Ngopi! Ngopi! Ngopi!

August 27, 2014

Herwinto

Baru masuk rumah jam 19.30 setelah menemui klien di kota Boyolali….ha ha ha..saya juga punya klien lho!! klien saya anak anak kelas 3 SMA yang pengin pinter matematika dan fisika, sialnya justru anak anak SMA kalau udah ketemu saya bukan bahas rumusnya Einstein tentang relativitas ataupun Newton dengan hukum hukum fisikanya, tapi malah bahas dahzyatnya Roine Stolt mengarang Humanizzimo nan nunjek itu, halah…. Flower Kings meneh…!! yo ben!! Flower Kings lebih penting daripada bahas teori teorinya Newton tentang kesetimbangan benda tegar…ha ha ha….

Perjalanan pulang ke Klaten saya ditemani Number sampek mentok The Rising Imperial…..woaaah…tuob tenan Stolt ini!! masuk rumah kok jauzah saya bilang “Abi..kopi dari Aceh sudah datang”……Haaaaaaa? langsung saya liat paket mungil tertulis nama pengirimnya…Khalil Logomotif……woaaaaahhhhh sueneeeeng puol…matur tengkyu mas Khalil….habis mandi langsung saya bikin…aturannya 2 sendok kopi di tuang air panas 80 derajat…diaduk 30 kali…halaaaaaah mau ngopi aja ribet banget… harus pakai termometer segala…..makannya ditemani kraker kelapa…wah ga punya!!! pakai roti tawar aja….sambil ditemani CD The Flower Kings Unfold The Future……hadeeeeeehh….ini baru tak srupuuuut……tuobz……ini kata mas Khalil luwak liar…. nunggunya lama…kalau yang dijual bebas itu luwak ternakan makannya pepaya….wis ora prog blass!! mas Gatot silahkan misuh misuh…..ha ha ha….oh ya cangkirnya juga gak sembarangan gambar IQ pemberian dab Andria….wis tobz pokoke….

image

-

Kerja! Kerja! Kerja!

August 26, 2014

Gatot Widayanto

Tret ini cuman buat manas2in yang kerja kantoran …he he he …. Dari jam 11:30 saya sudah di Basement Flat (BF) tepatnya di Corelli. Jam 14:00 sempat meeting sama klien tris ashar balik lagi ke Corelli …. Asik sekali lho menggabungkan sepeda, ngopi dan progrock dalam kegiatan kerja! Alhamdulillah ….. What a life! Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan?

Sambil nyangklong Senheiser nyetel berbagai musik prog masa kini baik itu The Tangent (gak berani ngeracuni koh Win saya, takut kalau kelojotan menikmatk The Music That Died Alone yang dowahzyat itu …) , Opeth maupun TFK. Di sebelah saya ada sekelompok orang membahas filem yang tadi malam ditonton mas Rizki: Guardian of the Galaxy. Dia bilang: “Gila! Kaset hidup lagi!”. Saya cumak senyum aja karena gak kenal. Lagian sutradara pilem itu pasti sering baca blog gemblung sebelum bikin pilem itu. Ya gak?

image

Udah ah …kerja dulu .. Daag ….! Kali ini nyruput Iced Lychee Tea …soalnya tadi udah ngopi.

Salam hangat penuh semangat!

JrèNg!!!

——

PAGING mas DananG!!!

Lihatlah apa yang berhasil saya akuisi ini …. Berkat kesabaran jualah akhirnya saya mendapatkan Michael Franks and Crossfire live rekaman Yess ….yeah …betul … Yessss ….!!! Mouwlouse puwoooool!!! Dan tahu gak berapa acquisition cost nya? Cumak lima belas rebek ajah!!! Uwediyaaaaaan ….!! Bang Oman memng pemilik lapak idaman dan tak main dengan harga sehingga rumus pokok harga kaset gak boleh lebih dari jigo terpenuhi sudah. SAH!
image

-

Indonesia Maharddhika

August 26, 2014

Gatot Triono

10438267_10152629460684347_3971362131652178096_n

-

Kompilasi “RATT in CINDERELLA’s Attic”

August 26, 2014

Hippienov

 

 

Lagi-lagi aku kembali sharing sebuah kompilasi gemblung yang aku buat belum lama ini. Saat progring kemarin Mas Yuddi memberikan copy mp3 Ratt dan Cinderella dan wow…aku suka dua band rock era 80an ini. Gak lama kemudian aku punya ide untuk membuat sebuah kompilasi yang berisi lagu-lagu dari kedua band ini dan beginilah hasilnya:

RATT IN CINDERELLA’S ATTIC.

1. You’re In Love / RATT.
2. Shake Me / CINDERELLA.
3. Drive Me Crazy / RATT.
4. Gypsy Road / CINDERELLA.
5. Round and Round / RATT.
6. Long Cold Winter / CINDERELLA.
7. The Morning After / RATT.
8. If You Don’t LIke It / CINDERELLA.
9. Looking For Love / RATT.
10. Heartbreak Station / CINDERELLA.
11. Never Use Love / RATT.
12. Love’s Got Me Doing Time / CINDERELLA.
13. I’m Insane / RATT.
14. Second Wind / CINDERELLA.
15. Dance / RATT.
16. Don’t Know What You Got (Til It’s Gone) / CINDERELLA.
17. Lack Of Communication / RATT.
18. Once Around The Ride / CINDERELLA.
19. Sweet Cheater / RATT.
20. In From The Outside / CINDERELLA.

 
rattcinderella
Semua lagu Ratt aku ambil yang punya ritme cepat ala heavy metal/glam metal sedang Cinderella sudah pasti dengan blues rock nya dan pastinya “long cold winter” yang nge-blues itu tak lupa aku ikut sertakan.
Sedikit kendala yang ada bahwa ternyata kualitas mixing Ratt lebih empuk didengar sedang Cinderella terbilang kering, garing. Kalau apa adanya aku burn maka hasilnya kurang bagus sehingga aku akali dengan menambah unsur bass pada semua lagu yang masuk kompilasi baru kemudian aku burn. Hasilnya akhirnya lumayan bagus, suara betotan bass dan dentuman bass drum jadi lebih nunjek, ajib…

Saat mau memberi judul aku bingung apa judul yang pas, aku ingin mengikutsertakan nama Ratt dan Cinderella sekaligus dalam satu kalimat. Setelah corat-coret judul akhirnya aku dapat ide dari judul album IQ “tales from the lush attic” yang aku plesetkan jadi “Ratt In Cinderella’s Attic”, biar ada nuansa humor nya…”tikus di loteng cinderella” kira-kira gitu terjemahan lepasnya, hahaha…

Semoga kompilasi ini bisa diberi nilai “plus” oleh rekan-rekan blog semua dan semoga bisa menghibur serta membawa kenangan kita pada masa kejayaan glam metal/heavy metal saat aku masih SMP/SMA dulu.
Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan, juga untuk rekan-rekan yang sudi membaca tulisan ini. Mohon dimaafkan segala kekurangan yang ada dalam penulisan.

She Drives Me Crazy Tonight,
hippienov…   

 
 

 

Temanku Sejak SMP Masih Koleksi

August 26, 2014

Gatot Widayanto

Tret ini seratus persen dipengaruhi postingan mas Budi sebelumnya tentang Ngobrol Musik di Era Digital. Sebetulnya sebelum tret mas Budi naik cetak di layar gemblung ini, saya sudah berencana menulisnya. Namun …saya sangat kecapean karena hari Ahad itu saya mulai keluar dari rumah jam 8:00 pagi dan baru sampai rumah kembali ba’da Maghrib. Ini semua karena faktor Jabodetabek yang begitu luas dan begitu padat. Tapi ya sudahlah … Gak usah dibahas, langsung aja masalah musik.

Saya menghadiri Halal bi Halal temen2 Mediunan angkatan 79 yang kami singkat MD 79 di rumah seorang teman yang sejak SMP selalu satu sekolah sama saya dan bahkan di Madiun tinggal di satu jalan yang sama: Jalan Sumatera. Namanya Bagus Sudaryanto. Nama yang tak asing lagi di blog gemblung karena sudah beberapa kali saya sebutkan namanya, semuanya terkait musik. Kami dulu sering tuker2an kaset mulai seputar tahun 1974 hingga kami kuliah sama2 di Bandung, sampai lulus tahun 1984. Meski kami satu kos2an di Kubangsari, Sekeloa, bandung, namun Bagus ambil jurusan kuliah berbeda dengan saya. Dari dulu selera musik kami tak berseberangan bahkan saling menunjang. Jaman SMP, Bagus banyak punya kaset ELP sedangkan saya Yes. Klop! Kami ijol2an koleksi … ha ha ha … Ngirit dot org.

Sejak lulus dan dari Bandung kami sudah jarang membicarakan musik karena kesibukan masing-masing, Saya kira Bagus sudah tak lagi menikmati musik-musik progrock jaman dulu. Ternyata saya salah besar. Ketika saya dan teman2 mau shalat di lantai dua rumahnya, saya melihat ada dua lemari di ruang TV . Tadinya saya pikir hanya DVD atau Blue Ray film. Namun begitu saya mendekat, ternyata salah satu lemari berisi koleksi Blue Ray dan DVD grup2 seperti Genesis, Yes, ELP, King Crimson , Led Zeppelin pokoknya grup2 70an semua. (Catatan: semua koleksi Bagus ini original pol, kagak ada yang generic alias copyan yang sering dijual 7 ribuan). Saya kaget dan masygul …. Gak disangka ternyata Bagus masih konsisten koleksi.

Setelah shalat Dzuhur berjamaah, di sebelah kiri saya ada rak buku berisi berbagai jenis kitab. Saya ambil salah satu buku dan baca sedikit bagian intro nya. Setelah itu, saya kaget kok di deretan buku agama ada tulisan Pink Floyd dan juga ada Emerseon Lake and Palmer “From The Beginning”. Kontan saya liat itu buku apa … Ya amplop! Ternyata ada box set!!! Juga ada box set Genesis. Walah2 …. Ya udah …saya baca dan bolak-balik isinya dan sekaligus saya foto. Setelah itu saya bawa box set ELP tersebut keluar rangan, masuk ke ruang TV dimana ada putra Bagus sedang main game. Saya ajak ngobrol tentang musik, ternyata dia gak suka progrock meskipun gak membencinya. Maka saya “kuliahi” dia agar mulai menyukai karena percuma koleksi ayahnya yang begitu banyak (juga ada CD2 prog claro termasuk Jethro Tull) kalau tak ada yang mewarisi di keluarga. Saya buka box set ELP dan tunjukkan dua lagu yang dia wajib dengar: Karn Evil 9 (3 impressions) dan Tarkus. Dia manggut-manggut dan sepertinya mulai tertarik meski gak janji.

Di tengah2 suasana HalBil dengan temen2 Mediun, saya sempat ngobrol koleksi Bagus ini dengan Bagus nya sendiri. Dia ternyata beli sebagian besar CD, DVD, Blue Ray dan kaos prog dari Musik + yang ada di kelapa Gading Mall dan sangat jarang beli online. Bahkan dia bisa pesan via Musik+ ini. Seneng juga mendengarnya karena ternyata masih ada toko CD yang masih hidup dan Bagus rajin membelinya. Namun ternyata perilaku menikmati musik memang bergeser karena Bagus biasanya beli box set hanya buat dicopy ke MP3 dan kemudian mendengarkan via iPod saja. tak heran bila CD2nya juga masih mulus semua. memang jaman sekarang ribet jadinya kalau musti bawa CD Player atau walkman kemana-mana …

image

-
image

-
image

-
image
-
image

-
image

-
image

-

Tapi satu hal yang membuat saya senang: Bagus masih koleksi musik progrock. Oh ya …. saya lupa, koleksi CD, DVD dan Blue Ray Dream Theater milik Bagus juga kumplit plit!

Salam,

G

Ngobrol Musik Di Era Digital

August 25, 2014

 Budi Putra

FACT #1

Bertemu teman lama memang mengasyikan apalagi pulangnya bisa membawa oleh-oleh. Apalagi kalo bukan kaset. Cuma sayangnya tidak banyak kaset yang saya temui di rumah teman karib saya ini. Saya lihat hanya beberapa kaset yang terlihat seperti, Queensryche (Promise Land), Gorky Park II, King’S X (Dogman),  M.S,G., KIX, serta sejumlah kaset hard rock jadul macam White Snake, Y&T, Journey, Kiss dan Krokus, yang sebagian sudah rekaman era lisensi. Dalam hati saya bertanya-tanya, kemana ya koleksi kaset-kasetnya  yang dahsyat itu? Siapa tau dia lagi berbaik hati kemudian mau menghibahkan sedikit atau sebagian koleksinya itu. Ya, siapa tau rejeki nomplok menghampiri.
 
Semasa SMP, teman saya ini Imam panggilannya, terbilang kolektor kaset kelas kakap. Di meja laci besarnya tersimpan ratusan kaset rekaman Team, Billboard, Aquarius, Rockshot (tapi enggak ada rekaman Yess, hehehe) berjejer rapi kemlincing yang mengundang selera dan bikin hati berdebar plus dengkul lemes seperti mas Kukuh saat memandangi nona R. Bagaimana tidak, saya ingat sekali ia punya deretan album komplit Yngwie Malmsteen rekaman Team Record, Ozzy Osbourne, Helloween, Raven, Venom, serta band-band dengan label aneh yang sama sekali belum saya ketahui seperti Gream Reaper, Malice, Omen, Macabre, Helix, etc. Karena penasaran saya tanya kemana kaset-kasetnya yang dulu dia koleksi. Dia bilang sebagian besar koleksinya diboyong tetangga dan teman-temannya saat dia pindah rumah. Jadi semuanya habis tanpa sisa ujarnya dengan nada tanpa rasa menyesal. Wah, padahal saya menyesal sekali karena hal itu dan kenapa juga saya tidak sempat menemaninya saat dia pindah rumah kala itu. Sebab penasaran pula teman saya pun bertanya: “Ngapain masih nanya-nanya kaset, kayak jaman SMP aje, hehehe. Padahal sekarang kalo mau cari grup musik favorit gampang aja tinggal donlot di internet. Semua tersedia, dari A sampai Z”, kata teman saya ini sambil mesam-mesem. Lantas kontan saja ia menghidupkan laptop yang dikoneksikan dengan speaker aktif….jreng, terdengarlah intro “Jump” dari Van Halen.”Nah, praktis kan ujar nya”. Walah, rupanya teman saya sekarang ini bukan lagi seorang kolektor sebagamana ia dahulu. Rupanya era digital sudah merubah cara pandangnya  akan menikmati musik. Pilihan itu memang bukan salah atau kelirunya. Siapa sangka jaman bisa sedemikian maju/modern. Segala sesuatu terkait informasi atau musik (album/live) juga film dengan mudah bisa diperoleh hanya dengan berbekal modal 10 ribu; cari warnet dan mulai browsing. Soal ini yang saya lakukan sebelumnya. Penasaran ingin mendengarkan Frank Zappa maka saya donlot album Hot Rats. Sebab terpancing dengan sundulannya mas Hippie maka Solaris pun juga jadi target donlotan. Wah, kasian sekali ya para musisi itu. Karya-karyanya hanya dihargai gratisan dalam format mp3. Kualat tenan!
 
Maka, sambil dengerin kompilasi band-band hard rock via laptop plus speaker aktif kami sempat mengobrol berbagai hal. Mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga grup musik favorit saat ini. Saya banyak cerita tentang band-band prog-neo yang bagus-bagus berkat ulasan blog gemblung seperti Marillion, IQ, Satellite, Solaris, New Trolls, etc. Rupanya teman saya tidak tau banyak perihal grup-grup itu yang dia gemari hanya band yang sempat dia miliki kasetnya dus band-band hard rock era 70-80an. Semua band-band itu dia koleksi kembali namun dalam format kekinian (mp3). Tapi dia juga mengakui bahwa ada sesuatu yang terasa berbeda mendengarkan via kaset dengan digital dalam format mp3/youtube. “Soulnya kurang dapet kalo dengerin via digital. Terasa hampa jadi cuma mengalir begitu saja. Gak muncul suasana untuk menikmatinya. Coba aja dengerin Stones versi mp3 dengan kaset. Rasa jadulnya Stones gak muncul”, tuturnya. Makanya dia masih berkesempatan membeli kaset walau tidak sedahsyat dulu lagi. “Sesekali perlu juga dengerin musik via kaset. Lumayan untuk melatih kesabaran dan membangkitkan memori lagi ke jaman baheula, hehehe”, guraunya. Saya juga katakan dalam beberapa kesempatan masih membeli kaset yang seken utamanya agar memori itu tetap terjaga…hehehe. Saya juga masih rutin membeli majalah Roliing Stone walau kadang artikel-artikelnya gak nyambung dengan selera saya terkini. Tapi satu alasan selain informasi, mengapa saya masih membeli majalah itu, karena saya ingin mengabadikan format cetak majalah musik versi lokal yang kini sudah langka dan jarang ditemui. Menurut saya sayang sekali bila ini sampai tidak terdokumentasikan menjadi rekam jejak perjalanan musik tanah air bahkan dunia.
  
Akhirnya menjelang petang saya pamit sambil tak lupa membawa oleh-oleh darinya, 4 buat kaset lisensi dari band-band era 80an. Yah, lumayan deh. Dalam perjalanan pulang jadi teringat mas Gatot, mas Apec, dan rekan-rekan blog yang tetap bersemangat penuh gairah untuk melestarikan budaya kaset/PH yang perlahan mulai ditinggalkan generasi terkini yang ternina-bobokan oleh budaya instan. Apa yang dilakukan rekan-rekan menurut saya adalah sebuah upaya yang patut dihargai dan diacungi jempol di era digitalisasi musik dunia saat ini. Kadang merasa malu bila mendonlot band-band kesukaan via mp3 hanya dengan modal 10 ribuan bahkan gratisan….hahaha. Sorry, mas Frank Zappa…
 
 
Tabik.

A Trip to Nuansamatic Land

August 25, 2014

Hola …!

Insya Allah saya akan melakukan perjalanan ke “nuansamatic land”, Madiun, dan Klaten pada tanggal 30 Agustus sampai dengan 1 September 2014. Barangkali ada temen2 gemblungers yang ada di sekitar area situ ada waktu luang, kita bisa progring sederhana …he he he ..emangnya pernah ada progring yang glamour? Paling juga progring yang gilmour … he he he he ….

Tanggal 30 Agustus siang rencananya saya akan menghadiri undangan mantu temen saya, siang atau sore kulineran seputar Madiun dan malamnya cangkruk sama temen2 semasa remaja dulu. Tanggal 31 insya Allah akan silaturahim ke beberapa teman dan handai taulan sambil kulineran. Insya Allah kalau ada tebengan ke Magetan, saya mau nyambangi mas Andria yang sekaligus selamatan rumahnya yang baru dan keminclong. Setelah itu mau berkunjung ke Purwodadi, silaturahim dengan Pak Tawi, temennya ayah Didik Rudiono (sobat kecil saya). Sebenarnya saya ndak kenal pak Tawi. Namun kisah prog heroik beliau yang pernah bersepeda Madiun – Bandar Lampung saat usia sudah 70 tahun, menyebabkan saya ingin mengenal jauh beliau. Saya sudah telponan sama beliau saat itu dan semangat beliau gowes memang luar biasa. Makanya saya mau berguru ke beliau di PG Purwodadi. Kalau bisa, saya mau naik Colt biar nuansamatik pol. Sayangnya, haree genee udah gak ada lagi Colt seperti jaman dulu … ha ha ha ha …

Tanggal 1 September pagi, saya mau ngebis ke Klaten dari Madiun. Memang sengaja saya jadwalkan “harus” ke Klaten karena di situ ada sobat gemblung nan baik hati dan berjiwa prog serta berselera prog pula … ha ha ha ha … Sepertinya seharian kita akan membahas betapa njiyancuki tenan yang namanya Humanizzimo itu …. atau sama2 menikmati Numbers sambil kuliner The Lamia (konon …kata Koh Win, di Klaten ada kuliner kambing yang markotop … Dan saya akan diajak ke situ … Wis pokoke jiyan The Lamia pol! Kambing katanya bro Apec bisa menurunkan kolesterol …..maksudnya turun ke kaki semuanya … ha ha ha ha ha …. Kalau menurut saya, di kambing gak ada kolesterol karena kolesterol adanya di Prodia ….).

Insya Allah pukul 18:30 saya balik lagi ke Jakarta …. Tapi insya Allah sudah puas mrogring dengan mas Andria dan kemudian Koh Win …. Sebenernya ada rencana mau ke Malang juga … Namun karena di sana jiwanya masih Slayer dan belum terbuka untuk prog, maka saya ditolak hadir di sana ngadain progring …bolehnya metalring … Lha aku metal tahunya mung Rhapsody dan Kamelot, yo wis saya tangguhkan aja sampe kata “progring” tidak diharamkan di Malang ….. Atau, sebaiknya yang di Malang juga hadir di Klaten …sekaligus membuktikan guyubnya ….qiqiqiqiqiqiqi ….

JRENG!

 

11 Album Prog Paling Dipuji

August 25, 2014

Herwinto

 

Daripada bengong, untuk membakar semangat kecintaan kepada musik prog mari kita bicarakan album album prog yang spektakuler…saya sengaja bukan memilih judul ‘album terbaik’ sebab ini akan menimbulkan perdebatan panjang..supaya aman saya pilih judul ‘paling dipuji’ jadi saya berusaha seobyektif mungkin, ini berdasar obrolan gemblung di blog ini yang sering memuji album album prog yang legendaris, itu saja dasarnya…..saya batasi satu band satu album yang boleh masuk, sebab kalau lebih dari satu maka Pink Floyd, Genesis dan Yes akan mendapat jatah lebih dari satu, bayangkan saja memilih antara Selling England dan The Lamb Lies Down saja bukan hal yang gampang, belum lagi antara Dark Side dan Wish You Were Here…Ok inilah urutannya….

 

 

 

1. Close To The Edge (Yes)

 

2. Selling England By The Pound (Genesis)

 

3. Thick As A Brick (Jethro Tull)

 

4. In The Court Of The Crimson King (King Crimson)

 

5. Dark Side Of The Moon (Pink Floyd)

 

6. Braind Salad Surgery (ELP)

 

7. Octopus (Gentle Giant)

 

8. Image And Word (Dream Teathre)

 

9. 2112 (Rush)

 

10. Missplaced Chilhood (Marillion)

 

11. Banks Of Eden (The Flower Kings)

 

 

 

Inilah pilihan saya bagaimana dengan Anda?? jika tidak sepakat monggo diberi pilihan lain….bebas kok….Banks Of Eden saya masukkan karena ini album dahzyat yang saya puji puji sendiri….he he he mekso.com….yo ben!! jenenge wae wong gemblunk….mangkane tak kasih 11 urutane nek 10 ora mlebu…..ha ha ha….

 

Kompilasi Iron Maiden: “Maidens of The Opera’

August 25, 2014

Hippienov

image

Apakah ini tulisan tentang album “a matter of life and death”? Bukan, aku hanya copas cover nya saja. Tulisanku kali ini tentang kompilasi abal-abal Iron Maiden yang aku buat semalam dan berisi lagu-lagu Maiden dari album Iron Maiden (1980) sampai dengan Somewhere In Time (1986).
Kompilasi ini berangkat dari pengamatanku terhadap kompilasi-kompilasi Iron Maiden yang pernah aku punya atau aku temui dimana nyaris semuanya didominasi oleh lagu-lagu era Bruce Dickinson dan hanya sedikit atau nyaris tidak pernah menampilkan lagu-lagu era Paul Di’Anno, paling hanya “running free” (itupun kebanyakan versi live yang vokalisnya Dickinson) atau “wrathchild”. Memang Di’Anno hanya menyumbang suara di 2 album pertama Maiden tapi menurutku dua album ini juga merupakan album yang gak kalah dahsyat dengan album-album setelahnya dan ada lagu-lagu yang bagus di dalamnya.
Setelah beberapa kali mencoba membuat kompilasi Iron Maiden yang hasilnya kurang sreg di hati, akhirnya semalam aku berhasil membuat kompilasi Maiden seperti yang selama ini aku inginkan, walaupun tadinya nyonya sempat protes karena sudah larut tapi aku malah ngeburn bukannya tidur, hehehe… Dogs are barking, khalifah berlalu, ngeburn jalan terus…

Dengan sumber file mp3 Maiden yang sangat terbatas dan malah sudah ada yang rusak file nya aku mulai memilah-milah lagu Maiden yang akan dimasukkan kompilasi dan untuk memberi porsi era Di’Anno lebih “adil” bukan hanya 1-2 lagu maka aku batasi hanya mengambil album Maiden era 80an, itupun album Seventh Son Of A Seventh Son (1988) aku left off karena keterbatasan daya tampung cd kosong yang hanya 80 menit.
Berikut final list nya:

IRON MAIDEN “MAIDENS OF THE OPERA”

1. Genghis Khan.
2. 2 Minutes To Midnight.
3. The Number Of The Beast.
4. Prodigal Son.
5. Aces High.
6. Killers.
7. Run To The Hills.
8. Remember Tomorrow.
9. Powerslave.
10. Wrathchild.
11. The Trooper.
12. Caught Somewhere In Time.
13. Phantom Of The Opera.
14. Wasted Years.
15. Children Of The Damned.
16. The Ides Of March.

Aku bingung saat akan memberi judul kompilasi ini, jelas gak bisa disebut “the best/greatest hits” karena memang gak semua lagu tersebut adalah “best” nya Maiden dan setelah hampir 1/2 jam berlalu ngotak-ngatik judul album akhirnya aku putuskan untuk memberi judul “Maidens Of The Opera” pada kompilasi ini. Maksudku biar serem sedikit, hehehe…
Aku mengibaratkan perjalanan karir Iron Maiden adalah sebuah opera dan “maidens” adalah pemeran utamanya yakni members of Iron Maiden. “Maidens” juga aku jadikan icon untuk dua vokalis handal Iron Maiden yaitu Bruce Dickinson dan Paul Di’Anno karena kompilasi ini didedikasikan untuk keduanya.

Demikian tulisanku kali ini yang back to my basic as “mr. compilation” dan masih abal-abal juga ^_^
Mohon dimaafkan atas kekurangan dalam penulisan dan semoga berkenan serta bisa meramaikan blog. Matursuwun sanget Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan serta untuk rekan-rekan yang sudi mampir membaca tulisan gemblung ini.

Up The Irons!
hippienov

Yes Tinggal Sejarah: Tanggapan terhadap Review “Heaven & Earth”

August 24, 2014

Herwinto

Miris saya membaca review album baru Yes Heaven & Earth di progarchives, hanya mendapat 2 bintang, turun satu bintang

image

dibanding Fly From Here…punah sudah impian dan harapan saya akan mendengarkan album yang bagus dari band ini, memang saya belum mendengarkan sendiri lagu lagunya, namun membaca reviewnya saja saya sudah lemes dan gak punya semangat lagi untuk mencobanya…terus terang saya memang fans berat band ini, sulit bagi saya menerima kenyataan ini….maafkan saya Mr Howe…mungkin saya bukan fans yang loyal lagi…namun loyal dan kesetiaan saya harus saya berikan karena apa lagi? bukankah karena karya karya emas yang selama ini saya kagumi….kadang saya juga merenung apakah saya terlalu egois?? sehingga memaksa maksa Yes untuk berkarya seperti tahun tahun keemasannya..bukankah mereka bukan lagi anak anak muda tahun 70 an, bukankah mereka telah mencurahkan segenap kekuatan fisik dan fikiran mereka untuk mentorehkan maha karya yang akan dikenang sepanjang jaman? bukankah mereka telah mempersembahkan Close To The Edge dan Gates Of Delirium yang tak tertandingi lagi….yah…akhirnya saya hanya bisa menghibur diri saya sendiri….mereka lebih tahu apa yang bisa mereka lakukan…mereka telah berupaya..mereka telah berusaha….berusaha memberikan yang bisa mereka kerjakan….walhasil semua terserah kepada yang menilai….satu yang membanggakan adalah cover album mereka setidaknya memberi warna progresif yang tulen…Yes tinggal sejarah…..jadi tidak perlu kita paksa untuk berkarya sesuai keinginan kita,….toh live live mereka juga mengusung nomor nomor lama mereka….bagi saya musik mereka telah reinkarnasi ke grup grup baru semacam The Flower Kings, Spock’s Beard, Transatlantic dan seterusnya…merekalah penerus estafetnya!!!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers