Sejenak di Kota Lama – The Warning

September 21, 2014

Kemarin krn gambarnya sdh terlalu banyak maka apa yang saya dapat baru saya tampilkan di sini.
Kelompok pertama adalah kaset-kaset produksi lama.

zz1

  1. Air Supply adalah satu dari sedikit grup pop yang saya sukai, dulu kakak saya yang mengenalkan & lagu-lagu mereka jarang saya dengar di radio (kecuali saya muter gelombang yg salah atau salah waktu mendengarkan). Kebetulan kemarin dalam satu bundel ada banyak Air Supply produksi baru dan 3 yang lama. Karena beda judul album maka saya ambil semua & pertama kali saya memegang sampul yang sebenarnya bukan cuma di layar komputer via internet.
  2. Suzi Quatro rekaman Gold Fingers, saya punya SQ tapi yang ini mumpung ada aja.
  3. Weird Al Yankovic adalah musisi parodi, di Indonesia jaman dulu ada P Project yang mirip. Sebelum dikenal dgn memparodikan lagu Nirvana-Smells Like nirvana kaset-kaset awalnya sdh banyak beredar di jaman non royalty. Ada1 lagu lengkap yang diparodikan ada pula potongan2 lagu yang disatukan. Lagu Sledgehammer-nya Peter Gabriel sepotong dinyanyikan dgn irama ceria semacam Looney Tunes :)
  4. Rick Springfield adalah penyanyi AOR idola para remaja tahun 80-an, setahu saya Rick aktif lagi sekarang tentu saja dengan penggemar yang berbeda. Album Live ini C-90 yang direkam oleh Billboard. Lagu awalnya malah mengingatkan lagu Valkyrie dari Asia di album Gravitas.
  5. Kaset Roger Hodgson yang bersolo karir ini adalah yang paling sering saya lihat jaman dulu, Tambahan di side B ada Steve Hackett 3 lagu :)

Untuk kelompok kaset royalty sebenarnya tak istimewa:

zz2

  1. Enya-Amarantine, masih tersegel shg dijual hampir sma harga asli. Enya saya sukai karena musik & suaranya unik.
  2. the Chieftains juga musisi unik dari Irlandia, saya pernah punya tapi dihilangkan adik saya.Makanya kali ini saya beli untuk mengembalikan kenangannya.
  3. Aerosmith – Get a Grip adalah era Aerosmith menuju kesuksesan tahap II & dikenal lebih banyak orang. Sayangnya sampul dan kasetnya sdh tidak mulus.
  4. the Best White Lion adalah kaset terakhir grup si suami terakhir Ayu Azhari sebelum bubar. Sang gitaris, Vito Brata, sudah tak ingin lagi berreuni walau dibujuk dengan fasilitas apapun.
  5. Dulu saya pernah nonton film Wayne’s World, konon gara2 mereka Bohemian Rhapsody-nya Queen jadi terkenal lagi. Soundtrack ini berisi lagu-lagu hard rock yang digunakan di film mereka.
  6. album Strait Up adalah album tribute untuk vokalis grup Snot, band alternative rock. Beberapa hari yang lalu saya lihat di internet dan kok kebetulan ada kasetnya di sana. Sebenarnya saya beli karena ingin tahu saja.

Memang perburuan kaset lama sangat mengasyikkan, terutama bila nemu kaset2 yang kita idam-idamkan. Bagi saya harga tetap jadi pertimbangan, apalagi kl cuma ingin dengar lagunya masih bisa didapat dari mp3 yg bisa dicari via internet. Dari penemuan kembali kaset-kaset lama ini ada beberapa peringatan yang perlu saya bagikan pada Anda semua, bila berminat.

  1. Bila Anda menemukan kaset-kaset lama jangan jadi euphoria.
    Saya termasuk di dalamnya, wl sdh berpengalaman tetap saja kesenengen kl sdh nemu tempat seperti RM Minang Jaya. Euphoria membuat kita tak waspada. Saya kemarin tdk mengecek kaset Air Supply- Lost in Love produksi Contessa karena percaya 100% isinya benar. Ternyata isinya malah the best of America yg sdh tercetak di rumah kaset sbg ciri khas Saturn. Walau di kaset AS terbitan Hins ada separo album Lost in Love sbg side b tapi sayang juga. Kesalahan yang fatal.
    Kondisi pita juga perlu diperhatikan, gulungan pita karena pernah kriting atau terlipat akan kelihatan kendor. Ada beda pita kendor karena di-rewind dengan karena rusak. kaset Get a Grip termasuk ketidak telitian saya, ada bagian pita yang melipat & sebenarnya sdh dapat diduga dari penampakan gulungan pitanya.
    Penampakan fisik cover & rumah kaset juga perlu dilihat, bila terlalu mulus untuk kaset2 langka malah bisa dicurigai sebagai bajakan Bandung atau Malang
  2. Bila memang disediakan tape untuk mencoba, cobalah dahulu
    Setelah penampakan fisik tadi silakan mencoba kasetnya. Penjualnya biasanya cukup sabar melayani percobaan tadi. Bahkan orang2 pro macam pak Priyo tak mengenal semua lagu, Bisa saja rumah kasetnya sama tapi isinya lain, apalagi kalau rumah kasetnya benar-benar lain. Hal ini juga bisa mendeteksi apakah ini kaset bajakan atau orisinil.
  3. Bila memungkinkan untuk ditawar tawarlah
    Tidak ada salahnya kita menawar jualan yang ditawarkan. Biasanya kl beli banyak harga bisa turun, bahkan seandainya harga sdh termasuk murah :) Kaset-kaset saya kemarin dikategorikan jadi 3 harga tapi saya tawar untuk sama harganya ditolak. Anehnya saat saya tawar saat harga fix malah bisa lebih murah dari yang saya tawar sebelumnya tadi :)

Semoga rekan-rekan gemblunger lain tak perlu mengulangi kesalahan-kesalahan saya tadi dengan sedikit catatan tambahan ini.

Mini ProgRing @ Apple Jombang

September 20, 2014

Gatot Widayanto

image

Alhamdulillah …akhirnya terlaksana juga mrogring di mabes pendekar prog dari Jombang, mas Edi Apple Santoso. Kami bari saja bubaran setelah kenyang ngobrol banyak hal mulai dari 19:15 tadi hingga bubaran tepat 00:00. Seperti halnya progring di Jakarta yang selalu saja waktu berjalan begitu cepat, di Apple Prog Cafe ini juga begitu. Saking asiknya ngobrol tahu2 sudah 23:45 dan mata mulai berat. Rasanya pertemuan dengan mas Edi baru berlangsung 10 menit aja kok musti berakhir. Ya begitulah kalau guyub ….waktu menjadi  tak terasa.

Banyak topik yang dibahas di mini progring nan memorablik ini baik itu the music side maupun the life side of this gemblung blog ….semuanya berbaur dan mengalir begitu saja tanpa agenda yang jelas. Yang pasti banget,   saya banyak belajar dari mas Edi ini band2 yang tergolong rock mbeling dengan nama2 band yang saya belum terbiasa mendengarnya seperti Cosa Brava, Ceramic Dog, Tin Hat dan sebagainya. Wadouw ….edaaaaan …semuanya keren apalagi suasana kafe yang teduh dan jauh dari kebisingan metropolitan.

(Cerita nyambung lagi ya …mau tidur dulu … Yang penting ada foto2nya …he he …)

image

-

image

-

image

-

image

-

image

-

image

-

Sejak acara saya berakhir di komplek Kobangdikal, Tanjung Perak, Surabaya, saya sudah tak sabar lagi menuju terminal Bungurasih buat nyengklak bus menuju Jombang. Atas beberapa saran dari mas Edi dan juga staff dari klien, akhirnya saya mendapatkan bus Patas “Harapan Jaya” Surabaya – Trenggalek, full AC pol … Pukul 17:30 saya sudah di terminal dan bagi saya ini mengingatkan pengalaman empat puluh tahun silam saat saya sering mondar-mandir Madiun – Surabaya saat liburan, sekalian cari kaset rekaman Nirwana dan Starlite; jaman masih sekolah di Madiun. Untung saya diantar sama mas Ari , staff dari klien.

Sepanjang perjalanan Surabaya – Jombang saya menggunakan google maps dan Waze untuk memmonitor kemajuan saya mendekati stasiun KA Jombang dimana mas Edi akan menjemput saya. Saya sempatkan tidur barang beberapa menit saja namun sulit sekali karena memang perasaan saya campur aduk antara senang dan membangun kenangan masa lalu di sepanjang jalan ini yang biasanya rame karena banyak industri. Saya juga menikmati sekali pemandangan rumah-rumah penduduk yang saya amati dari dalam bus. Rumah-rumah tersebut mencerminkan kesederhanaan dan sekaligus ketenangan. Rasanya nikmat sekali tinggal di rumah-rumah sederhana tersebut. Saya memang sengaja mengambil tempat duduk yang dekat jendela sebelah kiri agar jelas melihat keluar bus. Di sebelah saya ibu2 setengah baya yang sepertinya karyawati yang pulang ke Kediri setelah seminggu penuh berkarya di Surabaya. Bisa jadi ini adalah tetangga mas Herman atau nak ndulurnya ,….he he he he …. Pokoknya perjalanan ke Jombang FULL saya nikmati setiap detiknya , bahkan saya tak mendengarkan iPod maupun bermain gadget selain sekali waktu ngecek GPS google maps memantau seberapa dekat saya ke tujuan akhir. Sayangnya lagi2 yang diputer oleh supir bus bener2 pop Indonesia yang menyebalkan dengan lirik termehek-mehek … Tapi saya cuek ajalah.

“Stasiun depan, minggir pak” itu ujar saya ke kenek bus seolah saya ini terbiasa naik bus tersebut. Padahal saya berani bilang gitu ya karena GPS saya menunjukkan kedekatan dengan stasiun Jombang. Aha! Ternyata yang saya bilang “depan” masih jauh banget … ha ha ha ha … Tapi paling gak udah bener karena jalannya lurus panjang. Prakiraan aplikasi GPS Waze di Android (tanpa Paranoid) saya mengatakan bahwa saya akan tiba tujuan 7:12 malam hanya meleset dua menit saja karena saya menginjakkan kaki saya di depan stasiun Jombang tepat pukul 7:15. Setelah itu saya jalan sok yakin melihat ada mobil di depan saya. Eh salah … ternyata di seberang jalan ada orang pake kaos Frank Zappa menuju tempat turun bus. Langsung saya tereaki ” “Wong PROG! Wong PROG!” …terus beliau menoleh kanan dan melihat saya …. ha ha ha ha … KAmi melakukan very BIG HUG setelah sekian lama ndak jumpa mas Edi. Sebenernya gak lama juga sih … lha wong bukan Juni ketemu di Rawon Setan JW Marriott kok … ha ha ha … Tapi rasane yo piye gitu kalo ketemu wong prog …. ha ha ha ha ha ….

Langsung kami menuju mobil mas Edi yang ternyata baru dan ganti dari yang dulu, disambut dengan ramah oleh bu Edi. Di dalam mobil langsung digeber Beardfish “The Void” yang sangar itu dengan volume yang lumayan kenceng meski kami masih bisa ngobrol. Saya diantar mas Edi menuju EDOTEL (Education Hotel) yang merupakan hotel sebagai ajang praktek siswa siswi SMK Negeri Jombang dimana Ny. Edi menjadi salah satu Pengajar nya. Saya dipersilakan ganti baju (mosok prog nganggo batik rek!) dan mandi serta shalat dulu di kamar, sementara Tuan dan Nyonya Edi menunggu di Hotel Lounge. Asik juga lho …anak2 sekolah sekarang sudah diberi ajang praktek hotel seperti Edotel ini. Reception nya aja di handle oleh dua orang siswa kelas SATU! Edan gak sih … pada saat usia saya sama dengan mereka, yang ada di otak saya hanya kaset …kaset …dan kaset! Mana ada saya mikir praktek kerja seperti anak2 ini? hebat tenan! Salut buat SMK Jombang yang punya hotel ini. Next time gemblungers kalau mau ngadain muktamar prog nginep di sini ajah! Enak lho …. full AC lho. Bahkan dingin pol AC nya.

Setelah itu (saya menggunakan kaos The Beatles ‘American Tour 1964′ yang dibelikan anak saya) kami bertiga dengan dikendarai mas Edi menuju tempat kuliner yang gencar dipromosikan oleh mas Edi: Nasi Lodeh Jombang. Whooooaaaaa …!!!! Selama ini saya suka yang namanya lodeh meski full dengan santan. Dari kecil lodeh memang sudah menu harian saya di Madiun. Kuliner lodeh ini dulu bukanya justru pukul 00:00 samapai Subuh. Bu Edi cerita bahwa saat beliau hamil Bintang atau Pelangi, jam 23:00 berada di tempat kuliner ini masih harus nunggu jam 00:00. Namun sekarang ada perombakan susunan Direksi dan Komisaris dari kuliner Nasi Kikil Gus Dur ini sehingga sore hari sudah buka. Makanya kami bisa makan di sekitar pukul 20:00. Mak JLEB pol polan tenan ! Rasanya tak bisa diungkap dengan kata-kata ya selain MAK JLEB! Huwenak pol lah! Makannya pun dipincuk. Penjualnya tanya : “Pake ikan apa?” saya jawab “Kebok” (baca: paru …sambil mbayangin bro Apec yang dokter paru). Nasi lodeh ini ternyata ada kikilnya yang membuat unik dan eclectic pol rasanya kayak Gentle Giant album “In a Glass House” yang rumit itu … ha ha ha ha ha …. Makannya di pincuk dan saya nambah ke pincuk kedua plus nambah nasi. Selain kebok, juga ada krupuk khas Jombang yang dilahap sebagai companion disk (udah kayak The Tangent ajah!). Ha ha ha ha …. Mangan sego kikil ngeprog pol! Wuareg pol saya!

Sego lodeh kikil yang rasanya MAK NJEGREG tuwenan! Dijamin tanduk ke pincuk kedua!

Sego lodeh kikil yang rasanya MAK NJEGREG tuwenan! Dijamin tanduk ke pincuk kedua!

Sampailah kemudian pada acara puncak yakni menuju The Apple.Net cafe yang sudah kondang di jagat luna maya ini … Sambil dag dig dug saya pengen tahu seperti apa sih riil nya Apple ini? Selama ini cumak liat fotonya ajah … Dan .. Alhamdulillah akhirnya Allah tabaroka Wa Taala mengijinkan saya nyambangi kafe yang selama ini hanya saya dengar nama dan fotonya saja. Kafe / warnet ini terletak di area yang strategis, kalau di Jakarta ya Menteng begitulah, dimana banyak rumah-rumah jaman Belanda yang berada di sekitar kafe ini. Apple sendiri berlokasi di rumah yang besar sekali (mungkin sekitar 1000 M2 luasnya, tingkat). Di sayap kiri adalah rumah dua tingkat dimana mas Edi dan Ibunda tercinta tinggal di lantai satu, sedangkan lantai dua untuk kos-kosan karyawan. Sedangkan Apple kafe berada di sayap kanan. Ada tiga area utama di Apple yakni di depan yang merupakan area dengan amben bambu plus dinding dengan lukisan The Raven, kemudian area tengah dan belakang yang merupakan area dimana penuh lukisan karya Fandi dan ada sekitar enam terminal komputer buat mereka yang mau internetan dan menikmati Cwi Mie von Edi Apple atau milkshake atau kopi Kawisari … Wis pokoke dijamin puas berselancar sambil Nywi Mie ….

2014919210131

-

2014919234606

-

2014920080018

-

2014920080049

Di bagian depan agak ke kiri sedikit adalah area bar plus tempat duduk santai dimana ada dinding Selling England by The Pound karya Fandi juga, mengambil artworknya Genesis ‘Selling’. Nah … di sinilah kami (saya dan mas Edi) ngobrol karena Bu Edi tak ikut ngobrol, pulang ke rumah. Di saat ngobrol saya ditawari Es Sari Temu Lawak yang kata mas Edi khas Jombang. Tentu saya enggan sekali menolak tawaran ini. JLEG! Huwenak dan suwegerrrr pol es temu lawak ini …apalagi ditenggak sambil nyawang lukisan Selling England dan sedikit bersenandung “It lies with me! Cry the queen of maybe!” .. Whoooaaaaa…..!!!!!! Mengalirlah obrolan demi obrolan prog baik yang terkait musik maupun kehidupan pada umumnya. Ternyata nikmat sekali lho ngobrol tanpa agenda dan tanpa beban mulai dari pukul 21:00 sampai mendekati pukul 00:00 malam ….

2014919231351

-

2014920092839

Memang di sebelah kursi dan meja tempat kami ngobrol ada sepasang speaker LG plus subwoofer nya yang suaranya jernih. Musik yang mengalun sangat aneh dan belum pernah saya dengar dan ternyata adalah dari kelompok Cosa Brava dimana banyak bebunyian violin dan juga bunyi mesin ketik jadul. memang judul albumnya The Letters sih, makanya including mesin ketik. Ha ha ha … Bukan musiknya saja yang saya nikmati, namun kuliah prog yang diberikan mas Edi ini yang bikin suasana malam nan hening makin nikmat untuk dimaknai ….. Apalagi kemudian saya ditawari kopi Kawisari …tambah njegelek tenan! Satu album The Letters dari Cosa Brava kami dengarkan sambil ngobrol lainnya juga selain musik. Kemudian pindah ke Tin Hat …dan juga Ceramic Dog. Wis pokoke tak secuil musik yang diputer mas Edi tersebut yangs aya pernah dengar sebelumnay. Saya seneng pol dapat banyak pencerahan! Saya juga banyak pelajaran tentang kehidupan yang ternyata memang bener2 dahzyat karena terkait “berbakti kepada ibu”. Luar biasa!

Ayo gemblungers! tetapkan tanggal yang pas buat nyambangi kafe prog ini. Wis …pokoke dijamin nunjek ulu ati lah!

JRENG!

2014920080411

-

Sejenak di Kota Lama Semarang

September 19, 2014

Andria Sonhedi

Hari kamis, 18 September 2014 ini saya ada tugas ke Semarang. Acaranya jam 8 pagi jadi saya harus berangkat jam 4.30 pagi dgn anak buah saya. Kebetulan acaranya di dekat Kantor Pos Besar Semarang. Kami datang jam 8.15 karena macetnya jalanan di jl. Demak-Semarang. Saya sudah takut tak ada tempat parkir tapi nyatanya halaman depan Kantor Pos sepi, malah ada panggung & beberapa tenda putih. Belakangan saya baru tahu kl nanti sore ada acara Rock di Kota Lama bersama Ian Antono & Achmad Albar, bukan Godbless seperti yg saya infokan pada mas Kukuh & pak Edi. Pantesan parkiran kosong soalnya jam 16.00 jalan ke luar perkantoran situ akan ditutup.
Begitu rampung acara jam 16 saya segera balik hotel, sayangnya hotel Metro di sebelah panggung konser sdh penuh oleh para wakil rakyat dari Tegal yg berpiknik cukup jauh hingga Semarang :) Hotel saya agak jauh dari lokasi konser maka saya berusaha beristirahat dulu, maklum sejak kemarin saya nyopir terus utk jarak jauh.
Singkat cerita saya malah bangun jam 19.30 dlm keadaan kelaparan. Sebelum ke tempat konser saya cari makan dulu & ingat cerita mas DananG kl di dekat Kota Lama ada rumah makan padang yang jual kaset. Ternyata tak sulit mencari RM Padang Jaya, selain di pojokan Jl. Agus Salim ada spanduknya kl juga jualan kaset. Untuk awalnya saya beli makan dulu, tapi ternyata saya benar2 tak sabar memeriksa tumpukan kaset di RM itu :) Benar sekali kl mas DananG kmarin tak sempat memeriksa, soalnya memang antara kaset lama dan baru dicampur. Saya sampai sakit mata milih-milih. Dari jam 20.00 akhirnya terpaksa saya akhiri jam 22.00 :D dgn mata pedih kemungkinan karena saya juga kelelahan karena kurang istirahat. Harga2 kaset 18 ribuan, termasuk mahal tapi karena sdh telanjur ya sdh tetap saya ambil 13 buah beragam jenis dari yg lama hingga yg royalty. Bagi penggemar kaset kompilasi lama macam Prambors pasti bahagia karena di sana masih banyak serinya. Seandainya harganya murah pasti saya bersedia ngambil  utk para gemblunger di sini.

image

-

image

-

image

-

image

Kembali ke acara Rock Kota Lama yang tak sempat saya saksikan karena berkorban melihat kaset tadi ada kiriman foto dari rekan saya di Semarang yang sempat nonton.

image


evil has no boundaries

Legenda Genesis (2/7)

September 18, 2014

Herwinto

Nursery Cryme….Membangun Musik Genesis 

image

Jika mengaku seorang progger, tentu anda mengenal album ini, jika anda mengaku fans sejati Genesis pasti kenal  dan suka album ini….!!!

Anthony Phillips merasa tidak cocok lagi dengan Genesis dan dia pun keluar, penggantinya adalah Steve Hacket yang kelak dikenal berpengaruh besar terhadap perkembangan musik Genesis. Drummer John Mayhew juga keluar dan posisinya digantikan oleh Phil Collins, formasi inilah yang sangat menentukan perkembangan arah musik Genesis selanjutnya, dan inilah formasi terbaik sepanjang masa. Pada saat ini Steve Hacket nampaknya masih malu malu, maklum sebagai anggota baru mungkin dia perlu adaptasi dulu, sehingga sound Hacket di album ini belum menonjol. 

Album ini disiapkan dengan sangat baik,  memiliki 3 lagu utama yakni The Musical Box, The Return Of The Giant Hogweed dan The Fountain Of Salmacis, serta 4 lagu lainnya yakni Seven Stones, Harold The Barrel, For Absent Friends, Harlequin. Tiga lagu yang saya sebut di muka merupakan lagu lagu yang sangat berbobot dijamannya dan memiliki pengaruh yang luar biasa bagi perkembangan musik prog selanjutnya. Pada album ini Genesis membeli melotron Mark II dari King Crimson yang oleh Tony Banks mampu menghasilkan suara 3 violin pada lagu The Fountain Of Salmacis dan memberi efek mellow dan dramatis pada Seven Stones, serta pada klimaks The Return Of Giant dikombinasikan dengan brass.

Lagu lagu pada album ini berkisah seputar dongeng dongeng victorian Inggris, misal tentang hidup kembalinyanya Henry(8) yang mati dibunuh saudaranya Chynthia(9) secara tak sengaja ketika bermain croquet di halaman panti asuhan, seminggu setelah kematiannya Chynthia membuka kotak musik Henry yang menyebabkannya hidup kembali namun menua dengan cepat dan berusaha memperkosanya, juga tentang serangan ilalang raksasa terhadap umat manusia yang sebelumnya dibawa oleh penjelajah victorian dari Rusia ke kebun raya di Kew, meski telah dilawan namun ilalang menang melawan manusia. The Return Of Giant adalah lagu yang sering dipakai pada konser konser Genesis, dengan intro yang membombardir dan solo di tengah tengah yang dramatis (Dance of Giant Hogweed),….. siapa yang tidak suka intro lagu ini maka tidak akan suka prog selamanya ha ha ha…. Belum afdhol rasanya  menikmati album ini sebelum mendengarkan The Fountain Of Salmacis yang mengambil cerita dari mithology Yunani tentang seorang peri bernama Salmacis, dengan intro melotron yang dramatis dan cukup menyayat mendominasi sepanjang lagu. Steve Hacket dalam solonya Genesis Revisited I & II menyajikan ketiga lagu tersebut dengan sangat sempurna.

Secara musikalitas lagu lagu di album ini tingkat kerumitannya sudah jauh melampaui Trespass, The Musical Box misalnya sangat kompleks strukturnya dan tak terduga perubahannya dari mulai masuk lagu yang terdengar lambat sekali hingga klimaks lagu yang sangat keras terdapat banyak ornamen ornamen bebunyian yang sangat indah, demikian juga The Return dan The Fountain terdengar sangat megah dengan lika liku dan tekukan tekukan yang tak terduga, warna musik pada The Return dan The Fountain ini selanjutnya sering kita dapatkan pada lagu lagu prog generasi baru yang mungkin sangat terinspirasi dan kagum dengan keindahan klasik kedua lagu tersebut. Pada live show dari album ini Gabriel sudah mulai berakting secara teatrikal dengan kostum kostum dan topeng topengnya yang berbeda beda pada setiap lagu. Phil Collins juga diberi kesempatan unjuk suara emasnya pada lagu For Absent Friends yang berkisah tentang dua orang janda yang suka berdoa untuk suaminya yang telah meninggal.

Sebagai kesimpulannya album ini merupakan langkah awal Genesis membangun sound musiknya dengan formasi yang sangat solid, juga sebagai pijakan untuk melompat kepada album selanjutnya yang lebih radikal yakni Foxtrot yang merupakan karya emas Genesis. Singkat kata album ini sangat sangat luar biasa!!!

Legenda Genesis (1/7)

September 16, 2014

Herwinto

Trespass….Perubahan Bermusik Yang Radikal

image

Genesis adalah band favorit saya selain Yes. Band ini saya anggap sangat luar biasa memberikan pengaruh bermusik kepada band band setelahnya, bahkan bisa dikatakan sebagian besar band band generasi baru sangat dipengaruhi oleh warna musik Genesis. Tengoklah Marillion, Arena, The Watch, Cast, The Flower Kings, IQ dan lainnya, sangat terlihat pengaruh Genesis di sana sini walaupun tidak terlihat mencontek atau mengekor. Beberapa minggu ini saya memang memutar kembali album album Genesis karena saya mencoba meresapi kembali karya asli mereka, pemicunya adalah saya memutar Transatlantic dan mendapati mereka mengkover The Return of Giant Hogweed dengan sangat bagus. Juga The Flower Kings yang memainkan Cinema Show plus terakhir saya menikmati Nick D’Virgilio yang menkover The Lamb Lies Down dengan sangat excellent. Maka saya putuskan menulis tret ini semoga semakin mengokohkan kecintaan kita kepada band super brillian ini.

Trespass….adalah album kedua Genesis yang sekaligus menobatkan eksistensi mereka sebagai band progresif rock, setelah album perdana mereka From Genesis To Revelation gagal dan mereka merasa dikerjai oleh produser mereka, maka mereka memutuskan ”mengasingkan diri” disuatu desa yang damai dan tenang, mereka mulai berlatih dengan keras selama berminggu minggu, dan hasilnya? sebuah album yang berubah 180 derajat dalam arah bermusiknya, sangat radikal!! album perdana mereka yang sebelumnya berirama ala Bee Gees tiba tiba berubah menjadi warna musik yang rumit, berat dan sangat berkualitas. Saya sangat menyukai album ini karena unik dan sangat indah.

Ada dua hal penting yang saya catat dari album ini yaitu Anthony Phillips sebagai  gitaris awal Genesis telah meletakkan pondasi yang kokoh berupa dinamika musik akustik yang kelak dilanjutkan dan disempurnakan oleh Steve Hacket yang kemudian dikenal sebagai sound klasik Genesis seperti pada Suppers Ready. Penggunaan Flute pada album ini sangat dominan yang kelak menjadi ciri khas Genesis Gabriel. Dibuka dengan nomor Looking For Someone yang sangat indah dari awal lagu sampai akhir, lagu ini sangat sunyi namun cukup ngerock ha ha ha piye maksude? perpaduan gitar akustik,elektrik, kibor dan melotron serta gebukan drum yang sangat dinamis dihiasi flute di keheningannya benar benar menghasilkan komposisi yang sangat indah. Tanpa jeda disambung dengan White Mountain yang awalnya sayup sayup bunyi kibor disusul dengan gitar akustik dan teriakan Gabriel yang sangat bertenaga…whooaaaaa saya sangat menyukai lagu ini…di menit 2:10 suara flute muncul pelan pelan….lagu menjadi sangat dinamis…di menit ke 3:40 musik menjadi sunyi dan kembali Gabriel berteriak membahana dan menggema….jiyaaaan tuob tenan lagu ini….lagu diakhiri dengan suasana hening dengan petikan gitar yang sakral…..huebaaaat sekali. 

Track ketiga Vision of Angels adalah lagu yang cukup enak, nyantai…denting piano, petikan gitar akustik serta hammond yang berpadu dengan rapi terdengar begitu klasik. Stagnation lagu yang bernuansa teduh diawalnya dengan petikan gitar akustik, di menit ke 3:00 musik menjadi sangat atraktif  dengan penggunaan hammond serta drum yang sangat rancak, di menit ke 6:57 Gabriel bermain flute dengan indahnya. Dusk adalah nomor lembut sebagai jeda menuju track puncak The Knife….Whoooooaaaaaaaa….ini lagu favorit saya….uediyaaaan!! pembukaanya saja sudah bikin semangat berkobar kobar….dibuka dengan suara kibor, drum dan gitar elektrik yang bersatu padu saling berkejaran….permainan gitar Anthony benar benar ngerock!! di menit ke 3:28 menjadi sunyi dan flute Gabriel menyeruak di keheningan….sangat terdengar sakral!! di menit ke 5:05 menjadi suara hiruk pikuk sebelum kemudian Anthony ngamuk dengan gitarnya lagi…..Tony Banks tak mau ketinggalan juga ngamuk di menit ke 7:30…lagu ditutup dengan permainan hammond seperti di awalnya….puwassss!! huebaaat album ini.

Nostalgia Klenèngan di Magetan

September 16, 2014

Andria Sonhedi

image

Hari sabtu & minggu kemarin saya  tidak pergi jauh2 dari rumah saya di Magetan. rasanya beneran punya rumah memang menyenangkan, apalagi suasana sekitar rumah mmg sepi. Seandainya waktu pak Gatot mampir ke rumah saya kemarin menengokkan leher ke kiri dari tempat duduknya maka akantampak panorama Gunung Lawu. Kebetulan di barat rumah saya terhampar lapangan luas tanpa pohon sehingga pemandangan ke gunung Lawu bisa mudah terlihat.
Selama ini isteri saya yang sering memutar mp3/vcd lagu2 80-an Indonesia dengan dvd player + speaker sederhana yang sering dipakai untuk komputer. Tape compo kami sementara masih belum bisa dipakai karena ada kabel yang dimakan (tepatnya digigiti) tikus. Saya malah jarang nyetel musik di rumah, maklum musik2 saya dianggap aneh dan cuma saya sendiri yang mampu mendengarkan & merasakan keindahannya :)
Ketika kami pindahan bulan Juni kemarin semua barang memang masuk kotak termasuk koleksi kaset/CD/DVD/VCD saya, dan untuk menyegerakan pindah barang2 tadi langsung saja disusun di rumah baru tanpa aturan. Perlahan-lahan tiap minggu kami menatanya kembali walau ada juga yang tidak ingat ditaruh ke mana waktu pindahan :)

image

Sambil menyampuli kotak CD & VCD  dengan plastik supaya tak ada semut yang bersarang tanpa, sengaja saya menemukan beberapa kaset lama saya yang sepintas sangat tak berhubungan dengan kegemaran saya mendengarkan musik yang tak terlalu kalem.
Sekitar awal 2000-an saya memang sedang jenuh dengan musik alternatif, apalagi Nu Metal. Rasanya kok tak ada lagi musik-musik hard rock yang melodius, ada solo gitarnya, berisik tapi menyenangkan. Saat itu saya sempat membaca kalau grup Guruh Gipsy termasuk yang mempelopori perpaduan musik barat dan gamelan Bali.  Jaman itu saya belum tahu internet apalagi download mp3 makanya saya agak penasaran juga. Di toko kaset jelas tak ada, out of print. Selama itu saya cuma tahu kl campursari yang berhasil memadukan gamelan & alat musik modern. namun ya itu, akhirnya banyak yang cuma jadi lagu pop Jawa. Lama-lama saya pikir kalau bebunyian aslinya, gamelan Bali, masih ada yang jual ngapain saya harus repot-repot mencari fusion gamelan & alat musik modern.
Akhirnya saya pergi ke pasar Bringharjo, pas libur karena saya ngantor di Sidoarjo kala itu, nyoba cari kaset gamelan Bali yang seken. Mengapa saya cari yang gamelan Bali? soalnya iramanya saya anggap masih bisa disejajarkan dengan speed metal :D Gamelan Jawa saya anggap lebih ngeblues. Akhirnya dari beberapa kali datang ke unggunan kaset Pak Tris di los Utara pasar Bringharjo berhasil menemukan 4 kaset gamelan Bali. Alasan lain karena waktu itu kaset2 di tempat pak Tris cuma dijual Rp.2000 sehingga saya anggap itu sama dengan beli dawet aja bila akhirnya gagal membangkitkan minat saya. Memang sih tak selalu cocok dengan beberapa lagunya tapi masih lumayan daripada telinga dibombardir lagu2 Nu Metal/Hip Metal :) Saat ini karena belum ada tape compo maka kaset gamelan tadi belum sempat saya setel di rumah.


evil has no boundaries

Baca Buku sambil Ngopi …

September 16, 2014

image

Tret ini merupakan ‘the life side of the blog’ karena tak secara khusus membahas musik meski nantinya juga musik diulas …he he he … Memang pagi ini saya sengaja keluar rumah untuk mencari suasana kerja baru sambil gowes santai. Targetnya memang di area seputar Santa dan Blok M bahkan secara khusus tadi meluncur dari rumah dengan gowes Bromie menuju Pasar Santa. Tujuannya hanya satu: ingin melihat langsung kedai kopi ABCD yang gaungnya santer dibicarakan oleh berbagai komunitas termasuk komunitas musik. Konon kopinya tidak dihargai penjual namun pembeli lah yang menentukan harganya. Edan tenan .. Kreatif juga ya. Saya memang berangkat dari rumah 7:45 dan berada di TKP sekitar 8:20 begitu. Tadinya saya pikir kedai ini ada di sekitar pasar sehingga mudah bagi saya untuk parkir sepeda. Ternyata …menurut juru parkir , lokasinya di lantai paling atas. Lagian masih kepagian katanya, karena bukanya pukul 10:00 an. Ya udah …yang penting sdh tahu tempatnya.

Akhirnya saya gowes di seputar Cikajang dan mampir di MM Juice . Sambil memesan jus kiwi dan apple saya buka laptop sekalian kerja karena konon ada free wifi. Ternyata wifi nya gak bisa bekerja dengan baik, hanya menang nama aja ….padahal tulisan free wifi guwede pol ….ha ha ha ….ketipu. Untung android saya bisa buat wifi. Akhirnya ya pake wifi sendiri. Lumayan enak juga kafe ini karena relatif sepi di pagi hari. Setelah cukup lama di MM Juice dan sudah bisa menghasilkan produk kerjaan karena terbukti dengan terkirimnya email dari laptop saya. Mendekati Dzuhur saya merapat ke masjid di kepolisian PTIK. Setelah itu gowes ke Corelli …he he he … Target di Corelli adalah baca buku bagus karya penulis keren Malcolm Gladwell. Sebenarnya cukup lama buku ini, namun saya baru beli minggu lalu di Aksara PP.

Wah …buku ini keren abis dan wajib baca bagi siapapun anak manusia yang sering merasa minder berhadapan dengan raksasa … Semuanya diulas dengan cantik oleh Gladwell yang jenius ini. Hal2 yang biasa disebut dengan KELEBIHAN yang dimiliki raksasa ternyata juga merupakan KELEMAHAN. Itulah makanya konsultan gurem kayak saya wajib buwanget baca buku super duper kuwereeeen ini…!!! Saya baca sambil nyeruput avocado cappucino racikan mbak Sri von Corelli. Musik yang mengiringi adalah Blaze of Glory nya Jon Bon Jovi yang diputar okeh Imam dari gerai Udinnesse. Mak jleb!

Saya juga menyiapkan musik di iPod saya: Gazpacho “March of Ghost” dan Monarch Trail “Skye” yang CD nya saya peroleh dari ProgArchives, minta di repiu sama saya.

Selamat berkarya! JrèNg!

Fake Plastic Love: Incomplete Story Of RADIOHEAD

September 15, 2014

Hippienov

Bagiku Radiohead adalah band rock yang suram, murung dan kelam baik musik maupun liriknya. Band asal Inggris ini lahir pada era britpop/alternative rock/grunge di dekade 90an dan pada awalnya mereka mendompleng britpop/alternative untuk bisa diterima oleh publik, namun pada perkembangannya mereka berevolusi menampilkan musik “Radiohead” yang sesungguhnya dengan menggabungkan genre-genre musik lain dan tidak terpaku pada satu aliran musik, sehingga rasanya band ini tidak lagi ada di jalur britpop. Seperti halnya The Police saat pertama muncul mengekor musik punk yang saat itu sedang mewabah namun pelan-pelan mulai menunjukkan musik aslinya seperti yang ingin mereka sampaikan di album “regatta de blanc” atau terjemahan gemblungnya kira-kira berarti “reggae bule”.

Debut album Radiohead “pablo honey” adalah point of entry mereka di blantika musik dunia dengan hit single “creep” yang begitu sukses dan membuat nama mereka dikenal seantero dunia. Album kedua “the bends” mulai menunjukkan progresivitas Radiohead dengan tidak hanya memainkan musik yang sama dengan “pablo honey”.
Adalah album ketiga bertajuk “ok computer” yang makin menunjukkan keseriusan Radiohead untuk makin menjauh dari “gelar” britpop dengan membuat sebuah album yang menurutku sangat murung dan kelam melebihi apa yang aku dapatkan di “the bends”. Bahkan untuk membuat album “ok computer” semakin terdengar suram mereka secara khusus mencari sebuah mellotron tua yang sudah rusak kemudian merevitalisasi/memperbaikinya untuk digunakan dalam proses rekaman album ini. Mungkin karena faktor “mellotron” inilah Radiohead saat itu sempat disebut-sebut akan berubah total jadi sebuah band progrock.
Album “ok computer” juga merupakan album Radiohead yang paling aku suka dan paling sering aku dengarkan sampai saat ini. Tiap kali aku merasa “down” atau sedih maka album ini ada pada urutan pertama yang akan kudengarkan. Mungkin ini hanya sugesti namun rasanya semua perasaan sedih, gundah, kecewa yang aku rasakan seperti tertarik keluar dan diserap oleh semua lagu di album “ok computer” yang aku dengarkan.. A bit creepy but it’s true…

Namun Radiohead tidak berhenti sampai disitu, mereka terus berevolusi dan kali ini musik elektronika yang menjadi daya tarik band ini. Album “kid a” dan “amnesiac” merupakan ladang eksperimental mereka bermain musik rock elektronika yang dicampur dengan krautrock dan elemen jazz dan membuat musik Radiohead semakin sulit untuk dimengerti. Di titik ini aku mulai menginggalkan Radiohead, alasan utamanya karena musiknya yang kian aneh dan aku kecewa karena sekarang Radiohead menggunakan banyak samples “musik elektronik/computerized music” yang kurang menarik buatku. Aku baru mencoba kembali ke Radiohead di album “hail to the thief” namun album ini tidak bisa membuatku kembali menikmati musik Radiohead, dan akhirnya pelan-pelan “melupakan” Radiohead untuk waktu yang cukup lama sampai album “in rainbows” yang jadi pemberitaan karena dijual secara online dengan harga suka-suka. Namun aku tidak sepenuh hati dan tidak terlalu berharap banyak dengan album ini karena sudah cukup lama tidak mengikuti perkembangan musik Radiohead sehingga aku hanya membeli cd bajakannya di lapak Mangga Dua. Album ini cukup bagus dan bisa sedikit mengobati kekecewaanku karena nyaris tidak kudengar bunyi-bunyian samples “elektronika” tapi tetap tidak sedahsyat album “ok computer” ataupun “the bends” menurutku.

Nah, minggu lalu saat aku ber-sms-an ria dengan Mbak Indah soal musik tiba-tiba nama Radiohead pun ikut disebut. Aku jadi kembali teringat dengan band yang pernah begitu aku suka ini dan seperti biasa hal ini mendorongku untuk membuat sebuah kompilasi tentang Radiohead.
Mulailah libur weekend kemarin aku pilah-pilih lagu-lagu Radiohead dari file mp3 yang aku punya dan setelah cukup materinya kemudian aku burn dalam format audio. Kompilasi ini kuberi judul “Fake Plastic Love: Incomplete Story of Radiohead”. Kenapa incomplete? Karena gak semua album atau hits mereka yang bisa aku compile, paling gak ada 4 lagu Radiohead yang aku suka namun tidak termasuk yaitu: bones, just, the bends serta planet telex. Kenapa gak diikutkan dalam kompilasi? Karena aku gak punya file mp3 nya… Kasian…

Akhirnya, beginilah hasil jadi kompilasi gemblung ini:
FAKE PLASTIC LOVE: INCOMPLETE STORY OF RADIOHEAD.

1. Creep.
2. Amnesiac.
3. Nice Dream.
4. No Surprises.
5. Fake Plastic Trees.
6. Paranoid Android.
7. Exit Music (for a film).
8. My Iron Lung.
9. Thinking About You.
10. The National Anthem.
11. How Can You Be Sure.
12. Subterranean Homesick Alien.
13. Let Down.
14. Where I End You Begin.
15. Airbag.
16. Karma Police.
17. Myxomatosis.
18. Idiotique.
radiohead2

Banyak materi dari album “ok computer” termasuk disini dan lainnya aku ambil dari “the bends” kemudian “pablo honey” serta “kid a” dan “amnesiac” yang dulu sempat ogah aku dengarkan.
Album ini sama sekali bukan album “the best” atau “hits” Radiohead, aku lebih senang menyebutnya sebagai album tribute untuk sebuah band yang pernah begitu sering aku dengarkan dan aku suka.

Semoga tulisan gemblung ini bisa berkenan dan menghibur rekan-rekan disela-sela kesibukan pekerjaan. Mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam penulisan dan seperti biasa matursuwun sanget Mas G untuk waktu serta kesempatan yang diberikan…

If I could be who you wanted… all the time…
hippienov.

Opeth “Heritage”

September 14, 2014

Gatot Widayanto

Sebenarnya cukup lama saya ingin mereview album ini. Namun, akhirnya tertunda terus menerus hingga akhirnya album baru Pale Communion dirilis tahun ini. Untuk itulah saya terpaksa menulis review tentang album ini sebelum album terbaru nantinya. Menurut saya Heritage ini unik karena ternyata tak berkutat pada format musik 70an namun justru Opeth dengan kreatif gagah berani membuat format dan style baru tanpa meninggalkan jejak nuansa musik prog tujuhpuluhan. Justru itulah saya salut sama band satu ini karena tak sekedar comot saja. Coba aja simak musiknya, mana bisa Anda menarik benang merah langsung keterkaitan salah satu musiknya dengan musik jadul. Bener2 orang pandai sekali band satu ini. Untuk rincinya, silakan baca di bawah. Maaf tak saya terjemahkan lagi ke bahasa kita kerna aslinya ini saya tulis di ProgArchives kemarin. Linknya ada disini.

Heritage

Studio Album, released in 2011

Songs / Tracks Listing
1. Heritage (2:05)
2. The Devil’s Orchard (6:40)
3. I Feel The Dark (6:37)
4. Slither (4:00)
5. Nepenthe (5:37)
6. Häxprocess (6:58)
7. Famine (8:32)
8. The Lines In My Hand (3:49)
9. Folklore (8:17)
10. Marrow Of The Earth (4:19)

Total Time: 56:46

Lyrics
Search OPETH Heritage lyrics

Music tabs (tablatures)
Search OPETH Heritage tabs

Line-up / Musicians
– Mikael Åkerfeldt / vocals, electric & acoustic guitars, Mellotron, Grand Piano, FX
– Fredrik Åkesson / electric rythm & lead guitars
– Per Wiberg / Hammond B3, Mellotron, Fender Rhodes, Wurlitzer, Grand Piano
– Martin Mendez / electric & upright bass guitars
– Martin Axenrot / drums & percussion

GUESTS:
– Alex Arcaña / percussion on “Famine”
– Björn J:son Lindh / flute on “Famine”
– Joakim Svalberg / Grand Piano on “Heritage”

- Steven Wilson / mixing
– Jens Bogren / engineering
– Travis Smith / album art
Releases information
Released: 14 September 2011
Label: Roadrunner

Review lengkap saya copas di sini:

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

A clever way to call it as “Heritage” …

It took me quite a while to take a deep breath on what Opeth have done with this album when I listened to it for the first time. There were two main issues I faced by the time I got this album and both of them were critical to ask and answer as they form a foundation for me to write this very late review – by the time I write this I already received the new album “Pale Communion” which actually I am about ready to write a review. But I was surprised when I looked at this site I have not written anything yet with respect to Heritage album. That’s definitely the results of posting those two critical issues that I raised.

The first issue was: If this is called as a heritage from previous legends, what forms in this album that I can refer to the legends?

Typically when we call legends it’s all about those who shone in the glory days of the 70s …the hey day of progrock and other styles of music: disco, funk, blues , rock, pop as well as R&B. I did not count jazz into it as by that time I did not pay any attention to the development of jazz music until found the music of Chick Corea and Dave Brubeck with his Take Five fame. Talking about legends of prog you can bet me with names like Yes, Gentle Giant, King Crimson, Pink Floyd, Van der Graaf, ELP, Genesis etc. In fact some new prog bands already labelled as they are heavily influenced by Genesis or ELP or Pink Floyd etc. For example when I mention RPWL, people will automatically associate the band with Pink Floyd even though it’s not the same.

But now …look at any track this album by Opeth features: where is in the segment of the music in any track that I can easily refer to legendary bands? Is there any segment that I can say something like …”A ha ….this sounds like Genesis!” …”Aha …this looks like Gentle Giant” or whatsoever. Having spun this album for many times, I think it’s been more than 8 times, the critical numbers enough to give fair views about any prog album irrespective its complexities. Unfortunately my friends … I failed to identify anything (even a small chunk of segment) where I can say it’s influenced by legends like Yes, genesis, ELP and the like.

If that is the case, is it fair enough to say that this album is influence-free? Not really ….!!! I can sense it … I can taste it … I can feel it that somehow the music has a very deep connection with the spirit of 70s prog music but I fail to identify any reference in the music where I can easily say its connection with legendary bands. So what is the conclusion? Well … what I can say is that Opeth is really CLEVER in a way to compose an album that use that spirit and nuances of legendary progrock music and translate them into a beautiful composition where any part or segment in the music has no direct relation with the past. It’s really clever!

The second critical issue is how I should rate this basically new style of progressive music where I can find little reference as comparison?

This second issue has caused me to defer the review for such a long time until now. Actually partly due to my busy schedule in my real life profession. But as far as review concern I tended to delay because I was quite confused with the rating. Honestly I do not quite put this album as my favorite largely due to I do not get used to listen to music like this album. It’s not fair to review based on liking or not liking the album. For sure it’s a definite a good one but how good? Should I consider it as excellent? In fact …after long time thinking about it I land into a conclusion that this is really a four-star rating album. I enjoy the album even though not really love so much. But I admire the boldness of Opeth making this new avenue of prog whenre maybe in the future I will love this kind of music. I remember vividly that in the past I was not happy with Yes “Tales from Topographic” but then I admired it highly as it grew on me really.

SALUTE for Opeth who has made this excellent album! Keep on proggin’ ..!

Peace on earth and mercy mild – GW

IQ “The Road of Bones” Menyeruak dalam Top 40 Prog Albums

September 14, 2014

Gatot Widayanto

Beberapa minggu ini saya amati sebuah fenomena dahzyat luar biasa yang tertera di halaman muka dari situs progarchives dimana IQ “The Road of Bones” bisa menduduki anak tangga ke 24 dari Top 40 Prog Albums versi Progarchives ini. Kok bisa? Itulah faktanya …. Mari kita lihat posisi Top 4o Prog Albums of all time per hari ini pukul 13:32 WIB adalah sebagai berikut:

  1. Close To The Edge – Yes
  2. Thick As A Brick – Jethro Tull
  3. Selling England By The Pound – Genesis
  4. Wish You Were Here – Pink Floyd
  5. Foxtrot – Genesis
  6. In The Court Of The Crimson King – King Crimson
  7. Dark Side Of The Moon – Pink Floyd
  8. Red – King Crimson
  9. Animals – Pink Floyd
  10. Godbluff – Van Der Graaf Generator
  11. Fragile – Yes
  12. Nursery Cryme – Genesis
  13. Pawn Hearts – Van Der Graaf Generator
  14. Moving Pictures – Rush
  15. Per Un Amico – Premiata Forneria Marconi (PFM)
  16. Hybris – Änglagård
  17. Larks’ Tongues In Aspic – King Crimson
  18. Io Sono Nato Libero – Banco Del Mutuo Soccorso
  19. Moonmadness – Camel
  20. Mirage – Camel
  21. Hemispheres – Rush
  22. Si On Avait Besoin D’Une Cinquième Saison – Harmonium
  23. Storia Di Un Minuto – Premiata Forneria Marconi (PFM)
  24. The Road Of Bones – IQ
  25. Relayer – Yes
  26. Kind Of Blue – Miles Davis
  27. Darwin! – Banco Del Mutuo Soccorso
  28. A Farewell To Kings – Rush
  29. Birds Of Fire – Mahavishnu Orchestra
  30. In A Glass House – Gentle Giant
  31. Crime Of The Century – Supertramp
  32. In a Silent Way – Miles Davis
  33. Still Life – Opeth
  34. Ommadawn – Mike Oldfield
  35. The Silent Corner And The Empty Stage – Peter Hammill
  36. Hot Rats – Frank Zappa
  37. Aqualung – Jethro Tull
  38. Meddle – Pink Floyd
  39. Depois Do Fim – Bacamarte
  40. H To He, Who Am The Only One – Van Der Graaf Generator

Fakta ini perlu kita bahas dengan kepala dingin, dengan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar:

  • Kok bisa ya, album yang baru dirilis tahun 2014 ini bisa langsung menyeruak di dalam Top 40 Prog Albums dimana mayoritas adalah album-album tahun 70an kecuali beberapa saja seperti Opeth atau Anglagard. Bahkan, kalau dilihat hanya IQ saja yang albumnya paling gress tahun ini bisa masuk dalam deretan bergengsi ini.
  • Benarkah IQ The Road of Bones ini lebih hebat dari Yes Relayer yang legendaris itu? Rasanya tak ada track di dalam The Road of Bones yang kualitasnya sebagus Gates of Delirium di Relayer. Kok bisa ya? Apakah Sound Chaser dan To Be Over tak dianggap berkualitas sehingga bisa tenggelam dengan lima track dari album The Road of Bones? Sebagai penggemar Yes tulen tentu saya tidak terima bahwa The Road of Bones mengungguli Relayer. Lantas, apa yang menyebabkan The Road of Bones menduduki ranking 24 sedangkan Relayer hanya di 25 saja?
  • Mari kita bandingkan juga dengan Rush Hemispheres yang menduduki tangga ke 21 padahal ia adalah album yang dirilis tahun 1978 dan hanya terpaut dua anak tangga lebih unggul dari The Road of Bones. Lebih dalam lagi, masak sih Yes Relayer kalah unggul dibandingkan Rush Hemispheres?

Mari kita lihat distribusi dari rating yang diberikan pengunjung ProgArchives dari tiga album di seputar anak tangga yang dekat dengan The Road of Bones:

RUSH Hemispheres 2014-09-14 13.15.04

-

IQ The Road of Bones 2014-09-14 13.08.45

-

YES Relayer 2014-09-14 13.17.35

-

Memang sih terlihat bahwa overall rating IQ Road of Bones tertinggi yakni 4.42 dibandingkan Yes Relayer yang hanya 4.36. Namun Rush Hemispheres yang overall rating nya hanya 4.38 (di bawah The Road of Bones) malah menduduki peringkat lebih atas dari pada The Road of Bones yakni peringkat 21. Namun kalau kita cermati, ada 59% dari yang mereview Rush menyatakan BINTANG LIMA sedangkan di IQ The Road of Bones hanya 55%. Artinya, distribusi bintang ternyata mempengaruhi peringkat.

So ….

Bagaimana dengan temen2 gemblungers? What do you think?

Salam,

G


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 146 other followers