Dahzyatnya The Flower Kings (3 dari 15)

April 15, 2014

Herwinto

image

Flower Power Track 01

Bagi Anda yang tidak berjiwa prog jangan coba coba mendengarkan album ini karena pasti Anda akan lari terbirit birit, juga bagi Anda yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga mendengarkan musik hanya sambil lalu saja dijamin nggak akan dapat ‘soul’ nya album ini, di album yang bertajuk Flower Power ini memang Roine Stolt mengajak kita untuk secara totalitas menikmati album ini, jadi hati, pikiran dan waktu kita juga harus benar benar prog….bagaimana tidak??? lha wong di album ini baru track pembuka saja yaitu track 01 yang berjudul Garden Of Dreams waktunya sudah 59 menit 16 detik, edaaaaaan!!! itu baru track 01 padahal masih ada 14 track lagi….hwa ha ha ha ha…… ini album memang ngguwajak tenan!!

image

Garden Of Dreams ini terdiri dari 18 sub judul lagu, total durasi waktu album ini adalah 140 menit, sekitar 2 jam lebih 20 menit..sungguh melebihi durasi waktu Foxtrot nya Genesis maupun Topographic nya Yes. Pada tret kali ini saya bahas dulu saja track 01 sisanya di tret selanjutnya.

Menikmati lagu ini layaknya menikmati Suppers Ready ataupun The Lamb Lies Down yang merupakan potongan potongan segmen cerita yang menjadi satu kesatuan utuh, sungguh menikmati lagu ini merupakan sebuah pengalaman spiritual yang tak bisa dilukiskan dengan kata kata, syaratnya hanya satu!! yaitu konsentrasi, cari waktu yang hening, misal di malam hari dan nikmati dengan sungguh sungguh setiap segmen lagunya, ikuti saja seperti air mengalir…..sungguh keren, warna warni musiknya benar benar membuat kita terbang jauh menembus cakrawala tanpa batas…Salah satu kesukaan saya dalam mendengarkan musik adalah adanya suara gitar yang melodius (melodinya sungguh indah) dan suara kibor yang bersahut sahutan, dan ini ada serta saya temukan di The Flower Kings, pas sudah, memang musik mereka benar benar indah, salah satu nomor yang saya putar berulang ulang di lagu ini yaitu Sunny Lane kemudian nyambung ke Gardens Revisited melodinya sederhana namun benar benar mantab, sukar saya menjelaskannya, silahkan Anda mendengarkan sendiri deh..

Memang motor The Flower Kings terletak pada Roine Stolt yang permainan gitarnya mengaduk aduk emosi serta Thomas Bodin yang juga permainan kibornya nunjek ulu hati….. Musik telah banyak menyanyikan banyak fase dalam kehidupan kita, bahkan sampai pada hal yang tak terbayangkan -yakni sisi gelap kemanusiaan-, seperti yang sering kita jumpai pada kebanyakan musik metal, meskipun tak selalu demikian, tapi jika ada harapan terhadap musik sebagai penerang jalan menuju keadaan yang lebih baik tetap saja dapat dikatakan lebih banyak ilham yang bisa dieksplorasi dari segi segi yang sarat kegembiraan. Adalah Roine Stolt salah satu musisi masa kini yang sangat meyakini hal itu, dia memang tak dikenal di tataran populer atau mainstream, namanya tak banyak dikenal, walau demikian melalui kegiatan bermusiknya lewat band The Flower Kings yang dia bentuk di tahun 1994 dialah personifikasi yang tepat untuk dukungan terhadap ”kekuatan kekuatan baik”, ”cinta”, ”cahaya” dan ”kedamaian”. Mengapa hal itu penting? Keinginan Stolt sederhana saja, ”Saya ingin muncul sebagai alternatif bagi banjir musik metal masa kini yang cenderung destruktif, gelap dan jahat, hitam dan cenderung bunuh diri” ungkapnya dalam pengantar solo albumnya yang berjudul The Flower King yang menjadi fondasi pendirian The Flower Kings.

Waduuuh saya kok nglantur kemana mana nih, ha ha ha ini gara gara pengaruh Sunny Lane yang membuat pikiran saya terbang kemana mana juga…..saat ini saya baru sebatas menikmati musiknya saja, belum merambah ke pesan pesan yang terselip di lirik lirik lagunya, mungkin perlu waktu untuk mendalami pesan pesan di balik lagunya. Mungkin senior saya mas Khalil lebih menguasai tentang pesan pesan dibalik lagu lagu The Flower Kings.

Garden Of Dreams (59:16)
-Dawn
-Simple Song
-Business Vamp
-All You Can Save
-Attack Of The Monster Briefcase
-Mr Hope Goes To Wall Street
-Did I Tell You?
-Garden Of Dreams
-Dont Let The d’Evil In
-Love Is The Word
-There’s No Such Night
-The Mean Machine
-Dungeon Of The Deep
-Indian Summer
-Sunny Lane
-Gardens Revisited
-Shadowland
-The Final Deal

Cinderella “Night Songs”

April 15, 2014

Budi Putra

image

Cinderella salah satu band glam rock era 80-an yang albumnya sempat saya miliki. Hal ini berkat bujuk rayu seorang teman semasa sekolah dulu. Dia memperkenalkan sekaligus meminjamkan album Night Songs pada saya. Teman saya ini, Imam namanya, memang fans berat band-band glam rock seperti, Bon Jovi, Poison, Europe, Britny Fox, bahkan Heart pun juga dia sukai. Tapi herannya dia enggak suka dengan Motley Crue. Entah mengapa?

Bagi saya yang waktu itu lebih gandrung pada band claro era 70-an, sebenarnya kurang begitu tertarik dengan tempo musik band glam rock yang menurut saya biasa-biasa saja. Namun untuk menghargai teman kali ini saya coba mendengarkan album Night Songs ini. Setelah saya putar via mini compo saya agak terkejut dengan karakter vokalnya yang berat dan serak serta irama musiknya yang condong ke hard rock. Lagu “Nobody’s Fool” tentu yang paling memikat saya karena lagu ini dilantunkan dengan sebuah power ballad yang terbilang megah. Saya merasa seperti ada yang berbeda pada lagu ini dimana karakter vokalnya terasa berbeda bila dibandingkan dengan band glam rock lainnya yang cenderung cempreng atau melengking. Lagu-lagu lainnya yang saya dengarkan seperti “Night Songs” dan “Shake Me” merupakan lagu yang sangat menarik untuk didengarkan.

Menengok kiprah Cinderella yang sebelumnya bernama Saints in Hell. Namun karena tak kunjung menuai hasil, Carl Thomas Keifer (vokal, gitar) dan Eric Brittingham (bass) memilih nama Cinderella sebagai nama baru band mereka. Rupanya nama baru ini mulai menuai hasil. Suatu hari di tahun 1985, Cinderella bermain di Empire Rock Club, sebuah club di Philadelphia yang menjadi tempat penting bagi perkembangan musik hair metal di East Coast pada tahun 80-an. Aksi panggung mereka disaksikan Jon Bon Jovi yang terkesima dengan permainan Cinderella terutama gaya bermain gitar Keifer yang ngeblues. Alhasil, Jon merekomendasikan Cinderella pada Derek Shulman, A&R PolyGram Record. Setelah mendengarkan Cinderella bermain, Derek setuju untuk merekrut mereka. Cinderella lantas teken kontrak di label Mercury/PolyGram Record.

Mereke mulai merekam album debut Night Songs. Di tengah pengerjaan album ini, drummer Jody Cortez keluar dan digantikan oleh Fred Coury, mantan drummer dari band hair metal bernama London. Album debut yang dirilis pada 1986 ini membuat Cinderella menjadi salah satu best new comer dalam scene hair metal di Amerika, dan albumnya terjual hingga beberapa juta kopi. Tidak hanya itu, album ini juga mencapai peringkat 3 dalam Chart Billboard pada Februari 1987.

Kesuksesan Night Songs diikuti dengan tur pertama Cinderella. Saat itu tahun 1986, Cinderella melakukan tur dengan Poison, salah satu band hair metal legendaris. Dua band itu membuka konser Loudness, band heavy metal asal Jepang. Lantas pada tahun 1987 Cinderella tur selama 5 bulan untuk membuka konser David Lee Roth.

Songs~

Side A
Nigth Songs
Shake Me
Nobody’s Fool
Nothin’ For Nothin’
Once Around The Ride

Side B
Hell On Wheels
Somebody Save Me In
From The Outside
Push, Push Back Home Again

Bands~
Tom Keifer: Lead vocals, Guitar, Piano
Eric Brittingham: Bass, Vocals
Jeff LaBar: Guitar, Vocals
Fred Coury: Drums

The Beatles dan Ariesta Birawa Mampir di Jalan Surabaya

April 15, 2014

Copas dari artikel yang diposting kakak saya, mas Henky, di sebuah milis. Karena terkait dengan kita, maka saya posting di sini. Terima kasih, ———— GW

PASAR UNIK

The Beatles dan Ariesta Birawa Mampir di Jalan Surabaya

Piringan hitam The Beatles hanya mampir sejenak di lapak milik Lian (50). Ti­dak berapa lama, setumpuk rekaman kelompok musik legendaris asal Inggris itu berpindah tangan ke pemilik baru yang merupakan warga negara Jepang.

Bagi peminat musik lawas dan piringan hitam, lapak-lapak di sepanjang Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, itu me­rupakan tempat berburu yang mengasyikkan. Tempatnya mudah dicapai karena terletak di tengah kota Jakarta. Jalan Su­rabaya diapit Jalan Diponegoro dan Jalan Cilacap. Lokasi pasar berjarak sekitar 1 kilometer dari Stasiun Kereta Api Cikini. Bisa juga ditempuh dengan beberapa bus, antara lain PPD 213 Kampung Melayu-Grogol. Ada juga area parkir mobil di depan la­pak-lapak. Sayangnya, area par­kir sepeda motor berada di trotoar seberang lapak.

Pedagang jalan Surabaya

Ada 12 lapak yang menjual piringan hitam di Jalan Sura­baya, bertetangga dengan ratusan lapak yang menawarkan ba­rang antik berikut koper dan tas.
Jika mendapatkan koleksi pi­ringan hitam dari grup musik atau penyanyi yang populer di era 1960-an atau 1970-an, bisa dipastikan umur piringan hitam itu tidak lama di lapak. “Lebih banyak yang mencari daripada yang menjualnya,” kata Lian, Minggu (13/4).

Tidak hanya grup musik mancanegara, seperti The Be­atles, yang punya banyak penggemar. Grup musik lokal, seperti Ariesta Birawa, yang populer tahun 1970-an, Semalam di Ma­laya milik Saiful Bahri, atau tembang-tembang penyanyi Ebiet G Ade juga tidak kalah populer dan diburu disini.
“Kalau ada piringan hitam yang kondisinya masih sangat bagus, harga jualnya bisa sampai jutaan,” kata Lian yang melanjutkan usaha orangtuanya.

Maka, keberuntunganlah yang menjadi salah satu faktor yang tidak kalah penting manakala kita berburu barang unik di Pasar ini. Kalau masih penasaran dan ingin mendapatkan barang yang dicari, bolehlah kita tinggalkan nomor kontak agar bisa dihubungi penjual barang. Mereka akan menghubungi kita jika barang yang dicari ada di tangan. Sebab, ketersediaan ba­rang bekas ini sangat tergantung ada atau tidaknya orang yang menjual barang ke pedagang di situ.

Lain piringan hitam, lain lagi aneka barang antik. Ratusan bahkan ribuan jenis barang an­tik dipajang di 112 lapak yang ada di situ. Barang antik yang dimaksud, mulai dari sendok perak, hiasan perak, mainan se­perti angklung, setrika besi de­ngan logo ayam jago, lampu hias, bel sapi, sampai jam kapal, tersedia di sini. Pembeli juga bi­sa meminta agar barang yang dibeli disepuh kuning agar terlihat antik

Bagi yang tertarik dengan tas, sepatu, atau jaket dari kulit sapi atau kambing, puluhan peda­gang juga menyediakan beragam pilihan. “Barang dari kulit yang dijual di sini adalah barang pi­lihan, baik produksi dalam maupun luar negeri. Harga barang lokal bisa separuh dibandingkan barang luar negeri. Beberapa penjual juga menerima pesanan pembuatan sepatu kulit,” kata Nanang Suryana, koordinator pedagang koper dan tas.

Pemburu barang antik ini harus menyiapkan kaki untuk kuat berjalan menyusuri trotoar se­panjang sekitar 600 meter. Pembeli juga harus rajin-rajin menyisir setiap lapak karena sejumlah lapak memiliki ciri khas barang yang ditawarkan.

Jangan lupa menawar
Tawar-menawar saat bertransaksi di pasar ini merupakan sa­lah satu tips yang bisa dilakukan calon pembeli ataupun calon penjual barang bekas. Tidak ada standar harga kecuali kesepakatan di antara kedua pihak.

Harga jual piringan hitam lagu tahun 1970-an dari band lo­kal terkenal bisa mencapai jutaan rupiah. Itu pun banyak yang mencari. Sebaliknya, harga piringan hitam dari penyanyi atau grup yang kurang populer berkisar Rp 100.000 sampai Rp 300.000.
Harga barang-barang antik berupa aksesori dari Rp 100.000 hingga jutaan rupiah.
Harga jual tas perempuan berbahan campuran kulit dan sintetis mulai Rp 300.000. Jika menginginkan tas dari bahan kulit seluruhnya, harganya bisa mencapai Rp 600.000. Tentu saja harga ini tidak bisa jadi patokan karena harga tas bergantung ukuran, model, dan bahan.
Selain itu, kehati-hatian juga diperlukan untuk memastikan keaslian dan kualitas barang, terutama barang antik

Ujang, penjual barang antik, mengatakan, tidak semua ba­rang yang dijualnya antik Sebagian adalah barang baru yang dipermak sehingga seolah-olah barang lawas.
Barang antik merupakan cikal bakal pasar ini. Ujang mengatakan, semula penjual barang antik keliling memanfaatkan kerindangan pohon di Jalan Surabaya ini untuk beristirahat tahun 1970-an. “Dari satu-dua pedagang, lantas membentuk seperti lapak gelaran. Orang mulai mengenal tempat ini se­bagai tempat menjual barang antik,” katanya.

Lokasi penjualan barang an­tik ini lantas ditata menjadi kios-kios di trotoar. Untuk memberikan tempat bagi pejalan ka­ki, ada garis merah pembatas barang dagangan penjual. Seki­tar satu meter lebar trotoar dijadikan tempat berjalan kaki. Sayangnya, masih ada pedagang yang menaruh kursi di area pe­jalan kaki sehingga memakan ruang bagi pedestrian.

Jika tertarik berburu barang unik di pasar ini, pastikan Anda tiba antara pukul 08.00 dan pu­kul 18.00 sesuai jadwal operasional resmi pasar ini.

Kemana Raibnya Kaset Yess?

April 14, 2014

Budi Putra

image

Sabtu (12/4) kemarin, bersama istri dan anak saya niatkan untuk mengunjungi Jalan Surabaya (jalsur). Tujuan utamanya yang saya sampaikan juga ke istri (menkeu), ingin membeli kaset seken di tempat itu. Apalagi kalau bukan membeli kaset seken rekaman Yess yang termashyur itu. Namun apa hasil, setelah menjajaki beberapa kios ternyata tak satupun kaset Yess saya jumpai. Sebagian besar hanya kaset-kaset rekaman standar dan lisensi saja. Penjual bilang kaset-kaset Yess sudah habis diborong. Nah loh!

Saya kurang tau persis apakah raibnya kaset-kaset Yess akibat dari liputan di majalah Tempo yang lalu? Sehingga sekarang banyak mata kini tertuju pada rekaman yang satu ini dengan segala macam kepentingannya: entah dia sebagai kolektor kelas kakap sehingga berkepentingan memborong habis kaset Yess. Atau ada upaya segelintir orang—istilahnya mas Kukuh, kartel—yang melakukan penimbunan agar kelak bisa dijual dengan harga menjulang (permainan pasar)? —kayak BBM aja, hahaha. Mungkin juga karena barang yang satu ini memang sudah langka dipasaran karena tingginya permintaan? Wah, pikiran saya saat itu jadi berduga-prasangka. Akibatnya, saya jadi enggak fokus nyari kaset karena pikiran saya yang melayang-layang kayak layang-layang yang dihempas angin. Untuk menghibur hati yang gundah gulana karena enggak nemuin kaset Yess, saya putuskan hanya membeli 2 buah kaset lisensi Queensryche (Promise Land) dan Gorky Park, dengan harga yang terbilang murah. Dan belakangan Gorky Park saya reviews di blog gemblung tercinta ini.

Berikutnya, penasaran karena belum juga mendapatkan kaset Yess, esoknya bersama istri dan anak mengunjungi Blok M Square. Kali ini selain ingin membeli kaset juga ingin membeli buku-buku bacaan untuk anak-anak mulai dari buku dongeng, seri teknologi untuk anak-anak dan buku permainan (puzel), dan mewarnai. Sampai di Blok M Square, ternyata sudah mendekati jam 12.00 Wib. Saya lihat cafe Corelli nampak lengang tanpa pengunjung—wah saya jadi inget wajah-wajah para penghuni blog gemblung. Saya bilang ke istri kalo pertemuan (progring) kemarin diadakan di cafe ini. Dan yang paling menggelisahkan saat saya tengok sebagian kios kaset seken nampak masih banyak yang tutup. Padahal hari sudah menjelang siang. Untung saja kios bang Oman dan Legend sudah mulai buka. Jadi di kios bang Oman saya menjelajahi rak-raknya tapi lagi-lagi saya tidak menemukan kaset yang saya inginkan. Di rak depan hanya ada 2 buah kaset Yess dari album Genesis “Wind and Wuthering” dan “Live and Studio” yang tempelan fotonya (cover) sudah enggak jelas, sehingga saya tidak minat sama sekali untuk membelinya. Lagi pula ini kaset pada saat progring juga sudah ada dan rupanya tidak ada peminatnya. Bang Oman bilang stok kaset masih belum berubah dari yang kemarin (pas progring). Kios Ary juga belum buka jadi saya mampir saja ke kios Legend yang saya amati stoknya juga gak banyak berubah, bahkan tidak ada satupun kaset Yess di kios ini. Akhirnya, karena tidak ingin membuang waktu saya ambil 4 buah kaset era lisensi dengan bonus 1 buah poster Jimi Hendrix yang saya pilih sendiri. Akhirnya untuk yang kedua kali saya menjumpai kekecewaan. Setelah makan dan rehat sejenak di A&W, kami beranjak pulang diiringi gerimis yang enggak diundang.

Alhasil akhir minggu ini serasa kelabu bagi saya karena kaset rekaman Yess yang saya inginkan belum bisa tergapai. Album-album dari band prog papan atas macam King Crimson, Yes, Pink Floyd, Genesis, Marillion, dan lainnya masih sebatas impian. Satu-satunya oleh-oleh yang menghibur saya pada kunjungan di Blok M Square kali ini ialah poster Jimi Hendrix (Woodstock, Live) yang lumayan keren ini.

Stryper “In God We Trust”

April 13, 2014

Budi Putra

IMG-20140413-00095

Masih dalam suasana kebatinan band glam/hair metal era 80-an, kali ini saya tampilkan band yang memiliki ciri khas fashion strip hitam kuning, Stryper. Band yang dibentuk pada 1983 ini disebut-sebut sebagai band beraliran/genre christian metal. Sebutan ini kiranya memang tepat adanya karena band yang digawangi oleh kakak beradik Robert dan Michael Sweet ini memiliki formula musik hair/glam metal dengan lirik yang kebanyakan bercerita tentang dedikasi terhadap agama Kristen. Namun bukan soal ini yang ingin saya ulas tapi lebih pada komposisi lagu dan musiknya yang terbilang enak untuk dinikmati.

Pada mulanya, band ini bernama Roxx Regime yang dibentuk di Orange County, California, Amerika Serikat. Terdiri dari 2 bersaudara, Michael Sweet (vokal, gitar) dan Robert Sweet (Drum), Oz Fox (gitar) dan Tim Gaines (Bass). Mereka sempat bubar pada akhir tahun 1990-an namun telah bergabung kembali pada tahun 2003. Stryper terakhir kali merilis album pada 2011 lewat album “The Covering”. Album ini, seperti yang tersimak dari judulnya, adalah sebuah album cover version yang berisi 12 lagu band/artis lain yang menginspirasi musik Stryper serta 1 lagu original baru ciptaan mereka. Stryper telah merilis 9 buah album sejak tahun 1984 saat mereka merilis debut album “The Yellow And Black Attack”. Album Stryper yang paling sukses adalah album ketiga “To Hell With The Devil” (1986) yang berhasil menyabet platinum dan menduduki peringkat 32 Billboard 200.

Sedangkan untuk album “In God We Trust” merupakan album ke 4 mereka yang terbilang populer di kancah musik rock tanah air dibanding album lainnya. Hal ini berkat nomor-nomor balada seperti “Believe in You”, “Always There For You”, “Lonely” serta “In God We Trust” yang terbilang ngebeat khas band-band hair metal kala itu. “Believe in You” memang sangat populer pada era itu, setidaknya berbarengan dengan booming band-band hair/glam/hard rock seperti Mr. Big, Motley Crue, Poison, Warran, Tesla, Bon Jovi, Kix, Steel Heart, Gorky Park, Cinderella, dan lainnya. Pakemnya pada band-band tersebut memiliki nomor balada andalan yang dikenal publik dibanding nomor-nomor cepat mereka. Bila tidak keliru lagu ini kerap ditayangkan oleh salah satu stasiun tv swasta bersama klip lagu “Love Song” milik Tesla, bahkan M97 FM juga pernah memutar lagu balada ini.

Stryper juga pernah tampil pada perhelatan  Java Rockin’ Land” di Pantai Karnaval Ancol Jakarta pada 10 Oktober 2010. Dari konser ini mereka juga membuat DVD “Live In Indonesia At Java Rockin’ Land”.

In God We Trust, album yang terdiri dari 10 lagu ini boleh dikatakan sangat pas sekali untuk sekedar bernostalgia pada masa-masa sekolah dahulu. Kebayangkan dengan baju putih celana biru serta tas slempang dengan sepatu beraksesoris temali yang warna-warni dan norak itu, diiringi nomor berirama sedang “Always There For You”…Asik dah…hehehe.

Kiranya nomor-nomor beat atau balada dari band-band hair/glam menyegarkan kembali memori kita, dan jangan lupa loh bro, sebelum berubah menjadi band beraliran heavy metal yang khusus membawakan nomor-nomor cadas dari Metallica atau Anthrax, band panggung/lokal Jakarta, Roxx, juga sempat menjadi covering band-band glam rock pada masa itu.

Songs~

-In God We Trust
-Always There for You
-Keep the Fire Burning
-I Believe in You
-The Writings on the Wall
-It’s Up 2 U
-The World of You and I
-Come to the Everlife
-Lonely
-The Reign

Cacophony “Speed Metal Symphony”

April 13, 2014

Andria Sonhedi

image

Cacophony ‘Speed Metal Symphony” adalah album awal dari proyek duo gitaris Jason Becker & Marty Friedman. Saya dulu tahu pertama masih buatan RoadRunner Singapore, tabloid Citra Musik yang mengulasnya di bagian resensi kaset (juga utk kaset Racer X). Saat itu Marty belum jadi anggota Megadeth dan Jason juga blm ikutan Dave Lee Roth band. Yang membuat saya saat itu males beli, wl sdh dikeluarkan label Indonesia, karena ini bukan 100% album instrumental. hanya ada 2 yg benar2 instrumental yaitu Copncerto & Speed Metal Symphony (dan kebetulan saya juga suka). sesuai judulnya mmg album ini cukup speed, sayangnya bagian vokal & penulisan lirik tak mendukung. Atma Anur sdh pas jadi drumer tapi Peter Marino sbg vokalis kok tdk memberi tambahan poin positif utk album ini. banyak orang yg bilang harusnya ini adalah album instrumental saja. Cacophony masih mengeluarkan 1 album lagi: Go Off, sebelum bubar

ini daftar lagunya:
1 Savage 5:50
2 Where My Fortune Lies 4:33
3 The Ninja 7:25
4 Concerto 4:37
5 Burn the Ground
6:51 6 Desert Island 6:25
7 Speed Metal Symphony 9:37

2 gitaris ini masih juga aktif , walau dgn cara berbeda. Marty tinggal di Jepang & ikut scene J-Rock sedang Jason, walau lumpuh kena ALS, tapi masih bersemangat tinggi utk mencipta lagu instrumental gitar dgn bantuan komputer yg merespon gerak bola matanya.

–evil has no boundaries

Rock Progressivo Italiano: Cherry Five

April 13, 2014

Rully Resa

 

cherry five fover
Kali ini saya coba menyumbangkan tulisan diblog gemblung ini (Agar gemblungnya nular ke generasi selanjutnya, whahaha) membahas grup dan album dari ranah rock progreesif Itali yang kental sekali dominasi symphonic prognya, yaitu: Cherry Five. Saya tidak tau apakah grup ini cukup familiar disini, karena nyatanya mereka hanya menelurkan satu album (ini juga menjadi ciri khas grup prog itali-walaupun tidak semua grup. Satu album langsung menghilang, kaya tabrak lari!). Tetapi Cherry five adalah cikal bakal grup Goblin yang berkarir cukup panjang sampai saat ini. Goblin juga dikenal sebagai pengisi musik untuk film-film horror itali seperti Suspiria, Profondo Rosso. Saya pribadi juga sangat menikmati film-film classic horror dari Italy khususnya karya Dario Argento.
Ketika membaca komen para reviewer di progarchive yang mengatakan bahwa Cherry Five terdengar seperti mencoba mengulang musik Yes era The Yes Album. Awalnya saya skeptis juga. Tetapi setelah menikmati album mereka secara keseluruh ternyata sangat DAHSYAT albumnya! memang tidak bisa dipungkiri pengaruh YES sangat kental mulai dari vokal Tony Tartarini yang tinggi, sampai komposisi gitarnya Massimo Morante. Tapi Grup ini punya Drummer yang luar biasa sekali permainannya, Carlo Bordini. Sekalias seperti Carl Palmer! (Bukan berarti permainan Bill Bruford tidak bagus lho ya, hehehe)
Menyimak album yang lahir di tahun 1975 ini layaknya seperti menyaksikan sebuah film karena komposisinya naik-turun cukup “curam”. Highlight dari album ini adalah lagu “Country Grave Yard” dan “Oliver”. Di Bagian pembuka Lagu “Country Grave Yard” langsung bisa terasa elemen dari musik Yes yang sebelumnya sudah disebutkan. Saya pribadi juga jadi teringat musik-musik dari grup Asia Minor (walaupun nyatanya Asia Minor muncul belakangan). Lagu ini lagu tensi tinggi tetapi permainan hammond, gitar elektrik dan drumnya mantap sekali. Porsinya Pas! Apalagi ketika harmonisasi vokal menyanyikan “You’re looking forr… Can’t Find!” wuiihh.. mantapppp!!!
Solo piano yang membuka lagu “Oliver” terdengar cukup ganjil memainkan intro bernada minor. Selanjutnya kita disajikan kolaborasi antara gebukan drum dan permainan hammond serta mellotron yang sangat memukau. Ditambah lagi-lagi oleh harmonisasi vokal yang benar-benar memanjakan kuping. Menikmati album ini secara utuh dari dari awal sampai habis seperti refleksi untuk kuping!
Berikut link utk mendengarkan online: http://www.youtube.com/watch?v=99Mou2UtiIk
Walaupun saya menikmatinya hanya dari hasil download kualitas tinggi 320kpbs tidak dari media fisik seperti CD, Apalagi KASET Tetapi semangat prog bisa selalu mengisi keseharian saya. Kenapa kok disebut “semangat prog?” karena dari prog saya belajar untuk selalu bersyukur (semangat disini sebagai wujud rasa syukur) dan tentu saja hidup tidak begitu-begitu saja! heheh
ipod
Salam

Gorky Park “Парк Горького”

April 13, 2014

Budi Putra

IMG-20140413-00089


Saat ini tidak banyak penikmat musik genre glam rock era 90-an, yang mengetahui tentang perkembangan grup band asal Rusia, Gorky Park yang dibentuk pada tahun 1987. Apa sebab, setelah  album Moscow Calling (1992-1993) kiprah mereka di panggung musik rock dunia sepertinya tak terdengar lagi. Padahal secara musikal, kualitas mereka tak kalah dibanding band-band glam rock lainnya yang lebih dulu muncul.

Gorky Park adalah sebuah taman besar yang sangat terkenal di Moskow, Rusia, yang diambil dari nama sastrawan sosialis terkemuka, Maxim Gorky. Taman ini sangat bersejarah karena menjadi saksi bisu perubahan besar-besaran di negeri yang pernah dijuluki sebagai “negeri tirai besi atau beruang merah” ini. Namun, pada awal 90-an, di Jakarta khususnya, nama Gorky Park lebih dikenal sebagai salah satu grup glam rock yang cukup populer dikalangan remaja. Lewat lagu-lagu mereka seperti “Try To Find Me”, “Child Of The Wind”, dan tembang daur ulang milik The Who, “My Generation”, grup yang awalnya digawangi  Nikolai Noskov (vokal), Alexey Belov (gitar), Alexander Minkov (bass), Yan Yanenkov (guitar), dan  Alexander Lvov (drums) itu sempat mewarnai blantika musik rock dunia pada saat itu. Pada era itu, Gorky Park memang boleh dibilang sebagai salah satu musisi atau grup asal Rusia yang paling dikenal. Berkat kebijakan Glasnost dan Perestroika yang
 diperkenalkan Mikhail Gorbachebv, Gorky Park memanfaatkan peluang itu dengan hengkang ke Ameirka Serikat (AS), dan Gorky Park berhasil meraih bintang mereka, menjadi rock star apalagi ditambah sentuhan apik dari Jon Bon Jovi dan Ritchie Sambora.

Seingat saya Radio Mustang FM, Jakarta, termasuk yang ikut mempopulerkan grup ini. Setelah  nomer-nomer cadas (metal), diakhir acara lagu “Try To Find Me” kerap diputar. Maka setelah berheadbanger ria bersama lagu-lagu metal, mendengar lagu ini serasa syahdu nian namun tak kehilangan taji berkat permainan solo gitar Alexey Belov yang sangat apik. Saya sendiri bila mendengar “Try To Find Me” selalu terkenang dengan teman saya semasa di kampung dahulu, Edi, yang memperkenalkan grup ini selain band Bullet Lavolta yang hingar bingar itu. Teman saya ini selalu bangga dengan band asal Rusia ini yang menurutnya lebih berkarakter dibanding band-band glam rock asal Amerika atau Eropa.

Selain easy listening, khas lagu-lagu balada band-band glam rock, lirik lagu “Try To Find Me” juga sangat inspiratif, bercerita tentang kehidupan seperti pada karya Maxim Gorky, “Ibu” yang pernah diterjemahkan sastrawan Pramoedy Ananta Toer.

Songs~

Bang – 4:47
Try to Find Me – 5:08
Hit Me with the News – 3:52
Sometimes at Night – 5:08
Peace in Our Time (Jon Bon Jovi, Richie Sambora) – 5:56
My Generation (Pete Townshend, includes Prokofiev’s “Alexander Nevsky”) – 4:44
Within Your Eyes – 4:55
Child of the Wind – 5:22
Fortress – 4:04
Danger – 3:30
Action – 3:55

Saya ngga mudeng dengerin Zappa, tapi…

April 13, 2014

Khalil LogoMotif

Saya suka banget bahasan tentang zappa, cerita yang terkait dgn zappa, bagaimana pengaruhnya kepada musisi lainnya, yang diceritakan dengan sangat sopan dan ringan oleh mas Cosmic Eargasm.

Saya ngga pernah tau dan ngga pernah dengerin band underated dan band satu album, tapi saya sangat menikmati cerita yang disampaikan dengan segar mengenai band band tersebut oleh mas Cosmic Eargasm.

Saya ngga pinter ngulas tentang band dan musiknya, apalah saya, pengetahuan dan pengalaman saya sangat dangkal, tetapi saya sangat menikmati obrolan lewat tengah malam sampai subuh dengan mas Cosmic, dengan komen komen yang nyambung terus, ngobrolin berbagai band dan musiknya, dari prog sampe metal 80′an, di bulan agustus tahun lalu, bahkan komen tretnya sampai 136 komen dan kebanyakan dengan mas Cosmic, padahal tret saya tentang triumvirat album pompei.

Where are you mas Cosmic? Jangan pernah kepikir untuk ngga nimbrung lagi dan ninggalin blog gemblung ini mas Cosmic!!!

Tetep saya ngga mudeng dengerin Zappa, tapi plis kasih kabar mas Cosmic pada saya dan kami. Please..

Khalil Logomotif

Peter Gabriel Diam Satu Bar di “Carpet Crawlers”

April 12, 2014

Herman

Kali ini saya ingin mengajak bernostalgia dengan sebuah lagu Genesis ‘old song’, yang sudah tidak asing lagi : Carpet Crawlers. Kalau kita dengarkan musik Genesis Carpet Crawlers tersebut saya kira semua warga Blog ini pasti punya pengalaman dan sudut pandang sendiri2. Tulisan ini merupakan pengalaman saya dan juga sudut pandang saya. Waktu awal kenal lagu ini sudah agak lupa bagaimana persisnya tetapi kira – kira waktu itu denger lagu ini di kamar kos2an di Jogja. Saya dibuat penasaran kok pengen dengerin lagi . Lagu Genesis ini slow dan melodinya diulang –ulang tapi enak di dengar. Saya penasaran untuk mencari tau apa yang bikin enak di dengar?

image

Dulu saya belum tau musik repetitive yang melodinya berulang dari bait ke bait . Musik repetitive memerlukan kepiawaian dalam menyiasati agar lagu berulang ini tidak membosankan dan enak didenagar.

Untuk dapat menjawab penasaran saya maka Carpet Crawlers saya putar berulang – ulang, sampai saya agak takut kasetnya jadi ngombak pas bagian itu, sambil saya buat catatan dari bait ke bait .

Ini sekedar catatan orang awam yang mungkin istilah2 yang digunakan juga belum tentu benar.

Bait ke 1 : musik : Piano

Bait ke 1 ini merupakan intro di mana Vocal peter Gabriel diiringi dengan musik yang minim hanya permainan piano (+ gitar?).

Diakhir intro ini, ketika vocal sampai kata …to avoid…..masuk Bas Gitar: dheeengg….. entah yang bener bagaimana nulisnya…? Mungkin di negaranya Peter Gabriel lain lagi cara nulisnya….Yang penting kira kira begitu bunyinya,…. versi gemblung2an aja …. Selanjutnya masuk bait ke 2

Bait Ke 2 : Musik Piano + Bas

dengan masuknya Bas ikut meiringi bersama Piano, terasa ada peingkatan pada musiknya, menjadi lebih berisi. Diakhir bait ke 2 saat vocal Gabriel sampai : We’ve got to get in…. to get ooouut ….saat itu Drum masuk: Dhug! ..tak dhug dhug…. terasa sekali meningkatnya musik dengan adanya hentakan drum masuk ke bait 3

Bait ke 3 : Musikpiano : + Bas + drum + elektrik gitar

Musik terasa bentuknya, terdiri dari piano + Bas Gitar+ Drum + elektrik gitar. Masuknya drum semakin menggerakkan emosi pendengarnya ditambah lengkingan gitar yang lembut dan harmonis membuat kita semakin asik mendengarnya.

Bait Ke 4 : Musik : piano + Bas Gitar+ Drum + elektrik gitar

Vocal : mencuri ketukan

Di awal bait 4 ini vocal peter Gabriel mencuri ketukan, dan ini menimbulkan hentakan yang memancing emosi kita….awal mendengarkan “pencurian” yang dilakukan vocal peter Gabriel ini saya senang sekali…bagus sekali dalam menyiasati agar bait ke 4 ini ada sesuatu yang baru dari bait sebelumnya….. Perubahan vocal ini membuat adanya eskalasi yang semakin mengoyak emosi yaitu sejak Gabriel mengcapkan “Mild mannered supermen…. Terasa sekali adanya eskalasi di Bait Ke 4 ini.

Bait Ke 5 : musik : piano + Bas Gitar+ Drum + elektrik gitar

Vocal : mencuri ketukan + diam 1 bar

Vocal Peter Gabriel waktu mengucapkan “The porcelain manikin…. terasa menimbulkan hentakan yang lebih lagi dibandingkan bait ke 4. Bait ke 5 ini menjadi klimaks lagu…. ketukan vocal sama dengan bait ke 4….Nah ketika sampai baris ke 5 ternyata vocalnya diam satu baris ( satu bar) …..woaaaa ini dia, seneng sekali rasanya ketika menemukan ini….meskipun ini disebabkan syairnya memang hanya 4 baris tetapi saya merasakan ada sensasi ketika mendengarkan baris ke 5 tanpa vocal….. top markotop….apapun sebabnya sensasi dengan diam satu baris ini luar biasa……hahaha….wis embuhlah pokoknya waktu itu suweneng menemukan lagu kok ada satu baris yang diam ……batin saya maksudnya apa ya pakai diam 1 bar…..ternyata lha memang syairnya memang nggak ada. Coba kalau dipaksain didisi vocal dengan lalala…lalala…….atau ooooo…oooooo….apa jadinya… hahaha…enggak ini buat lucu2an saja…Nggak mungkinlah Genesis seperti itu……

Lengkaplah bahwa 5 bait itu memang masing – masing berbeda satu sama lain yang tapa terasa membuat kita keasikan mendengarnya. Di samping perbedaan tadi dari bait ke bait juga ada eskalasi yang menggerakkan emosi pendengarnya dan mencapai klimaksnya pada bait ke 5. Dan yang istimewa adalah,itu tadi, pakai diam satu bar itu tadi…

image

Setelah denger lagu ini jadi menambah semangat saya untuk memperhtikan musik khususnya aransemennya.

Musikus yang secara terbuka mengklaim musiknya repetitive adalah Phillip Glass. Lagunya Mike Oldfield juga banyak juga yang repetitive. Kalau musik New Age, lagunya Yanni “Nightingale” bagus dalam menyiasati musik repetitive menjadi enak di dengar dengan mengatur eskalasi musiknya dan juga mengatur kapan suatu alat musik dimainkan serta dipadu dengan alat musik apa. Ternyata disco, house music termasuk musik repetitive juga, tapi minat saya kurang terhadap musik disco. Dulu pernah denger teman sebelah kamar yang suka lagu2 disco, dan sekarang kalau denger musik disco timbul kenangan masa indekos. Mudah2 an tulisan ini cukup membawa nostalgia dengan lagu Carpet Crawlers dan mungkin juga album The Lamb Lies down On Broadway apalagi kalau kasetnya rekaman Yess. Siapa tau jadi ingin denger Peter Gabriel diam 1 bar.

Salam Jreng ! Herman.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers