ProgRing 25 Oct 2014 “Along for The Concert”

October 23, 2014

JrèNg!

Mari kita kumpul lagi menjalin silaturahim diantara penghuni blog gemblung maupun mereka yang sekedar suka melintas alias baca2 postingan di blog super duper gemblung ini. Kali ini ada delegasi dari Surabaya , Medan dan Semarang yang insya Allah hadir. Delegasi Klaten menunggu konfirmasi lanjut karena masih recovery setelah badannya ajur mumur digempur Zero Hour , Guiding Light maupun Without Walls. Bisa jadi beliau bikin kejutan ujug2 hadir.

Waktunya Sabtu, 1 Muharram 1436 H, yang bertepatan dengan 25 Oktober 2014 , pukul 13:00 sampek sak dobolé … Embuh bol é sopo kuwi … Ha ha ha … Tempat ya seperti biasa, Corelli Cafe, Basement Floor, Blok M Square. Semoga buka ya …

JrèNg!

Grand Funk Railroad “The Collection Vol. 2″

October 23, 2014

Hippienov

image

Apa Kabar teman-teman semua? Sebelumnya aku minta maaf karena beberapa lama menghilang dari blog. Disela masa vakum tadi aku mencoba untuk menghayati dan mengkhatamkan beberapa album prog yang dikenalkan Koh Win dan Mas G seperti Khan “Space Shanty”, Marillion “Marbles” serta beberapa album lain yang semuanya sangat nuansamatik. Namun alih-alih berhasil khatam dengan album-album prog tadi, apa daya tanpa sadar aku malah terbuai dengan musik non prog macam Duran-Duran, KISS, RATT, Michael Franks, Grand Funk Railroad, John Denver, Mr. Big, Stevie Wonder dan Scorpions. Tak terasa aku jadi lebih sering mendengarkan album-album non prog ketimbang prog. Tapi bukan berarti aku berhenti nge-prog, tadi pagi IQ “Frequency” lantang berkumandang dari dalam kamarku menemani aktivitas pagi hari ^_^

Pada saat aku sedang enjoy listening to non-prog music, beberapa kompilasi berhasil aku buat dan salah satunya adalah Grand Funk Railroad “The Collection Vol. 2″ yang merupakan serial lanjutan dari volume sebelumnya. Tak lupa di kompilasi ini aku memasukkan beberapa lagu kesukaan Mas G yang di volume 1 tidak ada. Semoga kompilasi ini cukup menarik dan cukup “kriuk” untuk dinikmati.

Berikut songlist nya:

Grand Funk Railroad / The Collection Vol. 2
1. Flight Of The Phoenix (2002 remix).
2. Heartbreaker.
3. Mean Mistreater.
4. Memories.
5. All The Girls In The World Beware.
6. So You Won’t Have To Die.
7. Anybody’s Answer.
8. Nothing Is The Same.
9. High Falootin’ Woman.
10. Inside Looking Outside.
11. Jam Footstompin’ Music.
12. Hooray.
13. Sin’s A Good Man’s Brother.
14. To Get Back In.
15. Aimless Lady.
16. Time Machine.
17. Gettin’ Over You.

Demikian sharing ku pada kesempatan ini, kiranya berkenan untuk rekan-rekan semua dan as always matursuwun sanget untuk Mas G atas tempat serta kesempatan yang beliau berikan. Tak lupa juga untuk semua rekan-rekan gemblungers yang sudi mampir tulisan gemblung ini.. For those about to rock… I salute you…

A boy who dreams music,
hippienov 
 

Tertegun Melihat Kaset Marillion di RM Padang Jaya

October 21, 2014

Andria Sonhedi

image

Hari selasa 21 Oktober ini saya mendapat tugas ke kanwil saya di Semarang. Walau harus nyetir sendiri (rekan saya tak bisa), berangkat jam 6 pagi diselingi kepala masih sakit krn kurang istirahat berangkatlah saya. Yang membuat saya senang kali ini karena sdh ada tujuan lain selain acara kantor saya, mengunjungi RM Padang Jaya di jl Agus Salim. Saya tahu di situ mmg mahal namun saya berharap dapat kaset the best of America (yg isinya Kaset Air Supply) dan kl bisa menemukan kembali kaset Michael Frank. Ternyata pak Hippe mau juga kaset MF ini.
Perjalanan saya benar-benar 4 jam kurang sedikit sampai di kantor kanwil Semarang. Seperti yang saya duga konfirmasi yang dibutuhkan rekan kami di Kanwil hanya 30 menit :D  tak sebanding dengan perjalanan pulang perginya. Akhirnya untuk obat lelah pergi jauh-jauh kami ngobrol sampai jam 11.30 tentang rekan-rekan kami yang pindah Semarang. Kebetulan bidang yang mengundang saya ada alumnus Blora juga yang dipindahkan kesana sehingga malah jadi obrolan nostalgia.
Sebenarnya saya kl di RM Padang Jaya jadi tak lapar karena sdh  ngebet mencari kaset, tapi karena rekan saya butuh makan siang maka saya pun menemani makan. Untungnya rekan saya tadi mau saya ajak makan di sana. Kaset-kaset di sana masih seperti saya ke sana, artinya cuma ditata bertumpuk-tumpuk dgn ikatan karet per 10 kaset. Saya sampai sakit kaki karena harus jongkok milih-milih kaset. Sayangnya kok hanya kaset2 pop yang saya temukan. Seandainya ada kaset rock & metal semua sudah saya punya. Akhirnya saya setelah hampir 1 jam mencari tak menemukan juga Michael Frank atau America. Dapatnya malah cuma John Denver, Fleetwood Mac, the William Brothers & Bon Jovi. Saat akan saya akhiri pencarian saya dapat OST Street of Fire, dulu kakak saya seneng theme songnya Nowhere Fast dari Fire Inc. Tentu saja kaset itu saya ambil sekalian. Karena kepala saya mulai senut-senut dan dengan tangan mulai risi karena kena debu akhirnya saya sudahi juga pencariannya. Saya bilang pad Om pemilik RM untuk datang lagi bila pas nginep di Semarang, siapa tahu waktu bisa lebih lama. Sebenarnya kl rumah saya dekat situ pasti akan saya bantu menata kaset-kasetnya karena gemes melihat susunannya :D
Di sekeliling kasir dipenuhi kaset2 Indonesia dan biasanya hanya ala kadarnya saya lihat. Lha kok pas di dekat tangan kiri saya terselip kaset Marillion – Misplaced Childhood terbitan a Prifate Collection. Saya lumayan tertegun (dan tentu saja langsung mengamankannya) kok bisa ada kaset Marillion terlewatkan di tempat itu? Saat dicoba memang benar kasetnya, pas lagu Kayleigh. Dibanding kaset OST Streets of Fire yang sampulnya sdh lengket di dalam maka kaset Marillion ini terbilang mulus tanpa jamur & tanpa coretan.
Sayangnya mobil yang kami pakai tak ada tapenya, cuma cd player, akhirnya selama perjalanan tak bisa saya coba. Rekan saya, yg usianya berbeda jauh dgn saya, awalnya cuma ikutan nonton kaset. Kaset Indonesia tentu saja. Entah kenapa pas pulang kok dia  ikutan beli kaset. Dia dapat 2 kaset dan yg saya ingat cuma Padhayangan 6, itu lagu parodi dari sempalan kelompok komedi TV jaman dulu yg akhirnya jadi Project Pop. Ternyata dia masih punya tape dan sudah lama nyari album itu di internet dan belum pernah ketemu. Wah ternyata ajakan saya ke sana memberi berkah ke dia juga.


evil has no boundaries

IQ – Full Concert – Holland – 2007 (Pre Frequency Tour)

October 18, 2014

Gatot Widayanto

Iseng-iseng mau lihat di youtube ada video konser apa saja yang prog, eh menemukan konser keren banget dengan kualitas HD (high definition) sehingga kalau ditonton dan pake speaker aktif suaranya menggelegar dan gambarnya jernih. Sepertinya ini video yang resmi karena dilisensi oleh labelnya IQ: Giant Electric Pea. Makanya selama video ditayangkan praktis suara dan gambarnya mantab. Monggo dinikmati sebagai kudapan akhir pekan nan menyenagkan, apalagi ini full concert selama sekitar 2 jam lebih. Ada Harvest of Soul lho … Pow ra muwanteb?! Juga ada Sleepless Incidental yang fenomenal. Apalagi ini Koh Win lagi gencar SMS saya njungkel dengan Subterranea in concert (saya ada CD nya lho, Koh Win … he he he ..)

Published on May 11, 2014

All Rights Reserved to Giant Electric Pea Ltd.

Legendary British Neo Prog pioneers at their best

1. Awake And Nervous
2. You Never Will
3. Frequency
4. The Magic Roundabout
5. Harvest Of Souls:
a .First of the Last
b. The Wrong Host
c. Nocturne
d. Frame and Form
e. Mortal Procession
f. Ghosts of Days

6. Sleepless Incidental
7. Crashed And Burned (Stronger Than Friction)
8. The Seventh House
9. It All Stops Here
10. Guiding Light
11. Subterranea
12. The Darkest Hour

- Peter Nicholls / vocals
– John Jowitt / bass
– Mike Holmes / guitar
– Andy Edwards / drums
– Mark Westworth / keyboards

  • Artist

  • Category

  • License

    • Standard YouTube License

IQ Concert

Mari Njungkel bersama Cosa Brava “The Letter”

October 15, 2014

Akhirnya …saya bisa menulis musik aneh yang bikin jiwa njungkel ini! terima kasih ke mas Edi Apple Santoso. kalau gak karena beliau, mana saya tahu band aneh ini … Review saya di PA banyak menyebut nama Mas Edi plus kejadian nuansamatik di Apple Cafe pada tanggal 19 September 2014 yang lalu …

cover_646221852012_r

Studio Album, released in 2012

Songs / Tracks Listing

1. Soul of the Machine (2:12)
2. The Eyjafjallaj?kull Tango (6:48)
3. Drowning (4:04)
4. The Wedding (6:08)
5. The Letter (3:41)
6. Slings and Arrows (7:23)
7. Jitters (5:13)
8. For Lars Hollmer (8:03)
9. Emigrants (4:06)
10. Nobody Told Me (4:10)
11. Common Sense (7:15)
12. Soul of the Machine (reprise) (2:05)

Total Time 61:01

Line-up / Musicians

- Fred Frith / guitar, voice
- Carla Kihlstedt / violin, bass harmonica, voice
- Zeena Parkins / accordion, keyboards, Foley objects, voice
- Shahzad Ismaily / bass, voice
- Matthias Bossi / drums, percussion, mayhem, voice, whistling
- The Norman Conquest / sound manipulation

Collaborators:
- Michael Elrod / tambura (track 4)
- William Winant / concert bass drum (track 10), crotales (track 2)

The Letter
Cosa Brava RIO/Avant-Prog

Review by Gatot
Special Collaborator Honorary Collaborator

5 stars Wonderfully unstructured, unpredictable. But … It’s nice!Commemorating the ProgRing (Progressive Gathering) at Apple Cafe, Jombang, September 19, 2014

The Context

This review would never happen without the important event held at Apple cafe in Jombang, East Java, Indonesia on the evening of September 19, 2014 (Friday). That was the first time I knew the name Cosa Brava from my prog mate Edi Santoso (usually I call him with “Mas Edi”). Well, actually mas Edi owns the cafe and he invited me to have a wonderful chat on progressive music PLUS. I say plus because we did not talk only about progressive music but also anything related to progressive life. So we agreed that PROG is not just the music but it’s a PHILOSOPHY because it goes beyond prog. Take a good example of Mas Edi. yes, he is the die hard core fan of prog music especially in the area of RIO or he call it as “rock mbeling” (local words that mean: “naughty rock”) which essentially depicts the description of what the RIO/Avant-garde music is all about. Of course he also loves things like Birdfish, The Flower Kings as well as Opeth and also legends like Genesis. In fact his Apple Cafe is a true prog cafe in a real sense: you can find many prog artwork like Genesis’ Selling England By The Pound or King Crimson’s In The Court repainted nicely at the walls of the cafe. Do not tak about copy act right ya … But it’s really prog nuances built inside the cafe. If you are real prog person, you would love the cafe – I guarantee ! So ..come to Indonesia mates! I will show you great prog places around ….

Mas Edi has taken prog spirit to the next level, applied in real life not as musician as both of us are not musicians and our friendship so far has been based on our shared taste of prog music plus prog spirit of course. What I mean here is that his decision to carry on his life by taking care his own mother who also live with him in that prog cafe. According to Islamic teaching, taking care of your own parents is number one priority after worshipping only ONE God – Allah subhanahu wa taala. So, has taken life progressively from serving only his own family (wife and two sons) and now to include taking care his own mother who is old and sometimes getting sick. So …you can now imagin how deep our PROG discussion on that ProgRing event ….

The Music

I might send you big apology to describe the novel long context as part of this review because to me prog music is not just music …it goes beyond music … it’s about friendship and long lasting relation with others. You can use the spirit of PROG in day to day life and you will find PROG with joy. Yes, initially I met people like mas Edi because of the need to form coalition of people who share similar taste in music. But after that we talk many things that go beyond the limits of musical taste.

I was very lucky meeting with him at that event where we discussed about prog at one corner of the cafe where the poster of Beardfish bassist was put on the wall. The first thing asked him was: “Who plays this music” when I heard the loudspeaker sounded the music that I never heard before, packed with violin sounds. He said it humbly : “Cosa Brava”. And then I said “What? How do you spell it?”. That indicates how new the name came into my mind, really! Yeah …finally I got it right after he spelled it out for me: COSA BRAVA. What a great name!

You know …what was the first impression about the music of Cosa Brava? Very unstructured …and very unpredictable! When I listened to the violin of Haggard, I could sort of predict where the music would go. Or with Jean Luc Ponty or Didier Lockwood …generally I can get an overall sense on where the music is going. But definitely not for Cosa Brava. But …even though unstructered, I really enjoy how the music flew while Mas Edi talked with me. Of course, as senior prog head he has abundant knowledge about who’s who in Cosa Brava as well as other RIO music. It was quite hard for me to understand the music as everything was unpredictable. But … in enjoying music, do I need to understand? I thought about it quite sometime and posted that question to Mas Edi. His answer was really simple: “The composition must be excellent because the musicians are all talented persons … The only thing is because we do not get used to it …”. WOW! What a wise prog words for me really …. I made a long pause from the discussion and I remember vividly I was hearing the sounds of mechanical typewriter we typically had in the past ….you know the Brother or IBM trade mark of typewriter. What really a great nuance created from the sound!

We continued the prog discussion while letting the stereo set played this album by Cosa Brava. In some segments I requested some pause for a while to discuss the subtleties of the particular segment. Then I noticed that the beauty of enjoying RIO (rock mbeling) music is by letting the music flow as it is and enjoy any segment the music gives to me; do not ever try to predict what is going to happen … Do not expect nice melody that plays across all segments in longer duration. The melody is at every segment. It’s kind like disjointed at first experience. But as time passes by it will definitely grow on you. At first I could only enjoy the section with drums on second track titled strangely as “The Eyjafjallajkull Tango” (6:48). The combined drums and violin work is really stunning!

In this kind of music, I think the most important thing to understand the music, if we want to, is putting ourselves as the musician. This music must have been created for a reason, possibly to support the acts of certain story plot. In this case, of course it revolves around The Letter. Honestly, in this particular album, I know nothing about the plot but it must be something to do with a series of acts that depicts certain life situation where Letter becomes one of the critical point of the story – and then you have other events like Drowning, The Wedding, Nobody Told Me as well as Common Sense. How can I find my joy listening to this album? Through a series of segments that in themselves provide provide a profound experience for me, personally. One thing that makes me happy with this album is its sound quality which I consider as top class! You can hear all subtleties of the music throughout the tracks presented in this album. All the detailed work of each musician can be enjoyed in its utmost clarity especially if you play it at the decent stereo set using at least B&W speakers, or other high end sound system.

Judging from musical composition point of view, I would opt to say that “For Lars Hollmer”, “The Eyjafjallajkull Tango”, “The Letter”, and “Common Sense” are favorite tracks. But the problem is then the track cannot be played its own as it must be placed on sequential basis … So this kind of album can only be enjoyed if I play it in its entirety from start to end. I can find the brilliance of the musicians creating this intelligently crafted music for us. High salute to all musicians involved in this album!

What do you expect from me with the above novel-long elaboration? It’s a FULL five star rating! Keep on proggin’ …!

Thanks to Mas Edi who showed me the hill of finding this kind of music.

Peace on earth and mercy mild – GW

Legenda Genesis (5/7)

October 15, 2014

Kepada penghuni maupun pembaca blog gemblung M4L yang budiman ….

Mohon maaf

Untuk sementara kisah Legenda Genesis ini berhenti sejenak karena sang pelegenda, mas Herwinto a.k.a. Koh Win, saat ini sedang kesandhung dan kemudian kebleghonk masuk lubang keindahan musik prog masa kini , baik itu dari kelompok yang namanya IQ, Karmakanic, maupun legenda kisah Canterbury dengan kelompok seperti Khan, National Health dan nak-ndulurnya.

Memang …belantara musik prog itu begitu luas dan lintas-batas , sehingga sekali kesandung dijamin njungkel sak dobole nganti gulung koming ping kopang kaping …. Serentetan SMS yang intinya mengabarkan kisah “menderita kepuasan” terhadap band-band prog yang dialamatkan kepada redaksi M4L membuktikan hal ini. Sepertinya sahabat Hippienov juga sedang bertapa tak banyak komentar di blog gemblung lantaran menyiapkan ulasan maha dahzyat terkait KHAN “Space Shanty” yang berhasil menciptakan decak kagum bagi khalayak pendengar, apalagi pendengar yang kesandhung …

Mohon kesabarannya dan harap maklum … Redaksi yakin bahwa kisah legenda ini akan muncul lagi setelah Koh Win sembuh dari sakit lantaran kesandhung tadi. Tak tahu pula kalau Koh Win ini menjelajah ke ranah Porcupine Tree dan anak pinaknya …bisa jadi gak muncul lagi legenda Genesis ini …Ora kober soale. Redaksi juga mohon maaf kepada Koh Win yang telah banyak menyebar ratjun ganas prog ini …

Semoga prog tak sekedar musiknya saja, namun jiwa kita juga PROG soalnya PROG GITU LOH!

Sepuntene ingkang khathah

Salam

Mencari Mas Kukuh

October 13, 2014

Andria Sonhedi

Sejak mas Kukuh Tawanggono, rekan kita sang maestro rock dari Ngalam bergelar the MadMan, menulis akan nonton Rock in Solo (RIS) di bulan Oktober 2014 saya punya keinginan utk bisa ketemu beliau. Sosok misterius yang cuma kita lihat sekali fotonya di blog ini bak tanpa rasa takut siap meninggalkan miss A di Malang demi melihat dewa mas silamnya yang akan menggoncang Solo.Tentu saja bertemu salah satu simpatisan blognya pak Gatot ini bukan hal yang mudah, mengingat waktu yang tidak pernah bisa diseragamkan. Walau bisa juga saya nantinya akan merasa kecewa karena sang the MadMan ini mengaku mirip Kerry King dari Slayer
ternyata wajahnya nanti lebih mirip Ozy Syahputra :D
Rencana saya adalah mencegatnya di rute perjalanan Malang-Solo. Bukan ide orisinila memang karena panitia Rock in Solo sdh duluan memakainya saat membelokkan Carcass yg sdg tour Asia utk bisa tampil di Indonesia. Daripada saya yang harus ke Malang mending mempersilakan beliau lewat Sarangan-Tawangmangu (atau sebaliknya) shg bisa mampir rumah saya utk sekedar minum di Magetan dulu. Itupun sesuai pepatah jawa “urip kuwi prasasat mung mampir ngombe” (=hidup itu ibarat cuma mampir minum) :) 
Persiapan saya tentu saja beli tiketnya dulu. Untunglah selama saya ngurus STNK di Yogya pulangnya lewat distro Holyflesh di Pakis,Klaten yg menjual tiket pre-sale. Setelah tiket didapat saya nyoba ngontak mas Kukuh. Sayangnya sms saya tak pernah berbalas :(  Apalagi ternyata saya nggak punya alamat e mail-nya juga, tambah gelap. Berhari-hari kemudian saya jadi makin pesimis bisa ketemu mas Kukuh, apalah gunanya ketemu Carcass tapi nggak ketemu sodara kita yang satu itu :) Teman saya yang dari Makassar yg mau nonton ke Solo sampai h-7 juga blm bisa dapat tiket pesawat. Ada satu lagi yang saya siapkan untuk mas Kukuh, mug Trve Norwegian Black Metal yg cuma ada 1 di dunia, opo ora elok tenan.
Akhirnya H-1 saya coba pagi-pagi sms lagi mas Kukuh, ada jawaban tapi kok jawabannya gini: Mas Andri, papa sudah meluncur ke Solo via jalan darat. Mas Kukuh kok romantis nian menyebut dirinya papa :D Tapi ternyata ada sms berikutnya dan terjawablah sudah bahwa selama bepergian HP mas Kukuh disita oleh miss A, tadi beliau ini yg njawab. Saya kok jadi ingat lagu dangdut “SMS siapa ini Bang” :D Berdasar penuturan miss A rombongan mas Kukuh berjumlah 10 orang. Sayang Jumat itu saya nggak prei jadi plan A utk membelokkan (atau mengenggokkan) rombongan mas Kukuh gagal. Saya aja sampai rumah sdh jam 20.00 malam. Untunglah pas Jumat sore rekan saya dari Makassar, mas Dede, positif ke Solo sehingg saya tetap memutuskan berangkat. Bagi saya kl ke RIS cuma untuk nonton Carcass tanpa agenda ketemu siapa-siapa rasanya kok mbuat lelah aja. Apalagi musik Carcass tidak 99 % saya kuasai, beda kalau saya disuruh nonton Napalm Death. Sama aja :D
Hari sabtu tanggal 11Oktober 2014 dari pagi sampai siang saya menanti sms dar mas Kukuh, sambilmengurus mutasi STNK saya &  menyelesaikan pekerjaan rumah. Sementara itu di blog ini pak Gatot, KohWin dan pak Apec bergantian memberi saran bagaimana cara menemukan mas Kukuh. Dari saran yang sederhana hingga yang membutuhkan nyali dgn naik panggung dan mbuat pengumuman :)
Akhirnya jam 15.30 saya baru berangkat ke Solo lewat Tawangmangu, tak lupa membawa satu-satunya kaset Carcass yang saya punyai untuk latihan mendengarkan.
Sampai Solo sdh jam 17.30 dan di sekitar venue benteng Vastenburg sudah banyak anak-anak (dan bapak-bapak juga) wira-wiri beli makanan di luar. Sebagai orang yang sdh lama tak nonton konser, apalagi yang festival saya baru tahu kl makanan dan minuman tak boleh dibawa masuk. Padahal saya sdh cukup banyak bawa sangu. Saya kontak teman saya dan alhamdulillah kami bisa ketemu di dalam arena konser. Teman saya ini sejak jam 14.00 sudah nonton bareng temannya. Mas Dede ini adalah anggota komunitas penikmat musik underground di instansi saya yang juga saya ikuti. kami selama ini cuma komunikasi via gmail & SMS doang. hampir mirip dengan komunitas blog gemblung ini, tiap salah satu atau salah banyak dari kami berkunjung ke kota yang ada anggota maka akan diadakan gathering lokal. Ini pertemuan saya yang kedua kalinya, dulu sempat ketemu beberapa menit pas dia mau nonton konser juga. Suasana inilah yang saya juga inginkan saat bisa ketemu mas Kukuh nanti.
Suasana di arena memang gelap kecuali di area food court (ada yg jual rica-rica gugug juga), tenda mercahndise (ada yg jual cd IQ) dan di depan panggung. Saya pikir mas Kukuh CS pasti nongkrong di muka panggung, nggak pindah-pindah supaya kl pas Carcass nanti bisa crowd surfer segala :)
Untuk ulasan konser (termasuk kemunculan sesaat EdanE) nanti biar mas Kukuh aja yang cerita karena menurut SMS yang dia kirim senin pagi album Carcass-nya ditanda tangani para anggota Carcass.  Saya walau agak jauh dari panggung tapi masih bisa melihat wajah dan gaya panggung Carcass. Berbeda dengan beberapa grup lokal yang nyambi nyanyi sambil mainkan instrumental tapi tetap diam 3 anggota Carcass bisa wira-wiri membuat koreografi sederhana atau sambil ngangkat-ngangkat gitar/bass.

image


image


image

jam 23.15 konser rampung dan kembali saya nggak bisa menemukan mas kukuh :D
Ada plan C, yaitu mencegat mas Kukuh saat pulang. Tentu saja harus berharap mas Kukuh mau berbaik hati mengabari saya. Saya bahkan hari minggu itu tidak pergi ke mana-mana (wl ini msh harus diperdebatkan krn mmg harus jaga rumah krn isteri & anak pergi upacara hari jadi magetan seharian). Saya bahkan sdh tanya isteri tempat makan mana yang cocok untuk menampung 10-an orang makan pagi. Kemarin di parkiran venue saya lihat ada beberapa bis mini, saya jadi berpikir apa rombongan mas Kukuh nyewa bis semacam itu :) Ada juga SMS tapi malah dari pak Edie Jombang dan KohWin yang nanya hasil perburuan saya mencari mas Kukuh. Akhirnya sore pun tiba dan saya mulai berhenti berharap mas Kukuh akan datang ke Magetan. The lambs sdh tidak berkeliaran lagi di sekeliling rumah saya dan matahari pun terbenam. Ya sudah, mungkin bukan waktunya saya bisa ketemu dengan the MadMan kita ini. SMS mas Kukuh (kali ini benar dia) yang menyatakan penyesalan tak ketemu juga baru saya baca Senin pagi wl dikirim Minggu malam.


evil has no boundaries

Mengunjungi Jogya “Prog” Karta

October 12, 2014
 
 Budi Putra
Alhamdulillah, setelah sekian lama akhirnya berkempatan juga mengunjungi Jogyakarta. Walau dengan agenda pokok  melakukan studi banding ke sejumlah tempat home industri dan desa-desa wirawisata. Namun, kegembiraan ini tak dapat lagi tersembunyikan. Rasa rindu dengan suasana Malioboro dan jalan-jalan di sekitarnya serta bau harum dan nikmatmnya wedang jahe angkringan di malam hari sungguh sesuatu anugrah Illahi yang terindah. Walau kini Jogya semakin bising dengan kendaraan bermotor tapi kita bisa menjumpai keasrian Jogya di pelosok-pelosok lainnya baik yang berada di pinggiran kota maupun ketika memasuki kota Bantul atau Sleman juga Gunung Kidul. Di tempat-tempat ini serasa penat selama di ibu kota seolah terpupus dengan keramah-tamahan penjual panganan di gerobak angkringan dan panorama di sekeliling kota Jogyakarta. Jogya “Prog” Karta, kami datang mengunjungi kerinduanmu.
Benar adanya bila kota yang dijuluki sebagai kota pelajar dan budaya ini memang benar-benar menyimpan kerinduan bagi yang pernah menghampirinya. Di sini kita bisa bercengkrama dengan suasana kota yang hiruk pikuk dengan tingkah laku para penghuninya. Mulai dari pengamen jalanan Malioboro, para wisatawan, serta panorama kota yang tak lekang di gerus jaman. Namun bukan hanya suasana Jogya yang menakjubkan tapi juga play list yang saya bawa dan sudah 3 bulan ini menemani hari-hari saya. Maka menjadi sangat indah mendengarkan lagu-lagu ini di sepanjang kunjungan 3 hari di Jogya. Ini dia nomor-nomor terdahsyat yang masuk dalam daftar play list pada kunjungan kali ini, diantaranya:
1. Birdland (Wheather Report)
2. Close To The Edge (Yes)
3. Come Back To Me (Uriah Heep)
4. Flute Trio (21st Century Schizoid Band)
5. Gone Sailing (Soft Machine)
6. Homburg (Procol Harum)
7. Humanizzimo (Flower Kings)
8. I Talk To The Wind (King Crimson)
9. I Wonder (Mahavishnu Orchestra)
10. Live Is Life
11. Merlin (Kayak)
12. Miracles Out Of Nowhere (Kansas)
13. Mister Ten Percent (Triumvirat)
14. Night In White Satin (Transatlantic)
15. Onward (Yes)
16. Paintbox (Pendragon)
17. Questions (Manfred Mann’s Earth Band)
18. Rain (Uriah Heep)
19. Refugees (Van Der Graaf Generator)
20. Rise And Fall (Part 1) (Pallas)
21. Running Water (Moody Blues)
22. Script For A Jester’s Tear (Marillion)
23. Slow Your Self Down (Camel)
24. So Close, So Far (Glass Hammer)
25. Space Shanty (Khan)
26. Sweet Dreams (Uriah Heep)
27. Tales (Uriah Heep)
28. The Cinema Show (Genesis)
29. The Gap Is Too Wide (Mostly Autumn)
30. The Only Thing She Needs (UK)
31. Vigil (Fish)
32. Weep In Silence (Uriah Heep)
33. Wingful Of Eyes (Gong)
34. Wise Man (Uriah Heep)
35. Without You (Asia)
36. Working Man (Rush)
Weih, dengan urutan lagu-lagu ini membuat saya semakin betah untuk berlama-lama di kota Jogya. Apalagi saat menemani perjalanan 1 jam-an menuju daerah wisata Goa Pindul di desa Bejiharjo, Gunung Kidul. Ketika bus yang mengantar kami sudah mulai tancap gas…jreng nomor “Birdland” dari Wheather Report menyemangati pagi dengan alunan bernuansa jazzy ini…wuasik sekali. Setelah 5:59, dengan intro kicau burung masuk Yes lewat “Close To The Edge”……tenang, diawal memang agak “kacau” antara gitar, drum saling pamer kebolehan. Tapi setelah itu suasana asik dengan permainan gitar yang melodius. Maka lengkap sudah saat “Come Back To Me” Uriah Heep ikut menimpali lagu tersebut. Saya sengaja memasukan beberapa nomor milik Heep dengan tujuan untuk menyeimbangkan gendang telinga dari kejlimetan nomor-nomor prog lainnya seperti “Humanizzimo” yang durasinya 23 menitan itu. Saya yakin nomor ini hanya bisa dinikmati secara seksama oleh Mr. Koh Win atau mas Gatot saja….hehehe. Kalo saya masih belum sanggup……sungguh!. Selain itu bagi saya nomor-nomor  Heep diatas sungguh relevan dengan suasana temaram bila Jogya di malam hari. Coba saja dengerin “Sweet Dreams” atau “Wise Man”…..ah, nikmat Tuhanmu mana yang engkau dustakan, begitu kutipan dari mas Gatot. Untuk nomor-nomor lainnya biar rekan-rekan blog gemblung menilai dan menakar sendiri. Terutama untuk Mr. Kompilasi alias mas Hippienov…
Mejeng sebelum berangkat

Mejeng sebelum berangkat

-
Dokumentasi Kesultanan Yogyakarta

Dokumentasi Kesultanan Yogyakarta

Mungkin ini (sementara) yang saya bisa share dengan rekan-rekan blog gemblung tercinta. Di lain waktu saya akan ceritakan keindahan dan keunikan daerah-daerah yang saya kunjungi termasuk hal lainnya terkait musik. Juga mohon maaf karena keterbatasan waktu dan padatnya jadwal sehingga tidak sempat menghubungi mas Andria untuk bisa bermini progring ria. InsyaAllah bila Tuhan berkendak pada suatu kesempatan bisa datang kembali ke Jogyakarta sehingga bisa bermini progring bersama mas Andria juga Mr. Koh Win. Salam!

Tertegun Mendengar “Without Walls”

October 10, 2014

Herwinto

image

The Road Of Bones adalah album IQ yang sempat bikin heboh blog ini beberapa waktu yang lalu karena telah mampu menyeruak di deretan Top 40 prog album tepatnya di urutan ke 24 bahkan menggilas Relayer nya Yes yang keren itu.  Ada apa dengan album ini sehingga mampu meraih tempat bergengsi yang didominasi prog ”dinosaurus” 70 an. Saya memang belum sempat menyimak album ini saat itu, namun saya positip thinking saja bahwa IQ wajar bisa masuk deretan tersebut karena memang riwayat karyanya selalu keren.

Beberapa hari yang lalu saya yang memang telah meniatkan diri untuk menyimak album ini secara serius dibuat tertegun ketika memutar album ini, saya benar benar tertohok dan merasa bersalah karena telah melewatkan album ini. Sungguh suatu sajian karya jenius IQ dengan cita rasa yang mengejutkan!! Lima lagu dalam album ini benar benar gilaaaaak!! Dan jujur…!! album inilah yang mengubah kiblat musik saya!! Salah besar kalau ada yang ngomong bahwa NeoProg hanyalah penyederhanaan dari simphony prog, justru neoprog adalah penyempurnaan dari simphony prog. Dan IQ telah membuktikan bahwa ramuan musiknya mampu bersanding dengan senior seniornya tanpa ada unsur penjiplakan.

Album ini memiliki kehebatan tersendiri baik secara musikalitas maupun misi yang hendak dituju. Jangan membayangkan bahwa musik IQ di album ini mengedepankan kerumitan layaknya musik prog yang kita kenal lewat Subterranea atau Ever, musik di album ini sederhana saja namun jangan salah….meski sederhana namun benar benar mematikan!! sungguh tidak membosankan….bahkan semakin diputar berulang ulang semakin membuat kita ketagihan….setidaknya inilah yang saya rasakan. Tak ada tikungan tikungan maut kita dapatkan di album ini, permainan gitar agak banyak menahan diri, namun kibor banyak mengambil peran bahkan sangat mendominasi. Saya menangkap kesan, IQ tidak mengajak kita menikmati kerumitan musikalitasnya namun misi yang dituju seperti mengajak kita merenung melalui album ini…dominasi kibor di album ini seperti sebuah drama musikal yang membawa kita kepada sejarah masa lalu…saya sangat terbawa….inilah mungkin kenapa kovernya bergambar orang yang seperti menyuruh kita diam….diam!! pejamkan mata!! dan mari berkontemplasi!! whoaaaaaahhh!!!

Dibuka dengan nomor From The Outside In, ini nomor sangat keren…IQ seperti bermain metal namun sangat akademis sekali..sampai saya yang bukan penggemar metal sangat menyukai riffnya….sangat megah dan tidak terkesan brutal, seperti nuansa sebuah awal perjalanan yang membutuhkan semangat berkobar kobar….pada menit ke 3.44 musik menjadi lebih tenang dan suasana syahdu muncul dalam sound yang benar benar jernih membahana…kita seperti terlempar ke awan dan terbawa angin setelah sebelumnya berlari sangat kencang. Track kedua The Road of Bones pembukaannya sangat tenang namun terdengar sakral…kemudian masuk dalam tempo pelan namun terdengar megah dan gagah sekali…background musiknya terdengar menggema dengan bebunyian yang mengesankan suasana khusyuk….maka….. diamlah!! Whoaaaahh ini seperti berjalan di jalan yang panjang tanpa ada batas akhirnya…..sendiri pulak….

Track yang paling mematikan adalah Without Walls….nomor ini selalu saya putar berulang ulang…..dan anehnya…bukan menjadi bosan tapi malah ingin mengulang ulang terus…..whoaaaaahhhh…uwediyaaaann!! gak percaya?? tanyalah dr. Apec Arif Bahtiar Sp. paru…..berapa kali beliau memutar lagu ini!!!! ha ha ha…..ini adalah lagu panjang berdurasi 19.16 menit…lagunya benar benar kuereeeen!!! komposisinya sungguh menohok sukma….terutama bebunyian kibor di sepanjang lagu sungguh menimbulkan kesan magis namun indah sekali.

Mendengarkan album ini saya seperti diajak bertualang kemasa silam, jalan tulang…meskipun ini adalah tentang masa kekejaman Stalin, namun saya bisa mengambil makna yang lebih luas yakni bahwa dimana saja kita berada, kita ada di atas jalan tulang..bukankah bumi tempat kita berpijak merupakan kuburan bagi umat umat terdahulu yang telah diluluhlantakkan oleh Allah lantaran kesombongan dan penentangan mereka terhadap para rasul. Lihatlah bagaimana laut merah menjadi kuburan bagi ribuan tentara Firaun yang sangat sombong! bagaimana kaum Tsamud di hajar dengan gempa bumi dan topan. Bagaimana kota Sodom menjadi kuburan bagi kaum Luth yang sangat keji, setelah diazab oleh Allah dengan hujan batu yang sangat dahzyat. Maka apakah engkau tidak mengambil pelajaran dari kisah kisah umat terdahulu? Luar biasa!!

Album ini bagi saya sangatlah luar biasa!! sound yang dihasilkan juga benar benar jernih dan tajam…sangat berbobot, tak heran album ini bisa nyelonong di urutan 24, karena bagi yang mencoba serius menikmatinya akan benar benar dibuat terkapar menderita kepuasan paripurna…..!!

Terkenang “Coming Home”-nya Scorpions

October 10, 2014

Andria Sonhedi

Every morning when I wake up yawning
I’m still far away
Trucks still rolling through the early morning
To the place we play
Boy you’re home, you’re dreaming, don’t you know
The tour’s still far away

Gara-gara pak Hippie nulis ttg kompilasi Scorpions-nya saya kok jadi ingat lagu Scorpions berjudul Coming Home. Sebenarnya ada di album Blackout namun saya pertamakali dengar lagu Coming Home pas beli kaset World Wide Live. Kaset ini saat itu jadi andalan saya karena isinya saya anggap lengkap daripada kaset very best yang ada di pasaran saat itu.
Lagu ini di kaset tadi ada di side A nomor 3 setelah lagu Countdown yang instrumental. Lagu enerjik ini cuma dinyanyikan setengah aja namun justru itu yang esensial bagi saya. Beberapa bulan setelah beli kaset ini muncullah album baru Scorpions, Savage Amusement, saya beli yg terbitan Aquarius karena bonus side B yang lebih bagus termasuk ada Coming Home juga.

gw - scorp

-

gw - scorp_2

Semula saya kira lagu Coming Home adalah berisi kerinduan sang penulis lagu untuk pulang kampung, ketemu keluarga. Maklum saat itu kaset live sangat jarang yang disisipi lirik lagu. Baru dari album Savage Amusement saya baca lirik lengkapnya (sesuai kuping bagian penulis teks lirik di Aquarius). Ternyata Coming Home malah menceritakan kerinduan utk manggung, saat berjumpa dengan fans yang berteriak-teriak di lapangan rasanya mirip pulang ke rumah ketemu sanak saudara.

Year after year out on the road
It’s great to be here to rock you all
I know, for me it is like
Coming home

Catatan tambahan, Savage Amusement adalah album pertama Scorpions yang saya saksikan kemunculannya di Indonesia. Maklum saya baru benar-benar menyukai Scorpions setelah beli World Wide Live itu. Sayangnya ekspektasi saya yang mengira lagu-lagu di Savage Amusement akan seenerjik seperti lagu2 lama Scorpions di WWL tak terbukti.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 152 other followers