Majalah AKTUIL

Majalah Aktuil dan Musik Rock dalam Kehidupan Saya

 

Sebuah Curhat Nuansamatik

JRENG! Majalah Aktuil telah menjadi bagian “penting” dalam kehidupan saya terutama pada saat majalah ini heboh sekali di seputar awal 70an hingga pertengahan 70an. Saya tidak tahu tepatnya tahun kapan mulai mengenal majalah ini. Yang jelas, waktu itu saya tinggal di Madiun, Jatim, bersama ibu dan kakak saya yang nomer dua, Henky. Saya anak bungsu dan saat mengenal Aktuil masih duduk di bangku SMP karena mas Henky inilah yang rajin sekali membeli majalah ini. Aktuil bisa dikatakan sebagai trendsetter kehidupan anak muda saat itu. Masih ingat sekali saya setiap hari menghabiskan setiap halaman berita musik sambil menunggu edisi selanjutnya terbit. Ada empat hal yang selalu saya tunggu pada edisi berikutnya dari majalah Aktuil: Pertama, poster apa yang akan disertakan dalam edisi tersebut; kedua, berita utama (cover story) nya apa; ketiga, ada bonus sablonan buat kaos apa tidak, dan keempat ada stiker atau tidak. Tentu, selain keempat hal tersebut saya juga mengharapkan ulasan-ulasan menarik dan informatif mengenai perkembangan musik rock saat itu.

Meskipun saya di Madiun, saya selalu “updated” dengan perkembangan musik rock karena adanya majalah Aktuil ini. Ingat, pada saat itu belum ada istilah www dotcom sama sekali, bahkan membayangkan adanya komputer saja tidak pernah terlintas sama sekali. Bisa dibayangkan begitu sulitnya mendapatkan informasi aktuil mengenai perkembangan musik rock. Memang sejak usia SD saya sudah sangat terobsesi dengan musik rock terutama setelah mendengarkan album ”Demons and Wizards” nya Uriah Heep yang merupakan kaset rekaman Starlite C-60 yang dibeli mas Henky. Setelah itu saya mengenal ”Fools” nya Deep Purple dan ”I Can Feel Him In The Morning” nya Grand Funk Railroad saat saya berlibur ke indekosan kakak saya yang sulung, mas Budi, di Tebet Jakarta. Wuah, sejak itu saya mengokohkan minat saya terhadap musik rock. Luar biasa sekali musik ini karena bisa menciptakan mood semangat yang tinggi dan memacu adrenalin untuk selalu semangat. Yeah! Apalagi setelah saya tahu Yes album ”Fragile” rekaman dari PH, dari mas Henky yang saat itu sudah jadi penyiar di Yogya.

Pada saat mas Henky kuliah di UGM, Yogya, saya terpaksa harus merengek ke ibu untuk membelikan majalah Aktuil. Masih ingat saya pada saat beberapa hari sebelum terbit saya mengunjungi kios majalah ”Toko Kaji” yang terletak di Jl. Sumatra pojokan Jl. Pahlawan, Madiun, untuk mengecek apakah edisi terbaru sudah keluar atau belum. Terus setelah keluar pun, saya hanya mampu melirik-lirik sampulnya saja karena sering kali saya tidak tega meminta uang ke ibu untuk beli majalah ini. Ibu saya saat itu sudah menjanda karena ayah meninggal dunia saat saya sekolah TK, dan berprofesi sebagai penjahit. Saya harus menunggu kapan ibu sudah menerima bayaran jahitan dari pelanggan-pelanggannya. Sering kali saya dibelikan oleh ibu, tapi kadang kala saya terlewat edisi tertentu karena pada saat saya ”mampu” beli (pakai uang ibu saya) edisi tersebut sudah ludes di Toko Kaji. Saya gigit jari. Catatan: Sambil menulis ini (20 Mei 2007), saya menitikkan air mata (mbrebes mili) sungguhan, mengingat begitu sulitnya saat itu dan juga sekaligus perasaan betapa indah dan damainya masa kecil / remaja saya dulu. Inilah hebatnya Aktuil! Bisa menghidupkan masa lalu begitu eloknya meskipun saat ini saya sedang memasang musik cadas dari album Dream Theater paling anyar ”Systematic Chaos” di laptop saya.

Suatu edisi tertentu, Aktuil telah membuat inovasi luar biasa (menurut kacamata saya saat itu) yaitu dengan menerbitkan ”bonus” berupa sablonan kaos dengan cara menyetrika sablonan ke kaos. Luar biasa! Karena saya punya kaos (T Shirt) warna merah polos, saat itu sablonannya warna hitam dengan tulisan sablonan yang saya tak akan pernah lupakan : I’m Young and I’m Proud! Waduh … kereeeeennn abiss!!!! Langsung saya setrika dengan hati-hati dan penuh perasaan. Hasilnya? Jreng! Luar biasa ….!!! Saya punya sablonan dari majalah paling top di Indonesia saat itu di kaos saya. Yes! Sorenya langsung saya pake ”nyengklak” (naik) sepeda jengki Forever warna hijau keliling Madiun. Saya mengayuh sepeda dari Jl. Sumatra (tempat tinggal kami), menyusur Jl. Pahlawan, Tugu, Pasar Gede, Jl. Dr. Sutomo dan kembali ke Jl. Sumatra. Rasanya, hari itu saya jadi ”Superstar” karena menjadi orang Madiun pertama yang menggunakan sablonan paling keren sejagad itu!

Aktuil memang sering menambah bonus sablonan setrika tersebut dengan tulisan yang berragam. Saya tidak ingat semua, karena sudah sekitar 35 tahun yang lalu. Kalau tidak salah, pernah juga yang simbol telunjuk tangan tampak muka ala Grand Funk Railroad yang kesohor itu. Namun yang paling berkesan bagi saya ya ”I’m Young and I’m Proud”. Mengapa? Karena saya waktu itu ingin banget jadi ”muda” karena sebetulnya saya masih kecil (paling kelas 2 SMP) dan belum masuk kategori ”muda” yang notabene anak SMA begitu.

Syahdan, pas mas Henky liburan kuliah di Fakultas Ekonomi UGM, dia pulang ke Madiun. Pas saya lagi duduk-duduk mendengakan ”No One To Depend On” nya Santana, dia tahu2 menghampiri saya sambil bilang: ”Kamu dengarkan kaset ini sambil baca artikel ini!”. Wah, gaya ngomongnya itu lho yang gak tahan, instruksional banget. Memang sih, waktu saya kecil, saya ini takut sekali sama mas Henky karena jarak umur kami cukup jauh: 7 tahun. Yang dia sodorkan adalah: Kaset Genesis rekaman Pop Discotic dengan side B nya adalah Kayak, dan majalah Aktuil yang saat itu mengulas Genesis. Pertama, saya heran, kok ada kaset rekaman Pop Discotic, apakah ini lagu disco? Padahal saya tahu mas Henky ini ngerock banget dan juga penyiar di Radio Geronimo Yogya. Dugaan saya salah, ternyata itu hanya merek usaha rekaman bajakan yang biasa terjadi saat itu dengan nama berragam: Peony, Sinar Djaja, Scorpio, Aquarius, Perina, King’s, Yess, Lolita, Hins Collection, Contessa, Rover, Nirwana, Starlite, Apple, Monalisa. Dan ternyata, Genesis itu rock.

Masih ingat saya putar kaset itu dan daftar lagunya adalah ”The Musical Box”. Luar biasa musiknya, dimulai dengan bebunyian piano dengan nuansa 70an yang kental sekali : ”teng teng teng teng …. Play me Old King Cole / That I may join with you, / All your hearts now seem so far from me / It hardly seems to matter now……….” wuih dahsyat sekali! Seperti biasa, jaman dulu kaset tidak ada judul albumnya dan belakangan saya tahu dari Aktuil bahwa ini adalah album Genesis ”Nursery Cryme”. Kontan, saya menyukai lagu berjudul ”The Return of Giant Hogweed” dari Genesis. Karena side B nya adalah Kayak, saya langsung cinta dengan lagu “Woe and Allas”. Indahnya masa remaja dulu … Musik-musik seperti ini melekat dengan kuat di ingatan saya, hingga kini saat format sudah menjadi cakram padat (CD), saya tetap mengoleksinya.

Di artikel Genesis tersebut, Aktuil mengulas habis era Peter Gabriel terutama saat album awal hingga Nursery Cryme. Di situ juga ada foto Peter Gabriel dengan dandanannya yang terkenal teatrikal seperti bisa dilihat di sampul album Genesis ”Live”. Jubah hitam, topi segitiga / piramid dengan tekstur warna biru tua dan pink menyala di bagian tengah. Wah, ini foto sangat mengesankan. Saya menyebutnya dengan istilah “nuansamatik” (sesuatu yang bisa menciptakan suasana klasik saat musik rock pada awalnya bergulir dan sangat digemari banyak orang di tahun 70an itu). Istilah ini memang saya buat untuk menggambarkan situasi saja, dan sudah sering saya gunakan di milis m-claro, i-Rock!, maupun prog-rock.

Tidak hanya Genesis saja saya mengenal grup kaliber dunia dari Aktuil. Ada puluhan (mungkin ratusan) band yang saya tahu dari majalah ini, baik grup internasional maupun nasional. Salah satu yang sangat ”membekas” hingga kini adalah ulasan Aktuil tentang band baru bernama Angel. Waduh, Aktuil mengulas band ini begitu lengkap dan sangat detil disertai wawancara dengan personel band ini di London. Luar biasa! Adalah almarhum Deni Sabri yang bertanggung-jawab meracuni saya dengan kelompok baru bernama Angel ini. Pokoknya kalau Anda melihat sampul muka Aktuil ada gambar foto personil grup ini pasti akan tertarik karena bagus sekali fotonya: rambut gondrong, poni, muka manis dan kostumnya putih semua. Uediyan! Itulah umpatan saya waktu itu tentang ulasan menarik Aktuil ini. Setelah baca ulasan Angel di Aktuil, saya tersiksa. Lho? Iya, karena saya kesulitan sekali mendapatkan kasetnya di Madiun. Wah .. tambah penasaran saja. Setelah cukup lama cari, akhirnya saya dapat juga kaset ini dijual di toko Duta Irama Madiun, harganya Rp. 500,- Begitu saya setel, lagu pertamanya adalah ”Long Time” … biyuh .. langsung nggeblak saya menikmati lagu yang komposisinya begitu indah ini. Luar biyasa! Bahkan di bagian interlude musiknya ada bebunyian flute segala. Belum lagi lagu ”Tower” yang gahar dan ”Mariner” yang melankolis sekali. Hebatnya Aktuil juga mengeluarkan stiker logo Angel yang langsung saya tempelkan di gitar akustik saya. Saya langsung cari chords nya Mariner dan sering saya mainkan dengan gitar akustik. Keren! Tidak salah memang, Aktuil selalu memberikan reportase yang benar-benar ”aktuil” dan ”pas” dengan kenyataan. Buktinya, Angel ini saya baca ulasannya jauh sebelum saya dengar musiknya, dan begitu dapat kasetnya langsung ”bleng” masuk telinga dan hati dengan indahnya. Di jaman digital ini, saya juga sudah membeli format CD nya dan album ini menjadi album kesayangan saya, karena sangat nuansamatik bagi saya.

Tidak hanya grup asing yang saya kenal dari Aktuil. Banyak grup Indonesia yang saya kenal dari Aktuil. Saat itu marak sekali berita musik (rock maupun pop) dibahas di Aktuil dengan grup2 Indonesia saat itu: AKA, Giant Step, Harry Roesli and The Gank, Rawe Rontek, Micky Bentoel, Hookerman, Yeah Yeah Boys, The Mercy’s, Gembel’s, Rollies, Trenchem, Sylvia Saartje, Super Kid, Freedom of Rhapsodia, Rasela (Rajawali Selatan), Pretty Sisters, God Bless, D’Loyd, The Favourites, De Hands, Koes Plus, NoKoes, dan masih banyak lagi grup maupun penyanyi nasional lainnya. Rasanya semua yang diulas di Aktuil, saya hafal.

Kamar tidur saya saya saat itu sangat besar (6 M x 6M) dan tinggi plafonnya 5 M karena rumah kami di Jl. Sumatra no. 26, adalah peninggalan jaman Belanda. Hebatnya, kamar tersebut semua dindingnya penuh dengan poster dari Aktuil. Ada Raquel Welch (tidak ada hubungannya dengan rock sih, tapi nuansamatik), Rod Stewart, Ekseption, Kayak, Uriah Heep (era David Byron), Deep Purple, Black Sabbath, Suzy Quatro (dengan kostum kulitnya), Led Zeppelin. Tidak ada sejengkalpun dari dinding kamar saya yang tidak dipenuhi poster.

Aktuil juga pernah mengeluarkan kompilasi lagu-lagu rock yang namanya ”Rock Vibrations” ,maupun lagu pop ”Easy Listening”. Sekali lagi, saya takjub dengan Aktuil karena melalui kaset kompilasi ini saya semakin merasa kecil karena ternyata banyak sekali grup yang namanya sangat ”asing” bagi saya. Contoh ekstrimnya adalah ada grup namanya Popol Ace yang di kaset kompilasi itu ada salah satu lagunya berjudul ”Music Box”. Wow! This song has become one of great songs I have ever heard in my life! Arensemen lagu ini luar biasa! Dimulai dengan petikan gitar akustik yang manis sekali diikuti untaian lirik yang indah melalui vocal : “I’m sitting in a music box , making songs I wanna know what for? Is there really more to tell , or haven’t you really had before? Oh … uuuhhhh … who can tell? Oh .. in the end it won’t make us different.”. waduh! Rasanya saya mau menangis kalau mendengarkan lagu ini! Ingat masa remaja yang indah dan ingat Aktuil!

Selain Popol Ace, saya juga jadi kenal musiknya Nektar yang di situ ada lagunya ”Fidgety Queen”.

Majalah Aktuil juga pernah menciptakan sejarah luar biasa dengan mendatangkan Deep Purple untuk main di Jakarta. Pada saat itu di Aktuil sedang santer dibicarakan betapa bedanya permainan Tommy Bolin, gitaris baru, terhadap Ritchie Blackmore, gitaris lama. Banyak orang yang tidak begitu menyambut dengan anthusias kehadiran Tommy Bolin di Deep Purple. Namun, begitu majalah ini mengumumkan akan mendatangkan Deep Purple, tetap saja anthusiasme pembaca masih meluap tinggi sekali. Saya masih ingat betapa saya ”menderita” karena konsernya nun jauh di Jakarta dengan tiket yang luar biasa mahalnya bagi ”wong ndeso” (orang kampung) seperti saya, yaitu Rp. 7.500,-. Saya cukup puas mendengarkan kaset album terbarunya saja ”Come Taste The Band” yang memang sangat saya suka sekali.

Herannya, prestasi sekolah saya malah meningkat baik walaupun saya ”menggilai” musik rock dan berita-berita musik rock di Aktuil. (Selain Aktuil, kadang-kadang saya juga baca majalah musik TOP dan Muzik Ekspres dari Belanda). Mungkin karena saya selalu belajar sambil memasang kaset rock atau mendengarkan radio Australia atau radio gelap ”GM” (singkatan: Gombal Mukio) di Madiun yang konsisten mengudarakan lagu2 rock. Saya ingat sekali Aktuil membahas grup Toto dan kemudian sore harinya saya pasang radio merek Ralin ke gelombang SW Radio Australia siaran Indonesia, ada lagu ”Hold The Line”. Wow! What a great time! Masih ingat saya, waktu kelas 2 SMP, ibu guru Bahasa Inggris saya, Ibu Hera yang cantik, pernah memuji saya di depan kelas tentang prestasi gemilang saya mendapatkan angka 9 (tertinggi) dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Tentu saja, lha wong saya rocker, tiap hari dijejali lirik-lirik bahasa Inggris seperti ”He was the wizard of a thousand kings .. And I chance to meet him …dst.” yang merupakan lirik “The Wizards” nya Uriah Heep yang merasuk sekali di otak saya. Karena seringnya diputar kaset ini, ibu saya (sekarang 81 tahun) juga menyukai Uriah Heep. Beberapa saat lalu (tahun 2007) saya putar CD album ini, ibu saya masih ingat bahwa ini lagunya Uriah Heep. Luar biasa beliau ini.

Pelajaran matematika saya juga melesat tinggi dan pernah menduduki juara kelas dan saya masuk dalam kelas “unggulan” di SMP Negeri I Madiun dimana saat itu Kepala Sekolahnya Bapak Maryono. Saya masih ingat, kelas unggulan itu adalah kelas IID, isinya bocah-bocah berprestasi. Pokoknya hidup saya penuh semangat sekali, meskipun uang sangat sulit saat itu. Untung saya punya temen sesama rocker di SMP I Madiun, namanya Didik Rudiono, yang bercita-cita ingin menjadi Doktor. Benar, dia telah mencapai gelar Doktor dalam bidang peternakan dan saat ini mengajar di Universitas Lampung. Didik juga masuk kelas IID dan rocker. Kesimpulannya, rocker pasti cerdas. Ah…. saya tidak mau takabur. Saya dan Didik sering tukar-menukar kaset karena tidak mampu beli semua kaset.

Belakangan ini saya berpikir, apa hubungannya antara matematika dan musik rock? Akhirnya saya ketemu juga. Kalau matematika itu kan berarti kepastian, presisi, bukan ”perkiraan”. Sedangkan musik rock itu cirinya adalah juga presisi. Maksud saya, kalau ada band lokal yang membawakan lagu Led Zeppelin ”Kashmir” namun tidak persis, pasti akan dicela. Artinya, musik rock perlu presisi tinggi. Mungkin itu penyebabnya nilai prestasi saya di pelajaran matematika tinggi. Ini kemudian menurun ke anak saya, Dian Widayanti, yang saat ini kelas 3 SMP dan nilai matematika dan bahasa Inggrisnya selalu juara. Sayangnya, Dian ”belum” suka musik rock. Tidak masalah, suatu saat pasti suka.

Salah satu puncak prestasi saya adalah ketika saya bisa tembus masuk ITB pada tahun 1979. Dan, jangan salah, peran musik rock sangat besar dalam mengantarkan saya menjadi mahasiswa ITB. Kelas 3 SMA saya habiskan dengan belajar banting tulang sampai jam 4 dinihari (istilah Jawanya: ”begadang nganti dur”), tiap hari, sambil memasang musik Triumvirat (Spartacus, Old Loves Die hard), SNAFU, Led Zeppelin, Yes, ELP, Pink Floyd, Genesis, dan semua grup yang dibahas di Aktuil. Hari pertama saya menginjak kota Bandung untuk pendaftaran masuk ITB, sorenya saya nyetel kaset Rush ”Farewell To Kings” rekaman Yess Bandung. What a great time man! Setelah resmi sebagai mahasiswa ITB, sebelum perkuliahan dimulai, saya kembali ke Madiun menjalankan kaul sakral saya (bila diterima di ITB) untuk ngamen. Didik Rudiono, sahabat ngerock saya, ikut ngamen sama saya. Kita tetapkan daerah ngamennya adalah Ponorogo (28 KM selatan Madiun). Ya, hari itu kita gelar ”Road Concert 79” dengan saya main gitar, vokal, dan harmonika; Didik main bass dan temen saya Wowok sebagai kru. Lumayan, dapat uang Rp. 2,500,- yang kemudian Rp. 500,- kita pakae buat makan sate Ponorogo sampai kenyang. Karena kami rockers, setlistnya pun banyak lagu rock, termasuk The Beatles ”While My Guitar Gently Weeps”.

Saya tidak tahu persis kapan Aktuil akhirnya bubar. Namun, ”roh” Aktuil masih hidup di saya hingga saat ini. Pada saat saya mulai karir saya sebagai reviewer di situs progressive terbesar dan kondang www.progarchives.com di tahun 2004, saya tulis majalah Aktuil sebagai ”influence” saya dalam menggemari dan menikmati musik rock dan progressive rock. Kalau tidak ada Aktuil, bagaimana saya bisa menikmati nada-nada keriting dari Yes, Genesis, ELP, Gentle Giant? Atau musik spacey seperti Hawkwind? Itulah hebatnya Aktuil! The magazine can be gone but the spirit carries on til today! Saat saya menulis ini, saya sudah mengulas 1,002 album progressive rock di situs internasional tersebut dan mendududuki peringkat no 2. Dari sekian banyak ulasan saya, saya juga menyebut majalah Aktuil. Salah satu pengulas tersebut adalah mas Purwanto Setiadi dari Koran Tempo. Beliau juga mengatakan di situs tersebut bahwa Aktuil lah yang memperkenalkan beliau ke musik rock. Sampai sekarang saya masih berkomunikasi intens dengan mas Purwanto melalui milis i-Rock! maupun lewat SMS.

Saking intens nya saya dipengaruhi oleh majalah ”gila” ini, sampai sekarang saya masih kadang2 menggunakan istilah jadul seperti ”blantika musik rock”. Jika anak sekarang, generasi metal, sering menyebut peta musik yang mereka sukai dengan ”metal scene”, kalo dalam ranah musik rock, saya masih suka dengan istilah ”blantika” yang memang pastinya diprakarsai oleh Aktuil. Bahkan, saya baca referensi di internet belakanagan ini, ternyata istilah ”dangdut” itu juga berasal dari majalah Aktuil. Apa iya? Kalo iya, memang benar majalah ini sangat berpengaruh. Saya masih ingat dulu ada istilah ”duel antara rock dan dangdut” antara Benny Subardja (Giant Step) dan Soneta (Rhoma Irama). Kalau ingat berita ini, saya geli sendiri. Lha opo tumon? Mosok beda aliran mau duel, bagaimana ceritanya? Ada-ada saja. Saya yakin mas Beny maupun bang Rhoma kalau ingat masa lalu tentang hal ini pasti ketawa terpingkel-pingkel. Tapi ya itulah fenomena jadul.

Satu fenomena lagi yang terjadi saat itu selain musik adalah film. Memang saya sebetulnya tidak menyukai film tapi ya kadang-kadang saya ikut-ikutan nonton juga di bioskop Lawu atau Arjuna Madiun, bahkan Madiun Theater setelah saya SMA. Masih ingat saya film-film yang cukup mengesankan saya: ”Ratapan Anak Tiri” (aktor: Faradilla Sandy), ”Heintje”, ”Eyewitness” (aktor: Mark Lester), ”The Day of The Jackal”, ”Cassandra Crossing”, ”G Man Go”, ”Si Buta Dari Goa Hantu”, dan juga film di TV seperti ”Mission Impossible” maupun ”The Saint”.

Pada saat saya dan teman-teman membentuk komunitas i-Rock! tahun lalu, saya dan Mamak (penggila Deep Purple) yang mempertahankan supaya orientasi musik 70an tetap diberi porsi yang cukup selain glam rock (80an) dan metal. Benar saja, i-Rock! telah menggelar beberapa event dengan aliran classic rock seperti ”Ruby Thursday” dengan tribute Rolling Stones dan Led Zeppelin, Jam Session yang menampilkan metal dan classic rock, maupun progressive rock dengan Sarasehan Musik membahas Genesis beberapa bulan yang lalu. Semangat dari Aktuil tetap mengalir, melestarikan musik jadul 70an.

Beberapa saat yang lalu saya dihubungi oleh Pak Andy Julias, salah satu guru saya dalam musik progressive, yang mengatakan bahwa penyelenggaraan Progressive Nite yang baru saja digelar berlangsung sangat 70an karena ada pemutaran film dokumenter Aktuil. Terus saya juga dengar dari SMS Blast dari mas Tatan A Taufik (American Express), dan mas Rizal B Prasetio (JP Morgan) bahwa Aktuil akan membuat buku memoar. Terus, saya teringat kenalan yang baru saya kenal sekitar 3 tahun lalu dan beliau bilang dulu sempat aktif di Aktuil. Beliau adalah Bapak Billy Muditojaya yang langsung saya kontak karena saya senang sekali bahwa majalah ini akan dibukukan. Beliau menyambut antusiasme saya dengan semangat dan menyarankan saya menulis tentang kesan terhadap majalah ini dan menghubungi pak Odang. Terima kasih untuk Pak Odang yang mendorong saya untuk menulis artikel ini. Tentu saya senang sekali diberi kesempatan karena majalah ini ”sangat” mempengaruhi semangat saya dalam menempuh kehidupan, terutama tentang musik rock yang sangat bersemangat. Maka, jadilah uraian ini, yang lebih bisa dikatakan sebagai ”curhat nuansamatik” dan saya lakukan dengan sangat gembira ria. Mungkinkah majalah ini terbit lagi? Kenapa tidak? Majalah Classic Rock saja sekarang masih laku dan juga membahas kelompok jadul. Semoga bisa hidup kembali. Karena .. Aktuil itu TOP MARKOTOP! Sekian. Keep on rockin’ …! Keep on proggin’ ..! JRENG!

Jakarta, 20 Mei 2007

Dengan Semangat Kebangkitan Nasional

Gatot Widayanto – Salah satu (dari jutaan) ”korban” Aktuil

36 Responses to “Majalah AKTUIL”

  1. Yor Says:

    Wah bagus bener tulisannya om! langsung dari korban dan saksi hidup kejayaan prog pada zamannya
    Saya juga suka main-main ke progarchive, cuman baru tahu ternyata orang Indonesia toh reviewer kondangnya :D
    Pantesan kok hebat bener ada Immanissimo, Guruh Gypsy di situ..
    Salute buat om, terus berkarya!

    • Gatot Widayanto Says:

      Terima kasih Om Yor. Salam kenal! Pada jaman itu semua jenis musik berjaya secara bersamaan, baik itu prog, rock, pop bahkan disco. Penggemar musik pop juga kenal dan menyukai Deep Purple7, Yes, Genesis, dll.

  2. Bintang Sukma Mukti (@bounbone) Says:

    wah mantep sekali critanya om Gatot,sangat menginspirasi,apalagi kata-kata ‘I’m young and I’m proud’ keren sekali,saya pernah dicritani babe saya yang dulu prnah nyetrika sablonan gambar robot salaman-nya Pink Floyd ‘wish you were here’……

    ngomong2,Heritage-nya Opeth n Grace of Drowning-nya Steven Wilson dapet nilai brapa om??itu dua album top yang baru keluar n lagi sering saya puter,makasih

    • Gatot Widayanto Says:

      Ha ha ha …. Saya juga ada tuh sablonan Wish You Were Here ….
      Opeth bAru OK, ngeprog. Steve Wilson belum dengerin ..

      T ksh

  3. theo lintabng Says:

    mas, ada satu group kondang yang anda lupa sebut. Group itu merupakan cikal bakal Gombloh – Leo Kristie, dll, nama group nya Lemon trees. saat itu sangat top di surabaya. coba lihat majalah aktuil sekitar tahun 71 s/d 74.salam

    • Gatot Widayanto Says:

      Iya mas Theo, terima kasih. Saya tahu grup tersebut mas … Tapi saat itu tidak mendalami banget musiknya, hanya punya 1 kasetnya saja kalau gak salah, saat itu. Ma kasih mas ….

  4. theo lintabng Says:

    mas anda lupa sebut satu nama group beken saat itu di surabaya. merupakan cikal bakal Gombloh – Leo kristie , dll Coba lihat majalah aktuil tahun 71 s/d 74. salam

  5. Kristanto Says:

    Dari sebuah blog ttg majalah ini :
    Aktuil memang lahir dari sebuah kesepakatan. Prakarsa bermula datang dari Denny Sabri Gandanegara, kontributor majalah Discorina, Yogyakarta. Putra pertama Sabri Gandanegara, wakil gubernur Jawa Barat periode 1966 – 1974 ini, tidak puas dengan majalah tempatnya berkarya yang hanya menyajikan profil pemusik dan chord lagu. Dia lalu bertemu Bob Avianto, seorang penulis lepas masalah-masalah perfilman. Dari obrolan ringan, mereka sampai pada perbincangan intens dan serius untuk membuat majalah hiburan.
    Di rumah Syamsudin – publik musik mengenalnya pemusik Sam Bimbo- mereka mencapai kata sepakat dan mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah. “Ini bahasa Indonesia yang salah memang. Tapi, saat itu kami sedang gandrung-gandrungnya majalah Actueel,” kata Denny Sabri Gandanegara. Actueel adalah majalah musik terbitan Belanda, yang masuk ke kota Bandung melalui jalur bursa media Cikapundung. “Nama Aktuil diusulkan untuk pertama kalinya oleh Avianto, sedang logonya dibuatkan Dedi Suardi,” tambah Rahardjo.
    “Rasanya belum menjadi anak muda kota kalau tidak menenteng Aktuil,” kata Yusran Pare, penanggung jawab harian Metro Bandung, yang pada 1980-an menjadi penjaga gawang rubrik kebudayaan di Bandung Pos. Dia sendiri, di awal 1970, sudah biasa merengek pada ayahnya untuk dibelikan Aktuil.

  6. Rachmad P Says:

    Membaca ceritanya saya jadi merasa kembali ke masa 40 tahun yg lalu, saya juga pelanggan Aktuil yg saat itu sebagai trendsetter musik di Indonesia, selain itu juga menggemari majalah Muziek Ekspres yang kadang saya beli dengan menyisihkan uang saku …. Sayang Aktuil sudah lama tidak terbit lagi, tapi kisahnya masih tetap ada dihati para penggemarnya….

  7. Gatot Widayanto Says:

    Terima kasih komentarnya, mas Rachmad ….

    Tempo hari memang ada rencana menerbitkan majalah Aktuil dalam edisi lux yang merupakan cuplikan dari berita2 lama … Namun sampai sekarang belum terrealisir karena ada kendala ….

  8. Nur Wahyudi Says:

    Siip. ngingetin sa-at2 masa kecil. Opa Remy silado (Yapie Tambayong) pernah opanya Mikha Tambayong engga ya? (Ada yg tw?) pa cuma 1 marga? trus kalo ga salah pernah baca yg mirip2 cersil juja selain ‘orexas’.. lupa judulnya!
    Salam 4 All.

  9. buniyani Says:

    tes

  10. buniyani Says:

    Yth Pak Gatot,

    Kenalkan nama saya Buni. Sekarang sedang penelitian di Universitas Leiden, Belanda mengenai musik rock tahun 1960/70an di Jakarta dan Manila. Nantinya penelitian ini akan menjadi disertasi S3.

    Mohon Pak Gatot bersedia memberikan saya alamat email dan bersedia menjadi salah satu sumber saya untuk penulisan disertasi ini. Saya sudah wawancara dg Bang Remy Sylado, lalu sempat kontak dengan Mas Andy Julias kemarin dulu ketika saya mengumpulkan bahan di Jakarta. Informasi dari Pak Gatot saya perlukan karena waktu remaja Pak Gatot masih tinggal di kota kecil Madiun.

    Begitu dulu Pak Gatot, terims kasih atas informasi di blog ini yang nanti akan saya kutip.

    Salam rock dari Leiden,
    Buni

  11. buniyani Says:

    Oya ini alamat email saya Pak Gatot: buni_yani@yahoo.com. Terima kasih.

  12. Prabu Minoheckz Says:

    om G T, yg T O P B G T …!

    Aktuil emg legendaris hmpir smua progfriend-ku jd ‘ketergantungan’ gara2 dia.aku sendiri ‘nyucup elmu’-nya sdh terlambat (pasar loak Boldy awal 80an).tp ngefek-nya ‘sakauw’ jg ! beberapa super-posternya msh aku simpan : frank zappa,uriah heep,pink floyd,rory gallagher,nektar.
    Di aktuil sendiri aku suka Deny Sabri ( R I P),spt:ulasanya tentang performance Led Zepplin di Madison Square Garden sangat nendang & menohok ulu hati ! klo reviewer-nya (mungkin krn kesama’an suka terhadap sebuah genremusik ) aku favorit Rudy Tjio.
    Pisss..

  13. pujianto Says:

    Kalau dizaman Pak G majalah Aktuil, dizaman saya majalah HAI.

    • Kristanto Says:

      Kalau nggak salah ingat, di jaman Aktuil msh beredar, juga sudah ada majalah anak muda HAI, waktu itu (coba2 nginget-inget) masih berukuran kecil (seukuran buku tulis lah ?) yang kadang juga membahas tentang musik “barat” juga … Yang saya inget grup rock legendaris macam Queen atau Van Halen pernah nongol di majalah tersebut …

  14. Kristanto Says:

    (Majalah) Aktuil kembali disinggung, biar sedikit porsinya, di Kompas minggu ini, refer ke profile Remy Silado …

    • Gatot Widayanto Says:

      Kalau menyinggung Alktuil berarti nyinggung saya secara saya dulu Aktuil banget meski bukan gembong, hanya penggila ajah ….ha ha ha ….

      • Kristanto Says:

        Hahaha, saking gilanya, poster David Cassidy atau Raquel Welch juga ditempel di dinding kamar, wkwkwkwkkkkKkk …

      • Gatot Widayanto Says:

        Padahal belum pernah liat filemnya (Raquel Welch) dan mendengar musiknya (david Casidy) ….tapi Aktuil gitu loh!

        Bahkan suka sama foto Bay City Rollers tanpa tahu musiknya gimana …. Lucu kostumnya: celana kotak2 cingkrang ….ha ha ha ….

  15. indrayanabogor Says:

    Aktuil ?
    Ingatan saya adalah Aktuil meliput Mick Jagger ketika berada di Bali, saat itu masih dalam format seukuran buku tulis sekitar th 1960~an.
    Hebatnya Aktuil mendatangkan DEEP PURPLE di Des 1975 dan saya nonton 2 malam ber-turut2….saat itu saya sdh kerdja sehingga bisa beli tiket yg teramat mahal VIP Rp 7500 di hari ke 1 dan Rp 5000 di hari ke 2 untuk Kls 1.
    Saya tdk ngira madjalah sebesar itu bisa bubar ……!!

    • Gatot Widayanto Says:

      Halo mas Yana … Apa kabar? Semoga mas Yana selalu diberi Allah swt kesehatan dan kebahagiaan. Aamiin Ya Rabb!

      Kisah menonton DP di Jkt selalu heboh …. Sayang saya gak mampu beli tiketnya saat itu …..

      Aktuil pernah berevolusi menjadi majalah film dan kemudian gaya hidup utk survive …. Namun ya begitu jadinya, bubar …..

  16. dadeu20 Says:

    Ternyata Racun Aktuil memang dahsyat, sedahsyat Deni Sabri maupun Bens Leo penjaga gawangnya. Istilah Hidup Segan Mati Tak Mau plus Muda Hura-hura, Tua Kaya Raya, Mati Masuk Surga adalah produk Aktuil Banget. Oom Gatot makasih ulasan Aktuilnya yang membawa saya ngalamoen ke jaman yang asyik masyuk tak tergantikan…..Viva Aktuil !!!

  17. Gatot Widayanto Says:

    Ma kasih mas Dadeu20 … Jangan sungkan2 komentar mas …

  18. dharmaean Says:

    Kenal dengan tiga orang yg membsngkitkan aktuil kembali

  19. handoyo Says:

    Salam dari handoyo malang mas komentar saya tulisan om tentang prog era 70 an ok deh

  20. Rawan Sigarlaki Nyapil Says:

    cerita yang menarik, mengingat kembali masa lalu..yg gila dengan poster2 dan music rock..padahal ga tau artix..,ada tambahan mungkin dengan Pop Photo..biasax Majalah Aktuil akan bersaing dengan majalah itu…

  21. agus sukamdi Says:

    majalah aktuil adalah majalah musik terbaik di indonesia sampai sekarang belum tergantikan, dan aku masih simpan itu beberpa edisi tahun 75 dan posternya sebagai arsip

  22. Dino Panjaitan Says:

    Kok Panbers gk ada?hehehe..:)

  23. Cak man Says:

    Saluttt banget berarti usia kita tidak terpaut jauh,sama sama “Aktuiler” sejati,sama sama kena virus aktuil, saya rasa gak ada masa ini yg heboh demam majalah kayak masa kita dulu ya.Begitu sulitnya membeli aktuil di banyuwangi,majalhny sih banyak cuma uangnya yg seret, waktu itu hanya seharga 300 perak mungki sekarng 30 rbuan.tanks artikelnya

    • Gatot Widayanto Says:

      Halo Cak Man

      Salam kenal. Benar mas …distribusi Aktuil memang hebat karena sampe Banyuwangi dan juga Madiun. Saat itu saya cuman suka “nginceng” majalah Aktuil di toko Kaji di pojokan Jl. Sumatera yg hanya 100 M dari rumah ibu saya. Kalau kakak saya beli, barulah saya ikut baca …. Duit cekak memang ….

      Tapi memang itu masa yg indah dan setiap hari kita tunggu2 tanggal terbitnya …. Setiap edisi selalu aja ada sensasinya. Yg paling bekesan ke saya ya pada saat mengulas ANGEL. Itu edisi top banget!

      Salam

      • Cak man Says:

        Salam kenal balik mas Gatot, ceritanya sama,cuman waktu itu aku kenal Aktuil lewat persewaan komik jaman kh ping hoo dll yg kebetulan menyewakan majalah,salah satunya adalah Aktuil itulah.Aku sendiri mulai membeli aktuil kalau gak salah nmr 118 berposter Panbers. tapi temen beli bakso aku y hanya ngiler demi LuitkA. itulah hebohnya Aktuil tapi bangga sbg generasi yg menikmati kehebohan majalah ity. memang.. virus Aktuil tak lapuk oleh jaman,salam Aktuiler sejati..!

  24. alex ch wattimena Says:

    Thanks so much…mas Gatot atas info ulasan masa jayanya majalah music “Aktuil”, dengan membaca ulasan cerita perjalanan music yang ditulis mas Gatot, setidaknya saya sudah “flashback” . (Salam)…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers

%d bloggers like this: