Music for The Uncommon Man Vol. 1

June 26, 2014

Hippienov

italian prog

Kompilasi ini boleh jadi kompilasi paling unik yang aku punya karena lagunya berbahasa bukan Inggris melainkan Italia yang sama sekali aku gak mengerti. Jadi kalo lagi mendengarkan cd ini ya cuma bisa menikmati musiknya saja tanpa mampu mengerti apa pesan yang ada dalam lagunya. Paling aku ngawur menerka-nerka kalo musiknya agak pelan/mellow berarti isinya lagunya tentang suatu kesedihan dan sebaliknya. Dasar gemblung, hahaha…

“Music For The Uncommon Man” adalah istilah yang aku pakai untuk kata lain “prog-rock” dan idenya aku ambil dari lagu E.L.P “fanfare for the uncommon man”, nyambung gak ya? Embuh lah… Sing penting judule keren dan kayaknya ada unsur nge-prog nya.
Kompilasi ini adalah koleksi lagu dari band-band prog Italia dan sebenarnya sudah aku buat jauh hari di masa “heyday” karirku nearly 10 years ago. Karena unik dan cuma satu-satunya yang aku punya maka aku re-packing lagi dengan banderol baru. Berikut songlist nya:

1. Cella / Il Rovescio Della Medaglia.
2. Villa Doria Pamphili / Quella Vecchia Locanda.
3. Dietro Una Porta Di Carta / Semiramis.
4. L’isola Di Nienta / P.F.M.
5. Peccato D’orgoglio / Alphataurus.
6. Cento Mani E Conto Occhi / Banco del Mutuo Soccorso.
7. Confessione / Biglietto Per L’inferno
8. Terzo Tempo / campo Di Marte.
9. Principe Di Giorno / Celeste.
10. Scinsione / Cervello.
11.Gente In Amore / Il Volo.
12. Specchio / Jumbo.
13. L’equilibrio / Le Orme.
14. Una Delcezza Nuova / Le Orme.
15. Forse Le Lucciole Non Si Amano Piu / Locanda Delle Fate.
16. Spacciatore Di Droga / Metamorfosi.
17. Superuomo / Museo Rosenbach.
18. Cadenza / New Trolls.
19. Lo Spettro Dellagonia Sul campo / Nuovo Era.
20. Oro Caldo / Osanna.
21. Per Un Amico / P.F.M.
22. Dopo Niente E’piulos / Quella Vecchia Locanda.
23. Primo Incontro / Il Balletto di Bronco.

Duh ampun nulis judulnya aja angele pool…
Total 3 cd terpakai untuk menampung semua lagu diatas, dan sebenarnya ada sekumpulan lagu prog Italia lainnya yang tersebar di beberapa kompilasi yang lain. Aku punya keinginan untuk menampung semua lagu-lagu prog Italia ke dalam 1 cd setelah sebelumnya di-konversi ke file mp3.

Kiranya tulisan sederhana ini cukup berkenan dan selalu matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan serta untuk rekan-rekan gemblungers yang sudah sudi mampir membaca tulisan gemblungku ini.

Fill your days with prog…
hippienov

Roar From The Past

June 23, 2014

Hippienov

 

Kompilasi ini sebenarnya sekedar kumpulan lagu-lagu heavy metal era 80an (mungkin ada juga yang dari 70an) yang kebetulan aku pernah dengar atau yang aku suka, namun yang membedakannya dari kompilasi-kompilasi lain yang pernah aku buat adalah kompilasi ini dibuat dengan sentuhan artistik yang jauh lebih apik ala kompilasi resmi label rekaman lisensi serta lebih baik dari segi kualitas rekamannya.

Alkisah pada suatu waktu aku benar-benar rindu dengan musik heavy metal yang aku dengarkan semasa SMP-SMA dan seperti biasa timbul ide untuk membuat kompilasi lagu-lagu heavy metal yang mewakili masa-masa ABG ku itu. Namun ternyata prosesnya gak mudah karena terkendala minimnya file mp3 yang aku punya. Pikir punya pikir iseng-iseng aku sampaikan ide “liar nan gemblung” ku ini pada comrades di Metal Bleeding Corp Medan yang ternyata disambut dengan tangan terbuka dan mereka menyanggupi untuk handle proses “recording” sekaligus design packaging nya, sedangkan aku bertugas mem
buat list lagu apa saja yang hendak dipilih. Walaupun pada akhirnya kompilasi ini hanya sekedar “private collection and not for puiblic release” tapi proses pengerjaannya sudah seperti akan membuat kompilasi resmi berlabel rekaman besar, hehehe…

Akhirnya kompilasi ini terbagi ke dalam 2 volume, proses pemilihan judulnya pun merupakan hasil rembukan “jarak jauh depok-medan” berdemokrasi antara aku dengan team Metal Bleeding Corp. yang final title nya adalah “ROAR FROM THE PAST” yang terbagi jadi 1st edition dan 2nd edition. Berikut adalah songlist nya:

ROAR FROM THE PAST, 1st Edition.
1. Saxon / Waiting for the night.
2. Ratt / Drive me crazy.
3. Cinderella / Shake me.
4. Loudness / Let it go.
5. Nazareth / Hit the fan.
6. Quiet riot / The wild and the young.
7. W.A.S.P / I wanna be somebody.
8. UDO / Go back to hell.
9. Manowar / Blow your speakers.
10. AC/DC / Who mad who.
11. Deep Purple / Mad dog.
12. Warlock / Sign of satan.
13. Motley Crue / Shout at the devil.
14. Alice Cooper / Teenage frankenstein.
15. Judas Priest / Locked in.
16. Iron Maiden / Waster years.
17. Krokus / Burning up the night.
18. Ozzy Osbourne / Goodbye to romance.

ROAR FROM THE PAST, 2nd Edition.
1. Ozzy Osbourne / Over the mountain.
2. Diamond Head / Am I evil?
3. Def Leppard / Overture.
4. Motley Crue / Looks that kill.
5. Poison / Talk dirty to me.
6. Slayer / Hell awaits.
7. Iron Maiden / Caught somewhere in time.
8. Accept / Fast as a shark.
9. Twisted Sister / Under the blade
10. Ozzy Osbourne / Mr. Crowley.
11. Diamond Head / Helpless.
12. Anthrax / Metal thrashing mad.
13. Stryper / To hell with the devil.
14. Motorhead / Ace of spades.
15. Riot / Thundersteel.

Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan dan untuk rekan-rekan yang sudah mampir membaca tulisan gemblung ini, muchas gracias..
Mohon dimaafkan untuk kekurangan yang ada.

The Wild & The Young…
hippienov

Sorry Friends, Disini Banyak Stonesnya

June 23, 2014

Budi Putra

image

Mengenang masa sekolah (SMP/SMA) memang menyenangkan. Sebab dimasa itu pulalah gelagat kebandelan mulai nampak dan dengan sok-sokan suka dicicipinya. Mulai dari nyetun sembunyi-sembunyi sampai bolos sekolah bareng-bareng hanya untuk bisa nonton konser musik rock. Dus dimasa itu pula cinta monyet mulai bersemi…kecuali mas Kukuh…hehehe…just kidding! Tapi yang paling mengasyikan dan mengharu biru tatkala kita mulai mengenal musik dan jatuh cinta pada grup band kesukaan. Dari sinilah ihwal ketertarikan dan perburuan segala sesuatu terkait band kesukaan dimulai yang kemudian terus terbawa hingga kini.

Selagi saya sekolah SMP (tahun 80an) sedang boomingnya The Beatles. Tapi juga dibayangi ketat oleh ketenaran The Rolling Stones. Temen saya bilang anak baik-baik lebih memilih Beatles tapi yang urakan gak bisa diatur mesti lari ke Stones…hehehe. Terus terang, saya awalnya Beatles maniac tapi seiring pergaulan yang ikut dilakoni dan berkat pendekatan teman sekelas maka saya mulai berpaling ke Stones. Gak keliru karena beberapa lagunya memang langsung nyantol dihati. Teman saya bilang kalo Beatles punya “Anna”, Stones ada “Angie”. Penasaran saya pinjem kasetnya dan saya dengerin…weihh, asyik juga nih. Petikan gitar dan permainan pianonya lebih nendang. Sebab lagu “Angie” lantas keingin-tahuan saya semakin dalam dan menjadi-jadi. Untuk itu, selain dipinjamkan kasetnya saya juga berupaya beli kaset Stones di Aquarius, Aldiron Blok M. Kaset pertama yang saya beli album Let it Bleed dan The Best The Rolling Stones. Sejumlah posternya pun mulai menempel disisi poster-poster Beatles. Di sekolah saya mulai rajin ngomongin Stones, selain mulai hobi corat coret didinding dan bikin grafiti “lidah melet” yang kesohor itu. Bukan hanya lagu-lagunya namun sampai penampilan/gaya mereka saya katakan pada teman-teman lebih cocok dan asyik dipandang. Dan sepertinya saran saya ini mengena. Karena selang beberapa waktu kemudian mereka mulai suka bersiul beberapa tembang populer dari Stones. Nah. mulai kena nih…gumam saya. Waktu itu juga sedang ngetrennya bikin gank. Maka tak mau ketinggalan kami pun bersepakat membentuk gank yang namanya kami comot dari salah satu lagu Stones: Sister Morphine—namanya aja yang serem padahal gak tau juga tuh arti sebenarnya…apalagi ikut-ikutan jadi morpinis…gak deh. Pilihan nama ini biar dibilang keren, sangar dan nyetun aja.

Semenjak itu kemana pun kami berada selalu setiap dengan gitar akustik dan nongkrong bareng diringi lagu-lagu Stones. Ada beberapa lagu favorit yang biasa kami nyanyiin seperti “Under the Broadwalk” “Tell Me”, “Out of Time” “Angie”, “Heart of Stones”, “Spider and the Fly”, “Rubby Tuesday”, “As Tears Go By”, “Jumpin Jack Flash”, “Honky Tonk Woman”, dan lagu-lagu lainnya. Asyik, sambil nyanyi sesekali belajar ngisep filter…sekali dua kali ngisep batuk kemudian…hehehe. Ini lah salah satu dampal negatif Stones…hahaha. Bila ada konser yang guest starnya Cikini Stones Complex atau Acid Speed…dimanapun mereka berada (manggung) akan kami kejar. Walau kantong cekak alias dana pas-pasan.

Soal ini juga kami bawa ke tempat favorit kami apalagi kalo bukan belakang kantin sekolah. Setiap kelas punya tongkrongan favoritnya. Misal anak kelas A didepan kantin, anak kelas B, disamping kiri kantin, dan anak kelas C disamping kanan kantin. Maka kelas kami, kelas C, berada dibelakang kantin deket kandang ayam pemiliki kantin. Agar tempat favorit kami tambah disegani maka ditembok belakang kantin kami tulis dengan pilox: “Sorry friends, disini banyak Stonesnya” plus gambar lidah melet persis berada dibawahnya. Kami pikir dengan dibuat Stones area seperti itu gak akan ada anak kelas lain yang macem-macem nongkrong ditempat ini apalagi coba-coba bawa gitar lantas mainin lagu selain punyanya Stones…hehehe.

Kultur pemberontakan yang dibawa para personil Stones kiranya pas dengan suasana hati kami pada saat itu. Jujur saja sebagian dari kami yang bersekolah pada saat itu kurang merasa nyaman dengan sistem pengajaran yang diberikan para guru yang cenderung membosankan, menjenuhkan, dan membuat kami selalu merasa tertekan dengan metode pengajaran yang mereka, para guru, berikan kepada kami anak didiknya. Setelah kuliah saya baru memahami metode/sistem pendidikan dimasa Orba melalui buku-buku yang saya dapatkan dari teman-teman di Jogyakarta. Seperti buku “Pendidikan Kaum Tertndas” (Paulo Freire), “Sekolah itu Candu” (Roem TM), dan sejumlah buku lain terkait masalah pendidikan. Melalui buku-buku inilah saya jadimemahami rupa dari sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah. Sebuah sistem yang malah membelenggu alias tak membebaskan anak didiknya dalam mengenyam setiap pelajaran yang diberikan. Soal ini juga yang dikritik Pink Floyd dalam mahakarya The Wall. PF mengkritik habis-habisan sistem pendidikan yang berlaku di sekolah.

Kembali ke Stones. Jiwa pemberontakan, anti kemapanan, dan menolak terhadap perang sepertinya menjadi oase bagi kami pada saat itu. Bukan hanya bagi kami sisi urakan Stones juga merembes kekalangan lumpen (masyarakat miskin kota) dengan lakon pemberontakannya. Tidak mengherankan bila dikantong-kantong area miskin kota banyak pemudanya yang gandrung dengan Stones. Menurut saya inilah simbol pemberontakan dan penolakan atas kemapanan dan ketidakadilan yang mereka rasakan. Bahkan dengan menggemari Stones boleh dikatakan sebagai tempat pelarian bagi sebagian anak-anak muda dari kondisi sosial yang ada pada saat itu dan mungkin juga sekarang: menganggur dan masa depan yang mengawang-ngawang.

Rolling Stones nyatanya bukan hanya sekedar tipikal sebuah grup band. Namun kehadirannya telah menjadi inspirasi baik secara positif juga negatif bagi sebagian besar anak-anak muda diberbagai belahan dunia dengan sudut pandang/spektrum yang berbeda-beda. Namun Stones serasa mewakili gairah dan juga kegundahan mereka akan pranata dunia yang hiruk pikuk dan timpang ini.

Mini Progring “Akbar” di Surabaya

June 22, 2014

image

Alhamdulillah barusan aja selesai mini progring bersama Koh Win,  bro Apec dan bro Sony. Penghargaan setinggi-tingginya kepada Koh Win yang semangat silaturahimnya luar biasa sampai melakukan safar dari Klaten ke Surabaya untuk pertemuan penuh makna ini. Tersentuh saya dengan perjuangan dan semangat Koh Win ini. Salut dan huwebaaat! Semoga Tuhan membalas kebaikan Koh Win ini dengan pahala yang melimpah.

Tentu juga buat Bro Apec sebagai tiab rumah yang rela dan ikhlas mengantarkan kita ke lokasi progring,  semacam Corelli nya Surabaya yang pisang bakarnya mak nyus tenan. Suwun sanget njih,  pak dokter. Sambutan yang luar biasa….!

Salam dari bandara Juanda,
GW

Listen To Me, Just Hear Me Out (5)

June 22, 2014

Khalil Logomotif

image

Rasanya seneeeeng banget, saat membuka bungkus plastik kotak kaset, pandangin dan ngbaca sampul kasetnya, kemudian memutarnya diwalkman, idupin motor..gunjreng…gunjreng.. dan keliling kota, dengerin musik dari kaset yang baru dibeli.

Akan begitu, kalau kaset yang dibeli, musiknya enak dan sesuai selera. Lain ceritanya kalau yg dibeli ternyata ngga sesuai selera pendengaran….caci maki seluruh isi kebun binatang….penyesalan diri karena salah pilih…ketipu dengan sampul yang menggoda. Yah..seperti itulah yang sering saya alami sebagai pengalaman beli kaset..khususnya kaset dari band yang saya ngga kenal sebelumnya. Jaman itu mana ada wiki dan gugel…ditambah lagi..toko kasetnya ngga boleh coba dulu. Andalan utama saya untuk menentukan beli atau ngga, waktu itu adalah…gambar sampulnya….plus sdikit firasat. Seringnya sih…yang kebeli..emang enak dan pas dengan selera pendengaran.

Demikian juga saat saya pertama kali ketemu dan melihat gambar sampul kaset Dream theater Images and Words. Saya ngga kenal dan tdk punya informasi apapun tentang bandnya, tetapi saya sangat sangat terkesima dengan gambar sampulnya. Anak perempuan kecil dgn pakaian tidur, berdiri didepan tempat tidur bertiang yang sangat elegan dan klasik dengan kain tirai merah, pemandangan diluar jendela yang penuh bintang, sebentuk hati yang membara, seting ruangan layaknya istana, dan ada sejenis burung yang masuk melewati jendela. Waaah…ini pasti musiknya agak agak klasik orkestra (saya bener bener ngga tau DT itu musiknya gimana). Kemudian ngliat logo bandnya..dream theater…waaah paslah…tambah lagi judulnya..images and words….mantab punya ini!…..Bungkuuss!

Setelah saya denger….saya suka…musiknya keras, gitarnya tajam dan ngulik ngulik, drumnya rapat rapat dan dahsat..terlebih bass drumnya…guduk..gudug..wuaaah! Kibordnya….bukaaan maiiiin…..pas banget dengan yg saya suka. Nah…waktu denger vokalnya….gilaaa…kok ada yang teriakannya sejernih ini….mantap..pilihan saya ngga salah! ….. Cuma aja..di lagu kedua, halaaahh…kok ada suara seksoponnya? Trus setelah dibaca sampul kasetnya, liriknya….images and words itu maksudnya apa? Kok ngga ada lagu yg nyinggung nyinggung itu? Ngga ada lagu yg judulnya begitu..kan biasanya judul album seringnya diambil dari salah satu judul lagunya. Oh mungkin, images and words adalah temanya, kali?

Begitulah, pertanyaan yang nempel dibenak saya saat pertama sekali berkenalan dgn DT. Dan beberapa hari yg lalu, karena banyak waktu luang, saya nyari nyari tau untuk memuaskan ketidak mudengan saya tersebut. Saya dapetin beberapa informasi yang sdikit banyak cukup memuaskan saya….dan saya yakin temen temen pasti juga sudah pada tau…lebih awal ktimbang saya… Anggap aja, ini sekedar ripresing lah!

Jadi, listen to me, just hear me out.

Setelah berpisah dgn vokalis kedua, Charlie Dominici (yg bikin logo majesty), ternyata butuh hampir dua tahun, baru menemukan vokalis baru, Kevin LaBrie. Dua tahun itu diisi oleh Petrucci cs untuk tetap terus membuat aransemen musik. Tentu hasilnya banyak buanget yang mereka hasilkan, cukup untuk stok beberapa album kedepan. Karena belum nemuin vokalis yg cocok, jadi aransemennya hanya musik instrumental…tanpa vokal.

Setelah LaBrie ikut dan lewat audisi, (kemudian LaBrie memakai nama tengahnya, James, spy ngga ketuker dgn Kevin Moore) judul dan liriknya dibikin untuk masing masing aransemen. Hampir seluruh aransemennya diimbuhi vokal LaBrie, yang memang mereka akui sangat luar biasa…melebihi yg mereka harapkan. LaBrie memberi karakter khusus untuk Dream Theater.

Selanjutnya adalah, menyeleksi dari sekian banyak aransemen yg sudah diisi vokal, yang mana yang akan tidak dipakai. Bukan urusan mudah ini. Hasilnya, kita sudah tahu sama sama. Beberapa lagu terpilih untuk dipaketin di bakal album kedua ini, beberapa lainnya, masuk dijadikan material album berikutnya dan berikutnya lagi. Tugas LaBrie..hanya nyanyi.

Dalam proses penyusunan album ini, awalnya mereka ingin menaruh Another day diurutan pertama untuk dirilis sebagai single, tetapi kemudian batal, mengingat kejadian tidak menguntungkan yg menimpa band Extreme, yang ngetop, lagu baladnya..padahal mereka bukan band spesialis balad. Kemudian diputuskanlah Pull me under yg menjadi single pertama dirilis….dan sukses….berikut juga editing kreatif yaitu dengan menyetop lagu begitu saja.

Dream theater bernaung dibawah label East West Record, diproduseri oleh David Prater, dan meraka melakukan rekaman di Bear Track Studio….yang dimiliki oleh Jay Beckenstein, pemain seksoponnya Spiro gyra…..itulah kenapa di Another day ada nyelip suara seksopon….

Jadi, mungkin karena mereka awalnya memang sudah menyiapkan cukup banyak materi aransemen musik…layaknya kolase guntingan guntingan gambar….sementara lirik, judul lagunya dan vokalnya baru kemudian hari dibikin, bisa jadi kemudian mereka menamakan albumnya dgn judul Images and words. Begitulah kurang lebihnya…

Terima kasih.

Khalil Logomotif

Listen To Me, Just Hear Me Out (4)

June 20, 2014

Khalil Logomotif

image

Kembali lagi kejaman sma, saat pertama denger Yes, Close to the edge…..hasilnya…Pusiiiing yang berkepanjangan! Banyak pertanyaan muncul dikepala. Terutama mengenai, kenapa lagunya kok puanjang banget.

Trus, kenapa penyanyinya (Jon Anderson) bukan seperti sedang nyanyi, tetapi lebih seperti sedang membaca puisi atau lebih tepatnya baca mantra…dibaca cepet cepet, dengan irama yang relatif datar dan serupa…hanya diujung ujungnya aja, sedikit berirama. Ini sih baca mantra yang diiringi musik rock campur musik klasik pakai organ gereja. Kesan saya ini diperkuat dengan ada penggalan lirik atau bait yang terus diulang ulang, dari awal lagu, tengah, sampai akhir lagu…. I get up, i get down….aku naik, aku turun…diulang ulang. Juga banyak banget mengulang ngulang kata river…down at the end, close by a river….close to the edge, round by a corner….diperkuat dengan suara gemericik air sungai mengalir dan kicauan burung diawal dan akhir lagu. Sebenarnya, lagu ini mau nyeritain apa?

Saat itu saya mengartikan close to the edge adalah hampir ditepian. Saya jadi menebak nebak….tepiannya tepian apa? Jurang? Langit? Ruang angkasa? Tepian laut? Atau bantaran kali? Masak lagu sepanjang itu, ceritanya tentang bantaran kali?. Kebingungan saya bertambah…. Sebab di sampul kasetnya, hanya warna hijau daun bergradasi gelap dibagian atasnya. Terkesan mistis dan menghipnotif. Kalau memang tentang bantaran kali, seharusnya warna biru atau coklat atau apa gitu selain hijau, yg lebih mirip dengan air sungai. Tulisan judul albumnya justru ditengah atas, bukan diujung (the edge)…padahal judul albumnya..hampir ditepian! Seharusnya tulisannya berada diujung dong! Bukan ditengah!

Kurang lebih, begitulah kebingungan saya waktu itu….maklum..tarafnya masih sma. Karena terpaan tulisan Yes yg bertubi tubi dari koh Win, beberapa waktu yg lalu, saya baca baca dibeberapa situs dan blog, untuk dapetin jawaban atas kebingungan dan ketidak mudengan saya atas close to the edge…..dan sedikit banyak, saya mendapatkan pemahaman.

Jadi, listen to me, just hear me out.

Semua situs dan blog yg membahas close to the edge, baik mengenai musiknya maupun interprestasi liriknya, memberikan informasi yg kurang lebih sama, yaitu….kagak usah dipikiriiiinn! Dengerin aja udah, kalau suka, diulang, kalau kagak, ya dibuang…atau umpanin kucing! Bahasa sopannya, yang diceritakan Jon adalah poetic nonsense…ngga akan masuk diakal…cuma dia seorang yang paham…halaaahh..Jon..Jon! Memang begitu adanya, kalau mau paham, sepertinya harus kembali ke era album itu dikeluarkan, kembali ketahun 1972. Saya jelas ngga tau bagaimana kondisi ditahun itu, lah sayanya baru lahir.

Yes mengeluarkan debut albumnya, pas sehari setelah peluncuran Apollo 11. Close to the edge diluncurkan tiga bulanan sebelum peluncuran Apollo 17, yg adalah perjalanan terakhir ke bulan. Jaman itu adalah jaman penaklukan ruang angkasa, space age era, jaman eksplorasi, jaman fantasi sayen fiksi…..lsd juga! Jaman itu juga jamannya perang vietnam, feminimisme, hak azazi dan hippis (berbau india, sitar, yoga, ganja, baju bunga celana katbrei dan ajaran spiritual berdasarkan budha/hindu). Kalau ditambah semuanya, jaman itu adalah jaman progressive. Begitu katanya. Jadi, close to the edge lahir dikondisi jaman yg seperti itu, jaman proggresif.

Jon sangat tertarik pada ajaran spiritiual budha/hindu (dan mendakwahkannya kepada temen temennya, bahkan ngakunya bisa masuk kedimensi ke 4), sastra puisi dan mantra mantra, mimpi besar serta dominasi. Jon memakai karangan Herman Hesse, siddhartha (semua juga sudah tahu ini kan), sebagai tema pembuatan lagunya, mengenai keterbaharuan, perputaran hidup, awal adalah akhir, akhir adalah awal (terlihat dari awal lagu akan sama dgn akhir lagu, baik lirik dan musiknya). Dengernya sih, bandmate yg lain ngga mudeng dgn ide begituan, cuma ngekor aja, patuh sama komando dan dominasi Jon….yang penting bisa genjreng aja…udah…soal liriknya cerita apa…sebodowae (terbukti dengan beberapa dari mereka yang keluar dan pindah ke band lain, atau solo, karena ngga betah jadi band pengiring Jon, ribetnya proses penulisan lagu dan musik, dan tentunya dominasi yg berlebihan). Jangankan kita, mereka aja ngga ada yang tau apa arti Khatru…siberian kathru…kata Jon, ngga penting artinya, yang penting enak didenger. Memang kalau dipikir pikir, semua segmen lagu dibangun dengan gaya musik yg tidak sama dari para pemusiknya, gitarnya rock, bassnya jazz, kibordnya klasik, drumnya rock campur jazz…..diadon menjadi satu adonan aransemen yang seperti kita denger dan kagumi selama ini. Semua adalah karya komposisi Eddy Offord produser sekaligus enginer suara Yes, yang menyambung nyambung penggalan fragmen rekaman pita permainan musik masing masing Yesman sesuai arahan Jon, menjadi satu aransemen utuh yang menakjubkan….kemudian diimbuhi vokal, jadi musiknya dulu disusun, baru setelah tersusun, Jon nyanyi mengisi vokalnya. Itu maunya Jon. Mungkin kalau jaman itu sudah ada aplikasi garage band nya Mac, kerjaan Eddy jadi jauh lebih mudah…tinggal rekam…selanjutnya copy and paste! Mudah banget. Ngga perlu ngumpulin potongan potongan gulugan pita.

Okey, kembali ke Jon. Setelah sukses fragile, Jon ingin yg lebih spektakuler, lebih mengawang ngawang (lebih nonsense). Jon terpikir untuk menceritakan pengalaman perjalanan yg dia tempuh sewaktu dia mimpi. Perjalanan dari hidup ke mati. Perjalanan itu diasosiasikan dengan aliran air sungai (makanya ada suara gemericik air sungai dan cicicuit burung) yang bergerak turun menuju laut, kemudian naik lagi (penguapan) kemudian turun lagi sebagai hujan, memenuhi sungai…kemudian mengalir lagi. Sebuah perputaran. Logikanya, untuk naik, maka harus turun dulu..dan untuk turun, maka harus naik dulu….lah iyalah!

Jon memang agak beda dibanding yang lainnya. Dari logat bicaranya saja sudah beda, aksen inggris jadulnya sulit dipahami oleh yang lainnya. Jon berasal dari Lancashire, dan kalau bicara, logatnya ya logat lancashire yg relatif beda dalam pengucapan kata katanya. Misalnya, kata old bacanya owd. Jadi kalau ngomong, susah dimengerti. Jon juga menghilangkan huruf h dari namanya, saat sudah dewasa. Juga sangat tertarik dengan fantasi mistis…drug…sudah pastilah. Anutannya juga beda, Jon menganut aliran syncretic, sejenis aliran yang mencampur aduk beberapa ajaran agama. Makanya, novel siddharta jadi tema close to the edge, dan kemudian buku authobiographi of a yogi menjadi dasar tema album tales from topographic oceans.

Karena saya ngga bisa ngerti liriknya, maka close to the edge itu sebenernya dipinggiran apa, saya ngga dapat jawabannya….mungkin memang ngga ada jawabannya. Close to the edge itu sendiri sebagai ungkapan, bisa diartikan sebagai..hampir aja ngerjain suatu yang ngga bener. Jadi menurut saya, dari pada jadi close to the edge…mending dengerin aja ngaungan hammond wakeman….atau gitaran howe…atau dentuman brufford dan betotan squire…..peduli amat sama apa yg dinyanyiin Jon the napoleon.

Baiklah, sekarang kaver artnya.

Ternyata, Roger Dean rada kecewa dengan garapan ilustrasi album sebelumnya, sebab banyak yang ngirain bahwa Fragile itu adalah buku cerita ketimbang album musik. Maka dirubahlah semuanya. Sama sekali tidak menampilkan objek. Hanya warna….warna hijau bergradasi hitam. Selain itu, Dean juga meng retouch logo Yes menjadi bentuk yang lebih menarik..seperti yang sekarang ini….huruf balon. Logo retouch itu, diperkenalkan pertama sekali di album ini, diletakkan dibawah tulisan judul album, sama seperti saat di album fragile. Nah supaya logonya dominan dan lebih terekpos, maka tidak ditambahkan gambar objek apapun, hanya warna saja sebagai latar belakang. Ilustrasinya, ditampilkan dibagian dalam sampul. Kurang lebih temanya adalah mengenai close to the edge…hamparan air sperti danau, laguna atau billabong, ada juga air terjunnya…yang terletak diatas sebuah puncak atau pecahan gunung batu yang tinggi menembus awan, seperti danau dikalderon gunung api, didominasi warna hijau kartesu dan biru….100%khayalan nonsense…. Mana ada landscape seperti itu! Katanya Dean sangat terpengaruh dan terinspirasi dengan lukisan cina yg memakai tinta dan cat waterbase. Menurut saya, kaver dari band amerika, Kansas point of know return, jauh lebih tepat untuk album Yes ini.

Jadi, yaaaahhh…begitulah. Ngga usah repot mau tau album itu ceritanya apa, cukup nikmati permainan musik yang teramat canggih dari Yes (tentu selain Jon)…..terkadang, saya berpikir, kalau saja Siberian Khatru hanya musik tanpa vokal…waduuuuhhh….bakal bagus banget….ada rocknya, simponicnya, klasiknya dan…ada jazznya..bahkan kental banget.

Dulu saya juga pernah bertanya tanya, kenapa album Dream Theater judulnya Images and Words..gambar dan kata? ….kok ada suara seksoponnya di Another day…..kan band progmetal? kok pake seksopon kaya Kenny G? Bukannya seharusnya pake suling?

Khalil Logomotif

Yes Goes Pop

June 19, 2014

Hippienov

image

Tulisan ini merupakan usahaku menjawab “tantangan” sedulurku Pak Dokter Spesialis Paru van Suroboyo untuk mencoba membuat kompilasi lagu-lagu Yes yang tidak atau kurang nuansamatik. Namun akhirnya aku putuskan untuk menghindari menghujat Yes dengan tidak membuat kompilasi dengan tendensi seperti niat awalku kemudian menamai kompilasi ini “the bad of Yes”. Karena bisa jadi lagu-lagu Yes yang menurutku “jelek” bagi sebagian orang adalah favorite mereka. Takutnya ini bisa jadi pemicu ketegangan antar penggemar Yes nantinya. Lagipula se-kurang “prog” bagaimanapun karya Yes dan walaupun aku tidak menyukainya, aku akan selalu menaruh hormat dan simpati pada band yang pernah menjadi salah satu raksasa prog-rock era 70an ini. Rasanya aku tidak akan pernah mengenal musik “nirwana” prog-rock kalo gak ada kaset “tales from topographic oceans” (Yess Records) yang dipinjamkan teman kuliahku dulu (setelah Genesis “selling england by the pound”). Atas dasar alasan ini maka aku lebih nyaman untuk membuat kompilasi lagu-lagu Yes yang cenderung nge-pop dan menamai kompilasi ini “Yes Goes Pop”. Tidak ada salahnya sebuah band prog mencoba nge-pop apapun dasar alasannya, Genesis, E.L.P, P.F.M, Gentle Giant, Marillion pun melakukannya.

Lebih lanjut, untuk menghargai karya-karya klasik Yes mulai dari album Yes sampai Drama maka kompilasi ini hanya memuat lagu-lagu Yes dari era 80an (90125) dan selanjutnya. Namun tentu saja dikarenakan keterbatasan daya tampung blank cd yang hanya cukup 80 menit maka kompilasi ini hanya bisa memberikan sekelumit gambaran umum tentang karya-karya “pop” Yes. Sebanyak 16 lagu Yes tersaring masuk dalam kompilasi dengan total durasi sekitar 79 menit 43 detik. Sebenarnya durasi 16 lagu ini kalau dijumlahkan akan lebih dari 80 menit, dan karenanya 2 lagu terakhir terpaksa aku edit tanpa mengurangi esensi dan keindahan lagunya, “big generator” aku edit sedikit di bagian intro dan “dangerous” pada bagian intro serta outro. Kerennya seperti “radio edit” atau “single edit” tapi ini versi gemblungnya Hippienov, hahaha… Mengapa 2 lagu ini yang di-edit? Karena setelah aku screening keseluruhan 16 lagu, 2 lagu ini yang paling mungkin di-edit dan masih terdengar bagus meski sudah melalui editing, sedangkan lagu-lagu yang lain akan terkesan maksa jika di-edit.

Satu hal yang mengkhawatirkan adalah setelah cd ini selesai di-burn dan aku spin beberapa kali kok aku seperti “jatuh cinta” dengan lagu-lagu yang ada di dalamnya ya? Lah ini sangat membahayakan karena aku tidak mau nantinya dikelompokkan ke dalam fans Yes kategori “generator” (seperti istilah Koh Win), padahal selama ini aku dengan yakin menyebut diri Yes “trooper”. Berikut adalah songlist nya:

1. Rhythm of love, 2. The calling, 3. Lightning strikes, 4. Owner of a lonely heart, 5. Teakbois, 6. Almost like love, 7. It can happen, 8. To be alive (hep yadda), 9. Open your eyes, 10. State of play, 11. Hold on, 12. Love will find a way, 13. Love shine, 14. Holy lamb, 15. Big generator, 16. Dangerous.

Semoga saja lagu-lagu tersebut betul-betul bernuansa pop tapi kalau masih ada yang nyerempet-nyerempet nge-prog mohon dimaafkan, hehehe…

Demikian sharing ku tentang kompilasi Yes Goes Pop ini, semoga berkenan dan mohon dimaafkan atas kekurangan yang ada. As always, many great thanks to Mas G untuk waktu serta kesempatan yang diberikan and also untuk rekan-rekan gemblungers yang sudah sudi mampir membaca.

Progger goes pop… hippienov

Listen to Me, Just Hear Me Out (3)

June 19, 2014

Khalil Logomotif

image

Buat saya, Thick as a brick Jethro Tull, adalah album paling aneh, mengejutkan dan hueboh! Bayangkan, di saat saya sedang gandrung gandrungnya denger rod stiward dan sejenisnya….tiba tiba saya dihadapkan dengan sebuah kaset yang satu album, dua side kaset, isinya cuma satu lagu! Judul lagunya ya judul albumnya! Gimana mau disiulin…very very unsiulable!

Saya pertama denger album ini, juga waktu sma, hasil minjem punya sepupu yg waktu itu sudah kuliah, bahkan hampir wisuda. Waktu itu, saya pikir, apa mereka yg dewasa itu, musiknya yg aneh aneh seperti ini, baru disebut hebat?….taraf ke sma an saya tetep ngga bisa terima….apanya yg hebat? Itusih namanya ngga kreatip…bertele tele. Waktu itu juga, saya pikir thick as a brick artinya adalah setebal bata….menunjukkan suatu yg kuat dan susah ditembus.

Disisi lain, kaver art disampul kasetnya, seperti lembaran depan surat kabar, St. Cleve Cronicle, dgn gambar tajuknya adalah seorang anak kecil yg mukanya cemberut, pake kacamata berambut poni…pasti ini sejenis nerd!….sedang dirangkul dan dihadiahi secarik kertas oleh seorang bapak tua, sepertinya guru atau pejabat. Dilatar belakang ada gambar ibu ibu dan disamping ada gambar seorang gadis yg wajahnya juga cemberut, dan agak agaknya, roknya kependekan sehingga sedikit kliatan isi dalamnya. Apa artinya ini?

Nah, di headline nya, ditulis bahwa juri juri mendiskualifikasi si kecil Milton. Oke…waktu itu saya pikir, si anak kecil cemberut itu pastilah Milton, yg sedang ikut suatu perlombaan (ternyata lomba tulis puisi), menang jadi juara satu, tetapi kemudian dibatalkan….wajar aja dia cemberut. Dan gadis yg dibelakangnya, mungkin kakaknya…yg juga ikut cemberut karena adiknya ngga jadi menang.

Lalu, apa hubungannya dengan thick as a brick? Ketidak mudengan saya ini sudah lama nempel, dan akhirnya kemarin saya dapetin jawabannya…setelah blog walking kemana mana.

Jadi, listen to me, just hear me out.

Kalau dulu saya artiin sebagai setebal bata, sebenernay Thick as a brick kurang lebih artinya adalah ungkapan terhadap kebebalan, kebegoan, ngga sanggup mikir atau lemot. Berarti, JT menceritakan dengan panjang lebar mengenai suatu kedunguan. Diceritakan bahwa, sikecil Milton (lengkapnya Gerarl Bostock) ikut perlombaan puisi. Puisinya menang, jadi juara satu, sungguh luar biasa, padahal dia baru 8 tahun. Tetapi, kemudian diprotes, karena isi puisinya ada menyebut bahasa kotor yg dianggap tidak pantas dan tidak boleh diucapkan dalam puisi…apalagi yg nulis anak usia delapan tahun. Kemudian kemenangannya dibatalkan. Nah..semua isi puisi Milton itu, kemudian diadaptasi oleh JT untuk menjadi tema album konsep JT , jadi thick as a brick adalah adaptasi dari puisi Milton tersebut.

Tetapi….ternyata? Semua itu, mulai dari sikecil Milton, kompetisi puisi, puisi yg diprotes, juri juri, kemenangan yg dibatalkan, bahkan surat kabarnya….semuanya adalah palsu belaka…karang karangan belaka…hanya lelucon tipu tipuan pura puraan. 100persen dagelan. Jadi..kalau album konsep ini berasal dari adaptasi puisi Milton…berarti seluruhnya hanya karang karangan belaka…atau bisa dibilang sebagai album konsep yang tidak berkonsep….ngga lebih dari pada..lelucon…dagelan. Menurut hemat saya ini artinya adalah….menciplak yang palsu…sudah ciplakan..palsu pulak. Kalau percaya itu asli…bearti thick as a brick!

Kenapa bisa begini ceritanya?

Ini semua berawal dari ketidak senangan Anderson terhadap penyimpulan pengamat musik, bahwa Aqualung (album sukses sebelumnya) adalah musik progresive dan adalah sebuah album konsep. Padahal saat itu, Anderson meyakinkan dan menyampaikan bahwa musik dari bandnya lebih mengusung blues rock, folk dan jazz, ketimbang prog….dan bukan album konsep…yg diera itu, album konsep menjadi ukuran prog tidak prognya sebuah band. Dan menurut saya, memang benar begitu adanya, sesulit apapun komposisinya, ditukik dan ditikung…rasa folk music nya masih tetap tebal dan nyaring bisa dirasakan. Mungkin untuk melampiaskan kegundahannya, kekesalan terhadap salah paham itu, Anderson berniat akan kasi pelajaran, biar nyahok… bikin sebuah album yang akan dikira bener bener sebuah album konsep….induk dari segala album konsep….satu album…satu lagu…titik. Maka lahirlah thick as a brick. Yang, sekarang, kalau saya artikan, kurang lebih Anderson bilang begini..dasar dungu! Kalau mau album konsep….yang lagunya panjang nyambung menyambung…nih saya kasi satu album satu lagu…biangnya album konsep…kurang apa lagi. Atau bisa juga begini…Begitu aja kok susah banget mikirnya…dasar dungu! Kok ya ngga bisa ngbedain yg mana konsep yang mana ngga konsep. Son..son..nih dengerin dagelan dari kami! …begitulah kira kira.

Lantas kemudian, Thick as a brick, digambarkan sebagai sebuah aransemen musik yang berdasarkan sebuah konsep, konsep itu berasal dari sebuah kejadian nyata yang terjadi…kejadian faktual yang terekam dan terdokumentasi dalam berita surat kabar. Memang, dalam penyajiannya, album ini dilengkapi dengan banyak properti visual yang sekonyong konyong mengarahkan kita untuk menganggap ini semua adalah sebuah tema, sebuah konsep, asli, true story, bukan karang karangan, bukan dagelan, bukan khayalan. Surat kabarnya dibikin seasli mungkin, bahkan lengkap dengan tts dan kolom sambung sambung titik untuk anak anak. Beritanya juga dibikin seolah olah berita beneran. Kemudian belakangan hari, lebih parah lagi..ada gosip mengenai gadis di foto yg mukanya cemberut, cemberutnya karena minta pertanggung jawaban kepada Milton, atas…..kehamilannya! Ya ampun….bener bener deh. Mungkin kalau jaman sekarang…upaya Anderson ini disebut dengan viral marketing.

Isi lagu yg disampaikan dalam album ini, yang katanya dari adaptasi puisi Milton, secara singkat dapat disimpulkan mengenai seorang anak yg galau untuk menentukan cita citanya, mana yang ingin dijalani dan ditempuh, apakah jadi tentara, jadi seniman atau jadi apa.

Saya masih tetep ngga mudeng….tetapi dari sedikit informasi dan cerita dibalik layar yg saya dapetin, sudah bisa menjawab pertanyaan…kenapa satu album satu lagu….ternyata hanya untuk lelucon belaka….lelucon mengenai album konsep. Dagelan Jethro Tull.

Berikutnya….album Close to the edge. Sebenarnya dipinggir apa? Dipinggir jurang?…terus…i get up..i get down?

Khalil Logomotif

Musik Yes Di Ambang Senja (10 of 10)

June 18, 2014

Herwinto

image

Horeee….. Yes Merilis Album Baru !!………

Alhamdulillah di usianya yang sudah semakin udzur Steve Howe dan kawan kawan masih berusaha memberikan sumbangan karya mereka untuk membahagiakan para penggemarnya….Heaven And Earth…inilah album terbaru mereka yang akan dirilis bulan Juli mendatang. Saya berharap album ini benar benar bagus dan tidak mengecewakan. Berbeda dengan Fly From Here yang merupakan bahan bahan lama bersama The Buggles, kali ini Heaven And Earth adalah materi asli Yes bersama vokalis muda Jon Davison yang tahun lalu konser di Indonesia juga.

Heaven And Earth menurut Steve Howe adalah konsep ‘Baik dan Buruk’ atau ‘Kekal dan Sementara’ jadi ini menggambarkan tentang dunia yang serba fisik dan kehidupan baru yang bersifat abstrak. Tidak peduli dengan konsep keyakinan apa yang Anda anut namun hanya dibutuhkan kesadaran bahwa terdapat kehidupan diluar sana yang kita belum bisa merasakannya sekarang bahkan belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Jon Davison digambarkan oleh Howe sebagai seorang penulis lagu dan lirik yang excellent, kontribusinya sangat besar dalam hal menulis lagu maupun lirik, tidak seperti Benoit David yang tak becus menulis lagu sehingga Trevor Horn harus turun tangan pada Fly From Here. Untuk membuat album ini bahkan Jon Davison pun harus mengunjungi keempat personil Yes satu persatu untuk bersama sama berkarya secara terpisah, ‘Saya harus mengenal seorang demi seorang dari mereka dengan baik untuk menyusun komposisi lagu bersama mereka’, ungkapnya. Howe juga menyatakan bahwa pada album ini tak ada nomor epic yang biasanya panjang panjang, sebenarnya ada nomor epic yang mereka punyai namun sebuah album tidaklah harus memiliki durasi waktu yang panjang tetapi lebih kepada cita rasa yang dimilikinya, Jon juga mengungkapkan bahwa ada nomor epic yang dia sebut sebagai ‘A Big Prog Pieces’ namun waktu yang sangat terbatas karena tour tour yang panjang membuatnya belum bisa menyelesaikannya, mungkin untuk album berikutnya saja, tuturnya. Howe mengungkapkan bahwa album ini memiliki harapan dan kesegaran baru, Semoga!! dan inilah yang kita tunggu tunggu…harapan dan kesegaran baru!!

Track List
Believe Again 8.02
The Game 6.51
Step Beyond 5.34
To Ascend 4.43
In A World Of Our Own 5.20
Light Of The Ages 7.41
It Was All We Knew 4.13
Subway Walls 9.03

—-

Time and Fragile

June 18, 2014

Andria Sonhedi

image

ini kabar baik utk penggemar berat Yes seperti pak Herwin/Koh Win. Di wall-nya FB pak Roger Dean, ilustrator sebagian besar album2 Yes, ada tawaran jam dengan background album Fragile.

Berikut adalah kutipan penjelasan pak Roger:

“There are twenty five of these Disc Union watches on my website. The face of the watch is an image of the Fragile planet and the second hand that moves over the face of the watch is the flying machine from the intro page of, ‘Views’ as seen from above.”

Ini benar2 membuat yg makai jadi prog tulen, apalagi kalau Koh Win.Yah, pak gatot bakal keren juga sih kl punya jam ini :) Saya jadi mikir, apa saya juga perlu mbuat jam dinding yang macam itu lewat Kedai Digital. Maklum saya tak terlalu berharap bisa dapat jam tangan yg asli itu :)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers