Tertohok “Sleepless Incidental”

October 4, 2014

Herwinto

image

Lagi lagi IQ telah berhasil membuat saya ngguweblak gulung koming menderita kepuasan setelah mendengarkan salah satu albumnya yang bertajuk…..Subterranea….

Ini adalah album konsep yang terdiri dari dua disk, jika Genesis memiliki The Lamb Lies Down, Marillion memiliki Missplaced Chilhood, dan Arena memiliki The Visitor, maka IQ tak mau ketinggalan memiliki album konsep yang dahzyat yaitu Subterranea. Sudahkah anda mendengarkan album ini? Sungguh!! Anda termasuk golongan yang merugi jika belum sempat mendengarkan album ini !! apalagi setelah membaca tulisan ini kok sama sekali tak tergerak untuk mencoba mendengarkannya… sungguh.. Keterlaluan!!! ha ha ha…..

Album ini baru overturenya saja sudah membuat saya njungkel kejlungup sampai ndlosor ndlosor!! ha ha ha…overturenya ngguwajak benar….padahal cuma 4.39 menit…Album ini total berisi 19 lagu dengan durasi 102.34 menit. Ada dua lagu yang benar benar menohok saya yaitu track ketiga berjudul Subterranea, ini benar benar lagu yang dinamis bersemangat serta gagah….serta yang kedua lagu pada track keempat berjudul Sleepless Incidental sebuah lagu berdurasi 6.23 menit yang sungguh indah khas IQ, lagu ini berupa pergerakan dinamika musik rock yang garang namun dibalut dengan melodi yang gembeng….whoaaaaah…benar benar menohok tepat di ulu hati!!….dibuka dengan genjrengan gitar yang lembut serta vokal Nicholls yang syahdu sampai menit ke 01.46…musik tiba tiba menukik tajam berubah menjadi garang sampai menit ke 03.25, kemudian menjadi lembut kembali….whooaaaaa sekarang hammond martin menyeruak di keheningan pada menit ke 03.40 hadeeeeeh… nangis sesenggukan ini…..disusul gemuruh drum dan raungan kibor yang kini berubah menjadi garang….gitar Holmes juga mulai nyolong di menit ke 05.10 dengan sayatan yang tajam merobek robek ulu hati……Tuooobzzz!!!

Legenda Genesis (4/7)

October 2, 2014

Herwinto

Genesis Live 73…..Dokumentasi Yang Sangat Berharga

image

Daripada pusing memikirkan kompilasi Genesis yang ngawur, lebih baik mari kita bahas album Genesis yang satu ini. Ini adalah album live Genesis yang pertama kali sekaligus yang terakhir dengan formasi klasik (Gabriel,Hacket,Collins,Banks,Rutherford). Sebelum muncul bokset Genesis archive 67-75 mungkin inilah satu satunya live Genesis era Gabriel yang bisa dinikmati oleh para fans Genesis apalagi sebelum era you tube. Bagi saya pribadi album live ini benar benar langka sebab live live Genesis yang bisa kita dapatkan kebanyakan adalah live era Collins, dan juga lagu lagu di album live ini adalah lagu lagu yang tidak kita temui lagi pada live live di era Collins. Album live ini berisi 5 lagu dari album Trespass, Nursery dan Foxtrot yaitu Watcher of The Skies, Get’ Em Out By Friday, The Return Of Giant Hogweed, The Musical Box dan The Knife. Komposisi lagu lagu dalam album live ini lebih menohok daripada versi album studionya. Bagi fans fanatik Genesis seperti saya, wajib memiliki album ini. Bagi saya pribadi juga..album live ini lebih mantab dari Seconds Out….terasa lebih sakral !!

Genesis R-Kive: Kompilasi Ngawur

October 1, 2014

Tahun 2014 ini Genesis merilis boxset kompilasi yang menurut saya ngawur dan terkesan golek duwit banget! Namanya Gensisi archives namun isinya termasuk track dari solo masing-masing member. Ini jelas membingungkan dan membuat gak nyaman, mosok Signal To Noise dicampur sama Easy Lover . Wis …jiyan ngawur ora prog blas!

cover_464761192014_r

Boxset/Compilation, released in 2014

Songs / Tracks Listing

1. The Knife (From “Trepass”, 1970)
2. The Musical Box (From “Nursery Cryme”, 1971)
3. Supper’s Ready (From “Foxtrot”, 1972)
4. The Cinema Show (From “Selling England By The Pound”, 1973)
5. I Know What I Like (From “Selling England By The Pound”, 1973)
6. The Lamb Lies Down On Broadway (From “The Lamb Lies Down On Broadway”, 1974)
7. Back In N.Y.C. (From “The Lamb Lies Down On Broadway”, 1974)
8. The Carpet Crawlers (From “The Lamb Lies Down On Broadway”, 1974)
9. Ace of Wands (From Steve Hackett’s “Voyage of the Acolyte”, 1975)

CD 2
1. Ripples (From “A Trick of the Tail”, 1976)
2. Afterglow (From “Wind & Wuthering”, 1976)
3. Solsbury Hill (From Peter Gabriel s first self-titled album, 1977)
4. Follow You Follow Me (From “And Then There Were Three”, 1978)
5. For A While (From Tony Banks’ “A Curious Feeling”, 1979)
6. Every Day (From Steve Hackett’s “Spectral Mornings”, 1979)
7. Biko (From Peter Gabriel s third self-titled album, 1980)
8. Turn It On Again (From “Duke”, 1980)
9. In The Air Tonight (From Phil Collins’ “Face Value”, 1981)
10. Abacab (From “Abacab”, 1981)
11. Mama (From “Genesis”, 1983)
12. That s All (From “Genesis”, 1983)
13. Easy Lover (Originally released in 1984)
14. Silent Running (From Mike & The Mechanics self-titled album, 1985)

CD 3
1. Invisible Touch (From “Invisible Touch”, 1986)
2. Land of Confusion (From “Invisible Touch”, 1986)
3. Tonight Tonight Tonight (From “Invisible Touch”, 1986)
4. The Living Years (From Mike & The Mechanics “Living Years”, 1989)
5. Red Day on Blue Street (From Tony Banks’ “Still”, 1991)
6. I Can’t Dance (From “We Can’t Dance”, 1991)
7. No Son of Mine (From “We Can’t Dance”, 1991)
8. Hold On My Heart (From “We Can’t Dance”, 1991)
9. Over My Shoulder (From Mike & The Mechanics “Beggar On A Beach Of Gold”, 1995)
10. Calling All Stations (From “Calling All Stations”, 1997)
11. Signal To Noise (From Peter Gabriel’s “Up”, 2002)
12. Wake Up Call (From Phil Collins’ “Testify”, 2002)
13. Nomads (From Steve Hackett’s “Out Of The Tunnel’s Mouth”, 2009)
14. Siren (From Tony Banks’ “Six: Pieces of Orchestra” (2012)

Line-up / Musicians

See original albums

Releases information

3CD Box Rhino/Atlantic Records (2014, US/Canada)
3CD Virgin EMI Records/UMC (2014, rest of the world)

Terperangah King Crimson “The Elements” Tour Box 2014

September 28, 2014

Sekitar dua minggu lalu saya sedang asik-asiknya dan kagum-kagumnya dengan King Crimson utamanya album Lizards, utamanya lagi lagu “Cirkus” yang menurut saya sangat eclectic dan musiknya di luar dugaan, namun enaknya bukan main. Selain mellotron nya yang dahzyat, permainan gitar akustiknya juga edan! Trus …kok kayak nyetrum aja, beberapa hari lalu saya dipameri sama mas Edi “The Elements” of King Crimson yang ternyata ini adalah box luwar biasa! isinya memang campur aduk antara live, studio take yang gak jadi dirilis karena disempurnakan dan sebagainya. Ada dua CD di tour box ini, Namun baru CD 1 saja saya sudah nguweblak! Meski lagu2nya semuanya sudah familiar sekali namun versi di box ini jauh lebih raw dan lebih eclectic sehingga selain memperkaya apa yang selama ini terbiasa didengarkan telinga saya, juga sekaligus memperkenalkan ekspresi liar King Crimson pada live performance nya. Saya baru menyimak sampe track Fracture namun gilaaaaa…. tadi waktu dengerin Cirkus “live” saya bener2 merindhink disco cing!!!!

Ulasan lengkap menyusul ya … tapi yang jelas dahzyat!

cover_332132292014_r

Boxset/Compilation, released in 2014

Songs / Tracks Listing
CD 1 (65:29)
1. Wind Extract (0:30)
2. I Talk to the Wind (4:12)
3. Cadence and Cascade (4:29)
4. Cirkus (guitar extract) (0:15)
5. Cirkus (live) (8:43)
6. Hoodoo (extract) (0:23)
7. Sailor’s Tale (6:12)
8. The Talking Drum (6:42)
9. Larks’ Tongues in Aspic (Part I) (extract) (2:35)
10. Larks’ Tongues in Aspic (Part I) (extract) [David/Jamie] (2:40)
11. Fracture (live) (11:28)
12. Fallen Angel (extract) [RF harmonics] (1:14)
13. Fallen Angel (6:22)
14. 21st Century Schizoid Man (live) (8:27)
15. Starless (extract) [Mark] (1:18)

CD 2 (66:52)
1. Discipline (5:03)
2. Three Headed Doom (Part 1) (0:44)
3. Neurotica (Manhattan) (live) (6:12)
4. Neal and Jack and Me (extract) (1:44)
5. Sleepless (5:19)
6. Sex Sleep Eat Drink Dream (recording session) (4:57)
7. THRAK (live) (9:00)
8. Venturing Unto Joy (edit) (1:11)
9. The Deception of the Thrush (live) (7:09)
10. Heaven & Earth (early edit) (7:43)
11. Level Five (live) (6:44)
12. The Hell Hounds of Krim (0:56)
13. Separation (edit) (2:40)
14. A Scarcity of Miracles (7:32)

Total Time: 132:21

Line-up / Musicians

Robert Fripp – Guitars, Keyboards, Soundscapes
Michael Giles, Ian Wallace, Bill Bruford, Jamie Muir, Pat Mastelotto, Gavin Harrison, Bill Rieflin – Drums, Percussion
Ian McDonald – Woodwinds, Keyboards
Greg Lake, Boz Burrell, John Wetton – Singing, Bass
Peter Sinfield, Richard Palmer-James – Lyrics
Peter Giles – Bass
Mel Collins – Saxophones, Flutes
David Cross – Violin
Mark Charig – Cornet
Tony Levin – Bass, Chapman Stick
Adrian Belew, Jakko Jakszyk – Guitar, Vocals, Lyrics
Trey Gunn – Chapman Stick, Warr Guitar

Releases information

2CD DGMLive.com, Panegyric, Inner Knot, WHD Entertainment, Inc. KCTB14 (2014 UK)*

*Contains a 24 page tour booklet and two CDs containing extracts, elements from studio recordings, alternate takes, live tracks, rehearsals and finished recordings from 1969 – 2014 (much of it previously unreleased on CD).

Saya membagi King Crimson dengan dua era, yakni era Classic (1969 – 1974) yang merupakan masa sebelum lahirnya album Discipline (rilis tahun 1981) dan era Discipline Onwards yang merupakan kebangkitan kembali King Crimson dengan konsep musik baru. Sebenarnya lebih tepat lagi bila era The Power To Believe ditambahkan. Sayangnya gak bisa begitu meski di The Power to Believe ada unsur metal, namun setelahnya King Crimson masih kembali ke format Discipline sehingga tetepa saja dua era. Dari boxset ini, CD 1 mewakili era Classics seangkan CD2 adalah era Discipline Onwards.

Dari CD 1 saya mendapat pengalaman luar biasa rerhadap isinya dimana merupakan campuran studio take, edit maupun live sehingga cukup variatif. Dari CD 1 ini saya mendapatkan pencerahan luar biasa karena mendapatkan alternative version dari apa yang selama ini saya nikmati sebagai musik King Crimson. Syarat utama untuk bisa menikmati CD 1 ya harus sebelumnya sudah familiar dengan studio version nya.Bila tidak bisa menganggapnya CD 1 kurang bagus padahal bagi yang sudah kenal KC justru CD 1 sangat menarik karena seolah memberikan ke kita alternative take yang bagus sekali sehingga nuansa yang kita saya peroleh menjadi begitu indah menawan. Misalnya I Talk To The Wind yang dibawakan minus one (tanpa vokal) merupakan suatu pengalaman mendengarkan yang luar biasa,Cirkus (dari album Lizard) versi live juga dahzyat sekali karena gaya nyanyinya beda dan lebih santai dan slengekan dibandingkan versi studio. Padahal di versi studio hal yang menonjol adalah petikan gitar akustik yang lincah banget. Sailor’s Tale (Islands) juga keren banget dibawakannya lebih kasar dari versi studio namun sungguh menawan

KLCBS Tetap Berjaya

September 27, 2014

Belakangan ini memang saya sering ke Bandung dan menginap di sana sampai tiga hari seperti yang terakhir mulai Selasa pagi hingga Kamis malam minggu ini (23 sd 25 sep 2014). Sedangkan sebelumnya saya berada di sana juga tiga hari juga pada hari Selasa hingga Kamis sore (9 sd 11 sep 2014). Meski selama sing hari saya nikmati dengan gowes semau gue sepanjang dengkul mau mengayuh pedal dan setang sepeda saya arahkan ke tempat2 yang nuansamatik, malam harinya saya menggunakan mobil.

Nah … Selama di dalam mobil itulah saya selalu nyetel radio FM dengan gelombang selalu manteng di 100.4 MHz yaitu KLCBS. Ini pun punya dua alasan: pertama karena memang nuansamatik, saat saya kuliah di Bandung radio ini mulai didirikan meski saya lupa tepatnya tahun berapa; bisa jadi 1982 atau 1983. Mengapa sekitar tahun itu? Yang jelas saya ndak bakalan melupakan tahun 1983 yang sangat penting dalam perjalanan hidup saya karena pada tahun tersebutlah saya mendengar lantunan “So here I am once more THÈNG!” untuk pertama kalinya. Dan …saat itupun KLCBS pernah memutar Garden Party nya Marillion pada saat saya sedang nyetel di kos2an saya di daerah Kubangsari, Sekeloa. Wuih! Saya njumbuk kaget saat itu kok bisa Marillion masuk KLCBS karena radio ini sejak awal memang ditujukan hanya buat musik jazz saja. Yang juga saya kaget, radio ini pernah juga memutar Rush “Subdivision” yang enak mengambang itu. Edan!

Alasan kedua , saya ingin membuktikan postulat yang sering saya denger dari pencinta musik dan radio yang saya kenal dimana pernah dikatakan bahwa radio yang mengkhususkan diri memutar musik dalam aliran tertentu sudah hampir bisa dipastikan tak bakl bertahan lama dan bakal qoit ….alias bangkrut. Buktinya jelas , M97 yang dulu kita bangga2kan sebagai radio progclaro paling lengkap dengan koleksi ribuan album dan pernah diulas di Kompas, akhinya wafat dan dijual menjadi radio dang dut. Selain itu kemudian ada juga di Jakarta radio FM yang tadinya mengkhususkan diri pada musik klasik akhirnya wafat juga. Maka jadilah radio di Jakarta ini tak ada yang khusus dedikasi pada satu aliran musik tertentu, adanya nano-nano. Kecuali kalau khusus dang dut pasti laku dan meledak.

Nah …kok KLCBS bisa bertahan hingga kini dan siarannya makin mantab? Apa postulat itu tak berlaku di Bandung? Sampai sekarang radio ini masih setia nge-jazz. Jangan dikira musik yang diputer jazzy yang cenderung ngepop ya ….di KLCBS itu musik jazz nya yang tulen alias kental jazz nya dan minim pop nya. Meski saya bukan penggemar jazz tulen, bagi saya menikmati musik jazz ada keasyikan tersendiri apalagi modulasi maupun kualitas audio dari KLCBS ini bagus sekali. Kemarin saya sempat menikmati Bob James dan beberapa saat yang lalu Chick Corea mupun Return to Forever juga sempat diputar. Kadangkala radio ini mengudarakan acara interview dengan muisi jazz internasional. Pokoknya keren dah acaranya.

Kesimpulannya, KLCBS makin berkibar di Bandung meski masyarakat Bandung sebenarnya tak menyukai jazz semuanya. Saya yakin pendengar KLCBS juga gak banyak banget karena hari gini yang serba instan mana ada orang yg mau dengar hanya jazz saja? Bisa dikatakan ini adalah niche (ceruk pasar) yang kecil. Namun, radio ini pasti dikelola dngan baik karena sekurangnya sudah beroperasi lebih dari 30 tahun  dan masih ada saja pengiklan di radio ini. Pada awal berdirinya saya pernah mengunjungi markas radio ini di jl. Karang Layung dan ngobrol dengan pemiliknya, saya lupa apa namanya pak Nukman? Memori saya sdh tak bisa merekam nama beliau dengan baik. Kalau gak salah beliau ini alumnus Arsitek ITB dan aktif di masjid Salman ITB. Tak heran bila dalam siarannya selalu saja disisipkan ayat2 Al Quran dan hadits. Beberapa saat setelah adzan Maghrib pun selalu dibacakan doa bagi yang berpuasa baik itu sunnah Daud maupun Senen Kemis. SubhanAllah.

Postulat bahwa radio dengan aliran musik tertentu (selain dang dut tentunya) terbukti tidak berlaku du Bandung. Buktinya, KLCBS masih berjaya. Tinggal …bagaimana dengan progclaro? Mestinya juga bisa. Hanya saja belum ada pemodal di Bandung yang berani menggali potensi ini. Semoga ada suatu ketika!

Catatan:
Mestinya mas Rizki suka dengan musik2 yang dialunkan di KLCBS karena jazz banget dan bukan jazz-jazzan ….he he he …. Bagaimana mas Rizki? Sudah pernah pantau radio ini?

Jrèng!
Salam dari rumah ibu saya.

G

The Lady Wants To Know More About Franks

September 25, 2014

Hippienov

image

Hari kemarin (Rabu, 24.09.14) aku terpaksa tidak bisa ngantor. Penyakit maag-ku yang gak pernah bisa benar-benar sembuh ini kembali kambuh dan menyebabkan aku harus berangkat ke dokter instead of going to work. Tapi entah mengapa ada sedikit perasaan senang bisa “off” 1 hari dan menjauhkan diri dari rutinitas kantor yang belakangan terasa membosankan.
Walaupun sakit tapi aku masih bisa melakukan aktifitas ringan, dan ini kesempatan bagus untuk (lagi-lagi) membuat cd kompilasi, hehehe…
Ada beberapa ide kompilasi yang ada di pikiranku diantaranya:
 
1. Iron Maiden “Maidens of The Opera” Vol. 2
2. GFR “The Collection” Vol. 2
3. The Lady Who Wants To Know Franks Vol. 2
 
Namun akhirnya kuputuskan untuk memulai dengan Michael Franks karena aku janji dengan dengan Mas G dan Mas Andria untuk memasukkan lagu kesukaan beliau-beliau dalam sequel lanjutan kompilasi Michael Franks, namun sayang lagunya Mas Andria aku cari-cari di semua file mp3 album Franks yang aku dapat dari Bro Rully ternyata gak ketemu (mohon maaf injih Mas Andria…). Sedangkan lagu “chain reaction” pesanan Mas G ada dan segera aku masukkan kompilasi.
 
Hampir serupa dengan sequel sebelumnya, materi album ini diambil dari album “the art of tea” sampai dengan “the camera never lies” dan kuberi judul “THE LADY WHO WANTS TO KNOW MORE ABOUT FRANKS…” Judulnya sedikit gak mainstream karena aku tidak memakai kata “vol. 2″ atau “part 2″ tapi malah pakai kata “more” yang aku sematkan ditengah-tengah kalimat judulnya.
Berikut detail songlist nya:
The Lady Who Wants To Know More About Franks…
 
1. Nightmoves.
2. Down On Brazil.

3. One Bad Habit.

4. Chain Reaction.

5. Rainy Night In Tokyo.

6. Tiger In The Rain.

7. All Dressed Up With Nowhere To Go.

8. When It’s Over.

9. Your Secret’s Safe With Me.

10. Jealousy.

11. Never Say Die.

12. Never Satisfied.

13. Jive.

14. When Sly Calls (Don’t Touch That Phone).

15. Ladies’ Nite (with Bonnie Tyler).

16. B’wana- He No Home.

17. Face To Face.

18. Read My Lips.

19. The Camera Never Lies.

Semoga serial kedua kompilasi Michael Franks ini bisa sama menariknya dengan serial sebelumnya dan kupersembahkan untuk blog gemblung tercinta beserta seluruh penghuninya.
Matursuwun Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan dan untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca postingan gemblung ini. Mohon maaf untuk kekurangan yang ada dalam penulisan.
 
 
A Boy Who Dreams Music…
hippienov 

Review #1800: Spock’s Beard “Live at Sea”

September 25, 2014

JRENG!

Biyuuuuh …! Ini album live yang bener2 menawan, sekurangnya bagi saya, karena selain penampilannya bagus juga ngerock banget! Edan! Saya senang sekali band ini masih exist meski telah lama ditinggal pendirinya, Neal Morse, dan kemudian ditinggal drummer dan vocalist andalannya: Nick d Virgilio yang sukses membuat album Rewiring Genesis. Band ini tetep bertahan dan bahkan album yang ke sepuluh dengan tajuk X merupakan album terbaik tahun 2010 versi DPRP. Memang dahzyat musiknya. Album terakhir Brief Nocturnes and Dreamless Sleep
(2013) bener-bener manteb nartosabdo tenan. Saya makin salut saj. Eeee …lha kok malah bikin album live yang hanya berdurasi 67 menit namun hebat, bahkan juga menampilkan bintang tamu Neal Morse. Saya baru menyadari album ini bagus ketika dua hari lalu nyetir Jakarta – bandung. Selama dalam perjalanan saya lebih banyak memutar album ini terutama tiga track pertama meski lainnya juga OK.

Selama di Bandung pun saya terus nyetel album keren ini. Tak tahan lagi, akhirnya saya menulis reviewnya pagi ini di ProgArchives yang sekaligus merupakan review saya yang ke 1800 di situ prog ini. Monggo dinikmati album renyah kayak kue nopia ini ….

Live, released in 2014

cover_534411882014_r

Songs / Tracks Listing
1. Something Very Strange (9:07)
2. Hiding Out (7:45)
3. Walking On The Wind (9:55)
4. Waiting For Me (14:37)
5. June (7:09)
6. The Light (19:19)

Total Time 67:52

Line-up / Musicians
- Ted Leonard / Lead vocals, guitar, keyboards
- Alan Morse / Guitar, vocals
- Ryo Okumoto / Keyboards, vocals
- Jimmy Keegan / Drums, vocals
- Dave Meros / Bass, bass pedals, vocals
With:
- Neal Morse / Lead vocals, acoustic guitar and keyboards on “June” and “The Light”

Releases information
August 30, 2014 Digital Only

Review by Gatot
Special Collaborator Honorary Collaborator

Love the live vibes
Spock’s Beard announced a DVD of their performance at this year’s Progressive Nation at Sea festival for the late August release and they also released an audio only version of the mentioned release on Friday, August 8th via Bandcamp. Those who pre-ordered the DVD has the code to download the digital version of the show. The audio quality is terrific.

But what’s more important is the fact that this record is really an excellent live performance of the band and it really rocks! I really love the live vibes and in most cases I love more this live version compared to the studio ones. It covers three tracks from the band’s latest studio album Brief Nocturnes and Dreamless Sleep (2013) and another three from the first three albums : The Light, Beware of Darkness as well as Kindness of Strangers. I was not actually in tune with this live set until three days ago when I was about to drive from Jakarta to Bandung (150 KM distance) and I need to equip my car stereo with all prog albums including those from Pineapple Thief, Anglagard live, and of course Spock’s Beard Live at Sea.

Wow! I am totally impressed with the live vibes the Live at Sea record shows. In fact I only played this live set during my three-hour drive to Bandung as I really love it very much. Of course the opening track Something Very Strange (9:07) really blew me away at first spin. I love the opening part with sort of Ryo work on unique keyboard work plus some ambient sounds and it moves it dynamically until the music really turn on followed with great vocal work by Ted. I think Ryo Okumoto’s keyboard work throughout the song is the key differentiator that makes this opening track really live and it does rock! Oh … I cannot afford for not replaying this opening track again and again. It’s so excellent and I love this live version than the studio one.

The second track Hiding Out (7:45) is another rocking track with dynamic keyboard intro bya Ryo followed by a blast of music that moves the track wonderfully. And I think everyone agrees that Dave Meros bass guitar lines are really cool and represent the characteristics of SB music so far. I can hear it clearly his bass lines right here with this second track. Of course other musicians : Jimmy Keegan and Alan Morse also provide excellent work here. The keyboard solo throughout the song is really great. Ted also works his way nicely when the third track Walking On The Wind (9:55) was performed even though this is coming from early albums of the band – the Neal Morse era. This track was performed wonderfully!

One of the big thing that makes me happy is the featuring part of Neal Morse at this live set. I could not imagine how wonderful the show was especially when Neal Morse was invited by the band to come on stage playing two classic tracks June and The Light. I know that actually I did not enjoy the first three albums of the band and you can check my views of the first three albums right here at this wonderful prog site. But it’s not the case now. What matters to me is the fact that Neal Morse still want to play with the band as guest musician even though he was actually the founding fathers of SB. June is actually not my cup of tea as I do not like the acoustic guitar part which sounds boring to my ears. But The Light which I actually did not favor, is now different to me as it’s now live version and it’s performed as a reunion concert with Neal Morse. Yeah .. I love that prog people unite even though they no longer in the same band. This is great. Prog must unite people!

Overall, I am satisfied with this live set even though I expect another 60 minute live record that makes this as double CD issue. But I still recognize this live set as an excellent album! Keep on proggin’ …!

Peace on earth and mercy mild – GW

Review # 1800 (written in Bandung, West Java, Indonesia)

Grand Funk Railroad “The Collection”

September 23, 2014

Hippienov

image

Sebuah kompilasi yang lagi-lagi bisa terwujud karena kebaikan hati Bro Rully memberikan begitu banyak file mp3 album-album Grand Funk untukku. Materinya nyaris sama dengan kompilasi resmi “the best” GFR yang ada, kalau ada bedanya mungkin hanya di 1-2 lagu dalam kompilasi ini yang terbilang jarang masuk dalam kompilasi resmi “the best” nya GFR, malah aku yakin ada kekurangan di kompilasi “GFR The Collection” versi Hippienov karena pastinya ada materi lagu yang terlewatkan gak termasuk. Tapi jangan khawatir karena aku akan siapkan volume 2 kompilasi ini, mohon bantuan masukan dari rekan-rekan gemblunger.. Maturswun sanget…
Berikut songlist nya:
 
GRAND FUNK RAILROAD / THE COLLECTION.
1. Are You Ready.
2. We’re An American Band.
3. Rock n’ Roll Soul.
4. Feelin’ Alright.
5. I’m Your Captain/Closer To Home.
6. Bad Time.
7. Footstompin’ Music.
8. I Can Feel Him In The Morning.
9. Someone.
10. I Come Tumblin’.
11. Flight Of The Phoenix.
12. Sally.
13. Shinin’ On.
14. Got The Thing On The Move.
15. Love Is Dyin’.
16. I Can’t Get Along With Society.
17. Loco-Motion.
 
Matursuwun sanget Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan dan untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca tulisan gemblung ini. Mohon maaf jika ada kekurangan dalam penulisan.
 
Love is dyin’… there ain’t no use in cryin’…
hippienov

The Lady Wants To Know Franks

September 23, 2014

Hippienov

image

Sempat beberapa saat tertunda namun akhirnya album kompilasi pop jazzy ini selesai. Thanks to my Bro Rully yang telah berbaik hati provide katalog mp3 Michael Franks yang aku perlukan. Sama sekali gak mudah untuk membuat kompilasi Michael Franks mengingat aku disediakan nyaris semua album Franks dari awal karirnya sampai era 90/2000an oleh Bro Rully sehingga aku punya banyak sekali materi. Agar bisa membuat kompilasi yang mewakili “wonderful moments” sepanjang karir Franks maka aku putuskan untuk menyimak semua album yang ada ditambah referensi dari kaset-kaset “best of” Michael Franks yang aku punya baik dari era kaset normal maupun era kaset lisensi sebagai perbandingan.
Setelah dapat “big picture” nya lalu aku mulai memilih lagu-lagu yang jadi kandidat masuk proses burning dan walah… terkumpul begitu banyak lagu yang kalo di-burn semua akan menghabiskan kurang lebih 3 blank cd standar. Karena niatku membuat compact compilation dan bukan kompilasi “boxset” Michael Franks maka aku harus men-sortir lagi lagu-lagu tersebut hingga cukup dalam satu cd standar berdurasi 80 menit. Proses ini sama sekali gak mudah dan memakan waktu lama karena harus hati-hati jangan sampai salah meng-omit lagu, aku harus benar-benar yakin dan mantap dengan lagu yang dipilih supaya gak nyesel karena setelah masuk proses burning semuanya sudah fixed gak bisa diedit lagi.
Akhirnya 18 lagu terjaring masuk kompilasi dengan detail sebagai berikut:
 
THE LADY WHO WANTS TO KNOW FRANKS…
1. The lady wants to know.
2. Jardin botanico.
3. Eggplant.
4. Antonio’s Song (the rainbow).
5. Don’t be blue
6. On my way home to you.
7. Monkey see –  monkey do.
8. Vivaldi’s song.
9. Love duet.
10. I really hope it’s you.
11. Posicle toes.
12. A robinsong
13. Baseball.
14. I don’t why I’m so happy I’m sad.
15. No deposit love.
16. Sanpaku.
17. When the cookie jar is empty.
18. Laughing gas.
 
18 lagu tersebut aku ambil mulai dari album The Art of Tea (1975) sampai album Objects of Desire (1982), yang sengaja aku lakukan untuk menciptakan nuansa “natural & classic Franks” musically, karena mulai tahun 1983 dan seterusnya musik Franks mulai mengikuti perkembangan teknologi musik dengan unsur synth, samplings, drum machines, etc. Namun bukan berarti album-album Franks era mid-80s dan selanjutnya gak bagus, semuanya sangat bagus dan aku suka sekali, hanya saja aku dihadapi oleh keterbatasan daya tampung cd sehingga ini salah satu cara aku menyiasatinya.
 
Judul kompilasi ini aku ambil dari “usulan” Mas GW dalam salah satu komentar beliau di sebuah tret yang ada di blog… THE LADY WHO WANTS TO KNOW FRANKS…
 
Semoga tulisan sederhana dan gemblung ini bisa sedikit menghibur dan meramaikan blog. Seperti biasa matursuwun sanget Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan, serta untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca postingan gemblunger ini. Mohon maaf atas kekurangan penulisan yang ada.
 
 
Daddy just likes Coltrane… Baby just likes Miles,
hippienov
 
 

Indahnya Persahabatan (2)

September 22, 2014

Gatot Widayanto

The life side of the blog:
Kartu Nama Kontroversial

Saya pernah dikritik oleh mitra kerja saya yg basisnya di London namun saat itu (awal 2013) kami berkesempatan bermitra-kerja menggarap proyek di Indonesia, Steve Ashley, karena saya tak pernah membawa kartu nama di setiap pertemuan kerja dengan pihak luar. Dia lebih kaget lagi ketika saya kasih tahu bahwa saya memang gak punya kartu nama. Alasan saya sederhana: di jaman gadgetmatik gini siapa sih yang mau simpan kartu nama? Paling juga setelah terima kartu nama langsung dibuang ke tong sampah dengan sebelumnya ditekuk-tekuk dulu. Ini bukan gosip karena dahulu kala saya pernah mengalami ini: kartu nama saya ditekuk tekuk sampe berlipatkali seolah tak ada maknanya lagi bagi orang yg menekuknya. Jadi … Buat apa bikin pencemaran alam? Makanya saya gak mau bikin kartu nama.
Hal ini berbeda lagi ketika awal tahun ini saya harus bikin proposal untuk sebuah kelompok usaha yang besar dan CEO nya baru  saja dinobatkan sebagai Best CEO  Ernst and Young Indonesia. Saya dijadwalkan bertemu dengan CEO ini untuk interview. Wah! Cilaka telulas tenan! Lucu juga kalau gak membawa kartu nama. Akhirnya saya terpaksa bikin satu boks kartu nama dengan desain standar yang diberi oleh Microsoft Word. Bagi saya fungsi kartu nama hanyalah memberikan informasi ke orang lain sehingga saya bisa dihubungi suatu ketika nanti.

Namun …

Saya punya temen yang baik hati dan selalu memberikan masukan kepada saya meski tanpa diminta sekalipun. Ya tentu saya seneng sekali menerima masukan …lha wong gratis kok! Namun masukannya kali ini bikin sakit hati karena nunjek ulu ati ngantek babak bundhasz bocèl2 atiku. Dia berbeda pendapat dengan saya soal kartu nama. Prinsip atau falsafah saya bahwa kartu nama sekedar informasi saja sama dia diluluh-lantakkan, dilumatkan sampek remuk hingga tak hanya ati saya yang bundhaz tapi juga raiku ajur (muka saya hancur – red. Sepuntene ingkang khathah). Pokoke prinsip saya dihinakan dan diinjek-injek alias dia gak setuju dengan prinsip sederhana saya tersebut. Dia cincang saya habis2an seperti daging yang mau dibuat perkedel itu.

Menurut kawan saya yang teguh pendirian namun baik hati ini …. Kartu nama bukan sekedar informasi belaka namun lebih dalam dan luas dari itu! It’s all about visual identity! Saya manggut manggut saja saat dia bilang visual identity seolah saya memahami penjelasannya padahal saya ndomblong ora ngerti babar pisan opo karepe. Dengan semangat ia menjelaskan argumentasinya dan juga akhirnya menjelaskan ke saya apa itu visual identity. Saya makin bingung namun sedikit demi sedikit mulai paham seperti A Crack In The Ice lagunya Arena The Visitor itu …ha ha ha ….

Diskusi semakin memuncak ketika akhirnya dia menawarkan diri untuk membuat desain kartu nama buat saya. Sebenernya saya malas menerima tawaran ini karena sudah punya kartu nama desainnya ecek2 yang penting punya. Tapi ya saya gak enak menolak tawaran baiknya to? Yo wis ndak pa pa  ….

Setelah lama sekali dari pembicaraan kartu nama, sekitar sebulan kemudian saya menerima desain tersebut via email. Bayangan saya tentunya  pasti warnanya kombinasi keren. Saya sungguh kaget ketika melihat desain yang sangat sederhana dan cenderung jelek itu. Pertama, warnanya hanya hitam dan putih. Walah! Kalau cumak bikin hitam putih saya ya bisa …pikir saya! Ha ha ha … Kedua, ada tulisan yang dibuat terbalik …takutnya kesalahan. Ternyata memang katanya dibuat begitu. Waduh. Malah ora karuan. Ha ha ha …

Rupanya pandangan saya sepenuhnya salah karena kartu tersebut didesain dengan penuh makna.

1. Warna hitam putih merupakan simbolisasi dari perubahan dari dunia hitam menuju putih, artinya dari kegelapan menuju terang. Jelas filosofi ini cocok dengan kegiatan transformasi budaya yang saya lakukan untuk klien. Jadi ya cucok sekali dengan profesi saya. Jrèng! Salut saya dengan ide satu ini.

2. Yang lebih gila lagi justru mengapa kartu nama ini salah satu sisinya dibuat dengan huruf kebalik?! Pasti orang gila yang bilang bila ini juga didesain begini adanya. Ternyata … Justru saya yang mungkin gila setelah tahu tujuannya membuat kebalik. Rupanya kartu ini harus ada cara yang tepat buat menyampaikannya ke orang yakni, tulisan CHANGE nya harus dalam posisi dimana penerima kartu bisa membaca dengan baik, tidak kebalik.
Tak berhenti disitu, selanjutnya saya harus berharap penerima kartu membalikkan kartu dibalik tulisan CHANGE karena tak ada informasi apapun selain tulisan CHANGE. Dan begitu dia balik kartu maka ….èng ing èng … Ternyata tertera informasi nama dan nomer telpon saya dalal posisi kebalik!
Selanjutnya …. Saya harus berharap si penerima kartu bertanya: “Kok terbalik sih?” …yang kemudian saya harus jawab meyakinkan : “CHANGE dong pak!” (Alias penerima kartu saya suruh memutar kartu nama saya seratus delapan puluh derajat.

BINGO! What a brilliant idea!!!!

Sontak pandangan saya berubah seratus delapan puluh derajat dari HATE ke LOVE dalam sekejap saja!!! Tak hanya itu …. Saya buwangga pol sama kartu nama saya ini. Uwediyaaaaaan …… Bajindhul tuwenaaaan ….!

Dan …

Yang lebih membanggakan lagi, konseptor dan perancang kartu nama saya yang kontroversial ini tak lain adalah salah satu gemblungers yang menghuni blog super guwemblung ini !! Pow ra uwediyan tenan!!!! Tak perlu disebut namanya tentu yang membaca tret ini sudah bisa menebak OI OI OI SIAPA DIA tanpa mungkin meleset tebakannya. Beliau jugalah yang mendesain penampilan blog gemblung ini yang bener2 jadi proggy pol! Beliau adalah manusia yang kreatip dan banyak konsep dahzyat di otaknya. Luar biasa! Saya sangat berterima kasih kepadanya karena pertemanan yang terjalin di blog gemblung ini telah melebar ke ranah penuh berkah. Semoga beliau dan keluarganya diberi rahmat okeh Allah Tabaroka Wa Taala. Aamiin.

Catatan:
Untuk sementara waktu sengaja tak saya sertakan foto kartu nama saya, biar temen2 membayangkan dulu dan penasaran karenanya. Pada akhirnya anda akan berpikir betapa sederhana tampilan kartu nama saya. Dan memang begitulah maunya.

Indahnya persahabatan …

— setelah baca komentar mas Herman maka perlu saya upload foto kartu nama saya —

Benar sekali, konseptor dan perancangnya adalah mas Khalil Logomotif. Pokoknya top banget konsep dan rancangannya. Ini dia:

1.) Dari sisi saya sebagai pemilik kartu nama yang sedang memberikan ke orang lain, inilah yang terbaca dari sisi saya.

image

Ini adalah posisi dari sisi saya sebagai pemilik kartu nama sedang memberikan kartu ini ke orang lain.

2.) Sedangkan dari sisi penerima kartu nama ia akan secara otomatis membalikkan kartu nama ke kiri atau je kanan sebesar seratus delapan puluh derajat dan inilah yang ia jumpai:
image

Diharapkan dia akan komentar: “Kok terbalik pak Gatot?”.

BOOM!!! Kena loe!! Memang disengaja tauk! Ha ha ha ha ….

JrènG!

Matur nuwun sanget mas Khalil atas kebaikan hatinya. Sepuntene ingkang khathah …

Salam,
G

-
-


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers