dan dengar di piringan hitam nya teman, kalau Mus Mulyadi di pertengahan tahun 1960 an sudah punya album rock.
    Nah, nama band dan albumnya saya lupa.. seingat saya, semua lagu di album itu nge rock semua..
    Barangkali disini ada bapak2 yg tahu, mohon diulas sekalian.. ini jg salah satu sejarah dan aset bangsa Indonesia yg musti dilestarikan..
    Terimakasih banyak..

    :::salam djadoel:::

  19. alex ch wattimena Says:

    Kelebihan pemain band jaman dahulu dengan sekarang adalah penguasaan alat musik yang dimainkan. Yaitu “Satu” personil bisa memainkan lebih dari satu alat musik, dan juga bisa sebagai vocal di kelompok band tsb. (Hebat).

  20. Toko bunga online Says:

    aku kangen dengan era musik dulu dibandingkan yang sekarang :(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: