Rock Progressive Italiano: Metamoforsi

August 17, 2014

Rully Resa

image

Sebagai pembuka saya ingin mengakui bahwa sudah jelas tulisan ini timbul akibat terpancing 2 tulisan dari mas Hippie tentang Italian Prog. Kemudian dari situ, saya mencoba lagi buka (di komputer) koleksi mp3 Italian prog yang beberapa waktu lalu secara sporadis saya download dari internet. Ternyata ada banyak grup yang belum sempat saya dengarkan dengan serius. Kemudian Saya teringat sering ngobrol dengan Om Yuddi mengenai skena Italian Prog. Ada yang menarik, banyak grup rock Progressif dari Itali yang walaupun pernah menelurkan album dahsyat tetapi karirnya pendek. Baru satu atau dua album langsung bubar jalan! Tetapi, menurut saya pribadi, disitu letak uniknya! saya bisa mengetahui grup yang sama sekali awam namanya tetapi ternyata karyanya luarr biasaa dahsyat. Salah satunya grup ini: Metamoforsi.

Saya berkenalan dengan Metamoforsi lewat Album ‘Inferno’. Hanya sedikit informasi yang dapat diperoleh dari Progarchives dan wikipedia mengenai grup ini karena memang sepanjang karirnya mereka hanya punya 3 studio album. kalau dibandingkan dengan grup besar Itali lainnya seperti Le Orme, PFM, New Trolls, dll jelas grup ini jauh tertinggal. Tetapi album ‘Inferno’ jangan dipandang sebelah mata! Album ini dahsyat ruaarrr biasa! walaupun merasa terasing dengan bahasa itali yang digunakan sebagai tetapi lirik namun musik pengiringnya mulai dari permainan bass, drum kemudian suara moog, harpsichord, dan Hammond! melumatkan itu semua. Satu lagi yang menarik (secara subjektif) dari Ranah rock progressive italia adalah karakteristik musiknya yang tidak jauh-jauh dari rasa ‘Symphonic Prog’, sub-genre Rock Progressif yang paling saya suka! whehehhe.

Album ‘Inferno’ ternyata diadaptasi dari ‘Divina Commedia (Komedi Ketuhanan)’ karya Dante Alighieri yang dinilai karya penting dalam dunia sastra Itali (namun informasi ini tentu saja mubazir, karena saya tidak mengerti bahasa itali). Album ini dimulai dengan suara gong sebagai penanda awal yang cukup berhasil membuat atmosfir mendadak hening, kelam. Lalu ada  bebunyian church organ dan kemudian disusul oleh dentingan harpsichord. Dari situ lirik bahasa itali mulai muncul. Disini,
ketika pertama kali mendengar, sebenernya saya sedikit merasa kecewa. Karena yang saya harapkan album ini tidak ada vokalnya. Akan tetapi setelah didengarkan beberapa kali, justru vokal lirik itali tersebut membuat kaya bebunyian instrumen lainnya. pengertian ini juga diambil dari obrolan dengan Om G yang mengatakan bahwa jika lirik dalam musik prog (bahasa selain inggris, ataupun Growl (baca: muntah kolak)) tidak dimengerti anggap saja sebagai instrumen. Dengan pendalaman pengertian seperti itu membuat saya bisa menikmati album ini dengan sepenuh hati. Dan ternyata terbukti 12 lagu dalam Inferno bisa dinikmati tanpa harus terlalu ‘peduli’ dengan bahasanya.

Untuk mendengarkan full Album: http://www.youtube.com/watch?v=jljJ1m0CXAs

Album ini diberbagai review dibanding-bandingkan dengan karya ELP karena saya mengerti bahwa ketika itu symphonic prog berkiblat tidak jauh dari ELP, Yes atau Pink Floyd. Selain bahasanya yang unik, saya percaya symphonic prog dari itali secara tatanan dan karakter musik punya citra rasa sendiri. bravo italiano!

Tesla “Mechanical Resonance”

August 17, 2014

Andria Sonhedi

image

Walau Tesla muncul di saat sama dengan Motley Crue & Poison namun mereka lebih memilih jadi grup hard rock tanpa ikut2an mendandani rambut & memakai baju warna-warni. Ini adalah album debut mereka, album berikutnya membuat 2 gitaris & bassis mereka disebut-sebut sebagai pemain hebat. Album yang saya anggap hebat ini melibatkan Steve Thompson sebagai produser dibantu Michael Barbiero yang merangkap engineer. 

Tesla termasuk pionir musik unplugged dengan meluncurkan live berjudul 5 men Acoustical Jam beberapa tahun sebelum album MTV Unplugged Nirvana sukses & memacu musisi lain ikut-ikutan membuat proyek semacam itu.

daftar lagunya adalah:
EZ Come EZ Go
Cumin’ Atcha Live 
Gettin’ Better
2 Late 4 Love 
Rock Me to the Top 
We’re No Good Together
Modern Day Cowboy
Changes
Little Suzi 
Love Me
Cover Queen
Before My Eyes 

pemain:
Jeff Keith (vocals)
Frank Hannon (guitar, keyboards, mandolin, blues harp, vocals)
Tommy Skeoch (guitar, vocals) 
Brian Wheat (bass, piano, keyboards, vocals)
Troy Luccketta (drums, percussion) 

Trik lama dengan membuat intro lagu yg slow lalu diikuti irama yg lebih meriah ada di lagu Gettin’ Better. Awalnya saya memang ragu2 beli kaset ini, walau seken, maklum kl dijual lagi harganya jadi lebih murah. Tapi untungnya pilihan saya tidak salah. Tak hanya lagu slow tapi lagu-lagu yang lain juga mantap walau suara vokalisnya tak lazim.  Pokoknya gitaran di album ini benar2 enak didengar tapi tak ngepop.
Jaman kaset non royalty album ini direkam oleh Hins Collection & tentu saja dapat dipastikan kawan kita Hardi Dokken punya kasetnya :)

evil has no boundaries

Tesla “Mechanical Resonance”

August 17, 2014

Andria Sonhedi

image

Walau Tesla muncul di saat sama dengan Motley Crue & Poison namun mereka lebih memilih jadi grup hard rock tanpa ikut2an mendandani rambut & memakai baju warna-warni. Ini adalah album debut mereka, album berikutnya membuat 2 gitaris & bassis mereka disebut-sebut sebagai pemain hebat. Album yang saya anggap hebat ini melibatkan Steve Thompson sebagai produser dibantu Michael Barbiero yang merangkap engineer. 

Tesla termasuk pionir musik unplugged dengan meluncurkan live berjudul 5 men Acoustical Jam beberapa tahun sebelum album MTV Unplugged Nirvana sukses & memacu musisi lain ikut-ikutan membuat proyek semacam itu.

daftar lagunya adalah:
EZ Come EZ Go
Cumin’ Atcha Live 
Gettin’ Better
2 Late 4 Love 
Rock Me to the Top 
We’re No Good Together
Modern Day Cowboy
Changes
Little Suzi 
Love Me
Cover Queen
Before My Eyes 

pemain:
Jeff Keith (vocals)
Frank Hannon (guitar, keyboards, mandolin, blues harp, vocals)
Tommy Skeoch (guitar, vocals) 
Brian Wheat (bass, piano, keyboards, vocals)
Troy Luccketta (drums, percussion) 

Trik lama dengan membuat intro lagu yg slow lalu diikuti irama yg lebih meriah ada di lagu Gettin’ Better. Awalnya saya memang ragu2 beli kaset ini, walau seken, maklum kl dijual lagi harganya jadi lebih murah. Tapi untungnya pilihan saya tidak salah. Tak hanya lagu slow tapi lagu-lagu yang lain juga mantap walau suara vokalisnya tak lazim.  Pokoknya gitaran di album ini benar2 enak didengar tapi tak ngepop.
Jaman kaset non royalty album ini direkam oleh Hins Collection & tentu saja dapat dipastikan kawan kita Hardi Dokken punya kasetnya :)

evil has no boundaries

Kangen Nyetel CD

August 16, 2014

image

-
Pagi ini kelap kelop …kethap kethip sambil leyeh2 …kok ujug2 pengen nyetel CD setelah lama ditinggalkan . Mau milih CD yang mana kok males ke atas karena rak CD pada dasarnya di sanam akhinya buka rak khusus di kiri stereo set dimana sebelah kiri adalah Yes dan sebelah kanan adalah Marillion. Maka …saya ambil aja Close to The Edge yang edisi remaster dari Rhino. Meski kualitas rekaman ndak bagus namun bookletnya menawan ….

I get up
I get down
I get up
I get down …..oooooooowwwwwwwn ……

Nguweng ….nguweng ….bunyi kibor Rick Wakeman …. Muwanteb tenan jek!

Sekali waktu bolehlah nyetel CD kalau terpaksa … Ha ha ha ha …..

Selamat berakhir pekan!

Salam

Koleksi 234: Fleetwood Mac “Tusk”

August 15, 2014

image


Akhirnya kaset koleksi radio Djie Sam Soe (234) Madiun ini saya putar juga setelah saya evakuasi dari Malang akhir tahun lalu. Sungguh, saya sangat kagum dengan kualitas suara yang masih prima dari segi bass, treble dan mid ….sangat mantab di telinga. Yang patut disesalkan adalah ternyata kuping saya tak merasa nyaman menikmati musik Fleetwood Mac. Padahal, saya ngakunya sebagai generasi penggemar musik claro . Entahlah mengapa saya kok mendengarkan album ini hambar baik dari segi melodi maupun komposisi. Dari dulu sejak orang2 bilang bahwa band ini legenda dunia, saya kok gak pernah bisa SREG dengan musiknya. Apa sih hebatnya musik kayak gini? Wong pop biyanget …gak ada rock nya blas!

Ada temen-temen yang punya pendapat lain?

Dokumentasi Yang Terlupakan

August 15, 2014

Wahyu Triantono

Saya adalah generasi muda pertengahan 80 an yang bisa dikatakan beruntung karena sempat dan kebetulan bisa melihat penampilan group band rock indonesia era 70 an dan 80 an yang pada waktu itu masih rame2 nya membawakan lagu2 dari group band dari luar..saya sampai sekarang masih terkesan dengan SAS yang begitu fasihnya memainkan starway to heaven ledzep, Godbless dengan carry on my wayward son kansas hingga hello america def leppard atau Makara dengan lagu2 saga dll..itu merupakan kenangan masa lalu dan kenangan itu ingin saya lihat lagi seperti dulu tapi apa mau dikata keinginan itu hanya tinggal kenangan karena tidak ada media yang merekam penampilan mereka seperti halnya jaman sekarang..DOKUMENTASI itulah kelemahan kita..betapa irinya kita melihat The Beatles ketika masih belum ngetop (waktu masih ngamen di Jerman) sudah ada film dokumentasinya..dan ketika The Beatles menjadi band paling terkenal di jagad raya maka dokumentasi mereka dicari cari oleh para kolektor..seandainya band2 rock indonesia era 70 an ada dokumentasi berupa film seperti halnya the beatles maka betapa mahalnya harga dokumentasi tsb..majalah aktuil aja sekarang diburu kolektor apalagi media visual..sempat saya baca kemarau 75 (kalo salah mohon maaf) pernah di buat film oleh sutradara wim umboh? ( sekali lagi mohon maaf kalo salah) tapi dimana keberadaan film itu? Mungkin satu2 nya dokumentasi Godbless tahun 70 an hanya di film ambisi itupun hanya cuplikan saja tidak full..demikian juga dengan KOES PLUS tahun 70 an sama sekali tidak ada film dokumenternya ketika in action di panggung..dengan adanya dokumentasi berupa gambar bergerak maka kita bisa melihat perjalanan sejarah musik rock di Indonesia dan ini bisa menambah wawasan musisi muda sekarang..seandainya ada film dokumenter AKA wow !! Saya terus terang kepingin lihat bagaimana edannya Ucok di panggung..karena selama ini hanya melihat foto ucok di majalah aktuil hehe..Rock Never Say Die..

Music For The Uncommon Men Series: SOLARIS “Marsbeli Kronikak”

August 15, 2014

Hippienov

image

Edisi kedua dari serial “music for the uncommon men” aku coba sedikit sharing tentang band yang sebelumnya aku gak pernah tahu namanya serta musiknya, dan inipun hasil rekomendasi dari temanku di Metal Bleeding Corp/Rockendays.

Solaris adalah band symphonic prog dari Hongaria yang didirikan tahun 1980 dan Marsbeli Kronikak (yang dalam boso Jowone “The Martian Chronicles”) merupakan album full pertama mereka. Musik Solaris digambarkan sebagai musik prog yang melodius dan seringkali mengangkat tema yang berakar dari Eropa Timur. Sedangkan album yang aku punya kopiannya ini bercerita tentang “alien” dari planet Mars.

Sekilas musik Soalris (di album ini) punya kemiripan dengan musik Eloy dan temanya pun sama-sama tentang “outer space”, Eloy dengan “planets” sedangkan Solaris dengan “masbeli kronikak”. Namun yang membuat album Solaris ini seru adalah mereka selalu menggunakan flute di setiap lagunya yang pada sering kesempatan seperti saling “bersahutan” antara flute-keyboards/synth-guitar. Seru banget…
Solaris sepertinya banyak menggunakan synthesizer dan efek kibor pada setiap komposisi yang mereka buat namun tetap tidak ketinggalan tetap memasukkan piano dan organ walau yang dominan adalah sound synth nya. Semua track di album ini instrumental kecuali di track pertama ada sepenggal narasi diucapkan dalam bahasa Hongaria yang diberi efek suara jadi seperti suara mahluk luar angkasa.

Tadinya aku pikir akan bosan mendengarkan album ini namun ternyata album ini unik dan menarik serta tidak membosankan, terlebih mereka selalu menyajikan “duel” flute-synth-guitar yang menjadi daya tarik bagiku. Mendengarkan Solaris jadi mengingatkanku pada album Ayreon “the universal migrator I & II” karena faktor synth nya itu, dan jika aku bandingkan dengan album Mike Oldfield “Tubular Bells” album ini jauh lebih menarik untuk dinikmati dan tentu saja dikoleksi.

Final conclusion: highly recommended…

Track Listing nya sebagai berikut:
1. Marsbeli kronikak I (the martian chronicles I).
2. Marsbeli kronikak II – III.
3. Marsbeli kronikak IV – VI.
4. M’ars poetica.
5. Ha felszall a kod (if the fog ascends).
6. Apokalipszis (apocalypse).
7. E-moll elojatek (prelude in E-minor).
8. Legyozhetetlen (undefeatable).
9. Solaris.
10. Orchideak bolygoja (the planet of orchids).
11. A sarga kor (the yellow circle).

Musicians:
1. Istvan Czigman / guitar-synth-keys effects-percussion.
2. Robert Erdesz / piano-organ-synth-keys effects.
3. Laszlo Gomor / drums-percussion-synth.
4. Attila Kollar / flute-recorder-synth-keys effects-percussion-voice.
5. Tamas Pocs / bass.

Demikian tulisan abal-abalku yang singkat pula ini, semoga berkenan dan bisa turut meramaikan blog gemblung tercinta. As always matursuwun sangat untuk Mas G atas waktu serta kesempatan yang diberikan dan tentunya untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca tulisan gemblung dari seorang yang mengaku-ngaku perogger gemblung.
Happy wonderful and progressisve weekend, comrades…

Salam Progrock Gemblunger,
hippienov

Music For The Uncommon Men Series: New Trolls “Concerto Grosso”

August 15, 2014

Hippienov

image

Rencananya ini adalah bagian pertama dari beberapa album band progrock yang akan aku coba review sedikit, dan kebanyakan adalah Italian Prog.
Akhir-akhir ini gara-gara “komporan” temen di Metal Bleeding Corp/Rockendays aku jadi sering menyimak band-band progrock Italia dan makin rajin pesan kopian cd nya dari beliau. Salah satu album yang dirokemendasikan adalah “Concerto Grosso Per I New Trolls” yang dirilis tahun 1971 oleh New Trolls.
New Trolls adalah band dari Genoa, Italia yang dibentuk tahun 1967. Sempat bubar namun kemudian reuni dan aktif sampai sekarang. Album Corcerto Grosso merupakan album yang jadi trademark musik New Trolls dan disebut sebagai salah satu album progrock terbaik sepanjang masa.

Album Concerto Grosso menggabungkan unsur rock, folk, sedikit blues dan tentu saja klasik secara apik, pas dan saling mengisi. Beberapa kali aku temukan pada album atau lagu yang menggunakan strings section/orkestra adalah bagian orkestranya hanya dijadikan “additional” sebagai pemanis saja tanpa peran yang terlalu berarti. Atau malah kebalikannya, unsur strings/orkestra menjadi dominan sehingga yang lainnya seperti tenggelam. Ambil contoh, aku sampai sekarang masih merasa dan percaya kalau lagu Pirates nya E.L.P akan lebih terkesan garang jika tanpa orkestra, dan bagian orkestra nya diisi oleh permainan kibor Emerson.

Tapi pada album New Trolls ini berbeda, musik klasik di album ini yang diaransir oleh Luis Enriquez Bacalov bentul-betul pas bersanding dengan musik rock New Trolls. Begitu terpananya aku mendengarkan album ini sampai aku berkirim sms ke Mas G untuk sharing. Buat rekan-rekan yang mungkin belum sempat mengenal New Trolls aku sarankan untuk memulainya dengan mendengarkan album dahsyat ini, Concerto Grosso No. 1.
Di kopian cd album ini ternyata gabungan 2 album sekaligus yaitu Concerto Grosso No. 1 dan Concerto Grosso No. 2

Concerto Grosso No. 2 dirilis tahun 1976 dengan maksud untuk menyamai kedahsyatan album Concerto Grosso No. 1 tahun 1971, namun sayang yang aku rasakan di album ini musik New Trolls sedikit terasa nuansa pop nya. Di album ini New Trolls meng-cover lagu “let it be me” Everly Brothers yang sedikit dirombak agar lebih terasa ngeprog.

Daftar lagunya sebagai berikut:

CONCERTO GROSSO NO. 1.
1. Tempo Allegro.
2. Tempo Adagio (shadows).
3. Tempo Cadenza – Andante Con Moto.
4. Tempo Shadows (per Jimi Hendrix).
5. Nella Stanza Vuota, improvvisazioni dei New Trolls registrate in diretta.

CONCERTO GROSSO NO. 2.
6. Tempo Vivace.
7. Tempo Andante (most dear lady).
8. Tempo Moderato (fare you well dove).
9. Quiet Seas.
10. Vent’anni.
11. Bella Come Mai.
12. Let It Be Me.
13. Le Roi Soleil.

Final conclusion: this cd is highly recommended for you.

Matursuwun sanget untuk Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan serta untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca tulisan gemblung ini. Mohon maafatas kekurangan dan keterbatasan yang ada.

Salam Nge-PROG Gemblunger,
hippienov

 

Dahzyatnya The Flower Kings (10 of 15)

August 14, 2014

Herwinto

Alive On Planet Earth…..Album Live Super Dahzyat !!

image

Bila Yes memiliki Yessongs, dan Genesis memiliki Seconds Out maka The Flower Kings memiliki yang setara dengan keduanya yaitu album live Alive On Planet Earth, bahkan secara radikal saya berani mengatakan melampaui keduanya..(mohon saya dimaafkan bila ada yang tidak sepakat dengan saya).

Disk 1 adalah live di USA 1998, dibuka dengan nomor klasik TFK There Is More To This World yang merupakan lagu kesukaan saya mengalir dengan indah, yang mengejutkan saya adalah bahwa pada disk 1 ini pemain kibor nya bukan Tomas Bodin tetapi Robert Engstrand dan ini saya ketahui lewat membaca bookletnya bukan dari soundnya, sehingga kesimpulan saya si Robert ini setara kemampuannya dengan Tomas karena tidak nampak perubahan soundnya. Lagu kedua adalah nomor keren Church of Your Heart yang menunjukkan kehebatan kombinasi kibor dan sentuhan gitar Stolt, nomor ini memiliki keindahan yang menohok di pertengahan lagu ketika suara kibor mengalun di tengah keheningan,….oh Man!!! saya benar benar menyukai bagian ini…sungguh!!

Lagu berikutnya semakin membuat dada saya sesak, sebab mengalir dengan indah The Judas Kiss, Whoaaaaaa!!! Nggeblak Man!!! inilah lagu yang sanggup mengaduk aduk emosi saya hingga nyaris pingsan menderita kepuasan!!…begitu indah melodinya namun terkesan garang dan megah…di versi live ini dibuat improvisasi menjadi lebih panjang sekitar dua kali waktu studionya…dan improvisasinya sungguh menakjubkan…mengandung muatan muatan jazz serta blues yang sangat indah. Disusul nomor yang lebih kalem Nothing New Under The Sun yang tetap terdengar megah sebagai jeda untuk masuk nomor klasik karya Genesis The Lamb Lies Down On Broadway yang dibawakan dengan cukup baik.

Disk 2 adalah live di Jepang 1999, dibuka dengan nomor favorit saya Big Puzzle, lagu yang cukup menjadi bukti betapa saktinya The Flower Kings yang mampu membuat saya ketika memutar lagu ini melupakan sejenak sebuah kenyataan bahwa pernah ada band yang hebat bernama Yes dan Genesis…sungguh!!! Lagu yang berdurasi diatas 18 menit ini tak akan bosan untuk diulang ulang karena kita seperti menjelajah sebuah perjalanan yang sarat dengan melodi melodi yang penuh warna warni indah. Disk 2 ini menyertakan nomor nomor dari proyek solo Stolt pada album The Flower King (tanpa S) yang merupakan cikal bakal band The Flower Kings, yaitu Sounds Of Violence, Three Stories yang keduanya cukup keren juga  Nomor selanjutnya adalah lagu klasik TFK In The Eyes Of The World yang sangat saya sukai karena penuh dengan nuansa 70 an, disusul nomor The Flower King yang amat nunjek melodinya dan menjadi gerbang pembuka kecintaan saya pada band ini, selanjutnya  ditutup dengan nomor sakti Stardust We Are part 3 yang membuat saya selalu ikut teriak teriak kalau memutar lagu ini…he he he….Luar biasa!!! sebuah sajian album live yang sarat dengan lagu lagu mematikan khas The Flower Kings….maka album ini wajib dan harus didengarkan oleh mereka yang mengaku sebagai penegak panji panji Progresif Rock!!!

Nilai Muka Yang Visioner

August 14, 2014

Gatot Widayanto

JrèNg!

Mari kita bahas album legendaris yang sering kita plesetkan di blog gemblung ini dengan istilah “nilai muka” dari versi aslinya oleh Phil Collins …. Face Value. Ternyata ….bukan main visionernya Phil Collins yang sudah bisa membaca apa yang akan terjadi beberapa dekade setelah album diluncurkan di era delapan puluhan.

Apa pasal?

Mari kita tengok apa yang terjadi di seputar kita ini. Saya mulai dengan pengamatan saya ya ….

1.) Beberapa bulan lalu saya sedang sarapan di sebuah hotel di Palembang. Meja di sebelah saya kemudian menyusul duduk sepasang suami istri usia sekitar 35-40 tahun duduk berhadapan saling menyantap sarapan masing masing. Sang istri sarapan ala amerika sedangkan suami ala indonesia dengan nasi goreng. Bukan itu yang saya amati. Sejak menarik kursi kemudian duduk dan sarapan, masing-masing tak saling menatap pasangannya namun keduanya rajin menunduk. Bukan …bukan sedih …tapi masing2 sibuk dengan gadget yang ada di tangannya sambil sekali waktu salah satu diantaranya ketawa sendiri. Demikian mereka begitu rajin dengan gadgetnya hingga akhirnya mereka menarik kursi kembali untuk keluar dari coffee shop hotel tak sepatah katapun diantara mereka keluar untuk pasangannya. Luar biasa.

2.) Dua orang remaja bertubrukan ketika berjalan di jembatan penyeberangan busway di Ratu Plaza. Keduanya berucap “Sorry” trus melanjutkan perjalanannya dengan menundukkan kepala karena masing2 asik memandang gadget dan memainkan kedua jempolnya untuk ngetik. Bagus sih …keduanya tak ada yang nenyalahkan namun justru saling minta maaf meski ekspresinya datar dan mungkin juga masing2 kesel dengan yang lainnya.

3.) Seorang teman curcol bahwa saat ia menyetir bersama istri disampingnya, sang istri dengan santai dan sering jetawa sendiri membaca gadgetnya tanpa menghiraukan suami yng sedang nyetir.

4.) Di sebuah acara kopdar yang dihadiri oleh teman2 saat kuliah, enam orang yang hadir di sebuah meja di sebuah kafe asik bernain dengan gadgetnya meski mereka juga saling ngobrol.

5.) Di sebuah kedai kopi, sebuah keluarga berkumpul dengan komposisi kumplit: ayah-ibu dan dua orang anak perempuan usia sekolah SD. Masing2 sibuk dengan gadgetnya. Anak2nya sibuk dengan games di iPad, orang tuanya sibuk chatting maing2. Seru ….kumpul tanpa interaksi.

Saya rasa masih banyak lagi pengamatan senada dengan di atas yang pasti kita jumpai di seputar kita yang intinya adalah terjadinya pepatah yang mengatakan ” ….mendekatkan yang jauh, mnjauhkan yang dekat” yang dulu popular ketika tren BlackBerry melanda kita. Pemandangan ini semakin biasa kita jumpai di seputar kita yang intinya menyiratkan bahwa nilai muka menjadi barang yang berharga dewasa ini.

Orang berkomunikasi namun tanpa tatap muka karena masing2 sibuk menatap gadgetnya sendiri.

Orang berkumpul namun tanpa interaksi hati

Keluarga melakukan rekreasi bersama namun tanpa sentuhan berkualitas

Ini semua tentunya terkait dengan begitu langkanya nilai muka dewasa ini.

image

Foto ini dari status seseorangbdi media sosial FB yang menunjukkan perilaku tatap layar ....

Meskipun demikian ….

Hal-hal atau contoh-contoh yang saya uraikan di atas sama sekali tak terjadi di blog gemblung ini. Lihatlah begitu gayengnya kita ngobrol saat ketemuan di progring ….sampe2 lupa menulis update lapsing progring. Interaksi diantara temen2 yang hadir di progring begitu lancar mengalir dan setiap individu menyimak setiap ada yang sedang bicara. Sangat jarang ada yang sibuk dengan gadgetnya bahkan saya sendiri kadang gak sadar ada sms dari temen yang tak ikut ketemuan karena berhalangan atau karena jarak namun sangat penasaran dengan progring hingga kirim sms. Bro Apec, mas Andria, mas Khalil dan Kohwin termasuk yang rajin sms saat progring berlangsung…namun saya sering telat respon lantaran asik ngobrol di progring. Inilah kekuatan pertemanan kita di blog gemblung ini dan sekaligus ini adalah contoh baik untuk ditularkan ke masyarakat. Kit berikan edukasi bahwa nilai muka masih jauh lebih penting dan nunjek ulu ati dibandingkan dengan nilai layar.

Sekaligus kita progkan masyarakat biar punya prinsip hidup dan pola pikir yang progresip apalagi menghadapi pasar bebas AFTA (opo meneh iki?!). Jangan bilang bangsa kita ini punya mental tempe meski tiap hari nemang makan tempe. Buktinya? Mr. K “Madman” Yen Ing Tawang Ono Lintang aja sampe diimporboleh orang ustrali beberapa kali saking ahlinya Mr K ini dalam bidangnya, meskipun hatinya metal.

Dan juga kita masyarakatkan prog. Ya nggak ?! 3 x sambil alis mata naik turun tiga kali. Kapan lagi kita bisa memasyarakatkan prog kalau gak di jaman yang serba galaubpenuh dengan nilai layar ini. Jadi ….kesimpulan dari tret ini adalah: “Nilai muka disertai dengan sentuhan hati lebih bermakna dibandingkan nilai layar” (apabila sedang ketemuan). Blog ini telah membuktikannya. Percayalah!

JrèNg!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers